
Setelah pulang dari sekolah Naila dan Naya langsung menemui Nirbita.
"Kak ita,kak ita mau jalan-jalan bareng ila ga?"tanya Naila sebari melepas tasnya dan ditaruh disembarang tempat.
Tidak ada respon Naila mendengus sebal,"Kak Ita ga bosen diem terus?,ila kangen ngerecok bareng kakak,kak yang terjadi itu masalalu kakak ga perlu pikirin terus,pelakunya juga udah ditangkap polisi,kakak gamungkin kaya gini terus kan?"keluh Naila sedih.
"Naila jangan gitu,Nirbita masih perlu waktu" tegur Naya.
"Sampai kapan kak,sampai kapan kak ita bakal diem kaya gini terus satu tahun lagi dua tahun lagi,ila ga sanggup kak liat kak ita gini terus" sanggah Naila terisak,"Ila kangen kak ita yang dulu,ila pengen kak ita yang ceria,suka ngomel dan lainnya bukan kaya gini,kak ita hidup tapi ga hidup,kak ita mati tapi bernapas,"keluh Naila tidak tahan lagi.
"Aku gamau kak ita gini terus kak"
Naya menghela napas tidak ada yang mau Nirbita sakit seperti ini kecuali orang jahat mungkin,"Kakak tau,gaada yang ga sedih liat kondisi Nirbita sekarang,tapi kita cuma bisa bantu doa naila,kamu ga boleh putus asa kaya gini, Nirbita butuh kita "ujar Naya mengusap sudut matanya yang berair.
" Naya bener Naila"sela Fricia masuk kekamar Nirbita saat mendengar keluhan Naila,"Kita harus sabar semua ini ujian dari allah,kalo kamu putus asa gimana sama Nirbita,dia butuh kita untuk keluar dari sakitnya"
"Tapi ila ga tahan liat kak ita kaya gini kak" keluh Naila sebari menangis lalu memeluk Nirbita yang hanya duduk diam dengan pandangan kosong dimatanya,"Kakak harus cepet sembuh,kakak tau ga ayah udah beli lahan diujung komplek buat usaha ternak kakak, kalo kakak sakit terus siapa yang urusin peternakan nya nanti"ungkap Naila sebari menangis ia mencoba meredam keluhannya dan kembali mencoba mengajak Nirbita bicara.
Naila mengurai pelukannya dan menatap wajah Nirbita yang sama sekali tidak meresponnya,"Kalo trio wikw*k yang jagain nanti mereka korupsi kak,kakak bukannya untung malah buntung,emang kakak mau kaya gitu? "Masih tidak ada respon membuat Naila kesal.
"Yaudah kalo kakak mau diem terus silahkan tapi ila bakal bantuin trio wikw*ik buat korupsi biar duit ila nambah" dengusnya sebari beranjak dari ranjang Nirbita dan berjalan keluar kamar sebari menghentakan kaki.
Naya dan Fricia hanya menghela napas mereka lebih banyak mengatur napas sebulan ini membuat kesabaran mereka meningkat kecuali Naila yang selalu mercak-mercak pada Nirbita yang diam sekalipun, naila kesal karena Nirbita diam terus.
"Kamu bersih-bersih dulu sana baru kesini lagi buat nemenin Nirbita" ujar Fricia.
"Iya kak, kalo aku ajak Nirbita jalan-jalan disekitaran komplek boleh ga kak?,siapa tau aja gitu dengan Nirbita melihat sekitar ada sedikit respon" pinta Naya.
Fricia termenung selama sebulan ini Nirbita dirumah terus mungkin usulan Naya tidak ada salahnya,lalu mengangguk, "Boleh,tapi kakak tanya dokter Nirbita dulu buat konfirmasi takutnya ga diijinin dan malah buat kondisi Nirbita memburuk"jawabnya.
Naya mengangguk setuju setelah itu pamit untuk pergi ke rumah ibunya walaupun dirumah rangga ia punya kamar sendiri,tapi mereka selalu menemui orangtua mereka dulu setelah pulang sekolah jadi rasanya kurang apdol jika belum bertemu ibu mereka.
Setiap malam tripet selalu tidur disatu kamar di kamar Nirbita untuk menjaga sodara mereka yang tengah sakit.
Sekarang sudah hampir tengah malam tapi Naila belum juga tidur, gadis itu terus mengubah posisi tidurnya untuk mencari tempat yang nyaman tapi nihil, "Aaaa gabisa tidur,mana sekarang waktunya demit gentayangan lagi,seremmm"gumannya sebari bergidig.
"Ini gara-gara kak Bintang awas aja aku tonjok kak Bintang sampai mampus,enak aja tunangan ga ngasih tau mana pacarnya masih cantikan ila lagi,,"gerutunya kesal setelah mendengar konfirmasi Bintang tentang wanita yang mengaku sebagai tunangan itu ternyata benar Naila terus mercak-mercak.
"Ko dada ila sakit ya jangan-jangan aku punya penyakit jantung kali ya?aaa sesek juga tapi masih bisa napas,aku kenapa sih?!"gerutu Naila sebari tersinggut-sungut.
Naila merasa ada yang aneh dengan dirinya setelah mendengar Bintang akak bertunangan,ada yang sakit tapi lukanya ga terlihat,perih banget!.
"Aku bakal minta anter periksa kesehatan sama abang besok,amit-amit jabang bayi kalo sampe punya penyakit,, kak ita aja belum sembuh masa yang sakit udah nambah aja,dasar Naila beban" Naila melirik kearah Nirbita yang tidur ditengah antara dirinya dan Naya.
Naila menggeser tubuhnya lalu memeluk kakak sepupunya itu yang tengah tertidur,"Kak mau curhat tapi kakaknya cuma diem doang ga ngerecok atau ngasih saran"ujarnya sedih.
"Kakak cepet sembuh dong nanti ila janji deh bakal turutin kemauan kakak,semuanya" pinta Naila sebari menyembunyikan wajahnya diseruk leher Nirbita.
"Hiks kakak harus cepet sembuh,gara-gara kakak sakit rencana kita porotin daddy Smit gagal,daddy sama bang Bas udah minggat lagi ke Singapura" keluhnya sebari menangis.
Jika bastian harus kembali ke Singapura karena pendidikannya saat Nirbita keluar dari rumah sakit,maka Pak Smit baru pergi lima hari yang lalu karena perusahaan disana sedang ada masalah dan terpaksa pergi walaupun engga.
"Kalo kakak sembuh nanti pas liburan akhir semester kita bisa minta jalan-jalan ke Singapura,kak ila ga bisa tidur,,"rengeknya"Kakak tau ga kalo kak Bintang mau tunangan,nama cewenya tuh kebon Raya bogor apa gitu ila lupa,gatau kenapa ila sedih banget dengernya,kak ita tuaga ila sedih kenapa?"tanyanya walau tau tidak akan mendapatkan jawaban selain karena Nirbita sebulan ini belum mengeluarkan suaranya ditambah sekarang Nirbita sudah terlelap,mana mungkin mendengar ocehan Naila.
"Suka" suara itu terdengar familiar diteliga Naila,Naila yang tengah menangis meredakan tangisnya dan mengerjapkan matanya takut,Naila semakin memeluk tubuh Nirbita dengan kuat ia takut suara tadi itu suara demit yang tengah berkeliaran.
Naila tidak lagi mengoceh ia memejamkan matanya sekuat mungkin agar setan di rumahnya gatau kalau naila belum tidur dan malah ngajak gibah,kan serem.
Masih mending yang ngajak gibah masih satu sepesies.
Keesokan paginya Naila sudah seperti panda semalam mencoba tidur tapi gagal terus akhirnya hanya memejamkan mata saja agar kaum demit tidak tau kalo Naila tidak bisa tidur.
Walaupun gelap dimata Naila bisa ditutupi makeup alias bedak tapi gadis itu terlihat lesu,loyo,Naila duduk di kursi milik Nirbita dikelas selama sebulan ini Naila duduk disana karena ogah duduk ditempatnya semula yang berdampingan dengan penjahat, walaupun Agnes sekarang sudah dipenjara sih.
"Heh napa lo lesu amat kaya kekurangan gizi mau gue konsultasi sama emaknya Wahyu ga?"tanya Davri terdengar mengejek.
"Ouh tentu tidak terimakasih" jawabnya lesu.
"Ngapa si lo ngab?,lagi galau ya?" Davri sih bertanya tapi dari nada bicaranya kaya beledek.
Naila merebahkan kepalanya diatas meja sebari menatap Davri dengan kesal, "Di kamus tripet gaada namanya galau,aku cuma ga tidur semaleman sekarang ngantuk banget" jawabnya lalu menguap lebar.
"Lah suruh siapa lo gadang?"
"Ga bisa tidur Davri bukan gadang,ila udah pejamin mata tapi ga tidur-tidur malah denger suara tauga,serem banget" curhatnya membuat Davri tertarik dan menggeser duduknya mendekati Naila.
"Suara gimana ***?,suara nangis?,ketawa?,atau gimana nih,jangan bilang suara lo kentut"
"Bukan is ila serius tau!,ini bukan suara kentut,nih ceritanya gini semalem kan ila ga bisa tidur dari pada ngang-ngong kaya anak ilang mending cosplay jadi orang gila" Davri terbahak mendengar Naila mengakui dirinya gila,"Davri diem ih il mau curhat!"tegur Naila mendengus.
"Iya dah sok lanjut"
"Dengerin!,, kan ila ngerocok disamping kak Nirbita yang udah tidur,ila ngomong aja terus eh tiba-tiba" Naila menjeda ucapannya untuk mempertegang keadaan bulu kuduk Davri meremang seketika,"Ada yang ngomong 'suka'gitu serem banget kan?!"
Davri mengusap lengannya bergidig,"Setannya ngode sama lo kalo dia suka sama lo"
"Sekate-kate kalo suka sama sejenis dong!,ila kan manusia sukanya sama manusia juga gamau sama demit" sentak Naila tidak terima sebari menegaskan tubuhnya dan kembali merebahkan kepalanya dimeja.
"Kalo suka,cuma ada satu cara bikin lo dijauhin setan la" ungkap Davri dengan wajah dibuat serius.
"Apa?"
"Ruqiyah!,fixs lo harus diruqiyah biar setan dalam diri lo pada minggat" jawab Davri diangguki Naila.
"Abis dari rumah sakit Davri maukan nganter ila ke rumah Pak ustadz" ajaknya.
"Lo mau ikut Nirbita kontrol?"Tanya Davri mendengar kaya rumah sakit.
Naila menggelengkan kepalanya sebari menguap lebar, " Engga,ila yang mau cek kesehatan dari kemarin sore rasanya dada ila sesek banget"jawabnya.
"Sejak kapan dada lo sesek?" Tanya Davri dengan mata memicing.
"Kemarin sore" jawabnya.
"Tepatnya Naila!,magsud gue kemarin sore itu jam berapa?,dimana?dan sama siapa?"tanya beruntun Davri membuat Naila mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Emang perlu detail banget ya?perasaan Davri bukan dokter deh,Davri juga ga ada cita-cita jadi dokter kan? "
"Jawab aja gausah banyak cingcong!,masalah ini lo ga perlu pergi kedokter gue juga bisa nanganin!,sekarang jawab aja pertanyaan gue" pogah Davri, "Dada lo sesek sejak kapan? "
"Anak rt Densus penduduknya beda pertanyaan" ejek Naila membuat Davri mendengus.
"Jawab aja!"hardik Davri.
"Iya-iya emosian amat sih!,tepatnya itu pas" Naila terdiam mengingat kapan dirinya merasa sesak saat teringat ia terpekik membuat Davri terlonjak kaget,"Kemarin sore pas diparkiran sekolah"jawabnya.
Davri mengangguk kembali bertanya"Lo diparkiran lagi sama siapa?"
"Banyakan ada Davri,ada kak Naya ada"
"Stop" davri menyela jawaban naila agar singkat,"Pas cewe yang ngaku tunangannya kaknBintang datangkan?"tebak Davri diangguki Naila dan temannya itu malah terbahak memukul-mukul meja.
"Ckckck kasian banget Pak RT udah punya anak satu gila lagi" cibir Naila membuat Davri berdehem untuk meredakan tawanya.
"Gue ga gila!"
"Orang gila mana ngaku" ejek Naila.
"Orang waras diem" dengus Davri lalu menatap Naila dengan lekat membuatnya takut.
"Kenapa Davri?,kamu ga kesurupan kan? " Davri yang ditanya lantas menggelengkan kepalanya.
"Lo mau tau ga penyakit yang lo derita sekarang?"tanya Davri serius.
Tatapan Naila menjadi serius dan menggeser duduknya mendekat kearah Davri, " Davri beneran tau atau cuma tipu-tipu?"
"Ck gue beneran tau penyakit lo sekarang itu penyakit hati" ungkap Davri bangga dengan diagnosanya.
"Hah?,penyakit hati,iri dengki dong" ujar Naila bingung.
"Bukan sejenis itu magsud gue tuh lo lagi patah hati denger Bintang mau tunangan"jelas Davri membuat Naila terdiam," Ko lo diem aja si?"bingung Davri.
"Emang ila harus gimana?,harus joget-joget gitu?,kan engga,kalo patah hati artinya ga bahagia dong masa ila harus joget-joget"
"Iya juga,trus sekarang lo mau gimana?,salah lo sendiri sih telat tau isi hati" ujar Davri.
"Ila gatau,Ila aja belum tau isi hati Ila gimana udah ah pusing,Davri cuma nambah beban doang, kalo aja kak ita ga sakit pasti dia ngasih solusi bukan ngasih beban kaya kamu" rutuk Naila tersungut-sungut.
"Nyalahin gue,lo yang salah,lo tuh suka sama Bintang cuma lo nya aja yang lemot kaya kura-kura!,sekarang Bintang udah punya tunangan nyeselkan lo!" Ejek Davri membuat Naila menggebrak meja dengan sewot.
"Bodo ah"makinya sewot sebari bengkit dari duduknya dan melegang pergi.
"Woy mau kemana lo?"panggil Davri.
"Bolos" jawabnya.
"Tuh bocah paling beda kakak-kakaknya pada pinter sama rajin semua lah dia,udah oon,beloon, bodoh,ngaret,pemalas pula" rutuk Davri mengatai Naila,"Tuh bocah anak pungut gue yakin"ungkapnya berguman sebari menyusul langkah Naila.
Sosoan ngatain Naila padahal Davri juga sama bodoh dan juga pemalas!buktinya dia ikutan bolos.
Saat jam pelajaran dimulai sekolah widudarma digemparkan dengan berita bahwa kelas 10ipaB semua muridnya tidak hadir!,padahal jelas-jelas tadi pagi mereka datang kesekolah.
Saat pulang sekolah Naya dijemput Danis,karena Danis orangnya KUHP kasih uang habis perkara,maka Naya bisa pulang bareng Jastin yang tiba-tiba saja datang,untuk Naila gadis itu sudah membolos dari jam pertama.
"Lo gada kapoknya ya udah patah tulang masih aja bawa motor"cibir Naya duduk dijok belakang Jastin.
"Gue kan udah sembuh" jawabnya,"Lo gausah khawatirin gue,kaki gue udah sembuh dari lama ko"
"Gue ga khawatirin lo ya!gue cuma takut lo ajak gue ugal-ugalan terus meninggol" dengus Naya.
"Kan indah tuh Naya,kita ceritanya sehidup semati" bangga Jastin membuat Naya menabok kepala belakang Jastin yang makai helm.
"Indah pala lo peyang!" Maki Naya.
Jastin terbahak,"Becanda gue,walaupun gue mau sehidup semati sama lo ya kira-kira innalillahi nya tujuh puluh tahun kemudian gitu".
"Halu"
"Berharap boleh kali Naya" ujar Jastin.
"Ya tentu aja asal lo sadar diri lo cuma bisa berharap allah yang nentuin"
"Iya gue tau ko" jawab Jastin,"Gausah langsung pulang ya kita muter daerah bogor dulu"ajaknya.
"Gue tolak juga percuma lo kan bebal banget,semaunya!"ejek Naya.
Jastin tersenyum," Engga ko,gue udah kapok,gue gamau lo gebugin lagi kaya sebulan lalu pas gue bawa lo kejalan yang jauh kearah rumah"jawabnya mengejek.
"Gue khilaf ya itu" dengus Naya,"kalo gue mau minta lo anter ke kantor polisi mau ga Jasjus?"tanyanya.
Mendengar pertanyaan Naya Jastin menaikan sebelah halisnya,"Mau ngapain lo kesana?"
"Mau laporin lo atas tindakan penipuan hati" jawab Naya membuat Jastin ngerem mendadak.
"Astagfirullah hati-hati Jasjus gue ga mau mati muda!"pekik Naya kaget.
"Maaf-maaf gue ga sengaja,lo gapapa kan?" Tanyanya cemas sebari membuka helm dikepalanya dan melirik kearah Naya dibelakangnya.
"Gapapa,pala gue aga puyeng kejedot dua helm" jawabnya jujur.
"Benjol ga?"
"Kayanya engga deh,lo kenapa rem mendadak sih kalo ada kendaraan dibelakang kita gimana?,bisa kecelakaan!"
"Gue,gue kaget tadi,lo beneran mau laporin gue ke polisi?"tanyanya sebari menghela napas.
"Ga gue laporin polisi juga udah tau kali,papih gue kan polisi,tenang aja gue becanda ko, gue kesana mau nemuin Agnes buat mastiin sesuatu" jawabnya menjelaskan
"Mastiin apa?" Tanya Jastin kepo.
Naya menghela napasnya berat,"Kata papih Agnes mau dibebasin"
__ADS_1
"Hah kenapa?,kurang bukti apa karena masih dibawah umur?".
"Ada alasan lain,tapi lo janji ga bakal bocorin yang gue omongin sekarang oke" pinta Naya diangguki Jastin.
"Agnes hamil!"
Deg
"Hah hamil?,ko bisa anak siapa?"tanya Jastin bingung.
"Tanya aja sama Agnes nya gue ga berpengalaman buat anak" jawab Naya absurd.
Jastin menggaruk lengannya,"Magsud gue Agnes satu sel sama cowo gitu dipenjara? "
"Ya engga lah,cewe-cowo dipisah mereka punya tempat masing-masing,ada-ada aja lo mah"
"Terus gimana Agnes bisa hamil?"cengo Jastin tak habis pikir.
Naya mengedikan bahunya tidak tau" Emang cara bikin anak gimana Jasjus, lo tau ga ?"tanya Naya di mode polos-polos bego.
Jastin bingung mau jawab apa,"Emang lo mau peraktekin sama gue?"tanyanya hanya bergurau mana berani dia bikin anak sebelum nikah bisa-bisa dipenjara seumur hidup sama papihnya Naya.
"Mau gue lempar ke pluto lo!" Hardik Naya melotot.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju kantor polisi dimana Agnes tengah ditahan,sesampainya disana Pak Dimas sudah menunggu Digerbang karena sebelumnya Naya sudah memberi kabar.
Ternyata disana ada orang tua Agnes yang tengah mengurus sesuatu,tatapan Jastin terbelalak ketika melihat ibu dari Agnes dan segera mengalihkan tatapannya kearah Naya dengan sorot mata kecewa.
Setelah mengatakan apa yang ingin Naya katakan pada Agnes, dia langsung pergi dari sana.
"Langsung pulang jangan ngelayab dulu!" Ujar Pak Dimas,"Awas aja kalo kamu bawa anak saya mampir-mampir dulu saya geprek kamu!"ancamnya pada Jastin.
"Om tenang aja saya pasti jagain Naya ko,saya anter pulang dengan selamat,aman dan damai tanpa goresan sedikitpun" jawabnya percaya diri namun dari wajah Jastin seperti menutupi kesedihan.
"Papih tenang aja kalo Jastin berani buat ulah Naya gebugin nanti,,Naya pamit pulang duluan ya pih,asalamualaikum"
"Iya hati-hati waalaikumsalam"
Jastin melajukan kendaraannya dengan kecepatan diatas rata-rata biasanya kedua sejoli itu akan mengobrol tapi sekarang hanya Naya yang ngomel sedangkan Jastin terdiam.
"Jasjus lo dengerin gue ngomong ga sih?!"teriak Naya sebari menepuk pundak Jastin.
"Hah iya kenapa?"Tanya Jastin linglung.
"Lo ngelamun ya?,pending dulu dong ngelamunnya,lo lagi bawa motor!gue gamau celaka" pinta Naya.
"Iya maaf" jawabnya biasanya Jastin akan memperpanjang masalah agar Naya mercak-mercak tapi setelah menjawab ucapan Naya,Jastin hanya diam.
"Jasjus berenti dulu didepan" pinta Naya dituruti Jastin.
"Kenapa Naya?,ada yang mau lo beli dulu?"tanyanya.
"Kamu naenya-kamu bertanyea-tanyea?,udah ah turun dulu yuk" ujar Naya menyebalkan.
"Papih lo minta langsung pulang gue gamau langgar amanat beliau"
"Cie ceritanya mau jadi cowo bertanggung jawab" cibir Naya.
"Haruslah,apalagi ini papih lo salah satu camer gue" ungkapnya membuat Naya melotot.
"Ejegile,lo ada niatan jadiin gue istri yang keberapa hah?seenak udel mau jadiin gue istri sekian,heh dengernya jasjus gue maunya jadi istri satu-satunya gaada dua,tiga dan sekian" omel Naya tersungut-sungut,enak saja mau jadiin Naya madu lawan dulu Naya sampe babak beluk kalo berani.
"Ya emang lo calon bini gue satu-satunya magsud gue tuh salah satu camer,lo kan punya bapak tiga biar adil gue bilang salah satu,ga salah dong" jawab Jastin menjelaskan.
"Siapa juga yang mau nikah sama lo" cibir Naya menyebalkan sebari beranjak dari sana meninggalkan Jastin.
Jastin menyusul langkah Naya,"Lo mau kemana dulu Naya?"tanyanya.
Naya duduk dipinggir trotoan membuat jastin mencibir,"Mau cosplay jadi gembel lo?"
Naya menatap Jastin menepuk sebelah sisinya,"Duduk!"pintanya dituruti Jastin.
"Kenapa?"tanya Naya menatap Jastin yang baru saja duduk di sampingnya ditrotoan.
"Lah ko nanya gue" bingungnya,"Gue gapapa ko".
"Gue kadang peka ya Jasjus,sekarang gue lagi mode peka gue tau lo lagi nyembunyiin sesuatu,dari kantor polisi lo kaya murung banget,kenapa?,lo ga mau cerita?"tanya Naya dengan tatapan lembut.
Jastin terdiam sebari menatap Naya dengan lekat.
"Kalo lo gamau cerita gapapa ko,tapi kita barter cerita aja gimana?,gue cerita sama lo trus abis gue giliran lo cerita sama gue" ajak Naya bernegosiasi kaya di pasar.
"Kalo gue gamau gimana?" Ujar Jastin menatap lembut Naya.
"Gapapa" jawabnya sebari tersenyum indah sampai-sampai Jastin terpesona,wajah judesnya Naya aja bikin klepek-klepek apalagi senyumannya,eje gile.
"Tapi gue tetep mau cerita,lo dengerin aja ya" ujar Naya diangguki Jastin,"Sebenarnya sebelum gue gebugin lo waktu itu pas lo anter gue pulang, gue mimpi buruk,gue mimpi ade gue Nirbita meninggal,gue seneng itu cuma mimpi tapi gue kesel sama lo,gue nyalahin lo gara-gara lo ga langsung nganter gue balik gue jadi mimpi buruk,terus pas liat lo gue itu baru bangun tidur dirumah abang gue kira masih mimpi jadi gue gebukin aja deh lo nya,kan kalo didalem mimpi lo ga akan kesakitan,eh ternyata beneran dong,gue merasa bersalah banget,maafin gue ya Jastin"
Jastin mengangguk,"Gue udah maafin ko,lo gausah bahas itu lagi, gue rasa dibalik kejadian itu ada manfaatnya,lo jadi jujur kalo lo tau gue punya niat jahat awalnya deketin lo tapi lo tetep mau temenan sama gue,dan sampai sekarang lo masih mau temenan sama gue,tapi kali ini gue tulus temenan sama lo juga ngejar lo sebagai cowo"ungkap Jastin.
Naya menunduk sendih dengan senyum tipis dibibirnya,"Gue ngasih lo kesempatan,tapi kalo lo berbuat jahat lagi mau sama gue atau keluarga gue gaada kata kesempatan lagi dari gue"jawab Naya,"Lo tau ternyata mimpi buruk itu pertanda kalo Nirbita bakal kena masalah besar kaya gini"sedihnya.
Jastin memeluk Naya dari pinggir,"Itu musibah Naya lo harus sabar"
"Iya,,,lo mau tauga kalo gue benci banget sama rumah sakit" ungkap Naya cemberut.
"Hah lo benci rumah sakit?kenapa coba?perasaan rumah sakit ga gigit dah"
"Emang ga gigit tapi bisa bikin orang innalillahi,gue pernah nyasar dirumah sakit sampe kekurung diruang jenazah,gilakan?!,sejak saat itu gue benci banget sama rumah sakit,tapi di waktu deket ini ketakutan gue udah berkurang sih"
"Kasian banget,ternyata lo punya rasa takut juga" cibir Jastin membuat Naya mendorong pria itu agar tidak memeluknya.
"Nyebelin banget"rutuknya cemberut.
Jastin menghela napas," Sekarang giliran gue yang cerita "ungkapnya padahal tadi Naya pikir Jastin menolak barter cerita dengannya,jadi Naya hanya menceritakan dirinya tanpa berharap Jastin menceritakan tentang apa yang dia pikirkan.
__ADS_1
"Tadi katanya ga mau barter cerita" ujar Naya.
"Yaudah kalo gamau dengerin" dengus Jastin kesal.