
Setelah pertandingan usai Gara pergi dari sana tanpa menghiraukan fans-fansnya yang berniat memberinya sebotol minum,entah manfaatnya apa author pun kaga paham sebab belum pernah melakukan itu wkwkwkw.
Gara melewati semua fansnya tanpa menghiraukan mereka sama sekali.
"Woy mau kemana lo Gar?" tanya CAKRA setengah berteriak memanggil Gara.
"Cari doi" jawabnya enteng namun jawaban itu berhasil membuat semua siswi patah hati maka mereka akan mencari siapa doi yang dimagsud gara.
Hari patah hati(caption mereka dalam status chat)
Cakra menganga mendengar jawaban boa dari geng sepupunya itu,ia tidak menyangka pria dingin itu akan memiliki kekasih,"Ck gue keduluan"gumannya ngenes karna masih jomblo,bukan jomblo sebenar hanya saja gadis yang ia taksir masih menjadi kekasih orang.
Ku tunggu jomblomu,begitulah ibarat Cakra yang menolak dikatakan jomblo.
Cakra beralih menghampiri Devan yang sedang bersama seorang gadis entah cakra tidak kenal,"Pacar lo pan?"tanyanya sebari sedikit tersentak saat melihat wajah gadis itu namun secepatnya mengubah raut wajahnya kembali santai.
"Pan, pan,lo pikir gue papan,nama gue Devan,perlu gue ejah?!" dengusnya tidak terima.
"Sama aja,pan,nama lo kan depan jadi gue ga salah manggil lo pan" saut Cakra santai.
"Pala lo ga masalah,seenak undel aje ganti nama gue,pake v bukan p,pe'a lomah,ema gue ngasih nama pake sukuran dulu lah elo malah seenaknya ganti"sewotnya menggebu.
"Gausah marah-marah dong,ga malu apa sama pacar lo?,masalah kecil gitu aja diperpanjang" ejek Cakra membuat Devan mendengus.
"Sory ya Nes,gausah dengerin orgil ngomong" ujar Devan membuat Agnes tersenyum tidak enak.
"Lo dong" ujar Cakra.
"Hah magsud lo?" tanya Devan tidak mengerti.
"Lo kan bilang gausah dengerin orgil ngomong,lah kan elo yang ngomong tadi jadi siapa orgilnya?" jawab Cakra menjelaskan sebari mengusap lehernya yang penuh keringat,bahkan keringat di bajunya jika diperas bisa mendapat seember air.
"Gue" jawab Devan dimode gobl*gnya sebari terbentang berbeda dengan Agnes yang menahan tawa dan Cakra yang terbahak.
"Ngaku juga lo gila" bahaknya.
"Gue ga gila ya!,gue masih waras lo tuh yang gila,nungguin orang putus" ejek devan membuka kartu As Cakra.
Pria itu mendengus,"Lo mah ga asik"sautnya dengan raut kesal,"Eh lo mending jauh-jauh sama dia,otaknya kadang koslet soalnya kan kasian di lo,lo kan cantik mending cari yang ganteng aja gausah modelan kaya dia"peringat Cakra berkata serius membuat Devan menatap tajam tidak terima,namun tidak dihiraukan cakra yang melegang pergi lalu ada seorang gadis yang menghampirinya memberikan sebotol minum yang pria itu terima.
"Sorry ya Mes,dia emang gitu,maklumlah temen-temen gue ga ada yang waras"
Agnes hanya terkekeh,"Kakak ada-ada aja masa temen-temennya di bilang ga waras"
"Emang iya ko" jawab Devan membenarkan,"Mereka kaga ada yang waras,eh makasihnya minum nya gue minum sampe abis nih"ujarnya sebari menunjukkan botol air mineral yang kini kosong.
"Sama-sama kak,eh yang tadi namanya siapa kak?" tanya Agnes kepo.
"Namanya Cakra,kenapa lo mau gebet dia?" tanya Devan dengan nada kesal sebari menatap kearah depan.
Agnes terkekeh,"Nanya doang ko,katanya ketua basket Bima Sakti itu sekaligus Ketua geng motor juga,emang iya?"
Devan mengangguk dengan tatapan masih kedepan dengan raut wajah yang masih terlihat kesal,"Iya Cakra Ketua geng firaun"
Agnes terkikik pelan,"Mamanya unik ya"
"Hmm" jawab Devan malas.
Melihat raut wajah Devan terhadapnya yang membahas pria lain membuat Agnes puas,walaupun belum memiliki perasaan pada pria ini tapi rasanya dia tidak iklas jika devan bersama gadis lain,Devan cemburu artinya ia suka bukan?,maka jika begitu sebari ia memastikan perasaannya pada cowo lain ia masih memiliki devan yang akan menunggunya.
Jika tidak bisa mendapatkan pria itu masih ada Devan yang mencintainya,Agnes bernapas lega,egois ya begitulah cinta,bodoh,memaksa.
Cinta tidak pernah salah hanya saja pada siapa cinta itu singgah hingga menjadi masalah,akan ada salah satu hati yang tersakiti.
.
.
.
Gara berjalan melewati beberapa kelas dengan tubuhnya yang basah keringat walau ia merasa lengket dan segera ingin ganti baju,tapi rasanya ia belum tenang jika belum bertemu gadis yang selalu berada dipikirannya.
Didepan kelas gadis yang ia cari, Gara melihat kaki yang menjulur dikursi tanpa terlihat tubuhnya karna terhalang meja,tenang masih manusia bukan setan!.
Gara berjalan santai mendekat kearah orang yang sedang tidur terbaring dikursi dengan wajahnya yang ditutup lengan orang itu,rambutnya tergerai mengenai lantai namun gadis itu tidak peduli dan tetap tidur.
"Naya?" guman Gara walau wajahnya tidak terlihat tapi tag nama di bajunya terbaca jelas.
"Kalo dia Naya,Nirbita kemana?" monolognya sendiri,"Naya bangun!"ujarnya mencoba membangunkan Naya dengan memanggil-manggil nama gadis itu.
"Hmm" ketiga panggilan Naya hanya merespon dengan deheman saja karna tidurnya terasa diusik,Naya menurunkam tangannya dari wajah sebari memaksakan membuka mata,padahal ia masih nyaman untuk tidur.
"Nirbita kemana?" tanya Gara mendengar deheman Naya mengartikan gadis itu terbangun.
"Gatau,pas gue samperin tuh bocah lagi tidur gue tinggal kelapangan bentaran pas balik lagi tuh bocah gaada,gue pikir ke toilet tapi belum balik-balik" jawab Naya sebari memaksakan bangun dari rebahan nya.
"Udah lo cek?"
"Males" jawabnya sebari menguap.
"Lo!,kalo ada yang ngerjain dia gimana?,lo kan tau ada penghianat disisi dia!"geram Gara dengan tingkah Naya yang malah tidak peduli,padahal biasanya paling posesif.
"Lo pikir kalo gue gatau dia dimana gue bakal tidur anteng kaya gini?!" ujar Naya mendengus karna merasa ia menyepelekan masalah,padahal tidak,jika ia tidak yakin dengan keamanan adik-adiknya maka Naya tidak akan tidur anteng seperti tadi,Naya sangat menyayangi kedua adiknya itu walau terkadang nyebelin,bukan terkadang tapi emang nyebelin,tidak akan Naya biarkan ada yang menyakiti mereka seujung kuku pun.
__ADS_1
"Emang lo tau dia dimana?" tanya Gara tidak mempermasalahkan kekesalan Naya.
"Rumah" jawab Naya ketus.
"Rumah?" beo Gara,"dia balik?,sama siapa?"
Naya tersenyum paksa pada remaja yang menyukai adiknya itu tapi Naya belum memberi lampu hijau,setidaknya jika ingin memiliki hubungan dengan adik-adiknya maka harus mendapatkan restu para kakaknya,semua kakaknya tanpa terlewat satupun!.
"Bukan urusan lo!" hardik Naya sebari bibirnya bergerak mercak-mercak tanpa suara,"Mending lo balik aja ke jaman purba kalo mau saling kabarin harus lewat surat,harus lewat telepati,merpati,jaman udah moderen manfaatin dong,telepon ke biar lo tau langsung dari orangnya"nyinyir Naya tak dihiraukan Gara,pria itu malah pergi begitu saja membuat Naya terus mercak-mercak,udah mengganggu tidurnya,nanya beruntun,nuduh-nuduh,trus pergi gitu aja!,hellow,sumpah Naya kesel.
Setelah mendengar jawaban Naya tentang keberadaan gadisnya Gara melegang pergi ke kelas untuk mengambil ponselnya,benar kata Naya jaman sudah moderen kenapa ga dimanfaatin dasar kalo udah cinta dunia jadi masa purba!,melepas rindu hanya bisa terbalas dengan tatapan muka.
Deringan pertama tidak diangkat,kedua,ketiga,"Kalo ga diangkat juga gue susul pokonya"gumannya kesal sekaligus khawatir,bagaimana jika Nirbita diculik saat diperjalanan?,bayang-bayang negatif terus gentayangan dikepala Gara seperti hantu penasaran.
Gara kembali menelepon nirbita untuk percobaan terakhir sebelum ia menyusul gadis itu,"Hallo"
Sial
Gara sih berharapnya tidak diangkat agar ada alasan menemui gadis itu kerumahnya,"Hallo,bi kamu dimana sekarang?,aku kesana ya!"
Disebrang sana Nirbita baru saja sampai dirumah dan mendapatkan omelan Bu Putri yang masih ada dirumah Rangga sejak kemarin,,wanita paruh baya itu melarang keras anak-anaknya untuk membolos walaupun pelajaran kosong,ia tidak mau anaknya menjadi anak yang tidak bertanggung jawab,dan amanah,kan seharusnya Nirbita menuruti perintah guru untuk tetap disekolah walau tidak ada pelajaran setidaknya sampai diijinkan pulang.
Nirbita sudah menjelaskan tapi Bu Putri menolak paham,dan terus menceramahi Nirbita hingga gadis itu cemberut,mamihnya ini tidak menghargai usahanya untuk bolos,sudah melewatkan cogan,memanjat tembok,jalan kaki,terus pesen taxi hingga nunggu taxi itu datang butuh perjuangan apalagi hari tengah terik dengan mentari,sampai dirumah bayar taxi pake uang jajan dan malah kena omelan,huh semua sia-sia.
Eh engga sia-sia deh,pas Nirbita mau kembali ke sekolah karna mendapatkan omelan Bu Putri,mamihnya itu melarang dan malah memintanya masuk kerumah untuk ganti baju dan makan,memang aneh Vu Putri ini,tadi diomelin pas mau balik lagi dilarang,emang ema-ema selalu benar!.
SEN KANAN AJA BELOK NYA KE KIRI!.
Saat Gara menelepon gadis itu tengah makan dan belum mandi,mengisi perut itu utama!,sekali sampai tiga kali ia dimakan ponselnya bernyanyi sendiri dan berhenti sendiri,niatnya Nirbita akan terus mendiamkannya lumayan dengerin lagu tanpa cape-cape pencat-pencet tombol ponsel,ckckckck,namun malah ditegur Bu Putri untuk segera diangkat,kalo tidak Bu Putri mengancam akan melempar ponsel nirbita ke kolam ikan.
Sadis sekali mamihnya itu jika tengah menstrubasi eh salah mentruasi,ingat kawan-kawan jangan mengusik wanita yang tengah mentruasi jika tidak ingin kena amukan algojo yang tersembunyi,bagi kami kaum wanita melihat orang bernafas disamping saja sudah salah!.
Terpaksalah dia mengalah dan mengangkatnya walau ogah-ogahan,padahan jika dibuang sang mamih lumayan bisa minta ponsel baru pada abangnya,huhhh seharusnya tidak usah diangkat,,gagal sudah dapat ponsel baru!.
"Ita dirumah kak,kakak mau kerumah?,padahal ita mau tidur" jawabnya pada si penelepon.
"Sama siapa pulang nyah?"
"Sendiri kak" jawabnya sebari menyuapkan nasi kedalam mulut.
"Ouh padahal mau aku ajak jalan dulu tadi sebelum pulang,gajadi deh"
"Yah kakak sih seharusnya ngasih tau ita kalo mau ngajak jalan,kan ita gabakal pulang duluan" jawab Nirbita setelah menelan makanan di mulutnya.
"Aku mau kasih tau,tapi kamunya tidur,aku juga tungguin dilapangan tapi kamu gaada,padahal aku berharap banget kamu nonton pertandingan tadi"
"Pertandingan" beonya,"Pertandingan apa kak?,ita gatau ada pertandingan"
Nirbita mengangguk padahal gara tidak bisa melihatnya sebari tangan kanannya mengambil sambel dipiring, "Ouh pantesan ribut banget dilapangan,tapi aku ga cek soalnya udah kebelet mau pulang,,,gimana pertandingannya kak?"
"Kalah,,,karna ga disemangatin ayang" jawabnya membuat Nirbita menghentikan pergerakan tangannya ada rasa sesak dihati saat Gara mengatakan ayang,siapa yang dimagsud pria itu?.
"Ouh harusnya kakak minta disemangatin aja mungkin ayangnya lupa" jawab Nirbita lirih,makanan yang sejak tadi ia makan sangat enak dan menggugah selera tapi mendadak hambar.
"Bukan lupa sih lebih tepatnya gatau ada pertandingan malah tidur dikelas" jawab Gara membuat Nirbita penasaran dan menggenggam sendok dengan kencang.
"Kan kakak bisa bangunin,bukan salah ayang kakak yang ga nyemangatin tapi salah kakak ga ngasih tau dia ada pertandingan!" ujar Nirbita lirih sebari menyembunyikan nada kesalnya namun Gara masih menangkap kekesalah gadis itu lewat suaranya.
"Iya emang salah aku ko,maaf ya" ujar Gara di sebarang sana sebari tersenyum untung dikelasnya itu sedang sepi jadi tidak ada yang menikmati senyum indahnya.
"Ko minta maaf sama aku sih?,minta maaf sama ayangnya dong,kan kakak nyalahin dia karna kakak kalah!" kesal Nirbita tidak bisa disembunyikan.
"Aku ga nyalahin karna aku kalah,aku cuma kesel sama diri sendiri lupa ngasih tau kamu kalo ada pertandingan,kan kalo ga lupa kamu bisa semangatin aku" jawab Gara membuat Nirbita terbengong.
"Ko ngasih tau aku sih kan?,kan harusnya ngasih tau ayang kakak"
"Karna ayang yang aku magsud itu kamu bi" jawab Gara dengan nada lembut sejak tadi.
Bibir nirbita berkedut keatas dengan mata memejam,gadis itu menahan tawa dengan cara melipat bibirnya kebawah dengan semburan kegirangan dimatanya,bahkan gadis itu menutup wajahnya menggunakan tangan kanan yang masih menegang sendok,dan tangan kiri yang memegang ponsel ia jauhkan dari wajahnya,"aaaaaa"teriaknya tampa suara.
Untung bukan vidiocall jadi saltinya Nirbita tidak bisa dilihat Gara,arrrrr
Bu Putri yang tengah lewat dibuat heran dengan tingkah Nirbita,"Kalo makan tinggal makan gausah sambil teleponan segala,itu namanya ga menghargai makanan mana pake senyum-senyum lagi!"hardik Bu Putri yang emosinya selalu memuncah walau tidak dipancing.
Senyum Nirbita tidak luntur saat melihat kearah sang mamih yang sedang menatapnya garang,"Siap bos"jawabnya.
Bu Putri ini lemah lembut,baik hati,namun dalam sebulan tujuh hari ada masanya Bu Putri menjadi monster yang ditakuti seisi keluarga besar triplet,jadi jangan macam-macam pada waktunya.
"Kak aku tutup dulu ya nanti aku telepon lagi kalo udah selesai makan" ujar Nirbita pada ponselnya yang masih menghubungkan dengan nomor Gara.
"Yaudah aku tunggu"dengan tak iklas telepon itu tertutup.
Makanan yang kembali terlihat enak di depan mata masih membumbuh banyak dimeja,entah angin apa tapi ia merasa sudah kenyang dengan pengakuan Gara tadi,hati gadis polos itu membuncah seperti ada kupu-kupu berterbangan di perutnya,jantungnya juga berdetak sangat kencang seperti ingin keluar dari tempatnya,"ita ga punya riwayat jantung tapi ko detaknya kenceng banget kaya lagi lomba marathon sama paru-paru"
Bu Putri tidak menanggapi gunakan gadis itu yang sangat terdengar jelas ditelinganya'dasar anak muda'tatapan Bu Putri seolah hanya mengatakan itu sebari pergi dari dapur.
Setelah makan Nirbita memilih untuk mandi barulah merebahkan diri dan kembali menelepon Gara seperti janjinya yang akan menelepon pria itu kembali,tapi sial panggilannya tidak di angkat,apa Gara balas dendam karna tadi Nirbita lama mengangkat panggilannya?,huh pendendam!.
Nirbita memilih mengirim chat saja,"Kakak jalan yu,jemput aku dirumah"pesan itu terkirim dan hanya centrang biru dua,gadis itu mendengus dan memilih memejamkan mata untuk tidur sejenak mumpung masih siang dan tidak ada yang mengganggu.
.
.
__ADS_1
.
Disisi lain Naila mengundang geng barunya untuk main kerumahnya untuk bermain,setelah perjalanan lumayan menghabiskan bengsin akhirnya mereka sampai dirumah Naila eh magsudnya dirumah Rangga.
Naila mempersilahkan teman-temannya masuk kerumah abangnya itu,Naila itu sosok pencari perkara sudah tau masih bertengkar dengan Nirbita malah mengundang Sherli end the geng kerumah abangnya,entah kejadian apa yang akan terjadi setelah ini.
"Duduk dulu deh,aku buatin minum sama ambilin cemilan" ujar Naila mempersilahkan mereka duduk diruang tamu.
Mereka mengangguk duduk tenang sebari menilai dalam diam rumah yang ditempati Naila ini,bagus,rapi,luas,mewah.
"Eh ada tamu,siapa ya?" tanya Bu Putri yang muncul dari arah tangga.
Ketiga remaja itu menghampiri Bu Putri dan menyalaminya dengan sopan,walaupun suka membuli teman sekolah mereka masih memiliki sopan santun pada yang lebih tua,ya takut dikutuk jadi batu kalo ga sopan!.
"Saya Sherli tante"
"Saya Tara tante"
"Saya Rini tante" ujar mereka mengenalkan diri,"Kami temennya Naila tante,kami kesini diundang Naila"
Bu Putri mengangguk paham,"Kalian temen sekolahnya?"tanya Bu Putri melihat seragam sekolah mereka yang sama dengan ketiga keponakannya.
Mereka mengangguk,"Iya tante"
"Asalamualaikum mamih" sapa Naila dari arah dapur membawa nampan berisi empat gelas jus yang ia buat sendiri tadi.
Naila meletakan nampan itu dimeja lalu mengalami sang mamih,tentu saja Bu Putri menerimanya,"Kamu bolos kaya Nirbita?"selidik Bu Putri terlihat kesal.
Naila menggeleng,"Engga ko,sekolah dibebasin mih,emang kak ita udah pulang?"tanyanya sebari melirik keatas tangga.
"Udah lagi tidur dikamarnya mungkin,cuma Naya yang belum pulang,kemana kakak kamu satu itu?" tanya Bu Putri.
Naila menggelengkan kepalanya,"Ga tau mih,aku pulang bareng temen-temen ku,aku aja ketemu kakak cuma pas pagi doang"jawabnya acuh.
"Kenapa?,kalian masih marahan?"sentak Bu Putri tidak terima.
Naila tidak menjawab melainkan mengalihkan pembicaraan," Mih boleh keluarin jajanan dikulkas ga buat disuguhi ke teman-temanku?"tanyanya.
"Keluarin aja,kulkas butuh melangsingkan diri" jawab Bu Putri monohok karna memang kulkas dikediaman triplet sangat penuh dengan cemilan,diambil satu maka tambah seribu.
"Makasih mamih" jawab Naila senang,sebenarnya Naila tidak ijin pun ia akan ambil jajanan dikulkas itu ia hanya mengalihkan pembicaraan saja dengan mamihnya agar tidak ditanya tentang dua kakaknya,Naila masih marah pada mereka dan malas membahasnya.
"Yaudah kalian lanjut aja,kalo mau nonton inget umur,mamih mau kewarung dulu mau ada yang mamih beli,kamu mau nitip? " ujar Bu Putri sebari bertanya,sepertinya pertanyaan Naila tentang jajanan dikulkas berhasil mengalihkan pembicaraan tentang dua kakaknya itu.
"Nitip jajan mih" jawab Naila.
"Dasar!,dikulkas masih banyak sampe dia kelebihan muatan gakasihan apa sama kulkasnya?"
"Kan mau ila ambil mih,yang mamih beli nanti buat stok lagi" jawab Naila.
"Terserah,nanti mamih beliin,kamu jangan ribut sama Nirbita kalo ketemu,jangan pikir kamu ngalihin pembicaraan mamih gatau kalian masih berantem!" desis Bu Putri.
"Iya mih"
Setelah Bu Putri pergi mereka mulai duduk disofa sebari bergibah ria dan TV dinyalakan dengan tayangan kartun kucing dan tikus bernama tom end jerry,wkwkwkw Naila jadi ingat temennya Jastin yang bernama sama,lucu.
Mentang-mentang disuruh inget umur mereka malah nonton kartun,ga gitu konsepnya!.
Bu Putri memang membatasi triplet dari tontonan yang tidak sesuai umur mereka,seperti 18+ atau lebih,tapi tidak memungkiri mereka tetap suka mencuri tonton dracin ataupun drakor berlebel 18+,setiap orang memiliki sikap masing-masing.
Jika Bu Putri cukup membatasi namun tetap tidak mengekang triplet,berbeda dengan Bu Kasih yang membebaskan anaknya selama tidak melakukan hal negatif,beda lagi jika sudah abang-abang triplet mereka posesif abis.
"La lo tinggal bareng sama Nirbita?" tanya tara sebari menatap sekeliling diruang tamu ini ada figuran foto berukuran sedang dengan gambar triplet saat bayi.
Naila mengangguk lalu menggelengkan kepalanya membuat mereka bingung,"Jawab yang bener dong iya apa engga?!"sentak Sherli kesal.
"Dibilang iya tapi engga,dibilang engga juga iya" jawab Naila semakin membuat pusing.
"Yang jelas kalo ngomong!" sentak Sherli yang emang sudah tidak tahan dengan emosi yang terus dipancing Naila,emosinya belum reda setelah terpaksa meminta maaf atas kejadian menumpahkan minuman Naila padahal bajunya yang jadi korban,tapi ia yang harus minta maaf,terpaksa!,jika bukan demi deketin Bintang dan rusak hubungan triplet ogah Sherli meminta maaf.
"Sabar Sherli,orang sabar pantatnya lebar kaya sapi" ujar Naila membuat Sherli mendengus jika tidak ingt dengan rencana,Sherli sudah mengajak gelut Naila sekarang juga,bodo amat jika ini kawasan Naila!
"Bodoamat!" sewot Sherli.
Naila terbahak membuat Sherli kesal seperti biasa saat mereka masih musuhan adalah kesenangan baginya,sekarang mereka berteman,Naila bertambah senang membantu Sherli mengendalikan emosi,semakin disulut maka emosi Sherli bisa terkendali,bukannya terkendali malah membumi hanguskan!.
"Aku tinggal sama ibu,ayah aku ko,tapi kadang tinggal sama abang aku,karna sekarang ibu sama ayah gaada jadi aku tinggal sama abang deh" jawabnya kini benar.
"Kalo yang tadi siapa kalo ibu kamu gaada?" tanya Tara heran,jika bukan ibunya naila apa mungkin art tapi tidak mungkin dipanggil mamih kan?.
"Ouh itu mamih aku,bukan ibu aku" jawaban Naila membuat mereka garuk-garuk pusing.
Mereka bertiga saling tatap heran"Bapak lo punya istri dua?"tanya mereka serempak.
"Enak aja!," sentak Naila tidak terima jika ibunya diduakan ayahnya akan naila kunci bapaknya itu ditoilet jika terjadi,"Ayah aku setia ga punya istri dua!"
"Trus yang tadi,katanya mamih kamu tapi bukan ibu kamu,berarti istri bapak kamu dua dong" ujar Rini tidak paham.
"Bukan gitu!,tadi itu mamih Putri kalo ibu aku namanya Ibu Kasih,mamih Putri ini istrinya papih aku dan ayah aku namanya ayah Jeje" jawaban Naila membuat mereka semakin pusing.
Memang salah jika bertanya pada Naila,bukannya terjawab malah semakin rumit serumit-rumit-rumitnya.
Tapi Nailakan ga salah,dia emang anak Bu Kasih ayah Jeje,dan mamih Putri itu istrinya papih Dimas,dimana salahnya coba?.
__ADS_1