DIARY TRIPLET N

DIARY TRIPLET N
Lupa artinya ga inget


__ADS_3

Ujian hanya tinggal dua hari lagi setelah itu selesai dan akan diadakan liburan panjang,semua murid tidak tahan menanti hari itu.


"Liburan nanti kalian mau kemana?" tanya Vania yang sudah bergabung dengan anggota triplet sejak berpacaran dengan Farel dan berkata jujur pada Naya.


Mereka yang ditanya malah terdiam,"Ke bali seru kali ya"usul Nirbita.


Mereka kini berada di taman belakang sekolah tanpa geng Algaskar,setelah jam pertama ujian selesai mereka memutuskan menghabiskan waktu hanya kumpulan wanita saja ditaman belakang sekolah,mengingat mereka tidak pernah berkumpul khusus wanita saja.


"Aku sih pengennya ke bandung"saut Naya.


"Kalo ita kemana aja asal biaya ditanggung yang ajak"timpal Nirbita terkikik.


"Kayanya aku ga liburan deh" ujar Risa sebari menyelipkan helayan rambut yang tergerai sisanya diiket kuda.


"Kenapa?" tanya mereka serempak.


"Gaada biaya" jawabnya cengengesan.


"Kamu Nes?" tanya Vania menatap Agnes.


"Aku gatau kak,belum mutusin mau liburan kemana soalnya" jawabnya,"Kalo kakak sendiri gimana?"


"Bisa ga gausah pake panggil kak,kaya tua banget tau ga,kita tuh cuma beda setahun kalo lagi berdampingan gini udah kaya seumuran" ujar Vania.


"Tetep aja kak wakesis lebih tua" ujar Naila membuat Vania mendengus.


"Engga lah beda setahun bukan apa-apa" elak Vania.


"Menolak tua ceritanya" cibir Nirbita membuat mereka terkikik kecuali Vania.


"Harus kuat mental,harus kuat mental" ujar gadis itu sebari mengusap dadanya agar diberikan kesabaran ekstra.


"Gimana kalo kita liburan bareng,pasti seru" usul Naila.


"Tumben punya ide bagus" cibir Nirbita membuat Naila menatap sang kakak sepupu.


"Kakak tuh ya terlalu merendahkan ila,gini-gini ila itu pinter tau!" sentak Naila.


"Iya pinternya kadang-kadang" ejek Nirbita.


"Gausah sombong dong mentang-mentang juara satu bertahan sejak masih SD,,padahal belum tentu di SMA ini kakak masih mempertahankan rekor kakak itu,diatas langit masih ada langit" sentak Naila.


"Idih aku ga bilang bakal juara satu terus tuh,kenapa kamu sewot,mau juara atau engga bodo amat yang penting aku udah berusaha" ujar Nirbita sebari menatap tajam ke arah Naila.


Mereka beradu tatapan tajam.


"Ko kalian malah berantem si?" tanya Agnes.


"Diam!" bentak Naila dan Nirbita tanpa mengalihkan tatapan permusuhan mereka.


"Huh" keduanya saling buang muka kearah yang sama dimana langsung menunjukan wajah Agnes yang murung karna habis dibentak sikembar beda orang tua itu.


Tanpa menyadari raut wajah Agnes, kedua kembar beda orang tua itu pergi meninggalkan  satu sama lain sebari saling menjulurkan lidah mereka sebagai ejekan.


"Mereka berantem?" tanya Vania melongo diangguki Naya.


"Gua pikir si kembar ga pernah berantem" sambung Vania.


"Pala lo peang mereka setiap hari debat udah kaya debat pilkada" cibir Naya.


"Bereka bakal baikan lagikan?" tanya Risa.


"Beberapa detik lagi juga udah bareng lagi tuh bocah" jawab Naya.


"Aku mau susul nirbita deh" ujar Agnes.


"Gausah ga penting banget temuin mereka,mending udah disini aja lanjut gibah lagi" ujar Naya.


"Emang gapapa kalo dibiarin?" tanya Agnes.


"Gapapa" jawab Naya seadanya.


"Mmm aku mau toilet dulu deh" ujar Risa buru-buru bangkit dari duduknya.


"Ayang" teriak seseorang dari arah belakang membuat mereka mendengus kecuali Vania.


"Aku cariin kemana-mana ternyata disini,ngapain disini yang?" tanya Farel sebari mengambil duduk disamping kekasihnya menggeser duduk Naya.


"Selingkuh" ujar Naya dengan wajah malas.


"Gausah dengerin dia yang" ujar Vania,"Naya tuh contoh manusia iri dengki,jomblo ya gitu"sambungnya mencibir.


"Eleh kalo ga ada gue kalian ga bakal pacaran keles" cibir Naya,Agnes hanya menyimak sesekali terkekeh mendengar perdebatan mereka.


"Pacaran lewat teror aja bangga" sambungnya mencibir.


"Teror gimana kak?" tanya Agnes heran.


"Bejanda" jawab Naya.


"Becanda" seloroh Vania dan Farel.


"Kamu tau aku disini dari siapa yang?" tanya Vania menatap Farel yang kini memegang tangannya.


"Nirbita,tadi ketemu dikoridor,parah banget yang masa dia palak aku" jawab Farel mengadu pada kekasihnya.


"Palak gimana yang?"


"Dia minta duit aku baru mau kasih tau dimana kamu" jawab Farel mendesah kesal.


"Ga ada yang gratis didunia ini besti" ejek Naya.


"Terus kamu kasih?" tanya Vania mengerutkan keningnya.


"Iyalah,demi tau keberadaan kamu aku siap relain apa aja" jawab Farel


"Alah gombal,sekalinya ketemu cewe cantik pas gaada Vania lo godain,ngakunya jomblo" sinis Naya membuat Vania melotot menatap Farel.


"Fitnah itu yang fitnah!" ujar Farel ngegas.


"Bohong Vania,maling mana ngaku" provokasi Naya.


"Ngaku kamu yang?!,beneran kamu ngaku jomblo kalo lagi ga bareng aku?,ngaku yang!" hardik Vania pada sang kekasih.


Farel gelagapan,"Engga yang,engga,mana berani aku kaya gitu,aku tuh sayang dan cinta banget sama kamu,mulut si Naya itu beracun yang gausah dipercaya"


Naya melihat situasi memanas antar kekasih itu terkikik lalu menarik Agnes untuk pergi dari sana membiarkan dua sejoli itu.


"Kamu beneran ngakuin aku kan sebagai pacar?" selidik Vania.


"Tentu aja yang,masa kamu ga percaya satu sekolahpun udah tau kamu pacar aku, " jawab Farel karna memang setelah jadian pria itu memamerkannya satu sekolah membuat Vania malu,tapi juga senang hehe.


Vania mengkerucutkan bibirnya sebari mengangguk,"Si Naya suka banget si recokin kita yang"


"Tuh bocah belum rasain aja gimana pacaran yang,makanya iri" jawab Farel menggebu.


"Naya belum pernah pacaran yang?" tanya Vania selidik.


"Bodyguard nya belum ngijinin triplet pacaran yang" jawab Farel.


"Bodyguard" beo Vania.


"Abang-abangnya yang" jawab Farel sebari memasukan jari-jarinya pada jari Vania.


Vania beroh ria"Mereka punya abang berapa di yang?"


"Tiga,kenapa si malah ngomongin triplet kaya gaada kerjaan aja,mending omongin masa depan kita aja,kamu mau punya anak berapa yang?" tanya absurd Farel mendapat cubitan dari vania dipinggangnya.


"Ko dicubit si yang"keluh Farel.


"Mulutnya di filter yang ini disekolah,kasian sama calon pacarnya triplet ya yang,harus dapetin restu tiga abangnya dulu"


"Hooh,tapi selain abangnya aku juga bakal nyeleksi pacarnya triplet dulu yang,gapapa kan?" ijin Farel takut-takut kekasihnya marah.


"Gapapa ko kamukan sahabatnya jadi udah jadi kewajiban kamu juga jagain mereka" jawab Vania,walaupun tadinya tidak terima dengan kedekatan Farel dan naya,tapi setelah mereka pacaran ia sedikit demi sedikit mengerti jalan pikir kekasihnya itu.

__ADS_1


"Makasih yang udah ngertiin aku,jadi makin cayang deh" modus Farel memeluk Vania dari samping.


"Lepas yang kalo ada yang liat gimana,kita tuh anggota OSIS harus jadi panutan"


"Iya yang iya" jawab Farel melepas pelukannya,"Kalo diluar sekolah berarti boleh peluk yang?"


"Boleh" jawab Vania.


"Cium?" Vania menatap selidik kekasihnya lalu menyentil bibir Farel dengan gemas.


"Tolong mulutnya difilter"pinta Vania gemas.


"Ayang mah"Farel mencebikan bibirnya.


.


.


Naila pergi menghentak-hentakan kakinya menuju kelas sebari mercak-mercak tidak jelas,tepat didepan pintu kelas perut naila tiba-tiba bersuara bukan karna lapar tadi ingin kekamar mandi,gadis itu langsung berlari menuju toilet tanpa menghiraukan tatapan aneh murid lainnya.


Brak


Saking buru-burunya naila sampai menggebrak pintu kamar mandi membuat beberapa orang disana tersentak,"Naila kamu kenapa?"tanya salah satu temen sekelas naila.


"Cencel dulu nanyanya" saut Naila sebari memasuki bilik toilet dan membuang bebannya disana.


Beberapa menit disana akhirnya perut naila terasa lebih nyaman,naila keluar dari bilik toilet dan mencuci tangannya diwastafel,gadis itu melirik arlojinya,"Gawat bentar lagi masuk"ujarnya disana hanya ada dirinya,beberapa murid tadi mungkin sudah kembali ke kelas masing-masing.


Naila bergegas keluar dari toilet,cet-cet.


Beberapa kali Naila memutar knop pintu toilet namun gagal padahal pintu toilet tidak pernah dikunci,"Ko susah sih"keluh nya mulai khawatir.


Naila terus memutar knop pintu beberapa kali namun nihil,hasilnya tetap tidak bisa dibuka,naila mulai ketakutan,"Tolong ada orang diluar?"teriak Naila.


"Kuncinya ga bisa dibuka,ada orang tolong bukain" Naila terus berteriak dengan mata berkaca-kaca.


"Pintunya rusak,tolong,tolong buka pintunya" rengek Naila sebari berteriak,pikiran-pikiran buruk mengelilingi kepala Naila,gadis itu mulai berkeringat dingin.


"Tolong" Naila terus berteriak tapi tidak ada yang membantunya,Naila ketakutan keringan dingin bercucuran,matanya memerah.


Diluar pintu toilet tidak ada siapa-siapa karna kelas sudah dimulai beberapa detik yang lalu,pintu toilet terlihat terhalang gagang sapu dan pel menyilang membuat pintu itu sulit dibuka.


Dikelas 10b IPA Nirbita celingak-cekinguk mencari keberadaan teman sebangkunya,yaitu Naila,semarah apapun Nirbita pada saudarinya itu,Nirbita tetap akan merasa khawatir jika Naila tidak ada dalam pandangannya barang sedetikpun seperti sekarang,mana sebentar lagi guru akan datang dan memberikan mereka kertas ujian,jika naila tidak datang maka dia tidak akan mengikuti ujian membuatnya tidak punya nilai dalam pelajaran ini.


"Naila kamu dimana si?" monolog Nirbita sebari menatap kearah pintu berharap Naila nongol dari sana.


"Si Naila mana?" tanya Davri.


"Gatau" jawab Nirbita cemas,"Aku juga lagi nungguin dia,mana ga bawa HP lagi"gerutu Nirbita sebari mendumeli Naila dihatinya.


"Bentar lagi guru datang ta" ujar Agnes sebari menatap pintu berharap Naila juga muncul.


"Aku juga tau,tapi gatau Naila kemana, ga mungkin bolos"ujar Nirbita cemas.


Suara langkah terdengar membuat Davri,Nirbita dan Agnes waswas mereka berharap itu adalah naila,tapi sayang seribu sayang yang muncul bukan orang yang diharapkan.


Guru datang membawa kertas ujian memasuki kelas membuat ketiga orang tadi mendesah lesu.


Dimana Naila berada?'itulah pertanyaan dipikiran mereka


"Selamat siang anak-anak,bagaimana istirahat nya sudah puas?" tanya pengawas sebari meletakan lembaran kertas di mejanya.


"Belum bu" jawab mereka.


"Emang gaakan puas kalo soal istirahat mah" cibir pengawas,"Semua sudah masuk?"


Nirbita mengangkat tangannya,"Adik saya belum bu"ujar Nirbita takut-takut.


"Kamu tau dia kemana?,bel udah dari tadi lo bunyi,seharusnya sebelum saya datang semua harus sudah kumpul dikelas"


"Adik saya lagi ga enak badan bu,tadi ijinnya ke UKS mau minta obat saya takut dia kenapa-kenapa bu,saya boleh susul bu?" tanya Nirbita harap-harp cemas.


Terpaksa ia harus berbohong agar bisa mencari keberadaan Naila diarea sekolah,perasaan gelisah nya tidak bisa ia tutupi,ia takut naila diculik seperti dirinya tempo hari.


"Baik bu,saya permisi" ujar Nirbita melegang pergi sebari bernapas lega.


Walau diberi waktu singkat namun bisa Nirbita manfaatkan,tidak mau membuang waktu barang sedetikpun Nirbita acang-acang didepan pintu kelas untuk berlari,namun ia urungkan saat melihat seseorang yang ia kenal berlari kearahnya.


Hah hah hah


Nafas orang itu tersenggal-senggal sesampainya didepan Nirbita,orang itu langsung menumpa kedua tangannya pada lutut,"Udah,,,,masuk,,kak?"tanyanya dengan nafas tersenggal-senggal.


"Udah,kamu dari mana aja si?" tanya Nirbita selidik sebagai mengusap keringat didahi adiknya itu.


Naila mengatur nafas nya terlebih dahulu,"Cerita nya panjang kak"


"Nanti aja kalo gitu cerita nya,bu guru udah didalam ayo masuk!" ajak Nirbita menarik tangan Naila.


"Maaf Bu saya terlambat" ujar Naila yang kini menjadi atensi dikelas.


"Kamu dari mana saja?" selidik guru pengawas.


"Tadi saya diare bu" jawab Naila asal.


"Diare" beo guru pengawas,"Kata kakak kamu,kamu ke uks,ini siapa yang bener?"tanya guru itu.


Naila melirik kearah sang kakak sepupu,melihat itu Nirbita mengangguk sebagai kode.


"Oooh iya bu tadinya saya emang ke uks" jawab Naila lirih,"Tapi perut saya sakit jadi pergi ke toilet dan malah kena diare"


Guru pengawas itu mengangguk,"Terus sekarang keadaan kamu gimana?"


"Baik bu tadi saya udah minta obat ke uks" jawab Naila untuk menyempurnakan kebohongannya.


"Yasudah sekarang kalian kembali ke kursi masing-masing ujian akan segera dimulai"


"Baik bu" jawab dua kembar beda orang tua itu lalu pergi sesuai intrusi guru tadi.


"Anak-anak ibu peringatkan untuk tidak memakan makanan sembarang agar tidak terkena penyakit pencernaan atau penyakit lainnya,tolong jaga kesehatan kalian,karna sehat utu mahal"


"Baik bu" jawab murid 10b IPA serempak.


"Sekarang kita mulai ujiannya,jika sudah tolong cek kembali lembar ujian kalian untuk menyempurnakan jawaban yang menurut kalian kurang yakin,jika sudah yakin maka kumpulkan kepada saya,dan mohon jangan berisik jika ada yang tidak mengerti bisa angkat tangan untuk bertanya pada ibu"


Ujianpun dimulai dengan kedamaian walau salah satu dari murid 10b IPA ada yang mengepalkan tangannya dengan wajah kesal,"Gimana caranya dia keluar"gumannya sebari mencuri pandang kearah Naila.


.


.


Hari-hari penuh ketegangan belum usai namun setidaknya mampu membuat mereka melirekan saraf-saraf otak di kepala,terdengar lebay namun begitulah jika ujian sudah selesai.


Hari ini hari minggu triplet yang mageran tengah rebahan dirumah bu Putri, ya tadi pagi mereka pergi kesana bersama Rangga sebab tidak lagi menginap dikediaman Rangga.


"Kalian udah kaya ikan sakaratulmaut aja dah" cibir Rangga sebari mendaratkan bokongnya disofa sedangkan triplet rebahan di karpet bulu didepan sofa.


"Emang ada ikan yang namanya sakaratulmaut apa?" tanya Naila heran.


"Ada dong,makanya abang sebut tadi" jawab Rangga terkekeh,mengerjai adiknya yang polos-polos bikin orang emosi membuat semangat dalam diri berkoar-koar.


Naila mengangguk percaya,"Dijual dimana bang,beli yu,ila mau rasain gimana rasanya,enak apa engga?"


Rangga yang ditanya seperti itu tidak gugup karna mengerjai adiknya itu sudah menjadi kebiasaan,"Gausah la kalo ketemu kamu ga bakal mau makan"


"Dimakan ko selagi halal"


"Ada efek sampingnya la,nih ya efeknya tuh bikin kejang-kejang,sesek nafas,serangan jantung,paling parah langsung sakaratulmaut dan meninggol" ujar Rangga ngasal.


Naila mendengar penjelasan abangnya bergidig,Naila masih banyak hutang belum mau mati huhuhu,"Yaudah deh ga jadi,serem juga ikannya bisa bikin sakaratulmaut kaya namanya".


"Hooh" jawab Rangga terkikik.


"Mending beli ini bang" usul Nirbita sebari menunjukan foto dilayar ponselnya.


Rangga mengambil alih ponsel dari tangan adik kandungnya,untuk melihat jelas foto apa yang nirbita tunjukam,"Ayam?"

__ADS_1


"Iya,ayam warna-warni bang lucu deh" jawab Nirbita.


Naila sigap mengubah rebahan nya menjadi duduk,"Beliin ya bang ila juga mau"pintanya.


"Engga" tolak Rangga


"Abang jangan pelit lah,beli ya palingan sepuluh ribuan sebiji" rengek Nirbita.


"Iya bang,abang kan orang kaya masa ga mampu buat beli anak ayam warna-warni gini" timpal Naila.


"Tau tuh abang,pelit banget jadi orang,orang pelit kuburannya sempit,kan bisa aja pelihara anak ayam nanti berubah" timpal Naya sebari memejamkan mata dan masih rebahan.


"Berubah jadi sapi?"sela Naila selidik.


"Jadi bapak ayam" jawab Naya membuat mereka mendengus.


Tentu saja jika sudah dewasa anak ayam akan berubah entah menjadi bapak ayam atau ibu ayam,kalo ga mati gitu juga.


"Mau berubah jadi kodok ke,jadi ikan ke,sabodoteing,abang gamau beliin"


"Abang" rengek Naila dan Nirbita.


"Kalian kenapa?" tanya Elesky yang baru ikut berkumpul diruang tv.


Naila dan Nirbita saling lirik saat mendapatkan sarang permohonan mereka,"Abang ganteng deh "puji Naila.


"Ada maunya ini" tebak Elesky.


"Souzon banget" cibir Naila.


"Bukan souzon tadi fakta" sela Naya masih setia dengan posisinya tadi.


"Is kak Naya tidur nya yang anteng dong gausah sambil ngomong!" cibir Nirbita tidak mendapat sautan dari Naya.


"Bang" panggil Nirbita dengan nada merengek dan memeluk kaki Elesky,"Kami mau beli ayam warna-warni boleh?"tanya Nirbita dengan mata pupel eyes.


"Iya bang mau beli ayam warna-warni" timpal Naila merengek ikutan memeluk kaki e6lesky yang sebelah Nirbita.


Elesky menatap bergantian dua adiknya yang tengah merengek di kakinya dengan menunjukan pupel eyes yang mampu membuat nya terenyuh.


Rangga menggelengkan kepalanya sebagai kode agar Elesky menolak permintaan dua bocah kematian itu,jika diturut maka Rangga yang harus bekerja keras.


Sudah kerja dikantor,cari makan kambing, masa harus ngurusin anak ayam pula,ayolah itu cape tau,triplet itu cuma mau enaknya doang!.


Elesky mengalihkan pandangannya kearah lain agar tidak melihat wajah permohonan dua adiknya itu untuk menempatkan pilihan terbaik,membelikan atau tidak?.


Jika dibelikan triplet pasti antusias menjaga dalam satu tiga hari,setelah itu ditelantarkan,kan kasihan.


Menunggu jawaban membuat Nirbita jenuh,Nirbita iseng menyentuh bulu kaki abangnya itu,hap.


"Arhh" ringis Elesky,"woy jangan dicabut!"


Nirbita cengengesan saat ketahuan menarik bulu kaki Elesky,"Maaf bang iseng "


Naila menatap Nirbita kesal,"Kenapa ga ajak ila kalo mau cabutin bulu kaki abang,kan aku juga bisa bantu"


"Bantu gunduk mu,sakit tau" keluh Elesky.


"Udah ah nungguin kalian ngijinin keburu anak ayamnya berubah jadi bapak sapi" dengus Naila sebari melepas pelukannya pada kaki Elesky,"Kita beli sendiri aja kak anak ayam nya"ajak Naila diangguki Nirbita.


"Setuju yu cari" keduanya pergi tanpa menghiraukan panggilan kedua abangnya.


Rangga dan Elesky hanya bisa mendesah pasrah dengan kelanjutan cerita,yang paling menderita pastilah Danis yang akan Rangga pekerjakan sebagai peternak juga wkwkwk kalo ga di gajih besar Danis pasti memilih kabur.


Ada duit semua beres.


Naya membuka pejaman matanya saat suara kedua abangnya bersautan memanggil kedua adiknya,gadis itu hanya memandang punggung kedua adiknya yang berjalan kearah luar rumah.


"Bang" panggil Naya sebari mendongkak menatap kedua abangnya bergantian,"Karna kalian ga mau anter mereka cari anak ayam,gimana kalo anter aku ke grenmedia"


"Mau ngapain kamu kesana?" tanya Elesky.


"Cari bakso" serempak Rangga dan Naya menjawab sebari mendengus.


Pertanyaan bodoh memang ya kali beli bakso!.


Elesky mendengus,"Basa-basi elah"


"Kalo basi dibuang" cibir Rangga.


"Gue aja bang yang anter Naya,lo awasin si dua kembar beda orang tua noh,sebelum jauh,berabe kalo sampe hilang" ujar Rangga sebari bengkit dari duduknya.


Elesky mendengus ditumbalkan menjaga biang rusuh, seharusnya ia langsung mengajukan diri mengantar Naya tapi telat,kan hanya Naya yang waras.


Eksky bangkit dari duduknya dan pergi menyusul kedua kembar beda orang tua yang tadi bertujuan mencari anak ayam warna-warni yang bisa berubah menjadi bapak sapi,apakah ada? Tentu saja tidak!.


"Ayo siap-siap rebahan mulu" cibir Rangga pada Naya yang masih nyaman dengan rebahan nya.


"Ah rebahan my like"


"Bodoamat,sana ganti baju" titah Rangga.


"Iya gausah sabar perbanyaklah marah-marah" ujar Naya sebari mengubah posisi menjadi duduk.


Rangga mendengus,"Adek gue kaga ada yang waras satupun"cibirnya.


Elesky celingak-celinguk kekanan kekiri memilih arah kemana adik-adiinya berlari.


"Kanan kiri" tunjuk pria itu sebari berpikir,"Mereka lari kemana si,cepet amat ilangnya"


Bukan mereka yang cepet hilangsih Elesky nya aja yang kurang cepat mengejar,terlalu banyak gibah.


Disisi dua bocah kembar beda orang tua yang sedang dicari,mereka tengah berjalan dipinggir jalan dari arah kiri rumah bu Putri tadi.


"Kak kita nyari anak ayam warna-warni kemana?"tanya Naila di sela-sela langkahnya.


"Tukang bakso" jawab Nirbita ngasal.


"Emang tukang bakso jualan ayam?" tanya Naila polos-polos minta di jedotin ke tembok palanya biar waras.


"Ouh jelas kaga,oon nya tolong pulangin dulu bisa?" ejek Nirbita.


Naila mencebikan bibirnya kesal,"Kan kakak yang bilang nyari ayam di tukang bakso,ko malah bilang ila oon sih"gerutunya tidak terima.


"Ya allah ya rabb tolong perbesarlah kesabaran hamba"


"Ih kurangi bersabar perbanyaklah marah-marah" ujar Naila mencebik.


Nirbita tidak lagi meladeni ucapan Naila hingga beberapa detik,ingat detik,mana kuat Naila tidak ngerocos.


"Menurut kakak siapa yang udah kunciin aku dikamar mandi kemarin?" tanya Naila.


"Kamu nanya kakak?" tanya Nirbita menghentikan langkahnya sebari menunjuk dirinya sendiri,Naila mengangguk.


"Terus kakak nanya siapa?"


"Is siapa tau kakak curiga sama siapa gitu yang mau jahatin aku,untung ada Risa yang bukain pintu kalo engga aku bisa seharian disana,trus ketinggalan ujian pula,nilai aku pasti nol sebelum berjuang" gerutu Naila menggebu.


Binggo,kejadian dimana meja naila yang kotor tempo hari saja belum terpecahkan berselang dua minggu sudah ada kejadian baru,dimana ada yang mengunci Naila dikamar mandi,untung ada Risa yang tiba-tiba datang dan membantu Naila keluar dari sana,jika tidak maka habislah n


Naila.


"Aku kaya ada yang lupa tapi gatau apa" mololog Nirbita didengar Naila.


"Lupa artinya gainget kak"


"Ahhh" Nirbita menjengit membuat Naila tersentak.


"Kenapa si kak,teriak,teriak kaget tau" dengusnya kesal.


"Sabar elah nih aku baru inget kalo kita punya janji sama Risa,kitakan pernah mau ajak Risa ngemall hari minggu"


"Eh iya ila lupa,yaudah yu ke mall" ajak Naila semangat empat lima.


"Pulang dulu elah,ngambil duit,masa nge mall nebeng ngadem doang" cibir Nirbita menarik kerah baju Naila untuk kembali pulang,sudah seperti tengah menenteng anak kucing.

__ADS_1


__ADS_2