
Naila berjalan gontai keluar dari kamar mandi bahkan gadis itu berjalan dengan sebelah tangan bertumpu pada dinding,rasanya semua tubuhnya terasa sakit sekarang,"Hiks"Naila terisak dalam langkahnya sebari menunduk menyusuri lorong.
Bukan hanya wajahnya saja yang terluka rambutnya pun acak-acakan layaknya orang gila.
"Woy Naila aku cari dikelas ternyata disini,dari mana kamu?,katanya mau ambil buku kenapa malah disini?" cecar Nirbita menghampiri Naila tanpa menyadari apa yang telah terjadi.
Nirbita berdiri didepan Naila dalam jangka satu jengkal,merasa ada yang aneh Nirbita menatap dalam Naila yang terus menunduk,"Kamu kenapa la?,kamu ga kesurupan kan?"tanyanya was-was melihat Naila yang terus menunduk sesekali terdengar isakan lirih,dia jadi bergidig ngeri mana diujung sana tempatnya adalah toilet.
"Kamu Naila kan?" tanyanya sekali lagi namun Naila tidak menghiraukan nya gadis itu terus menunduk sebari terisak.
"Naila" panggil Nirbita cemas hingga tangan gadis itu memegangi kedua pundak Naila dengan perasaan cemas dan takut.
"La,kamu gapapakan?" tanyanya lagi namun seperti tadi Naila tidak menjawab.
"Hik kak" isak Naila memanggil Nirbita.
"Iya la ini aku kakak kamu,kamu kenapa la?,ada yang sakit hah?" cecar nya sebari mengguncang kedua baju Naila.
"Hik kak" Naila terisak kini wajahnya terangkat menatap Nirbita dengan sedih.
Deg
Nirbita melihat wajah Naila yang lembab bahkan bibir adiknya itu sobek hingga mengeluarkan darah,amarah gadis itu seketika langsung diubun-ubun,"Siapa yang lakuin ini sama kamu la?"tidak ada jawaban karna Naila malah menangis kencang.
Nirbita langsung menarik adik sepupunya itu kedalam pelukannya,walaupun mereka selalu bercekcok tapi mereka saling menyayangi,triplet tidak ingin ada yang menyakiti salah satu dari mereka.
Nirbita memeluk Naila sebari mengusap punggung gadis itu semakin membuat tangisan Naila pecah"Huaaaa sakit kak!"
Nirbita tidak menjawab ia terus mengusap punggung Naila sebari menghela nafas,ponsel Nirbita berdering tanpa melepas pelukannya pada Naila yang masih menangis Nirbita mematikan panggilan orang disebrang sana digantikan dengan kiriman chat.
Beberapa menit berlalu membuat kaki nirbita kesemutan saking lamanya berdiri memeluk Naila yang masih menangis hanya tak sekencang tadi,Nirbita melepas pelukannya dan sedikit memberi jarak pada naila agar bisa melihat wajah adik sepupunya itu,mata Nirbita menatap tajam sebari mengusap sudut bibir Naila yang berdarah,"Siapa yang lakuin ini la?"tanyanya dengan nada menekan.
"Hiks mereka kak,mereka tarik ila ke toilet trus keroyok ila,,kan hiks kalo satu lawan satu ila masih bisa jabanin main jambak-jambakan nya hiks" jawab Naila sebari terisak.
"Siapa la bilang sama aku,kita labrak mereka!,aku ga terima ya kamu dibully kaya gini!"
"Aleta kak,kakaknya Risa" jawab Naila jujur,lalu menggenggam tangan Nirbita,"Kak gausah diperpanjang ya"pintanya membuat Nirbita melotot,"Plis kak aku gamau buat Risa merasa bersalah sama kita"sambungnya.
"Tapikan yang salah kakaknya kenapa jadi Risa yang merasa bersalah La,aku ga bisa biarin masalah ini aku pasti bakal balas,gaboleh ada yang nyakitin kamu!" geram Nirbita.
"Kak,Risa pasti merasa bersalah sama kita karna kakaknya udah nyakitin aku,kakak boleh bales kak Aleta itu tapi jangan sampe Risa tau masalah ini,kita hiks balas diam-diam aja" usul Naila tidak mau membuat Risa merasa bersalah atas apa yang tidak ia perbuat.
"Aku tetep bakal bales Aleta-Aleta itu awas aja jangan sebut aku Nirbita kalo ga bikin dia kapok!" geramnya menggebu.
"Kita bahas nanti aja kak hiks,Risa sama om Tarik pasti udah nungguin dimobil kan mending kakak anter aku ke UKS buat obatin luka aku dulu trus kita samperin mereka,takutnya om tarik curiga kalo dia tau dia pasti ngamuk kak!" ujar Naila.
"Pastilah!,om tarik pasti bakalan ngamuk dia bisa runtuhin sekolah ini kalo dia tau,dia ga bakal terima ade yang dia jaga malah disakitin orang lain apalagi yang jahatin ondel-ondel!" ujar Nirbita tentu saja ia tidak terima jika Naila memintanya untuk tidak membahas ini dulu bahkan harus merahasiakannya dari Risa,tapi walaupun begitu ia tetap menurut keinginan adik sepupunya itu untuk sekarang agar mental Naila tidak terguncang.
"Yaudah ayo ke UKS kita obatin lukanya,tapi pas dirumah kamu harus cerita sama aku,aku juga bakal kasih tau kak Naya biar dia tau masalah ini,biar Athea-Athea itu bisa dibabat abis sama kak Naya" desis Nirbita penuh dendam.
Walaupun tubuh mereka tingginya hampir sama tetap saja Nirbita sedikit lebih tinggi dari Naila,,Nirbita menggendong Naila di punggungnya susah payah ia tidak tega melihat Naila yang berjalan kesakitan sampai ke UKS dan membantu mengobati luka luarnya,Nirbita untuk sekarang hanya berharap mental Naila tidak terluka.
Luka dikulit lebih mudah disembuhkan dari pada luka dihati.
Penampilan Naila lebih manusia setelah keluar dari uks,rambutnya sudah dikuncir kuda oleh Nirbita,ujung bibinya sudah diberi plaster hanya memar diwajah Naila saja yang sulit ditutupi,Naila berjalan menunduk.
"Kak gausah omongin ini dimobil yah,kita omongin dirumah aja,trus jangan sampe ayah,ibu sama abang tau,aku ga mau mereka ngamuk" pinta Naila merengek untuk kesekian kalinya.
"Ga janji takutnya kelepasan!" jawab Nirbita kini tidak menggendong Naila hanya memapah saja agar tidak terlalu sulit berjalan.
Sesampainya diparkiran kedua kembar beda orangtua itu langsung dihampiri Antariksa dan Risa yang sejak tadi menunggu,"Lo berdua makan dulu ya!"tuduh Antariksa.
Antariksa tidak memakai baju seragam melainkan memakai kaos polos berwarna hijau dan masker tidak lepas di wajahnya jika diarea Algaskar agar tidak ada yang mengenalinya,bahkan awalnya risa tidak tau om dari triplet adalah Antariksa karna dua kali bertemu dirumah triplet pria itu memakai masker seperti sekarang.
"Engga om,tadi anter Naila ke UKS dulu" jawab Nirbita membuat Naila mendelik kearah kakak sepupunya itu.
"Kak!" tegur Naila takut Nirbita keceplosan.
"Ke UKS?,kenapa lo la?,sakit?" tanyanya.
"Wajah kamu ko memar la?" tanya Risa membuat Antariksa menatap selidik kedua gadis itu.
Naila gelagapan untuk beralasan sedangkan Nirbita tidak ada niatan membantu suruh siapa ingin menyembunyikan masalah ini,maka urus saja sendiri'pikir Nirbita.
"Itu tadi, mm itu tadi aku jatuh nyium lantai,iya jatoh nyium lantai sampe memar gini pipinya"jawab Naila memberikan alasan palsu.
"Eje gila sampe lantai lo cium juga la,la" ejek Antariksa tak habis pikir,"Makanya jangan ceroboh,udah buku ketinggalan balik-balik malah bonyok,gue pikir lo di bully tadi"ujarnya membuat Naila dan Nirbita tersentak.
"Eng-engga ko om" elak Naila gelagapan.
"Makanya hati-hati!udah diobatin kan?," tanyanya memastikan.
"Udah ko" jawabnya.
"Lo nyium lantai doang sampe jalan harus dipapah gitu,kaki lo ga patahkan la?" tanya Antariksa cemas.
"Engga,enak aja do'ain kaki ila patah,kaki ila cuma keseleo,iya keseleo iyakan kak?"jawab Naila beralasan bahkan meminta bantuan Nirbita.
"Hmm" jawab jutek Nirbita masih kesla atas keputusan Naila untuk menyembunyikan masalah ini sementara waktu.
"Lah tumben lu ga ngoceh ta,jangan bilang lo berdua berantem?,iya?" tanya Antariksa selidik.
"Engga ko om," jawab Naila.
"Udah lah om gausah banyak cingcong yu pergi keburu sore nih"Nirbita menyela ucapan Naila.
"Kalo gitu kita langsung pulang aja gimana?,kalo masih lanjut buat jalan-jalan kasian sama Naila kakinya kan sakit" usul Risa melihat kondisi Naila tidak memungkinkan untuk diajak pergi jalan-jalan.
"Kita lanjut jalan-jalan aja ila gapapa ko"celetuk Naila membuat Nirbita ingin membuangnya ke sarang singa saja agar di hap,gapapa gundulmu!.
"Gapapa pala mu!,jalan aja susah gimana mau jalan-jalan nya mending cancel aja lah" usul Nirbita tidak setuju dengan Naila.
"Eh ga bisa gitu dong,ila pokonya mau jalan-jalan!" kekeh Naila.
"Balik aja la,salah sendiri ceroboh malah nyakitin diri sendiri,jalan-jalan masih bisa hari lain" ujar Antariksa setuju dengan Nirbita dan Risa untuk pulang saja.
"Gamau,pokonya ila mau jalan-jalan,ila ga bisa jalan kan gampang, om kan ada buat gendong ila!" kekeh Naila.
"Heh bocah lo pikir gue kuda apa" dengus Antariksa.
"Pokonya ila mau jalan-jalan kalo engga ila mau nangis kejer disini biar diliatin banyak orang trus ila bakal teriak culik biar om digebukin,trus bakal bilang sama abang rangga kalo om tarik udah bikin ila nangis" ancam Naila kekeh ingin pergi jalan-jalan.
__ADS_1
"Heh dudul liat kondisi dong!kamu mau makin luka hah!" desis Nirbita dengan suara rendah namun penuh penekanan,Naila ini tipe-tipe ga sadar diri udah luka-luka malah kekeh.
"Ais iyadah gue ajak jalan-jalan,rese banget untung sayang" dengus Antariksa mengalah,"Biar gue gendong tuh bocah gemblung,lo berdua sana masuk mobil"sambunya.
"Nih!" Nirbita mendorong pelan tubuh Naila yang sejak tadi bertumpu padanya emang bocah kurang ajar!,berdiri aja susah malah minta jalan-jalan.
Nirbita jalan lebih dulu sebari menarik Risa yang masih tidak setuju untuk jalan-jalan, melihat kondisi Naila yang katanya jatuh seharusnya mereka pulang saja agar Naila bisa istirahat,ya walau Risa merasa ada yang janggal.
Antariksa menggendong Naila dipunggung sebari mengomeli Naila agar tidak ceroboh,Antariksa yang sering main detektif upin-ipin dan ehsan sudah tau ada yang disembunyikan dua keponakannya itu,namun ia masih mengikuti permainan mereka saja dulu,ia sudah tau seluk beluk buluk dua bocah itu yang sulit menjaga rahasia kalo ga ada duitnya untuk diri mereka sendiri,pasti setelah dirumah mereka akan cerita sendiri tanpa dipaksa.
Sedangkan di markas Algaskar sebagian dari mereka tidak ada yang pulang,ada yang di markas ada yang masih stay dirumah sakit untuk pemulihan,masalah mereka belum juga ada jalan keluarnya namun ada sedikit cahaya.
Begitupun Farel sebagai inti Algaskar sebenarnya ia tidak mau pulang mengingat wajahnya yang masih memar-memar sebab pertarungan tempo hari jika tidak diancam dicoret dari kakak oleh ibunya.
Farel yakin saat dirumah nanti ia akan diomeli tujuh hari tujuh malam karna berulah,ais padahal ini bukan salahnya,salahkan geng Fir'aun yang sudah membuat wajah tampannya membiru,,,dasar narsis!.
Farel menghentikan motornya didepan rumah tetangga sengaja ia lakukan agar ibunya tidak menyadari kepulangannya,rencananya Farel akan ngibrit ke kamar mengunci pintu kamar agar sang ibu tidak menghukumnya,hukumannya bisa saja motor kesayangannya itu dijual big no!,,Farel mendorong motornya hingga tepat berada didepan rumah,,,,setelah memarkirkan motornya dengan aman Farel berjingjit melangkah mendekati daun pintu untuk masuk kedalam rumah.
Sepertinya alam tidak mendukungnya baru saja Farel memegang gagang pintu,suara menyeramkan membuatnya tegang.
"Bagus inget pulang juga ternyata!"
Napas Farel tercekat mendengar suara menyeramkan yang sayangnya keluar dari mulut ibunya,Farel menegug salivannya susah payah lalu berbalik menatap ibunya dengan senyum pepsodent.
"Ibu hay apa kabar bu?,dua hari ga ketemu ibu makin cantik ya" gombal pria jika ada maunya,"Makin sexy makin bahenol mempesona"puji nya sebari menunjukan senyum pepsodent agar lebih meyakinkan dan membuat ibunya itu lupa dengan kemarahannya.
"Ouh jadi selama ini ibu ga cantik iya?ga sexy?,ga bahenol tak kenol-kenol,iya?,,wahwah-wah berani sekali ya,udah ga pulang dua hari, pulang-pulang muka babak belur,,abis tauran kamu hah?!,,ibu bebasin kamu bukan buat jadi anak badung,sini kamu!"cecar sang ibu emosi dengan sapu unjuk melayang siap mengenai tubuh Farel jika lelaki itu tidak menghindar.
"Ampun bu ampun,aku ga tauran bu" ujar Farel gelagapan menghindari amukan sang ibu yang terus mengejarnya sebari melayangkan salu ke tubuhnya,kali ini hanya satu cara menyelamatkan diri yaitu.
"Kabur" Farel berlari tunggang langgang menjauhi pekarangan rumahnya,entahlah mau kemana yang penting jauh dari ibunya,mana ga bawa motor,sial ibu pasti jual motor gue'pikirnya merutuki diri sendiri,saking takutnya dikeluarkan dari kakak Farel rela pulang menghalau ketakutan tentang kemarahan ibunya,namun saat dirumah ternyata mentalnya jatuh ketika ibunya melayangkan sapu dan mungkin harus iklas jika motornya dijual karna ibu geram.
Sedangkan dibalik pohon besar suara cekikikan terdengar nyaring disana jika ada yang mendengar mereka akan berpikir bahwa pohon itu angker,nyatanya,tidak!,,suara cekikikan itu berasal dari mulut laknat Wahyu dan Davri yang menonton Farel sejak pria itu mendorong motornya dari depan rumah tetangga sampai pria itu ngibrit kabur.
Tidak ada niatan membantu,sudah pasti,menyesal tidak menolong?,oh tentu tidak!,jika mereka nekat menolong Farel dari amukan ibunya maka mereka akan kena imbasnya,kan lebih baik menjadi penonton saja..
"Untung juga waktu itu gue sakit" celetuk Wahyu menghentikan tawanya.
"Lah sakit untung heran gue!" ujar Davri tidak paham.
"Bukan gitu,magsud gue tuh gue untung juga ga ikut nonton balapan waktu itu,kalo ikut gue pasti babak belur kaya yang lain, trus emak-bapak gue pasti histeris bisa-bisa gue ga diijinin keluar rumah lagi" ujar Wahyu menjelaskan,dirinya anak satu-satunya dari keluarga dokter sangat dimanja,dijaga dan di empat sehat lima sempurna!.
"Kalo gitu gue juga untung lo sakit,kan gara-gara nemenin lo yang sakit waktu itu gue jadi ga jadi ikut nonton balapan sama anak-anak yang lain" seru Davri setuju,"Kalo jadi beuh uang jajan gue terancam mana pasti motor gue disita trus diceramih setahun"sambungnya memikirkan kemungkinan tersebut.
"Menurut lo yang bakar markas Fir'aun bang Devan ga sih?" tanya Wahyu,walaupun mereka tidak ada waktu itu tapi sebagai anggota mereka sudah mendengar berita ini dari ketua mereka yaitu Gara saat meminta mereka untuk berhati-hati,sebab tidak ayal jika geng Fir'aun akan kembali menyerang dimana saja untuk membalas dendam atas kesalahan yang tidak Algaskar lakukan.
"Menurut gue sih bukan,gue rasa ada yang jebak bang devan dah" jawabnya berpendapat walaupun dirinya nyeleneh tapi ia menilai orang memakai mata bukan telinga,jadi jika tidak melihat langsung Devan membakar markas Fir'aun ia tidak akan percaya.
"Lo yakin gitu? " tanyanya pada anak RT itu.
Davri menatap serius pada satu titik,"Kaga!,gue nyeplos aja si biar dibilang keren sama pembaca,,,biar pembaca bilang kalo gue berpikiran dewasa gitu ga seenaknya nuduh walaupun jelas ada buktinya"jawabnya membuat Wahyu berdecih sebal.
Temannya itu tidak ada yang bisa diajak serius,,,eh dirinya masih normal oke!,dengan kesal wahyu meninggalkan Davri begitu saja.
"Woy jangan tinggalin gue disini,kalo jih pohon angker kan serem!" ujarnya sebari menyusul langkah wahyu.
Setelah berjalan-jalan sekitar satu jam Triplet tanpa Naya dan hanya ada Antariksa dan Risa,hendak mengantar Risa pulang namun sebelum itu mereka akan menjemput Naya dulu dirumah teman sekelasnya yang sedang mengerjakan kerja kelompok.
Namun diperjalanan mobil mereka berhenti ketika berpapasan dengan seseorang yang sangat mereka kenali,yaitu Pak Jeje,disana Nirbita memilih ikut langsung pulang bersama Pak Jeje dari pada harus ikut menjemput kakak sepupunya.
Namun tidak dengan Naila gadis itu memilih ikut menjemput Naya lalu mengantarkan Risa pulang untuk menghindari pertanyaan Nirbita yang akan menterornya dirumah agar menjelaskan apa yang sudah dilakukan Aleta, kakak kelas mereka itu yang sudah membuat Naila babak belur.
Padahal Antariksa berharap bisa berduaan dengan Risa selama ini selalu ada gangguan dari Aleta yang terobsesi padanya hingga sulit menemui wanita yang ia sukai,sekarang gagal karna Naila huh.
Setelah pulang Naila langsung bersih-bersih dan ngibrit dari rumah padahal Nirbita sudah menunggu Naila diruang tengah menunggu jawaban kejadian pembulian yang sudah dilaluinya,namun Naila menghindari kakak sepupunya itu dan memilih minggat sementara waktu.
"Ckckckc mau kabur ternyata,oh tentu ga akan bisa!,bukan Nirbita Aster namanya kalo mangsanya bebas" guman Nirbita dengan nada berat.
Nirbita beranjak dari duduknya lalu menenteng keranjang besar tertutup berisikan enam ekor ayam dewasa yang baru dibelinya dari perjalanan pulang bersama Pak Jeje tadi,,,Nirbita sengaja membeli ayam besar untuk mengadukan ayam siapa yang lebih besar antara miliknya dan ayam milik naila yang warna-warni itu,namun milik Nirbita hanya berwarna hitam sudah dewasa.
Pak Jeje bukan hanya harus pusing mengurus anak manusia namun juga anak hewan,Anak-anak nya ini emang kurang ajar,orangtua tuh seharusnya menikmati waktunya dengan bersantai lah dirinya malah harus mengurus hewan-hewan yang dibeli anak-anak nya dengan tidak berperasaan mana harus mengurus perusahaan juga,,,ayolah kapan Pak Jeje bisa pensiun.
Pak Jeje ingin segera pensiun dan hanya bersenang-senang bersama cucunya nanti bukan malah mengurus hewan -hewan itu!.
Bukan hanya Pak Jeje yang frutasi tapi Rangga juga Antariksa yang ikutan kena dampak atas kehadiran hewan pembelian triplet,huaaaa.
Nirbita membawa kotak ayam sebesar dirinya itu dengan cara dipeluk,walaupun berat namun Nirbita tidak putus asa agar Naila tidak menyombongkan ayam pelanginya itu sebab sekarang Nirbita juga punya ayam dengan jumlah yang sama dan lebih besar,,,Hhhhh.
"Huh kalian udah aku beli kalo sampe mati ga kemakan aku ga bakal kubur kalian dengan layak,bakal aku buang ditong sampah aja!" ancamnya sebari menatap tajam ayam pembeliannya itu.
Waktu sebentar lagi magrib membuat Nirbita yang tadinya hendak menemui Naila ditempat persembunyiannya diurungkan dulu untuk sementara waktu.
Sementara dikamar Pak Jeje sedang frustasi,pria paruh baya itu sejak tadi bergurutu pada istrinya,menceritakan kemalangan yang sedang terjadi padanya.
"Bu sekarang gimana?,,bapak udah cape urus perusahaan seminggu dua kali harus cari pakan kambing,trus sekarang nambah ayam,,,bu,ayah lama-lama jadi peternak bukan jadi pengusaha bu" keluh Pak Jeje frustasi.
"Ayah pikir cuma ayah yang pusing?ibu juga yah,ibu pusing sama tingkah anak-anak kita,,ibu tau mereka lain dari yang lain tapi ga bikin kebun binatang dirumah juga!,,"Bu Kasih ikut mengeluh tentang tingkah ajaib anak-anak mereka itu.
"Disaat anak-anak seumuran mereka hamburin-hamburin duit orang tua,gedein gaya modal kaga ada,anak kita malah bikin orang tua repot bukan karna mereka banyak gaya,bukan juga hamburin duit,tapi mereka malah ngumpulin hewan yang harus kita nafkahi bu,," timpal p
Pak Jeje meratapi nasib mereka yang unik.
"Ibu juga pusing yah sama,hiks,sekarang kucing,harimau,anj*ng,dan sekawanan ayam,besok apa yah?,gajah?,,,huaaaa kita harus urusin pernikahan Rangga malah dikasih beban urus hewan pak" pasangan suami istri itu berpelukan meratapi hidup yang penuh lika-liku.
Bukan tidak bersyukur mendapati anak yang seadanya hanya saja tingkah mereka melewati batas seadanya alias gaada hari tanpa tingkah.
Setelah solat magrib Nirbita langsung ngibrit ketempat persembunyian naila,setelah ijin pada Bu Kasih bahwa dirinya akan keluar menyusul adik sepupunya itu,dan disinilah mereka kini.
Dirumah Wahyu yang sepi,aman,damai seketika hilang dengan kedatangan,Farel saat sore tadi disusul Naila dan kini Nirbita lalu setelah ini siapa?, Naya,Antariksa atau warga sekampung hah!.
"Lo pada ngapain ngungsi dirumah gue si ah?!,sana balik-balik gue ga nerima tunawisma!" usir Wahyu sangat jelas namun ke empat temannya termasuk Davri menulikan pendengarannya.
"Si budeg gue usir juga gatau diri!" rutuk Wahyu mencibir,walaupun dirinya mengusir sampai mulut berbusa sekalipun mereka tidak akan pergi dari rumahnya Wahyu memilih menyerah saja.
"Berenti juga lo ngoceh,telinga gue udah panas banget dari tadi" keluh Davri tak tau diri.
"Bener,aku bahkan bakalan beneran budek satu detik lagi kalo suara Wahyu masih terdengar!" cibir Naila.
Wahyu hanya mendengus karna suaranya sudah tidak mau dikeluarkan saking capenya mengusir mereka dengan cara lisan tadi.
"Sorry nih wah aku bukannya gamau pulang tapi seperti kata pepatah,dimana ada naila di situ pasti ada Nirbita" timpal Nirbita.
__ADS_1
"Pepatah apaan tuh" dengus wahyu serak saking terkuras suaranya.
"Dan lo tau gue wah,gue ga mungkin balik gue masih sayang nyawa,ema gue lagi cosplay jadi pembunuh bayaran" saut Farel yang sedang rebahan di karpet bulu.
"Bodoamat cape gue,sayang banget suara gue ilang gara-gara ngomong sama kalian yang bodrek!" cibir wahyu masih dengan suara serak sebari beraih minum untuk membasahi tenggorokannya agar terasa lebih baik.
"Lo bedua ngapain kerumah si Wahyu?" tanya Davri menatap dua kembar beda orang tua.
"Mumpung ema bapaknya Wahyu gaadalah,kalo ada mah gamau!,gini ya aku itu sehat wal afiat walau makan yang ga bergizi-gizi amat,tapi ga beracun juga" jawab Naila.
"Tapi aku kesini buat pergokin Naila yang kabur dari aku" ujar Nirbita membuat ketiga remaja itu menatap dua gadis disana bergantian.
"Lo berdua jangan bilang berantem?" tanya ketiganya serempak.
Kedua gadis itu menggelengkan kepalanya,"Engga ko,tapi ini masih berhubungan sama kata berantem dan pembulian!"ujar Nirbita menatap tajam Naila.
"Berantem dan pembulian? " beo mereka.
"Magsudnya gimana nih?" tanya Davri.
"Noh si Naila dibully sama Aleta! " ujar Nirbita memberitahu membuat mereka cengo.
"Lo di bully Aleta?"tanya Davri memastikan," Kapan?"herannya begitu juga Wahyu dan Farel.
"Lo beneran kan?" tanya Farel memastikan di iyakan Nirbita dengan anggukan kepala.
"Wah kapan?" tanya Farel terdengar antusias.
"Aroma-aroma penghianat!,Karel kereta api tututut kayanya seneng denger aku dibuly!" tebak Naila menatap selidik wajah Farel yang malah senyum pepsodent.
"Yaelah becanda kali,gue ga percaya lo di bully la,kalo beneranih ya lo pasti lagi kejer dikamar,bapak emak lo pasti udah urus kesekolah bareng bang Rangga,trus masalahnya pasti panjang kali lebar kali tinggi juga" ujar Farel menjelaskan magsud dari senyumannya tadi.
"Belum lagi si Naya yang pasti bakal bikin Aleta babak belur"sambungnya bergidig membayangkan Naya yang mengamuk.
"Ck ini beneran tau,ila dibully Aleta kakak kelas itu,ila kabur kesini biar ibu,ayah,abang,kak Naya maupun om tarik gatau pembulian tadi sore,,ila gamau masalahnya makin panjang,,mereka pasti bakal merasa gagal jaga aku kalo tau ila dibully" jawab Naila menjelaskan magsud dirinya kabur dari rumah dan menghindari Nirbita.
"Hiks kalian malah ga percaya padahal pukulan Aleta sakit banget,sampe sekarang masih kerasa sakitnya tapi kalian malah ga percaya sama aku hiks" isak Naila kecewa tanggapan trio wikw*k itu.
"Biarin aja la kalo mereka ga percaya,disini masih ada aku yang bakal selalu ada disaat kamu butuh ataupun ga butuhin aku" ujar Nirbita memeluk Naila untuk menenangkan adiknya itu dengan tatapan menatap tajam trio wikw*k dengan kesal.
Melihat situasi sepertinya Naila maupun Nirbita terlihat tidak bercanda membuat trio wikw*k menegakan punggung mereka dengan serius,"Ini beneran La?"tanya mereka serempak diangguki Naila sebagai jawaban.
"Ga bisa dibiarin dong kita harus buat pelajaran sama si Aleta enak aja udah nyakitin bungsu triplet wikw*k" sentak Farel tidak terima'triplet wikw*k'singkatan dari panggilan keenam orang ini termasuk Naya.
"Setuju gue,kita harus balas pokonya" setuju Wahyu.
"Gue ngikut" timpal Davri.
"Ta lo selalu punya taktik lo punya rencana ga?"tanya Farel serius pada Nirbita untuk membalas perbuatan Aleta.
"Tenang ita mah banyak ide cemerlang" ujar bangga Nirbita,"sini!"pintanya pada mereka.
Mereka membuat lingkaran dengan saling menundukan kepala hingga kepala mereka saling membentur,"Gimana?"tanya Farel.
"Jadi gini,Farel sama Davri buat kurungan besar" ujar Nirbita mengatakan taktiknya dan si pendengar manggut-manggut saja,"Trus Wahyu kasih makan"
"Bentar-bentar" sela Davri,"Gue sama Farel bikin kurungan lah si Wahyu ngapa ngasih makan,rencana lo gimana emang sih?"tanyanya menanyakan detailnya.
"Gue paham rencana lo gini bukan?,gue ngasih makan yang udah dikasih racun buat si Aleta trus kurungan yang dibuat Davri sama Farel dipake buat ngurung tuh cewe gila,gitukan?" tanya Wahyu memastikan rencana Nirbita dengan jelas.
Nirbita menggelengkan kepalanya,"Kaga!,kenapa jadi bawa-bawa racun serem amat dan?!,trus kenapa bawa-bawa nama Aleta?"ujarnya membuat mereka bingung.
"Hah gimana?" beo mereka bingung.
"Ita ga ngasih taktik buat nangkap Aleta,ngapain juga harus pake taktik kalo cuma buat nangkep Aleta yang udah bully Naila,,kan kita tinggal kasih tau ayah trus,nanti ayah lapor kekepala sekolah biar diurus gitu doang selesai,nanti Aleta pasti dapet hukuman atas kejahatannya selesai,,,gitu doang simpel,ngapain harus buat taktik segala coba?,kalo ada yang mudah kenapa harus yang susah" ujar Nirbita menjelaskan.
"Lah iya,mending gitu simplel,,trus kurungan sama ngasih makan buat apa?" tanya heran Farel.
"Aku tuh mau ajak kalian bisnis " jawabnya.
"Hah?"
"Nih ya gimana kalo kita buat bisnis bareng?,kita buat peternakan ayam, gaboleh nyela" ujar Nirbita melihat teman-temannya hendak menyanggah perkataannya,"Dengerin ita dulu ngomong jadi gini rencananya,ita mau ajak kalian bisnis buat peternakan ayam bareng-bareng,,,nanti ita bakal minta ayah buat beli tanah untuk dijadiin kandang ayam yang besar,,trus kita yang urus ayam-ayamnya kebetulan ita udah punya enam ayam dewasa ditambah anak ayam pelangi beranjak remaja milik Naila,,jadi totalnya dua belas ayam,kita urus bareng-bareng"ujar Nirbita mengajak berbisnis.
"Hah ogah!,ogah gue jadi peternak cita-cita gue jadi CEO,ais" tolak Farel.
"Sama gue juga pengen jadi CEO kalo ga di perusahaan gapapa juga diperkampungan kaya bapak gue sekarang" timpal Davri menolak.
"Lah gue udah ditentuin jadi dokter hebat masa depan" timpal Wahyu.
"Ck kalian tuh ya jahat banget nolak kerja sama dari ita padahal berpeluang bagus,lebih terjamin dari pada cita-cita kalian yang belum tentu berhasil" ujar Nirbita mendengus.
"Lo jahat banget,bukannya dukung lo malah nikung!" dengus Farel.
"Bukannya nikung!ita dukung cita-cita kalian ko tapi sebari menunggu kita bisa kerja sama aja sama ita sebelum cita-cita itu berhasil,nih ya kalian jadi CEO masih lama sekolah aja belum lulus,trus kuliah,trus menata karir prosesnya masih panjang pake banget,mending kita bisnis peternakan ayam aja dulu sebari menunggu cita-cita kita terwujud,," bujuk Nirbita,"Ita juga pasti punya cita-cita sama kaya kalian,tapi sebari menunggu kita bisa usaha lain sebagai proses"
"Ila setuju,ila ikutan kak ita" ujar Naila setuju tanpa banyak pikir jika Nirbita yang sudah mengajaknya.
Sedangkan trio wikw*k masih merenung ragu dengan ide Nirbita ini yang so-soan mau berbisnis.
"Nih ya kita sebagai pewaris juga harus mengembangkan bibit yang kita punya kalo gamau sampe warisan itu habis dimakan waktu,ya,makanya harus jadi perintis selain jadi pewaris" ujar Nirbita terus meyakinkan teman-temannya agar ikut dalam rencana bisnisnya ini yang sudah ia pikirkan sejak sebulan lalu.
"Gue ko terprovokasi ya" celetuk Davri,"Tapi gue ga punya modal"
"Tenang ita orang kaya" sombong Nirbita.
"Kumat!" beo mereka.
"Bentar kalo kita ikut keuntungannya bagi berapa nih?" tanya Farel tentang duit utamanya.
"Mmm bentar ita itung dulu"jawab Nirbita termenung," Ita sama Naila dia puluh persen trus kalian sepuluh persen gimana?"tanyanya.
"Lah beda?,ko kita sepuluh si?"tanya Wahyu tidak setuju.
"Tautuh,dua puluh-dua puluh" tawar Farel.
"Ga bisa gitu dong!,kan kita urus bareng-bareng trus ayam-ayamnya dari aku sama ila,masa dua puluh sih" bantah Nirbita tidak setuju.
"Lah kalo lo berdua dua puluh kita sepuluh,totalnya tujuh puluh,tiga puluh persen lagi buat siapa?" tanya Farel.
"Buat ayah,kan ayah yang urus soal tanah sama kandang masa ga dapat bagian, anggap aja ayah bosnya deh" ujar Nirbita menjawab sehingga mereka hanya bergeming ragu.
__ADS_1