DIARY TRIPLET N

DIARY TRIPLET N
NAYA KECEWA


__ADS_3

Jam istirahat yang biasa dipakai Naya untuk menghampiri adik-adiknya agar pergi kekantin bersama tapi tidak untuk kali ini,, gadis itu kini berjalan kebelakang gedung sekolah dengan mengendap-endap sebari memegang kursi plastik dengan kencang,,sesampainya dihalaman belakang Naya berdiri didekat tembok.


Naya celingak-celinguk mengawasi sekitar dirasa aman, Naya menaruh kursi itu didepannya sekali lagi Naya mengawasi sekitar dengan teliti,"Jangan sampe ada yang lihat"gumannya lalu naik keatas kursi, kakinya berjingjit diatas kursi dengan tangan berupaya berpegangan pada ujung tempok pagar yang tingginya dua kali lipat dari tubuhnya.


Kedua tangan Naya berhasil memegang ujung tembok dengan kuat,kaki gadis itu merangkak untuk naik sekali gagal untungnya percobaan kedua berhasil,susah payah Naya duduk diujung tembok secara perlahan memutar tubuh kearah lain,Naya menatap kebawah dari arah lain dan berguman,"Cocok banget dah gue jadi maling,eh ko maling sih?,yang kelelawar ituloh difilm marvel,ahh iya spiderman "terserah Naya aja!.


Naya kembali meloncat kearah lain itu dan mendarat dengan sempurna,kaki di tanah juga tangan menyentuh tanah dan punggung berjongkok,Naya langsung bangun sebari menepuk kedua tangannya untuk menghilangkan debu yang menempel,Naya menghela napas panjang sebari memegang kedua ujung ranselnya dengan kuat," Jastin I am come"teriaknya antusias.


Untung disana tengah sepi jadi gaada yang mendengar teriakan Naya dan menilai gadis itu gila.


Berjalan menyusuri jalan untuk mencari kendaraan umum sebari bersenandung,selain bisa bolos ia juga bisa ketemu Jastin,ehh emang itu tujuannya bolos ko.


Sedangkan dikantin seperti biasa mereka tengah makan apalagi coba jika dikantin,mana nyanyi,bisa jadi sih.


"Si Naya mana?,tumben banget belum nongol biasanya juga bareng kalian" tanya Vania sebari menatap Naila dan Nirbita bergantian.


"Bolos" jawab Nirbita seadanya sebari memainkan ponsel di game miliknya,ya Nirbita dua hari ini tengah kecanduan game restoran semacamnya.


"Hah kak Naya bolos?" tanya Naila menatap kakak sepupunya.


Nirbita hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel.


"Tumben amat lo berdua ga ikut?" cibir Farel siketua osis.


"Kalo ila tau udah pasti ikut"jawab Naila jujur.


"Sono dah bolos mumpung gue masih jadi osis,lo nanti ga bakal bisa bolos dengan damai lagi kalo udah ganti OSIS" ujar Farel mengusulkan kesesatan.


"Selalu aja Karel kereta api tututut membawa kesesatan,,heran dah kenapa pelet nya ampuh banget sama ka Vania" cibir Nirbita tanpa mengalihkan pandangan.


"Gue setuju banget sama si ita,,lo pake pelet apasi Rel bisa ambuh banget" cibir Aril.


Farel hanya mendengus,"Jalur langit "jawabnya membuat Naila melotot.


"Ngok banget" cibir Naila menyerupai suara b*bi saat mengatakan 'ngok',"Solat magrib aja harus dilempar sendal dulu baru ke masjid"sambungnya.


"Fitnah aje trus fitnah" ujar Farel geram.


"Biarin aja yang,aku percaya ko kamu pelet aku jalur langit makanya aku cinta banget sama kamu" ujar Vania membuat seisi meja bergaya ingin muntah.


"Ayang nya aku" manja Farel sebari memeluk Vania dari samping membuat mereka memutar mata.


Naila berdiri dari duduknya dan melangkah hingga berada dibelakang kursi yang ditempati Vania dan Farel,Naila mendorong bahu Farel dengan kuat hingga terhuyung kesamping,"Apasi lo La!"teriak Farel tidak terima.


Naila duduk di tengah-tengah antara Farel dan Vania setelah mendorong Farel,"Ila cuma mencoba menjauhkan tindakan asusila dan perbuatan dosa,,seorang wanita dan pria yang bukan muhrim dilarang bertatapan apalagi ini berpelukan,sebagai orang baik ila cuma mencegah perzinahan"oceh nya so iye.


Farel mendengus mendorong kepala Naila menggunakan jari telunjuknya,"Kak Relll jangan dorong-dorong pala Ila dong,kebiasaan banget!,otak udang Ila bisa jatoh susah mungutnya!"ujar Naila tersungut-sungut.


"Udang ga ada otaknya! "Ejek Farel dan vania serempak.


"Pesen makan sana Dev gue mau makan somay" pinta Rezaldi.


"Ok kalo ada duit jalannya" jawab Devan sebari menyodorkan tangannya,hubungan algaskar untungnya sudah membaik walaupun permasalahan mereka sampai saat ini belum menemukan pelakunya atas pembakaran markas Fir'aun yang menuduh geng Algaskar,, bukan hanya sekadar tuduhan sebab ada jaket milik Devan menjadi bukti yang menuduhkan pada pelaku.


Rezaldi tersenyum,"Berbagi itu indah,berbagi juga mendapat pahala, bener ga la?"ocehnya meminta persetujuan Naila dan gadis itu mengangguk,"Sebagai orang baik gue mau buat lo dapat pahala,makanya pake duit lo aja kan lumayan tuh bisa mengurangi dosa lo itu"sambungnya menaik turunkan kedua halisnya.


Devan memutar matanya malas,pengen ditraktir aja segala so soan berbagai pahala,"Gue juga orang baik asal lo tau,makanya sebagai sesama orang baik pahalanya kita bagi dua,gue yang beliin lo yang bayarin,baikan gue?,berbagai pahala itu indah,ayo sini duitnya!"jawabnya membuat Rezaldi mendengus.


"Tapi gue lebih baik,pahalanya buat lo aja semua biar dosa lo berkurang gitu" kekeh Rezaldi.


"Makasih nih udah pikiran dosa gue,tapi jangan cuma pikirin dosa gue doang,dosa lo sendiri juga harus dipikirin,jadi karna gue lebih dari baik maka gue bagi tuh pahalanya" kekeh Devan tidak mau kalah.


"Bayar sendiri lah gausah kaya orang susah deh" cibir Aril.


"Bukan susah sih tapi kalo ada yang gratis kenapa harus bayar" ujar Nirbita dan Naila serempak.


"Dasar" ejek Farel.


"Gausah dasar-dasaran,situ juga sama kalo ada gratisan ga bakal nolak!" ejek Wahyu.


"Cuma orang bodoh sih yang nolak" jawab Farel,"Heh Risa, Agnes lo pada diem-diem bae sariawan lo!,si Bintang juga kaya hidup ga ada gairah nya banget"cibirnya menatap dua gadis kalem itu lalu menatap Bintang dengan keheranan.


Kenapa Farel tidak membawa nama gara untuk mencibir,ya jelas gara emang irit bicara jadi ga aneh lagi.


"Aku nyimak aja kak,diem aja cape apalagi kalo ikutan ngomong" jawab Risa.


"Diem aja tiba-tiba lo berdua ngereog" cibir Vania.


"Kesurupan kali ah" jawab Agnes.


"Ngomong juga si gebetan Devan,heh kapan lo tembak anak orang!" ujar Rezaldi.


Daven menatap kesal kearah Rezaldi beralih menatap Risa tanpa disadari siapapun barulah menatap Agnes hingga mereka beradu pandangan dan saling tersenyum.


"Mati dong" ujar Naila kembali ditoyor Farel menggunakan jarinya, Naila tidak tinggal diam gadis itu membalas.


"Cepet tembak keburu diambil orang, atau lo mau gosting anak orang!" tuduh Rezaldi.


"Kagalah gue cuma nunggu yang tepat ko" jawab Devan,"Gue pesenin makan nih sebutin mau kalian!"ujarnya mengalihkan pembicaraan.


Setelah mereka menyebut makanan yang ingin mereka makan Devan beranjak pergi sebari menarik Rezaldi untuk menemaninya,,dengan ogah-ogahan Rezaldi ngikut.


Setelah makanan datang Nirbita masih pokus memainkan game di ponselnya tanpa melirik sedikit pun makanan dimeja,hingga ponselnya ditarik.


"Eh-eh-eh ponsel Ita" kagetnya ketika ponselnya ditarik.


"Makan dulu Bi" ujar Gara pelaku pengambilan ponsel dari tangan Nirbita dan menyimpanya disakiti seragamnya.


"Balikin dulu hp Ita kak" pintanya sebari menggerakkan tangannya untuk mengambil ponsel disaku Gara.


"Kalo udah makan baru aku balikin Bi" ujarnya kekeh mempertahankan ponsel Nirbita di sakunya.


"Iya nanti Ita makan ko,balikin dulu hp ita kak" pintanya merengek.


"Drama rumah tangga" cibir Aril memutar matanya jengah.


"Engga bakal aku balikin,kalo kamu mau hp kamu balik habisin dulu makanannya" kekehnya membuat Nirbita cemberut.


"Kak Gara nyebelin banget!" dengus Nirbita cemberut lalu mengambil mangkok mie ayam miliknya dengan kasar dan segera menyantapnya dengan kasar juga.


"Pelan-pelan BI ga akan ada yang ambil makanan kamu" ujar Gara memperingati.


"Kalo ada yang ambil Ita potong tangannya pake garpu!" jawab Nirbita ketus.

__ADS_1


"Aku bantuin nanti" ujar Gara sebari mengusap pucuk rambut Nirbita dengan gemas.


"Gausah diacakin dong kak" ketusnya.


Disisi Naya yang bolos sekolah kini sedang berdiri didepan mansion seseorang yang pernah ia datangi dua kali,salah satunya kemarin sore bersama keluarganya.


"Masuk ga ya?"monolog Naya ragu tapi kakinya tetap melangkah melangkah lebih dekat dengan pagar rumah.


"Ada yang bisa saya bantu non?" tanya satpam membuat Naya tersentak.


"Eh ini saya mau nengok Jastin pak,orangnya ada ga ya pak?" tanya Naya ragu-ragu.


Pak satpam tersenyum sopan,"Ada non,mari masuk"ujarnya sebari membukakan gerbang.


Pak satpam itu bukan hanya membukakan gerbang untuk Naya namun juga mengantar Naya untuk masuk kedalam rumah Jastin,disana pak satpam mempertemukannya dengan pembantu senior dirumah itu.


"Mari non Naya bibi anter kekamar den Jastin" ajaknya tersenyum senang melihat kedatangan naya untuk ketiga kali nya.


"Panggil Naya aja bu gausah pake non segala" pinta Naya.


"Tapi non,," pembantu senior itu hendak menolak namun mendengar suara naya pembantu itu hanya sengangguk setuju saja.


"Saya lebih nyaman dipanggil nama bu,,,jadi mohon pengertiannya" ujarnya.


"Baik non,eh maaf bibi udah bikin Naya ga nyaman,mari bibi antar kekamar aden"


Sesampainya dilantai atas dimana kamar Jastin berada,suara pintu diketuk terdengar.


"Masuk"pinta suara dari dalam.


Bibi membuka pintunya dah menatap sopan kearah Jastin yang masih terbaring diranjang karena kejadian kemarin malam,,Jastin sempat di rumah sakit tepat pada sore hari Jastin meminta pulang dan diijinkan saat itulah Naya dan keluarga menjenguk Jastin di rumahnya sekaligus Naya meminta maaf.


Bibi menjelaskan kedatangannya untuk mengantar Naya menemuinya,wanita paruh baya itu kembali turun ke lantai bawah seorang diri dengan alasan mengambilkan minum untuk tamu tuan rumah.


Naya berdiri gugup disamping ranjang Jastin sebari menatap pria yang bersandar diranjang dengan tubuh terbaring.


Naya sudah minta maaf kemarin dan Jastin menjawab maafnya tapi sejak kemarin keduanya menjadi canggung entah kenapa.


Hening


Beberapa menit mereka hanya saling tatap dalam diam sampai suara Jastin mengintrupsi,"Ga mau duduk gitu?" ujarnya bertanya.


Naya mengedip lucu lalu menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk,"Gue?"


Jastin memutar matanya malas,"Bukan"jawabnya sebari mendengus Naya hanya mengangguk tanpa suara.


Tidak ada pembahasan lain bahkan pembantu senior yang tadi pamit untuk mengambil minum sudah kembali membawa dia jus jerus dan juga buah-buahan kekamar Jastin.


"Duduk Naya!" pinta Jastin sebari menepuk sisi ranjang di sampingnya.


Naya sudah menggerutu sejak tadi lewat batin,kakinya sudah pegal berdiri terus dia kira akan terus berdiri sampai pulang nanti,padahal biasanya Naya akan melakukan apa yang dia inginkan,contohnya menggebugi anak orang seperti kemarin malam,jangan dibahas naya malu, tapi kali ini Naya terlihat kalem.


Naya duduk tapi bukan ditempat yang ditepuk Jastin tadi melainkan dibawah ranjang,duduk dengan kedua kaki dilipat dan tangan menangkup wajahnya dengan kedua siku berada sisi kasur.


"Kenapa duduk dibawah?" tanya Jastin heran.


"Kenapa emang?" bukannya menjawab Naya malah bertanya.


"Ya kan bisa duduk disamping gue gitu"jawabnya lirih.


Melihat tatapan naya Jastin menyentuh wajahnya,hari ini dirinya izin tidak sekolah dengan alasan sakit, terhitung dari kemarin dirinya belum mandi takutnya Naya menatap lekat pada wajahnya karena ada iler disana,memalukan!.


"Lo masih marah sama gue?" tanya Naya saat Jastin mengusap wajahnya takut ada iler nyangkut disana.


Jastin terdiam sejenak lalu kembali menatap Naya,"Engga ko"jawabnya tersenyum kecil.


"Bohong" ujar Naya menunduk sedih.


Jastin menatap lekat Naya dirinya merasa bersalah pada gadis itu,,ya memang Naya sudah membuatnya babak belur tapi ia merasa dirinya pantas mendapatkan itu tentu dengan suatu alasan,Jastin  menghela napas.


"Gue mau jujur sama lo,lo mau denger ga?"ungkap Jastin,dia sudah memikirkan masalah ini semalaman.


"Mau"jawabnya mendongkak menatap Jastin.


"Tapi lo harus janji jangan marah sama gue,magsud gue,lo boleh marah sama gue tapi jangan lama-lama,gimana setuju kan?"naya hanya mengangguk tanpa suara.


Jastin menghela nafas,"Jadi gini di film yang gue tonton ada sekumpulan anak geng motor gitu,,mereka punya musuh kan yah" ujarnya penuh kehati-hatian namun Naya menyela.


"Gausah cerita lewat karakter film segala,kalo lo mau cerita tantang diri lo sendiri,maka lo ga bisa pinjem karakter orang lain,karna dia bukan lo!" sela Naya tidak sabaran.


Jastin kembali menghela napas sangat sulit untuk mengatakan kejujuran yang ingin ia katakan pada naya sekarang,saat sudah memberanikan diri Naya malah menyela emang dasar bocah gemblung,kan semua abjad di otaknya bubar,,sekarang otak Jastin kosong,dirinya bingung harus cerita bagaimana agar tidak melukai hati Naya.


Naya melihat keterdiaman Jastin berinisiatif bertanya sesuatu yang pernah Antariksa katakan padanya,dirinya ingin Jastin sendiri yang membari jawaban dari pertanyaan nya ini,"Gue mau tanya sama lo,kata Tarik magsud gue Antariksa,dia bilang lo deketin gue buat jadi batu loncatan hancurin Algaskar,emang bener Jas?"tanya Naya dengan raut wajah tidak terbaca.


Jastin tersentak,walau dirinya juga sudah menebak jika Antariksa membocorkan rencananya pada naya setelah Jastin mengetahui siapa remaja yang suka dipanggil om oleh triplet dinikahan Rangga,tapi ia juga terkejut ternyata tebakannya benar,sekarang ia harus bagaimana?.


Jujur?.


Jastin terdiam.


"Gue cuma mau jawaban dari mulut lo aja si,ya walau jujur gue percaya sama perkataan Tarik,," Naya menjeda perkataannya untuk tersenyum kecut,"Gue gaada hubungannya sama mereka kalo perlu lo tau,,gue deket sama mereka belum lama ini kecuali sama Farel,Davri dan Wahyu mereka sahabat kecil gue,tapi mereka ga pernah bawa-bawa gue atau dua adik gue dalam masalah geng motor mereka,,,gue emang tau mereka ikutan geng motor,,tapi gue ga nyangka bisa disangkut pautkan aja sama mereka buat dijadiin batu loncatan balas dendam "sambungnya tersenyum kecut dengan nada kecewa.


Jastin tercekat dirinya ingin mengelak namun tidak bisa perkataan Naya benar,mereka tidak ada sangkut pautnya tapi kenapa dirinya ingin menggunakan Naya untuk aksi menghancurkan musuh nya,Jastin tidak mampu berkata walaupun ingin.


"Kalo ditanya kecewa gue kecewa sama lo,,tapi gue ga punya hak buat putusin niat lo deket sama gue,semua itu keputusan lo tapi gue punya hak untuk menjaga diri,,,,gue ga mau disangkut pautin sama permusuhan geng lo sama Algaskar,,gue atau adik-adik gue ga ada hubungannya sama permusuhan kalian jadi gue minta lo jangan pernah bertindak gegabah sama gue atau dua adik gue karena gue ga akan segan buat mukulin lo kaya kemarin, " na6ya kembali menjadi kini untuk menghela napas.


"Gue beneran ga sengaja soal kemarin gue harap lo ga dendam sama gue,tapi kalo lo dendam gue harap lo langsung bales sama gue jangan sama kedua adik gue" Naya kembali menunjukan senyum tipis pada jastin yang hanya bisa menunduk mendengarkan tanpa bisa bersuara.


Ada rasa sakit dalam hatinya ketika Naya mengatakan semua itu. "GUE SUKA SAMA LO" ungkap Naya membuat Jastin lagi tersentak, ada rasa bahagia campur disana.


"Gue Naya Bunga minta maaf sama lo Jastin Abrahan gue bakal tanggung jawab atas apa yang terjadi sama lo,gue bakal jagain lo sampe sembuh tapi setelah itu gue harap kita kembali seperti semula,,,,kembali asing"


Deg


Jantung Jastin terasa terhenti walau sejenak mendegar perkataan Naya yang membuat hatinya terasa sakit,Jastin mendongkak menatap Naya yang memancarkan wajah kecewanya membuat Jastin seribu lebih sakit dari luka lebam ditubuhnya.


"Naya gue,gue minta maaf,gue tau gue salah,gue hilaf Nay,tapi jujur gue udah batalin rencana itu sejak lama,,gue mohon Naya jangan putusin hubungan kita,gue suka sama lo perasaan gue sama lo ga bohong Naya" ujar Jastin sebari memegang tangan Naya penuh permohonan dan mata pria itu berkaca-kaca.


"Gue beneran suka sama lo diluar rencana gue Naya,gue mohon beri gue kesempatan untuk berubah Naya gue mohon"


"Emang kita punya hubungan ya Jas?,sejak awal kita emang orang asing yang ga sengaja dipertemukan ko" ujar Naya membuat Jastin tertohok.


Benar sejak awal mereka hanya orang asing yang dipertemukan dijalanan umum yang digunakan untuk balapan ilegal para remaja.

__ADS_1


"Naya gue minta maaf,gue ngaku salah gue mohon beri gue kesempatan buat berubah jadi lebih baik" pinta jastin penuh harap.


Naya menghela napas sebari mencoba melepaskan genggaman tangan Jastin,


"Sory kayanya gue harus pergi sekarang,gue harap lo cepet sembuh tenang aja gue tanggung jawab ko sama ulah gue" ujarnya setelah berhasil melepas genggaman tangan Jastin.


"Naya jangan pergi gue mohon kita omongin baik-baik masalah kita" pinta Jastin..


"Gue pamit,asalamualaikum" Naya tidak menghiraukan permintaan Jastin padanya,gadis itu melangkah pergi tanpa peduli sautan suara Jastin  yang memintanya untuk tetap disana.


Jastin bahkan mencoba meraih tangan Naya tapi gagal karena Naya lebih dulu melangkah pergi, Jastin tidak menyerah pria itu beranjak dari ranjangnya menyusul Naya untuk meminta kesempatan,,jujur.


Jastin mengakui jatuh cinta pada Naya,tidak tau sejak kapan mungkin sejak Naya mencoba menjaga jarak dengannya,,,ketus,galak,bar-bar, mulut ceplas-ceplos dan juga merconya adalah sesuatu yang membuatnya menarik,Jastin tidak ingin kehilangan.


Jastin pernah membenci akan cinta karena perceraian orang tuanya,Jastin membenci wanita setelah taun perselingkuhan ibunya karena harta,,,tapi sejak mengenal Naya semua berubah.


Jastin yang menjaga jarak dengan wanita,hilang jika bersama Naya.


Jastin yang membenci wanita matre merasa tidak masalah diporotin Naya.


Sikap Naya yang semaunya membuat senyum dan tawa bahagia terbit dibibir Jastin,hanya Naya.


Jastin mengejar Naya karena kondisinya belum membaik seutuhnya pria itu tidak bisa berlari akhirnya Naya keluar dari gerbang rumah.


Jastin berterik dan mengeram frustasi didepan pintu rumah melihat kepergian Naya dari rumahnya dengan kondisi kecewa.


Semua salahnya,kenapa dirinya bodoh!,dirinya sudah kehilangan sebelum memiliki!.


Penyesalan datang diakhir jika diawal namanya pendaftaran,pendaftaran untuk menyesal.


Penyesalan selalu datang diakhir!,kenapa?.


Agar bisa belajar dari pengalaman bahwa keputusan apapun harus dipikirkan berkali-kali sebelum diputuskan agar tidak menyesal dihari nanti.


Naya berlari dari kamar jastin dengan perasaan terluka, oke dirinya emang tau jastin memiliki niat jahat mendekati nya tapi mendengar pengakuan Jastin ternyata lebih sakit dari sekedar tau dari orang lain.


"Lo nangis Naya?,si Jastin lukain lo?" tanya Antariksa yang entah sejak kapan sudah berada didepan pagar rumah Jastin.


Naya menusap matanya Ia tidak menangis sambil berlari tadi, untuk pertama kalinya dirinya merasa kecewa


"Anter gue balik kesekolah" pintanya sebari naik ke boncengan motor Antariksa.


Antariksa tidak lagi bertanya pria itu tau suasana hati Naya yang tidak bagus sekarang ini,dia langsung mengikuti keinginan Naya untuk pergi dari sana.


"Naya" teriak Jastin tidak berhenti mengejar Naya walaupun gadis itu sudah pergi dengan motor,tanpa menunggu lama Jastin pergi ke bagasi mengambil motornya dan mengendarai dengan susah payah.


Kondisinya yang babak belur tangan kanan yang retak membuatnya sulit mengendarai motor tapi jastin tidak menyerah untuk mengejar Naya,dirinya ingin menjelaskan semuanya,dirinya tidak mau kehilangan Naya.


Sedangkan disisi Naya gadis itu menyandarkan kepalanya dipunggung Antariksa dengan perasaan aneh,,,tidak terdengar suara dari Naya selain isakan kecil dari bibirnya Naya juga berkali-kali mengusap wajahnya kasar.


Antariksa membawa motornya dengan kebut-kebutan karna sadar tengah dibuntuti orang yang dia kenal,"Kalo mau mati,mati aja sendiri gausah ajak gue"teriak Naya serem dibawa kebut-kebutan.


"Aelah sante aja keles gue belum ada niatan mati" jawab Antariksa tidak memelankan laju motornya.


Selama satu jam perjalanan Antariksa menghentikan motornya dekat perbukitan,Naya hanya mendengus sebari memperhatikan sekitar.


"Lo bawa gue kemana si?,gue kan minta dibalikin kesekolah" tanyanya kesal.


"Udah pergi dari sekolah ngapain balik lagi,sekalian bolos bego lo" cibir Antariksa sebari membuk helm yang dia pakai.


"Gue tuh anak baik,anti sama bolos-bolosan, ahh lomah ngajak gue sesat mulu" dengus Naya.


Antariksa menoyor kepala Naya dengan kencang hingga gadis itu terhuyung kebelakang,"Lo udah pinter sekali bolos ga bakal bikin lo langsung miskin!"entah mencibir atau memuji pria itu,"Yu ikut gue!"anaknya sebari menarik Naya pergi.


"Santai dong gausah narik segala Tarik tambang!" pekik Naya sebari terseok ditarik Antariksa tak berperasaan padahal Naya tengah galau sekarang.


Antariksa melepas tarikannya ketika sampai ditempat yang ingin ia tunjukan pada Naya,"Bagus kan!"tunjuk nya pada danau buatan didepan mereka.


Naya terpesona dengan pemandangan yang dia lihat,"Bagus banget!"puji nya.


Antariksa duduk di tepi danau,"Duduk sini samping gue!"


Naya menuruti perkataan Antariksa,"Lo tau tempat ini dari mana?"tanyanya.


"Gue suka bawa Risa kesini kalo dia lagi sedih" jawabnya,lalu menatap naya dari samping,"Gue tau lo lagi galau makanya gue bawa lo kesini "


"Sotoi"


"Bukan sotoy tapi emang gue tau,gimana hati lo sekarang?" tanyanya pada Naya dengan pandangan serius.


Setelah kemarin pagi Naya mengungkapkan perasaan nya tentang Jastin,Antariksa memarahinya habis-habisan sampai mereka bertengkar hebat,pada akhirnya Antariksa mengalah.


Disaat keduanya mulai tenang Antariksa kembali mengajak Naya untuk membicarakan masalah ini,Antariksa tidak akan ikut campur jika saja jastin benar mencintai Naya bukan hanya dijadikan permainan, tapi dirinya tau rencana Jastin dan tidak akan dia biarkan sodaranya itu hancur.


Dan tadi pagi Naya mengatakan pada Antariksa bahwa dirinya akan bertanya langsung pada Jastin tentang rencana pria itu, tadinya Naya berniat memaafkan Jastin dan memulainya dari awal tapi,mendengar dari mulut jastin sendiri ternyata terasa sakit.


Naya menundukan kepalanya menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis,matanya sudah panas dan remang dengan cairan bening yang tertahan disana.


Jastin menghela nafas dan menarik saudarinya dalam pelukannya hingga memecahkan tangisan Naya.


Naya tuh sudah nangis dimotor masa nangis lagi,cengeng amat.


Naya menangis dipelukan om berondong yang selalu ia ajak debat setiap saat kali ini,pria itu menjadi sandaran saat dirinya sedih.


Antariksa mengusap rambut naya dengan lirih "Nangis aja sampe lo cape,tapi abis itu lo dilarang nangis lagi,triplet itu nyebelin bukan cengeng" ujar Antariksa mengocehi Naya.


"Gue ga nangis hiks gue kelilipan huaaa" elak Naya tidak mau dituduh nangis,padahal emang nangis.


"Ngelak lagi" dengus Antariksa masih memeluk Naya.


Sedangkan disisi Jastin yang mengejar motor Antariksa yang membawa Naya pergi,dirinya kehilangan jejak,"Sial"umpat nya, rasa sakit ditangannya yang mengalami retak tulang ia hiraukan dan terus menjelajahi jalanan untuk mencari naya.


Ia punya tiga pilihan,mencari Naya dijalanan,mencari kesekolah atau ke rumahnya langsung tapi kedua kemungkinan itu tidak pasti, Antariksa pasti tidak membawa Naya pulang kerumah atau ke sekolahnya,ia yakin itu,mereka pasti masih dijalanan ini,,tapi dimana?.


Jastin kembali menyalahkan mesin motor susah payah,dengan tangan yang terasa semakin sakit bahkan tangannya itu tidak lagi bisa menggenggam stang motor disaat bersamaan dilawan arah ada mobil dengan kecepatan tingga melintas kearahnya.


Dug


Jastin tejatuh tertimpa motornya setelah ditabrak mobil tadi dan hanya bisa mengeram kesakitan,hingga warga sekitar dan pengemudi yang melihat mulai berkerumun mendekat ke arah Jastin,orang yang menabrak juga keluar dari mobil.


Warga lebih dulu menganggat motor yang menimpa kaki Jastin dari sana cairan merah terlihat dan tangan kanan jastin yang sudah bergeser tulangnya sejak kemarin kini terasa sulit digerakan.


"Telepon ambulans!" teriak para warga heboh.

__ADS_1


Rasa sakit di sekujur tubuhnya menghilang bersamaan dengan kegelapan mengambil alih cahaya,,Jastin pingsan sebelum itu ia berguman lirih,"Maaf"ujarnya penuh penyesalan dan kenangan bersama Naya terlintas bagai kaset rusak.


__ADS_2