
Entah dari mana mau kemana,segerombolan anak muda dengan jaket kulit berlambang nama geng mereka dipunggung dengan tulisan Orion,memenuhi jalanan untung sampai tidak membuat macet.
Pagi hari begini mereka sudah membuat kericuhan,Jastin sebagai ketua mengomando perjalanan mereka,saat matanya bertubrukan dengan plat mobil yang ia rasa kenali,remaja itu menghentikan motor yang ia kendarai.
Tanpa melepas tatapan pada mobil hitam avanza yang melaju menjauh dari keberadaannya,"Jerr pinjem helm lo"pinta pria itu.
Bukan kebetulan tapi rasa solidaritas mereka menghentikan motor masing-masing sesuai pergerakan sang ketua,"Lah helm gue buat apa bos?"tanyanya heran.
"Gausah banyak tanya kaya ibu-ibu,sini gue pinjem" pinta Jastin kekeh.
"Mau tukeran helm lo bos?" tanya Javas tidak habis pikir dengan jalan pikir bosnya itu.
Masa ingin bertukar helm,jika dipikir-pikir helm milik Jerry pasti bau mengingat pria itu emang jorok,bahkan mandi seminggu tiga kali,kesehariannya hanya sikat gigi dan cuci muka.
"Ck engga" jawabnya lalu menatap Jerry garang,"Cepet nyet gue ada urusan mendadak!"sentaknya.
"Ya elah bos,kalo helm gue sama lo gue pake punya siapa?,kalo ketemu polisi gimana?" tolak Jerry berbagai alasan,bukan pelit namun seperti alasannya tadi,ia tidak mau ditilang polisi.
"Nih gue bayar!" ujar Jastin menunjukan uang berwarna biru pada Jerry.
Jastin melepas helm miliknya dan menaruhnya di body motor bagian depan.
"Punya gue aja nih bos" sela Tom melihat uang berwarna merah.
Jerry menyerobot uang ditangan jastin dan menyerahkan helmnya,"Jangan sampe lecet bos"
Jastin memakai helm milik Jerry dengan perasaan sebal,"Bau banget anj*rr"umpat nya namun tetap kekeh untuk memakainya.
"Hehe sory belum gue cuci sebulan ini" cengengesan nya membuat Jastin mengerang kesal,jika bukan masalah urgent jastin tidak akan mau memakai helm Jerry yang bau ****** ini.
"Kalian bubar aja terserah mau kemana,gue ada urusan mendadak" ujar Jastin sebelum melajukan motornya membuat anak buahnya hanya menatap cengo.
"Cabut!" intruksi Javas sebagai wakil ketua.
Jastin melajukan motornya diatas rata-rata namun juga tidak terlalu kencang,sebari celingak-celinguk mencari sesuatu Jastin sesekali mengumpati helm Jerry yang menyengat baunya,namun terpaksa ia pertahankan.
Saat mata Jastin menemukan apa yang ia cari pria itu berguman,"Ketemu"ujarnya sebari tersenyum smirk dan mengikuti mobil itu dengan cukup berjarak agar tidak dicurigai.
Saat mobil itu berhenti jastin pun berhenti dengan jarak yang cukup tidak mencurigakan,setelah pemilik dan penumpang didalam mobil masuk kedalam sebuah toko yang banyak berjejer buku-buku.
Jastin berjalan biasa saja mendekati mobil tadi,sesekali remaja itu menoleh ke kanan dan kiri untuk melancarkan aksinya,remaja yang menjadi ketua geng orion itu membocorkan keempat ban mobil yang ia ikuti sebari mengawasi sekitar,takut ada yang memergoki kelakuannya.
Jastin menepuk kedua tangannya dengan sumringah,"Maaf bang suruh siapa lo protektif "gumannya sambil berlalu memasuki cafe didekat toko buku yang didatangi dua orang berbeda jenis kelamin dan usia datangi tadi.
Disisi triplet tanpa Naya,kedua gadis kembar beda orang tua itu berlari tunggang-langgang menuju rumah bu putri,walau banyak yang menggoda mereka dengan pujian atau siulan kedua gadis itu tidak terpengaruh dan malah mengerang marah.
Naila sempat berhenti didepan remaja yang menggodanya lalu menimpuk salah satu dari mereka menggunakan kaleng yang ia temui ditempat ia berhenti,keributan pun terjadi,jika melawan Naila dan Nirbita pasti kalah jadi mereka memilih kabur,kembali berlari menuju rumah Bu Putri.
Nafas mereka ngos-ngosan dan duduk di tanah setelah sampai di pekarangan rumah,mereka mengatur nafas terlebih dahulu," Cape banget astagfirullah "
"Kamu sih nyari ribut ga kode dulu,harusnya kita bawa palu biar kita ketok sekalian pala mereka" ujar Nirbita sebari ngos-ngosan.
"Setuju!,harusnya si gitu,biar ga berani godain anak orang" timpal Naila.
Nirbita beranjak dari duduknya,"Yu masuk,ganti baju,trus cus nge mall"ajaknya diangguki Naila.
Naila menepuk pantatnya yang kotor beberapa kali,"Mandi dulu ga kak?"tanyanya.
"Gausah lah,tadi pagi kan udah" jawab sesat Nirbita padahal tubuh mereka sudah dipenuhi keringat,pastinya bau asem.
Naila mengendus ketiaknya beberapa kali,"Bau asem kak"
"Semprot parfum susah amat,biasanya juga mandi sekali sehari,so soan mau mandi lagi segala" cibir Nirbita membuat Naila mencebik.
"Inikan mau ke mall kak,harus wangi,bersih kalo cantik sih setiap hari" narsisnya.
"Terserah deh,kalo kamu mandinya lama kakak tinggal" ancam Nirbita melegang masuk rumah.
"Janganlah,ila ga bakal mandi ko demi menghemat air" ujarnya.
"Good" sesat Nirbita menunjukan cap jempolnya.
Kedua gadis itu masuk kedalam rumah tanpa membicarakan tentang mandi lagi,mereka berjalan tenang menuju kamar,namun sebelum itu saat melewati ruang tamu mereka bertemu Bu Putri dan tamunya.
"Asalamualaikum mamih cantik" sapa keduanya sebari tersenyum lebar.
"Waalaikumsalam"
"Kalian dari mana?" tanya Bu Putri menatap kedua anak gadis itu,tamu Bu Putri menatap kearah Nirbita dengan tatapan aneh tanpa disadari.
"Dari jalan mih" jawab Naila.
"Dari jalan apa dari hutan sih kalian ini?,baju sampe kotor gitu,keringetan banget mana bau asem lagi" cibir Bu Putri membuat keduanya menggaruk rambut mereka anti ketombe.
"Habis nemenin Naila olahraga mih,buat ngilangin lemak,liat tuh" Nirbita menunjuk perut Naila yang lempeng tidak buncit sama sekali,"Lemak doang"ejeknya.
Naila mendorong tubuh nirbita hingga sedikit terhuyung,"Fitnah mih,perut ila gada lemaknya nih"tunjuk Naila pada perutnya sebari menyisingkam baju,menunjukan kulit perut gadis itu.
"Gausah ditunjukin!" ujar Bu Putri melotot kan matanya,membuat Naila menurunkan bajunya lagi sebari mencebik.
"Ila kena fitnah mulu perasaan" gumannya.
"Kamu pacarnya Gara kan?" tanya tamu bu Putri membuat mereka cengo.
"Pacar" beo mereka.
Nirbita menatap tamu sang mamih,memang tidak sopan tapi itu satu-satunya cara untuk mengingat siapa wanita seumuran mamih nya itu,"Tante mamahnya kak Gara?"tanya Nirbita memastikan.
"Iya,masa lupa mamah jadi sedih ga diinget calon mantu,mana manggil tante lagi" ujarnya pura-pura bersedih.
Bu Putri dan Naila menatap Nirbita penuh selidik,"Kakak sama kak gara pacaran?"selidik Naila seolah perwakilan dari Bu Putri juga.
"Eh iya kita udah ada janji,mih,tante eh magsudnya mamah,kita masuk ke kamar dulu ya,mau siap-siap" ujar Nirbita teringat kembali tujuannya pulang.
"Permisi mamahnya kak Gara"
"Eh kalian mau kemana?" tanya Bu Putri namun Nirbita sudah melegang pergi.
"Ke mall mih,kita udah janji sama temen dari kemaren ga bisa dibatalin" jawab Naila yang stay disana,Naila mengatakan tidak bisa dibatalkan karna takut tidak diberi ijin,padahal Bu Putri selalu mengijinkan kemanapun mereka pergi selama tempat itu aman dan terpercaya.
"Yaudah sana mandi dulu,nanti mamih kasih tau bang es biar dianterin" ujar Bu Putri.
__ADS_1
"Oke,,Naila permisi ya mamahnya kak Gara" pamit nya
"Iya cantik" puji Bu Renata membuat Naila tersenyum lebar sebelum pergi.
"Itu keponakan kamu yang suka diceritain mba?" tanya Bu Renata.
"Iya itu dua satu lagi,lagi pergi sama kakaknya Rangga" jawab Bu Putri,"Kamu ko bisa kenal sama keponakan aku si mba?,gimana ceritanya?"
"Ketemu di supermarket mba,saya antusias banget tau Gara punya pacar,kamukan tau mba Gara kebanyakan risih sama cewe jadi susah buat punya pacar,aku pikir aku ga akan punya mantu eh ternyata keponakan mba yang bakal jadi mantu aku,,aaaa seneng banget" antusias Bu Renata menggebu hanya mampu membuat Bu Putri geleng-geleng kepala.
Tidak tau saja jika Nirbita beneran pacaran maka kedua abangnya akan cospal menjadi iblis wkwkwk.
Setelah mengganti baju tanpa mandi,ingat menghemat air wkwkwk,dua kembar beda orang tua keluar kamar dengan penampilan seratus delapan puluh derajat lebih cantik dari saat mereka pulang tadi.
"Mamih,sama mamah kak Gara lagi ngapain?" tanya Naila dimeja party dapur niatnya mereka ingin pamit sebelum pergi,siapa tau mendapat uang lebih hehe.
"Eh cantik,mamah lagi belajar buat kue dari mamih kamu" jawab Bu Renata dengan tangan penuh tepung.
Naila mengangguk mengerti."Ouh gitu,mih kak Es mana ko belum muncul batang idungnya aja belum keliatan?"
"Emang abang kuyang apa bisa nongol idungnya doang" cibir Nirbita sebari mencolek slay coklat dimeja.
"Nirbita jorok jangan kaya gitu!" hardik Bu Putri membuat Nirbita mencebik.
"Di colek dikit mih"
"Abang gaada,gatau kemana,hpnya juga ditinggal,bang Rangga lagi nganterin Naya ke grenmedia,kalian dianter anaknya mba Renata aja" ujar Bu Putri tanpa mengalihkan pandangannya pada dua gadis itu.
"Sama kak Gara?" tanya keduanya.
"Iya,mamah udah minta dia buat anterin kalian ke mall,coba cek kedepan udah datang apa belum" kini Bu Renata yang menjawab,"Eh itu suara motor pasti Gara udah datang"sambung Bu Renata saat mendengar suara bising motor berhenti didepan rumah.
"Emang gapapa mih?" tanya Nirbita pada sang mamih.
"Gapapa kalo kalian gamau juga bisa batalin nge mallnya"
"Gabisa gitu" cebik keduanya membuat Bu Renata terkekeh,ingin sekali mengunyel-unyel pipi sikembar beda orang tua ini,namun sayang seribu sayang tangannya kotor dengan tepung.
"Ga ngerepotin kak Gara mah" tanya nirbita lagi.
"Engga ko sayang,masa nganter pacar sendiri ke mall harus kerepotan,kalo sampe bilang gitu sih bilang sama mamah,biar mamah Smekdown,mamah sunat ulang tuh anak" ancam Bu Renata menggebu membuat kedua gadis itu tertawa.
"Mamah bisa aja,tapi ita bukan pacar kak Gara ko,jadi wajar kalo kak Gara kerepotan" ujar Nirbita membuat Bu Renata cengo.
"Udah ah jangan banyak gosip,keburu mallnya pindah tempat,kami pamit ya mih,mah" pamit Naila disusul n6irbita.
"Hati-hati jangan pulang kesorean" ujar Bu Putri memperingati.
"Siap kanjeng ratu,asalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Kedua gadis itu membukan pintu hingga tersentak dengan keadaan di pekarangan rumah,memang tidak ada yang berubah hanya saja dipenuhi enam remaja yang tengah duduk bertengger dimotor masing-masing,kecuali gara yang hendak mengetuk pintu bahkan tangannya masih menggantung namun pintu lebih dulu dibuka.
"Kak Gara"
"Kalian ko ada disini?" tanya Gara dengan mengerutkan keningnya heran.
Gara tersentak ketika melihat dua gadis yang salah satunya sudah mengisi kekosongan hatinya selama ini.
"Emang kenapa?" tanya Nirbita bingung dengan pertanyaan Gara.
"Gue kan udah bilang bos,lo akan ketemu orang yang lo rindukan disini" ujar Farel yang stay duduk di motornya yang sudah dimatikan mesinnya.
"Ah iya,tadi kata mamah kak Gara,kak Gara mau nganterin kita ke mall,emang ga ngerepotin kak?" tanya Nirbita
Gara terdiam sejenak memikirkan perkataan Nirbita tadi,kapan mamah nyuruh nganter ke mall?"pikirnya,karna memang hanya dikabari untuk datang kerumah Bu Putri itu saja.
"Ah gapapa ko,aku anter" jawab Gara tidak mau melepaskan kesempatan.
"Yaudah yu pergi,tapi jemput Risa dulu gapapa? " tanya Nirbita lagi.
Gara mengangguk,"Gapapa"jawabnya membuat nirbita tersenyum senang.
"Udah deh pacarannya lanjut nanti aja" cibir Naila menghampiri motor Farel.
Nirbita mencebik malu"Siapa yang pacaran sih?"
"Kalian lah,siapa lagi masa ila sama karel kereta api tututut,nanti dilabrak kak wakesis bisa bahaya" oceh Naila.
"Ogah banget gue harus pacaran sama lo" cibir Farel.
"Siapa juga yang mau pacaran sama situ,kak Vania cuma hilaf ya mau jadi pacar situ,semoga kak Vania cepet sadar kalo yang dipacarin nya itu tikus got" cibir Naila pedas.
"Sekate-kate nih bocah,semakin dibiarin semakin menjadi"hardik Farel menyisingkan lengan bajunya sebari hendak turun untuk menyerang Naila yang bermulut cabe,namun terhenti ketika pandangannya bertubrukan dengan tatapan tajam Bintang siap menelannya hidup-hidup.
"Ayo ribut,jangan sabar teruslah marah-marah" ujar Rezaldi memprovokasi.
"Kenapa berhenti sini kalo berani,satu lawan satu!" tantang Naila,Naila tipe-tipe netizen berani dimulut doang pas disamperin nanges.
"Nanti aja lanjut berantemnya,yu pergi" ajak Nirbita melerai pertengkaran antara Naila dan Farel.
"Huh" Farel membuat gerakan mengiris lehernya dengan jari sebari beradu tatap dengan Naila.
Melihat itu membuat naila menggebu lalu memeletkan lidahnya dengan tatapan tajam.
"Naila sini aku bonceng" ujar Bintang membuat Naila memutuskan tatapan tajam nya dari Farel.
Naila mengangguk lalu menghampiri motor bintang,sesekali melirik Farel sebari memeletkan lidahnya.
"Ngikut ah" ujar Rezaldi.
"Gue juga" timpal Devan,"Tapi Agnes ikut ga ta?"tanyanya.
"Engga,aku chat deh mau ajakin,kalo mau ikut emang kak Devan mau jemputnya?" tanya Nirbita.
"Boleh" jawab Devan semangat.
"Modus" cibir Rezaldi.
"Iri bilang pemulung" cibir Aril membuat Rezaldi mendengus.
__ADS_1
"Lo tuh pemulung" hardik nya tidak terima dikatain pemulung.
"Pemulung ko panggil pemulung"ejek Aril tak menyerah.
Kedua pria itu selalu bertengkar saat bertemu,jika dihitung tiada hari tanpa bertemu mengingat mereka satu geng yang kadang siang malam berkumpul.
"Gue ajak ayang ah" ujar Farel sebari merogoh ponselnya.
"Kak wakesis sebenernya ilfil deh sama kakrel kereta api tutututut" ujar Naila yang sudah duduk anteng di jok belakang Bintang.
"Yang iri diam" kesal Farel tanpa menoleh dari ponselnya.
"Gue si setuju sama Naila,inikan bukan dongeng yang mana beauty end the bis,kalo ga kerasukan gue yakin Vania ogah jadi pacar lo" ejek Rezaldi membuat Farel ingin menggetok kepala temannya itu dengan helm.
"Gue ko setuju ya" timpal Aril,jika masalah saling membuly mental dia bisa diandalkan.
"Ikut katanya kak Devan,kak Devan jemput Agnes dirumahnya trus kita ketemu di mall aja biar cepet gimana?" tanya Nirbita mengusulkan tanpa peduli dengan perdebatan para lelaki memojokan Farel.
"Oke,kalo gitu gue duluan mau jemput Agnes dulu" jawab Devan namun entah kenapa hatinya tidak ingin ia pergi.
"Iya kak" jawab Nirbita lalu naik kejok belakang milik Gara.
Kesabaran Farel yang setebal kapas jika tertiup angin langsung melayang,pria itu sudah turun dari motornya untuk mengajak duel Rezaldi dan Aril gelut.
Namun terhenti ketika mendengar Devan yang beranjak pergi bersama motornya,"Woy lo ga ikut ke mall?"tanya Aril berteriak hanya direspon jari tengah pria itu.
Aril mendengus dengan respon gada ahlak bungsu algaskar itu yang semakin menjadi, menipu uang mereka saat membeli vidio enak-enak malah dikirim vidio siraman qalbu,menjebak mereka yang katanya tetangga rumahnya janda kembang saat disamperin janda peot,alias nenek-nenek yang malah ngejar-ngejar mereka hingga nenek itu pingsan kecapean dan membuan kesialan bertambah karna warga meminta mereka untuk bertanggung jawab pada nenek itu tentu saja mereka memilih kabur,dan banyak lagi keusilan Devan yang diluar nalar ini.
Perlu dibalas suatu saat nanti!.
"Ril,lo jemput Risa dirumahnya,kita ketemu di mall" ujar Gara sebari melanjutkan motornya disusul pasangan Bintang yang membonceng Naila.
"Duluan yang gada boncengan nya" ejek gadis itu.
"Gue mah engga dong,mau jemput ayang dulu biar ada boncengan nyah" saut Farel menyalakan motornya.
"Yeh walaupun gue jomblo boncengan gue mah ga kosong"saut Aril.
"Jomblo ya jomblo aje kali" cibir Rezaldi.
"Jomblo elimited edisen gituloh" ujar Aril menyalakan motornya,"Emang lo!,pacar banyak boncengan kosong"ejeknya melegang pergi.
Rezaldi mendengus kesal,karna memang dirinya begitu,banyak pacar hanya dijadikan koleksian doang tapi tidak pernah diperkenalkan dengan teman-temannya secara langsung,hanya dijadikan penampungan otak mesumnya saja walau tidak pernah celap-celup.
Rezaldi memberitahu nama pacar-pacarnya ketika bergosip namun tidak memperkenalkan langsung.
Mereka melajukan motornya ke tujuan masing-masing namun dengan akhir tujuan yang sama yaitu mall.
"Abang-abang kamu kemana Naila?" tanya Bintang yang tak pernah membaggil Naila dengan panggilan ila seperti yang lainnya.
"Bang ran6gga pergi sama kak Naya,kalo bang Es gatau kemana,ga bisa dihubungi juga karna hpnya ketinggalan dirumah" jawab Naila jujur.
Bintang hanya mengangguk senang bisa berduaan dengan Naila,kapan lagi coba?,tidak pernah ada waktu untuk berduan,jika tidak abang-abangnya yang mengganggu maka kedua kakak gadisnya yang selalu memonopoli Naila,aslinya sih Naila yang selalu mengikuti kemanapun kakaknya pergi bahkan ke toilet sekalipun.
.
.
Elesky membuka pintu rumah dengan kencang sebari memanggil-manggil mamihnya,"Mih, mamih"
"Didapur bang" saut Bu Putri dari dapur.
Elesky berlari kearah dapur dengan keadaan memperihatinkan,rambut acak-acakan,keringat bercucuran seperti gelandangan bahkan baju pria itu sudah acak-acakan.
Bu Putri terbahak melihat keadaan memprihatinkan sang putra pertama,"Kamu habis ngegembel dimana bang?"tanyanya.
Bu Renata yang masih disana hanya terbengong menatap iba pda putra pertama temannya itu.
"Ngeledek nya nanti aja mih,si Naila sam Nirbita hilang mih!" ujarnya panik,"Aku udah cari keliling kampung sampe dikerja orang gila sekalipun mereka ga ketemu mih,kita harus ngubungin papih mih"sambungnya menggebu.
Apa yang Elesky katakan semua kebenaran dari ia tidak menemukan dua adiknya yang ia kejar kearah kanan sampe dikejar orang gila,jika penjahat elesky bisa melawan lah ini orang gila,sebagai orang waras Elesky mengalah dan kabur terbirit-birit keliling kampung dari kejaran orang gila.
Bu Putri mendengar putranya dikejar orang gila semakin terbahak,"Gapapa kali bang kali-kali olahraga bareng orang gila"
"Mih,ini serius jangan ngomongin orang gila dulu,si Naila sama Nirbita ilang mih,ilang" panik Elesky.
Bu Putri menghela nafas meredakan tawanya,"Mereka ga ilang kali,kamunya aja yang telat pulang gimana si?,ko bisa-bisanya malah olahraga sama orang gila"cibir Bu Putri.
"Huh" Elesky menghela nafas lega mendengar dua adiknya tidak jadi hilang,"Ini gara-gara mereka mih,aku tadi ngejar mereka malah kehilangan jejak"jawab Elesky tersungut-sungut,"Sekarang mereka dikamar kan mih?"
"Engga" jawab Bu Putri.
Elesky yang mendengar itu terdiam dengan tangan memegang pintu kulkas hendak mengambil air dingin,"Lah dimana?"tanyanya sebari melanjutkan mengambil air dalam kulkas.
"Ke mall"
Byurr
Elesky menyemburkan minuman di mulutnya hingga menyebar disekitar kulkas yang belum ditutup.
"Elesky kamu jorok banget sih!" hardik Bu Putri berkaca pinggang,Bu Putri yang tadinya ngakak sekarang merasa ngenes karna sekitaran kulkas basah ulah sang anak.
"Mereka ke mall mih?,sama siapa?,si Rangga kan pergi sama Naya" tanya Elesky tanpa menjawab hardikan Bu Putri tadi.
Bu Putri mendengus sebari melempar lap untuk membersihkan ulah Elesky,"Gausah protektif banget jadi orang,ade kamu cuma jalan ke mall sama temennya"
Elesky tidak terima dikatain protektif,"Ini demi kebaikan mereka mih"elaknya sebari membersihkan semburan air dari mulutnya tadi menggunakan lap yang dilempar bu Putri.
"Ngelak aja kamu" hardiknya.
Elesky mendengus sebari menggeladah, "Eh ada tamu,maaf tante saya ga engeh tadi" ucap elesky sopan.
"Gapapa,kamu Elesky anak pertamanya mba Putri yang kerjanya jadi tentara?" tanya Bu Renata berbinar.
Renata sudah lama ingin bertemu anak temannya ini sejak keluarga Bu Putri pindah ke komplek yang di tempati sekarang,sebab dulu tidak tinggal disana.
"Iya tante,ah maaf banget saya ga sopan"
"Iya saya ngertiko,ya allah kamu ganteng banget,kulit nya mulus banget kaya anak muda" cerocos bu Renata berbinar.
"Saya emang anak muda tante" jawab Elesky.
__ADS_1
Bu Putri menghela nafas,ia senang karna kehadiran Renata ternyata bisa mengalihkan anaknya itu dari adik-adiknya,lumayan gadis-gadis itu bisa bebas dari kekangan para kakaknya walau sudah pasti besok,kedua abang mereka akan mengocehi mereka seratus kali lipat dari biasanya.