
Meski cuaca pagi ini terlihat mendung bagi semua orang namun tidak untuk Khalisa, ia merasa jika pagi ini lebih cerah dari pagi-pagi sebelumnya, yah...semua karena hubungannya dan Irsyad yang kini sudah kembali harmonis, cinta seakan baru saja bersemi diantara mereka.
Wajah bahagia terpancar jelas dari wajah Khalisa, senyum indah selalu terbentuk dibibir mungilnya, semua mata yang melihatnya hanya bisa menggeleng sambil ikut tersenyum.
"kau terlihat sangat bahagia sekali pagi ini, apa kau habis menang lotre?",goda oppa Seo jun yang sejak tadi ikut memperhatikan Khalisa.
" tidak, tapi lebih dari sekedar menang lotre".
"sungguh, apa itu?"
"oppa ingin tahu aja atau ingin tahu banget". ledek Khalisa tersenyum jahil.
" tahu bulat". ceplos oppa Seo jun membuat Khalisa cekikikan.
Oppa Seo jun berlalu dari depan Khalisa begitu melihat kedatangan Sultan, ia tidak ingin bosnya itu menjadi salah paham melihatnya bersama Khalisa karena saat ini ia sudah melupakan cintanya pada Khalisa dan hanya mengganggap Khalisa sebagai seorang teman.
"mau apa pagi-pagi sudah disini". ketus Khalisa saat Sultan menghampirinya.
" apa kamu lupa, resto ini milikku dan aku bebas untuk datang kapan saja, aku ingin menginap juga tidak akan ada yang melarangku".
"yah...terserah apa katamu saja, tapi tolong jangan berdiri didepanku, merusak pemandangan saja". gurau Khalisa
" kamu itu jahat sekali, mengapa bicara seperti itu padaku". ucap Sultan berlagak sedih.
"tidak usah banyak drama, katakan ada perlu apa?".
" pulang bekerja nanti bisakah kamu ikut denganku?".
"kemana?".
" aku dan Nova ingin mencari hadiah untuk Dindra, lusa dia berulang tahun".
"apa aku juga harus ikut, aku tidak terlalu mengenal Dindra".
" ayolah, aku dan Nova hanya ingin meminta pendapatmu saja, kamu pasti lebih mengerti apa yang disukai gadis seperti Dindra".
"aku...?aku sudah bilang jika aku tidak begitu mengenal Dindra".
" please, tahun lalu saat aku memberi hadiah pada Dindra, dia terlihat tidak menyukainya".
"Nova juga bisa memberimu pendapat". kata Khalisa masih berusaha untuk menolak karena menurutnya Nova pasti lebih baik darinya dalam menilai sesuatu, buktinya saja ide Nova berhasil memperbaiki hubungannya dengan Irsyad.
" Nova yang menyuruhku mengajakmu".
"ya baiklah, kamu itu selalu saja memaksa". sahut Khalisa malas.
" aku dan Nova akan menjemputmu nanti, kamu jangan pulang dulu sebelum kami datang".
"bawel". gerutu Khalisa namun Sultan hanya tersenyum.
__ADS_1
" bye". ucap Sultan berlalu dari resto sambil terus melambaikan tangannya pada Khalisa.
Khalisa sebenarnya malas sekali ikut pergi dengan Sultan dan Nova tapi dia sangat paham jika dirinya tidak akan bisa menolak permintaan Sultan, terpaksa ia jadi harus menggurungkan niat awalnya yang ingin menemui Irsyad dibengkel.
Khalisa yang sudah selesai dari pekerjaannya, menunggu kedatangan Sultan dan Nova dilobi, baru saja ia duduk, Nova sudah muncul didepannya.
"ayo, Sultan menunggu kita dimobil". ajak Nova menarik tangan Khalisa.
Khalisa hanya bisa pasrah mengikuti langkah Nova yang sedikit cepat.
" sebenarnya kita mau kemana?" tanya Khalisa saat sudah didalam mobil.
"entahlah,apa kamu punya ide". sahut Sultan mulai menjalankan mobilnya.
" lebih baik kita ke mall saja,disana akan ada banyak pilihan".
"kamu memang jenius". puji Sultan mengedipkan satu matanya.
" bukankah gue juga sudah menyarankan sama lo ke mall, kenapa hanya Khalisa yang lo bilang jenius". protes Nova dengan bibirnya yang maju hingga 5cm.
Sultan cuma tersenyum cuek menanggapi protes Nova, sedangkan Khalisa hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Setelah perjalanan 15 menit mereka sampai disebuah mall besar yang jaraknya tidak begitu jauh dari resto, mereka yang tak mau membuang waktu segera menyusuri mall mencari hadiah yang cocok untuk Dindra.
Mata mereka semua tertuju pada sebuah toko perhiasan, kemilau yang terpancar membuat mereka yang melihatnya kagum, Sultan langsung melangkahkan kakinya berjalan memasuki toko disusul dengan Khalisa dan juga Nova.
"eh...lo lihat- lihat berdua dulu yah, gue kebelet nih!!" ceplos Nova sambil memeganggi perutnya yang terasa sakit.
" gimana menurut kamu". tanya Sultan menyodorkan sebuah cincin berlian pada Khalisa.
Dengan seksama Khalisa mengamati cincin tersebut yang memang terlihat indah, siapapun wanita yang memakainya pasti akan terlihat cantik.
"bagus". sahut Khalisa.
" sungguh, apa kamu mau mencobanya
karena menurutku ukuran Dindra dan kamu sama".
"baiklah, semoga saja ukuran kami berdua memang sama". ucap Khalisa seraya mencobanya.
" bagaimana, apakah pas dijarimu".
"yah".
" baiklah aku ambil yang itu saja, apa kamu juga mau, biar sekalian aku belikan juga untukmu".
"tidak usah repot- repot, aku tidak terbiasa memakai perhiasan". tolak Khalisa.
"ok, aku rasa hanya kamu wanita yang tidak menyukai perhiasan dan uang".
__ADS_1
" kata siapa aku tidak suka, memangnya aku ini tidak normal, tentu saja aku suka tapi jika aku mendapatkannya dengan hasil keringatku sendiri".
Sultan tersenyum bangga mendengar perkataan Khalisa, dia memang tidak salah karena sudah mencintai wanita seperti Khalisa, Khalisa memang wanita yang berbeda, tulus dan apa adanya.
"kenapa melihatku seperti itu". omel Khalisa.
" aku hanya sedang menggagumi wanita didepanku".
"jangan membuatku ge-er".
Diam- diam Nova yang sudah kembali dari toilet, menggagetkan Sultan dan Khalisa.
" woy........!!! ayo lagi pada ngapain". kata Nova setengah berteriak.
Bukan hanya Sultan dan Khalisa saja yang kaget tapi sepertinya semua orang ikut kaget dan melotot pada Nova.
"ups...". Nova menutup mulutnya karena merasa malu sendiri menjadi pusat perhatian.
"makanya jangan bar- bar". sindir Sultan.
Nova tak menggubris Sultan, " gimana ide gue kemaren, berhasil kan?" tanya Nova pada Khalisa, menggabaikan Sultan.
"yah, lo emank T-O-P".
" sebenarnya kalian lagi ngomongin apa sih". ceplos Sultan yang penasaran.
"rahasia wanita". sahut Khalisa membuat Sultan malas berada didekat mereka dan segera berlalu untuk membayar belanjaannya.
Saat membayar diam- diam Sultan juga membeli satu cincin berlian yang menurutnya sangat cocok dijari Khalisa, namun ia tidak berniat memberikannya pada Khalisa, dia hanya akan menyimpannya saja karena ia tidak ingin sampai Khalisa berpikir macam- macam tentangnya.
" apa lo cuma kasih hadiah ke Dindra satu?". celetuk Nova saat mereka dikafe untuk mengisi perut mereka yang keroncongan.
"emangnya kenapa?". sahut Sultan tanpa berpaling dari makanan didepannya.
" kakak yang pelit padahal duitnya banyak". ledek Nova.
Sultan tersenyum kecut, "cincin itu hanya hadiah kecilnya aja karena gue udah beli rumah dan mobil baru untuk Dindra". sahut Sultan dengan bangga.
Nova yang terkejut, mulutnya sampai menggangga tak percaya, " serius lo!?"
"ngapain juga gue bohong, gak guna, Dindra itu adik gue satu- satunya, dia pantas dapat yang terbaik".
" gue kan juga sepupu lo, jadi gue pasti
bakal dapat hadiah dong kalo nanti ulang tahun". kata Nova penuh percaya diri seraya menaik turunkan alisnya.
"lo cuma sepupu jauh". ledek Sultan sengaja ingin membuat Nova kesal.
" awas yah lo minta tolong sama gue lagi", ancam Nova berlagak ngambek.
__ADS_1
"gitu aja ngambek, dasar labil".
Khalisa lagi- lagi hanya bisa menggeleng dan tersenyum mendengar perdebatan diantara kedua sepupu itu, mereka memang selalu bisa membuat suasana menjadi hidup dan berada didekat mereka jadi tidak membosankan.