DIARY TRIPLET N

DIARY TRIPLET N
Gue sama lo jadi muhrim


__ADS_3

"Dimana ada uang masalah akan selesai!,,,itu prinsip gue jadi kalo lo punya duit kerja sama aja ama gue,dijamin rebes" ujar Danis menawarkan jasanya seola seles gas.


"Lo ga boong kan bang?" tanya remaja yang kini tengah menyetir motor gede dengan kecepatan lumayan tinggi.


"Kaga!,,kalo lo mau gua bisa bantuin lo buat jalan berdua doang sama si Naya dimall nanti,gimana?,setuju ga nih?,,,tapi ya sesuai bayarannya!" ujar Danis trus mempromosikan bantuan darinya.


"Dil,,pokonya gue cuma mau berduaan doang sama Naya nanti bang,,lo ga usah ngintil"


"Sesuai bayaran,,,lo untung dikawal gue bisa nego lah kalo sampe dikawal bos satu langsung,lo ga bakal ada kesempatan berduaan sama adenya" ujar Danis memberitahu.


Jastin menghentikan laju motornya,"bos satu siapa bang?"tanyanya bingung.


"Elesky" jawabnya diangguki Jastin,"Ngapain berenti?,mallnya masih jauh tuh"sambungnya.


"Nomor rekening lo bang" ujar Jastin sebari memberikan ponselnya pada Danis,"Gue mau transfer sekarang,,tapi lo harus bener kerjanya bang, biar kalo gue butuh bantuan, gue bisa percayain sama lo,soal bayaran aman"sambungnya membuat Danis sumringah karna ini soal uang.


Hidup tanpa cinta maka hidup tidak bermakna,salah hidup tanpa duit lah yang tidak bermakna.


"Gue suka gaya lo!" ujar Danis senang mendapat duit sebari mengembalikan ponsel pada pemiliknya.


"Udah gue kirim bang,,lo cek pas kan?" tanya Jastin kembali memasukan ponselnya kedalam saku.


Danis tersenyum lebar,bahagia,puas menjadi satu,"Wah banyak juga duit lo"puji Danis sumringah melihat nominal uang yang ditransfer remaja bernama Jastin ini.


Jastin kembali melajukan motornya menuju mall,seperti kesepakatan sebelum berangkat tadi mereka akan kencan entahlah bisa dibilang kencan atau tidak jika dikawal ke mall,,,Triplet berangkat bersama abang dan om berondongnya,untuk Gara dan Bintang memakai motor masing-masing dan Danis dibonceng Jastin.


"Lo suka sama si Naya?" tanya Danis ditengah perjalanan mereka,"Jawab woy diem bae,lo kan ga budeg"Danis mendengus karna tidak mendapatkan jawaban.


"Adik-adiknya si bos emang cantik,tapi mereka biang onar,,kalo gue sih bakal mikir sepuluh kali kalo mau suka sama tuh bocah-bocah kematian,,gue selalu emosi deket mereka,,kalo gue tumbalin untung juga" guman Danis terkikik,"Tapi mereka pasti malah gentayangin gue kalo gue tumbalin,waktu hidup aja udah bikin orang emosi bisa-bisa kalo mereka mati gentanyangan bikin orang-orang ikutan mati,,,mau hidup ataupun mati kenya kerjaan mereka bikin onar doang dah"sambungnya.


Beberapa menit perjalanan akhirnya mereka sampai di mall setelah memarkirkan kendaraan masing-masing barulah mereka masuk kedalam mall.


Gara,Bintang maupun Jastin terus curi-curi kesempatan untuk berjalan disamping orang yang mereka suka tapi selalu digagalkan Elesky,untuk triplet sendiri mana peduli yang mereka pedulikan hanya bisa keluar rumah!itu saja,,untuk danis malah bergidig membayangkan kakak ipar kaya Elesky,menyeramkan!.


Antariksa sendiri berjalan sebari menggandeng Nirbita karna ia kebagian menjaga keponakannya itu,diantara mereka hanya Antariksa yang memakai pakaian ala-ala misterius,dengan kaca mata hitam,masker hitam,remaja itu sengaja menutupi wajahnya agar tidak ketahuan seseorang.


Untungnya perdebatan baju dimenangkan Bu Putri saat di rumah tadi,jadi sekarang Triplet tidak perlu memakai mukena,Naila memakai tunik berwarna putih dipadukan dengan switer berwarna pink dengan rambut dikuncir dua.


Nirbita memakai celana bahan berwarna putih dengan kaos oversize berwarna abu dipadukan dengan sepatu putih dengan rambut digerai.


Untuk Naya gadis itu memakai kaos berwarna hitam dipadukan dengan celana jeans berwarna abu dan rambut yang digerai.


"Bang ke timezone ya" ajak Naila sebari mengapit tangan Elesky membutuhkan Bintang yang berjalan dibelakang mereka mendengus,ini sebenarnya siapa yang menjadi bodyguard kenapa dirinya yang malah berjalan dibelakang bersama Gara dan Jastin.


"Om,ita kebelet pipis" rengek Nirbita.


"Gue anter ke toilet" ajak Antariksa, tidak akan membiarkan keponakannya berduaan dengan Gara apapun yang terjadi ia harus menjauhkan mereka.


Nirbita dan Antariksa berjalan menuju toilet setelah memberitahu Elesky diikuti Gara.


"Ngapain si lo ngikut?,tunggu aja sana!" ujar Antariksa ketus terhadap pria disisi lain Keponakannya itu.


"Terserah kak Gara lah,kenapa om yang repot,kan kak Gara ga pinjem kaki om"yang menjawab malah Nirbita dan gara menjulurkan lidahnya mengejek Antariksa yang malah mendengus.


"Seharusnya lo dukung gue jadi ponakan jahat amat si!" dengusnya.


"Abisnya om aneh-aneh aja,kan kak Gara jalan pake kakinya sendiri kenapa om yang riweh sih"cibir Nirbita," Terserah kak Gara dong mau kemana"


"Gue diem" ujar Antariksa malas berdebat sampai mereka sampai didepan toilet tidak ada percakapan lain.


Antariksa dan Gara menunggu Nirbita aga jauh dari toilet,disana ada dua lorong dengan tujuan yang sama yaitu toilet yang membedakan hanya gendre saja,kedua remaja seumura itu menunggu diperbatasan lorong,jika menunggu dilorong toilet cewe takutnya mereka dituduh mesum.


Tidak ada percakapan diantara dua remaja itu mereka terlalu malas untuk sekedar basa-basi apalagi mengingat Gara orang pendiam dan Antariksa tidak mau diam,dua sosok yang bertolak belaka,beberapa kali Antariksa menatap kearah lorong toilet cewe berharap Nirbita segera muncul dari sana,,tapi satu menit berlalu belum juga kembali.


"Aduh,,kalo Nirbita udah keluar bilang gue ke toilet dulu bentar tunggu disini,gue kebelet" ujar Antariksa tanpa menunggu jawaban lawan bicaranya pria itu melegang pergi menuju toilet pria untuk membuang hajat tiba-tiba yang ia rasakan.


Gara mendengar perkataan sodara wanita yang ia sukai itu tersenyum miring sebari berguman,"Gue punya ide"tak lama setelah itu Nirbita keluar dari toilet dan menghampirinya sebari celingak-celinguk.


"Om Tarik kemana kak?" tanyanya menanyakan keberadaan sang om berondong.


"Udah duluan Bi,aku disuruh nungguin kamu disini tadi,yaudah yu pergi" ajak Gara memanfaatkan situasi sebari menggenggam tangan Nirbita untuk segera pergi dari sana sebelum ketahuan.


Kapan lagi bisa berduaan jika Antariksa terus ngintil satu-satunya jalan ada berbohong.


Gara beberapa kali menatap kanan,kiri,depan bahkan belakang untuk melihat situasi,remaja itu terlihat mencurigakan,seperti penculik yang mengincar mangsanya nyatanya ia sedang membawa kabur mangsanya dari para abang yang posesif abis,,,jangan salahkan dia jika nekat begini,,salahkan Antariksa yang teledor menjaga adiknya yang ppkm itu alias'polos-polos kaya monyet',,,, tenang saja Gara tidak akan menyakiti gadis itu.


Antariksa keluarga dari toilet dengan keadaan nyaman,pria itu celingak-celinguk mencari keberadaan Gara yang tidak ada ditempat terakhir pria itu berdiri,tanpa berpikir buruk Antariksa berdiri ditempat semula menunggu keponakannya untuk kembali dari toilet,,,untuk menghilangkan bosan Antariksa mengeluarkan ponselnya untuk ia mainkan sebari menunggu Nirbita keluar dari toilet yang lamanya seperti tengah naik gunung,,,,lama sekali!.


Padahal orang yang ditunggu sudah ada diparkiran mall bersama Gara.


"Ko kita keluar kak?,emang ga jadi ke timezone nya?" tanyanya heran seharusnya mereka menyusul Naila dan Naya ke timezone tapi Gara malah membawanya ke parkiran.


"Gajadi,gimana kalo kita kerumah pohon aja?" ajak Gara berharap Nirbita setuju agar mereka bisa berduaan saja.


"Rumah pohon yang waktu itu kak?" tanya Nirbita antusias.


"Iya,,,aku mau tunjukin sesuatu sama kamu disana,,,setuju ga?" ajak Gara harap-harap cemas.


Nirbita mengangguk antusias,ia pertama kali ketempat itu karna waktu itu sudah sore dia disana hanya sementar kali ini nirbita ingin disana lebih lama,,disana sangat menyenangkan!,"Mau-mau,ayo kak kita kerumah pohon aja"ajaknya tak sabaran.

__ADS_1


"Ayo,pake helmnya dulu" ujar Gara sebari membantu memasangkan helm dikepala Nirbita dengan pelan,akhirnya helm yang ia bawa tidak berakhir sia-sia.


Setelah helm terpasang gara lebih dulu naik keatas motornya disusul Nirbita pelan-pelan,"Pegangan Bi"pintanya dituruti Nirbita.


Karna takut jatuh Nirbita berpegangan pada pinggang Gara dengan cara memegang ujung baju pria itu dengan kencang,padahal gara ingin dipeluk,tapi tidak apa,ia juga tidak ingin egois sekarang ia hanya harus segera pergi dari sana sebelum ketahuan abang Nirbita,,dan membuat rencana berduaannya gagal!.


Gara sudah lari dua kali putaran kemarin lalu pergi ke gunung untuk mencari rumput makan kambing,setelah zuhur ia kembali kediaman Nirbita berharap kali ini mendapatkan ijin untuk membawa jalan gadis itu sayangnya,tidak!,Elesky malah menyuruhkan mencangkul dihalaman belakang rumah Rangga untuk menanam sayuran disana.


Bukan hanya dirinya yang dikerjain kemarin tapi Bintang dan juga Jastin sama mengerjakan tiga hal itu secara bersama-sama tanpa bisa menemui gadis-gadis yang menjadi alasan mereka disana.


Motor melaju dengan kecepatan normal demi menjaga keamanan gadis yang ia bonceng,tidak boleh terluka sedikitpun ditubuh gadisnya.


Sedangkan disisi Antariksa pria itu mulai bosan menunggu,"Mana si tuh bocah?lama amat,apa jangan-jangan dia kena diare ditoilet?"tebaknya khawatir.


Tanpa berlama-lama Antariksa masuk kedalam toilet untungnya sedang kosong,ia bernapas lega karna tidak ada siapa-siapa disana ia tidak perlu dituduh mesum saat ini,,,eh,mata pria itu mengerjap lucu,"Bentar deh,ko aneh"gumannya sebari celingak-celinguk ditoilet cewe,"Inikan sepi nih ya?,gue cek satu-satu gaada orang jadi gua aman ga dituduh ngintip,,karna sepi ga ada siapapun disini dong termasuk nirbita gitu?,,lah gemblung tuh bocah kemana?"gumannya hawatir sebari tergesa-gesa keluar dari toilet wanita sebelum tercyduk didalamnya padahal tidak melakukan apapun.


.


.


.


Jika Gara berhasil membawa kabur Nirbita dari omnya maka tersisa Naya dan Naila,Naila antusias layaknya bocah diajak main gadis enam belas tahun itu kesana-kemari menjajal berbagai permainan sebari tangannya menggandeng tangan Elesky juga Bintang disisi lain.


Elesky tidak menurunkan kewaspadaannya sama sekali pada Naila yang kali ini menjadi objek penjagaannya,tangannya menyorot tajam dimana Naila berpegangan tangan dengan Bintang di sisi lain padahal tangannya juga dipegang Naila,ia tetap tidak iklas tapi tidak bisa melepaskannya,,,Elesky hanya bisa memberikan tatapan permusuhan pada Bintang yang mencoba acuh dengan tatapan calon iparnya itu.


Dibelakang mereka ada Naya dan Jastin yang mengintil,Jastin terus memberi kode pada danis agar segera melakukan tugasnya dan segera bisa berduaan.


"Naya mau main itu ga?" tunjuk Jastin pada salah satu permainan yang ia lewati bersama.


Naya menggelengkan kepalanya nampak acuh,,,ia disuruh menjaga jarak dengan Jastin tapi mamih nya malah menyuruh mereka untuk jalan-jalan bersama yang benar saja.


Sudah berkali-kali Jastin mengajak Naya agar bisa pergi hanya berduaan saja tapi selalu diacuhkan Naya,gadis menyebalkan itu bertambah menyebalkan sejak kemarin,,gadis banyak oceh itu seketika sariawan dan mengeluarkan suara seperlunya saja Jastin tidak tau kenapa Naya berubah,,apa dia melakukan kesalahan?,entahlah akan Jastin tanyakan jika mendapatkan waktu yang tepat nanti,nyatanya bukan sekarang.


"Bos gue mau ke toilet bentar" ijin Danis pada Elesky yang berjalan lebih dulu.


"Cepet!,tugas lo disini jagain ade gue jangan sampe lo malah seneng-seneng sendiri,lo dibayar inget!" ujar Elesky.


"Iya bos tenang aja,dimana ada uang maka tugas selesai" jawab Danis ruang sebelum pergi.


"Naya kita cari makan yu,gue denger ada kafe deket sini yang baru buka,katanya sih makanannya enak" ujar Jastin tidak menyerah untuk mendapatkan perhatian Naya.


Jika soal makanan pada musuhpun Naya akan berbuat baik baginya kenyang nomor satu,"Lo ga boong kan?"tanya Naya selidik berjaga-jaga jika ia hanya dikadalin dengan makanan.


Dasar buaya.


"Engga lah gue mana pernah bohong,mau ga?,,,sebelum gue gajadi ngajak lo nih" ujar Jastin seolah mendapat lampu hijau pria itu terus mendesak naya,"Mau ga Nay,,, takutnya kafenya keburu tutup"sambunya terus mendensak.


"Iya kalo ga enak ga mungkin banyak yang datang kesana,,,tenang aja gue yang traktir lo cuma tinggal makan disana" jawab Jastin membuat binar dimata Naya menyala.


Jastin tersenyum menang melihat binar dimata gadis itu,ia sedikit mengenal tentang Naya,Naya gadis cerewet,ceplas-ceplos,pecinta makanan dan gratisan satu hal jangan lupa uang segepok lebih menarik bagi Naya dibandingkan cogan,,,ya Jastin tahu tentang itu walau belum lama mengenal Naya,,dan jangan lupakan keketusan Naya beberapa hari ini,,Jastin merasa semakin mengenal gadis menyebalkan itu yang nyatanya selalu gentayangan seperti demit dipikirannya.


Naya bergeming dengan pemikirannya tidak mau berduaan dengan Jastin tapi ajakan pria itu menggoda imannya,,,ia memang polos tapi ga polos-polos amat ia paham sejak tadi Jastin dan Danis saling mengode Naya sadar tentang itu tapi pura-pura tidak paham,,entah berapa Jastin membayar Danis hingga pria mata duitan itu memilih bersekutu dengan Jastin dan berhianat dari abang-abangnya yang sudah lama menjadi bos bagi Danis.


Jika Naya mata duitan versi cewe maka Danis versi cowo.


"Mau ga?,,,gue denger disana kursinya terbatas karna selalu rame,,makanannya juga enak-enak trus instagramable,,,lo bisa makan sambil foto-foto" ujar Jastin terus memprovokasi keimananan Naya pada makanan.


Naya mendengus,"Foto ga bikin gue kenyang"ujar Naya sebari membalik haluan disusul Jastin.


"Eh-eh mau kemana?" tanya Jastin sebari menyusul Naya yang memutar haluannya keluar dari timezone.


"Kafe,,kan lo yang ngajak malah nanya lagi!,,cepet tunjuk arahnya gue ga tau dimana!" jawab Naya ketus.


"Ga usah ketus-ketus juga kali,lagi pms ya lo" tuduh Jastin diangguki Naya.


"Iya kenapa?!"


"Pantesan kaya singa ngamuk lagi pms toh" gumanya dalam hati,mana berani Jastin mengatakan didepan Naya bisa-bisa ia diterkam singa betina pms ini.


"Gpp,,yaudah yu" ajak Jastin sebari menggenggam tangan Naya yang menatap tajam arah tangannya.


"Eh,gandeng-gandeng lepas woy!,,gue ga mau nyebrang gausah digandeng,,woy-woy" oceh Naya mercak-mercak sebari berontak dari genggaman tangan Jastin.


"Yaelah cuma pegangan tangan doang rame amat si lo!" kesel Jastin tapi tidak melepaskan tangan kecil gadis itu tanpa peduli mereka menjadi tontonan mengunjung mall.


"Ga diperbolehkan!,,kita tuh bukan muhrim ga baik pegang-pegang lepas jastinnnnn" pekik Naya semakin menjadikan mereka tontonan pengunjung mall.


Gubrak


"Aduh!" Naya mengusap jidatnya yang membentur punggung Jastin yang tiba-tiba berhenti,karna Jastin berjalan didepannya sebari menarik tangannya otomatis Naya akan menabrak pria itu jika berhenti mendadak seperti ini.


Jastin menatap Naya dengan kesal,,Naya ketus dan Naya cerewet membuatnya selalu naik darah emang lebih baik gadis itu diam saja!,"Tinggal gue bawa ke KUA,bereskan?,gue sama lo jadi muhrim"ujarnya membuat Naya cengo.


Naya terdiam karna mencerna perkataan Jastin tadi,ia bahkan tidak lagi menolak pegangan tangan Jastin yang kembali menariknya pergi dari sana,otak Naya masih memproses ya biasalah otaknya kebanyakan loading jika masalah dunia nyata kalo dunia halu baru akan lancar.


"Dasar bocah gemblung jaman sekarang!" cibir Danis yang menonton tidak jauh dari mereka.


Ia tidak menyangka ada yang suka dengan gadis-gadis kematian itu mengingat mereka selalu membuat onar,Danis pikir tidak akan ada yang berani suka pada tiga bocah itu selain karna mereka pembuat onar dan penguji kesabaran mereka juga memiliki abang-abang overdosis posesif,ya walau mereka emang cantik-cantik sih satu kelebihan yang menyangkan, eh.

__ADS_1


Danis tidak menyangka akan ada pria-pria yang kekeh ingin mendekati triplet walau tau tantangannya sungguh berat,bahkan sangat berat, jika itu danis maka ia akan mundur banyak wanita lain yang bisa ia sukai diluar sana.


"Emang kalo sudah cinta samudra pun akan didayung,,,ah gue mau cari pacar biar ga jomblo mulu,,biar gue ga diledek sibos Rangga mulu,,,awas aja pas gue udah nemu pacar bakal gue pamerin sama si bos awas aja lo,,,


Mentang-mentang udah dapat mba cia dia ledek gue terus padahal semua rayuannya dapet dari gue,,tapi ko gue jomblo mulu ya?,,gue so soan ngasih petuah sama si bos padahal gue sendiri jomblo,,,emang bener kata pepatah,pelatih tidak bermain" oceh Danis di sela-sela langkahnya keluar dari mall untuk pulang,dari pada di mall mending dirumah tidur mumpung bisa libur duit ngalir dari dua jalan,bosnya dan sikunyuk Jastin.


Orang-orang yang melihat Danis bicara sendiri bergidig ngeri berpikir pria itu rada-rada gila enak saja Danis emang gila bukan sekedar rada,hehe.


.


.


.


"Wah ayunan" pekik Nirbita segera berlari kearah ayunan yang entah sejak kapan berada di dekat rumah pohon milik Gara,pertama kali kesini ayunan itu tidak ada.


"Kebiasaan banget sih suka lari-lari,kalo jatuh gimana?" ujar Gara tidak dihiraukan Nirbita.


Effort Nirbita pada rumah pohon sangat tinggi,sudah lama ia menginginkan memiliki rumah pohon namun untuk hal satu ini ia tidak memintanya pada abang-abangnya bukan karna takut tidak dibuatkan,,,sudah pasti dibuatkan tapi untuk yang satu ini ia tidak ingin dibuatkan abang-abangnya itu,,,ia hanya menginginkan dari seseorang,,,seseorang yang sudah berjanji akan membuatkan rumah pohon untuknya.


"Kak dorongin kak!" pinta Nirbita yang sudah duduk di ayunan dengan senang.


Senyuman Nirbita menular pada wajah kaku Gara,pria itu ikut tersenyum senang dan melakukan apa yang Nirbita inginkan,mendorong ayunan dengan pelan.


"Pelan banget kaya keong,,kencengan dong kak!" pinta Nirbita merengek.


"Engga nanti kamu jatoh bi" tolak Gara dengan halus ia memang takut jika mendorong ayunan dengan kenceng maka Nirbita akan terjatuh dan terluka,,tidak boleh!.


"Aku udah pegangan kak Gara,,ihh dorong aga kencengan deh gausah kenceng-kenceng juga gapapa kak Gara asal ga pelan kaya keong" ujar Nirbita sebari mencebikan bibirnya.


"Udah segini aja" kekeh Gara tidak mau menambah kekuatan dorongan pada ayunan yang sedang diduduki Nirbita.


Nirbita mengkerucutkan bibirnya kesal,padahal ia ingin didorong kenceng hingga terbang keatas sana siapa tau dorongan kenceng Gara bisa membuatnya terbang ke Angkasa,, jadi pemerintah ga perlu ngadain roket dan astronot sudah cukup bayar Nirbita saja disana.


"Yaudah deh gapapa tapi kakak sini duduk disamping aku kita ayunan berdua" ajak Nirbita sebari menghentikan gerakan ayunan menggunakan kakinya yang menjulur,"Sini kak"ujar Nirbita sebari menepuk tempat sempit di sampingnya.


"Nanti kamu sempit bi" tolak Gara lembut,bukan tidak mau ia hanya tidak ingin Nirbita mereka kesempitan tempat duduk karna ayunan yang ia buat hanya cukup diduduki satu orang,walaupun kuat diduduki lebih dari satu orang,,jika lebih dari tiga orang maka ayunan itu akan roboh!.


"Gapapa kak Gara sini deh duduk,ayunan bareng lebih seru,cepet" kekeh Nirbita sebari menarik tangan Gara agar duduk disampingnya,Gara hanya mengikuti dengan raut memerah diwajahnya karna senang.


Hari ini keinginannya untuk berduaan dengan Nirbita bisa terlaksana,,,senyum bahagia diwajah Gara tidak luntur selama bersama Nirbita bahkan banyak raut wajah lainnya yang ditunjukkan,tidak seperti sebelum mengenal Nirbita,Gara hanya menunjukan wajah datarnya saja seperti tembok.


Tapi kali ini kebahagiaan didapat kedua anak manusia itu lewat kederhanaan,hanya ayunan saja sudah membuat Nirbita senang bukan main.


Orang yang terlihat bahagian bisa saja hanya kamuflase untuk menyembunyikan jati dirinya agar tidak direndahkan orang lain,bahkan orang yang tertawa lebih keras biasanya orang yang paling banyak memiliki luka.


.


.


.


"Stop!"


"Kenapa?"


"Ga jadi aja ya"


"Udah setengah jalan nanggung nih tinggal masuk"


"Nah itu yang gue gamau,gue berubah pikiran"


"Udah nangung Naya tinggal masuk,,kan tadi lo yang maksa masa berubah pikiran ga tanggung jawab banget"


"Tapi gue takut"


"Takut apasi?,,tenang aja gue pelan-pelan ko"


"Turunin gue disini aja,lo kerumah sakit sendiri gue mau pulang" ujar Naya kekeh tidak mau ikut.


Jika kalian berpikir mesum tentang apa yang Naya dan Jastin lakukanĀ  maka yang salah kalian sendiri,nyatanya kedua remaja itu sejak tadi sedang mengobrol diatas motor yang berjalan diaspal.


Tadinya mereka sedang makan dikafe tepatnya menunggu kedatangan makanan yang sudah mereka pesan,tapi tiba-tiba Jastin mendapat telepon dari rumahnya bahwa sang ayah jatuh pingsan saat meeting,,Jastin pura-pura tidak peduli walau merasa cemas,walaupun ia tidak menyukai sang ayah tapi ia juga tidak membencinya.


Jastin memilih melanjutkan menghabiskan waktu bersama Naya jika saja Naya tidak bertanya tentang masalah telepon tadi,,setelah Naya tau gadis itu kekeh meminta Jastin untuk pulang dan mengecek keadaan ayah pria itu,,,karna Jastin tetep kekeh tidak mau Naya juga kekeh meminta pria itu pulang dan akhirnya Naya memutuskan mengantar pria itu pulang untuk mengecek keadaan ayah Jastin.


Dan saat tengah perjalanan Naya baru sadar bahwa ia takut dengan rumah sakit mengingat ia pernah terjebak di ruang jenazah waktu dulu,keringat dingin bercucuran diwajah Naya.


"Kenapa jadi kerumah sakit?" tanya Jastin dengan dahinya mengerut bingung.


"Kan kita mau jenguk bapak lo yang sakit Jastin"


"Papah gue ga dirumah sakit dia dirawat di rumah Naya" jawab Jastin mengingat ucapan si penelepon yang memberinya kabar tentang sang ayah.


Naya mengangguk senang,untung bukan rumah sakit,sejak terkurung diruang jenazah bersama beberapa jenazah di sana Naya tidak pernah mau menginjakan kakinya dirumah sakit,ia takut tersesat seperti dulu dan berakhir terkurung diruang jenazah lagi,"Yaudah kalo dirumah gue mau,kalo kerumah sakit gue ga mau"


"Kenapa kalo kerumah sakit?"tanya Jastin penasaran.


"Kamu nanyea"ejek Naya mengikuti tren yang pernah ada membuat Jastin mendengus.

__ADS_1


"Orang serius juga"


__ADS_2