
Di sebuah ruangan terdapat segerombolan pemuda yang sedang berkumpul,beragam yang mereka lakukan dari mabar sekedar makan bahkan bergosip ada juga yang bernyanyi disertai petikan gitar yang mengalun.
"Kenapa lo bos?" tanya seseorang sebari menepuk pundak yang ia panggil bos.
Remaja yang dipanggil bos terhenyak menatap sang penepuk,"Emang gue kenapa?"bukannya menjawab pria itu malah bertanya.
"Lo ngelamun bos,,kenapa ada masalah lo?" tanyanya lagi sebari memutar matanya malas.
"Ga" jawabnya cepat dan kembali terdiam.
"Ya elah bos kalo ada masalah mah cerita aja kali,,siapa tau gue bisa bantu,,masalah cewe ya?"selidik Pedro namun pria itu mendengus ketika menyadari pria yang ia panggil kembali melamun dan tidak menghiraukannya,"Ck gue dikacangin"
"Kenapa lo?" tanya Javas melihat raut kesal diwajah pedro sibiang gosip.
"Noh" Pedro menunjuk jastin dengan bibirnya,"Galau"sambungnya dianggukin Javas.
Pedro bangkit dari duduknya dan ikut bergabung dengan Tom dan Jerry yang sedang bernyanyi dengan alunan suara gitar.
Javas duduk ditempat pedro sebelumnya yaitu disamping Jastin,"Kenapa lo bos?"tanyanya persis seperti yang dilakukan Pedro.
Jastin mendelik kesal kearah wakilnya ini,"Gapapa"jawabnya kesal.
"Lo lagi galau bos?,,cewe mana si yang lagi deket sama lo?"tanya beruntun Javas sedikit meledek pasalnya bosnya ini anti dengan perempuan setelah sempat diselingkuhin dimasa cinta monyetnya waktu smp seolah menjadi trauma.
"B*cot"
"Yaelah bos santai kali,,lo kan cowo pantes suka sama cewe kecuali lo suka sama si Pedro baru bermasa"Javas menghentikan perkataannya ketika mendapat bogeman diwajahnya.
Bugh
"Jaga mulut lo atau gue robek sekalian!"
"Ehh bos kenapa lo nonjok Javas?" tanya Tom mendekati ketua dan wakil geng Orion.
Jastin tidak menjawab pria itu hanya berdecak dan menyambar jaketnya di sandaran sofa berulah melegang pergi meninggalkan markas Orion.
Anak buahnya hanya bisa menatap heran dengan sikap bos mereka yang beberapa hari ini menjadi sumbu pendek,walaupun memang suka begitu tapi jika bukan masalah besar jastin tidak akan memukul anggotanya seperti tadi apalagi ini yang dipukul javas wakil Orion,,pria itu juga selalu uring-uringan tidak jelas.
"Berengs*k" umpat Javas lirih melihat ketuanya pergi,pria itu tentu saja tidak terima dipukul tanpa sebab,,dalam perkataan Javas tidak ada yang salah jadi untuk alasan apa ia menerima pukulan ini?.
Javas menyeka darah disudut bibirnya yang ternyata robek atas pukulan tak main-main jastin tadi,pria itu mengepalkan tangannya dengan sorot benci,"Gue balas lo nanti,,gue akan ambil apa yang seharusnya jadi milik gue!"ujar pria itu dalam hati.
Disisi Jastin pria itu pergi dari markas menggunakan motornya,ia juga tidak mengerti dengan apa yang terjadi padanya beberapa hari ini,,ia merasa ada yang tidak beres,bahkan jastin pergi kerumah sakit untuk memastikan apa ia memiliki penyakit berbahaya nyatanya tidak,tapi terkadang beberapa hari ini jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya dan juga hatinya selalu merasa sesak disuatu saat,entah kenapa?.
Jastin sendiri juga tidak mengerti,yang pasti beberapa hari ini ia tidak bisa mengontrol emosinya,,pria itu sedang dimode senggol b*cok dan uring-uringan tidak jelas.
Jastin menghentikan motornya pria itu membuka helm dan menaruhnya didepan barulah merogoh saku celana untuk mengambil ponsel.
Setelah ponsel di tangannya pria itu mengutak atik dan mendengus kesal,"Arggg"teriakan pria itu menjadi atensi sesaat pengendara dan warga sekitar.
"Lo kemana si nay?" tanyanya entah pada siapa tapi pria itu terlihat kesal.
Jastin mendial nomor seseorang yang sudah mengusiknya,seseorang yang selalu berkeliaran dalam pikiran tanpa seijinnya,padahal sikap absurd gadis itu sangat menjengkelkan namun bersamaan sikap gadis itu membuatnya tertarik.
Pembicaraan gadis itu yang terkadang kalem tapi lebih banyak polos-polos bego,,ceplas-ceplos juga terkadang pedas jika mengusiknya,,jastin jadi ingat wajah gadis itu saat kesal dengan pipi mengembung sangat imut,memikirkan itu jastin terkekeh masih dengan ponselnya menempel pada telinga menunggu jawaban.
"Ck" jastin berdecak sebari mendengus kesal,"Kemana si ni bocil?"monolognya kembali mendial.
Sudah seminggu sejak mereka jalan berdua dimall dan sejak itu juga naya menjadi cuek pada Jastin,,biasanya setiap dichat maka Naya akan langsung membalas begitupun saat ditelepon akan langsung diangkat tapi seminggu ini sangat sulit sekedar untuk mendapat balasan dari chat maupun telepon.
Jastin mengingat ketika Naya mengatakan tidak mau jalan lagi dengannya saat dimall waktu itu dan cukup membuatnya ketar-ketir,apalagi sekarang gadis itu menjadi cuek bisa dihitung naya membalas chat Jastin seminggu ini hanya tujuh balas dengan sehari satu balasan,untuk telepon gadis itu tidak pernah menjawabnya selama seminggu ini,,Jastin juga menunggunya disekolah gadis itu tapi tidak menemukan keberadaannya.
Entah alasan apa naya seolah menjauhinya begini,apa karna ucapan naya di mall waktu itu bukan main-main saat mengatakan tidak mau jalan bersamanya lagi,apa segitu marahnya gadis itu ketika jastin mengatakan hanya harus pokus padanya saja padahal waktu itu jastin hanya bercanda.
Entahlah Jastin juga bingung kenapa ia menjadi kesal dan marah ketika gadis itu cuek padanya,padahal ia membenci kaum wanita semenjak sang ibu meninggalkannya demi pria lain.
Rasanya tidak mungkin jika menyukai gadis absurd itu mengingat mereka bertemu baru empat kali,sekali dengan kesepakatan sisanya kebetulan'pikir Jastin selalu mengelak.
Pria itu terlalu membenci sang ibu yang sudah melahirkannya juga sudah meninggalkannya dengan pria yang lebih kaya dari sang ayah waktu itu,rasa benci itu semakin menguar ketika ia diselingkuhi pacarnya waktu SMP bersamaan saat ibunya pergi semenjak itu jastin sangat membenci wanita.
Tidak ada yang tau dengan semua ini Jastin selalu menutupi masalah hidupnya agar tidak dikatakan lemah,yang mereka tau jastin benci wanita karna pacarnya dulu selingkuh itu saja.
Lagi-lagi Jastin berdecak kesal saat lagi-lagi tidak mendapat balasan dari naya,tiba-tiba ponsel gadis itu mati seolah sengaja dimatikan untuk menghindarinya,pria itu memasukan ponselnya kembali kedalam saku dan memakai helm barulah menyalakan motor melaju di jalanan yang cukup ramai dengan perasaan kesal.
.
.
.
Diwaktu yang sama ditempat yang berbeda Naya sedang menatap ponselnya yang tergeletak diranjang yang terus menyala dengan sesekali suara notifikasi dan suara deringan panjang terdengar.
Naya hanya cemberut menatap nama seseorang diponsel'jurusjus' nama yang Naya berikan pada Jastin diponselnya,nama indah seseorang akan rusak jika disebutkan triplet yang polos-polos nyebelin.
Suara pintu dibuka mengalihkan tatapan naya,"Apa?"tanya gadis itu menatap Naila yang sedang menongolkan wajahnya saja didepan pintu.
Gadis itu cengengesan lalu menggelengkan kepalanya,"Gajadi"jawabnya lalu menutup pintu.
Naya kembali menatap ponselnya yang masih seperti tadi dan tiba-tiba mati begitu saja,"Ck sengaja lupa cas"gumannya.
Disisi Naila yang baru menutup pintu langsung mendapat komenan dari kembaran beda orang tua
"Eh kon ditutup lagi si?" tanya Nirbita yang berdiri di belakang Naila.
"Ager" ujar Naila dengan nada cemas.
"Ager makanan kenapa sama makanan itu?" tanya Nirbita heran merekakan kekamar Naya untuk meminjam uang kenapa jadi bahas ager atau bisa disebut jelly.
"Bukan makanan jeli itu kak tapi ager"
"Kalo bukan makanan apa dong?,yang jelas kalo ngomong" cibir Nirbita.
"Ager kak ager gitu aja gatau,katanya juara satu berturut-turut tapi kata ager aja ga ngerti"ujar Naila balas mencibir.
"Ager makanan jeli Naila!" sentak Nirbita kesal disepelekan diakan emang juara satu berturut-turut sejak dibangku kanak-kanak,Nirbita gitulah pinter yang kadang begonya mendarah daging.
"Bukan kak!,ih,ituloh ager kalo bahasa indonesianya masalah genting" Nirbita menyentil dahi Naila gemas padahal ingin sekali menyentil ginjalnya biar sekalian.
__ADS_1
"Urgent Naila urgent bukan ager" sentak Nirbita.
"Ah sama aja ada huruf G nya" jawab Naila tidak mau salah.
"Bodo amat terserah"ujar Nirbita mengalah demi kelangsungan uang pinjaman hehe,"Urgent kenapa? "
"Itu kak Naya" ujar Naila sebari menunjuk kearah pintu diamana ada naya di dalamnya.
"Kenapa kak Naya gapapakan?" tanya Nirbita cemas.
"Bahaya si kak bahaya"
"Bahaya" beo Nirbita sebari mengerak untuk membuka pintu namun Naila mencegat nya.
"Jangan kak,jangan!"
"Lepasin la,kita harus nolongin kak Naya"
"Jangan kak jangan! " cegah Naila memeluk Nirbita yang berontak untuk membuka pintu kamar naya.
"Awas la,awas,kita harus nolongin kakak sebelum terlambat"
"Iya tapi kita harus kelarin masalah kita dulu"sanggah Naila.
"Masalah kita bisa dipending la,kita harus tolongin kak Naya dulu"
"Denger!" naila menyentak tubuh Nirbita hingga terdiam dan saling tatap,"Kita harus selesain masalah kita dulu sama mba kunkun pohon mangga pak Selamat,,takutnya yang aku liat didalam itu bukan kak Naya"ujar Naila dengan serius.
"Magsud kamu didalam itu bukan kak Naya tapi,,"suara Nirbita tercekat setelah menyadari kata urgent yang dimagsud Naila,kedua gadis kembar beda orang tua itu menatap pintu dengan raut takut.
Cek
Suara gerakan pintu akan terbuka membuat kedua gadis itu tersentak lalu saling tatap sebelum
"Kabur" teriak keduanya sebari berlari tunggang-langgang menuruni tangga dikediaman Rangga.
Mereka memang adik durdurjana
Kediaman Rangga ini memiliki dua lantai,semua kamar utama milik triplet terpisah namun masih satu lantai yaitu lantai dua dengan dua kamar tambahan yaitu kamar mendiang pak candra dan istrinya dan satu lagi kamar Rangga sendiri,untuk kamar tamu ada dilantai bawah.
Naya menatap nanar dua saudarinya yang berlari dengan raut bingung,"Tidak tertolong"monolognya sebari berdecak.
Disisi dua kembar beda orang tua itu mereka kembali berlari kearah luar padahal baru saja kembali pulang,tadinya mereka akan membeli seratus tusuk sate di penjual ujung komplek namun sialnya mereka lupa bawa uang dan kembali untuk meminjam pada naya.
"Eh eh"lari keduanya dicegat Elesky yang baru kembali dari mengejar mereka dengan napas ngosngosan dibuntuti Gara dan Bintang.
Keduanya terhuyung ketika Elesky menahan tubuh mereka dengan cara memegangi kerah baju kedua adik sepupunya ini.
"Mau kemana hah?!" sentak Elesky sebari menatap horor.
"Kecekek bang kecekek!" teriak mereka sebari memukul lengan sang abang.
Elesky meringis menyadari kesalahannya lalu melepas tarikannya pada keras baju sang adik,"Maaf-maaf"
Keduanya mendengus sebari membenarkan kerah baju masing-masing,"Eh kak Bintang sama kak Gara baru datang ya?"tanya nirbita membuat Elesky yang diacuhkan mercak-mercak.
Elesky sendiri melotot mendengar panggilan pria itu untuk adiknya bi katanya pengen Elesky pites tuh leher.
"Hai kak Bintang" sapa Naila sebari tersenyum dan menular pada bintang.
"Hai nai"
Nirbita mengangguk sebari mencebikan bibirnya,"Bukan kambing kak kucing "
Bintang terkekeh ketika melihat nirbita kesal karna hewan peliharaan nya di panggil kambing ya emang kambing!.
Gara sendiri hanya bisa tersenyum paksa sebari mengangguk.
"Gausah ngobrol bukan muhrim" sentak Elesky menarik kedua adiknya menjauh dari dua pemangsa betina menurut pria itu,"Noh kebelakang mereka udah disana"ujar elesky di sela-sela langkahnya sebari menatap sejenak kedua pria pemangsa betina lalu beralih kearah halaman belakang.
Kedua gadis itu berontak tidak mau dibawa menaiki tangga mereka masih memiliki misi yang harus diselesaikan,"Bang lepas kita harus pergi bang!"pinta keduanya.
"Bentar lagi magrib gausah pergi-pergi,kalian mau dibawa wewegombel keluar magrib?" jawab Elesky disela langkahnya.
"Gamau" teriak mereka.
"Tapi bang kita masih punya misi yang belum terselesaikan" ujar Naila dan dibenarkan Nirbita.
"So soan misi-misian permisi aja sono" oceh Elesky membuat kedua gadis itu manyun dengan bibir maju beberapa senti.
"Misi ini penting bang! ,demi kelangsungan hidup seorang kepala keluarga" ujar Nirbita.
Elesky menghentikan langkahnya otomatis langkah kedua gadis itu juga terhenti,"Misi apa si emang?"keponya.
"Misi merolekasikan mba kunkun pohon mangga pak Selamat dari tempatnya,biar ga ngapel kerumah terus,,biar abang abangnya kita itu segera dapet jodoh,,,tuh gara-gara mba kunkun gatau diri sampe sekarang abang-abang kita masih jomblo" jawab Nirbita menggebu seolah meluapkan emosinya pada mba kunkun padahal kalo asli bertemu dengan mahluk astral itu sudah tentu nirbita pingsan.
"Bener tuh bang,mba kunkun gatau diri banget udah diijinin tinggal disamping rumah malah ganggu,,abang-abang kita tuh ganteng,kaya,estetik pokonya perutnya sampe ada roti sobeknya" Naila menimpali perkataan Nirbita.
Elesky saking frustasinya mendengar ocehan kedua adiknya yang tiba-tiba ingin merelokasi kan mba kunkun pohon mangga samping rumah milik pak Selamat dengan alasan dia dan Rangga jomblo,ingin rasanya Elesky memporak-porandakan rumah ini sekarang juga namun ia urungkan,,Elesky kan sudah tidak jomblo lagi ferguso hhhh.
"Heh kutu kupret ga usah sok jadi anak,,benerin dulu tuh ngomong relokasi bukan rolekasi,ini lagi atletik bukan estetik"ejek Elesky pogah sebari menatap kedua adiknya bergantian.
"Kalian dapet ide gini dari siapa?" tanya Elesky selidik jika tidak ada yang memprovokasi adik-adiknya yang super lugu tidak mungkin bertingkah.
"Davri" jawab kedua membuat Elesky mercak-mercak.
"Gausah dengerin tuh anak rt satu pembawa sesat!,,udah kalian masuk udah mau azan tuh abang sama yang lain mau kemasjid kalian solat berjamaah dirumah aja bareng mamih" ujar Elesky.
"Siap bos"pasrah keduanya sebari melakukan gerakan hormat.
Elesky merutuki tingkah anak pak rt bernama Davri itu entah apa yang sudah remaja itu katakan hingga membuat adik-adiknya nyeleneh,,dari dulu tingkah mereka emang selalu diluar nalar dan selalu biar keroknya Davri,Wahyu ataupun Farel yang selalu memprovokasi hal-hal aneh yang bego nya di percayain triplet begitu saja.
Walaupun begitu Elesky tau ketiga pria yang menjadi teman sejak kecil ketiga adiknya itu tidak membawa pengaruh negatif pada adiknya,selama tidak memberi pengaruh negatif maka Elesky akan sedikit melunak untuk membiarkan mereka berteman,,tapi ketiga pria itu selalu berulah dan membuatnya pusing dengan ulah triplet atas provokasi tiga remaja itu.
Bagaimana Rangga yang hampir dua puluh empat jam bersama mereka sudah dipastikan mentalnya sekuat baja karna masih bertahan sampai saat ini dengan tingkah keenam bocah itu dan parahnya sekarang ditambah inti algaskar.
Rasanya kedua pria itu ingin melempar mereka keamazon saja biar triplet aman dari buaya pemangsa betina yang siap menghadang!.
__ADS_1
"Awas ya tuh tiga bocah bakal gue bejek" sungut Elesky merutuki Davri,Wahyu dan Farel.
.
.
.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama hingga magrib diperjalanan akhirnya Jastin berdiri dirumah dengan dua lantai didepannya ini, pria itu menghela nafas sebelum masuk kedalam tempat tinggalnya.
Jastin berjalan santai menuju kamarnya,suasana rumahnya cukup sepi mengingat ia hanya tinggal berdua dengan sang ayah dan juga ada beberapa pelayanan disana.
Keluarga Abraham termasuk pebisnis sukses di Indonesia setelah beberapa tahun lalu mengalami kebangkrutan,tuan Ahmad Abraham bisa melewati itu dengan berbagai cobaan apalagi secara bersamaan sang istri kabur bersama selingkuhannya setelah mengetahui dirinya mengalami kebangkrutan.
Sejak saat itu a
Ahmad Abraham menjadi sosok yang pecinta kerja hingga hampir melupakan keberadaan anak tunggalnya yaitu Jastin untuk melupakan kesedihannya,,kesibukannya membuat hubungan ayah dan anak itu renggang bahkan dingin,mereka jarang bertemu karna Jastin pun lebih memilih tinggal di markas orion,mereka jika berpapasan lalu bertingkah seolah orang asing.
Jastin terlalu benci pada ibunya hingga ia membenci wanita dan ia juga terlalu kecewa dengan ayahnya yang tak pernah memberikannya kasih sayang seorang ayah setelah sang ibu pergi menjadikan sosok urakan seorang Jastin sebagai pengalihan kekecewaannya pada keluarga.
Jastin merebahkan tubuhnya diranjang king size dikamarnya lalu menghela nafas dan berguman,"Gue kenapa si?"monolognya heran.
Beberapa menit rebahan Jastin akhirnya bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri,ia merasa tubuhnya sangat lengket dan tidak nyaman terus mengrogoti dirinya.
Di tempat yang sama namun diruangan berbeda pria dewasa mungkin berusia lima puluh tahunan baru masuk kedalam rumahnya,,pria itu menatap sekeliling,sepi cocok untuk mengungkapkan tempat ini juga hatinya.
Ahmad Abraham berjalan dengan raut lelah,setiap hari ia akan lembur dan pulang larut malam untuk saat ini ia ingin melihat sosok yang ia hampir lupakan dan rindukan.
Entah sosok itu pulang atau kembali memilih tinggal ditempat geng motornya,,Ahmad Abraham membebaskan putranya bukan karna ia tidak ingin mengurus jagoan kecilnya itu,tapi Ahmad Abraham harus bekerja keras agar putranya tidak mengalami kekurangan sedikitpun dalam finansial membuatnya tanpa sadar membuat Jastin kekurangan kasih sayang.
Setiap mereka bertemu Jastin selalu bertingkah seperti orang asing sekalinya dekat mereka akan beradu argumen satu sama lain.
Ahmad Abraham melangkahkan kakinya ke lantai dua dimana kamarnya berada tepat disamping kamar Jastin,pria paruh baya itu menghela nafas.
Cek lek
Ahmad Abraham membuka pintu kamar sang putra lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam,pria itu melihat sekitar saat menemukan jaket dengan logo nama 'orion' senyuman tipis terbit dibibir pria paruh baya itu.
Ia juga mendengar percikan air dikamar mandi mengartikan ada seseorang disana,Ahmad Abraham menghela nafas dan kembali keluar dengan menutup pintu sepelan mungkin.
Jastin keluar kamar disaat perutnya keroncongan,pria itu menuju meja makan dan melihat sosok pria yang sangat ia kenali.
Sosok mirip dengannya persi dewasa siapa lagi jika bukan Ahmad Abraham.
Jastin mengambil duduk di sudut meja sangat berjarak dengan pria yang notabenya ayahnya.
"Masih ingat pulang ternyata" sindir Ahmad Abraham.
Jastin mengepalkan tangannya namun tidak merespon.
"Kenapa pulang?,,markas mu sudah hancur atau kau kehabisan uang?" ujar Ahmad Abraham dengan nada menjengkelkan ditelinga Jastin.
Jastin menatap tajam pria itu sebari menggenggam sendok dengan kencang.
"Ouw selain kehabisan uang ternyata kau juga menjadi budeg ya" sindir pria itu semakin jadi di sela-sela makannya.
"Bahkan orang budeg lebih baik dari pada anda" ujar Jastin tajam.
"Benarkah?,,mana mungkin beban keluar lebih baik dari pada kepala keluarga"
Jastin semakin mengepalkan tangannya,"Tidak ada yang mengatakan lebih baik,tapi beban keluarga mendapatkan contoh dari kepala keluarganya "ujar Jastin tak kalah pedas.
Pak Ahmad menganggukan kepalanya lirih dengan kekehan,"Bagaimana mungkin pekerja keras menurun menjadi pemalas "
"Pemalas ini lebih beruntung dari pada pekerja keras yang bahkan ditinggakan istrinya"ejek Jastin membuat pak Ahmad mengepalkan tangannya.
Ahmad Abraham sangat benci saat perdebatan tentang sang mantan istri yang pergi bersama pria lain,,tadinya ia hanya ingin berbicara dengan sang putra dan itulah satu-satunya cara untuk Jastin bicara dengannya yaitu mematik emosi pria itu namun selalu berakhir membahas wanita si*lan itu.
"Apa yang anda banggakan tuan hanya uang?" sindir Jastin,"uang tidak akan kau bawa mati!"
"Tapi uanglah yang akan mengurus kematian"saut Ahmad suasana dimeja makan menjadi sangat menyebalkan.
Jastin bahkan sejak tadi belum menyentuh makanannya sudah dibuat kenyang dengan perdebatan dengan pria itu.
Prang
Jastin melempar sendoknya asal lalu belangkah untuk pergi,,bukan Jastin tidak bisa membalas ucapan ayahnya itu namun mengingat mood Jastin sedang mode senggol b*cok ia tidak ingin sampai kelepasan dan memukul ayahnya.
Seumur-umur dia belum pernah melakukan itu pertengkaran diantara mereka hanya sekedar bercekcok mulut saja,saling melempar perkataan pedas satu sama lain dan jangan sampai ia kelepasan saat ini.
"Mau kemana kau?" tanya Ahmad.
"Bukan urusanmu!" jawab Jastin melanjutkan langkahnya keluar rumah.
Ahmad Abraham melihat itu hanya menghela nafas,"Sulit sekali mengajakmu bicara"guman pria itu.
Sebagai seorang ayah tentu saja ia juga ingin dekat dengan anak tunggalnya itu tapi semua menjadi semakin asing setiap harinya,Ahmad Abraham hanya bisa berharap semoga harapannya suatu saat sesuai dengan ekspektasi.
Ahmad Abraham tidak tau caranya mendekati sang putra entah harus seperti apa selain memenuhi kebutuhan pinansial sang putra.
Disisi Jastin remaja itu menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah dan tiba-tiba berhenti untuk berteriak sangat kencang menjadikan atensi orang sekitar.
"Berengs*k"
Drttt-drttt
Jastin mengambil ponselnya,raut wajah yang suram berubah sedikit berbinar dimatanya,lalu mengalihkan chat itu menjadi panggilan.
"Lo dirumah kan cil gue kesana ya" ujarnya setelah panggilan tersambung tanpa menunggu jawaban Jastin memutuskan panggilan sebelah pihak membuat Naya mercak-mercak di rumahnya.
"Bego seenaknya aja mau datang kerumah,kalo abang tau bisa tinggal nama"rutuk Naya sebari mondar-mandir dikamarnya.
Tadi ia hanya ingin mencopot ponselnya dari sambungan charger dan akan kembali berkumpul dengan mereka yang sedang bakar-bakaran dibelakang rumah, Naya iseng menyalakan ponselnya hatinya menjadi bimbang saat melihat hampir dua ratus chat dari Jastin membuatnya khawatir dan memutuskan membalas dan malah berujung petaka untuknya sekarang.
Bisa dijadikan bubur jika ketahuan akan ada yang datang kerumah menemuinya bukan masalah jika cewe lah ini cowo,abang-abangnya bisa ngereog jika ketahuan.
Huaaa Naya pengen menghilang aja!.
__ADS_1
Disisi Jastin yang seenak jidat memutuskan sedang melajukan motornya menuju rumah naya seperti yang dia katakan tadi,senyum tipis tidak lepas dari bibir pria itu semenjak mendapat balasan suasana hatinya juga membaik sekarang.