
"Kalian buat apa beli sate sebanyak ini?,,siapa yang bakal habisin?,emangnya kalian bisa habisin sate seratus tusuk ini hah?" tanya beruntun Bu Putri dimeja makan sebagai polisi yang sedang mengontrogasi tersanganya yaitu,triplet dan kedua abangnya.
Kelimanya menunduk lalu saling pandang satu sama lain lewat tatapan mereka saling menyalahkan.
Lebih tepatnya menyalahkan Naila dan Nirbita yang kukuh ingin membeli sate seratus tusuk pas perjalanan pulang setelah mengantar Risa tadi.
"Jawab!,kenapa malah saling tatap gitu?" hardik Bu Putri tak habis pikir.
"Naila sama Nirbita mih yang bakal habisin" ujar Naya membuat kedua gadis itu melotot.
Menghabiskan seratus tusuk sate kambing yang benar saja!.
"Beneran kalian bakal habisin sate ini?" tanya selidik Bu Putri pada dua keponakan beda orang tua itu.
Kedua gadis yang tanya menganggukan kepala lalu menggelengkannya,"Yang bener dong kalo jawab,iya apa engga?"cibir Naya sebari mengambil duduk di kursi samping meja makan disusul kedua abangnya.
"Kita beli sate karna terpaksa mih" ujar Naila diangguki kepala oleh Nirbita.
"Kenapa? " tanya Bu Putri seolah perwakilan dari dua pria dan satu remaja disana.
"Karna udah janji" jawab Naila sebari menyiku lengan Nirbita sebagai kode untuk bergantian menjawab pertanyaan mamih Putri.
Nirbita yang mengerti pun menjawab,"Iya mih,kami udah janji beliin seratus tusuk sate"
"Sama siapa?" tanya mereka serempak.
"Mba kunkun tetangga rumah" jawab Naila dan Nirbita bersamaan.
Dua pria dan dua wanita yang berbeda usia itu saling pandang dengan pikiran yang sama,sejak kapan disamping rumah ada tetangga yang namanya mba kunkun pada tetangga baru?.
"Tetangga baru?" tanya Bu Putri dijawab gelengan kepala oleh dua gadis itu.
"Bukan mih,penghuni lama" jawab Naila.
"Ko mamih baru tau ada tetangga yang namanya mba kunkun ya" ujar Bu Putri sebari mengingat-ingat apa dirinya lupa,walau tidak tinggal dikomplek ini tapi BU Putri mengenal setiap tetangga rumah keponakannya ini.
"Introvert mih tetangganya,keluar cuma malem doang,apalagi jumat kliwon dia pasti keluar,kata Davri sih suka mampir kerumah setiap tengah malam buat temuin abang"ujar Nirbita menjadikan Rangga sebagai sasaran tatapan mereka dengan curiga.
"Ga nyangka gue,lo suka masukin cewe kerumah ditengah malam" cibir Elesky membuat Rangga gelabakan.
"Enak aja,engga ya!,gue tuh cowo suci gamungkin masukin cewe kerumah malam-malam apalagi tengah malam" sela Rangga sebelum Elesky membuat suasana memenas lalu menatap kedua adiknya,"Kalian jangan fitnah ya!"
"Engga ko,buktinya Davri tau kalo mba kunkun suka mampir buat nemuin abang tengah malam" sanggah Naila.
Naya diam saja memperhatikan pertikaian adik kandung,adik sepupu dan kedua abang sepupunya sebari mengingat-ingat tetangga yang bernama mba kunkun.
"Hayo loh!,tuh mih anak mamih bawa cewe kerumah,ini jatuh bukan fitnah lagi namanya kalo anak rt udah bisa jadi saksi" ujar Elesky memprovokasi.
"Rangga jawab jujur!,kamu beneran masukin cewe tengah malam kerumah? " hardik Bu Putri sebari berkaca pinggang.
"Astagfirullah mih jangan dengerin mereka mih,mereka tuh aliran sesat kalo didengarin,gamungkin Rangga masukin cewe kerumah,Rangga itu setia sama cia seorang" jawab Rangga menggebu.
"Cih,setia udah masukin mba kunkun kerumah tengah malam lagi" cibir Elesky terus memprovokasi selama bisa membuat keributan kenapa tidak!.
"Gausah provokasi deh lo bang kalo gatau apa-apa,,mih,mamih harus percaya sama Rangga,Rangga emang nakal tapi ga mungkin rusak anak gadis orang ko mih"
Bu Putri menghela nafas mendengarkan perdebatan anak-anak itu"Stop!"teriak Bu Putri membuat mereka terdiam.
"Jangan ada yang ngomong"
"Itu mamih ngomong" sela Naila membuat Bu Putri mencebikan bibirnya.
"Kecuali mamih" lanjut Bu Putri,"Oke,Rangga kamu jawab pertanyaan mamih"Rangga mengangguk.
"Beneran kamu ga pernah masukin cewe kerumah tengah malam?" selidik Bu Putri.
Rangga menggekengkan kepalanya ribut,"Engga mih,beneran rumah Rangga ga dipake maksiat ko"jawabnya.
"Alah boong,abang pernah bawa kak Fricia main kesini ketemu ibu" sela Naya sebari menggigit satu tusuk sate yang ia pegang.
Rangga mendelik pada gadis itu,"Yang ditanya mamih itu abang,kamu diem aja!"hardik pria itu kesal.
"Rangga beneran kamu bawa Fricia kerumah?" tanya bu Putri dengan tatapan kesal.
Rangga mengangguk pasti,"Iya mih,tapi bukan tengah malem ko,cuma sorean dikit buat ketemu ibu"jawab pria itu.
"Berani ya kamu" hardik Bu Putri membuat Rangga gelagapan.
"Eh mih,tapi aku yang paksa Cia kerumah,Cia gadis baik-baik,manis,sopan mih,dari keluarga baik-baik juga" ujar Rangga cepat takut Bu Putri salah paham pada pujaan hatinya walau dirinya masih digantung sampai sekarang oleh gadis itu.
Kacian!
"Diam!" hardik Bu Putri menatap tajam Rangga, "Biar mamih nilai sendiri gimana wanita bernama Fricia itu,baik apa engganya"
"Iya bu"jawab Rangga lirih.
"Jangan iya-iya doang!,kalo mamih ga ketemu orangnya gimana mamih mau nilai! " hardik Bu Putri menggebrak meja makan hingga Naya yang asik makan sate tersedak.
"Uhuk-uhuk" Elesky memberikan air pada Naya dan langsung diterima gadis itu.
"Eh iya mih Rangga langsung jemput cia dikantor" jawab Rangga sebari ngacir dari sana.
Elesky mendiamkan percakapan mamih kandung dan sepupunya itu dengan pikiran melanglang buana,ia juga punya kekasih sekarang dan kekasihnya seorang dokter,yang Elesky takutkan mamihnya itu tidak menyukai sang pacar dan parahnya lagi sikap pacarnya terbanding terbalik dari kata lembut.
Rasanya Elesky ingin menghilang untuk sementara waktu,untungnya sang mamih tidak mempertanyakan soal pacar padanya,Elesky bisa bsrnapas lega untuk sekarang.
"Kalian" Bu Putri belum selesai dengan introgasinya pada sisa tersangka kecuali Rangga yang sudah ngacir ,"Jelasin siapa mba kunkun?"
"Itu mih penghuni mangga Pak Selamat" jawab Naila enteng sebari ikut mencomot satu tusuk sate dimeja disusul Nirbita.
Sejak introgasi terarah hanya pada Rangga,Elesky, Naya dan Nirbita malah asik memakan sate kambing hanya Naila yang mendengarkan kedua orang itu dengan seksama.
"Uhuk-uhuk" kini Elesky yang tersedak sate kambing dan langsung mengambil air untuk melegakan tenggorokannya yang tersedak.
Ibu Putri melongo mendengar jawaban keponakan tercintanya itu sedangkan Naya hanya menggut-manggut sebari berguman,"Pantesan familiar"
"Jadi magsud kalian mba kunkun yang mampir ketemu Rangga tengah malam itu kuntil*nak?" tebak Elesky di iyakan kedua gadis itu.
"Hhhhh" Elesky terbahak mendengarnya,sungguh Rangga segitu tidak lakunya sampai mahluk astral yang melirik nya'ejek Elesky.
"Siapa yang bilang kaya gitu sama kalian?" selidik Bu Putri penasaran sebab tidak akan ada api jika tidak ada asap.
Pasti ada yang memprovokasi kedua keponakan polosnya ini.
"Davri"jawab keduanya serempak.
"Si Rangga beneran ga laku sampe mahluk astral dia embat" cibir Elesky sebari terbahak.
"So soan ejek orang,sendirinya masih jomblo" ejek Naya sebari mengunyah sate yang baru masuk dalam mulutnya.
Elesky mendelik tak suka pada adik sepupunya yang bermulut cabe satu ini,"Kata siapa abang jomblo?, engga tuh abang udah punya pacar,cantik dokter lagi"sombong Elesky membuat mereka melongo.
"Abang punya pacar?" selidik Bu Putri karna anak pertamanya ini tidak pernah mengenalkan seorang gadis padanya semenjak lulus kuliah.
Elesky gelagapan,ia tidak mau ditekan seperti Rangga tadi,Satu-satunya cara adalah mengalihkan pembicaraan,"Kalian gausah langsung percaya sama orang,kalo ada yang bilang kamu bisa kaya dengan cara ceburin diri ke sumur kamu mau nyebur gitu?"ujar nya tidak menjawab pertanyaan sang mamih.
"Gausah ngalihin pembicaraan!" hardik mereka tak kecuali membuat Elesky tersentak.
"Mmm emang tadi mamih nanya apa?" tanya Elesky gelagapan berharap sang mamih lupa dengan pertanyaan tadi.
"Dasar pikun" cibir ketiga sepupunya tidak dihiraukan Elesky.
"Mamih tanya kamu udah punya pacar?,dokter?" tanya Bu Putri lembut namun penuh penekanan untuk dijawab.
Elesky mengaruk belakang kepalanya sebari mengangguk lirih,"Iya mih"jawabnya lirih.
"Jawab yang kenceng!" hardik bu Putri membuat elesky replek berteriak.
"Iya mih"
"Wih beneran bang?" tanya Nirbita antusias.
"Wih pacar abang dokter,kalo kak Naya sakit ga perlu kerumah sakit nanti" ujar Naila tak kalah antusias.
"Ck malah ngedoain sakit" cibir Naya tidak terima.
"Umpama kak,kan kalo punya kakak ipar dokter lumayan,kalo sakit tinggal panggil kerumah gaperlu cape-cape kerumah sakit,antri segalalah,tinggal telepon datang,kakak juga ga perlu takut nyasar kekamar jenazah kaya waktu itu" jawab Naila pasti membuat Naya mendengus ketika mendengar kata jenazah.
Sial
"Kenapa kamu belum kenalin sama mamih?" tanya Bu Putri dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Mmm mamih ga bilang mau ketemu calon mantu" sanggah Elesky.
"Karna abang ga bilang punya pacar" cibir Nirbita disetujui Bu Putri.
"Bener!,sekarang kamu pergi sana!" usir Bu Putri membuat mereka melongo.
Segitu tidak sukanya mamih Putri dengan anaknya yang sudah memiliki pacar?.
"Mamih usir aku?" tanya Elesky memastikan takutnya salah dengar.
"Iya mamih usir kamu sampai bisa bawa pacar kamu temuin mamih,kalo engga jangan pernah muncul di hadapan mamih" ancam wanita cantik dengan dua anak laki-laki itu.
"Usir-usir abang dari rumah ini,usir" ujar Naila memprovokasi.
"Usir" timpal Nirbita sebari berdiri dikursi sebari mengangkat tinggi-tinggi tusuk sate ditangannya.
"Oke abang pamit" pamit Elesky mencium punggung tangan sang mamih lalu beralih pada ketiga gadis yang menjabat sebagai sepupunya itu barulah pergi dari rumah dengan raut wajah sumraut.
Bukan takut tidak bisa membawa pacarnya menemui sang mamih tapi lebih takut sang mamih tidak suka dengan pilihannya,kan berabe.
Setelah Elesky tidak terlihat dihadapan para wanita itu,tatapan Bu Putri terarah pada sate yang masih banyak walau sudah dimakan beberapa tusuk tadi,"Ini siapa yang abisin?,emang kenapa kalian mau ngasih ini sama mba kunkun?"
"Biar mba kunkun mau pindah dari pohon mangga Pak Selamat mih,dia mintanya dibeliin seratus tusuk sate baru mau pergi" jawab Nirbita.
"Hooh" timpal Naila sebari memakan sate,"Seharusnya kita beli pas malam minggu,karna kak ita sakit jadi kita undur jadi hari senin ini"
Bu Putri menghela nafas,"Emang Davri ngomong kaya gimana sama kalian?"tanyanya.
"Palingan juga bilang gini mih,abang kaliam jomblo itu gara-gara suka diapel mba kunkun pohon mangga pak selamat makanya sampe sekarang jomblo" ujar Naya menebak sebari mengikuti cara bicara Davri.
"Betul" jawab kedua adiknya serempak membuat Bu Putri menghela nafas tak habis pikir.
"Lain kali jangan kaya gitu,pamali nurutin kemauan setan,lebih baik kalian ngaji dan memohon ampunan dan perlindungan sama allah"
"Iya mih"
"Sekarang siapa yang mau ngabisin sate ini?" tanya Bu Putri membuat mereka saling pandang sejenak.
"Mmm kan bangrang mau jemput kak Fricia trus banges mau jemput pacarnya,kita makan sate ini bareng mereka aja gimana mih?" usul Naya sebari masih melahap sate.
"Mereka pasti datengnya malam,dan ini masih sore,yaudah deh kalian lanjut aja makan kalo nyisa mamih simpen,mamih mau masak buat nyambut calon mantu" ujar Bu Putri antusias saat mengatakan calon mantu.
Tadi ia bersikap keras pada dua pria itu bukan berarti dia marah,hanya saja kesal pada rangga yang belum memperkenalkan gadis yang pria itu sukai yang selama ini hanya diberi tahu namanya saja sedangkan pada ibunya Naya dan Naila sudah,untuk Elesky juga sama,ia kesal anaknya sudah punya pacar tapi tidak memperkenalkannya,sungguh anak durhakim.
Bu Putri pikir anaknya itu gay khemm soalnya jadi tentara lebih banyak berinteraksi dengan pria dibanding wanita.
Padahal aslinya bu Putri sangat menunggu waktu ini dimana akan bertemu calon mantu dan bergosip riang bersama mereka.
"Mamih seneng banget kayanya mau ketemu calon mantu" goda Naila.
"Keliatan banget ya?,padahal mamih pura-pura marah sama abang-abang kalian tadi" tanya Bu Putri memastikan.
"Keliatan banget mih" jawab Naya.
"Tenang aja mih abang udah gaada jadi mamih ga perlu pura-pura lagi,sekarang ayo acakin dapur" semangat 45 berkobar pada diri Nirbita.
"Gausah acakin dapur juga kali" cibir Bu Putri.
"Hehe antusias mih mau ketemu calon kakak ipar" jawab Nirbita cengengesan.
"Ayo masak" teriak Naila sebari berdiri diatas kursi.
"Ga!,kalian diam aja disini abisin satenya,gausah bantu mamih masak,mamih gamau ya kalian bubajirin makanan!"cegah Bu Putri tegas.
"Siap bos" jawab mereka lirih.
Naya yang tidak tau menau tentang persoalan dengan mba kunkun juga terseret harus menghabiskan seratus tusuk sate kambing yang dibeli tadi,untung ga punya riwayat darah tinggi jadi aman,lumayan juga si bisa makan banyak,saat jam istirahat Naya cuma makan roti gara-gara menemani Nirbita dikelasnya.
Bu Putri beranjak kedapur dan mulai mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas untuk ia olah dengan semangat berkobar demi membuat kesan baik pada calon mantu,agar tidak kabur!.
Ia sudah ingin menggendong cucu!,kan ga lucu kalo calonnya kabur.
.
.
.
Suasana pagi menjadi menyebalkan dimata rangga dimana Elesky terus meledek hubungannya dengan Fricia yang belum jelas mentang-mentang pria itu sudah punya pacar.
Menyebalkan!.
"Bisa diem ga si lo bang?,punya mulut udah kaya cewe ngerocos aja,profesi tentara lo ga cocok mending jadi ratu gosip aja sama si Danis sana!" cibir Rangga jengah dengan ledekan Elesky.
"Idih yang masih digantung baperan nih ye"ejek Elesky membuat rangga mendengus dan melegang pergi setelah mencomot sandwich di piring.
Marah boleh lapar jangan!.
"Kamu tuh ya suka banget ledekin Rangga" ujar bu Putri jengan dengan sikap dua pria yang selalu bersikap kekanak-kanakan itu.
"Rangga nya aja mih yang baperan" sanggah Elesky tidak mau salah.
"Abis anterin triplet kesekolah kamu anterin mamih kemakan ya"
"Mamih mau ke makam siapa?" tanya Nirbita.
"Ibu kamu" jawabnya
"Ita ikut" rengek gadis itu.
"Nanti ya sayang,sekarang kan kamu harus sekolah ga boleh telat kan masih ujian" ujar Bu Putri menatap keponakannya dengan sendu.
"Iya kak,kita kemakan ibu sama ayah pas pulang sekolah aja" ajak Naila.
"Iya tuh ta sekalian kita bawa bunga mawar kesukaan ibu" timpal Naya membuat Nirbita tersenyum dan mengangguk.
"Iya"
"Yaudah kalian abisin makanan kalian dulu,abis itu kita pergi kesekolah" ujar Bu Putri.
"Mamih mau anterin kita kesekolah mih?" tanya Naila penuh harap.
"Iya biar sekalian,mamih juga mau liat disana ada yang nungguin kalian apa engga" goda Bu Putri membuat Elesky mendengus.
"Mereka masih kecil mih" sanggah pria itu saat mengetahui pembicaraan mamihnya berujung pada remaja pria yang mungkin mengejar adiknya sebagai wanita.
"Kami udah sma bang,jadi udah besar" elak serempak triplet tidak suka dibilang masih kecil.
"Masih kecil" kekeh Elesky.
"Besar"
"Kecil"
"Besar"
"Kecil"
"Udah diem!,malah berantem" sela Bu Putri kesal dengan pertikaian abang dan adik sepupu itu.
"Cepatan abisin sarapan kalian nanti kesiangan" sambungnya.
"Iya mih" jawab mereka serempak.
"Aku harus omongin ini sama mba Kasih" guman Bu Putri melihat ke posesifan Elesky dan Rangga sebagai abang triplet,jika dibiarkan triplet tidak bisa mandiri sampai kapanpun dan itu bisa merusak kepribadian mereka juga.
Tidak ada seorang ibu yang tidak mengkhawatirkan tumbuh kembang anak-anaknya,siap tidak siap suatu hari anak-anaknya harus menjalani hidup mereka masing-masing,orang tua hanya bisa membimbing agar mereka terus berada dijalan yang alla ridhoi.
Setelah mencium tangan Bu Putri dan Elesky dan mengucap salam berpamitan,mereka masuk kedalam pekarangan sekolah yang sudah ditunggu geng inti algaskar diparkiran.
Bu Putri menarik putranya untuk segera pergi apalagi melihat tatapan tajam anaknya yang ditunjukan untuk para pria yang berani menatap ketiga adiknya itu,jika dibiarkan pasti ada adu otot sebentar lagi.
"Selamat pagi cikgu" ujar Naila meragakan kartun ditv saat berada di hadapan geng inti Algaskar.
"Pagi murid-murid,beraninya kamu masuk siang hah!" ujar Rezaldi berkaca pinggang seolah dia guru yang sedang marah.
"Maaf cikgu saya bangun kesiangan" jawab Naila mengikuti drama yang ia buat.
"Bagus-bagus udah berani menjawab ya!,saya kasih kamu hukuman untuk merenovasi sekolah ini" tekan Rezaldi membuat Naila melongo.
"Yang bener aja pak,emang bapak pikir saya kang bangunan apa" cibir Naila mendengus.
__ADS_1
"Berani berkata kasar sama bapak!,saya tambah hukumannya untuk membuat semua siswi disini harus mau menjadi pacar saya" ungkap Rezaldi membuat mereka mendengus.
"Enak dielu rugi di mereka" cibir Aril menendang kaki Rezaldi hingga meringis.
"Sakit bege!"
"Gausah dengerin anj*ng mengonggong" ujar Gara mengapit nirbita dan membawanya pergi.
Perkataan Gara membuat Rezaldi tersungut-sungut,karna secara tidak langsung dipanggil anj*g.
"Kalo kelamaan disini bisa kena rabies" ujar Bintang membawa Naila pergi disusul Naya dibelakang mereka.
"Woy tungguin gue gamau kena rabies"pekik Farel berlalu menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu pergi.
"Gue juga gamau kena rabies" pekik Aril sebari berlari tunggang langkah menyusul mereka menyisakan Rezaldi yang tersungut-sungut dikatain anj*ng oleh teman-temannya.
.
.
Disisi lain ditempat yang berbeda Risa tengah menggrutu karna ia bangun kesiangan dan tidak ada angkot yang lewat sejak tadi ia tunggu jika begini terus maka ia akan telat sampai disekolahan dan bisa saja tidak bisa mengikuti ujian.
"Huhhh gini banget nasib gue,apa bener ya gue pembawa sial kaya kata mereka?" guman gadis itu disela langkahnya sebari celingak-celinguk berharap ada angkot yang lewat.
"Yang bener aja,jam segini angkot gaada yang lewat ga kaya biasanya deh"
Tintintin
Suara klakson dari arah belakang membuat risa tersentak dan langsung melihat kearah suara dimana klakson berbunyi dari mobil berwarna merah mencolok.
Pengemudi mobil itu membuka kaca jendela mobil sebari menghentikan mobilnya,"Halo adik"sapa orang yang mengemudi.
"Ngapain lo?" tanya Risa kesal.
"Ck jangan galak-galak dong,gasopan banget sama kakak sendiri iuh ko gue naj*s ya jadi kakak lo" ujar gadis itu sebari menyeringgai,"Udah berani ya lo sekarang"ejeknya.
"Kenapa jalan kaki?,kacian ga punya mobil,tau ga ni mobil baru dibeliin papah kemarin padahal lusa lalu baru dibeliin juga eh sekarang udah dibeliin lagi" ujar Aleta memprovokasi,"Sayang banget kan papah sama gue ga kaya lo!"
"Iya" jawab Risa menutupi rasa sesak dihati,jangankan dibelikan mobil uang jajan saja lima kali lipat lebih kecil dari kakak angkatnya itu,bukan hanya itu kamarnya saja tidak berada diruang utama malah dikamar yang biasanya disiapkan untuk pembantu,emang malang nasibnya.
"Hari ini baru ujian kedua kan?,wah kalo lo ga buru-buru bisa telat,karna gue lagi baik gimana kalo bareng aja dari pada lo telat trus dimarahin papah karna jadi anak nakal,yu mumpung gue lagi baik nih" ajak Aleta tersenyum tipis.
"Lo yakin ngajakin gue?" tanya Risa memastikan,walau tidak mungkin kakaknya itu bersikap baik padanya tapi jika wanita itu mau bareng dengannya kenapa tidak,dari pada telat dan tidak bisa ikut ujian.
Aleta mengangguk pasti,"Iya"jawaban Aleta membuat risa mendekat dan saat tangannya hendak memegang hendel pintu mobil.
Brumm
Mobil itu melesat begitu saja diiringi teriakan puasa dari aleta,"Tapi boong"
Risa hanya bisa mengepalkan tangannya melihat mobil itu melesat meninggalkan dirinya,"Brengs*ng"umpatnya.
Aleta didalam mobil tertawa puas dengan aksinya tadi, "Mampus,gue bakal buat lo selalu menderita,kehadiran lo kesialan bagi lo sendiri risa,gabakal gue biarin lo rebut apa yang sudah jadi milik gue,termasuk papah Aldebaran dan mamah Andini" guman gadis itu penuh kelicikan.
Risa berdecak kesal tidak menemukan angkot dan hanya bisa berjalan menuju sekolah yang masih sangat jauh,"Gue pasti telat sih"gumannya sebari memperbaiki letak kaca matanya.
Tintin
Suara klakson tidak risa hiraukan,cukup aleta tadi yang mempermainkan nya sekarang siapapun itu tidak akan risa hiraukan sekarang tujuan Risa hanya menuju sekolah tepat waktu untuk mengikuti ujian.
Tintintin
Suara klakson satu dua kali risa hiraukan namun kelima kali Risa jengan dan berbalik badan sebari membentak orang yang terus menyalakan Klaksonnya.
"Apa!"
"Eh jangan marah dong" ujar orang yang mengendarai moge sebari menjalankannya dengan sangat amat pelan mengikuti langkah Risa.
"Gaada kerjaan ya mas,bunyiin klakson terus mentang-mentang masnya naik motor trus saya jalan kaki gitu!" sindir Risa kesal.
Moodnya semakin buruk saja dengan tingkah orang ini.
"Gausah marah-marah dong,maaf-maaf abisnya lo jalan mulu udah gue klaksonin juga,mau bareng ga?,kalo engga lo bisa telat kesekolah"
"Lo siapa?" tanya Risa waspada.
"Devan,masa lupa,geng inti algaskar paling ganteng setelah si bos sih" narsi pria itu membuat Risa melongo.
"Kak Devan" beo nya.
"Iya,minta maafnya nanti aja,sekarang ayo naik nanti kita telat" ajak Devan.
"Tapi aku ga punya helm"
"Gapapa udah ayo cepet udah mepet nih,kita bisa ketinggalan ujian" ujar Devan,"Kalo lo ga naik juga gue tinggal nih"ancam nya melihat Risa malah terdiam.
"Eh aku nebeng kakak" cegah Risa cepat takut ditinggalkan devan,walau tidak dekat dengan pria itu namun setelah mengenal triplet risa bisa yakin pria yang membonceng nya kini,tidak akan mengerjai nya dan akan membawanya sampai tujuan.
Entah kenapa tapi jika soal triplet Risa percaya begitu saja,namun ada satu orang yang mengusik kepercayaan Risa tentang mereka,Risa hanya bisa waspada saja untuk sekarang,tidak baik menuduh orang.
Risa baru saja memiliki teman ia tidak mau sendirian lagi jika tuduhannya salah.
Untungnya gerbang sekolah belum ditutup sepenuhnya hanya baru akan ditutup dan moge Devan menerobos masuk,membuat pak satpam mengusap dada sebari beristighfar.
Risa turun dari motor Devan sebari tersungut-sungut,pria itu mengendarai motornya seolah terbang saking kencengnya,hingga mau tak mau risa harus memeluk pinggang devan demi kelangsungan hidupnya.
"Hueeek-huekk" Risa mual saat turun.
"Lo muntah?" tanya Devan khawatir sebari membuka helm yang ia pakai.
"Engga cuma mual doang,,kakak sih bawa motor udah kaya terbang aja!" hardik Risa kesal.
"Eh nyalahin,emang salah gue si" ujar Devan berguman pada akhirnya,"Ya sorry kitakan buru-buru biar ga telat,tadi aja pak satpam udah mau tutup gerbangnya loh"sanggah Devan tidak mau disalahkan.
"Iyasi" lirih Risa berguman sebari menatap kearah pagar yang kini tertutup,"Yaudah deh makasih kak Devan tumpangannya"
"Makasih doang gitu?" tanya Devan membuat Risa melongo.
"Magsudnya?"
"Magsud gue ga ada imbalan gitu atas bantuan gue ini" jawab Devan.
"Ga iklas banget nolongin nya" Risa tersungut-sungut tapi tak ayal tangannya merogoh saku bajunya dan mengeluarkan uang lembaran berwarna hijau.
"Nih" ujar nya memberikan uang dua puluh ribu.
"Buat apa?" tanya Devan melongo.
Risa berdecak kesal,"Tadi kakak minta bayaran,ini,Risa bayar"jawabnya.
"Lo pikir gue ojek apa?!" hardik Devan tidak terima,"Kantongin lagi pokonya gue gamau bayarannya duit!"tolak pria itu.
"Terus mau apa?,kakak jangan aneh-aneh ya!" ancam Risa sebari mundur selangkah dari hadapan Devan.
"Ck gue mau ditelaktir makan nanti,sana ke kelas bentar lagi bel" ujar Devan lalu pergi meninggalkan Risa yang melongo.
"Magsudnya gimana si?" bingung Risa tidak ingin memikirkan tingkah kakak kelasnya itu,Risa berlari mendahului Devan untuk menuju kelasnya.
Entah disadari kedua orang tadi atau tidak seorang gadis remaja menyaksikan interaksi mereka dengan tangan mengepal.
.
.
.
Diwaktu yang sama namun ditempat berbeda tetangga Rangga yang bernama Pak Selamat sedang menyapu halaman mengganti sang istri yang tengah didapur,pria itu menatap dengan kening berkerut pada objek menggantung didahan pohon mangga miliknya.
Pria paruh baya itu menghampiri objek sebari menebak apa yang tergantung itu,ahhh pak selamat baru ingat jika triplet tanpa Naya waktu itu akan membelikannya seratus tusuk sate,apa ini satenya?jika ia pak selamat akan menerimanya dengan senang hati.
Dengan hati yang berbunga karna bisa puas memakan sate tanpa mengeluarkan uang karna hasil mengerjai triplet,Pak Selamat meraih kresek hitam yang tergantung pada pohon mangganya.
"Sate gratis" gumannya terkikik lalu melempar sapu lidi yang ia pegang ke sembarangan arah.
Dengan semangat berkobar pak selamat membuka kresek,niatnya hanya untuk mengintip sate apa yang triplet belikan,apapun itu akan ia makan asal ga beracun hehe.
Wajah pak selamat berubah menjadi merah dengan raut tak sedap dipandang,"Bocah gemblung"cibir pak selamat tersungut-sungut sebari melempar kresek hitam isi seratus tusuk sate pesenannya itu dengan kesal.
Iya seratus tusuk sate,tusuknya doang satenya kaga ada!,gemblung!.
Pak selamat tersungut-sungut hingga masuk dalam rumahnya sebari mencibir untuk dua gadis bocah pembuat onar se komplek.
__ADS_1
Entah siapa yang salah disini,triplet atau pak selamat?,,triplet hanya menuruti keinginan mba kunkun yang tak lain adalah Pak Selamat yang menyamar meminta seratus tusuk sate,beliau kan tidak mengatakan ingin dengan daging satenya,hanya mengatakan tusuk satenya saja,jadi bukan salah Naila dan Nirbita dong jika memberikan seratus tusuk satenya saja tanpa daging yang menempel pada tusukan bambu yang sudah dibuat sedemikian rupa,untuk menusuk daging itu.