DIARY TRIPLET N

DIARY TRIPLET N
Patah tulang


__ADS_3

Sungguh nelangsa jadi Jastin!.


Ibarat sudah jatuh dari tangga tertimpa rumah pula.


Sudah digebugin Naya hingga babak belur dan tulang tangannya retak dan sekarang malah terlibat kecelakaan sampai kata dokter tulang kaki kirinya retak.


Kaki Jastin sudah dipasang penyanggah begitupun dengan tangan kanannya,,tubuhnya terasa remuk terbaring lemah diranjang rumah sakit, beberapa menit lalu Jastin sudah sadar berada dirumah sakit dibawa warga dan pelaku penabrakan kesana.


Sejak tadi Jastin hanya diam dengan tatapan kosong pikirannya terus memikirkan Naya,hanya Naya.


Dulu dirinya pernah ditinggal sang ibu demi selingkuhan sekarang ditinggal Naya karena kesalahannya,emang penyesalan selalu datang diakhir.


Tapi Jastin memang sudah tidak merencanakan menggunakan Naya untuk menghancurkan Algaskar sejak lama,,salahnya sendiri tidak memberitahu geng nya dalam masalah ini sampe Antariksa salah paham dan memberi tahu Naya semua itu.


Sial!.


Suara pintu dibuka dari arah luar tidak menganggu lamunan Jastin,pria itu masih saja menatap kosong kearah depan.


"Ada yang sakit? " tanya pria usia tiga puluhan lebih yang baru saja masuk kedalam kamar VIP yang ditempati Jastin.


Tidak mendapat jawaban pria itu menghela nafas,"Papah nyuruh kamu buat istirahat kenapa malah main motor?,sekali aja kalo turutin kata-kata papah bisa kan jastin!"ujar Pak Ahmad mengomel.


"Jastin papah lagi ngomong sama kamu !" sentak Pak Ahmad kesal diabaikan anaknya.


Jastin menoleh sinis kearah ayahnya,"Gausah so peduli!"ujarnya datar.


"Papah memang peduli sama kamu Jas,kamu pikir selama ini papah ga sayang sama kamu,papah berjuang cuma buat kamu kalo bukan sayang apa artinya"


Jastin menatap kesal,"Peduli?!,,kepedulian macam apa yang anda magsud Tuan Ahmad Abraham yang terhormat?,,,hah,apa yang anda magsud?!,anda hanya peduli tentang pekerjaan "sinisnya berbicara formal.


"Papah kerja buat kamu Jastin"bela Pak Ahmad.


"Buat saya?,hhhh anda lucu sekali pak,saya tau anda bekerja karena terobsesi dengan kekayaan,istri yang meninggalkan anda sudah merubah anda menjadi pria yang hanya memikirkan harta!,sampe lupa tentang anak nya sendiri yang butuh kasih sayang!"Jastin tertawa sumbang mengumpati kehidupannya dalam hati.


"Jastin papah,,"


Jastin menyela perkataan pak ahmad,"Bodoamat!anda bisa tinggalkan tempat ini sekarang juga kembali saja sana kekantor anda"usirnya sebari mengalihkan pandangan.


Pak Ahmad menghela nafas menekan amarahnya yang dipancing Jastin kali ini agar tidak meledak," Kamu tidur aja kamu butuh banyak istirahat biar cepet sembuh"ujarnya tidak menghiraukan pengusiran Jastin.


"Saya bilang pergi!" usir Jastin sekali lagi penuh penekanan dan kebencian.


Pak Ahmad menghela nafas,"Oke papah keluar dulu,kalo kamu perlu papah kamu bisa panggil papah diluar"ujarnya mengalah dari pada harus membuat keributan di fasilitas umum.


"Tidak perlu anda bisa kembali kekantor atau pulang saja sana!" usir Jastin kekeh tidak mau ada ayahnya dirumah.


Pak Ahmad tidak menghiraukan duda anan satu itu berjalan keluar dari kamar rawat Jastin dengan hati hampa,,,dirinya pikir hubungan dia dan anaknya membaik sejak Jastin meminta ikut ke pesta pernikahan Rangga,sejak saat itu jastin tidak lebih ketus dari biasanya dan saat bicara pun lebih santai,,,tapi sekarang ternyata Jastin kembali memberinya jarak, ia tidak bisa mendekati anaknya sendiri karena ada tembok yang menghalangi hubungan mereka,perbuatan!.


Sekarang Jastin kembali seperti dulu padahal Pak Ahmad baru merasakan kedekatan beberapa hari ini dengan putranya tapi semua itu kembali hilang,,,,Pak Ahmad mengalah bukan berarti kalah dan menyerah,,,Pak Ahmad hanya memberi waktu pada jastin untuk tenang ia tau putra semata wayangnya itu sedang memiliki masalah dalam hidupnya.


Pak Ahmad mengenal putranya itu walau mereka tidak dekat seperti hubungan ayah dan anak diluaran sana,tapi mereka memiliki ikatan yang kuat yang tak bisa disangkal.


Darah lebih kental dari pada air.


Pak Ahmad menghubungi seseorang dari ponsel canggihnya sebari duduk di kursi tunggu didepan kamar rawat jastin,"Cari tau kenapa Jastin pergi dari rumah sore ini"ujarnya memerintah setelah berbicara sesuatu seperti meminta orang disebrang telepon untuk menyelidiki orang yang menabrak Jastin tadi setelah itu telepon diakhiri.


"Kalian tidak boleh bertemu!" gumannya dengan kilatan kebencian dimatanya.


Ditepi danau buatan Naya melepas diri dari pelukan Antariksa.


"Lo modus ya" tubuhnya dengan suara khas orang menangis.


Antariksa mendengus,"Bukannya terimakasih lo malah nuduh,pelukan gue tuh cuma buat Risa seorang tapi gue mumpung baik aje!"


Naya cemberut dan tidak mengatakan apapun,"Lo ga mau ngomong apa gitu?"tanya Antariksa heran dengan Naya yang malah diam setelah menangis,kan serem kalo Naya kesurupan.


"Gue harus ngomong apa emang?" ujar Naya malah bertanya.


"Ya serah lo lah,kan lo yang mau curhat"jawab Antariksa.


"Gatau" ujar Naya sebari menyandarkan kepalanya dibahu Antariksa.


"Yaudah gue nanya lo tinggal jawab, gimana?" usul Antariksa.


"Ogah,masa sesi tanya jawab kaya kuis aja"


"Jawab aja gausah banyak komen kaya netizen lo!" dengus Antariksa,"Sekarang lo masih suka sama si jastin?"tanyanya menatap Naya dengan sedikit memiringkan wajahnya.


Naya menghela nafas,"Lo pikir bisa langsung lupa gitu?,engga yah,moveon juga butuh waktu"jawabnya.


"Ck lo kan sekarang benci tuh sama si Jastin gue pikir perasaan cintalo ilang diganti kebencian!"


"Gue ga pernah benci sama jastin ya,sotau banget jadi orang" cibir Naya.


"Eh jadi sekarang lo ga benci gitu sama si jastin?,gue kira lo benci gitu apalagi gue liat lo lari dari rumah Jastin pake drama nangis segala" cibir Antariksa.


"Gue ga nangis gue kelilipan" elak Naya hanya ditanggapi cibiran 'nyenyenye'.


"Gue ga benci sama Jastin kecowa doang" sambungnya.


"Kecewa, kecewa Naya!" ralat Antariksa.


"Iya itu,gue kecewa aja sama dia,,ternyata dia emang berniat buruk sama gue,tapi kenapa dia ga bohong aja gitu" ujar Naya membuat Antariksa menggaruk alisnya.


"Kalo dia bohong, padahal lo udah tau yang sebenarnya,ga semakin kecewa lo hah?!"


Naya diam memikirkan jawaban pertanyaan Antariksa tadi,benar dirinya akan lebih kecewa dari ini jika jastin tidak mengaku berniat jahat sama naya,"Iya sih gue pasti lebih kecewa dari ini"gumannya.


Mereka tidak lagi berbicara Antariksa membiarkan Naya untuk menenangkan pikiran dan hatinya sendiri.


Dreet dreett


"HP lo bunyi noh" ujar Antariksa memberitahu.


Naya mengambil ponsel di sakunya menyodorkan nya pada Antariksa,"Kalo Jastin gausah diangkat"pintanya.


Antariksa mengambil ponsel milik Naya terlihat dilayar nama 'beo' disana,"Si Naila"ujar Antariksa tau semua nama diponsel Naya gaada yang bener kecuali nama abang-abang sekaligus orang tuanya doang.


"Palingan juga mau ngeluh kenapa ga diajak bolos" ujar NAYA.


Antariksa mengangkat panggilan telepon sengaja untuk memanasi Naila kalo dirinya juga bolos,hehehe Naila pasti pengen nyusul.


"Halo Naila" sapa Antariksa dengan nada mendayu.


"Om,ko ponsel kak Naya bisa sama om sih?,,ga usah jawab ga penting juga,ada yang lebih penting yang mau ila kasih tau,kak ita om"ujar Naila disebrang sana.


"Si Nirbita kenapa?,bolos juga?,lo ditinggal gitu?"tanya beruntun Antariksa meledek.


"Bukan!,,, itu kak ita jatuh dari rutop sekolah sekarang lagi dibawa kerumah sakit" pekik Naila membuat Antariksa tercengang.


"Apa!Nirbita jatuh dari rutop sekolah" pekik Antariksa kaget sampai replek berdiri membuat Naya terhuyung.


"Lo salah denger kali Tarik,jatuh dari rutop sekolah luka paling kecil patah tulang"ujar Naya mendengar teriakan Antariksa menjadi waswas ia jadi ingat dengan mimpinya.


"Kita balik sekarang "ajak Antariksa tergesa begitupun Naya mereka langsung cemas dengan keadaan Nirbita disana.


Rutop sekolah itu lumayan tingga kalo jatuh dari sana luka paling kecil patah tulang dan paling bahaya mengancam nyawa,,sekolah wddm'widudarma' memiliki empat lantai keatas.


Satu jam sebelumnya........


Setelah makan dikantin masih ada waktu untuk melakukan hal lain dijam istirahat ini,bukan triplet jika tidak membuat kegaduhan kali ini tanpa Naya.


Naila dan Nirbita menemui bu kantin untuk meminta karet gelang yang banyak untuk diuntun.


Setelah karet gelangnya diuntun Naila,Nirbita,Vania,Agnes dan Risa pergi ke taman belakang untuk main lompat tali,,mereka lebih suka taman belakang dari pada lapangan sekolah, taman belakang sekolah suasananya lebih tenang dan juga tidak terlalu panas,sorot matahari disana terhalang pohon-pohoh yang berdahan besar.


Saat menuju kearah taman belakang mereka bertemu Sherli dan dua temannya,jika biasanya mereka akan bercekcok dan berakhir main jambak-jambakan kali ini mereka sudah damai,dan Naila mengajak mereka untuk ikut bermain.


Awalnya memang hanya para gadis tapi geng inti Algaskar malah mengekor," Gimana kalo kita mainnya lompat sambil sebutin apa yang kita suka"usul Aril tersenyum lebar.


"Sip,yang pegang karetnya siapa nih?" tanya Rezaldi.


"Kak Didi aja biar hidupnya ada kegunaan dikit"jawab Naila monohok pengen Rezaldi tabok.


"Gue berguna ya dari orok" ujar Rezaldi tidak terima dengan perkataan Naila.

__ADS_1


"Berguna sih kalo dijadiin tumbal proyek"


"Lo tuh yang halal banget kalo ditumbalin" dengus Rezaldi.


"Gue aja yang pegang talinya satu lagi siapa" ujar Bintang menghentikan perdebatan antara Rezaldi dan Naila.


"Tuh si Rezaldi aja bener kata Naila biar hidup dia ada gunanya dikit" satu Agnes ketus,ia sangat kesal dengan Rezaldi atas kejadian dimana pria itu mengejar-ngejarnya kaga jelas bukannya ganti rugi ponselnya yang rusak.


"Kegunaan gue tuh cuma satu sih,lo mau tau ga Sherli?" tanya Rezaldi dengan tatapan menggoda.


"Buaya buntung beraksi dah" cibir Aril memutar matanya malas.


Sherli menatap permusuhan kearah kakak kelasnya itu yang sayangnya adalah teman dari crushnya,"Engga terimakasih!"jawabnya menjadi lelucon bahkan Rezaldi sendiri tersenyum lebar.


Rezaldi tidak menghiraukan tawa ledekan dari teman-temannya kecuali gara yang tidak tertawa dan juga bintang yang sedang cosplay jadi bisu,,.


Rezaldi mendekat kearah sherli menyisakan dua langkah diantara mereka,"Gue berguna banget,malahan kalo gue mati,lo ga bakal bisa hidup,kita itu diciptakan satu sama lain saling melengkapi dan mencintai"gombal bikin tak hih!.


"Alah mulut buaya emang berbisa cuma ngumbar janji doang" cibir Nirbita.


"Ular yang berbisa mah mana ada buaya mulut nya berbisa" celetuk Davri.


"Gausah gombal-gombalanlah,kita main lompat talinya aja,yang pegang kak Bintang sama kak Gara" ujar Nirbita.


Bintang dan Gara berdiri berhadapan dilain arah dengan tali karet yang di untun sedemikian rupa agar menjadi tali yang lumayan panjang,


"Agnes Arabella" ujar Rezaldi sebari melompati karet,emang buaya cap kadal selalu saja mengurah emosi teman-temannya,apa-apaan coba nyebut nama gebetan orang sebagai orang yang disayang.


Disusul Devan,"Emak gue"ujarnya sebari melompati karet.


"Naila"Aril melompati sebari berteriak dengan senang membuat wajah bintang mendengus kesal.


Mereka terbahak melanjutkan permainan lompat tali dengan senag


Tring


Nirbita mengambil ponsel miliknya yang sengaja ia taruh di tanah agar tidak jatuh saat meloncat.


" Kenapa bi?"tanya Gara yang sedang duduk disamping Nirbita,,untuk meredakan rasa lelah karna main lompat tali mereka duduk lesehan ditanah.


"Ini Bu Sarah manggil aku buat kekantor guru" Jawab Nirbita jujur seperti apa yang ia lihat diponselnya,ni5rbita diminta datang keruang Bu Sarah saat ini.


"Buat apa Bi?"


"Gatau kak" jawabnya jujur,"Aku mau nemuin Bu Sarah dulu"


"Aku temenin!"


"Gausah kak pasti bukan masalah ko akukan ga buat masalah hari ini,jadi pasti bu sarah manggil bukan mau hukum aku" ujar Nirbita,"Aku pergi dulu ka"pamitnya pada Gara hanya diangguki saja sebagai respon.


"Gaes aku pergi dulu ya"pamitnya pada yang lain.


" Mau kemana kak?"tanya Naila.


"Ruangan bu sarah beliau manggil,kamu mau ikut?"


"Ogah" tolak Naila,"Ruang guru kan dilantai empat,mana ga ada lift lagi kan cape naik tangga"ocehnya.


"Yaudah deh,aku pergi sendiri" dengusnya sebari cemberut.


Nirbita emang aneh tadi saat Gara ingin mengantarnya malah ditolak tapi dirinya malah ngajak Naila.


Nirbita pergi seorang diri dengan tergesa karena tidak ingin membuat bu sarah menunggu terlalu lama,mana ruang guru ada dilantai empat lagi aaahhh cape,Nirbita harus menaiki tangga bejibun.


"Woy mau kemana lo?" teriak Rezaldi melihat Sherli yang melegang pergi.


Sherli tidak menjawab hanya mendengus saja dan melanjutkan langkahnya dikejar Tara tapi tidak dengan Rini,Rini masih bermain dengan Naila dan juga Risa.


Nirbita berjalan menaikan tangga untuk ke lantai empat dimana ruang guru berada,kenapa coba ruang guru ada dilantai empat?.


Baru lima tangga yang Nirbita naiki gadis itu sudah hampir dua puluh kali mengeluh,'cape' dan masih banyak tangga yang harus dia naiki untuk sampai ke lantai empat.


"Bu Sarah ngapain coba manggil segala kan bisa ketemu dikelas nanti, ahh bikin cape doang" keluhnya,"Bu Sarah juga mau ngapain si manggil segala perasaan aku ga buat ulah deh hari ini,,huaaaa cape"keluhnya berteriak heboh.


Tetep aja bikin pusing.


Tingga satu tangga yang perlu Nirbita injak setelah itu tingga berbekelok didepan pintu sebari mengetuk.


Nirbita siap mengetuk tapi tangannya belum menyentuh pintu tubuhnya terasa ada yang menarik sampai terhuyung kebelakang,"Aaaaaa".


Tarikan pada tubuh nirbita begitu kencang,Nirbita terhempas sampai ke ujung pembatas tangga jika saja tangannya tidak secara replek berpegangan pada pembatas maka tubuh Nirbita sudah terjatuh kebawah sana.


Tubuh nirbita menggantung dengan tangan sekuat tenaga berpegangan di pembatas agar tidak jatuh ke bawah sana,jika sampai jatuh tubuh nirbita sudah dipastikan akan terluka parah, "Tolong!" teriaknya sekuat tenaga.


"Tolong" Nirbita terus berteriak meminta tolong tapi tidak ada yang mendengarnya,tempat itu kosong hanya ada Nirbita yang tengah memperjuangkan hidupnya.


"Tolong,,ibu" teriak Nirbita ketakutan.


Nirbita tidak berani menatap kebawah sana dia hanya memejamkan mata sebari meneperkuat pegangannya pada pembatas agar dirinya tidak jatuh setidaknya sampai ada yang menolong.


"Tolong, tolong,ibuuu" tubuh Nirbita bergetar hebat saking takutnya sampai pegangan ditangannya semakin mengendur secara perlahan,"Ibu gamau jatuh bu takut,tolong"Nirbita berteriak meminta tolong sebari menangis hebat tapi tidak ada yang datang.


Dibawah sana Sherli yang sedang berjalan sayup-sayup mendengar teriakan,wajah Sherli terlihat kebingungan ia mencari arah suara sampai dilorong tanga,Sherli melotot melihat tubuh nirbita yang menggantung dengan sebelah tangan memegang pembatas,"Nirbita "teriaknya sebari berlari menaiki tangga secepat mungkin.


"Tolongg"teriak Nirbita serak hampir kehilangan semua tenanganya,bahkan satu tangan lainnya yang berpegangan pada pembatas sudah telepas tidak tangga sebelahnya saja dan itu terasa sakit,,secara perlahan tapi pasti tangan Nirbita yang menjadi harapan terakhir dirinya bertahan melorot.


Semakin melorot secara perlahan dan terlepas," Aaaaaaaa"Nirbita berteriak merasakan tangannya tidak lagi berpegangan pada penbatas,hanya pasrah.


Tapi ada sebuah tangan tiba-tiba meraihnya,Nirbita memberatkan diri membuka pejaman mata yang penuh dengan linangan cairan bening,"Sherli "


"Bertahan Ta gue bakal narik lo" pintanya mencoba memegangi sebelah tangan Nirbita yang tadi terlepas dari pembatas untung saja Sherli cepat waktu untuk menggapai tangan itu.


Sherli mencoba menarik tubuh Nirbita dengan kedua tangannya tapi gagal tubuh Nirbita tidak terangkat sedikitpun,"Tolong aku,aku gamau jatuh Sherli"pinta Nirbita bercucuran airmata.


"Gue usahain lo sabar ya ini gue tarik" jawab Sherli terengah-engah mencoba menarik tubuh Nirbita.


Sedangkan disisi Naila gadis itu berada dikantin untuk membeli air.


Deg


Naila memegang dadanya yang berdetak kencang,perasaan aneh bergelenyar disana,naila menoleh kesembarang arah dengan gelisah.


"Kenapa La?" tanya Risa melihat perilaku naila.


"Gatau,aku rasa ada yang aneh" jawabnya masih mengedarkan pandangan.


"Padah ga bareng Nirbita kali,kebiasaan bareng mulu kalian jadi gini kalo ditinggal bentar langsung merasa kehilangan"ujar Vania.


Yang pergi kekantin hanya para gadis saja kecuali,Nirbita yang dipanggil Bu Sarah,Sherli, Tara,dan Agnes yang sakit perut.


Naila tidak menghiraukan hatinya terasa gelisah tak karuan," Kak Ita kenapa ya?"gumannya.


Ini yang dinamakan ikatan batin:jika yang satu terluka maka satu lagi akan merasakan sakitnya begitupula Naila dan Nirbita, Nirbita yang tengah berjuang agar tidak jatuh dari lantai empat dekat tangga dan Naila merasakan ketakutan yang dirasakan kakak sepupunya itu.


"Dia gapapa kali la,si Nirbita kan cuma keruang guru nemuin Bu Sarah" ujar Rini mendengar gumanan Naila.


Perasaan Naila semakin carut marut ia tidak menanggapi teman-temannya dan berlari tunggang langgang,"Woy la mau kemana?"teriak Vania heboh.


"Tuh bocah ga bisa banget sedetik aja pisah sama si Nirbita,drama banget" cibir Vania mendumel,"kalo si Nirbita mau kencan nanti masa harus bawa Naila,eje gila"


"Aku mau kejar Naila deh kak" ujar Risa tanpa menunggu jawaban gadis itu sudah melegang pergi.


Vania hanya menggeleng kan kepala saja,"LO mau nyusul Naila juga?"tanyanya pada Rini.


Rini mengusap lehernya sebari meminum air mineral di botol sampai tandas saking hausnya,"Engga kak,aku udah ga kuat lagi jalan"jawabnya jujur.


Vania setuju dirinya juga lelah gara-gara main lompat tali,tapi entah kenapa ia tiba-tiba merasa cemas tanpa sebab, Vania menghiraukan perasaannya itu mungkin saja efek kecapean doang.


.


.


.


"Tarik aku Sherli aku takut" rengek Nirbita sebari berpegangan pada tangan Sherli bahkan tangan Sherli sudah dicakar Nirbita.

__ADS_1


"Iya" jawab Sherli menenangkan jika semakin panik maka akan semakin sulit.


"Kak Ita!" teriak Naila dari bawah tangga.


"La bantuin aku tarik Nirbita!" teriak Sherli langsung membuat Naila berlari keatas dan sesegera mungkin memegang tangan Nirbita yang dipegang Sherli.


"Tarik La!" kedua gadis itu bekerjasama sama untuk menarik Nirbita walau kesusahan apalagi Sherli hampir kehabisan tenaga.


"Nirbita!" teriak Risa yang menyusul kepergian Naila tadi langsung berlari kearah mereka dan mencoba menggapai tangan Nirbita yang tidak berpegangan ada apapun.


"Ta raih tangan aku biar kita mudah narik kamu!" pinta Risa berteriak panik,Nirbita mencoba menggapai tangan Risa susah payah.


Hap


Sebelah tangan Nirbita dipegang Sherli dan Naila dan sebelah lagi dipegang Risa,"Kita tarik sama-sama! "Mereka mengangguk.


Ketiga gadis itu menarik Nirbita sekuat tenaga,secara perlahan kaki Nirbita menyentuh pembatas,mereka terus menarik tanpa ada niatan meninggal Nirbita dimasa sulitnya ini.


Bruk


Naila langsung menubruk tubuh Nirbita untuk ia peluk dan kedua gadis itu menangis bersama sedangkan Sherli dan Risa bernapas lega sebari terduduk dilantai tenaga mereka sudah habis apalagi Sherli.


"Kak" Naila menangis hebat sekejap ia merasa akan kehilangan Nirbita saat melihat kakak sepupunya itu hampir jatuh dari pembatas tangga lantai empat,jika jatuh maka!.


Nirbita juga menangis hebat dirinya syok berat dan tertekan,tubuhnya masih bergetar takut dan,,,Naila merasakan tubuh kakak sepupunya yang ia peluk melemah dan tiba-tiba tangannya terkulai.


Naila melonggarkan pelikannya,"Kak, kak ita"panggilnya panik.


"Ta,Nirbita" panggil Risa berserta Sherli mulai khawatir.


"Gue panggil guru!" ujar Sherli panik sebari beranjak dari duduknya dan berlari ke arah pintu ruang guru saat dibuka disana tidak ada siapa-siapa,pantas saja teriakan Sherli dan Nirbita tadi tidak terdengar para guru.


Sherli berlari kembali ketempat nirbita pingsan,"Ga ada satupun guru diruang guru,,gue cari bantuan bentar lao berdua jagaian Nirbita!"ujarnya lalu berlari menuruni tangga dengan tergesa.


"Kak bangun kak" ujar Naila terus menangis sebari memanggil kakaknya agar bangun.


"Sabar la,Kira-kira harus tenang" ujar Risa mencoba tenang walau tidak bisa.


Setelah beberapa menit bantuan datang dan Nirbita dibawa kerumah sakit.


Berita ini menyebar begitu cepat seisi sekolah heboh dan ternyata sebagian guru sedang ikut dalam rapat tahunan dengan sekolah lain dan ada beberapa guru disekolah namun sedang tidak diruangan,,,karena kehebohan ini sekolah diliburkan.


.


.


.


"Kronologinya gimana sampe lo bisa kecelakaan gini?" tanya Pedro sebari menoel iseng kaki Jastin yang dipakai penyanggah.


"Gue ditabrak" jawab Jastin seadanya wajahnya masih murung seperti sejak awal siuman dari pingsan.


"Wih gila,terus yang nabrak tanggung jawab ga?" tanya Jerry.


"Gatau gue sadar udah dirumah sakit" jawabnya.


"Kalo ga tanggung jawab kurang ajar sih!,kita perlu ngasih pelajaran sama tuh orang" ujar Javas terlihat kesal.


Mereka mengangguk setuju kecuali Jastin,"Gausah gue aja ga tau siapa yang nabrak"ungkapnya.


"Masalah itumah gampang tinggal tanya warga di TKP pasti pada tau" ujar Tom.


"Gausah diperpanjang" kekeh Jastin tidak mau menambah persoalan dari hidupnya,,kali ini dirinya hanya ingin ketenangan,,dan merenung kesalahannya agar bisa berubah menjadi lebih baik, mungkin!.


"Ga bisa gitu dong!,kita harus minta tanggung jawab pelakunya!" kekeh Pedro.


"Kalo kalian mau berisik pending pada pulang sana!" usir Jastin.


Mereka berempat mendengus,"Kita mau nginep nungguin lo disini"ungkap Pedro.


"Gak! Pergi sana gue ga mau ditemenin kalian,sana balik" tolak Jastin terus mengusir mereka.


"Lo mah jahat bener masa kita diusir sih,padahal kita udah baik mau nemenin lo disini biar ga kesepian" ujar Jerry dengan wajah dibuat sedih.


"Kalo kalian nemenin gue yang ada gue ga bisa istirahat!,mending gue kesepian dari pada kepusingan!" cibir Jastin kekeh mengusir mereka.


"Lo yakin ga butuh kita temenin?"tanya Javas memastikan.


Jastin menggeleng," Engga gue bisa jaga diri,gue juga bukan anak kecil yang perlu kalian khawatir,santai aja"jawabnya.


"Yaudah kalo gitu gue cabut" ujar Javas sebari mengambil tasnya dan memakainya.


"Lo beneran mau balik?" tanya Tom pada Javas.


Javas mengangguk pelan,"Yoi,si bos udah usir kita mending balik"cibirnya sebari melakukan tos ala pria dengan Jastin.


"Lo beneran ga perlu kita temenin?" tanya Pedro kembali memastikan.


"Engga,sana balik!" usir Jastin ketus.


"Iya kita balik,kalo perlu kita tinggal chat" ujar Pedro sebari mendengus,terpaksa dirinya harus pulang karena sudah diusir penyewa kamar rumah sakit.


"Thank udah datang" ujar Jastin sebelum teman-temannya pergi.


Jastin menghela napas,sebelum pintu tertutup setelah kepergian teman-temannya Pak Ahmad masuk dengan paper bag ditangannya.


Jastin merebahkan tubuhnya dan tidak menganggap keberadaan Pak Ahmad walau sudah dia usir pria itu tetep saja ada disana,iyalah orang dia bapaknya Jastin,jika bukan Pak Ahmad siapa lagi yang nemenin Jastin saat ini.


"Papah tau kamu marah sama papah karena selama ini papah acuhin kamu,maaf Jastin,papah salah,papah pikir yang kamu butuhkan cuma harta,kalo kamu berkecukupan maka kehidupan kamu akan terjamin tapi,ternyata papah salah kamu juga butuh kasih sayang dari papah,maaf Jastin,setelah mamah kamu kabur sama pria lain,papah menjadi pria gila harta seperti yang kamu bilang,,maaf Jastin,,papah akan perbaiki hubungan kita,lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali bukan?" ujar Pak Ahmad hanya bisa ia keluarkan didalam hati.


"Papah janji bakal berubah nak,papah bakal bantuin kamu untuk mendapatkan kebahagiaan yang tidak pernah kamu dapatkan,,dan maaf papah gaakan biarin kamu bertemu sama orang itu,," gumannya dalam hati sebari menatap sang putra dengan tatapan sendu.


"Kamu udah baikan Jastin?" pertanyaan Pak Ahmad diabaikan Jastin bahkan tidak menganggap ada ayahnya itu.


"Papah bawain kamu baju ganti,papah juga bawain kamu makanan,kamu mau makan sekarang?" walau tidak dihiraukan Pak Ahmad terus mencoba mengajak jastin bicara.


Pah Ahmad menghela nafas lalu menarik kursi untuk duduk didekat ranjang rumah sakit,"Kamu ga mau jelasin apa yang udah terjadi dirumah?,kenapa Naya pergi dari rumah sambil lari juga nangis?,kamu apain dia Jastin?"tanya Pak Ahmad memilih langsung menanyakan informasi yang ia dapat dari anak buahnya.


"Bukan urusan anda" jawab Jastin sebari memberikan bahu dingin.


"Jelas ini urusan papah,kamu nyakitin anak temen papah!,kamu tau papah susah payah minta sama Pak Jeje buat ngijinin kamu jalanin hubungan sama Naya,tapi apa yang kamu buat hah!,belum apa-apa kamu udah bikin Naya nangis Jastin!" geram Pak Ahmad, setelah pertemuan pertama dengan Naya waktu itu Pak Ahmad langsung mencari informasi tentang anak gadis itu,saat tau Naya anak baik-baik ada rasa senang juga ketakutan dalam diri Pak Ahmad,ia takut anaknya membawa Naya kejalan yang sesat,setelah melihat perjuangan Jastin untuk dekat dengan Naya,Pak Ahmad berinisiatif membantu membujuk Pak Jeje untuk mengijinkan anak mereka berhubungan.


Tapi apa yang diperbuat Jastin,pria itu malah membuat Naya menangis!.


Jastin menatap papahnya dengan tatapan bingung,"Magsud papah apa?,papah bujuk pak Jeje biar ijinin Jastin sama naya pacaran?"tanyanya tak percaya, pantas saja waktu itu Pak Jeje mengijinkannya menjalin hubungan dengan Naya.


Pak Ahmad menatap jastin dengan kecewa,"iya,Pak Jeje temen papah, papah mengusulkan kamu buat dijodohin sama Naya tapi melihat kamu bikin Naya sedih papah bakal batalin,,papah gamau Naya disakiti sama anak papah sendiri"jawabnya kecewa.


Jastin merasakan hatinya begitu sakit,"Iya Jastin buat Naya kecewa,kayanya emang Jastin ga pantas dicintai"ujarnya lirih.


Pah Ahmad menggelengkan kepalanya lirih,"Setiap orang pantas dicintai hanya saja sesuai orang itu,,kalo kamu gamau kehilangan maka jangan buat kesalahan,, walau terkadang kehilangan datang karena keadaan"ujarnya sendu sebari mengingat nasib gagal pernikahannya dengan ibunya Jastin.


Jastin mengangguk"Saya orang yang sengaja membuat kesalahan dan malah kehilangan "lirih nya sebari menunduk.


Pak Ahmad merangkul Jastin untuk pertama kalinya setelah sekian tahun,dipelukan yang seorang anak rindukan ini Jastin menumpahkan kesedihannya hari ini,sebagai anak pada ayah.


Untuk sekejap ijinkan Jastin melupakan kebencian pada papahnya,untuk sekejap ijinkan Jastin merasakan rangkulan papahnya,untuk sekejap ijinkan Jastin merasakan kasih sayang yang sudah ia lupakan selama beberapa tahun ini.


Jastin meringis malu setelah tersadar dirinya menangis dipelukan pria yang selalu ia caci dan bentak,Jastin mengusap wajahnya kasar,"Saya kelilipan tadi"elaknya tidak mau dituduh menangis.


"Cowo juga manusia jastin kita berhak menangis" ujar Pak Ahmad mengusap kepala Jastin membuat pemuda itu membeku.


"Bisa kamu jelaskan apa yang kamu lakuin sama Naya sampe dia lari dari kamar kamu sambil nangis?,kamu ga lecehin dia kan?"tanya Pak Ahmad berang.


"Gausah souzon!,saya ga akan pernah merusak orang yang saya cinta" jawabnya jujur.


"Gausah bicara omong kosong!,kalo kamu cinta sama Naya kamu ga mungkin buat dia nangis"kesal Pak Ahmad tidak akan mendukung anaknya jika salah.


"Ya saya buat kesalahan hingga kehilangan Naya" Jastin menunduk mengusap sudut matanya yang kembali mengeluarkan cairan bening disana dirinya tidak mau ketahuan menangis lagi.


"Minta maaf!,papah tau minta maaf ga akan buat masalah kamu sama naya selesai,tapi itu awal untuk memperbaiki semuanya jika kamu beneran menyesali kesalahan itu,,tapi satu hal perlu kamu tau jastin,kalo kamu mau berubah maka kamu harus berubah karna allah bukan karna ciptaannya" Pak Ahmad memberikan wejangan.


"Dekatkan diri pada allah akan membuat hatimu menjadi tenang nak" Pak Ahmad meneteskan air mata untuk pertama kali dirinya bicara dan dengar baik oleh putranya.


Apakah hubungan mereka akan membaik?

__ADS_1


__ADS_2