
Agnes masuk kedalam kelas dengan wajah ditekuk dan saat sampai dimeja nya gadis itu merebahkan kepalanya dimeja tampak tak semangat.
"Agnes kenapa?,lesu amat kaya ga dikasih uang jajan" tanya Naila
Dimeja Naila tengah diadakan permainan ludo lewat ponsel yang dimainkan empat orang yaitu,Nirbita,Naila,Rayhan dan Davri.
"Gapapa ko" jawabnya sebari menegakan cara duduknya.
"Tuh ga semangat banget" cibir Naila tanpa menoleh pada Agnes.
Agnes tidak menjawab gadis itu malah melamun memikirkan apa yang ia lihat diparkiran tadi,saat berjalan dari parkiran ia melihat Devan dan Risa datang bersama membuat hati Agnes merasa terganggu tanpa sadar gadis itu mengepalkan tangannya sebari meninggalkan parkiran dengan suasana hati yang rusak.
"So banget si lo!,emang lo pikir cara semangat itu kaya gimana?,loncat-loncat kaya poci?" cibir Davri.
"Hooh" jawab Naila menginyakan membuat Davri tidak tahan untuk tidak menoyor kepala Naila.
Yang polos mendekati bego!.
"Gausah toyor-toyor dong,udah di zakatin nih pala" songong Naila membuat Davri mendengus.
"Tautuh,Davri ga ngotak,kalo otak bini gue jatuh gimana?" hardik RAYHAN tidak terima Naila ditoyor.
"Emang lo punya otak?" tanya Davri pada Naila.
Naila membusungkan dadanya songong,"Engga"jawabnya membuat Davri terbahak.
"Kamu sakit Nes?" tanya Nirbita tidak menghiraukan ketiga temannya.
"Engga ko,aku gapapa" jawab Agnes tak lupa tersenyum.
"Kalo kamu sakit mending ke uks aja" ujar Nirbita.
"Hooh tuh Nes,disana pasti udah disiapin obat buat orang sakit" saut Naila.
"Anehnya rumah sakit dimasukin orang sakit kan nambah parah" bel Rayhan membuat Davri menjitak kepala ketua kelasnya itu.
"Kdrt banget lo sama ketua" hardik Rayhan tidak terima tangannya jadi korban tak sopan Davri.
"Atau mau aku pinjemin meteran ke uks?" tanya Naila membuat mereka menatap heran gadis itu.
"Meteran buat apa la?" tanya Nirbita bingung.
"Itu loh kak buat ngukur" jawab Naila sebari memainkan gilirannya bermain ludo.
"Ngukur apaan?" tanya Davri,Rayhan,
Agnes dan Nirbita serempak.
"Ngukur suhu badan lah gitu aja gatau" cibir Naila membuat mereka berdecak.
"Yang ada meteran buat ngukur tanah!"sungut Davri tak habis pikir dengan otak lemot Naila tapi so.
"Ko ngukur tanah sih,kan yang sakit Agnes bukan tanah" heran Naila membuat mereka tepuk jidat.
"Orang kalo mati diapain?" tanya Rayhan.
"Dikubur" jawab Naila cepat.
"Pinter" mendengar pujian untuknya membuat Naila sombong.
Naila adalah contoh manusia dipuji dikit langsung terbang ke antariksa sampe lupa caranya mendarat,jangan dicontoh epribadeh.
"Si Agnes bisa-bisa milih meninggoy dari pada ngeladenin tingkah lo" cibir Davri membuat Naila tersungut-sungut.
"Namanya termometer Naila bukan meteran" ujar Nirbita memberitahu.
Naila mengangguk paham,"Ila lupa,jadi ila sebutin yang mirip aja,meteran sama termometer kan mirip"sanggah Naila.
"Terserah kamu" hardik Agnes dan Nirbita.
"Eh jam pertama pelajaran apa si?" tanya Agnes.
"Matematika sih" jawab Nirbita membuat mereka tersentak.
"Matematika" beo mereka,"Kenapa ga ngomong dari tadi!"sentak mereka pula membuat Nirbita melongo.
"Kenapa emangnya?" tanya Nirbita dengan wajah bingung,memang kenapa jika pelajaran matematika?,aneh!.
Walaupun Nirbita juga lemah dalam pelajaran satu itu tapi Nirbita tidak pernah kepikiran tentang nilainya yang anjlok setidaknya ia sudah berusaha sebisa mungkin,begitu saja jalan pikir gadis itu.
"Nilai gue pasti merah nih" ujar Rayhan menebak nilainya sendiri.
"Sama" timpal Davri dan Naila.
"Iyalah orang lo ga pernah belajar kerjaan lo cuma nyontek doang" cibir Davri.
"Apa si Dav,ila nyontek kalo pr doang ya karna ila males belajar,kalo ulangan mah engga" sanggah Naila tidak terima,"Iya kan kak?"sambungnya meminta persetujuan dari Nirbita.
"Iya,nyontek juga bisa bikin pinter ko,kan biasanya nilai hasil nyontek suka lebih besar dari orang yang dicontek" jawab Nirbita.
"Berarti selama ini lo suka nyontek Nirbita?" tanya Davri penuh selidik.
"Sekate-kate ini anak pak rt ngajak ribut" sentak Nirbita tidak terima,"Kagalah,semua hasil kerja keras aku sendiri,kan yang aku omongin bener,nilai yang menyontek biasanya lebih besar dari yang dicontek walau guru tau dia hasil nyontek,,,kesel deh kalo kejadian kaya gitu kaya yang dialamin author,,kasian banget dia udah begadang ngerjain tugas eh nilainya lebih rendah dari yang cuma nyalin kerjaan dia,,sabar ya thor"
"Kacian banget author gue"
"Udah kalian belajar sana dari pada gibah mulu bikin author nambah emosi kalo diingetin masalah contek menyontek itu"sela Agnes.
"Engga deh gue terima nasib aja,kalo bagus alhamdulillah kalo jelek alhamdulillah" jawab Rayhan pede sebari memainkan gilirannya bermain ludo.
"Serba alhamdulillah terima nasib banget pokonya,emang ketua kelas panutan gue" sesat Davri mengikuti jejak ketua kelas.
"Terserah" sanggah ketiga gadis yang tengah bergosip bersama tadi.
Naila mengambil buku pelajaran matematika yang kebetulan ia bawa dan ditaruhnya dimeja dengan hati-hati,naila membuka buku lembar perlembar.
Mereka yang melihatnya berpikir naila akanĀ mempelajari pelajaran yang sangat amat menyusahkan itu,tapi jika soal perhitungan duit tidak akan susah ko,yang tadinya begopun bisa pintar kilat jika masalah money.
Naila mengusap bagian lembar bukunya yang sudah kusam karna tulisan,lalu usapan itu ia kembali usapkan di kepala,mereka yang melihatnya jadi bingung,"Kamu lagi ngapain Naila?"tanya Agnes bingung.
"Cara cepat buat pinter kak" jawab naila sebari kembali membuka lembaran selanjutnya dan kembali melakukan hal yang sama yaitu mengusap bagian buku dan saat merasa sudah terserok kedalam tangannya gadis itu mengusapkannya pada kepalanya,hingga ia lakukan berkali-kali hingga bel berbunyi.
"Ga gitu konsepnya! "
.
.
.
Sudah menjadi kewajiban jika bel istirahat berbunyi maka para murid akan membubarkan diri tujuan utamanya adalah kantin.
"Naya bisa ngobrol sebentar?" tanya Vania kini berdiri disamping meja Naya.
__ADS_1
"Apa?ngomong aja" jawab Naya.
"Mmm ada yang mau gue omongin cuma berdua bisa?" tanya Vania sekali lagi.
"Iya" jawab Naya malas padahal ia ingin segera ke kantin untuk bersedekah pada cacing diperutnya yang sudah berdemo sejak tadi,"Dikelas aja ya kita tunggu kelasnya kosong"Vania mengangguk setuju.
"Kantin ga nay?" tanya Farel ketua OSIS.
"Duluan aja" jawab Naya.
"Ok,Vania lo ga kekantin?" tanya pria itu pada Vania.
"Nanti gue kekantin" jawab gadis itu tersenyum tipis.
"Yaudah deh gue sama Bintang duluan ya"
"Iya" jawab kedua gadis itu.
Melihat kelas yang semakin sepi menyisakan kedua gadis itu membuat suasana menjadi canggung.
Semua rangkaian kata yang sudah Vania siapkan dari kemarin-kemarin menjadi tertahan ditenggorokan,ia bingung cara memulainya bagaiamana.
"Jadi ngomong ga?,gue mau nyusul ngantin nih laper" tanya Naya sebari menekan kata laper saking lapernya.
"Jadi" sanggah Vania cepat,"Maaf"sambungnya dengan lirih bahkan tatapannya menunduk dengan kedua tangan saling bertautan.
"Buat apa? " tanya Naya menjadi dingin.
Bukan hanya tercekat ditenggorokan tapi bubar sudah rangkaian kata yang sudah vania siapkan,sekarang otak Vania ngeblank.
"Mau diem gue tinggal!" ancam Naya kesal karna vania masih saja terdiam setelah mengatakan maaf.
"Maaf,gue minta maaf atas semua kesalahan gue sama lo selama ini,gue banyak salah sama lo,gue minta maaf" ujar Vania semakin menunduk.
"Jelasin kesalahan apa yang lo lakuin sampai harus minta maaf sama gue?" tanya Naya bersedekap dada di kursinya.
"Gue udah iri sama lo,gue udah jahatin lo beberapa hari lalu,soal kertas di loker lo,itu,itu,itu gue yang lakuin"ujar jujur Vania terbata-bata.
"Gue minta maaf udah jahatin lo pake acara neror kaya gitu,gue ngelakuin itu karna cemburu,gue" Vania semakin mendunduk,"Gue cemburu sama kedekatan lo sama Farel"
"Dari kelas sepuluh gue udah suka sama Farel tapi gue gatau cara ngungkapinya,sampai gue nekat nyalon jadi wakil ketua osis pas tau Farel mencalonkan diri jadi ketua osis biar bisa deket sama dia" Vania menghela nafas.
"Tapi ternyata Farel cuma deket sama lo doang dan itu bikin gue gelap mata,gue pikir kalo lo gaada gue bakal dianggap sama Farel,sorry gue bener-bener minta maaf,gue udah sadar sekarang kalo yang gue lakuin itu salah" sesal Vania sungguh-sungguh.
"Lo lakuin apa aja biar gue jauh dari Farel?" tanya Naya dingin.
"Gue caper ke Farel kaya minta dia jelasin tugas gue jadi wakil dan pura-pura ga paham sama kerjaan gue,puncaknya saat gue naruh kertas di loker lo dengan tulisan lo ga boleh serakah,karna gue pikir lo udah deket sama geng inti Algaskar" jawab jujur Vania bahkan pipi gadis itu sudah basah entah dari kapan karna terus menunduk.
"Terkadang cinta ga perlu memiliki"ujar Naya so bijak membuat Vania mengangguk.
"Gue sadar ko,tolong maafin gue,gue gamau hidup dengan rasa bersalah terus" mohon Vania.
"Soal pembulian yang terjadi sama ade gue diwaktu yang sama lo naruh kertas di loker gue,itu juga ulah lo?" tebak Naya.
Vania langsung menggelengkan kepala dan menjawab,"Bukan!"jawab Vania setengah berteriak.
"Gausah teriak dong gue ga budeg!"
"Sory Naya gue ga sengaja,tapi beneran kalo pembulian yang terjadi sama Naila dan Nirbita dikelas mereka bukan ulah gue" jawabnya sebari membentuk tangan menjadi v menunjukan kesungguhannya.
"Tapi kayanya gue tau si siapa pelakunya" sambungnya membuat Naya menegakkan tubuhnya menatap selidik gadis yang sudah menaruh kertas bercorak merah denganĀ bau anyir di lokernya.
"Siapa? " tanya Naya.
"Hari itu gue datang kesekolah paling pagi gara-gara buku tugas gue ketinggalan mana ada pr yang harus dikumpulin" ujar Vania menceritakan kronologi kejadian bab (27)
"Maaf sebenarnya emang sekalian naruh kertas itu diloker lo,jadi pas gue mau ke gedung ips,gue liat siluet seseorang pake hoodie hitam sama celana jeans hitam trus kepalanya pake topi,gue curiga dong sama pakaian orang itu jadi gue so berani gitu,padahal aslinya takut banget,gue ngikutin orang itu,bukan cuma seorang sih tapi ada dua orang lainnya"
"Totalnya berapa" sela Naya karna Vania terlalu bertele-tele membuatnya pusing.
"Tiga orang,gue ngikutin sampe mereka berenti dikelas 10c IPA,gue pantau dari jauh dong karna gue takut,gue kaget banget pas dua orang itu nyiram sampah dimeja adek lo,sama cairan hitam bau banget,gue diem aja liatin dari jauh,dan satu anggota lagi cuma ngasih intruksi gitu,,setelah meja adek lo kotor sekaligus bau dua orang itu pergi ninggalin satu orang lagi" Vania menjeda untuk mengambil nafas panjang.
"Gue masih so berani dong dan masih stay ngintip,,sisa satu orang itu pergi dari kelas kalo dua orang tadi keluar gedung sekolah beda sama yang ini,dia malah masuk ke toilet cewe,,gue berasumsi dong satu pelaku itu cewe,gue cuma berani ngumpet dideket toilet biar ga ketahuan,,sebari otak gue mikirin pelakunya gue pikir pelakunya pasti sekolah disini juga,tapi itu asumsi gue,,,dan lo tau ga?gue ampir serangan jantung pas seseorang pake seragam sekolah kita keluar dari toilet yang sama dari pelaku itu" pekik Vania diakhir kalimatnya.
"Lo pasti kaget si kalo waktu itu liat wajah pelakunya yang udah ganti baju jadi seragam sekolah kaya kita" tebak Vania membuat Naya mendengus saja,"Yang gue ga habis pikir tuh pelakunya mukanya muka-muka polos memb*gongkan tau ga?,pengen gue cakar muka so imutnya itu,dasar cewe muka dua,satu aja ngurus muka susah ini malah punya dua muka"gerutu Vania.
"Khmm ga sadar diri" cibir Naya pada vania padahal gadis itu juga sudah menerornya waktu itu.
Vania yang tersadar cengengesan,"Maaf kelepasan habisnya gue kesel banget liat muka tuh cewe,rasanya pengen cakar"ujar Vania menggebu.
"Eh lo maafin gue kan?" tanya Vania memastikan.
"Iya gue maafin,tapi kalo diulang gue bakal bales lo,dan inget semua ga bisa lo milikin walau lo mau dan ga semua yang dimiliki itu berefek baik untuk kita" jawab Naya kembali so bijak.
Padahal Naya memang bijak hanya saja terkontaminasi kedua adiknya yang terkadang membuatnya sengklek.
"Iya makasih udah maafin gue"
"Hmm,sekarang sebutin yang udah neror ade gue!" pinta Naya dengan sorot kesal.
"Mmmm gue gatau namanya" jawab Vania membuat Naya mendengus tak suka.
"Yang bener aja lo!" hardik Naya dengan suara naik satu okta.
"Maaf tapi gue beneran ga tau namanya,gue cari tau dulu deh namanya, gue inget ko ciri-ciri fisiknya kalo udah tau namanya gue kasih tau lo" sanggah Vania.
"Sebutin ciri-cirinya!" ujar Naya kesal.
"Cewe,rambutnya dikuncir kuda pas masuk toilet sama pake kacamata min gitu, tapi pas keluar dari toilet ga pake kacamata trus gue liat dia buka iket rambutnya jadi tergerai" jawab Vania mengingat-ingat.
"Guna ga sih informasi lo yang terakhir ini?" tanya Naya bingung siapa yang harus ia curiga,semua gadis pemakai kaca mata dengan rambut diiket kuda,banyak woy yang berpenampilan seperti itu.
"Berguna ko,gue janji bakal cari tau namanya buat lo" ujar Vania pasti.
"Harus pokonya lo harus dapat nama peneror itu,gue ga terima ada yang neror ade-ade gue" sungut Naya penuh penekanan membuat Vania bergidig.
"Lo tenang aja gue bantuin,gue sekarang dipihak lo sebagai sahabat"
"Sejak kapan lo jadi sahabat gue?" tanya Naya mendelik gadis disampingnya itu,yang entah sejak kapan sudah duduk disampingnya.
"Sejak gue jujur,minta maaf dan lo maafin" jawab enteng Vania.
"Ga!,gue ga terima persahabatan itu" tolak Naya.
"Gue ga nerima penolakan,mulai sekarang kita sahabat pokonya titik,ade lo ade gue juga yang artinya bakal gue jaga" gadis itu menjeda ucapannya,"Tapi kalo pacar lo pacar lo sendiri sih ga usah bagi-bagi sama gue"sambungnya membuat Naya memutar matanya malas.
Malas meladeni Vania yang biasanya bersikap cuek,acuh tak acuh pada sekitar kecuali Farel, kini sudah menunjukan sikap aslinya yang ternyata absurd didepan Naya,jika terus meladeni gadis ini maka akan semakin lama.
Jika begitu semakin lama juga ia bersedekah dengan cacing yang sudah berdemo diperutnya ini,demi keamanan hidup dan matinya naya mengeluarkan satu jurus untuk kabur.
Inginnya sih memakai kekuatan ochobot agar bisa berpindah tempat langsung dikantin gitu,tapi sayang hanya ada didunia kartun saja,dan yang ia keluarkan adalah jurus alami.
"Mau nguping sampai kapan lo?,keluar sini!,gue jedotin tuh kepala kalo ga nongol,gue do'ain juga lo bisulan karna udah nguping pembicaraan kita,gue itung sampai tiga kalo ga keluar juga,gue bongkar aib lo sama cewe yang lo suka ini" ancam Naya sebari menatap kearah luar.
__ADS_1
"Satu dua" Naya menghitung secara kilat bersamaan dengan kepala seseorang yang muncul sebari menunjukan senyum pepsodent kearah Naya.
"Sohin gue yang cantik" puji orang itu membuat Naya memutar matanya malas.
"Urus urusan kalian,jangan bawa-bawa gue diantara kalian!,kalo suka bilang suka gausah sok jual mahal jadi cowo diembat yang lain nangis"julit Naya lalu melegang pergi meninggalkan kedua sepasang anak manusia yang kini bengong itu.
Tidak ada yang mulai bersuara setelah naya meninggalkan mereka.
Vania terlalu syok dengan keberadaan Farel yang ternyata menguping pembicaraannya dengan Naya entah sejak kapan,rasanya Vania ingin mengubur diri dibawa pasir sampai tak terlihat.
Satu menit saling diam hanya dengan saling tatap membuat Naya yang ternyata mengintip diluar berdecak kesal,ia ingin segera kekantin tapi kalah dengan rasa keponya yang ingin tau kelanjutan kisah Farel dan Vania yang ternyata saling suka dan saling gengsi.
"Ga usah mendadak bisu kalian,tinggal bilang kita sekarang pacaran gitu aja susah" pekik Naya kesal lalu pergi dari sana dengan menghentakan kakinya menuju kantin,bodo amat hubungan sahabatnya itu akan bagaimana yang penting cacing perutnya makan!.
Naya ini walaupun suka eror tapi selalu bisa menjadi tempat curhat untuk Farel,selama ini gadis itu menjadi penampung keluh kesal ketua osis widurdama itu sebagai sahabat,jadi Naya tau bahwa farel menyukai Vania sejak kelas sepuluh begitupun sebaliknya,Naya selalu berusaha membantu Farel untuk mendekati Vania walau kebanyakan gagal sih.
Dan kali ini berhasil,Naya sebenarnya sudah tau siapa yang menaruh kertas ancaman di lokernya namun pura-pura tidak tau menunggu sampai orang itu melakukan tindakan selanjutnya,jika masih meneror,maka Naya akan membalasnya namun jika meminta maaf seperti tadi Naya akan memaafkannya,toh semua hanya karna salah paham semata.
Jika satu kali masih dimaafkan dua kali bisa jadi dibalas kan!.
Bagaimana Farel bisa menguping pembicaraan mereka?,jawabannya karna Naya diam-diam merekam pernyataan cinta secara tidak langsung dari Vania,Farel yang mendapat pesan itu langsung ngacir kembali ke kelas dari kantin.
Naya menjadikan kesempatan hari ini menjadi satu tepuk dua tiga nyamuk mati,mendapat pengakuan Vania yang sudah menerornya,membuka jalan hubungan sahabat kecilnya dan menemukan titik terang pelaku peneroran pada adik-adiknya walau tidak seterang mentari,namun cukup memuaskan,sementar lagi pasti akan terbongkar siapa Antagonis dalam novel ini.
Sebaik apapun bangkai disembunyikan akan tercium juga baunya suatu saat nanti.
Farel yang hilang kata-kata langsung berlari kearah vania.
Grep
Remaja itu memeluk vania membuat gadis itu menegakan tubuhnya kaku.
"Kita pacaran mulai sekarang" ungkap Farel dengan semburan kebahagiaan,bodo amat dibilang ga romantis yang penting cintanya tidak bertepuk sebelah tangan hampir dua tahu ini.
Vania tersentak namun ia juga tak kalah senang dengan kabar kebahagiaannya ini,hari ini kebagiaan berada di tangannya,jika kejujuran pada Naya bisa membuatnya mendapatkan kebahagiaan yang hanya bisa di bayangkan maka sudah dari kemarin-kemarin ia jujur,dan mendapatkan kebahagiaan ini lebih awal,tapi sekarang pun tidak apa yang penting cintanya tidak bertepuk sebelah tangan,walau pernyataan cinta pria yang ia cintai tidak romantis.
Atau bisa disebut Farel tidak menembaknya namun langsung menentukan hubungan mereka,bodo amat yang penting hubungan mereka kini jelas tidak abu-abu.
.
.
.
Naya yang ingin kekantin harus memutar haluan padahal ia sedang kelaparan apalagi otaknya dikuras saat ujian dobel pengakuan vania yang terbelit-belit.
Jika tidak diancam maka naya tidak akan menurut keinginan sipengirim pesan untuk menemuinya dihalaman belakang sekolah.
Huaaaa Naya laper gusti
Yang mengancamnya bukan sosok antagonis yang sedang ia cari jika sosok yang ia cari wanita maka yang mengancamnya kali ini seorang pria.
Pria itu mengancam jika Naya tidak menemuinya ditaman belakang sekolah maka orang itu akan membuat kerusuhan didepan sekolah,naya sih bodo amat mau buat keributan ke,bundir ke,sabodo teing yang penting dirinya ga terbawa masalah,masalahnya pria itu mengancam akan berteriak memanggil nama Naya!.
Damn it
Jika begitu Naya akan menjadi tersangka utama nanti,huhh tidak ada pilihan lain selain menuruti keinginan pengiriman pesan.
"Apa?!" tanya Naya ngegas berdiri disamping sosok pria yang mengirimi pesan tengah duduk di kursi panjang dekat pohon mangga.
"Ngegas amat si neng"ledek pria itu.
"The de poin deh Jastin buruan,jam istirahat keburu habis" rengek Naya pada Jastin yang menatapnya tanpa rasa bersalah.
Bagaimana pria itu ada disekolah widudarma? Jawabannya pria itu memanjat tembok.
"Buru-buru amat si masih lama juga" cibir Jastin tanpa menatap wajah Naya yang sudah menekuk.
"Kalo ga ngomong juga gue pergi nih!" ancam Naya.
"Dari tadi gue ngomong sih,lo nya aja yang budeg kali ga bisa denger suara gue" cibir Jastin sungguh menyebalkan.
"Serius Jastin,lo ketemu sama gue ada apa gerangan!" tanya Naya mengeram ingin segera otw kantin.
"Gue ada salah sama lo?" tanya Jastin kini menunjukan raut serius.
Naya yang ditanya seperti itu mengerutkan keningnya heran,"Magsudnya gimana?"
"Lo marah sama gue?" tanya Jastin.
Naya menggelengkan kepalanya ribut,"Engga tuh,kenapa lo nanya kaya gitu?"tanya gadis itu lalu terpekik tertahan,"Apa!"
"Gausah teriak-teriak" tegur Jastin tidak ingin keberadaannya yang menyelinap masuk dalam kandang musuh ketahuan,bukannya takut hanya saja sekarang situasinya sedang tidak memungkinkan.
"Maaf,apa jangan-jangan lo mikir kaya gitu,gara-gara malam minggu kemaren ga nemuin lo ya?,malah bikin lo kumpul sama geng Algaskar,padahal kalian musuhan,untung ga ada keributan dirumah" tebak Naya bernapas lega diakhir kalimatnya.
"Itu salah satunya sih,gue kesel banget pas harus kumpul sama geng Algaskar kalo bang Rangga ga paksa mending gue balik aja,tapi sebagai anak baik gue nurutin kemauan orang yang lebih tua" jawab Jastin songong.
"Anak baik yang suka balapan sama tauran" ejek Naya membuat Jastin menggaruk rambutnya yang gatal,"Terus karna apalagi lo nanya kaya gitu?"tanya Naya.
"Lo balas chat gue satu kali sehari,telepon gue juga udah ga pernah lo jawab lagi" ujar Jastin lesu,entah kenapa walau berpikir positif tapi jika Naya belum menjawab alasan bersikap seperti itu Jastin belum merasa lega.
Entah kenapa dengan hatinya,setiap hari menunggu balasan chat dari naya,biasanya Naya akan menjawab kilat chatnya dan membuat dirinya disebut gila karna senyum-senyum sendiri,tapi seminggu lebih balasan gadis itu hanya sekali sehari.
Jastin pikir Naya tengah sibuk mempersiapkan ujiannya namun semakin berpikir positif semakin ia tidak tenang takut dijatuhkan oleh ekspektasi.
"Ouh gara-gara itu,gue sibuk siapin ujian sih,gue memporsir diri buat belajar,gue juga jarang pegang HP beberapa hari ini,,, gitu si sory kalo ternyata lo nungguin chat dari gue" jawab Naya meringis tak enak.
"Siapa juga yang nungguin balasan dari lo" cibir Jastin namun entah kenapa saat mengatakan itu hatinya terasa sakit,"Pede banget,gue tuh cuma heran aja,kenapa lo kaya ngejauhin gue,,gue takut punya salah sih, gue gamau bermasalah sama cewe"elaknya membuat naya menunduk.
Naya mendongkak lalu tersenyum kaku,"Kita ga sedeket itu kalo sampe lo harus mikir gue ngejauhin lo,,,dan lo ga ada salah ko sama gue semua udah impas,,,dari waktu lo tarik gue pas balapan liar itu kan lo anter gue balik dengan selamat,malah lo udah banyak bantuin gue dari nebengin gue,ngajak jalan ke mall sampe dibayarin juga,,,kita ga ada masalah sama sekali"ujar Naya membuat Jastin tersentak mendengar kata diawal.
"Makasih ya Jastin udah mau gue repotin selama ini,gue seneng deh kenal lo,,,gue harap lo ga bersikap berlebihan kaya gini,sikap lo kaya gini bikin gue salah paham tau ga?" ujar Naya dengan nada kesal namun mempertahankan senyum tipisnya.
"Gue"
Saat Jastin ingin bersuara naya menyelanya,"Udah gaada yang mau diomongin kan?"Naya bukan bertanya namun memastikan,"Kalo gitu gue cabut ya,gue belum makan keburu jam istirahat habis"sambungnya tanpa menunggu respon Jastin, Naya pergi dari sana.
Naya meninggalkan Jastin yang hanya menatapnya dalam diam,sesekali Naya menghela nafasnya merasakan panas dimata,"Lo kenapa si Nay?"tanyanya pada diri sendiri.
Mendengar kata-kata Jastin membuat hatinya mencolos padahal Jastin tidak mengejek atau mengatakan hal buruk tentang nya,tapi hatinya begitu sakit seolah ada batu yang menghimpit dadanya hingga kesulitan bernafas,mood makan Naya hilang begitu saja padahal tadi ia sangat lapar.
Tanpa naya ketahui penyebab pastinya air mata keluar begitu saja dari matanya,"Ko nangis,gue kenapa si? "Tanyanya pada diri sendiri sebari melanjutkan langkahnya.
...................
***Halo leader salam hangat dari autor yang banyak kurangnya ini.
Terimakasih sudah membaca novel ini jangan lupa like end komennya ya,komenan kalian sangat berarti loh,bikin aku semangat buat nulis,yang tadinya mager jadi langsung gercep nulis walau kadang sehari cuma setengah bab soalnya kehabisan ide hehe.
sosok antagonis sesungguhnya dalam novel ini segera hadir,ayo coba tebak siapa?,udah ada yang kalian curiain ga nih?,tolong jawab ya biar athor bisa mutusin siapa yang mau author jadiin sosok antagonis yang masih abu-abu ini,cluenya pake kaca mata minus cewe temenan sama triplet.
hayo siapa?
__ADS_1
sekalian author mau ijin besok ga update hehe,author mau bikin bab cadangan dulu soalnya mau fokus namatin novel pertama aku yang judulnya,'mafia gadis mawar',biar sekalian fokus sama novel pertama juga bisa update terus novel ini.
sehat selalu untuk kita semuaš„°love sekebon buat kalian***.