
Setelah bekerja bakti warga pulang kerumah masing-masing tanpa kecuali.
Triplet juga sudah rebahan dilantai teras rumah Farel,bersama Davri dan juga Wahyu,namun anak pemilik rumah belum juga pulang dari pasar,
Entah masih dipasar atau ngelayab kelain tempat.
"Kalian ngapain si ngajak ke sini?"tanya Wahyu menatap keempat temannya,"Ngajak rebahan doang suguhan nya kaga ada!,kasih makan ge laper nih!"
"Lo udah makan dua jam lalu ya!"cibir Davri mengingatkan makan bersama mereka.
"Itu udah dua jam berlalukan?,udah tercernalah makanan yang gue telen!"ocehnya.
"Aku juga laper!"seru Nirbita lalu menatap kedalam rumah Farel yang terbuka,"Bu Lastri ga punya makanan apa ya?,kita namu ga disuguhin!"ujarnya tak tahu malu.
"Panggil aja Bu Lastri nya kita kasih ceramahan,kalo memuliakan tamu itu suatu keutamaan berpahala"oceh Naila songong sebari berjalan kearah pintu yang terbuka.
"Panggillah!,kita numpang makan"seru Wahyu yang mulai terkontaminasi otak tidak tahu malu triplet.
"Asalamualaikum sepada!"teriak Naila dengan kepalanya dimasukan kedalam.
"Waalaikumsalam"jawab Bu Lastri sebari menghampiri mereka,"Eh kalian kenapa?,mau pulang?,kalo mau pulang gausah pamit kan ga diundang"sambungnya sebari terkekeh,dirinya memang tau diteras sedang dihuni biang rusuh makanya ia sedari tadi hanya diam didalam rumah,untuk menjaga kewarasan!.
"Kaya jalangkung "guman Wahyu yang berdiri disamping Naila.
"Ibu Lastri ko kaya ngusir gitu?,gabaik tau bu lastri seharusnya memuliakan tamu!"
"Iya ibu memang suka memuliakan tamu,tapi kalian bukan tamu ibu,kalian datang bahkan ga diundang masa pulang minta diantar rugi ongkos dong saya!"jawab bu lastri hapal tabiat kelima anak-anak itu,hanya mereka biang rusuh dikomplek ini,dalang semua itu tetap triplet.
"Ga perlu dianter bu kita tau jalan ko!"oceh Nirbita yang masih rebahan sebari melihat ponsel yang dipegang Davri.
"Mau nganter juga ga perlu pake kendaraan,jarak rumah kita ga jauh-jauh amat bu!,gaperlu naik pesawat juga sampe"kini Naya yang mengoceh sebari duduk dan memainkan tanah.
Bu lastri menghela nafas,"Iyaiya kalian mau apa?,Farel dari tadi belum pulang kalian umpetin ya?"tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Bukan kita yang ngumpetin bu!,tapi gonduruwo pasar!"jawab Naila membuat bu lastri mengusap dadar sabar.
"Terus kenapa kalian biarin gitu aja!,Farel itu anak ibu satu-satunya ilang ga ada gantinya!"
"Aku siap jadi pengganti ko bu"ujar Naila membuat bu lastri segera menggelengkan kepala.
Menolak cepat,"Ga, ga, ga ibu mau Farel aja iklas ko ibu,walaupun dia cuma ketua OSIS hasil cap cipcup tapi ibu sayang sama anak ibu itu,gabisa tergantikan!"ujarnya
"Padahal aku iklas bu,mengantikan tempat karel kereta api tututut sebagai anak ibu,ngurus aku gampang ko cuma dikasih makan aja alhamdulillah "ujar Naila mendrama.
"Otak bu lastri udah terkontaminasi, kalo gini bakal gampang minta makan!"guman Wahyu dalam hati.
"Ibu yang innalillahi muda Naila!,udahlah kamu bersyukur aja jadi anak Bu Kasih dan Pak Jeje cuma mereka yang memiliki kesabaran tanpa batas!" ujar bu lastri.
"Naila bersyukur ko jadi anak ibu dan ayah,tapi aku merasa ternistakan bu,orang tua kami enak jalan-jalan ke luar kota,anak-anak nya malah ditinggal sama gorila hutan!"curhat Naila sebari mencibir.
"Orangtua durhaka!"desis Davri menjadi atensi tatapan mereka.
"Ck di mana-mana anak yang durhaka sama orang tua,Ibu Kasih sama Pak Jeje ninggalin kalian itu buat kerjaan sekaligus benerin komponen otak yang dirusak anak-anak nya"oceh bu lastri menggebu.
"Ih bu!,kami manggil ibu bukan mau ngajak gibah!,kita tuh mau minta makan!"ujar Wahyu tidak tahu malu.
"Iya tuh bu,Ila sampe lupa tujuan manggil ibu gara-gara diajak gibah!,ibu sengajakan bikin Ila lupa?"selidik Naila.
"Kalo udah tau tuh kalian tau diri!,ibu belum masak,kalian kan tau ibu baru pulang abis masak buat yang gotong royong tadi,jadi belum sempet masak dirumah, kalian pulang aja sama!,makan dirumah masing-masing!"usir bu lastri membuat mereka cemberut.
"Gamau pulang!"jawab serempak triplet membuat Davri,Wahyu dan bu lastri tersentak.
"Kenapa?,diusir Rangga?"tanya bu lastri seolah perwakilan Wahyu dan Davri.
"Engga kita lagi musuhan sama bang Rangga sama om Danis"desis Naila.
Serempak mereka memandang arah suara yang memekak telinga,"NATALA!"
Disana Rangga dan Danis sedang berlari kecil kearah rumah bu lastri dengan kedua tangan membawa kresek hitam yang lumayan besar.
"Dan cepet Dan!,itu bawa makanannya hati-hati awas aja kalo tumpah gue potong gaji lo"ancam Rangga mendelik tajam.
"NATALA adik-adik kakak yang manis dan cantik tapi minim ahlak"ujarnya didepan triplet membuat mereka menatap tajam pria itu.
"Kalo muji gausah sekalian fitnah dong!,"desis Naila dan Naya serempak untuk Nirbita gadis itu hanya diam dengan tatapan sendu.
"Kenyataan sih"guman mereka kecuali triplet.
__ADS_1
"Eh maaf-maaf tadi abang keceplosan hehe"jawab Rangga sebari tersenyum,"pulang yu nih abang beliin kalian banyak makanan,
Ada sate,seblak,bakso,mie ayam,soto,batagor apalagi Dan?"
"Es boba,eskrim,susu kotak,susu bulat,susu segitiga"jawab Danis ngawur.
"Emang ada susu berbagai bentuk kaya gitu ya?"tanya bu lastri heran.
"Ada bu ini buktinya saya beliin buat mereka,kalo ibu mau minta aja sama bos Rangga,dia yang beli soalnya"jawab Danis sebari mendudukan diri dilantai.
"Bukannya saya pelit bu tapi saya beli ini buat triplet jadi kalo pun ibu minta gaakan saya kasih"ujar Rangga.
"Siapa juga yang mau minta!,ibu cuma nanya aja ya "kesal bu lastri.
"Hmm NATALA pulang yu!,kita makan" ujar Rangga sebari menunjukan kresek ditangannya.
Demi membujuk triplet agar tidak mendiami nya terus,Rangga rela membeli berbagai makanan demi membujuk mereka,biasanya mereka akan luluh dengan makanan.
Rangga pikir adik-adik nya itu akan kembali merecoki dirinya setelah pulang bergotong royong,namun nyatanya tidak setelah dirumah triplet ngacir kekamar masing-masing bahkan menguncinya,setelah solat dzuhur pun mereka ngacir kerumah bu lastri,sedari pagi sampai sekarang mereka belum merecokinya dirinya tidak bersyukur malah merasa kehilangan.
Dia memang suka kesal setiap direcoki mereka tapi itu adalah kebahagiaan juga untuknya,setidaknya ia bisa menjadi sosok yang berguna untuk adiknya setelah mereka kehilangan kedua orang tua mereka.
Bagi rangga triplet adalah kekuatannya dalam menjalani hidup setelah kehilangan orang tua mereka.
Triplet masih diam dengan tangan terlipat didada,"Heh Naya yu pulang!,abang kamu tuh udah beliin banyak makanan sampe kakak yang tersiksa harus ngantri sana-sini"dengus Danis sinis.
"Yang iklas kalo bantuin"sengak Rangga membuat Danis berdecih," gue bantuin gara-gara situ ngancem potong gaji gue ya! "Sentaknya jujur.
"Gausah pulang aja triplet!" saut Davri membuat Danis dan Rangga melotot, apa-apaan remaja itu!.
"Disini aja makannya kan bisa!,gini nih ciri-ciri orang pelit "sambungnya mencibir membuat Rangga meringis malu.
"Bukannya abang pelit Dav,tapi abang lakuin ini buat mereka,mereka kaya sariawan dari pagi belum ngomong!" ujar Rangga membuat Davri dan Wahyu melotot.
"Iya ga ngomong sama kalian doang!"sengak mereka kesal dan malah mengingat kejadian dipasar tadi pagi.
Rangga mengusap rambutnya bukan karena gatal loh ya,dia sudah keramas pulang gotong royong!,pria itu malah mengingat cerita bagaimana merusuh nya triplet dipasar lalu meringis.
"Emang kamu apain adik kamu Rang?"tanya bu lastri.
"Cerita aja gausah komen!"sentak bu lastri kesal memang semua anggota keluarga dari triplet gaada yang bener, bikin emosi semua!.
"Iya bu maaf,ini semua gara-gara Danis tuh bu,gara-gara dia mereka marah sama saya"jawab Rangga menunjuk Danis membuat pria itu berdiri dan berkaca pinggang.
"Bos kebiasaan nyalahin,disini yang salah itu mereka"tunjuk nya kearah triplet.
"Ko kami?"tidak terima Naya.
"Emang mereka ngapain?"tanya bu lastri.
"Mereka minta dijemput disekolah bu"jawab Danis disanggah suara bu lastri.
"Cuma minta dijemput doang?,kalian ini ya susah amat cuma jemput mereka disekolah,sesibuk apasi kalian dikantor sampe ga sempet ****** adik-adik kamu Rangga?,"cibir bu lastri menggebu,kenapa wanita itu malah marah-marah?.
"Triplet kalo mereka gamau anter jemput kalian kesekolah biar Davri,Wahyu sama Farel yang nganter kalian,gausah andelin mereka!"kesalnya membuat Wahyu dan Davri menghela nafas.
"Ibu lastri bisa diem dulu ga?,itu om Danis belum selesai ngomongnya"ujar wahyu.
"Om-om heh gini-gini gue masih muda belum om-om!"sentak Danis tidak terima.
"Masabodo gamau tau"jawab wahyu menggunakan lirik lagu.
"Gausah berantem!,sok Danis dilanjut ceritanya"ujar bu lastri.
" Iya bu,saya sih ga masalah anter jemput mereka,yang jadi persoalannya mereka mau dijemput pake delman bu"ujar Danis mendrama.
Davri dan Wahyu melongo dengan cerita danis tadi,bukan hal yang aneh mendengar triplet meminta sesuatu yang aneh begitu memang,mereka sudah hapal tabiat kedua gadis itu.
Bu lastri menghela nafas sebari mengusap lehernya,"Kalian mau dijemput pake delman?"tanyanya menatap satu persatu personal triplet N.
"Iya bu apa salahnyasih?,kan delman juga alat transportasi "ujar Naya disetujui Naila.
"Di era serba maju kaya gini?,disaat mereka pengen kesana-kemari pake mobil,kalian malah pengen dijemput delman?" tanya bu lastri lesu dan diangguki keduanya kecuali Nirbita yang sejak tadi hanya diam.
Bu lastri menepuk dahinya frustasi "Adik kamu memang lain Rangga-Rangga" gumannya,"Kalo kalian ga mau pulang yaudah diem disini aja,itu makanannya juga makan disini aja biar ibu kebagian "sambungnya terkikik.
"Boleh ko bu,dibawa pulang juga gaada yang makan mubazir" setuju Rangga,ia sedikit heran dengan kebisuan sang adik kandung dengan wajah sendunya,apa gadis itu sangat marah padanya.
__ADS_1
Mereka memakan semua bawaan Rangga dirumah bu lastri ,sesekali Rangga menatap Nirbita yang terus saja diam sebari dengan malas memakan mie ayam kesukaannya itu,Rangga menghela nafas gusar.
Jika Naya dan Naila sudah bersikap normal eh salah bersikap tidak sariawan padanya lagi,Rangga sangat merasa bersalah pada adiknya yang terus diam,"Ini semua gara-gara danis!,awas lo gue pecat!"guman Rangga sebari menatap tajam kearah danis yang malah asik berebut ceker ayam dengan Davri dan Wahyu.
Setelah makan mereka duduk lesehan dilantai dengan alas karpet berwarna hijau milik bu lastri,"Kamu masih marah sama abang?"tanya Rangga menatap sang adik,suaranya sangat pelan hanya bisa didengar dirinya dan Nirbita saja.
Gadis itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban,Rangga menghela nafas dengan jawaban adiknya tanpa suara,"Kalo ga marah kenapa masih diem aja?"
Nirbita tidak menjawab gadis itu hanya menunduk sebari memainkan jemarinya saja.
"Abang minta maaf,nanti abang panggil tukang delman buat anter jemput kalian gimana?"ujar Rangga hanya dijawab gelengan kepala oleh Nirbita sebagai jawaban menolak.
Rangga menghela nafas,jika begini ia yakin adiknya itu sedang menutupi sesuatu,"Trus kamu maunya apa?,abang turutin ko"
Brumm-brumm
Suara deruman kendaraan beroda dia bersautan menghampiri halaman rumah bu lastri,membuat atensi mereka melihat kesana,mata mereka memicing menebak siapa gerangan yang datang.
Kelima pengendara motor itu turun lalu membuka helm masing-masing,kecuali Farel yang dibonceng seseorang pria itu tidak menggunakan helm.
Nirbita bangun dari duduknya dan pergerakan gadis itu diikuti Rangga dari belakang,mencegah dari pada mengobati,ia takut adiknya itu berbuat hal aneh,ya memang suka begitu!.
Nirbita menghampiri pengendara motor yang sudah membuka helm,wajah mereka terlihat asing untuk Rangga dan Danis.
Napas rangga tercekat saat adiknya menghampiri teman-teman Farel,pikirannya jadi melayang kebulan,ia jadi berpikir jika salah satu dari mereka adalah pacar sang adik,jika iya maka akan ia pepes pria itu,berani sekali mengajak adiknya yang masih kecil pacaran'pikir Rangga emosi.
Ia hendak menarik Nirbita agar menjauh dari mereka,namun ia hentikan sebab suara nirbita lebih dulu terdengar dengan nada kesal.
'Balikin!"ujar Nirbita sekarang menjadi atensi mereka dengan tangan gadis itu meminta sesuatu kepada Farel.
"Apa si ta?,lo minta apa sama gue?,minta nyelam buat nyelamatin ikan yang tenggelam?"cibir Farel terdengar seperti ejekan,memang Farel tengah mengejek gadis itu yang selalu saja bersikap random.
"Hp!"bentak Nirbita membuat Farel menatap Rangga dengan tatapan bertanya.
"Ga biasanya nih bocah ga ngoceh dulu,apa dia kesurupan ya?"monolog Farel bahkan memegang dahi nirbita dan membandingkannya dengan suhu di ketiaknya.
"Pantes panas"ujarnya terkikik namun nirbita tidak menanggapinya.
"Hp"ujar Nirbita lagi setengah terisak membuat Farel kelimpungan.
"Ko nangis?,nih nih gue balikin hp lo"ujar Farel niat hati ingin menjaili gadis itu malah dibuat panik,begitu juga Rangga yang langsung memeluk adiknya itu.
"Cup-cup itu hpnya udah dibalikin,kita laporin Farel ke bu lastik biar disunat ulang"ujar rangga mencoba menenangkan adiknya.
" Enak aja!"sentak Farel sebari menutupi burungnya itu,burung masa depan sedangkan teman-teman pria itu sebagian terkiki melihat wajah Farel.
Rombongan yang duduk dirumah Farel mendekat kearah nirbita,"Kakak kenapa nangis?,ini gara-gara karel kereta api tu turut"desis Naila lalu menginjak kaki Farel hingga terdengar teriakan dari pria itu.
"Argg kaki gue kanapa di injek Naila?"teriak Farel sebari memegangi kakinya,membuat teman-teman pria itu tidak bisa menahan tawa.
"Hhhhhhh mampus lo"ejek mereka kecuali satu remaja yang hanya menampilkan wajah datar tak terbaca yang sedang menatap nirbita dipelukan kakaknya.
"Mau pulang"ujar Nirbita disela tangisannya.
.
.
Waktu terus berputar hingga pagi kembali menyambut.
Pagi ini triplet ,Rangga dan Danis sedang melakukan sarapan,dengan tidak tahu malunya danis datang kerumah rangga dengan tujuan sarapan gratis,mengingat dirinya tidak ada yang menyiapkan sarapan karna belum menikah lalu apa kabar dengan rangga juga belum menikah.
Sejak kemarin siang Nirbita masih saja diam,walau berkali-kali para saudaranya berusaha membuat gadis itu bersuara dan berceria seperti biasanya namun sampai sekarang tidak berhasil.
"Ita sakit?"entah sudah berapa kali Rangga bertanya seperti itu dari kemarin.
"Engga"jawab Nirbita membuat mereka menghela nafas lega,suara ini kemajuan yang bagus dari kemari.
Nirbita seolah bisu sejak kemarin membuat mereka khawatir.
"Gimana kalo hari ini kamu ga usah sekolah aja,istirahat aja dirumah "saran Rangga.
"Boleh,aku setuju ga sekolah" bukan jawaban dari Nirbita melainkan dari Naila dengan wajah senang nya bisa membolos.
"Ga!,ya kalian tetep sekolah,cuma Nirbita yang kakak ijinin ga sekolah"desis Rangga membuat Naila cemberut.
Melihat wajah Nirbita yang sejak kemarin murung mengingatkan mereka setelah kematian orang tua gadis itu, Nirbita selama satu bulan kehilangan semagat hidupnya namun untung setelah satu bulan berlalu sikap gadis itu kembali ceria.
__ADS_1