Cinta Untuk Khalisa

Cinta Untuk Khalisa
Bab 79


__ADS_3

Suara histeris Irsyad menggema di dalam rumah sakit, tangis Irsyad pecah melihat Alika di depannya, ia sudah tak memikirkan gengsinya lagi sebagai seorang laki-laki menangis di depan umum, terserah orang lain ingin memandangnya seperti apa, yang ia tahu dirinya saat ini begitu terpukul, rasa sakitnya melebihi orang yang putus cinta.


"apa yang terjadi dengan Alika?" teriak Irsyad mengguncangkan tubuh Nova.


"lebih baik lo tenangin diri lo dulu". ucap Nova.


" gimana gue bisa tenang kalo lihat Alika seperti itu".


"gue ngerti perasaan lo tapi lo harus berpikir positif, gue yakin Alika akan baik-baik aja".


" dimana Khalisa?"


Nova mengajak Irsyad ke ruangan sebelah, dimana Khalisa sedang terbaring lemah tak sadarkan diri. melihat Khalisa Irsyad lantas langsung memeluknya, kembali meneteskan airmatanya, meski merasa heran melihat keberadaan Sultan disana, namun Irsyad memilih untuk tidak mempermasalahkannya dan tampak acuh.


"maaf my dear karena aku sudah gagal melindungi putri kita". bisik Irsyad ditelinga Khalisa.


" katakan kenapa Alika bisa sampai seperti itu, apa yang sebenarnya terjadi?". tanya Irsyad kembali pada Nova.


"Sultan yang memberitahu Khalisa jika Alika ada dirumah sakit".


Irsyad hanya melirik Sultan sekilas, ia merasa enggan jika harus bertanya pada Sultan walaupun rasa penasarannya begitu besar.


" dimana si br****ek itu, gue bakal kasih dia pelajaran".


"gue nggak tahu, gue nggak lihat dia daritadi".


Irsyad langsung kembali lagi keruang UGD, dimana ia melihat dokter dan para perawat berada disana, ia berniat ingin mencari tahu keberadaan Arion.


" maaf dok, apa anda melihat seorang pria yang datang bersama anak saya". tanya Irsyad pada seorang dokter yang sedang memeriksa Alika.


"maksud anda pak Arion?dia dikamar 08 ruangan mawar, pak Arion hanya mengalami luka ringan saja".

__ADS_1


Irsyad merasa geram mendengarnya, mengapa harus Alika yang terluka parah bukannya Arion saja.


"maaf pak, sepertinya putri anda membutuhkan donor darah karena kehilangan banyak darah, kami akan memeriksa setok darah dirumah sakit ini yang cocok dengan putri anda, jika tidak ada tolong persiapkan pendonor untuk putri anda". ucap dokter meninggalkan ruang UGD.


Irsyad yang emosi segera pergi mencari ruangan tempat Arion dirawat, ia ingin sekali melampiaskan kemarahannya pada Arion, rasanya ingin sekali ia menghabisi nyawa Arion dengan tangannya sendiri, karena dia Alika harus mengalami keadaan seperti itu.


" Irsyad lo mau kemana?" tegur Dayu mengikuti Irsyad dari belakang karena takut Irsyad bertindak nekat.


Nova yang melihat kepergiaan Irsyad dan Dayu juga ikut menyusul mereka.


Irsyad memasuki ruang rawat Arion dengan emosi, ia membuka pintu dan membantingnya dengan keras membuat Arion tersentak kaget.


"apa lo nggak bisa bersikap sopan masuk keruang rawat orang lain". tegur Arion


" lo masih bisa santai setelah semua yang terjadi sama Alika". maki Irsyad tak menghiraukan ucapan Arion.


Arion diam, tak bisa lagi berkata-kata karena sejujurnya ia juga merasa sangat bersalah dengan semua yang telah menimpa Alika, ia pun berharap kenapa bukan dirinya saja yang terluka parah menggantikan Alika.


" terus gue harus apa, semua udah terjadi, gue juga gak mau seperti ini, tapi tiba-tiba aja ada mobil truk didepan gue yang hilang kendali, dengan terpaksa gue harus buang stir untuk menghindari tabrakan, namun sayangnya Alika terlempar keluar karena gak menggunakan sabuk pengaman". jelas Arion yang terlihat menyesal.


"semua penyesalan lo gak berguna, lo harus bertanggung jawab".


" apa maksud lo, gue pasti bakal bertanggung jawab supaya Alika dapat perawatan yang terbaik dirumah sakit ini, kalo perlu gue bakal bawa Alika berobat keluar negri".


"gue nggak butuh semua itu karena gue sendiri udah cukup buat jaga Alika, gue bakal tuntut lo supaya ditahan".


" lo mau nyingkirin gue dengan cara seperti ini, apa lo mau manfaatin ini semua untuk jatuhin gue, lo itu bukan siapa-siapa buat Alika tapi gue papa kandungnya". ucap Arion terlihat kesal.


Tanpa mereka duga Evan dan Mira berada diambang pintu mendengarkan semua percakapan mereka.


"apa maksudnya semua ini?" tanya Evan berjalan menghampiri kedua putranya.

__ADS_1


Irsyad dan Arion menjadi salah tingkah, mereka begitu terkejut dengan kehadiran Evan dan Mira yang begitu tiba-tiba.


"tidak ada apa-apa, mungkin Papa dan Mama hanya salah dengar saja". elak Irsyad.


" Papa belum terlalu tua, pendengaran Papa juga masih cukup bagus, jadi tidak perlu menyembunyikan apapun lagi dari Papa mu ini, cepat katakan yang sebenarnya sebelum Papa mencari tahu sendiri". ketus Evan


Sedangkan Mira masih terdiam diambang pintu, merasa shock dengan yang baru saja didengarnya.


Dengan terpaksa akhirnya Irsyad berterus terang dengan kedua orangtua nya, ia menceritakan semua kebenaran yang mereka sembunyikan selama ini dari semua orang. Mira terlihat marah dan kecewa sehingga membuatnya menampar wajah Irsyad.


"demi wanita itu kau telah menghancurkan kehidupan mu sendiri". maki Mira menatap Irsyad dengan tajam.


Irsyad hanya tertunduk, tak berani menatap Mira, ia tak sanggup menatap mata Mira yang kecewa padanya.


" karena dirimu yang tidak bertanggung jawab, anak ku harus hidup menderita". omel Mira kali ini menunjuk wajah Arion.


Dayu dan Nova yang merasa tak enak berada disana memutuskan untuk keluar dari ruangan Arion, mereka memang tak seharusnya berada diantara masalah keluarga Irsyad, biarkan Irsyad menyelesaikan masalahnya sendiri.


"Papa harap kau tidak melaporkan Arion pada pihak berwajib". ucap Evan pada Irsyad


"kenapa Papa selalu saja melindungi Arion?jika ia salah maka dia juga harus menerima hukuman".


" apa kau ingin semua orang tahu masalah keluarga kita, kau ingin membuat Papa mu ini malu didepan rekan-rekan bisnis Papa, kau puas jika membuatku menderita". maki Evan dengan sinisnya.


"tapi Pa......".


" tidak ada tapi-tapian, jika kau masih keras kepala Papa pastikan kau akan melihat hidup Khalisa menderita, Papa akan membuat dia yang menerima hujatan dari semua orang". ancam Evan memotong ucapan Irsyad yang belum selesai.


Meski kesal dengan Papanya tapi Irsyad tak bisa membantah kemauan Papanya sama sekali karena ia tidak ingin melihat Khalisa menderita, dengan terpaksa ia harus melepaskan Arion dari tanggung jawabnya, andai saja bukan dirumah sakit Irsyad pasti sudah memukuli Arion habis-habisan, meluapkan semua emosi dan rasa kecewanya, Irsyad juga yakin semua yang Arion ucapankan padanya adalah sebuah kebohongan, ia masih tak percaya jika Evan lebih menyayanginya di bandingkan Arion, apakah seperti itu sikap seorang Papa yang sayang pada anaknya?


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2