
Cahaya ditenggelamkan kegelapan rasanya begitu gelap hingga untuk menatap jemari sendiripun begitu sulit.
Jika satu hancur maka yang lain tidak akan utuh, begitu keluarga Tripet, yang biasanya selalu ribut dengan celotehan tiga gadis rusuh yang selalu merecok dan buat ulah,kini kehilangan cercaan harapan.
Tidak ada perkataan menyebalkan Naila yang selalu ditimpali Nirbita.
Tidak ada suara Naya yang kebanyakan mercak-mercak.
Tidak ada suara mengomel dari kedua wanita yang mereka panggil ibu dan mamih.
Tidak ada suara cibiran,keluhan,hardikan,hanya ada tatapan kosong dan isakan.
Semua hancur dalam sekejap.
Baru saja kemarin Nirbita hampir jatuh dari lantai empat sekolah dan sekarang gadis itu dikuncikan di lemari gudang.
Triplet kehilangan salah satu dari mereka maka mereka tidak akan utuh lagi.
"Dokter bagaimana keadaan putri kami?" Tanya Pak Jeje ketika seorang wanita keluar dari ruang rawat.
Wanita itu menggelengkan kepalanya,"Maaf Pak bisakah kita berbicara secara pribadi membahas soal putri bapak"pinta psikiater yang baru saja keluar dari kamar rawat Nirbita.
Pak Jeje mengangguk,"Baik"
"Kalo begitu saya menunggu kedatangannya Pak saya harap bisa secepatnya karena menyangkut putri bapak"
"Kita bisa membicarakanya sekarang dokter"
"Baik jika begitu,saya berdoa semoga putri bapak dan ibu segera sembuh, untuk sekarang saya minta untuk keluarganya selalu ada disamping nona Nirbita,karena dia sangat butuh dukungan keluarganya untuk keluar dari rasa takut dialam bawah sadarnya" ujar dokter itu mendoakan yang terbaik untuk Nirbita sekaligus memberitahu apa yang harus dilakukan untuk menangani Nirbita.
Nirbita sempat mengalami gagal jantung untungnya gadis itu masih bisa diselamatkan,setelah sadar Nirbita hanya terdiam dengan tatapan kosong dan juga tidak merespon siapapun.
Dokter menyarankan untuk memanggil psikologi untuk masalah ini karena menyangkut mental yang terguncang atas apa yang sudah Nirbita lalui.
Disana juga ada teman-teman Triplet yang menemani keluarga karena dokter menyarankan untuk bergantian mengajak Nirbita mengobrol agar kondisinya tidak semakin parah.
"Pak aku ikut" pinta Rangga ingin mengetahui kondisi Nirbita dari ahlinya sebagai abang ia sangat hancur saat ini,perasaannya kemarin ternyata benar kalo ada sesuatu yang tidak beres makanya hatinya begitu risau.
"Gausah kamu disini aja,kalo nanti Nirbita sadar dia nyariin kamu gimana?,kalo kamu gaada,lebih baik kamu disini aja,nanti ayah kasih tau kamu apa yang dokter omongin" ujar pak Jeje mencoba untuk memberikan harapan padahal ia sendiri takut Nirbita tidak seperti sedia kala,gadis ceria itu kehilangan KECERIAN.
Rangga hanya mengangguk.
.
.
.
Sudah tiga hari Nirbita berada dirumah sakit tanpa merespon siapapun dan juga tatapan kosong, Naila hanya bisa menangis melihat kondisi kakak sepupunya dan Naya juga begitu, tidak ada yang tahan untuk tidak menangis saat melihat sosok yang selalu ceria kini hanya menatap kosong kedepan.
Mereka merasa hancur dan merasa tak berguna.
Andai kejadian itu tidak terjadi, mereka mungkin masih mendengar suara tawa Nirbita, tapi menyesal sudah tidak ada gunanya.
Pak Dimas dan Pak Smit mengurus pelakunya jika Pak Dimas melakukan menggunakan hukum maka Pak Smit merusak melalui bisnis, karena bagi Pak Smit jika anak melakukan kesalahan maka orang tua akan terkena getahnya.
Agnes sudah ditangkap dikediamannya beberapa hari lalu atas tuduhan pencobaan pembunuhan!.
__ADS_1
Naya keluar dari ruang rawat Nirbita dan berpapasan dengan Gara yang setiap hari menjenguk Nirbita,"Lo mau kemana Naya?"tanyanya takut jika Naya melakukan hal konyol karena merasa bersalah atas kondisi Nirbita.
Nirbita sangat menyayangi keluarganya jika salah satu dari mereka terluka pasti akan mempernuruk kondisi Nirbita,pikir Gara.
"Cari angin" jawab dingin bahkan Naya tidak peduli lagi jika dirinya tersesat dirumah sakit dan malah terkunci diruang jenazah seperti ketakutannya selama ini tentang berada dirumah sakit.
Naya menjawab tanpa melirik kearah Gara maupun menghentikan langkahnya,"Jangan berbuat konyol Nirbita butuh lo"ujarnya memperingati jika Naya ingin melakukan hal bodoh bisa mengurungkannya setelah mendengar ucapannya ini.
Naya tidak menghiraukan dan terus melanjutkan langkahnya,Gara juga hanya bisa menghela napas,jika ditanya ia sedih,tentu saja!,tidak ada yang baik-baik saja jika orang yang dicintai tengah terluka.
Gara membuka pintu rawat Nirbita setelah mengucapkan salam lalu mencium tangan Rangga selaku orang paling tua diruangan itu keluarganya yang lain dirumah,mereka berganti menjaga Nirbita sekaligus menjaga kesehatan mereka disaat keterpurukan yang mereka alami.
"Ga perlu setiap hari lo jengukin ade gue! "cibir Rangga sudah kembali julit setelah dua hari terpuruk.
Pak Jeje sudah menasehati anak-anaknya agar tidak terus berada dalam keterpurukan saat ini rasa sedih tidak akan membuat Nirbita kembali ceria seperti sedia kalah,Nirbita hanya butuh mereka yang berisik seperti biasanya.
"Kalo gue mau setiap hari lo mau apa bang?" Tanya Gara.
"Gue usir!"hardik Rangga.
"Pelit banget rumah sakit bukan punya elo kali bang,terserah gue kalo mau jenguk Nirbita setiap hari juga,gaada larangan tertulis dilarang jenguk pasien setiap hari".
"Wah ngajak ribut tuh bang" kompor Antariksa,"Buktiin bang kalo lo kaya, beli rumah sakit doang mah cetek"
"Alah sombong masih kayaan Daddy Smit daripada abang" ujar Naila duduk disamping Nirbita diatas ranjang rumah sakit.
"Yakan duit Daddy calon warisan kita, iya ga tuh bang? " songong Antariksa,"Mending lo balik dah gara,datang juga cuma bikin penuh kamar rawat doang mana datang ga bawa buah tangan,pelit banget!"usir Antariksa sebari mencibir.
Gara menghampiri ranjang Nirbita dan mengeluh,"Bi abang sama om kamu jahat banget masa aku diusir,kan aku lupa ga bawain kamu buah tangan,,kalo kamu mau aku bisa beliin makanan kesukaan kamu, sama es krim rasa coklat kesukaan kamu juga,kamu mau ga?"ujar Gara mencoba mengajak Nirbita berkomunikasi tapi tidak membuahkan hasil.
Seisi ruangan hanya menghela napas.
Tapi tidak ada hasilnya.
Sedangkan disisi Naya gadis itu terus berjalan lurus dengan menundukan kepala,Naya tidak peduli jika harus tersesat seperti dulu,bodoamat pada dirinya sendiri,dan lantai lebih tenang untuk ia tatap.
Langkah Naya tertahan ketika lengannya ada yang mencekal,Naya melirik kearah pemilik tangan dengan engga,Naya tidak berpikir yang memegang tangannya adalah setan otaknya hanya loading setiap saat ini.
"Lo mau kemana Naya?" Tanya orang itu.
Naya menggelengkan kepalanya dengan lirih,"Gue takut"ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Jastin yang sebelah tangannya memegang tongkat karena kakinya belum sembuh bahkan dirinya belum keluar dari rumah sakit, Jastin mengerti dengan kondisi Naya sekarang,Jastin hanya bisa menarik tubuh Naya untuk ia peluk,"Ga perlu takut gue ada disini"Jastin hanya menahan sakit ketika tangannya yang retak dipaksa memeluk Naya, tapi ia akan sangat menyesal jika tidak memeluk Naya saat ini.
Tangis Naya yang sejak tadi ia tahan luruh lantah dipelukan Jastin.
Jastin sudah tau kondisi Nirbita saat ini,ia juga merasa sedih untuk itu hanya doa yang bisa ia panjatkan.
"Gue gagal jagain adek gue Jas,gue gagal,gue kakak yang buruk" ujar Naya serak menyalahkan dirinya sendiri atas kondisi Nirbita.
Andai saja ia tidak mengijinkan Nirbita untuk berbicara berdua saja dengan Agnes mungkin semua ini tidak akan terjadi,tapi kenapa dirinya bodoh sekali,sebagai kakak dia malah mengijinkan adiknya untuk terluka,pikir Naya.
Naya wanita polos,judes,ceplas-ceplos dengan segala Keabsurdan nya,tapi satu hal tentang gadis itu Naya hanya suka curhat pada Nirbita saja tidak pada orang lain.
Bukan karena tidak percaya pada keluarga lainnya,tapi hanya Nirbita selalu berpikir dalam mendengarkan cerita tidak pernah membela kedua belah pihak dan selalu memiliki rencana.
Jastin membiarkan Naya menangis dalam pelukannya sebari mendengarkan keluhannya tanpa membantah.
__ADS_1
Setelah hanya terdengar isakan dari gadis itu jastin melonggarkan pelukan nya untuk menatap wajah Naya yang sembab,"Masuk ayo"ajaknya sebari mengusap mata Naya dengan lembut,Jastin mengajak Naya untuk masuk kekamar rawatnya tapi Naya menolak.
"Gue mumet mau cari udara seger" jawabnya sebari mengusap wajahnya kasar dan mengeluh,"Gue ga bisa berenti nangis"keluhan semakin diusap cairan bening itu semakin deras keluar dari mata Naya.
"Jangan digosok terus matanya" ujar jastin sebari menepis tangan Naya yang terus mengusap matanya,"Biar aja kaya gitu,kalo lo gamau cari udara segar gue temenin,kita ke taman rumah sakit aja,ayo!"
Naya yang sudah tak bergairah untuk hidup eh malah harus memapah jastin untuk berjalan, menyebalkan!.
"Kita duduk disana" Jastin menunjuk kursi putih kosong di taman rumah sakit mengajak Naya untuk duduk disana.
Mereka duduk bersama,Naya menyandarkan kepalanya di bahu jastin sebari memejamkan matanya.
Jastin melirik Naya wajah mereka berdekatan bahkan jastin bisa merasakan hembusan napas Naya dengan tenang dilehernya,Naya masih saja menangai,"Kalo gue ngomong lo bakal marah ga?"tanyanya.
"Terserah" jawab Naya tidak memastikan 'iya' atau 'tidak' tapi mengatakan terserah jastin saja mau ngomong ataupun tidak.
"Dari tadi lo nyalahin diri sendiri,kalo Nirbita denger atau keluarga lo yang lain denger mereka pasti kecewa,,semua yang terjadi bukan salah lo tapi itu takdir,,kita punya takdir masing-masing yang ga bisa kita elak Naya,lo ga seharusnya nyalahin diri sendiri kaya gini,,," Jastin menjeda ucapannya untuk menatap Naya dengan lekat.
"Gue pernah dititik yang sama kaya lo walau disituasi berbeda,tapi gue pernah merasa hancur saat ditinggal orang yang sangat gue sayang saat itu,gue ga bisa nyuruh lo sabar karena gue sadar sabar itu sulit, dan setiap orang punya batas sabar masing-masing,,,gue menguatkan diri dengan cara menumbuhkan kebencian sama diri gue sendiri dan gue ga mau itu terjadi sama lo,,,lo nyalahin diri sendiri kaya gini sama aja dengan lo numbuhin kebencian untuk diri lo sendiri dan lo gatau ada jurang tanpa dasar atas perbuatan lo itu,,gue gamau lo sampai terjatuh dijurang itu kaya gue sampai membuat kesalahan dan malah lagi-lagi kehilangan orang yang gue sayang,,," Jastin meluruskan pandangannya ke depan.
"Lo punya keluarga yang sempurna Naya,mereka ga butuh rasa bersalah yang ga seharusnya lo rasakan,semua yang terjadi karena sudah catatan ilahi lo ga bisa cegah,,, kalo lo menyalahkan diri sendiri atas musibah yang terjadi sama Nirbita,maka kakak-kakak sama orang tua lo juga pasti merasakan hal yang sama,mereka juga pasti merasa gagal jaga kalian,emang lo mau orang tua lo merasa kaya gitu?" Naya menggelengkan kepala dengan lirih sebagai jawaban.
"Makanya gausah nyalahin diri kaya gini,tunjukin sama keluarga lo kalo lo itu bisa jadi penguat buat mereka,Nirbita butuh lo,keluarga lo butuh lo dan lo butuh mereka! " ujar jastin membuat Naya menegakan tubuhnya.
Naya mengusap wajahnya yang masih saja menangis,"Lo kesurupan ya Jas?,tumben banget omongan lo bener kaya gini"cibir Naya serak.
Jastin senang mendengar cibiran Naya dengan begitu artinya Naya sudah menjadi dirinya sendiri,Naya kembali menyandarkan kepalanya dibahu jastin,"Lo gatakut gitu kalo gue beneran kesurupan?"
"Gue pending dulu takutnya" jawab Naya diluar nalar membuat Jastin terkekeh sebari mengusap rambut Naya.
"Gue cuma minta lo buat seperti biasanya Naya,Naya yang ceplas-ceplos,aga gila,judes,kasar,dan kuat,lo bisakan Naya?" Pinta Jastin berharap Naya bisa keluar dari keterpurukannya atas musibah yang terjadi pada Nirbita.
"Lo mau ga jadi temen gue?" Celetuk Naya membuat Jastin cengo.
"Hah gimana magsud nya?" Tanya jastin tidak paham tapi Naya tidak menjawab,saat dilirik Naya sudah memejamkan matanya dengan bersandar dibahu jastin.
Jastin tidak menuntut jawaban biarlah Naya tidur dibahu nya dengan harapan saat bangun Naya sudah kembali seperti dulu,si judes ceplas-ceplos!.
Tanpa disadari dua orang itu dibelakang mereka ada Antariksa yang sejak tadi mendengarkan obrolan mereka,,,Antariksa hanya ingin mengecek Naya takutnya gadis itu tersesat dan kembali terkunci di kamar jenazah tapi untungnya tidak.
Saat ia menemukan Naya tengah berpelukan dengan Jastin, Antariksa sangat kesal ia sudah bilang untuk menjauhi b*jingan satu itu,tapi Naya sangat bebal,saat mendekat kearah mereka Antariksa malah terdiam saat mendegar suara Naya yang menyalahkan dirinya sendiri atas musibah yang terjadi pada Nirbita.
Antariksa merasa kesal juga marah mendengarnya tapi tidak lagi ada niatan untuk menghampiri Naya bahkan menegurnya,ia membiarkan saja sampai akhirnya mereka pergi ke taman rumah sakit.
Antariksa tidak menyangka jastin akan menasehati Naya,"Setiap orang punya sisi gelap masing-masing "gumannya sebari menghela napas dan untuk kali ini membiarkan Naya bersama Jastin.
Antariksa pergi dari taman dirinya juga merasa hancur dengan keadaan Nirbita, tapi kembali lagi pada keadaan,jika terus terpuruk maka mereka akan semakin hancur, mereka harus kembali bangkit untuk Nirbita.
Disisi lain Rangga dan Gara duduk disatu ruangan yaitu diruangan Nirbita,kedua pria itu terus mengajak Nirbita mengobrol walau tidak ada respon atau reaksi sedangkan Naila pergi bersama Bintang beberapa detik lalu untuk mencari makan siang.
"Ada yang mau gue omongin sama lo bang"ujar Gara keduanya duduk disamping Nirbita,jika rangga diranjang Nirbita maka Gara di kursi lain dekat ranjang Nirbita.
"Dari tadi lo ngomong" cibir Rangga.
Gara mendengus,"Gue mau minta ijin"
Rangga menaikan sebelah halisnya bingung, "Mau pulang ya sono ngapain ijin dulu sih!, lo datang ga diundang kalo mau pulang gausah minta antar dong" julit Rangga mengerutu.
__ADS_1
Gara tidak menanggapi respon Rangga,remaja itu masih berkata dengan nada serius dan yakin,"Gue mau ijin deketin Nirbita sebagai cowo bang"ungkapnya meminta ijin membuat Rangga tersentak.