DIARY TRIPLET N

DIARY TRIPLET N
om berondong


__ADS_3

"Om bangun!,om"gadis cantik dengan dandanan acak-acakan sebab baru bangun dari alam mimpi menggoyangkan lengan orang yang ia panggil om agar terbangun dari tidurnya.


"Om bangun ih,kebo banget sih!"cibir gadis itu masih mencoba membangunkan remaja umuran tujuh belas tahun yang ia panggil om.


"Kalo ga bangun juga ita siram pake air awas aja" gumannya bersungut-sungut,sudah satu menit membangunkan omnya yang tidur disofa,namun tidak bangun-bangun kesabaran Nirbita yang seperti air yang ingin digenggam tapi tak akan bisa dan terus mengalir.


Nirbita mencondongkan wajahnya mendekati telinga om nya itu"Om kebakaran ommmmm"teriaknya tepat di telinga pria itu yang langsung terbangun dan panik.


"Kebakaran,kebakaran mana?,kebakaran ta keluar ta keluar kebakaran" teriaknya panik sebari berdiri diatas sofa lalu terdiam melihat keponakannya yang malah terbahak.


"Lo ngerjain gue ta?!" tuduh pria itu diangguki Nirbita.


"Abisnya om tidur kaya simulasi mati susah banget dibangunin"cibir Nirbita sebari mengambil duduk disofa yang sama," Udah subuh om solat sana! "


"Iyaiya bawel ah,awas lo gue bales ya! " ancam remaja tersebut sebari melegang pergi.


"Ih punya om dendaman bangen sama ponakan sendiri" cibir Nirbita setelah itu termenung sebari menyandarkan tubuhnya,"Dirumah gimana ya?,mereka pasti nyariin ita,ita ko ngerasa bersalah ya udah semalaman ga pulang tapikan hari ini ita pulang,ita nanti minta maaf deh pas dirumah"gumannya sebari menghela nafas lalu menarik selimut yang terjatuh dari sofa untuk ia kenakan.


Antariksa keluar dari kamar mandi dalam keadaan ngontai sebari sesekali menguap,"Jangan ngelamun kesurupan gue yang repot"ujarnya melihat Nirbita yang termenung.


Nirbita menengok kearah sang om yang usianya hanya terpaut satu tahun lima bulan saja,"Kan yang repot om bukan ita,solat sana ih!"


"Ini juga mau" jawabnya sebari masuk kedalam kamar.


Sebari menunggu omnya solat,Nirbita menyalakan TV untuk menghilangkan kegundahannya,"Dingin banget"gumannya menggigil,udara puncak sangat dingin karna berada di daratan tinggi apalagi di pagi hari.


Ya!,permintaan Nirbita untuk pergi ke puncak dituruti sang om kemarin,mereka sampai disana tepat sore hari dan menginap disalah satu vila yang didapat sang om entah milik siapa,Nirbita mana peduli punya siapa diamah yang penting bisa tidur nyenyak walau gaada guling kesayangan.


Antariksa bumi keluar dari kamar mengartikan ia sudah selesai mengerjakan kewajiban sebagai umat Islam,remaja itu melompat naik kearah sofa dari belakang lalu menarik selimut miliknya yang dipakai Nirbita sekarang.


"Om jangan ditarik" rengek gadis itu namun tidak dihiraukan Antariksa.


"Bagi ta gue kedinginan" ujarnya menggigil lalu memeluk Nirbita.


"Huek kecekek om kecekek!"rutuk nirbita sebari memukul lengan Antariksa yang memeluknya diarea leher," Om mau bunuh aku?!"tuduh nya membuat Antariksa meregangkan pelukannya pada keponakan absurd nya ini.


"Tau aja" jawabnya sebari mengubah arah tangan yang memeluk ke area perut Nirbita.


Nirbita mendengus omnya ini selalu menyebalkan tapi Nirbita selalu ingin menempel jika bertemu,usia yang hanya terpaut satu tahun lebih lima bulan membuat om dan keponakan ini seperti sahabat,Nirbita memiliki dua om dari pihak ibu,salah satunya Antariksa bumi yang terlahir satu tahun lima bulan lebih awal dari Nirbita,sejak bayi remaja itu diurus oleh BU Celin yang notabenya kakak sekaligus ibu kandung Nirbita karna ibu Antariksa atau nenek Nirbita meninggal setelah melahirkannya karna pendarahan hebat disusul sang suami setelah satu tahun berlalu.


Saat ia mengetahui tengah mengandung Nirbita,Bu Celin menitipkan Antariksa pada keluarga kakak pertamanya karna takut tidak bisa merawat sang adik,walau tidak kembali tinggal bersama keluarga Bu Celin,Antariksa selalu berkunjung dan menjadi dekat dengan keponakan nakalnya.


Antariksa menatap wajah Nirbita dari samping,"Gue ga tau lo kenapa,tapi gue yakin lo lagi ada masalah,gamau cerita gitu?"


Nirbita melirik kearah om nya itu,"Om kepo!"


"Ga kepo sesat dijalan!"


"Dengerin om ngomong yang jadi sesat!" cibir Nirbita membuat Antariksa menjitak pelan kepala Nirbita.


Nirbita tersungut-sungut mendapat jitakan dari tangan tak berperasaan dari omnya itu sebari mengusap-usapnya.

__ADS_1


"Gue udah baik loh ta nurutin kemauan lo ke puncak,masa main rahasia-rahasiaan ga asik ah" ujar Antariksa mendengus,"Mana HP gue belum lo balikin lagi"sambungnya tersungut-sungut.


"Hehe aku sita bentaran doang gitu amat" cibir Nirbita semalam saat Antariksa meminta ponsel miliknya yang dipegang Nirbita tidak diberikan dengan alasan disita,Antariksa tidak terima dan ingin mengambil paksa dari Nirbita namun karna keponakannya itu titisan setan ia memilih mundur,alias kalah!.


"Bentar pala lo peang"


"Pala ita bulat ko ga peang apalagi penyok,atau segitiga" sela Nirbita.


"Bodo ah,sini HP gue,pasti banyak yang kangen karna gue ga aktif semalam" ujar Antariksa sebari menggeladahkan tangannya meminta ponsel untuk dikembalikan.


"Idih so banget,mana ada yang kangen sama bentukan kaya om!" cibir Nirbita.


"Heh ponakan set*n,gue tuh ganteng,mapan,tinggi,kekar,punya roti sobek,idola cewe-cewe banget,sekali nengok cewe-cewe langsung ngantri" narsis Antariksa sebari menyugar rambutnya so iya.


"Iya minta sembako!" cibir Nirbita tidak mempermasalahkan kata 'ponakan set*n' karna itu artinya bukan dirinya yang set*n tapi omnya ini yang set*n,benar apa benar?,punya om ko bego banget!.


"Ck balikin ah,pacar-pacar gue menanti kabar nih kasian buru!" desaknya.


"Percaya diri boleh tapi jangan berlebihan,kenapa?,kalo gagal ekspektasi kan sakittt" cibir Nirbita memeluk kakinya yang ia naikan ke sofa.


"Gue ga halu tapi kenyataan!" kekeh Antariksa.


Nirbita mengubah duduknya menyamping untuk berhadapan dengan om mudanya itu,"Mau cerita tapi om gaboleh nyela apalagi ember"ujarnya sebari menunjukan jari kelingking.


"Gue bukan ember tapi pangeran,iya gue janji" sautnya sebari menyatukan kelingking nirbita dengan kelingking miliknya membentuk promise.


Nirbita menghela nafas bersiap untuk menceritakan kejadian kemarin,rasanya ia tidak siap untuk bercerita,Nirbita tidak mau Naila disalahkan ya walau gadis itu sudah egois membuka luka lama dirinya,semarah apapun dirinya Nirbita tidak mau ada yang memarahi Naila,tapi,,,, entahlah.


Antariksa menatap lamat-lamat keponakannya yang mau cerita malah termenung sebari beberapa kali menghela nafas,"Sini ceritanya sambil peluk "ujarnya sebari menarik Nirbita dalam pelukannya.


Jika si pembuatan ulah tengah curhat pada om berondong nya tanpa memikirkan keadaan dikediaman yang sejak kemarin gempar atas hilangnya gadis itu.


Titisan set*n pembuat ulah!.


Dikediaman Triplet tidak seheboh kemarin dengan Naila yang terus menangis dan Bu Putri yang sempat pingsan,kini tidak seburuk itu setelah mengadakan pengajian pada malam harinya takutnya Nirbita digondol wewegombel,dan Pak Ustadz berpesan untuk tidak lagi khawatir sebab gadis itu baik-baik saja dan akan pulang disiang hari bertepatan dijam duabelas siang.


Mereka menilai perkataan Pak ustadz seperti ini Nirbita digondol wewegombel dan akan dikembalikan pertepatan waktu zuhur,padahal NO.


Mereka tidak mungkin tidak khawatir atas minggatnya Nirbita si pembuat ulah namun mereka tetap sayang,dan ulahnya itulah yang membuatnya memiliki karakter.


Namun Elesky juga mengatakan hal sama 'Nirbita baik-baik aja besok dia udah pulang'.


Mereka tidak lagi mencari namun khawatiran masih ada dihati mereka,mereka hanya bisa menunggu sesuai pesan Pak Ustadz,semakin ditunggu jam yang berputar semakin lama dalam pergerakannya.


Semakin ditunggu akan semakin lama kaya nunggu azan magrib pas puasa.


"Bang kamu cari lagi adik kamu,mamih takut dia kenapa-kenapa!" ujar Bu Putri yang duduk di teras rumah menunggu kepulangan keponakannya itu.


"Mih bentar lagi dia pulang mamih tenang aja" jawabnya membuat Bu Putri mendengus.


"Kamu bilang tenang,gimana mamih bisa tenang? ,dia itu anak mamih,anak gadis yang sejak kemarin ga pulang ga ada kabar gimana mamih bisa tenang!" sentak Bu Putri menggebu.

__ADS_1


"Sabar mih,mamih jangan marah-marah mulu nanti darah tinggi" ujar Naya mengingatkan.


Disana semua keluarga triplet kecuali Nirbita dan kedua orangtua Naya dan Naila berkumpul diteras,disana juga ada Pak Rt dan beberapa warga,dan geng inti Algaskar juga ada disana sejak kemarin malam untuk membantu mencari Nirbita,di sana juga ada Risa dan Agnes yang baru saja datang pagi tadi.


Jika biasanya Naila akan cerewet maka kali ini gadis itu belum mengatakan sepatah katapun sejak ketiduran karna lelah menangisi menghilangnya kakak sepupu nya itu,mata gadis itu juga bengkak karna terlalu banyak menangis,yang Naila lakukan hanya menunduk disamping Naya yang terus mendiamkannya setelah mengetahui alasan Nirbita hilang alias minggat.


"Pih kamu tau dimana Nirbita?,kita jemput aja dia ayo!" ajak Bu Putri tidak sabaran,tidak ada orang tua yang bisa sabar menunggu kepulangan anaknya dalam kondisi apapun!.


"Cuma Elesky yang tau mih" jawabnya menoleh kearah sangat istri sebab ia sedang berbicara dengan Pak Rt dan beberapa warga.


"Bang Es mending lo kasih tau gue dimana Nirbita biar gue jemput sekarang juga!" ujar Rangga tak sabaran seperti Bu Putri,hatinya belum tenang jika belum melihat wajah adiknya itu dengan matanya sendiri,namun Elesky hanya mengatakan gadis itu baik-baik saja dan akan pulang hari ini.


Ayolah abang mana yang bisa tenang jika adiknya tidak pulang sejak kemarin walau tau dia baik-baik saja,tetap saja tidak akan membuatnya tenang sebelum bertemu langsung.


"Dia lagi dijalan" jawab Elesky sebari melirik kearah Naila yang enggan menatap siapapun.


"Sotoy lo bang,dari mana lo tau dia dijalan?,dari tadi aja lo disini,gausah bohong!" kesal Rangga karna sebagai abang ia tidak tau keberadaan adiknya itu sedangkan sepupunya tau malah tidak memberitahu,Rangga berhak tau bukan?.


"Lo salah ngeremehin orang!" ujar Elesky dengan sorot dingin kearah geng inti Algaskar yang sejak kemarin malam tidak pulang,"Kalian ngapain masih disini?,pulang sana!"usirnya.


"Ini nih contoh manusia ga tau diri,udah dibantu malah ngusir"ujar Farel satu-satunya teman triplet yang berani mencibir pada Elesky,jika pada Rangga sudah biasa.


"Gue ga minta!"


"Bang gausah gitu ah masa ngusir anak orang,mereka udah baik mau bantuin kita nyari Nirbita seharusnya abang berterimakasih bukan malah ngusir" tegur Bu Putri terhadap putranya yang posesif itu jika masalah triplet.


"Tuh dengerin!,mamih Putri emang yang terbaik" ujar Farel sebari mengacungkan jempolnya keatas.


"Berani banget lo cibirin bang es,lo lupa dia tentara" bisik devan pada Farel hanya terdengar mereka berdua saja,devansih berbicara santai dengan elesky saja sudah merasa degdegan ngeri.


Padahal jika Gara ingin ia bisa angkat suara tapi ia malas begitupun Bintang.


"Engga,Sama-sama makan nasi ngapain takut" jawab Farel so iya padahal mah dia juga merasa ngeri-ngeri sedap namun mengingat prinsip Triplet yang 'Gausah takut pada sesama manusia kan masih sama-sama makan nasi' makanya ia mengeluarkan mulut lemesnya dimana saja dan pada siapa saja masa seorang Farel kalah dengan bentukan kaya Triplet,engga banget!.


Waktu terus bergerak detik demi detik terasa berat,jika dihati ada perasaan menunggu sejam saja berasa satu tahun maka beberapa jam akan terasa berabad-abad.


12:00


Semua orang yang berada dirumah triplet setempak menatap kearah gerbang menunggu kedatangan gadis yang kehilangannya menggemparkan satu kampung satu geng,menyusahkan!.


Suara deruman motor memasuki gerbang dengan gerakan pelan,sengaja!,tentu saja untuk mengulur waktu pada amukan abang-abang Nirbita yang sudah siap didepan rumah bersama yang lainnya.


Antariksa yang mengendari moge dengan membonceng Nirbita merasa tenggorokannya kering dan susah payah menelan ludahnya yang tiba-tiba mengering.


Tatapan matanya tidak sengaja beradu pandang dengan Elesky membuat jantungnya semakin jedag-jedug tak karuan,bukan karna jatuh cinta lebih ke ngeri-ngeri sedap sebari pasrah akan takdirnya didetik selanjutnya,mana tatapan Elesky begitu tajam.


Antariksa menghentikan motornya tepat dihalaman kediaman,dia ingin segera memutar motor dan melesat kabur,sialnya Elesky seperti tau niatannya untuk kabur malah memegangi stang motornya tanpa menurunkan tatapan tajamnya.


Entah sudah berapa kali Antariksa kesulitan menahan ludahnya sejak otw pulang dari puncak,tadinya ia akan menurunkan Nirbita di depan komplek tapi malah mendengar ceramah Nirbita yang panjang kali lebar kali tinggi,dan disinilah dia sekarang dengan nasib sialnya.


"Gobl*g banget gue,udah tau nih bocah kabur dari rumah bukannya gue balikin malah setuju pergi puncak,gue malah kaya nyulik,aaah abis gue mana tatapan set*n bang es tajam banget kaya pedang,,, elah gue sekarang abis,abis dah abis,,,nih bocah nyari gara-gara ngajak gue kejam amat dasar bocah titisan set*n,,,gue pasti digor*k,mana ada geng Algaskar lagi,ngapain sih mereka disini?,aaah ngapain mikirin mereka, nyawa gue sekarang ga aman"monolognya dalam hati sebari melirik Nirbita,Elesky dan geng Algaskar bergantian dengan ekpresi berbeda-beda yang ditunjukkan wajahnya.

__ADS_1


Bug


__ADS_2