DIARY TRIPLET N

DIARY TRIPLET N
Keuntungan membawa bekal


__ADS_3

Seperti biasa tempat favorit para siswa ketika jam istirahat adalah kantin,mereka perlu mengisi perut setelah isi otak mereka dikuras dengan paksa.


"Kak Bintang"mendengar namanya dipanggil Bintang menatap kearah pintu dimana ada Naila yang tengah menyembulkan kepalanya padahal pintu kelas terbuka lebar,jikapun Naila masuk gadis itu tidak menghalangi jalan karna sekecil itu tubuh Naila.


"Heh cil lo ngapain manggil si Bintang,mau ngutang lo?" selidik Farel yang hanya sesekali pikiran baik pada triplet.


"Lo pikir ade gue semiskin itu apa!" cibir Naya menatap tajam kearah Farel.


"O m j hellow!,Naya Bunga anaknya Pak Jeje,lo emang ga miskin tapi pelit!,pengen kenyang tapi ga mau modal!,modalu cuma julit doang" ejek Farel fakta karna memang setiap triplet menginginkan sesuatu yang gratis maka mereka akan mengeluarkan kata-kata mutiara alias julitan cabe rawit!,yang sayangnya selalu berhasil membuat mereka tunduk.


"Kalo bisa yang gratis kenapa harus bayar!" elak Naya sebari bangun dari kursinya,kelas sudah diistirahatkan sejak satu menit lalu.


"Betul kata kak Naya,kalo ada yang gratis kenapa harus bayar!" setuju Naila yang memang berguru pada Naya jika soal gratisan,Naila mengalihkan pandangannya menatap Bintang.


"Tidak ada hari yang tenang didunia ini"guman Vania mencibir sikap triplet dan kekasihnya selalu saling mengejek ketika bertemu,ia saja heran bagaimana mereka bisa berteman dari kecil sampai sekarang,bahkan Vania tidak akan menganggap Naya dan Farel sahabatan jika saja tidak melihat sikap Naya waktu itu,memaafkannya yang sudah mengancam lewat surat teror lalu membantunya untuk bersama Farel, walaupun mereka lebih pantas disebut musuh tapi mereka selalu ada satu sama lain-lainnya.


"Kenapa Naila?" tanya Bintang sebari menghampiri Naila.


Naila mengangguk pasti dengan senyum cerah yang dia keluarkan menular pada orang yang ia tatap,"Coba kakak tebak ila lagi pegang apa?"tanya Naila antusias sebari melirik kearah kedua tangan yang memegang sesuatu dibelakang punggungnya.


"Apa?" tanyanya sebari tersenyum.


"Ih tebak dong,kalo kakak menang nanti ila beliin eskrim!"ujar Naila masih dengan senyum yang tertahan.


"Kalo aku kalah dapet apa?" tanyanya penasaran.


Naila nampak berpikir,"Mmm kalo kakak kalah ga dapet apa-apa justru kalo aku yang menang kakak harus bantuin aku jaga pelangi"jawabnya setelah mendapatkan ide diotak udangnya itu.


Bintang menaikan sebelah halisnya bingung,"Jaga pelangi?,pelangi mana bisa dijaga naila,kan datangnya pelangi setelah hujan tak lama kemudian hilang"ujar Bintang memberi peringatan yang dia ingat pelangi diatas langit akan menghilang setelah beberapa saat muncul.


"Bukan pelangi itu kak!,ih kakak masa lupa,nyebelin banget!" mood cerah Naila menjadi mendung setelah tau Bintang melupakan pelangi yang dibeli pria itu saat dibandung.


Bintang terkekeh tak tahan untuk tidak mengacak rambut Naila dengan gemas,"Ih kak rambut ila berantakan!"tegur Naila dengan nada biasa saja karna entah kenapa rambutnya yang diacakin hatinya yang acak-acakan,bahaya!.


Naila hanya pura-pura kesal sebari mencebikan bibirnya dan sebelah tangannya merapikan rambutnya yang acak Bintang,"Aku beresin"ujarnya membereskan rambut naila kembali.


Sebenarnya Bintang tau pelangi yang dimaksud naila adalah ayam warna-warni yang ia belikan dibandung untuknya,namun Bintang memilih berpura-pura tidak paham hanya untuk menggoda Naila.


"Modal dikit dong,romantisan didepan pintu nyeleneng banget" ejek Naya menatap tajam Bintang dan Naila bergantian entah sejak kapan gadis itu berdiri disamping keduanya.


"Ngapain nyari si Bintang?!" tanyanya dengan nada tegas contoh kakak Protektif.


Naila cemberut,"Mau ngasih ini"jawabnya sebari menunjukan kotak bekal yang ia sembunyikan tadi dan menjadi ajak tebak-tebakan yang gagal sebelum dimulai.


"Gausah gaya-gaya bawain bekal kamu!,sana ke kelas masih kecil juga udah caper nya tingkat nasional,kakak laporin ke abang baru tau!" ancam Naya sebari berkaca pinggang persis seperti emak-emak yang ngomelin anaknya pacaran.


"Heh Naya jomblo!,ngemeng aje lo iri sama ade lo!,gausah so-soa jadi emak-emak yang lagi ngomelin anaknya pacaran!" cibir Farel sebari menghampiri mereka bersama Vania.


"Apesi lo ikut campur mulu,sebagai kakak yang baik gue tuh lagi menasehati!,bocah dilarang pacaran dan si naila masih bocah!" ujar Naya sewot.


"Aku udah ga bocah lagi tau!,,,aku juga ga pacaran ko sama kak Bintang iyakan kak?" sela Naila membela diri.


"Iya tapi gatau nanti" jawaban Bintang mengartikan bahkan untuk sekarang setatus mereka hanya teman tidak dengan nanti atau bisa jadi besok.


"Wah lo ada rencana nembak Naila?,gila sih kayanya otak teman-teman gue ga ada yang waras!" cibir Farel menilai sikap teman-temannya yang memang aga lain dimulai dari triplet,padahal dirinya juga aga-aga lain,eh emang lain dah.


"Iya lo ga warah!" ejek Naya kearah Farel, "Jadi sebagai orang kaga waras lo ga diijinkan masuk dalam pembicaraan orang waras!" sambungnya dengan pelototan.


Kedua orang itu seling melotot sudah pasti Farel tidak terima dikatakan tidak waras,"Lo bilang gue gila gitu?!,heh anak titisan set*n mana ada OSIS gila. "


"Gue ga bilang lo gila,lo ngaku sendiri" cibir Naya dengan smirk dibibirnya semakin menyulut emosi Farel.


"Mulai dah!" gimana Vania jengah dengan sikap dua orang ini.


Bintang hanya memutar matanya malas pemandangan seperti ini sudah biasa jadi biarkan saja toh ada untungnya juga mereka bertengkar,Bintang menarik pelan pergelangan tangan Naila menjauh dari sana,biarkan saja mereka ribut terus agar naya tidak menyadari adiknya sudah ia gondol.


"Eh eh ko pergi?,kita mau kemana kak?" tanya Naila mengikuti langkah Bintang.


"Mojok" jawaban Bintang hanya tercekat ditenggorokan ia tidak mau pikiran gadis polos itu tercemari dengan perkataannya,walaupun tidak ada makna tertentu sih!"Mau ke rutoop ga?"ujar Bintang malah bertanya, niatnya ingin mengajak tapi takut Naila tidak mau jadi ia bertanya,jika ada tempat yang ingin Naila kunjungi maka akan menjadi tujuannya sekarang.


"Mau-mau" jawab cepat Naila dengan wajah sumringah,"Kakak cenayang ya?"tebak Naila membuat Bintang menghentikan langkahnya.


"Magsud kamu aku dukun?"tebak Bintang dengan kata 'cenayang'.


"Eh emang dukun sama cenanyang sama ya?,,aku gatau soalnya kak,aku tanya kak Bintang cenayang karna kakak ajak aku ke Rutoop,itu keinginan aku sejak lama loh kak!,sejak semester satu jadi aku tanya kakak cenayang deh karna bisa tebak keinginan aku,tapi ga ada yang mau nemenin ila kesana katanya tempatnya angker,emang beneran angker kak?"ujar Naila sesuai isi kepala udangnya.


Bintang mengangguk paham namun Naila mengartikan anggukan kepala yang Bintang lakukan adalah jawaban pertanyaannya yaitu Rutoop nya beneran angker!," Ih kalo angker gamau!,mending ke tempat lain aja yang aman damai tanpa gangguan setan"ujar Naila cepat ia jadi membayangkan ketemu mba kunjungan dan sejenisnya jika beneran pergi ke Rutoop membayangkannya saja sudah membuatnya merinding.


"Engga,Rutoop ga angker ko,aku sama yang lain suka bolos kesana eh,magsudnya aku suka pergi kesana" ujar Bintang keceplosan dirinya suka ikut membolos jika diajak teman-temannya bisa-bisa image nya tercoret di depan naila, ouh tidak boleh!.


"Tadi kata kakak angker gimana sih?" tanya Naila sedikit kesal karna Bintang memberi jawaban plin-plan tidak berperinsip.


"Aku ga bilang angker Naila,kamu aja yang berspekulasi sendiri,"jawab Bintang tidak menyalahkan atau membenarkan perkataan Naila tadi, "Kalo kamu gamau kita ke taman sekolah aja gimana?"ajaknya masih memberi keputusan dipegang Naila kemanapun Naila ingin pergi maka Bintang akan menemani.


Naila mengangguk,"Kalo ke Rutoop walau kata kakak ga angker tetep aja pasti ada penghuninya,trus kalo tiba-tiba penghuninya merasa keganggu karna kedatangan kita terus dorong kita dari Rutoop kan bisa innalillahi,,tempatnya bisa angker beneran kalo kita innalillahi jatoh dari Rutoop,,ihh serem" ocehnya bergidig ngeri.


"Yaudah kalo gitu kita ke taman aja" ajak Bintang.


"Sip kita ke Rutoop aja"putus Naila membuat bintang kicep.


Melihat Bintang yang bergeming ditempat Naila menarik tangan kakak kelasnya itu agar mengikutinya,jika tadi Naila yang diajak pergi sekarang tukeran,,,Bintang mengikuti langkah Naila sebari menghela nafas.


Remaja itu jadi ingat tiga pasal tentang wanita


-wanita selalu bener.


-cowo selalu salah


-jika wanita salah maka kembali kepasal satu.


Huhhh sudahlah ikuti saja maunya!.


Sedangkan disisi Farel yang tadinya bercekcok dengan Naya ditemani Vania yang hanya menonton saja acara debatan calon presiden masa depan mungkin berpuluh-puluh tahun kemudian,,disana Naya celingak-celinguk bingung karna tiba-tiba adiknya hilang sedangkan Farel tengah terkikik.


"Ade gue mana?" tanya Naya dengan wajah panik.


"Diculik genderuwo kali!" jawab Farel sebari terbahak ia berhasil merecoki Naya agar tidak menggangu Naila dan Bintang,,,,tentu saja kali ini memancing perdebatan dengan Naya adalah rencananya untuk mendapatkan money alias duit dari Bintang,,,ya Bintang!.


Genderuwo, Bintang dong wkwkwk,kan dia yang bawa Naila pergi.

__ADS_1


Setelah Naila memanggilnya,Bintang menatap Naila dengan tersenyum namun malah beralih menatap ponselnya untuk mengirim pesan pada Farel untuk membantunya berduaan dengan Naila tanpa gangguan dua saudari gadis itu,,,mengerti magsud Bintang tentu saja Farel tidak menyia-nyiakan kesempatan itu,,ia akan membantu jika diada duitnya dan,deal!.


Farel sengaja memancing emosi Naya yang emang setipis tisu dibagi dua jika terkait adik-adiknya,,dan rencananya terbukti sekarang Bintang dan Naila sudah pergi entah kemana tanpa Naya tau.


Farel merangkul lengan kekasihnya,"Mojok yu yang,"ajaknya pada Vania yang malah mendengus sepertinya ia emang hilaf mencintai kekasihnya ini, lalu Farel mengalihkan tatapannya mengerjakan kearah Naya yang juga menatapnya dengan tatapan kesal, "Kita tinggalin yang jomblo didepan pintu,,udah jomblo makin jomblo deh lo nongkrongnya depan pintu,,, inget kata ema jaman dulu kalo berdiri didepan pintu itu pamali bikin jodoh menjauh,terbukti sama lo!,jomblo terus!" ejek nya membuat Naya yang kesal bertambah emosi hidungnya kembang-kempis siap menyembur.


Yang dikatakan Farel memang benar kalo kata orang dulu khas sunda mengatakan jika seseorang berdiam didepan pintu ber lama-lama maka orang itu akan dijauhkan jodohnya, entah itu benar atau salah author hanya menghormati perkataan orang tua saja!,semua adat istiadat disuatu daerah selalu berbeda-beda kita hanya cukup menghormati!.


"Gue hidup dijama moderen bukan dijaman dulu,dan perlu lo inget juga kata lo kalo berdiri didepan pintu lama-lama akan dijauhkan jodohnya,o m j hellow,gausah sombong lo belum tentu jodohnya Vania!,yang pacaran belum tentu ke pelaminan!, ingat tuh!" cibir Naya tak kehabisan kata-kata jika berdebat,"Gue do'ain jodohnya Vania adalah orang yang alhamdulillah bukan kaya lo yang naujubilah!"sambungnya sebari melotot mengejek Farel yang kini keadaan terbalik,hidung Farel yang kembang kempis.


"Ck terusin aja terusin!,saling b*cok sekalian biar pada m*ti,dikubur tenang dah hidup gue!" tegur Vania dengan nada naik satu okta bahkan wajahnya sudah semerah tomat menahan emosi,jika Naya dan Farel emosi karna saling mengejek berbeda dengan Vania yang marah karna kedua manusia beda kelamin itu selalu debat dimanapun kapanpun jika bertemu,huu tapi mereka kadang akur diwaktu-waktu tertentu sudah kaya set*n saja muncul diwaktu tertentu.


"Itu tuh yang si Naya ngeselin banget masa do'ain kita ga berjodoh kurang ajar banget kan YANG?,aku ga terima pokonya kamu harus basmi Naya-Naya didunia ini!" adu Farel pada sang kekasih.


Bukannya membujuk Farel malah mengadu emang contoh pacar minta dihajar,"Terserah!,,,lanjutin aja berantemnya sekalian aku pinjemin pis*u ke bu kantin"dengusnya emosi dan pergi meninggalkan kedua orang itu dengan perasaan dongkol sebari menghentakan kakinya saat melangkah sekedar untuk meluapkan emosi lewat lantai, lantai yang ga tau apa-apa malah kena imbasnya.


"Eh yang jangan tinggalin aku" rengek Farel lalu menatap permusuhan pada Naya,"Gara-gara lo gue ditinggal pacar gue,awas aja lo gue bales!"ancamnya lalu mengejar langkah kekasihnya.


"Si Vania udah bebas dari ajian jarang goyang lo tuh!" teriak Naya mencibir agar didengar farel yang sudah berlali,didepan sana Farel mendengus ia sebenarnya ingin kembali kearah Naya dan menjambak rambut gadis itu atau setidaknya melakban bibir bon cabenya, namun jika melakukan itu bisa-bisa Vania semakin marah,jadi demi keamanan Farel memutuskan tidak membalas ejekan Naya dan hanya mengacungkan jari tengah pada teman dari oroknya itu tanpa menatapnya.


Naya hanya mendengus melihat jari tengah dari Farel,"Farel gila!,, aduh si Naila dibawa genderuwo lagi"ujarnya sebari menepuk jidatnya,karna berdebat dengan Farel ia melupakan adik centilnya itu,huaaa dua adiknya emang centil dari orok namun pada orang tertentu saja beda dengan dirinya yang tidak tergoda tampang kecuali dompet.


Ouh sorry bukannya matre hanya realistis,pengen cantik perlu modal cayang...


Drettt


Getaran diponsel Naya membuat langkahnya menuju kelas adik-adiknya terjeda,gadis itu membaca pesan yang dikirim ke ponselnya tiba-tiba senyum sumringah terbit dibibirnya,Naya memutar kembali langkahnya kembali ke kelas.


Setelah berada dikelasnya tak berama-lama Naya mengambil bekal yang ia bawa dari rumah lalu kembali pergi dari sana namun bukan kearah kelas adik-adiknya maupun ke kantin melainkan ke taman belakang.


Sesampainya disana Naya celingak-celinguk kana-kiri ada beberapa orang memang disana namun orang yang ia cari tidak ada,tidak mau mecari lagi Naya memilih menelepon orang itu.


"Dimana lo?" tanyanya setelah tersambung.


"..... "


"Yaudah buruan manjat kalo engga bekel nya gue makan!" ancam Naya lalu memutuskan panggilan secara sepihak.


"Kalo lo nganggep gue bodoh maka lo salah,gue cuma bergerak cerdik!,mengikuti alur tanpa sepengetahuan siapapun alur itu berada digenggaman gue" gumannya lirih sangat amat lirih tanpa didengar siapapun dengan senyum tipis dibibirnya.


.


.


.


Jastin berada dikelasnya pagi ini sejak kejadian dimana Javas berimajinasi tentang Naya,pria itu tak sudi bertemu temannya itu,ada rasa kecewa untuk orang itu,dikelasnya Farel hanya memejamkan mata tanpa tidur,malas menanggapi orang disekitarnya dengan berpura-pura tidur hingga suara deringan ponsel mengganggu ketenangannya.


Awalnya ia tidak peduli,namun karna sedang menunggu pesan seseorang ia mengeceknya siapa tau orang itu yang mengiriminya pesan,,setelah membaca nama pengirimnya jastin tersenyum tipis,'cerewet'nama yang identitas yang ia tulis di kontaknya karna orang itu memang kalo suka ngomong susah berenti.


...{Cerewet send a pictures}...


Jastin membuka foto yang dikirim disana ada kotak bekal berwarna merah dipangkuan seorang gadis terlihat dari rok yang dipakai si pengiriman.


"Ceelah calon pacar gue perhatian banget,pasti ni bekel buat gue,,, eh bentar-bentar kalo buat gue gimana cara dia ngasik ke gue coba orang beda sekolah mana dia dianter abangnya lagi" gumannya sebari berpikir masih menatap foto yang dikirim Naya lalu mengirim balasan.


...{Tuh bekel buat siapa?,kalo bukan buat gue pokoknya gue mau marah titik.}...


...{Cerewet: Lah yang marah situ kenapa laporan sama gue emot juluran lidah}...


Jastin mendengus membaca balasan yang dikirim Naya,"Emang bener-bener nih bocah minta diseleding"ocehnya sebari mengetik balasan.


...{Si dodol!,kalo gue ga laporan dulu lo mana peka emot sedih}...


...{Cerewet: emang emot ngakak}...


...{Cerewet:lo mau gue bawain bekel?}...


Melihat balasan selanjutnya jastin tersenyum sumringah,"Awas aja kalo gue diprank!"ujarnya sebari kembali mengetik balasan,ia tahu betul Naya tidak akan mau repot-repot mengirim bekal kepadanya apalagi beda sekolah dan sekolah mereka selalu ada konflik antar murid.


...{Mau!,tapi kalo lo prank doang ogah ya gue patah hati,udah berharap banget eh lo jatohin,sakit banget emot nangis}...


...{Cerewet:idih gue ga pernah prank lo kali emot mata keatas}...


Jastin mendengus membaca balasan dari Naya,"Wah dia lupa,gue pernah kerumahnya malem-malem eh dianya ga bisa gue temuin malah berujung gue kumpul sama geng Algaskar,,kalo bukan demi caper ke abangnya dia gue mah ogah"gerutunya tentang bab()


...{Dih lupa,,bodo ah pokonya gue mau bekel dari lo titik}...


...{Cerewet:dih maksa}...


...{Cerewet:kalo mau dateng aja kesekolah gue pas jam istirahat!,kalo lo berani datang sendiri gitu juga}...


...{Dih nantangin,lo pikir gue takut gitu?, ya kaga lah,gue otw sekarang juga send}...


...{Cerewet:jangan sekarang ogeb! Nanti aja apa istirahat kalo lo datang sekarang bekel nya bakal gue kasih sama orang lain aja! }...


...{Dih ngancem,ok gue dateng pas istirahat!,awas aja kalo lo nipu gue bakal gue heh emot marah}...


...{Cerewet:wah kdrt masa gue mau digebugin sih?,kekerasan inimah}...


...{Souzon banget gue ga bakal pake kekerasan ya enak aja!,gue ga bakal kdrt sama lo ga bakal pernah inget tuh,,}...


...{Cerewet:gue tau sih buaya hidup didarat end air tapi jaman sekarang semakin hebat bisa hidup di WA juga!}...


Jastin terbahak membaca balasan Naya yang setidak langsung mengatakan dirinya buaya.


...{Itu bukan gombalan,tapi real}...


...{Cerewet:iyain}...


Lagi-lagi jastin terbahak kini agak keras hingga mengundang pandangan orang,sadar dengan tindakannya,jastin menatap tajam orang-orang yang menatapnya dengan tatapan aneh,"Apalo?!,mau ribut sama gue ayo! "Tantanganya membuat mereka mengalihkan pandangan,mana ada yang mau membuat masalah dengan preman sekolah satu itu.


Jam berlalu hingga bel istirahat berbunyi.


"Lo jarang ke markas bos kemana aja lo?" tanya Jerry sebagai siswa dikelas itu sudah berhamburan keluar kelas menyisakan inti Orion.


"Rumah" jawabnya ga mood.


"Tumben banget lo bos ada dirumah,biasanya paling ogah balik kerumah entah alasannya apa,Jangan-jangan dirumah lo lagi ada pengumpulan harta karun lagi,,,jahat banget lo bos kita ga diajak" oceh Tom mendapat toyoran dikepalanya dari Jerry.

__ADS_1


"Gausah ngada-ngada lo!,lo pikir ini jam firaun apa?! Harta korun segala!" ejek Jerry.


"Bisa jadikan?,kalo si bos beneran nemu harta karun beneran kan gue mau kecipretan emang lo gamau?" tanyanya pada Jerry.


"Ouh jelas mau lah!,udah gila kali gue kalo nolak" jawab langsung Jerry tanpa berpikir.


Jastin memutar matanya malas moodnya bagus ketika chatan dengan Naya saat jam pelajaran moodnya anjlok sampai sekarang untung ia inget akan bertemu Naya sebentar lagi,bisa membantu menaikan mood booster nya,udah kaya suntikan vaksin wkwkwk.


Jastin bangkit dari kursinya berjalan hendak keluar kelas sebelum suara Pedro menginstruksi pendengarannya,"Mau kemana lo bos?"


"Keluar" jawabnya kembali melangkah.


"Eh bos jangan lupa latian basket abis jam terakhir" ujar Jerry mengingatkan.


"Ok" jawabnya berlalu disana Javas hanya menyimak tanpa niatan bersuara,dalam diamnya banyak hal yang sudah ia rencanakan.


Setelah perjalanan tidak terlalu jauh maupun dekat,sedang-sedang saja akhirnya disinilah Jastin berdiri,dibalik tembok pagar sekolah wddm alias widudarma setelah ia memarkirkan motornya diwarung terdekat.


"Chat Naya dulu deh" gumannya sebelum mengambil keputusan untuk memanjat tembok pagar.


Setelah beberapa menit Naya meneleponnya.


("Dimana lo?) tanyanya


"Hatinya ada di Lo raganya dibalik tembok hhh" jawab Jastin malah ngegombal emang biaya spesies WA ya begini.


"Yaudah buruan manjat kalo engga bekel nya gue makan!" ancam Naya tidak menanggapi gombalin buaya wa itu.


Turut


"Kalo bukan cewe udah gue banting juga nih bocah,ngeselin banget!" gerutu Jastin sebari menyimpan ponselnya disaku sebelum memanjat tembok dengan lihainya selain spesies buaya WA Jastin juga spesies monkey.


Hap


Jastin menatap sekitar setelah mendarat di halaman belakang bangunan sekolah wddm,disana beberapa pasang mata juga menatapnya sepertinya terpesona aslinya mah kaget melihat kedatangan si biang rusuh.


"Naya" panggilnya setelah melihat sosok yang ia cari yang lainnya mana peduli,Naya berjalan kearahnya dengan tangan memegang kotak bekal berwarna merah persis seperti yang difoto tadi pagi.


"Nih,impas gue ga prank sana balik!" usir nya setelah memberikan bekal pada Jastin.


Jastin mendengus sehari menerima pemberian gadis incarannya ini,"Gue diusir!,gamau,gue takut lo nipu gue pas balik eh bekel nya kosong gue cuma dikasih kotaknya doang"ujarnya.


"Lo dari tadi pagi negatif tingging mulu sama gue,nih ada isinya!" dengus Naya tidak suka dikatai menipu walaupun ia emang sering nipu trio wikw*k untuk mendapat traktiran namun kali ini ia tidak sedang menipu,jadi Naya membuka kotak bekel yang sudah ditangan Jastin,"Noh ada isinyakan?"tunjuk Naya dengan bibir menunjuk isi kotak bekal yang merisi makanan masakan Nirbita.


"Lo mah jutek mulu sama gue,padahal gue udah nembak lo"


"Gue belum jawab" sela Naya mengingatkan kalo pernyataan cinta jastin belum mendapatkan jawaban pasti,Naya hanya mengijinkan Jastin untuk berjuang.


"Iyasi" gumannya sebari mendengus.


"Makanya bekerja lebih keras biar gue terkesima gituloh sama perjuangan lo,gue kasih waktu satu minggu deh buat lo berjuang tentang perasaan lo sama gue"


"Eits satu minggu apaan!,dikit amat,bukan gue mau rendahin diri gue nih ya,gue bisa aja naklukin hati cewe dalam seminggu tapi kalo spesies langka kaya lo itu susah!,,gue ga maua seminggu!" tolak Jastin bukannya merendah hanya saja naya spesies langka yang tidak akan suka jika diromantisin dan dikasih pesan puitis ia cuma suka duit untung jastin punya bapak kaya wkwkwk.


"Satu bulan dah" ujar Naya menambah waktu.


"Eh engga mau,buat ketemu aja susah gimana mau berjuang coba,tiga bulan aja" ujar Jastin negosiasi.


"Malah nawar situ pikir ini pasar apa,oke tiga bulan,tapi kalo lo gagal jangan nangis" ejek Naya.


"Jastin ga pernah gagal,liat aja lo bakal bucin sama gue!" jawab Jastin percaya diri.


"Ngarep,,udah sana balik makan tuh bekel nya,udah gue siapin awas aja kalo di buang gue,,, " ancam Naya sebari menggerakan telunjuknya mengiris di leher.


"Serem amat" cibir Jastin sebari terkekeh,"Gue makan ko,lo udah makan belom?"tanyanya.


Disekitar taman mendadak sepi padahal tadi ada beberapa siswa disana sedang bersantai ko mendadak serem,Jangan-jangan dibawa gendurowo kaya Naila eh,,,gendurowo penculik naila beda versi alias kejaran para gadis.


Naya menggelengkan kepalanya, "Belom gue otw kantin pas lo chat" jawabnya padahal sebenarnya ia otw ke kelas Nirbita untuk mengajarnya ke kantin sebelum mencari Naila yang di culik genderuwo.


"Kalo gitu temenin gue makan!" pintanya sebari menarik Naya untuk mendekat kearah kursi yang ada di taman belakang gudang sekolah.


"Eh jus stowberi mangga apel,jastin yang suka nempel,gue belum makan malah minta ditemenin,gue juga mau makan tau gue juga laper!,gue bawa bekel cuma satu dah gue kasih sama situ" dengusnya.


"Bareng aja si" ujar Jastin sebari siap menyantap bekal dari Naya.


Naya hanya menatap Jastin yang makan dengan cara menghayati lebay emang,tapi membuat Naya ngiler dia juga belum makan,dengan kurang ajar nya Jastin meminta ditemenin makan bekal yang dia pinta dari naya dan pemilik bekalnya malah kelaperan,emang minta dihajar si Jastin.


"Makanannya udah ga seger sih soalnya dimasak pagi tadi,seharusnya dimakan pagi tadi juga tapi rasanya enakan?" ujar Naya memastikan masakan Nirbita selalu enak apalagi jika membuat kue jika memasak biasa Nirbita masih suka meminta bantuan para ibunya,kalo membuat kue dirinya bisa sendiri tanpa bantuan sekalipun karna sudah menjadi hobinya selalu membuat rusuh.


"Mmm lumayan,lo yang masak?" tanya Jastin gengsi jika menjawab langsung 'enak'walaupun emang enak.


Naya menggelengkan kepalanya,"Ade gue,gue ga kepikiran bawa bekel sih kalo ga liat Nirbita bawa"


"Emang dasar!kalian bertiga tuh selalu aja ikut-ikutan satu sama lain" cibir Jastin.


"Salah gitu?,ya engga lah" ujar Naya mendengus,"Gue tinggal ya gue juga laper nih mau makan!"


"Nih makan kita bagi dua,gue baik bukan?"


"Palalo,itu emang bekel gue sebelum dikasih ke lo!,gue kantin aja dah" tolak Naya kekeh ingin makan dikantin.


"Kalo lo mau makan bareng ni bekel gue bakal traktir lo makan selama seminggu gimana?"tanya Jastin bernegosiasi jika masalah makanan gratis selalu mengoyahkan Naya.


"Ck lo mah ngasih tawaran ga bisa gue tolak,jahat banget!" ujar Naya sebari mencebik kesal karna Jastin tau apa yang bisa membuatnya luluh.


"Nih aaaaa" Jastin menyodorkan sendok garfu yang sudah ia isi nasi dan kawannya.


"Gue bukan bayi,bisa makan sendiri" ujar Naya sebari mengambil garfu dari tangan Jastin.


"Ok tapi sory lo kebagian sendok garfu,kalo mau pake sendok biasa udah bekas gue"


"Gue mah yang penting makan,kenyang ga keracunan,udah diem kalo makan biar ga keselek gue ga bawa air soalnya" ujar Naya.


Jastin celingak-celinguk ternyata benar naya tidak membawa air minum,"Ck pelit banget lo!,air aja ga bawa kalo gue keselek gimana? "


"Makanya gausah makan sambil ngomong biar ga keselek!"


"Abis makan kan suka seret,gue butuh minum nanti" ujar Jastin menyebalkan dan tidak tau terimakasih,sudah dibawakan bekal sekarang minta air minum,bener-bener minta dihajar!.

__ADS_1


"Gue bawain air keran ntar"


__ADS_2