
Sekumpulan anak sekolah yang termasuk geng motor melaju dengan kecepatan rata-rata dilalu lintas macet pagi ini di belakang mereka ada satu mobil yang terus membuntuti kemanapun keenam motor itu melaju.
Sesampainya disekolah Widudarma tempat mereka menimba ilmu,enam murid yang termasuk geng inti Algaskar memarkirkan motor dengan patuh diparkiran sekolah.
Mereka membuka helm secara bersamaan dengan gerakan terlihat slowmo barulah turun dari kendaraan beroda dua itu,mereka berdiri ditempat menunggu kedatangan seseorang dengan penuh wibawa anehnya begitu,diwajah mereka terlihat emosi yang dipendam.
Entah kenapa?,menyeramkan sekaligus menawan.
Bisik-bisik terdengar dari para murid yang memuji ketampanan anggota geng inti Algaskar,jika biasanya Rezaldi,Farel, Aril,Devan akan menanggapi bahkan aura buaya mereka keluar tapi kali ini tidak,,mereka berdiri dengan tegap tanpa peduli sama sekali.
Mereka terlihat berbeda dari biasanya.
Bahkan bintang menjadi pendiam seperti Gara beberapa hari ini.
Mobil yang tadi mengekor dibelakang motor geng inti Algaskar baru menyusul kedepan halaman sekolah,setelah itu keluar dua gadis cantik dengan gerakan anggun namun auranya terlihat gelap.
Naya dan Naila melangkah tanpa peduli dengan sekitar,bahkan Naila yang selalu bertingkah menjadi mendadak kalem dan berjalan arogan melewati geng inti Algaskar, barulah geng inti Algaskar bergerak dari tempatnya.
Jika sebelumnya mobil yang mengantar triplet tanpa Nirbita mengekori motor geng inti Algaskar maka sekarang terbalik,geng inti Algaskar berjalan dibelakang naila dan Naya dengan pandangan lurus.
Terlihat seperti tuan putri dan para kesatrianya jika dalam dunia dongeng.
Bisik-bisik semakin rusuh mereka mulai membicarakan aura mereka sekaligus kejadian yang terjadi pada Nirbita kemarin pastilah alasan aura dari geng inti Algaskar dan triplet menyeramkan.
Mereka berjalan tergesa dengan emosi tertahan apalagi Naya yang mengepalkan tangannya sejak mengetahui siapa pelaku yang sudah menarik Nirbita hingga hampir terjatuh dari lantai empat,,kuku-kuku Naya menanjap pada kulit tangannya yang putih sudah memerah,sebelah tangan yang lain Naya memegang hoodie berwarna hitam yang ia dapat dari Gara.
Langkah Naya terhenti ketika sampai didepan kelas seseorang yang akan mereka tuju,didalam kelas sudah diisi beberapa murid yang sudah datang untungnya orang yang mereka cari juga sudah hadir untuk mereka introgasi.
Brak
Naya menggebrak meja Tara sampai seisi ruangan tersentak.
"Lo apapaan si Naya,main gebrak-gebrak meja kaget gue woy" sentak Tara tidak terima.
"Lo yang udah dorong nirbita dari lantai empat kan?!,ngaku lo!" Naya tidak mau bertele-tele emosinya sudah diubun-ubun.
"Ini kenapa si?,kenapa Tara dituduh kaya gitu?, Tara ga mungkin ko lakuin itu" ujar Rini yang sebelumnya tengah mengobrol dengan Tara sebelum triplet tanpa Naya dan geng Algaskar datang.
"Gue ga butuh konfirmasi lo" tunjuk Naya pada Rini agar gadis itu tidak ikut campur lalu pandangannya kembali ke arah Tara,"Lo mau ngaku sendiri atau gue lewat gue anj*g"teriak Naya marah.
"Lo nuduh gue atas dasar apa b*gsat!" Sentak Tara tidak terima.
"Gausah banyak b*cot lo,ini hoodie lo kan!" Tegas Gara menarik hoodie ditangan Naya dan melemparnya kewajah Tara.
Bintang dan Farel menarik Gara agar berjarak dari pada gadis itu,"Bos lo sabar dulu biarin mereka selesain masalah ini sesama perempuan dulu"ujar Bintang memberi pengertian,Gara mencoba mengatur emosinya untuk kembali mereda.
Tara mengambil hoodie yang dilempar Gara pada wajahnya dengan kasar,"Hoodie ini bukan punya gue"jawab Tara sebari menatap lekat baju itu dengan heran.
"Gausah ngelak lagi lo b*ngsat,jelas-jelas itu hoodie lo,masih gamau ngaku lo hah!" Teriak Naya sedangkan Naila menarik Rini agar menjauh dari sana sebelum Naya mengamuk.
"Ini bukan punya gue!,berapa kali gue bilang ini bukan punya gue,mau tanya berapa kali pun hoodie ini bukanĀ punya gue,lo ga bisa nuduh gue gitu aja!,hoodie ini bukan punya gue dan gue ga dorong nirbita kemarin,bukan gue!" Teriak Tara membela diri.
Plak
Suara tara tercekat saat wajahnya tertoreh dengan rasa panas menjalar dipipinya.
"Mau lo ngaku atau engga gue udah tau lo pelakunya!,gue ga peduli lo ngaku ataupun engga!,lo yang udah hampir bunuh adik gue lo akan dapat balasan!," desis Naya dengan tatapan tajam dan nafas menggebu.
Tara menatap Naya dengan geram rasa sakit dipipinya ia coba abaikan walaupun sakit,"Kenapa lo jadi nuduh gue b*ngsat!,gue bukan penjahat!,lo punya bukti nya hah?!"
Naya tertawa sumbang,"Bukti?!,lo nanyain bukti hah!"Naya mengambil hoodie sebelumnya dan menunjukan diwajah Tara dengan geram,"Hoodie ini buktinya!,lo pelakunya!"
"Hoodie itu bukan punya gue Naya!,bukan punya gue!,gue ga punya niatan buat jahatin nirbita lo taukan hubungan gue sama adik-adiklo udah membaik,gue ga ada niatan jahat sama nirbita apalagi sampe menghilangkan nyawa dia,gue masih waras Naya" bela Tara untuk dirinya sendiri.
"Ada apaan si ini?" Guman Sherli yang baru saja datang kekelasnya,Sherli memicingkan matanya melihat temannya yang sedang dihadang Naya bahkan Sherli melihat tanda merah dipipi Tara.
Sherli bergegas menghampiri Tara,"Tar pipi lo kenapa?,Naya nampar lo Tar?"Tanya menggebunya,"Lo kenapa nampar temen gue b*ngsat?!".
"Karena temen lo pantes mendapatkannya bahkan dia juga lebih pantas diam dijeruji besi sekarang bukan dikelas lagi,kriminal!" Jawab Naya menggebu.
"Apa magsudlo manggil temen gue kriminal hah!" Teriak Sherli tidak percaya.
"Lo juga dalangnyakan?!,lo juga kerjasama sama tara kan buat bunuh Nirbita,ngaku lo!" Tuduh Naya.
"Kenapa lo jadi nuduh kita,lo bahas kejadian kemarin?,kalo gue mau bunuh nirbita ngapain gue nolong dia kemaren hah?!,kalo gue mau celakain dia gue gaakan ada di TKP,lo ga bisa nuduh gitu aja" ujar Sherli tidak terima dituduh.
"Kalo maling ngaku penjara penuh" desis Naya dengan mata melotot.
"Kalo kita pelakunya lo punya bukti apa Naya?!" Tantang Sherli merasa harus membela dirinya.
"Dia bilang hoodie itu punya gue,padahal itu bukan punya gue Sher, banyak orang yang punya hoodie kaya gitu,tapi itu bukan punya gue" ungkap Tara.
"Iya!,hoodie ini yang dipake pelakunya pas dorong Nirbita dan mereka nemuin ini di loker lo Tara!" Desis Naya sebari menunjuk geng Algaskar saat mengatakan siapa yang menemukan hoodie yang menjadi barang bukti kejadian kemarin.
Tara bergeming begitupun Sherli,"Lo nemuin hoodie ini di loker Tara?"Tanya Sherli memastikan.
"Iya,kenapa?, lo kaget karena kejahatan kalian terbongkar hah!"
Sherli menatap Tara dengan tatapan kecewa,"Tar"
Tara yang ditatap sherli menggelengkan kepalanya bersamaan dengan mata berkaca-kaca,"Engga Sherli gue berani sumpah itu bukan punya gue,,gue ga lakuin itu gue ga mungkin mau bunuh Nirbita,gue mohon percaya sama gue Sherli "
Sherli bergeming.
"Bulshit,kenapa dialog kalian habis hah?!,drama kalian terbongkar kan akhirnya,,kalian emang ga niat bunuh nirbita tapi lo mau dipanggil pahlawankan hah,kalian memutar balikan fakta,penjahat menjadi pahlawan,,lo mau dipanggil penyelamat karena udah nolongin Nirbita padahal lo sendiri yang rencanain kecelakaan itu,,prok-prok-prok" Naya bertepuk tangan heboh dengan amarah.
"Sayangnya serapi apapun bangkai disembunyikan baunya akan tercium juga,,kalian berdua akan menekam dipenjara!,,," desis Naya menekan emosinya tangannya siap membogem tapi sejak tadi ia tahan.
Sabar.
Takut emosinya meluap Naya segera pergi dari sana sebelum itu Naya mendorong kedua orang itu hingga membentur meja.
Gara menatap tajam Sherli dan Tara sebelum melegang pergi sebelum emosinya juga meledak..
"Yu la cabut biar bapak lo pada urus sisanya" ajak Farel membawa Naila pergi dari sana.
Dikelas itu Tara,Sherli dan Rini bergeming dengan pandangan cemooh dari murid lainnya.
"Sherli lo percaya sama gue kan?gue ga lakuin itu sher" ujar tara tapi Sherli memilih pergi dari sana.
Tara menangis mendapatkan tuduhan yang tidak ia lakukan bahkan temannya tidak mempercayai nya,,Tara terduduk dilantai sebari meraung pilu.
Rini melihat ketidak berdayaan temannya ikut menangis dan menubruk tubuh Tara untuk ia peluk,"Gue percaya sama lo ko Tara,lo ga sendiri,ada gue disini"bisiknya.
__ADS_1
"Makasih Rini,makasih udah percaya sama gue, tapi Sherli hiks"
"Sherli juga pasti percaya ko sama Tara,Tara bukan kriminal bukan Tara yang udah jahatin Nirbita,Tara tenang dulu ya" pinta Rini sebari mengusap punggung tara yang terus menangis.
Disisi Sherli gadis itu berjalan cepat untuk menemui seseorang,ia yakin Tara hanya dijadikan kambing hitam.
Ia yakin itu.
Tara tidak mungkin melakukan kejahatan itu!.
Selama ini yang merencanakan kejahatan untuk mengerjai Naila ataupun Nirbita selalu dirinya,Tara hanya menuruti keinginannya,otak Tara tidak jahat jika saja tidak ia kompori,,Tara tidak mungkin sampai berniat membunuh atau melakukan apa yang Naya tuduhkan.
Seharusnya yang dituduh bukan Tara tapi dirinya jika memang ingin ada kambing hitam,bukan?,tapi kenapa harus Tara?.
Apa karena dirinya ada ditempat kejadian bahkan menolong Nirbita,apa karena karena itu Tara dijadikan pengganti dirinya untuk dijadikan kambing hitam,apa Pelakunya orang yang ia pikirkan?.
Ular itu?.
Jika iya Sherli seharusnya tidak lagi kaget jika seorang teman rela menusuk dari belakang sudah pasti orang itu bukanlah orang baik,,Sherli hanya tidak menyangka ular itu bisa melakukan semua kejahatan itu.
Seorang diri?!.
.
.
.
Naya keluar dari kelas Tara dengan emosi menggebu disusul naila dan geng inti Algaskar.
"Kakak mau kemana kak?" Tanya Naila sebari menyamakan langkah mereka.
"Kamu ke kelas sana,kakak mau nenangin diri dulu" jawabnya sebari menambah kecepatan langkahnya meninggalkan Naila.
Naila menghela nafas, "Kak Naya bakal baik-baik aja kan?" Tanyanya pada Farel yang kini berdiri disampingnya,Naya itu tipe meledak sulit menahan emosi.
Sejak tadi sudah menahan emosi pasti kakaknya itu akan segera meluapkan amarahnya disuatu tempat,Naila jadi khawatir.
"Kakak lo pasti baik-baik aja,udah balik ke kelas sana,mau gue anter"jawab Farel.
Naila menggelengkan kepalanya," Gausah!,ila sendiri aja,ila bisa titip kak Naya sama kak Farel kan?,kakak kan tau kak Naya orangnya meleduk dia pasti lagi ngamuk-ngamuk sekarang,cuma kak ita yang bisa nenangin kak Naya tapi kak ita lagi dirumah sakit"
"Tenang aja Naya biar jadi urusan kita,kamu balik aja ke kelas,gue temenin"saut Aril sebari merangkul Naila disebelah lain.
"Iya Naila soal Naya biar kita yang urus gausah khawatir dia pasti baik-baik aja" timpal Bintang.
Naila mengangguk percaya,"Tolong jagain kak Naya ya,ila ke kelas dulu kalo ada apa-apa kasih tau ila"pintanya setelah itu pergi ke kelas diantar Aril.
Selepasnya mereka menghela napas, kemarin setelah Gara membawa Nirbita kerumah sakit,Gara tidak menunggu Nirbita setelah tau kondisinya sudah lebih baik, Gara kembali kesekolah untuk mencari pelaku nya.
Sebelum sampai disekolah Gara meminta teman-temannya lebih dulu untuk melihat CCTV, mereka mendapatkan rekaman seperti yang dibicarakan tiga ayah triplet,,mereka langsung bergerak.
Geng Algaskar berpencar mencari sosok hoodie hitam yang sudah membuat Nirbita hampir jatuh,,mereka mencari ke semua tempat dan menemukan hoodie itu di loker Tara.
Dan mereka memberitahu Naya saat menjenguk Nirbita sebelum kesekolah dan berakhir seperti ini,akan lebih buruk jika Naya mengamuk!.
.
.
.
Disekolah tidak ada ditelepon tidak diangkat,dimana si ular ini?,sedang bersembunyi?!.
Sedangkan ditempat lain tepatnya di sebuah kamar apartemen.
Dilantai kamar apartemen itu baju-baju berserakan dan diranjang ada dua orang berbeda jenis kelamin tengah tertidur dengan lelap dibawah selimut yang sama.
Derttt Dertt
Suara ponsel menggema dikamar mengusik tidur dua orang diatas ranjang yang sama dengan keadaan nerd.
Tangan itu meraih ponsel dinakas lalu mengusap wajahnya kasar,gadis ah magsudnya wanita itu membuka pejaman matanya untuk menatap ponsel yang baru saja mengusik tidurnya,"Ngapain si nih orang ganggu aja"gumannya setelah membaca nama penelepon.
"Halo"sapanya setelah ikon hijau dipencet.
Mata wanita itu yang mengantuk seketika segar dan binaran bahagia terpatri diwajahnya padahal disebrang sana, lawan bicaranya sedang marah.
"Lo punya bukti kalo gue yang udah dorong Nirbita?,kalo lo ga punya bukti mending diem deh!,bisa ajakan emang temen lo itu yang dorong" jawabnya dengan santai sebari mengubah posisinya menjadi duduk diranjang sebari meringis ngilu.
Agnes menarik selimut agar tidak lepas dari tubuh dan menunjukkan tubuh polosnya yang sudah di penuhi bercak kebiruan ulah seseorang.
"Terserah lo mau ngoceh apa,selama lo ga punya bukti artinya gue ga salah, dan ancaman tentang lo mau ungkap kebusukan gue selama ini, silahkan,, pikir aja emang mereka bakal percaya sama lo yang lagi mereka curigain?,gue rasa sih enggayah" ujarnya sebari menutup panggilan sepihak tanpa peduli Sherli disebrang telepon mengumpati dirinya.
****
Agnes tertawa senang suaranya itu membangunkan seseorang disampingnya,"Lagi bahagia banget kayanya jatah gue nambah dong"suara serak itu membuat Agnes mendengus.
"Gak yah!,gue masih cape!,lo semalam kaya set*n tauga,ga ada puasnya!,gue kan pertama kali gil* lo! "rutuk Agnes kesal.
Pria itu terkekeh,"Iya-iya gue becanda elah,,,lo ga nyesel gitu udah ngasih keper*wanan lo ke gue?" Tanya orang itu heran.
"Lo mau jawaban apa?" Ujar Agnes bukannya menjawab malah bertanya.
Pria itu mengedikan bahunya,"Gue sih ga peduli mau lo jawab apa yang perlu lo tau,gue ga bakal tanggung jawab apapun yang terjadi sama lo, kita cuma mutualisme,gue ngelakuin apa yang lo minta dan tubuh lo sebagai bayarannya"jawabnya.
"Nyesel juga udah percumakan?,gue udah kehilangan keperawanan gue yaudah yang penting gue dapat apa yang gue mau,Nirbita harus hancur!" Desis Agnes penuh dendam.
"Gue hebatkan?" Tanya bangga pria itu.
"Hebat,,lo udah bikin Nirbita jatuh ya sayangnya masih ada yang nyelamatin dia,sayang banget coba! Andai aja dia jadi jatoh aaah pasti hidup gue tenang banget" serunya.
"Gue ga nanya itu,magsud gue tuh gue hebatkan semalam" goda pria itu sebari menarik turunkan halisnya.
Agnes mendengus,"B*jingan lo"umpatnya.
"Terimakasih pujiannya,,mau lo dulu yang mandi apa bareng nih?" Goda mesum pria itu.
"N*jis sana lo aja duluan gue abis lo"
"Bareng aja kali biar cepet"
"N*jis" umpat Agnes hanya mendapatkan kedikan bahu pria yang sudah mengubahnya menjadi wanita karena kesepakatan konyol.
__ADS_1
Agnes sudah kehilangan hal istimewa bagi seorang wanita, karena dendam di hatinya, bodoh!.
Kebencian yang kamu pendam hanya akan menghancurkan diri sendiri jadi ikhlas kan saja apa yang terjadi,semua akan mendapatkan bagian masing-masing dalam hidup.
Pria itu bangkit ditidurnya berjalan menuju kamar mandi tanpa sehelai benang menempel ditubuhnya,"Javassss"teriak Agnes melihat itu semua.
"Gausah so jual mahal deh lo udah liat semuanya atau lo mau ngerasain sekali lagi,kalo mau si gue mah ayo aja" ujar Javas waketu geng Orion dengan wajah santai.
"N*jis" umpat Agnes sebari memalingkan wajahnya ke arah lain agar tidak melihat tubuh Javas.
Javas mengedikan bahunya acuh dan berlalu kekamar mandi.
Agnes masih diranjang dengan tubuhnya sakit apalagi dibagian kewanitaannya,jika dirinya dibilang gila,memang!,Agnes gila sampai bisa melakukan apapun untuk menuntaskan dendamnya.
Pada Nirbita!.
"Gue udah kehilangan hal yang paling berharga sebagai seorang wanita maka lo juga harus lebih hancur Nirbita" gumamnya dengan kilatan kebencian diwajahnya dari sudut matanya Agnes mengeluarkan cairan bening.
Tapi Agnes langsung mengusapnya dan tertawa sumbang menertawakan hidupnya yang selalu kalah dari Nirbita,selalu berada dibelakang Nirbita,selalu tidak terlihat jika ada Nirbita.
Kenapa selalu Nirbita?,kenapa?!.
"Gue ga akan main-main lagi sama lo,gue udah punya orang yang siap bunuh lo demi tubuh gue,,,gue emang udah gila!,gue begini gara-gara lo Nirbita,gue ga akan biarin lo bahagia!"desisnya mencoba bangun walaupun sakit disekujur tubuh atas perjanjian bodohnya.
Agnes memungut bajunya yang berserakan dengan langkah mengangkang dan cairan bening keluar dari matanya berapa kalipun ia usap,Agnes menyesal sudah menyerahkan keperaw*nannya pada orang asing untuknya?,iya,tapi menyesal pun sudah terlanjur,jalani saja anggap tidak terjadi apapun!,itu tekadnya.
"Mau gue anter balik kerumah apa kesekolah?" Tanya Javas kini mereka sudah berpakaian rapi dan berada diruang makan.
"Lo b*go ya!,diotak lo cuma selangk*ngan doang!,ini udah siang b*go ngapain gue kesekolah pagar udah tutup mending gue tidur dirumah,badan gue sakit semua" gerutu Agnes sebari mengumpat.
"Gue kan cuma nanya" ujar Javas santai sebari memakan makanan yang dipesen online untuk mereka.
"Ah iya gue mau tanya,terserah sih mau jawab atau engga itu urusan lo,gue cuma kepo"
"Banyak cingcong apa pertanyaan lo?!" Desis Agnes.
"Kenapa lo bisa benci banget sama temen lo yang namanya Nirbita itu?,sampai lo rela berbuat segalanya" tanyanya acuh.
"Bukan urusan lo!,taxi gue udah datang gue mau balik" ujar Agnes.
"Ga mau gue anter gitu?"
"Ogah" tolak Agnes jutek lalu pergi dari arpatemen itu dengan perasaan sedih tapi ia menepis perasaan itu.
Tak perlu merasa menyesal lagi,semua sudah terlanjur!.
Sesampainya dirumah Agnes langsung pergi kekamarnya untung rumahnya tengah sepi entah penghuninya pada kemana,jika ayahnya pasti di kantor, ibunya entahlah,Agnes tidak peduli dirinya ingin segera istirahat!.
Lelah hati dan jiwa.
Ulah sendiri.
Ego sendiri.
Bodoh!.
"Kenapa gue benci Nirbita?" Guman Agnes sebari merebahkan tubuhnya diranjang kamar miliknya.
Agnes memejamkan matanya sebari berpikir,"Karena Nirbita selalu mendapat apa yang dia mau,gue benci karena itu,,lebih jelasnya gue iri sama kehidupan Nirbita yang bahagia,sedangkan gue,,,"
"Saat kecil gue selalu juara satu sampai gue pindah ke Bogor dan sekolah disekolah yang sama dengan Nirbita,disana gue jadi yang kedua,gue coba abaikan tapi ternyata gue ga bisa"
Ya semua yang dikatakan Agnes benar dulu saat sd Agnes juga pernah satu sekolah bahkan satu kelas dengan Naila dan Nirbita,,Agnes sama seperti sekarang sebagai siswi pindahan,dia yang selalu juara satu tiba-tiba tidak bisa mempertahankan juaranya.
Ayahnya yang benci ketidak sempurnaan memarahi Agnes kecil habis-habisan karena nilainya yang menjadi kedua itu,Agnes mulai berteman dengan nirbita agar bisa menggeser Nirbita dalam nilai akademik.
Tapi ia tidak berhasil sampai suatu hari kebencian Agnes memuncak,Agnes mengunci Nirbita dilemari gudang dan membuang kuncinya,sampai akhirnya Nirbita ditemukan pada malam hari dan Agnes Arabella ketahuan lalu dikeluarkan dari sekolah.
Ayahnya lagi-lagi mengamuk bahkan sampai memukulinya,Agnes kecil hanya bisa pasrah.
Kehidupan Agnes menjadi lebih baik setelah ayahnya kembali menikah lagi dengan seseorang yang untungnya bersikap baik padanya selama ini,,ayahnya tidak lagi memukulinya dan nilainya pun menjadi kembali baik, menjadi juara satu disekolah baru.
Agnes pindah kebali sesuai dengan pekerjaan ayahnya dan kembali ke Bogor beberapa bulan lalu,saat sekolah diwidudarma ia tidak menyangka akan dipertemukan dengan Nirbita dan saudari-saudarinya lagi.
Agnes pikir mereka masih mengingatnya,Ara panggilan Agnes dulu, Agnes Arabella.
Tapi mereka malah melupakannya,sayang sekali,karena kebencian Agnes tidak hilang malah semakin menjadi melihat kebahagiaan diwajah Nirbita.
Agnes kembali berteman dengan Nirbita dengan tujuan jahat.
Kejahatan yang ia lakukan pertama kali atas pertemuan mereka kali ini adalah saat dirinya menuang sampah dimeja Nirbita dan Naila,dibantu dua orang yang dia bayar menggunakan uang,lalu agar tidak ada barang bukti Agnes menghapus rekaman CCTV.
Setelah tau bukan hanya dirinya yang membenci Nirbita,Agnes mengajak kerja sama orang itu yang tak lain adalah Sherli.
Agnes hanya menggunakan Sherli untuk keuntungannya saja.
Lalu Agnes berhasil membuat Naila dan nirbita bertengkar hebat sampai Nirbita minggat dari rumah.
Agnes kembali mendapatkan kekerasan dari sang ayah karena nilainya menjadi yang kedua!.
Berlanjut saat Naila dikunci dikamar mandi juga ulah Agnes,dan banyak lagi seperti memberi Gara bekal yang ia campur obat pencahar dan mengatakan pemberian Nirbita,sayangnya tidak dimakan Gara karena Nirbita tidak sengaja menjatuhkan nya.
Dirinya juga bisa dibilang penyebab Aleta membuli Naila waktu itu,, ya dirinya mengimpori Aleta berhasil membuat membuli Naila.
Tapi Aleta bod*h! Malah ketahuan dan dikeluarkan dari sekolah.
Kebencian Agnes memuncak beberapa hari lalu saat dirinya memberi chat palsu pada Gara lewat ponsel Nirbita,,Agnes mengajak pulang bareng Gara pria yang ia sukai selama ini lewat ponsel Nirbita,baginya Devan tidaklah menarik.
Agnes sudah merancang agar bisa pulang diantar Gara dengan cara menabrakan dirinya pada tubuh Gara dan berpura-pura kesakitan,tapi dimata Gara hanya ada Nirbita,Nirbita, dan Nirbita.
Agnes ditingalkan setelah meminta orang lain membantunya,'si*lan'.
Disitulah kebenciannya pada nirbita memuncak.
Agnes pergi ke markas orion yang katanya musuh Algaskar tapi disana tidak ada siapa-siapa kecuali Javas.
Javas mau membantunya tapi tidak gratis dan bayaran yang diminta bukanlah uang.
Tapi tubuhnya!.
Beginilah akhirnya
"Gue bakal jadi penghancur buat lo Nirbita!"
__ADS_1