DIARY TRIPLET N

DIARY TRIPLET N
Serba tiga


__ADS_3

Kejadian dikelas 10C ipa sudah menyebar disekolah widudarma bahkan forum sekolah juga penuh dengan berita itu,para guru juga sedang menyelidikinya.


"Lo udah dengarkan kejadian teror yang dialami Naila sama Nirbita?" tanya Rina sebari menatap dua temannya kini mereka masih dikelas saat jam istirahat.


"Hmm kenapa emang?" tanya Sherli tanpa melihat si penanya.


"Mmm bukan lo kan?" selidik Tara disetujui Rina membuat Sherli yang ditanya menatap dua temannya itu dengan tajam.


"Gausah nuduh lo!" pekiknya kesal.


"Kita bukan nuduh Sher,kita tuh nanya doang iyakan rin?" ujar Tara tidak ingin temannya itu mengamuk.


"Iya" jawab Rina.


"Bukan gue,terserah kalian mau percaya atau engga,tapi yang dilakukan peneror itu bukan gaya gue banget!,pengecut!"desis Sherli


Tanpa mereka sadari ada seorang remaja yang tengah menguping pembicaraan mereka dibalik tembok,sebenarnya Sherli sudah menyadari sejak tadi ia tersenyum miring saat melihat bayangan orang itu berlalu.


.


.


.


"Kalian ga ada yang dicurigain gitu?" selidik Farel kini mereka tengah dikantin.


"Bisa ga gausah bahas itu mulu!" dengus Naila dengan menekuk wajahnya.


"Iyaiya sory abisnya gue penasaran siapa yang udah teror kalian berdua,mungkin ada yang kalian curigai,contohnya geng Sherli gitu"


"Bukan" ujar Wahyu yang baru bergabung bersama mereka.


"Sotoy banget lo!,dateng-dateng langsung nyaut aja!"cibir Rezaldi


"Lo tau sesuatu?" tanya Gara dengan suara datarnya cukup membuat mereka melongo sebab belum terbiasa dengan dua kata lebih yang pria itu katakan.


Wahyu ditatap mereka menjadi gugup,"gausah natap gitu dong bang gue kan jadi gugup mau jawabnya"ujarnya jujur terhadap geng inti ALGASKAR beserta temannya yang lain.


Mereka mendengus mendengar respon Wahyu,"tinggal jawab juga!"cibir Davri membuat Wahyu memukul belakang kepala pria itu.


"Sakit beg*" umpat nya sebari mengelus bekas pukulan.


"Gausah becanda!"sentak Bintang bersamaan dengan gara membuat penghuni kantin menjadi sunyi.


"Mmm kak sosis" ujar Nirbita menghentikan kesunyian dikantin,gadis itu menatap Farel dengan tatapan permohonan membuat bulu kuduk pria itu meremang.


Walaupun beberapa hari lalu mereka bercekcok tapi mereka akan bersikap seolah tidak pernah ada percekcokan jika kembali dipertemukan,begitulah persahabatan tidak ada kata maaf atau terimakasih untuk menjabarkan nya.


"Gue lupa ada rapat" pekiknya lalu berlari untuk menjauh dari Nirbita yang menunjukkan mata pupel eyes,jika sudah seperti itu pasti akan ada sesuatu hal yang membuatnya tersiksa,Wahyu dan Davri menyadari alarm berbahaya berbunyi dikepala mereka juga ikut berlari tak tentu arah.


"Woy kalian mau kemana?" teriak Devan melihat mereka berlari.


Triplet yang melihat itu mendengus kesal,"padahal cuma mau dimintain tolong doang "guman Nirbita.


"Mau minta tolong apa bi?" tanya Gara melihat wajah Nirbita yang berubah sedih.


"Aku mau minta tolong sama mereka buat jagain kucing kak"jawaban Nirbita membuat Agnes tersedak ringan.


"Lo punya kucing ita?" tanya Aril si penyuka kucing Nirbita mengangguk menyiakan.


"Wih titipin kegua aja,gue juga punya banyak dirumah siapa tau kita bisa besanan" ujarnya terkikik geli.


"Geli gue nji*r,cowo ko suka kucing heran gue!" cibir Rezaldi.


"Daripada suka mainin perasaan cewe!" cibir Naila dengan wajah mengejek menatap Rezaldi.


Mereka terbahak


"Kenapa kamu titipin emangnya?" tanya gara tidak menghiraukan teman-temannya yang masih saling ejek dengan Rezaldi.


"Soalnya aku sama kak Naya sama ila mau ngungsi buat sementara kak,jadi gaada yang urusin kucing,harimau sama anjing peliharaan kami"jawab Nirbita didengar mereka.


"Wih keren lo pelihara harimau ta?" seru Rezaldi antusias.


"Itu pelihara ila ya!" jawab Naila,Agnes yang hanya mendengarkan ingin sekali tertawa tapi sebisa mungkin ia tahan.


"Keren juga lo ila!,noh kaya si ila kalo pelihara mah pelihara harimau" cibir Rezaldi sebari menyiku Aril.


"Harimau juga termasuk kucing ya *njir! " dengus Aril tak terima.


"Harimaunya jinak la?" tanya Devan sebari terkekeh ia sudah tau hewan peliharaan triplet dari sang kakak ingin sekali ia tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Jinak ko nurut pokonya!" ujar Agnes menahan tawa.


"Wih lo udah liat nes?" tanya Rezaldi diangguki Agnes dengan wajah memerah menahan tawa.


Rasanya Agnes dan Devan ingin berteriak,"yang mereka magsud kambing ya *njir"


Emang pilihan terbaik untuk Farel, davri dan wahyu kabur tadi demi menyelamatkan kewarasan yang tersisa diotak mereka.


Naya sedari tadi hanya diam tidak menanggapi dipikirannya sedang berkecamuk dengan banyak pertanyaan.


Siapa yang udah neror adik-adiknya?


Siapa yang udah neror dirinya?


Apa mereka orang yang sama?


Auah Naya pusing memikirkannya gadis itu berdiri dari duduknya"kakak ke kelas dulu,kalo kalian udah makannya langsung balik ke kelas"ujarnya pada dua saudarinya barulah ia pergi.


"Si Naya diem-diem bae,dia lagi sariawan ya?" cibir Rezaldi.


"Diam adalah cara terbaik mengurangi dosa" jawab Naila membuat Rezaldi mendengus.


"Iyaiya gue mending diem dah, di ulti mulu perasaan"dengus nya membuat mereka terbahak.


Naya pergi dari kantin ia sesekali menatap kebelakang antisipasi takut ada yang mengikutinya,entah si peneror mungkin.


Naya kembali membuka loker miliknya dan ternyata kertas putih yang sudah bercampur noda merah dengan bau menyengat beserta tulisan bertinta hitam itu masih ada,Naya beberapa detik menatap kertas itu dengan pandangan rumit,lalu menghela nafas dan mengambilnya dengan jijik.


Sebelum mengeluarkan kertas itu dari loker naya celingak-celinguk mengawasi sekitar ia tidak mau ada yang tau dengan kejadian ini,setelah yakin tidak ada siapa-siapa selain dirinya,naya menjewer ujung kertas dengan jijik dan membuangnya ditong sampah disudut loker.


Naya menepuk-nepuk tangannya sebari menghela nafas,"the last game Nirbita"gumannya dan berlalu dari sana.


Kejadian yang terjadi pada meja Naila terus menjadi pembincangan sedangkan siempunya malah bersikap bodo amat selama nyawa mereka aman,karna ada allah yang bisa mereka jadikan sandaran bismillah saja.


Setelah jam menguras otak dilangsungkan akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga apalagi jika bukan bubar!.


Naila berjalan beriringan dengan Agnes dan Davri sedangkan Nirbita dengan Rayhan sedang membicarakan kerja kelompok yang baru diberikan guru tadi dikelas.


"Bocil" pekik Devan disudut koridor yang menyambungakan bangunan IPA dan IPS.


"Kenapa kak?" tanya Naila sebari menghampiri pria itu.


"Gapapa manggil aja" jawabnya sebari cengengesan.


"Kimi gipipikin niili"cibir Rezaldi mengikuti cara bicara Bintang dan langsung mendapat tendangan ditulang keringnya.


"Sakit *njir,ini namanya kdrt!" pekiknya.


"Gapapa ko ka" jawabnya.


"Hai Agnes" sapa Devan sebari tersenyum malu-malu membuat aril dan Rezaldi terbahak.


"Hai kak"


"Kamu mau pulang?" tanyanya lagi


"Yaiyalah lo pikir!,mau nginep gitu disini rajin banget" cibir Rezaldi menjawab pertanyaan untuk Agnes membuat Devan mendengus.


"Gue lagi basa-basi,bisa diem ga si lo!" sentak Devan kesal.


"Segala basa-basi langsung aja gaet kak,di gosting baru tau!" cibir Naila membuat Devan cemberut dan yang lain terbahak kecuali Gara ,dan Agnes yang hanya tersenyum malu-malu.


"Nirbita mana?" tanya Gara membuat mereka berhenti tertawa dan menatap pria datar tersebut.


"Kak ita masih dikelas kak" jawab Naila.


"Iya dia lagi mojok sama Rayhan,ga modal banget tuh si ketua kelas ngajak mojok temen gue dikelas di mall ke!" cibir Davri sengaja memanasi hati Gara.


Benar saja Gara mengepalkan tangannya dan melegang pergi dari sana tentu saja tujuannya menyusul gadisnya,eh gadisnya?.


Melihat kepergian Gara, Davri yang menahan tawa langsung terbahak begitupun yang lain.


"Ngintip yu gue pengen tau kulkas tujuh pintu kalo cemburu gimana?" seru Rezaldi disetujui mereka dan menyusul gara dengan mengendap-endap agar bisa menguping.


Sedangkan Naya baru keluar dari toilet dan berpapasan dengan vania ditoilet juga jadilah mereka keluar bersama.


"Balik sama siapa?" tanya Naya datar membuat Vania tersentak sebab biasanya Naya tidak suka bertanya atau banyak bicara kecuali sedang bersama triplet atau Farel.


"Gue?" tanyanya menunjuk diri sendiri,"gue dijemput supir"


"Ouh,gue boleh tanya? " ujar Naya menghentikan langkahnya untuk sekedar berhadapan dengan vania.

__ADS_1


Vania mengangguk,"mau tanya apa?"ujarnya dengan perasaan dagdigdug bahkan tanpa diduga keringan dingin membasahi tangannya.


"Lo ada hubungan apa sama Farel? " tanya Naya membuat vania menaikan sebelah halisnya bingung.


"Magsud lo?" tanyanya tidak ngerti.


"Jawab ajasi!,lo ada hubungan apa sama Farel selain ketua dan wakil osis?" tanya Naya sekali lagi sebari memutar matanya malas.


"Gaada" jawabnya ketus sebari mengepalkan tangannya,"kalopun ada apa hubungan nya sama lo?,lo cemburu?,"


"Cemburu?,ya kagalah!,gue cuma sahabat kecil dia!,gue cuma mau bilang aja si,anggap aja ini peringatan buat lo dari sahabatnya Farel"jawab Naya sebari mengedikan bahunya.


"Kalo lo mau sesuatu itu berjuang bukan menjatuhkan!" sambung Naya sebari menepuk sebelah pundak Vania lalu mengedikan bahunya acuh sebari berkata,"lo pasti paham magsud gue!"dan berlalu meninggalkan va6nia yang mematung ditempatnya.


"Dia curiga atau udah tau?" monolog vania masih terdiam seperti patung ditempatnya.


Naya berjalan menuju parkiran untuk menunggu saudarinya disana untuk pulang,ia memicingkan mata saat berpapasan dengan rombongan di Koridor penyambung gedung IPA IPS.


"Dari mana?" tanyanya pada Nirbita yang berjalan di samping gara.


"Kelas kak,yu pulang,katanya kita dijemput papi" seru Nirbita membuat mereka menaikan halisnya.


"Beneran kak?,kakak ga bohong kan?" tanya Naila berbinar.


Tadi mereka baru saja menguping karna ingin tahu bagaimana jika kulkas tujuh pintu cemburu,tapi ternyata harapan mereka kecewa,mereka pikir bakal ada adu jotos antara Gara dan Rayhan,tapi ternyata nyali Rayhan tidak sebesar itu baru saja ditatap tajam oleh Gara, pria itu bergidik dan kabur meninggalkan Nirbita dikelas begitu saja.


"Engga ko ayah tadi udah chat di grup,cek aja kalo ga percaya" jawab Nirbita.


"Papi?,lo punya berapa bapak si ta?" tanya Rezaldi heran sebab ia pernah bertemu dengan orang tua triplet yang mereka panggil dengan sebutan'ayah'lalu siapa sosok 'papi'ini.


"Punya ayah tiga" jawabnya membuat mereka melongo dengan pikiran mereka masing-masing kecuali FAREL-DAVRI dan Gara.


"Banyak amat!"


"Iya mereka punya ayah tiga ibu tiga abang tiga,komplit dah tiga-tiga,mana abang mereka posesif nya innalillahi,kalo kalian mau sama ni bocah tiga kalian harus dapat restu abangnya tiga juga" ujar Farel membuat Davri terbahak mengingat ke posesifan tiga abang yang dimagsud.


"Hanya tiga abang langit aja akan bintang gapai,ia ga bin?" ujar Aril sebari menepuk pundak bintang yang hanya direspon dengusan saja.


"Gue mah angkat tangan,mending sama neng Agnes Iya gak neng," goda Rezaldi langsung mendapat tendangan dari Devan.


"Sante anj*rr gue cuma becanda!" dengus Rezaldi,"makanya gercep gausah sok malu-malu biasanya juga malu-maluin lo!"cibir nya kearah Devan.


Mendengar Farel begitu mengenalkan tentang triplet membuat seseorang mengepalkan tangannya,ia mencoba menenangkan hatinya yang sedang berkecamuk.


"Kak wakisis" seru Naila membuat Vania tersentak ketika mereka berpapasan.


"Eh Hai kenapa ya?" tanyanya bingung.


"Wakisis?,bukannya nama lo Vania ya?" tanya Aril setengah berpikir ia bingung siapa yang dimagsud wakisis sedangkan disana hanya ada mereka saja.


"Iya nama gue Vania" jawab Vania.


"Heh bocil lo suka banget ngerubah nama orang!" cibir Farel membuat mereka mendengus dan mengerti.


"Biar simpel tau!" dengus Naila.


"Simpel pala lo,nama orang jadi jelek,tenang neng biar abang urus ni bocil seenaknya aja ngubah nama orang!" ujar Rezaldi membuat mereka memutar mata malas.


Namanya juga buaya cap kadal dimanapun dan kapanpun itu dia bisa beraksi,apa perlu Rezaldi ini kita tumbalkan untuk penghuni mangga pak selamet agar tidak mengganggu Rangga terus?,jika dipikir-pikir menurut Nirbita bukan ide buruk,ingatkan dia untuk melakukannya nanti.


Naila memeluk sebelah tangan Vania membuat gadis itu tersentak,"tenang kak ada aku yang bakal jagain kakak dari setan penghuni sekolah!"serunya membuat mereka terbahak kecuali Gara,dan Rezaldi yang mendengus.


Setelah drama tidak penting mereka berjalan bersama menuju parkiran,area sekolah belum terlalu sepi masih ada beberapa yang baru beranjak untuk pulang sama seperti mereka.


Triplet memicingkan mata ketika melihat seorang pria dewasa bersandar dimobil dengan gaya cool bahkan banyak siswi sekolah yang sengaja tidak langsung pulang untuk menatap pria dengan wajah tampan dan tubuh kekar walau tertutup kaos lengan panjang itu.


Kapan lagi bisa melihat pria sekekar dan setampan itu!.


"Ko kaya kenal" guman mereka serempak.


"Gila tuh cowo siapa?,badanya keker banget padahal pake baju bayangin kalo ga pake baju" pekik Rezaldi membuat mereka yang mendengarnya bergidik bahkan Aril dan Davri yang berdiri disamping pria itu langsung bergeser menjaga jarak aman.


Bintang menutup mata Naila agar tidak melihat pria itu hatinya memanas saat melihat tatapan berbinar dari gadis itu untuk entah siapa pria itu.


"Ih ko ditutup si?" gerutu Naila sebari menurunkan tangan Bintang dari matanya.


Gara juga melakukan hal yang sama bahkan sebelah tangan yang lain menggenggam tangan nirbita sekedar antisipasi jika gadis itu pergi menghampiri entah siapa pria itu,ia bisa mencegahnya dengan cara seperti ini!.


"Abang ES!" pekik Naya membuat kedua saudarinya membola sebari tersenyum lebar, Naya dan Naila langsung berlari menghampiri pria yang Naya panggil abang Es itu,sedangkan Nirbita berontak dari cekalan tangan Gara bahkan sampai menggigit tangan pria itu agar melepaskannya dan.


Hap

__ADS_1


Berhasil ia langsung berlari tanpa beduli dengan tangan gara yang ia gigit sekencang mungkin hingga cekalan tangan pria itu terlepas dari tangannya,Nirbita menyusul dua saudari yang sudah lebih dulu memeluk pria itu membuat kaum hawa yang melihatnya menjerit.


__ADS_2