
Kini Triplet N dengan komposisi komplit berada di kediaman keluarga Fricia,ketiganya tertidur diruang TV.
"Mereka cantik-cantik,lucu,imut,ibu jadi gemes"ujar bu Anggi menyalakan kipas angin melihat triplet kegerahan.
"Iya bu aku juga gemes sama mereka,mereka bisa kompak gitu,cerewet lagi aku aga pusing dengar mereka ngoceh"ujar Fricia sebari menaruh bantal dibawah kepala triplet satu-persatu.
"Kamu bener"setuju bu Anggi sebari terkekeh,"Ibu pikir mereka kembar ternyata cuma kakak sepupuan"ujar nya
"Iya bu aku juga mikir kaya gitu pas dua itu nyusul kita kesawah"ujar Fricia sebari menunjuk naya dan naila,"ternyata yang adik kakak cuma naya sama naila,kalo Nirbita saudara sepupu doang,lucu ya bu punya sodara kaya kembar gini rumah jadi rame"
"Iya ibu setuju sama kamu,mereka akur-akur terus ga kaya kamu sama adik kamu yang selalu berantem kaya kucing sama anjing"cibir bu Anggi membuat Fricia hanya cengegesan,"Biarin mereka tidur kamu bantuin ibu masak,ibu mau masak buat mereka, mereka pasti laper pas bangun tidur"
"Iya bu,kalo ga dikasih makan nanti kita bisa kenal pasal penganiayaan anak"
"Ko gitu?"heran bu Anggi.
"Ia bu,mereka kan abis bantuin bapak bajak sawah"jawab Fricia mengingatkan mereka kejadian beberapa jam yang lalu.
Naya dan Naila menyusul bolos setelah melihat status Nirbita yang tengah foto ditanaman padi,setelah mereka disana mereka mendapat apa yang mereka inginkan sejak kemarin yaitu naik delman.
Anggap saja begitu,sebab triplet menunggangi kuda secara bergantian sebari kuda itu membajak sawah,keluarga Fricia terasa terhibur dengan kedatangan triplet mereka sangat lucu dan menggemaskan,itu menurut mereka saja,mungkin akan berubah haluan ketika mengetahui sifat dan sikap triplet itu.
"Mereka bisa lapor ke pelindungan anak bu"sambung Fricia.
"Tapikan bukan kita yang mau,mereka yang maksa"
"Jangan ngobrol mulu!,bapak lapar ibu kapan masaknya sih?"tanya pak Hendra yang tiba-tiba datang.
"Bapak ngagetin ajasi jadi orang!,udah kaya jalangkung datang tak diundang perga minta diantar"dengus bu Anggi lalu pergi menuju dapur.
"Enak aja bapak di samain sama jalangkung,tuh liat ibu kamu mulutnya ituloh asal ceplos aja"
"Kaya bapak engga aja"ujar Fricia lalu kabur menyusul sang ibu.
"Heh ema sama anak sama aja"dengus pak Hendra lalu mengembangkan bibirnya ketika melihat tidur triplet yang tidak beraturan.
Brum.
Suara deruman motor membuat pak Hendra yang hendak pergi kedapur menyusul istri dan putrinya menjadi berubah haluan menjadi kedepan rumah,melihat siapa yang datang.
"Asalamualaikum "
"Waalaikumsalam "
"Tumben langsung pulang biasanya juga keluyuran dulu?"desis pak Hendra pada anaknya yang baru saja menyaliminya.
"Apasih pak,ngomel mulu,anak pulang cepet salah,keluyuran juga salah,emang ya jadi anak selalu serba salah"oceh remaja itu membuat pak Hendra memukul pelan kepala sang anak dengan gemas.
Mereka mamasuki rumah secara bersamaan saat melewati ruang tv,devan melihat kaki seseorang yang menjungkal ke sofa,"Kak lo lagi kayang?"tanyanya sekilas berlalu menuju kamarnya.
Sedangkan pak Hendra hanya menaikan sebelah halisnya dan berlalu kedapur.
Setelah berganti baju Devan keluar dari makan tujuannya adalah meminta makan pada sang ibu,namun pergerakananya terhenti ketiga melihat tiga tubuh terngkurap lantai beralasan tikar diruang tv.
Devan semakin dekat kearah tubuh itu sebari menyipitkan mata menebak siapakah gerangan,tidak mungkin ibu dan kakaknya bukan,mereka terlihat lebih kurus dan jika iya maka siapa satu lagi?,tidak mungkin sang bapak kan?,dari postur tubuhnya saja sudah tertebak mereka bukan orangtuanya dan kakaknya.
"Pak,pak,pak,bapak"teriak nya memanggil sang bapak adalah satu-satunya jalan untuk mendapat jawaban.
Sedangkan ibu Anggi dan Fricia sedang memasak didapur dan pak Hendra yang duduk di belakang sebari meminum kopi tersentak mendengar teriakan anak bungsu keluarga ini.
"Mana maling nya?, mana?"tanya bu Anggi rusuh sebari membawa wajan dengan pantapnya yang hitam.
Sedangkan Fricia memegang spatula dan pak Hendra memegang golok kesayangannya.
"Kalian mau perang dimana?"tanya Devan melihat itu dengan wajah tercengang.
"Mau perang sama maling Cep,mana malingnya?"ujar pak Hendra sebari celingak-celinguk mencari sosok maling.
"Maling?,emang ada maling"
"Ada, tadi kan kamu yang teriak,Maling-maling gitu"ujar Fricia sebari meniru meneriaki maling
Devan menggaruk rambutnya gatal,"Aku ga teriak kaya gitu ko"jawabnya membuat ketiga orang itu cengo lalu Fricia dan pak Hendra menatap bu anggi,"Aku teriak manggil bapak"
"Kalo gitu bapak dong malingnya?"ujar bu Anggi membuat sang suami menatap penuh selidik.
"Tuh bu kamu itu tadi salah denger "cibir pak Hendra membuat bu Anggi cengengesan.
__ADS_1
"Kamu ngapain teriak-teriak manggil bapak si cep?"tanya Fricia.
"Mmm itu"jawab Devan sebari menunjuk tiga orang yang tidur dengan tengkurap.
"Kenapa? "
"Iya itu"
"Iya kenapa? "
"Itu siapa kak?"tanya Devan.
"Kamu teriak-teriak cuma mau nanya itu siapa?"tanya pak Hendra mendelik tajam anak bungsunya itu.
"Iya Pak,mereka siapa calon istri aku?,tiga?,ya allah Pak aku ini gamau poligami,kalo poligami sama aja nyakitin hati wanita,emang diperbolehkan berpoligami jika mampu berlaku adil,tapi aku gamau pak!,aku mau satu aja,kalo aku nyakitin hati wanita sama aja aku nyakitin ibu sama kakak aku sendiri"oceh nya membuat pak Hendra mengangkat tinggi-tinggi golok.
"Sabar pak sabar,gausah emosi itu anak cowo kita satu-satunya"oceh bu Anggi sebari memegang tangan suaminya yang memegang golok.
"Iya Pak sabar,pak walaupun dia beban keluarga tapi kalo bapak sembelih dosa pak"oceh Fricia memegang tangan lain pak Hendra dan Devan sendiri sudah bersembunyi di belakang sofa.
"Lepas! "Pak Hendra menghela nafas," Kamu itu sok jadi cowo,mereka gabakal mau sama kamu,mereka masih normal mengenal mana cogan sama coran"cibir pak Hendra membuat bu anggi menatap suaminya dengan tajam dan devan cemberut tidak terima.
"Eh bapak jangan sekate-kate ya!,anak ibu itu ganteng sempurna,mirip kaya oppa-oppa india"
"Korea bu"sela Devan.
" Iya itu oppa-oppa korea,mau anak ibu pesek ke,alisnya tipiske,cerewet ke,muka rata sekalipun bagi ibu anak ibu paling ganteng!"ujar nya menggebu.
"Iya bu,bapak emang keterlaluan ga ngakuin aku sebagai anaknya,sunat aja bu sunat!"kompor Devan tersenyum menang melihat bapaknya yang memucat.
"Padahal aku kan dari bibit bapak, kalo aku jelek berati bapak yang harus disalahin, bibit bapak kualitas nol"sambungnya membuat pak Hendra menatap sang anak yang sedang tersenyum pogah.
"Bener kata acep!,disini kamu yang salah bibit kamu nol,perlu aku sunat lagi biar berkualitas?"ancam bu Anggi membuat pak Hendra menyembunyikan golok yang ia pegang kebelakang tubuhnya.
"Kabur"lari pak Hendra terbirit-birit.
'Kalian berdua jangan ribut! Ibu mau lanjutin masak,jangan berisik juga kasian mereka nanti kebangun"ujar bu Anggi menggebu lalu pergi kedapur.
"Yang tadi berisik kan ibu sama bapak?"tanya Devan sebari melihat punggung sang ibu bersama Fricia.
"Kak"panggilnya hanya mendapat jawaban anggunkan kepala.
"Ouh mereka triplet"
"Triplet?"
"Iya kamu kenal? "
"Engga tau tapi namanya mirip sama temen eh bukan temen akusi, itu mirip sama temen kembarnya Farel"oceh nya.
Fricia mengangguk"Mereka namanya Nirbita,Naya sama Naila"
"Hah apa?"tanya Devan sebari matanya yang membola,"Kakak tapi bilang namanya Nirbita,Naya sama Naila?"
"Iya"
"Itu namanya juga mirip temen kembarnya Farel kak"ujar Devan bersamaan dengan Naya yang mengubah posisinya menjadi terlentang.
"Eh iya itu naya,satu kelas sama bintang"sambungnya melihat wajah naya.
"Jadi mereka temen sekolah kamu?"Devan mengangguk,"pantesan seragam sekolah kalian sama"
"Ko mereka ada disini kak?"
"Iya tadi pagi kakak kan kemakam nenek,nah pas disana kakak liat Nirbita lagi nangis,jadi kakak coba samperin aja walau takut dia bukan manusia,pas udah sama dia trus pulang eh nirbita minta ikut pulang sama kakak"ujar Fricia menceritakan.
"Trus? "
"Yaudah,gini sekarang mereka ada disini"
"Trus"
"Nabrak "
"Ouh"ujar Devan mengangguk "eh nabrak apaan ka?"
"Nabrak bom,udah diem nanya mulu dari tadi"cibir Fricia membuat Devan cengengesan.
__ADS_1
"Tadi kakak bilang nemu nirbita dimakam,terus dua lagi dimana?"
"Disawah,mereka nyusul nirbita kesawah,mereka bantuin bapak bajak sawah walau udah dilarang mereka kekeh mau bantuin bajak sawah pake sapi,kakak pikir mereka bakal ilfil deket yang bau sama kotor kaya gitu eh mereka malah seneng dong,mereka juga berebut naik sapi udah kaya anak kecil"ujar Fricia terkekeh mengingat tingkah triplet waktu disawah.
"Mereka bertiga beda sama anak jaman sekarang ya cep?,dari karakter mereka kakak lihat mereka kaya bodo amat sama apapun itu asalkan mereka bahagia"sambungnya menatap Naila yang kini mengubah posisinya menjadi terlentang dengan kedua kaki berada di perut kedua saudaranya.
Sedangkan Nirbita meringkuk memeluk Naila dan Naya kini meringkuk membelakangi Naila.
"Iya kak,mereka gadis aneh emang,mereka dari kapan disini kak?"
"Kalo Nirbita dari pagi kalo Naya sama Naila dari siang gatau jam berapa"jawab Fricia.
"Ouh berarti Nirbita bolos nya kesini trus dua saudarinya juga nyusul bolos kesini,soalnya pas istirahat mereka berdua lagi makan dikantin sama aku"ujar Devan membuat Fricia hanya menggelengkan kepalanya mendengar kekompakan triplet,bolos satu yang lainpun menyusul.
"Pas kumpul tadi siang tuh ya kak,si rezaldi di ulti sama mereka"ujar Devan sebari duduk disofa.
"Di ulti gimana?,si buaya cap kadal itu godain mereka?"
"Itu mah kewajiban,dia kaya minum obat soal godain cewe mah dari tua muda,janda sama istri orang sekalipun dia embat"oceh Devan membuat Fricia terkekeh.
Kedua saudara itu memang dekat walau terkadang suka bertengkar.
"Tapi yah kak,kan biasanya cewe-cewe suka alay gitu pas digodain rezaldi atau sekedar disapa sekalipun,tapi mereka bertiga engga kak,mereka langsung cibir buaya cap kadal sampe langsung tidak bisa berkata-kata"sambungnya mendramatis sebari terkekeh mengingat wajah kesal dari Rezaldi tadi siang.
"Bagus,kakak jadi pendukungnya triplet kalo gitu,biar mampus tuh buaya cap kadal kena karma"ujar Fricia terkekeh.
"Hhhh bukan cuma Rezaldi yang di ultiĀ kak,si Farel juga di ulti sama mereka"ujar Devan,"bahkan kayanya sibos juga suka sama salah satu triplet "
"Gara magsud kamu?"tanya Fricia tidak percaya.
"Iya kak siapa lagi kan ketua di ALGASKAR cuma Gara"
"Gara yang wajahnya lempeng kaya lidi?"Devan mengangguk,"Bisa suka sama cewe,kakak harus bersyukur ga sih? "
"Harus lah kak!,kan selama ini sibos selalu membasmi cewe yang deketin dia,malah orang tuanya aja sampe takut anaknya belok"
"Iya juga,tapi"Fricia menjeda kalimatnya membuat Devan menunggu.
"Dia yang Gara suka bakal suka ga sama bos kamu ituh?,kamu kan tau bos kamu itu pelit sepelit pelitnya dalam berekspresi,ngomong aja paling banyak tiga kalimat coba!,sedangkan triplet "sambungnya kembali menjeda untuk menatap wajah pulas triplet yang sama sekali tidak terganggu dengan kebisingan apapun.
Jika ada kebakaran mereka akan hangus duluan!.
"Mereka itu cerewet pasti ga bakal mau sama bos kamu yang astagfirullah" sambungnya sebari mengusap dada dan bergerak pergi,"Kamu jangan berisik kakak mau bantuin ibu masak"
"Iya kak"
Triplet terus tidur tanpa merasa terganggu dengan kebisingan apapun itu hingga mereka yang melihatnya terkekeh melihat triplet yang tidur saja merusuh apalagi keadaan sadar.
Rangga melihat adiknya yang tidur bagaikan sapi beranak kambing begitu rusuh,membuatnya meringis malu,bukan hanya dia tapi Danis juga merasa ikut malu.
Kedua pria itu tadi menjemput triplet kesekolah namun ternyata mereka tidak ada,keduanya sangat khawatir apalagi mengingat nirbita yang sejak kemarin murung membuat mereka berpresangka buruk.
Mereka menelepon ketiganya secara bergantian bersama Farel,Davri dan Wahyu juga ikut membantu mengingat hanya ketiga pria itulah teman triplet disekolah.
Sudah berkali-kali menelepon tapi tidak mendapat jawaban hampir membuat rangga bunuh diri eh lapor polisi maksudnya,saat mencoba menelepon yang terakhir kali sebelum lapor polisi panggilan itu dijawab Devan dan memberitahu keberadaan mereka.
Dan disinilah mereka bersama Farel,Davri dan Wahyu,ketiganya juga meringis malu.
"Natala,Natala, Natala bangun"ujar Rangga sebari menguncang satu persatu tubuh adik-adiknya dibantu Danis.
"Nih bocah malu-maluin!"rutuk Rangga didalam hati.
"Triplet kalian tidur apan simulasi mati sih"cibir Davri membuat danis setuju.
"Mereka kecapean tadi siang bantuin bapak disawah"ujar pak Hendra bersama anak bungsunya menyaksikan Rangga dan Danis yang mencoba membangunkan triplet.
"Bukan bantuin merusak iya Pak"cibir Danis mengingat tingkah triplet yang selalu merusuh.
"Natala bangun atau abang sita ponsel,lepto sama kamera kalian,abang jual sekalian"pekik Rangga sebari berdiri membuat mereka terperanjat.
Triplet yang tidur juga langsung mendudukan diri dengan mata tertutup,"sudah bangun komandan"ujar ketiganya masih setengah tertidur terlihat dari mata mereka yang masih memejam dan duduk saling menyandar.
"Bangunin mereka unik ya pak"ujar bu Anggi disetujui pak Hendra.
" Kalo bangun buka matanya,kalo engga abang beneran jual sekaligus kasih tau ayah sama ibu kalo kalian ngerusuh disekolah!"ancam Rangga membuat ketiganya membuka mata ogah-ogahan.
"Sekarang kita punya senjata buat ngancem mereka"ujar Wahyu disamping Davri.
__ADS_1
" Senjata apa?,pake pistol mati doang anak orang,gue gamau masuk penjara "oceh Davri langsung membuat wahyu mendorong pria itu hingga limpung.
"Ko lo dorong-dorong sih!" sentak Davri tidak terima dan membalas dorongan, berakhir dengan kedua remaja itu saling mendorong dengan kasar dan berakhir bonyok.