
Saat malam triplet tengah berada dikamar Rangga mempersiapkan beberapa pakaian yang akan pria itu bawa untuk dinas ke luar kota.
Lebih tepatnya merusuh!.
Bagaimana tidak keberadaan triplet membuat Rangga menghela nafas untuk menenangkan hatinya,ia sungguh pusing dengan tingkah ketiga adiknya.
Nirbita sedang duduk didalam koper sedangkan keperluan yang akan dibawa malah tergeletak dilantai dengan naasnya,sedangkan Naya sedang mengobrak-abrik lemari Rangga sebari melempar isinya ke sembarang arah,untuk Naila gadis itu sedang berjoget mengikuti alunan musik yang menggema dikamar Rangga.
Rangga memijat pelipisnya frustasi.
"Naya kamu mau bantuin siapin keperluan abang atau buang keperluan abangsih!"gerutu Rangga mendesah kesal.
"Nirbita kamu keluar dari koper!,atau abang buang sama kopernya!"sambungnya kini menatap naila yang masih berjoget ditengah ranjang, keadaan ranjang sangat mengenaskan guling dan bantal sudah berserakan dilantai beserta selimut nya.
"Naila kamu diem!,kasur abang jadi kapal pecah ulah kamu!"kekesalan Rangga tidak dihiraukan ketiga adiknya hingga ia mengeram kesal.
"Ibuuuuuuuuuu"Rangga mengeram frustasi memanggil ibu Kasih yang ia magsud.
Brak
Suara gebrakan pintu dijadikan atensi rangga sekarang bersama Naya dan Nirbita sedangkan Naila masih asik berjoget.
"Ibuuu"rengek Rangga sebari berlari dan memeluk adik ipar dari ayahnya itu,seorang wanita yang menjadi sosok pengganti seorang ibu untuknya dan adiknya.
Bu kasih mendapat perlakuan seperti itu hanya menghela nafas ia sangat yakin jika rangga sedang dirusuhi ketiga adiknya,bu kasih mengusap rambut pria lajang berusia dua puluh lima itu lalu menatap ketiga gadis disana,"Kalian ngerusuhin abang kalian lagi?"
Bu kasih ini sudah tau malah bertanya.
"Engga bu"jawab Naya dan Nirbita sedangkan Naila tidak menyadari kedatangan ibunya karna keasikan berjoget.
Rangga melepas pelukannya lalu menatap kedua adiknya yang tadi bersuara,"Iya bu mereka ga ngerusuh,cuma membantu membersihkan isi lemari dan meramaikan lantai dan ranjang!"ujar Rangga bernada menyindir membuat bu Kasih meringis.
"Kalian ini ya bisa-bisanya berulah mulu,lihat kamar abang kalian udah kaya kapal pecah!"pekik bu kasih sebari berkaca pinggang,"Itu lagi joget-joget udah kaya orang gila!"cibir bu kasih menatap putri bungsunya.
"Ibu aneh kita lagi ga dikapal bu,kita lagi dikamar jadi ini bukan kapal pecah jadi kamar pecah"oceh Nirbita masih asik didalam koper bahkan kini gadis itu tengah meringkuk mencoba mengukur apa semua tubuhnya buat didalam sana.
"Betul"setuju Naya yang kini tidak berulah.
"Iyaiya kamar pecah!,kalian mending duduk anteng dikamar kalian sana,nonton sambil ngemil aja biar ibu yang siapin keperluan abang"ujar bu Kasih melototi semua anaknya.
"Gamau bu!,kita kan mau bantu siapin baju abang"jawab Naya.
"Kalian bukan bantuin tapi ngancurin!,udah deh kita kekamar lain aja kita nonton bareng sambil ngemil ayo!"ajak Rangga agar mereka pergi dari kamarnya sebelum kamarnya benar-benar hancur.
"Mau dibantuin tuh terimakasih bukan malah ngusir!"cibir Naya.
Rangga menatap Naya lalu beralih pada Nirbita yang sedang meringkuk didalam koper pas dengan tubuhnya,gadis itu menutup koper dengan dirinya didalamnya membuat ide jahil diotak Rangga muncul.
Rangga berlari kearah koper lalu menutupnya sebari mencoba menarik serelek dengan Nirbita yang memberontak didalam kotak sebari berteriak histeris.
"Huaaaaaaa tolong abang gelap "teriakan Nirbita membuat mereka tersentak begitupun dengan Rangga,pria dua puluh lima tahun itu segera membuka koper,melihat adiknya bergetar hebat histeris,jantungnya seketika terasa berhenti ia lupa tentang trauma gadis cerewet itu.
Rangga menarik Nirbita dalam pelukannya sebari meminta maaf dan menenangkan sang adik,naya dan bu kasih juga berait pucat mereka sangat mengkhawatirkan Nirbita,bu kasih mengusap punggung Nirbita yang dipelukan Rangga seolah tiada hari lagi,sedangkan Naya mengucapkan kata-kata penenang,hanya Naila yang belum engeh dengan apa yang terjadi di sekitarnya.
"Maaf-maaf abang ga sengaja maafin abang yah" sesal Rangga sebari mengecup pucuk rambut sang adik yang ia dekap.
"Udah ya sayang,disini ramai ko ita ga sendiri oke"ujar bu kasih mencoba menenangkan gadis itu sebari menatap tajam kearah Rangga,"kalo becanda jangan kelewatan Rangga! "
"Maaf bu,Rangga lupa kalo Nirbita pobia gelap"ujar Rangga benar-benar menyesal.
"Iya ta,tenang oke di sini banyak orang ko"ujar Naya.
Merasa Nirbita sudah tenang rangga melonggarkan pelukannya dan melihat wajah sang adik yang sembab,"Maafin abang,abang bencandanya kelewatan"ujar nya sebari mengusap wajah Nirbita dengan lembut.
"Ita maafin ko" jawab gadis itu sebari mengusap wajahnya.
"Yaudah kalian kekamar gih,mainnya disana biar ibu yang beresin ini"ujar bu kasih sebari mengusap rambut Nirbita,"Tapi jangan kelewatan kaya tadi!"sambungnya menatap tajam Rangga yang menunduk bersalah.
"Naya bantuin deh bu"ujar Naya.
Bu kasih menetapkan rasa tanggung jawab pada anak-anak nya apa yang mereka buat maka mereka akan bertanggung jawab.
"Gausah kamu temenin nirbita aja sana sama bawa tuh adik bungsu kalian,udah kaya orang gila punya dunia sendiri"cibir bu kasih menatap tajam kearah Naila.
"Orang gila emang gitu bu"cibir Naya sebari memungut bantal lalu melemparnya tepat diwajah Naila.
"Siapa yang lempar!"teriakan Naila menggelegar mengalahkan musik yang gadis itu nyalakan.
__ADS_1
"Gausah teriak kaya tarzan!,sana kalian pergi sebelum ibu ngamuk nih!"ujar bu kasih sebari berkaca pinggang dan menatap tajam keempat pembuat rusuh itu.
Mereka menatap bu kasih sebari meringis takut dan"kabur"keempatnya ngacir keluar kamar membuat bu kasih menghela nafas.
"Sabar-sabar"gumannya mengusap dada lalu mengedarkan pandangan menatap kamar yang sudah seperti kamar pecah seperti yang Nirbita katakan.
Keesokan paginya rangga dan keluarga sarapan bersama sebelum melakukan aktifitas seperti biasanya.
Setelah selesai Rangga bukannya segera berangkat malah memberi wejangan pada adiknya sebelum seminggu berada di luar kota mengurus pekerjaan bersama dua asistennya sekaligus pdkt sama Fricia hihihi.
"Pokonya kalian ga boleh deket-deket sama cowo!,gaboleh ngobrol berdua,gaboleh duduk berdua,gaboleh makan berdua,gaboleh tidur berdua"oceh Rangga membuat ketiga adiknya mendengus bersama pak Jeje yang ikutan kesal dengan wajangan pria itu.
Rangga itu sangat posesif untuk ketiga adiknya membuat pak Jeje pusing saja,padahal dirinya saja ingin melihat ketiga putrinya memiliki pasangan memang sosok ayah ajaib,jika ayah lainnya akan melarang putri mereka berpacaran beda dengan pak Jeje ingin melihat anak-anak nya memiliki pacar,lebih tepatnya ia ingin tahu apa ada pria yang begitu sabar dengan kerusuhan ketiga gadis itu.
Jika ada maka ia akan merestui hubungan mereka,sangat langka bukan menemukan pria yang begitu penyabar.
Bu kasih hanya terkiki melihat wajah pusing anak gadis dan suaminya itu.
"Bos bisa kita berangkat ga sih?,udah siang nih kita harus jemput mba Fricia dulu,mereka juga harus sekolah bisa-bisa mereka telat pak,kita juga bisa telat pak"geram Danis yang tidak jauh jengah nya dengan pak Jeje.
"Iya bang,sana cepet pergi!,nanti kesiangan"ujar Naya sebari menarik Naila dan Nirbita untuk pergi dari hadapan sang kakak yang cerewet itu.
Mereka kompak berlari membuat Rangga berteriak, "Woy kalian mau kemana heh?"
"Udah rangga sana kalian pergi nanti kalian telat!"ujar bu kasih sedangkan pak jeje menginjak kaki Rangga begitu keras hingga pria itu memekik kesakitan dan Danis si asisten tidak tau diri itu malah tertawa.
Pak jeje melangkah pergi menyusul putri-putrinya untuk mengantar mereka kesekolah mengganti Rangga.
"Bu liat tuh suami ibu kdrt sama anaknya"
"Salah kamu!,kenapa jadi cowo harus cerewet banget mana nyebelin lagi"jawab bu kasih.
"Bener tuh bu kasih,pantes aja mba Fricia gamau sama anak ibu itu,tapi saya bersyukur sih"ujar Danis terkirik.
"Enak aja cia itu mau sama gue cuma dia gengsi aja buat jujur"ujar Rangga songong.
"Cih,,"
Bu kasih menyela ucapan Danis sebelum mereka mulai beradu mulut dan akan menghabiskan banyak waktu,"Udah kalian berdua mending segera pergi sebelum telat!,jemput Fricia dulu dirumahnya sama ijin keorang tuanya buat bawa Fricia pergi"
"Iya bu"jawab keduanya serempak lalu menyalami tangan wanita yang sudah belahirkan dua putri namun memiliki empat anak.
Diperjalanan seperti biasa triplet tidak pernah diam mereka serempak bernyanyi yang untungnya suara mereka cukup merdu dan pak jeje juga ikutan bernyanyi,jika bersama Rangga pria itu aku mengoceh dan meminta mereka diam maka beda lagi jika bersama pak Jeje,Naila juga sedang live di media sosial banyak yang berkomentar hal baik pada mereka,ada juga yang berkata buruk.
"Hidup itu simpel,gausah dengerin kata orang jika mengikuti kata orang maka kita tidak akan pernah sempurna,merasa sempurnalah menurut sendiri tidak perlu mendengar kata orang kita makan pake uang orang tua sendiri ga pake orang tua mereka"oceh Naila membaca komentar buruk itu.
Tiba-tiba mobil yang berisi empat manusia berbeda generasi berhenti begitu saja,pak Jeje juga heran,"Kayanya mobil mogok"
"Yah ayah gimana sih ini nih kalo mobilnya ga dirawat!"cibir Naila sebari mematikan live sosmednya.
"Ayah gaada waktu rawat mobil Nai"jawab pak Jeje.
"So sibuk padahal kerjaannya rebahan"cibir Naya.
Memang anak-anak nya ini tidak tau diri.
"Enak aja ayah itu beneran sibuk ya!,ayah pagi sampai sore dikantor,pulang kantor nyari rumput buat kucing,anjing sama harimau"
"Iyadeh yang sibuk"cibir Nirbita membuat pak Jeje mengusap dada emang anak tak tahu diri,dirinya yang sibuk dikantor bahkan harus mengurus pelihara triplet yang diberi nama membuat orang salah paham,
Siapa yang pelihara siapa yang pusing.
"Udah kita turun!,ayah cariin taxi biar kalian ga telat"ujar pak Jeje.
Setelah diluar pak Jeje mencari taxi seperti yang ia katakan tadi,dirinya terus celingak-celinguk setiap menghentikan taxi,selalu sudah berpenumpang.
"Jussss"teriak Naya membuat pengendara yang ia panggil mengerem lalu menghela nafas.
Pengendara yang baru saja berhenti bersama dua pengendara motor lainnya membuka helm.
"Kenapa berenti bos? "Tanya salah satu pengendara yang mengikuti motor pria yang ia panggil bos.
"Ada yang manggil" jawabnya pasrah.
Naya bergegas menghampiri tiga motor yang salah satunya ia panggil tadi dengan wajah ceria,"jus jus"panggilnya.
"Apa lo manggil gue?" tanya sengak pria itu.
__ADS_1
"Jangan emosi dong sabar!,lo mau kemana jus?"tanya Naya dengan wajah polosnya.
Pak Jeje dan kedua putri nya menghampiri naya dan pengendara itu,"Kalian saling kenal?"tanya pak Jeje mendapat dua jawaban.
Naya mengangguk sedangkan Jastin menggeleng membuat mereka yang disana bingung.
"Lo kenal ga si bos?"tanya salah satu dari anak buah Jastin.
"Diem lo! "
"Naya kamu kenal sama mereka?"tanya pak jeje pada putrinya.
"Kenal yah,ini temen Naya namanya Jastin yang waktu itu ikut ngeronda"jawab Naya membuat kedua anak buah Jastin melongo.
"Oke bagus kalo kenal,sekarang ayah titipin kalian sama mereka,sekarang kalian pergi sekolah,kamu sama temen-temen kamu tolong anterin mereka kesekolah ya makasih"ujar pak Jeje lalu melegang menghampiri mobil mogoknya membuat mereka melongo.
"Itu bapaknya siapasih?"tanya salah satu anak buah Jastin melongo.
Ingat pak jeje itu ketua komplotan triplet jadi jangan aneh.
"Udah mending ngobrolnya nanti aja sekarang kita kesekolah sebelum kita berubah pikiran dan malan bolos"oceh Naila sebari menaiki motor salah satu anak buah Jastin.
Jastin dan dua lainnya hanya melongo,Jastin hanya pasrah mau bagaimana lagi tidak ada pilihan.
Di perjalanan ketiga pria yang menjadi ojek gratis end dadakan triplet merasa gerah boddy mendengar ocehan gadis-gadia itu,
Begitu juga jastin jika Naya akan sedikit-sangat sedikit kalem jika tidak bersama kedua saudarinya maka berbeda hal dengan Jastin,gadis itu akan cerewet seperti bersama kedua saudarinya.
Mereka berhenti didepan gerbang berpapasan dengan motor geng inti ALGASKAR.
"Itu triplet kan?"guman Farel melihat tiga gadis yang turun dari motor.
"Mereka sama siapa?"
"Orion anji*r,triplet sama orion"pekik Devan.
"Makasih jus jus"ujar Naya sebari Jastin membuka helm nya dan menatap mengejek kearah geng ALGASKAR.
"Sama-sama"ujar nya mengelus rambut Naya.
Gara turun dari motornya diikuti anak buahnya yang lain,tanpa ba bi bu gara menarik Nirbita kearahnya sedangkan Naila ditarik Bintang dan Naya ditarik Farel.
"Selow dong gausah tarik-tarik"oceh Naya dengan wajah kesal.
"Ya lo ngapain sama mereka?,mau gue laporin abang lo!"ancan Farel.
Jastin yang melihat itu hanya menyeringgai,"ALGASKAR yang ketuanya bisu!"cibir pria itu membuat kedua anak buahnya terbahak.
"Siapa yang bisu?"tanya Nirbita dengan wajah polos.
"Gausah dengerin anj*ng menggonggong"ujar Gara membuat teman-temannya terbahak kecuali triplet.
"Emang ada anj*ng disini ya ko ila ga lihat sih?,Jangan-jangan ila buta "ujar Naila meraba matanya.
Jastin mengeraskan lehernya menahan kesal agar tidak tersulut emosi,memang sulit menjebak amarah ketua ALGASKAR selalu saja terbalik kearahnya.
Naya melepas tangan Farel dari lengannya dan menghampiri Jastin," makasih udah anterin, sana kesekolah jangan bolos"ujar Naya sebari menepuk pundak Jastin dan berlalu namun sebelum itu ia lebih dulu menarik tangan kedua adiknya agar menjauh dari mereka.
"Makasih kak jus sama kalian siapa namanya?"tanya Nirbita menatap dua teman Jastin.
"Ngapain nanya mereka si bi?"tanya Gara dengan nada lembut tadi ada nada kesal di dalamnya.
"Kan mau berterimakasih,harus tau nama mereka, nama kalian siapa?"tanyanya lagi.
"Gue tom dan dia jerry"jawab tom lalu menunjuk jerry.
"Kalian ga bersyukur banget si,udah diciptakan sebagai manusia bukannya bersyukur malah mau jadi kucing sama tikus"cibir Naila membuat geng ALGASKAR terbahak kecuali gara.
"Tikus sama kucing dongg"cibir Aril meledek mereka.
Sebelum memanas Naya kembali menarik dua adiknya untuk berlalu,"Makasih kak Jus sama kucing dan tikus"teriak Naila dan Nirbita sebari berlalu karna ditarik Naya.
Gara menghampiri Jastin yang menunjukan wajah menyebalkan,"urusan lo sama gua!"ujar nya datar sebari menepuk pundak musuhnya itu lalu berlalu dari sana.
"Lo bakal habis sama kita!"ujar Rezaldi menepuk pundak Jastin dan berlalu, Aril,Devan dan Farel menepuk pundak Jastin dan kedua teman pria itu dengan wajah songong mereka.
Sebari mencibir nama mereka,'jus, kucing dan tikus.
__ADS_1
Setelah mereka pergi Jastin menepuk pundaknya sendiri seolah membersihkan debu lalu membuka jaket kulit berwarna coklat yang ia pakai dan melempar kedalam tong sampah dengan wajah jijik,pria itu menyeringgai dan berlalu bersama dua anak buahnya.
Selamat menunaikan ibadah puasa