
Seorang remaja berpakaian seragam putih Abu-Abu menjalankan motornya dengan nyaman dengan sesekali menghela nafas.
Pikirannya sekarang lebih tenang karna bisa melihat sosok yang ia cari seminggu ini walau hanya sekedar melihat tanpa bisa berbicara.
Jastin menghentikan motornya ketika lambu rambu lalu lintas diwarna merah,walau dirinya remaja ugal-ugalan yang selalu melanggar atauran karan aturan diciptakan untuk dilanggar menurut semboyan pria itu,tapi tetap saja dirinya menuruti aturan rambu lalu lintas.
Motonya kembali melaju ketika lampu rambu lintas kembali hijau,pria itu mengendarai kuda besinya dengan tenang hingga sampai kesekolah.
"Pagi bos" sapa geng inti orion yang memang suka berkumpul diparkiran sekolah untuk saling menunggu atau sekedar tebar pesona.
"Hmm" jawabnya sebari melegang pergi diekori geng inti orion seperti anak ayam mengekori induknya.
Jika ketua dan wakilnya berjalan normal berbeda dengan anggotanya yang berjalan berlenggak-lenggong bak model,mereka tebar pesona dengan pogahnya membuat seisi sekolah berteriak tertahan menggoda mereka.
Walau paling banyak digoda adalah Jastin yang tidak pernah merespon mereka.
"Hai kak" sapa seorang gadis berseragam sama dengan mereka menghampiri Jastin dengan malu-malu tapi mau.
Jastin menaikan sebelah halisnya.
"Halo ade cantik,ada yang bisa abang bantu?" tanya Pedro menggoda seolah pelayanan saja.
"Mmm" gadis itu mengangguk mengiakan lalu menunjukkan coklat ditangannya dihadapan jastin,"Aku suka sama kakak,kakak mau ga jadi pacar aku?,mau ya"pintanya sebari tersenyum malu-malu.
Seisi sekolah ramai dengan sorakan,para gadis mengejek gadis yang berani mengungkapkan cinta pada crush mereka yang tidak bisa digapai itu.
"Ogah" jawab Jastin mengena.
Anak geng inti orion sudah biasa dengan situasi ini,mereka hanya bisa menghela nafas ketika adik kelas yang menyatakan cintanya dipermalukan oleh bos mereka,peduli apa mereka.
"Muka jelek berani ngungkapin cinta sama gue n*jis" umpat nya dengan nada kencang sengaja untuk mempermalukan gadis itu.
"Lo pikir selera gue serendah ini?,bikin gue malu aja!" sambungnya melegang pergi.
Sedangkan gadis tadi menunduk malu dengan kedua tangan mengepal,memberanikan diri mengungkapkan cinta pada crush kita itu sangatlah berat jika kita pihak wanita,rasa malunya itu melebihi tingginya bruj kholifah,rasanya seumur hidup tidak akan lupa.
Padahal penampilannya tidak seburuk itu,dia memang mengkuncir dua rambutnya membuat gadis itu terkesan imut.
Tom menepuk pundak gadis itu hingga mendongkak dengan mata berkaca-kaca menahan tangis,"Jangan terlalu berani jadi cewek Han!"lalu melegang mengusul langkah Jastin dan Javas.
"Sabar ya Hana semangat" ucap Jerry memberi penyemangat pada gadis yang tengah patah hati itu,barulah mengusul teman-temannya yang lain.
"Lo ga merasa keterlaluan bos sama perkataan lo tadi?" tanya Pedro disela langkah mereka menuju kelas.
"Yang mana?"
"Tadi yang ngatain si Hana" ujar Pedro.
"Ga" jawab Jastin,"guekan ngomong jujur"ungkap Jastin tidak merasa sala dengan ucapannya tadi.
"Ya gimana ya,Mmm gini bos cewe itu kalo udah sakit hati serem mending hati-hati,ya magsud gue jangan pedes-pedes gitu,nolak ya nolak aja gausah ngehina fisik mereka"ujar Pedro memberi tahu.
"Bener tuh bos udah ga terhitung cewe yang nembak lo dapat jawaban pedes,kalo mereka kerja sama buat ngebales lo sih serem" timpal Jerry.
"Gue perlu takut gitu?" tanya Jastin dengan nada ejekan.
Mereka mengangguk pasalnya yang mereka tau wanita memang mahluk paling lemah namun jika sudah berkibar bendera perang antara mereka,belum tentu cowo menang,contohnya sosok wanita dirumah mereka yang selalu mengamuk jika tidak dituruti keinginannya atau melanggar perintah nya tanpa bisa dibalas dan hanya bisa pasrah,sebab tahta tertinggi dipegang seorang ibu.
"Aneh" cibir Jastin.
Mereka msngobrolkan banyak hal disela langkah hingga berada di dalam kelas yang selalu mereka datangi hanya untuk absen atau sekedar datang,kali ini mereka akan menjadi murid baik selama seminggu karna ada ujian.
Ting ting ting
Suara bel istirahat membuat mereka bernafas lega bisa terlepas dari siksaan ujian yang membuat mereka sulit bernapas padahal hanya mengisi dengan asal-asalan,asal kertas tercoret pulpen.
Masalah benar atau salah bodo amat!.
Geng inti orion berada dikantin untuk makan siang dengan kericuhan yang mereka buat.
"Gila sih kepala gue mau pecah ngerjain matematika" ungkap Tom sebari menyeruput baksonnya.
"Sosoan padahal ngisi cuma ngarang" cibir Jastin tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Si bos ngarang juga butuh mental" ujar Javas.
"Bener tuh, mental buat tinggal kelas" bahak Jerry.
"Lo aja tuh gue mah mau naik kelas" ungkap Pedro.
"Setia kawan dong!,sesama ngasal harus terima nasib kalo ga naik kelas"ujar Tom.
"Gue ga asal ya ngisinya" ungkap Pedro.
"Lo mikir ped?,so iye lo,lo kan taunya pertambahan satu doang" ejek Javas.
"Kalo tau ngapain nanya,seengganya gue ga asal coret tapi ngitung kancing dulu" bahak Pedro tak tahu malu.
"Gitu aja bangga" cibir Jerry memukul kepala Pedro.
Plak
"Sakit beg*"
Tom si tukang gosip sudah tentu mengetahui banyak info dari kekepoannya selama ini,pria itu memiringkan kepalanya kesamping Jastin yang pokus dengan layar ponsel ditangannya.
"Cieee yang lagi mantau anak widd" goda Tom membuat Jastin tersentak karna pria itu berbicara di telinganya.
"Kaget tol*l" umpat Jastin dan siempunya suara hanya nyengir kuda.
"Lo mantau anak widd ngapain bos?,mau ngajak tauran ya?" selidik Javas antusias.
"Yeh si waketu seenaknya kalo ngomong,masa ngajak tauran mantau cewe" ungkap Tom terbahak.
__ADS_1
"Lo lagi liatin murid widd bos?" tanya Javas hanya dibalas deheman singkat.
"Itu cewenya kalo ga salah yang waktu itu yang nyetop kita dijalan kan bos?" tanya Tom memastikan.
"Bukan urusan lo" jawab Jastin.
"Yeh si bos santai kali!,ga bakal gue rebut juga" ejek Tom.
"Iyalah lo kalah saing sama bos kalo mau rebut tuh cewe" ejek Jerry.
"Gue juga ganteng ya anj*ng "
"Menurut ema lo doang" ejek Pedro
"Ko lo tau ema gue suka puji gue ganteng?,aaaa sohib gue banget lo ini" ujar Tom antusias bahkan memeluk Pedro.
"Jijik anj*ng gausah peluk gue,ga mau gue kena rabies!" sentak Pedro mendorong tubuh tom hingga terhuyung ke arah Jastin.
"Menurut kalian kalo gue dapetin ni cewe geng algaskar bakal tenang ga?" tanya Jastin membuat mereka seketika terdiam dan menatap Jastin.
Jastin yang ditatap malah tersenyum miring.
Javas yang memperhatikan bosnya itu dalam diam,menghela nafas dalam diam"Kalo mereka emang sedeket itu,gue yakin mereka bisa kita ancurin lewat cewe itu"ungkap Javas disetujui mereka.
.
.
.
Diwaktu yang sama namun disekolah yang berbeda.
Widudarma berada dijam istirahat dijadikan waktu untuk mereka merilekan otak untuk sebentar setelah melalui ujian yang menegangkan jiwa.
"Gila otak gue kaya mau pecah" gerutu Rezaldi.
"Otak segede udang aja dikhawatirin" cibir Bintang membuat mereka terbahak kecuali Gara dan Rezaldi sendiri.
"Ck"
"Aloha abang-abang gue yang paling tampan kecuali Farel,Rezaldi,Aril,Devan"sapa Wahyu tak tahu diri.
"Ck magsud lo apa bilang ganteng pake pengecualian segala!" dengus Rezaldi.
"Gue cuma jujur bang" jawab Wahyu sebari mendudukan pantatnya dikursi.
Mereka mendengus kecuali bintang dan gara,"Triplet mana?"tanya Bintang.
"Masih di kelas kali bang" jawab Wahyu karna dia beda kelas dengan triplet.
"Hai bang" sapa Davri yang datang bersama Agnes dibelakangnya,tapi Agnes pergi ke penjual langsung tanpa duduk dulu seperti Davri.
"Triplet mana?" tanya Gara.
"Mereka ga ke kantin bang,tadi nitip doang sama si Agnes" jelas Davri.
"Itu si Nirbita sakit jadi dia mereka nemenin dikelas"
"Ga dibawa ke Uks?" tanya Gara khawatir.
"Engga dia ga mau,tenang aja abang si nir" perkataan Davri harus terhenti ketika Gara beranjak pergi dari sana disusul bintang,"Lah mau kemana?"tanya Davri cengo.
"Nemuin ayang lah" Rezaldi lah yang menjawab.
"Dari kapan si Nirbita sakit?" tanya Devan.
"Kemaren" jawab Farel.
"Perasaan dia masih lari-larian kaya cacing kepanasan pas hari saptu sore" tebak Devan disetujui yang lainnya.
"Sakit ga dipesen dulu kali bang" cibir Wahyu sebari melangkah pergi.
"Mau kemana lo?" tanya Davri.
"Pesen makan laper gue" jawabnya disusul Davri.
"Woy belum juga selesai nanya udah pergi lo!" cibir devan lalu menatap Farel selaku orang terdekat triplet sekarang.
"Apalo liat-liat?!" cibir Farel.
"Ck gue mau lanjut nanyalah,Nirbita sakit apa? " tanya Davri.
"Terlalu aktif" bahak Aril.
"Itu tau" jawab Farel.
Gara melangkah ke kelas IPA 10 IPA dimana kelas Nirbita berada dibuntuti bintang yang menyamai langkah mereka.
.
.
.
Disisi lain Rangga tengah kedatangan tamu tak diundang di kantornya,tamunya itu tengah duduk bersandar disofa entah apa tujuannya.
"Kenapa lo kesini?" tanya pria itu mengalihkan tatapannya dari laptop kearah sofa dimana tamu itu sedang duduk bersandar.
"Enak ya jadi lo,kerjanya cuma duduk doang dapet duit" bukannya menjawab tamu tak diundang itu malah mencibir.
"Dari hongkong!,pantat gue emang duduk tapi otak gue ga bisa berenti mikir walau gue ketiduran sekalipun" dengus Rangga kesal karna disepelekan, dipikir gampang apa menjadi pemimpin perusahaan diusia muda ouh tentu tidak Ferguson,Rangga hampir menyerah jika tidak mengingat nasib adik-adiknya kedepannya nanti.
"Alah so,soan,mikir dapetin cewe aja susah,sampe sekarang jomblo" ledek nya.
__ADS_1
"Cih gausah ngeledek lo bang,lo juga sama jomblo!" balas Rangga.
"Jangan salah gue udah laku ya,soulout,gue dapet dokter cantik"ujar Elesky berbangga diri.
"Ck dokter buta sih kalo beneran mau jadi pacar lo" ejek Rangga.
"Alah ngomong aja iri!,pantes aja mba fricia gamau sama lo kerjanya aja ngeluh doang" cibir Elesky membuat Rangga melotot.
"Enak aja,cia tuh mau sama aku cuma Insecure aja dia" ungkap Rangga.
"Iyalah gimana ga insecure coba kalo punya pacar modelan pemulung kaya lo" cibir Elesky membuat Rangga geram.
"Sekate Kate lo ya bang,ngajak gelut lo?!" dengus Rangga sebari menyisipkan lengan kemejanya hingga siku secara menggebu-gebu.
"Oh ngajak baku hantam toh,ayo sini siapa takut" setuju Elesky ikut menyisingkan lengan kemejanya dengan santai.
Rangga menciut mengingat profesi sang abang sebagai tentara bisa dijadikan ayam geprek oleh abangnya itu,"Ga baik bang berantem,gue itu bos harus jadi panutan untuk karyawannya "elak Rangga.
"Takut" cibir Elesky membuat Rangga membuang muka dengan kesal.
"Tujuan lo datang kesini mau apasi bang,dari satu jam lalu cuma nontonin gue kerja bantuin kaga" keluh Rangga kesal.
Kedatangan Elesky di kantornya bukan sebentar namun sudah satu jam yang lalu,dan pria tentara itu hanya diam disofa sebari sesekali mengemil jajanan yang ada disana,menyebalkan!.
"Itu tujuan gue,ngawasin lo kerja biar gesit,kerja lo kan ngeluh mulu kapan kayanya coba" cibir Elesky sebari memasukan keripik kentang kedalam mulutnya.
"Gue udah kaya dari lahir kalo lo lupa bang" bangga Rangga membuat Elesky mendengus.
"Ck makanya lo jadi pemalas" ejek Elesky,"Ada yang mau gue bahas tentang triplet "ungkapnya membuat Rangga menaikan sebelah halisnya.
"Mereka kenapa?" tanya Rangga khawatir,apalagi Nirbita sudah dua hari ini sedang tidak enak badan,jika tidak ada ujian maka Rangga maupun Elesky ataupun bu Putri tidak akan mengijinkan gadis itu kesekolah sampai dirinya sempurna.
Elesky menghela nafas,"Saptu siang ada yang culik Nirbita "ungkapnya membuat Rangga menegang di tempat.
Brak
Rangga memukul meja kerjanya dengan kencang lalu sedikit berlari ke arah Elesky," Lo ga becanda kan bang?"tanya Rangga menggebu sampai memegangi kerah Elesky.
Elesky mendorong tubuh Rangga agar menjauh darinya,jika ada yang lihat mereka bisa salah paham karna situasi mereka sedikit ambigu.
Rangga terhuyung ke belakang ulah dorongan Elesky tidak membuat pria itu berhenti bertanya,"Jawab bang!,lo becanda kan?,jelas-jelas kemarin lo bilang mau jemput mereka disekolah atau pas diperjalanan ada yang cegat kalian dan Nirbita berhasil diculik dan lo berhasil nyelamatin dia?"selidik Rangga menggebu
"Ck ga gitu ceritanya,gue ceritain tapi lo harus duduk yang anteng dan jangan nyela omongan gue sebelum selesai atau gue ratain muka jeleklo,biar mba Fricia ilfil sekalian" ancam Elesky membuat Rangga mengangguk pasrah.
"Berengs*k berani mereka nyentuh seujung kuku ade gue,gue patahin tubuh mereka" ancam Rangga setelah mendengar cerita dari Elesky.
"Lo pikir gue bakal diemin aja mereka udah bikin ade gue sakit,walau mereka ga ngapapain Nirbita tetep aja gue bakal kasih mereka pelajaran!" timpal Elesky.
"Trus lo lepasin mereka karna udah lepasin Nirbita?" tanya Rangga memastikan.
"Ya enggalah,walau mereka mutusin kerja sama gue tetep aja mereka gabakal lepas dari tanggung jawab atas penculikan sama ade gua" jawab Elesky pasti.
"Dia ade gue juga kali bang!" sentak Rangga, "Kenapa lo baru ngasih tau gue bang hah?!" geram Rangga padahal disini ia berhak tau sejak awal.
"Gada waktu yang tepat kemarin" jawab Elesky seadanya,"lo kan tau Nirbita ga mungkin cerita dan bikin lo khawatir"
"Iya si bang,Nirbita kadang nutupin permasalahan nya dari keluarga padahal dia terkesan terbuka sama kita,"Rangga menghela nafasnya," Gue kadang ga ngerti bagaimana dia menilai hidup"
"Selama mereka menjadi satu,mereka ga akan dalam bahaya,musuh terbesar adalah perpisahan,triplet ga akan jadi triplet jika salah satu dari mereka gaada"timpal Elesky
Rangga menghela nafas gusar,"Kesedihan mereka selalu tertutup sama kecerian yang mereka bikin,apa menurut lo kita ga keterlaluan bang?"
"Magsud lo keterlaluan gimana?" tanya Elesky selidik.
Rangga kembali menghela nafas,"Terlalu ngebatasin mereka,kemana-mana kita yang anter jemput,kalo jalan juga cuman bareng kita,menurut lo mereka merasa terganggu ga sih bang?"
Elesky mengedikan bahunya,"Gue gatau sih,tapi emangnya kita salah kalo ngebatasin pergaulan mereka agar tidak terjerumus hal negatif?,enggakan!"ujarnya membenarkan sendiri.
"Ya iyasi,tapi menurut gue kita juga salah,kita terlalu ngebatasin pergerakan mereka,sekarang mereka udah beranjak remaja dan dimasa puber nya,gue rasa udah waktunya mereka memiliki kebebasan hal nya remaja pada umumnya" ungkap Rangga.
"Jadi lo mau bebasin pergaulan mereka,sekalipun masuk dalam hal negatif gitu?" tanya Elesky dengan tatapan tajam.
"Ya kaga lah bang,magsud gue kita cuma awasin mereka dibelakang secara diam,mereka pasti tau mana yang bener dan salah udah waktunya mereka mengerti tentang pergaulan,kita gamungkin selalu ngejagain mereka bang"
"Ada saatnya kita punya cerita masing-masing dan kita juga ga bisa jagain mereka dua puluh empat jam sehari,,,jika hal buruk terjadi sama kita seenganya mereka bisa melanjutkan hidup tapi jika kita terus mengekang mereka,mereka akan bergantung terus sama kita dan suatu hari saat kita tiada mereka ga bisa melanjutkan hidup tanpa kita bang,udah waktunya mereka belajar mandiri,dan kita cukup mantau mereka dari kejauhan" ujar Rangga serius membuat Elesky terdiam memikirkan masukan pria itu.
"Emang lo siap liat triplet digandeng cowo yang ga kita kenal?" tanya Elesky menanyakan hal yang mungkin saja terjadi.
Rangga tidak langsung menjawab pria itu terdiam beberapa menit barulah mengangguk,"Siap"ungkapnya dengan pasti membuat Elesky menghela nafas.
Tok tok tok
Pembicaraan mereka terhenti ketika pintu ruangan Rangga diketuk dari arah luar,"Masuk"titah Rangga.
"Bos lo udah ditunggu diruangan meeting" ungkap Danis hanya menyembulkan wajahnya saja dipintu.
"Ck lo ga ngasih tau gue ade meeting Danisa!" kesal Rangga sebari memelototi pria itu.
Danis cengengesan sebari menggaruk rambut belakangannya,"Gue udah kasih tau lewat chat bos,tadikan lo bilang jangan ada yang keruangan bos pas Elesky datang"
"Gue ga liat chat!"
"Salah lo itumah bos bukan salah gue,gue mah udah ngasih tau sesuai tugas gue,karna lo gadateng-dateng sampe waktu yang ditentukan jadi gue jemput sekarang" ujar Danis pada bos nya.
"Lo sebagai asisten ga sopan banget!,berani salahin gue!" sentak Rangga.
"Yeh guekan orangnya jujur" jawab Danis tak merasa bersalah.
"Gausah banyak b*cot kalian!,sana meeting" sentak Elesky sebari menggebrak meja membuat kedua pria itu tersentak.
"Baik bos" jawab mereka serempak,jika ditanya takut tentu saja kekuatan pekerja biasa seperti mereka yang kebanyakan duduk pasti kalah dengan kekuatan tentara,bisa dijadikan ayam geprek jika mereka terus berdebat disana.
"Gue jadi bos ga punya harga diri banget" cibir Rangga berguman pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Sejak kapan lo punya harga diri bos?" tanya Danis mendengar gumanan Rangga.
Mendengar ungkapan danis membuat Rangga tersenyum paksa sebari menatap Danis dengan tatapan tak terbaca,"Gaji lo dua bulan ke depan gue potong"ungkapnya membuat danis kelabakan.