Cinta Untuk Khalisa

Cinta Untuk Khalisa
Bab 94


__ADS_3

Tak terasa tadi hari masih senja kini telah berganti malam, langit terlihat mendung meski rintikan air hujan sudah tak lagi turun, dari balik kaca Khalisa sibuk memperhatikan jalan, ia ingin mengalihkan pikirannya agar tak lagi merasakan kesedihan, diam-diam Sultan yang sedang menyetir mobil mengawasi Khalisa yang ada disampingnya.


"apa kamu ingin sesuatu?". tanya Sultan mencoba mencairkan suasana yang terasa beku.


" tidak".


"apa kamu ingin ke toilet?".


" tidak".


"apa kamu ingin makan?".


" tidak, apa kamu lupa jika tadi aku sudah makan". ketus Khalisa


"he...he, aku pikir tidak ada salahnya jika kamu ingin makan lagi".


" aku tidak serakus itu". gerutu Khalisa agak kesal.


"jadi apa yang kamu inginkan?"


"aku hanya ingin cepat pulang kerumah dan tidur". sahut Khalisa tak menoleh sedikitpun pandangannya dari luar jendela.


" ok, princess duduk yang manis saja, kamu akan segera sampai ke istanamu".


Khalisa hanya bisa memutar bola matanya malas mendengar candaan dari Sultan, sebenarnya mood-nya kembali buruk karena ia terpaksa harus pulang kerumah agar Sultan tak curiga padanya walaupun sejujurnya ia ingin sekali tidur diluar malam ini, sebelum dirinya pingsan tadi, sebenarnya ia berniat ingin pergi kerumah Nova.


Sultan menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah kontrakan kecil nan asri milik Khalisa, Sultan bergegas turun dari mobilnya membukakan pintu mobil untuk Khalisa.


"terima kasih". ucap Khalisa dengan tulus, bukan hanya karena Sultan sudah membantunya membukakan pintu mobil tapi untuk semua yang sudah Sultan lakukan hari ini untuknya.

__ADS_1


" tidak perlu seformal itu, bukankah kita ini sahabat, sudah sewajarnya sebagai seorang sahabat untuk saling menolong".


"yah, tapi aku hanya heran saja, mengapa ada orang sebaikmu didunia ini".


" jangan memujiku seperti itu nanti kepalaku bisa besar". gurau Sultan membuat keduanya tertawa.


"bukan kepalamu yang besar tapi besar kepala, dasar..pasti kamu sering tidur saat pelajaran bahasa indonesia".


" aku memang tidak suka pelajaran bahasa indonesia". sahut Sultan dengan santainya.


"๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฆ, ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข". gerutu Khalisa dalam hati.


" apa ada yang ingin kamu katakan?". tebak Sultan menatap Khalisa yang terlihat melamun.


"iya, sebaiknya kamu cepat pulang, ini sudah malam". sahut Khalisa berbohong, lagipula hari sudah semakin malam, ia tak ingin berdebat lagi dengan Sultan jika ia menyampaikan yang sebenarnya ia pikirkan.


"anggap saja iya karena aku tidak ingin berdebat lagi denganmu, jika kamu terus disini maka langit yang tadinya gelap akan berganti dengan terang".


" dasar wanita, baru saja berterimakasih sekarang sudah menyebalkan lagi, moodnya gampang sekali berubah". gerutu Sultan seraya masuk kedalam mobilnya.


Khalisa cuma bisa menutupi senyum diwajahnya melihat Sultan yang terlihat kesal padanya dan pergi dengan mobilnya tanpa pamit.


Setelah Sultan pergi, Khalisa bergegas masuk kedalam rumahnya karena merasa tak tahan dengan udara diluar yang sangat dingin.


Sultan yang sedang asyik menyetir sambil mendengarkan lagu merasa terkejut saat berpapasan dengan motor Irsyad, Sultan bersyukur karena Irsyad sepertinya tak sadar dengan keberadaannya, meski hanya sekilas namun Sultan sempat memperhatikan Irsyad yang terlihat menggunakan pakaian santai, tidak terlihat seperti orang yang baru pulang dari luar kota, apakah perasaannya benar jika Khalisa sedang berbohong? tapi untuk apa Khalisa melakukannya, Sultan semakin penasaran apa yang sebenarnya sedang terjadi diantara mereka, melihat cinta mereka yang selama ini begitu dalam, rasanya mustahil jika keduanya bertengkar.


"๐˜ด๐˜ต๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฅ ๐˜š๐˜ถ๐˜ญ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ต-๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข". maki Sultan dalam hati pada dirinya sendiri.


***

__ADS_1


Sebelum masuk kedalam kamarnya, Khalisa menyempatkan diri untuk membuat teh hangat, meski matanya tak melihat namun telinganya tak mungkin salah, ia yakin mendengar suara motor Irsyad dari halaman rumahnya, Khalisa berusaha mengatasi rasa gugupnya begitu Irsyad memasuki rumah, Khalisa ingin bersikap biasa saja dan menyapa Irsyad namun mulutnya terasa kaku.


Irsyad sepertinya masih marah karena ia terlihat acuh dan mengabaikan keberadaan Khalisa disana, tanpa basa basi Irsyad langsung memasuki kamarnya, tak peduli pada Khalisa yang sudah sangat merindukannya, saat Khalisa berniat ingin menyusul Irsyad kekamarnya, tiba -tiba saja Khalisa teringat pada pertemuan Irsyad dan juga Thania tadi siang membuat dirinya jadi menggurungkan niat untuk menemui Irsyad.


Khalisa yang berubah pikiran akhirnya memilih untuk masuk kedalam kamarnya, meskipun ia merasa bersalah pada Irsyad tetapi Irsyad juga sudah menyakiti perasaannya karena secara diam- diam dia sudah menemui Thania.


Dengan hati yang tak tenang, Khalisa sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, Khalisa beranjak dari kasurnya untuk berdiri menatap keluar jendela kamarnya, sepertinya melihat alam saat ini sudah menjadi kebiasaan baru bagi Khalisa karena bisa membuat perasaannya lebih tenang.


Khalisa yang sedang menikmati udara malam yang sejuk, tanpa sengaja melihat seseorang dikejauhan, orang itu terlihat sedang mengamati rumahnya, dengan penasaran Khalisa keluar rumah berniat menghampiri orang tersebut, ia ingin mencari tahu siapa dia dan untuk apa berada disekitar rumahnya? namun sayangnya orang itu buru- buru pergi begitu melihat kedatangan Khalisa.


"hey siapa kau, mau apa dirumahku!?" teriak Khalisa dengan emosi.


bukannya menjawab orang itu malah mempercepat langkahnya, dilihat dari postur tubuhnya, sangat terlihat jelas jika dia adalah seorang pria, sekilas Khalisa melihat wajahnya yang terlihat asing untuk ia, seketika Khalisa juga jadi merasa khawatir, takut jika pria asing itu punya niat jahat padanya ataupun Irsyad, mulai sekarang sepertinya dia harus lebih waspada, Khalisa binggung apakah ia harus menceritakan tentang semua ini pada Irsyad? apakah Irsyad akan mendengarkannya? bagaimana jika Irsyad tak menghiraukannya lagi?


Sebelum malam semakin dingin, Khalisa memutuskan untuk masuk kembali kedalam rumah, ia tidak menyadari jika sejak tadi diam- diam Irsyad memperhatikannya dari balik jendela kamarnya, sebenarnya Irsyad ingin sekali keluar dan mengejar pria itu yang sudah berani mengusik rumah mereka , sejujurnya ia juga merasa cemas pada Khalisa, namun ia masih merasa sangat kecewa pada Khalisa, ia ingin menghukum Khalisa agar bisa lebih menghargai dirinya, walaupun ia sangat merindukan Khalisa, namun ia harus mampu melawan perasaannya itu untuk sementara waktu, sampai ia yakin jika Khalisa benar- benar tulus mencintainya, ia tidak ingin memaksakan cintanya lagi jika Khalisa memang tak bahagia hidup bersamanya, sekuat tenaga akhirnya Irsyad mampu mengacuhkan Khalisa lagi yang begitu sangat dicintainya, sebelum dirinya ketahuan oleh Khalisa Irsyad cepat- cepat menutup jendela kamarnya yang sedikit terbuka dan kembali ke atas tempat tidur, merebahkan tubuhnya yang agak tegang.


~


๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข- ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช.....


๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ.....


๐˜‹๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ....


๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ.....


Irsyad Mekka evano


๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2