DIARY TRIPLET N

DIARY TRIPLET N
Penampilan


__ADS_3

Setelah ujian selesai dijam pelajaran kedua para murid membubarkan diri dari sekolah.


"Davri anak pak rt yang paling ganteng gaada duanya,tiganya atau empatnya" puji Nirbita kini kelas sudah dibubarkan dan mereka sedang membereskan semua yang ada dimeja.


"Iyalah orang gue anak tunggal" jawabnya membuat Nirbita terbahak,"Mau lo apa pake acara muji-muji segala?"selidik nya.


"Souzon deh sama temen sendiri,gabaik tau"yang menjawab adalah Naila.


"Serobot trus ngomong sama siapa jawab siapa" cibir Davri.


"Emosian amatsi,lagi datang bulan ya?" tebak Agnes membuat Davri mendengus dan si triplet tanpa Naya terbahak.


"Ck,ngomong atau gue tinggal!" ancam pria itu.


"Hehe mau mintol" ungkap Nirbita.


"Udah ketebak sih,apa?"


"Gendong,,aku lemah,lesu loyo Davri ku cayang gakuat jalan"rengek Nirbita sebari mengerucutkan bibirnya.


"Kalo tau sakit ngapain sekolah sih?!" dengan Davri menatap wajah Nirbita yang pucat.


"Hehe kan ada ujian masa ijin ga banget" ungkap Nirbita.


"Dasar!,nih bawa" Davri memberikan ranselnya pada Naila.


"Masa ila yang bawa" rutuk Naila.


"Yaelah ila,susah gue bawa tas sambil gendong ni bocah" ujar Davri sebari berdiri membelakangi Nirbita.


"Aga jongkokan dav,susah naiknya"Davri menuruti intruksi Nirbita.


Hap


Davri sedikit terhuyung ketika nirbita berhasil naplok dipunggung davri dengan kepala gadis itu disenderkan di bahunya.


"Lo beneran lemah,lesu,loyo ta?"tanya Davri bersusah payah melangkah.


"Hmm" jawab Nirbita memejamkan mata di gendong Davri.


"Lo kena amnesia kali" tebak Davri langkah pria itu diekori Agnes dan Naila.


"Amnesia?" beo Nirbita,"Engga ko ita inget semuanya ga amnesia "


"Bukan lupa ingatan dodol tapi ituloh kekurangan darah" ungkap Davri membuat nirbita membuka pejaman matanya dan menoyor kepala Davri hingga mereka sedikit terhuyung.


"Gausah toyor-toyor kepala dong,kalo jatuh gue juga kena"


"Abisnya kamu bego dipiara si dav,kalo mau pelihara tuh ikan,ayam atau kambingke inimah bego" oceh Nirbita kembali memejamkan mata dan bersandar dibahu davri.


"Ck gatau terimakasih jadi orang udah gue gendong malah ngatain!,gue jatohin mau?!" ancam nya membuat Nirbita mempererat pegangannya pada Davri hingga pria itu memekik.


"Sakit bego leher gue kecekek!"


"Maaf gasengaja,ita takut Davri jatuhin makanya pegangan yang kenceng" jawab Nirbita sebari sedikit meregang pegangannya,"Tadi bukan amnesia Davri anak pak rt tapi anemia"


"Sejak kapan ganti?" tanya Davri bodoh.


"Sejak flm kerajaan di Indonesia siarpun emang namanya udah gitu!" rutuk Nirbita.


Davri manggut-manggut,"Lo berat amatsi,kebanyakan dosa nih"keluhnya.


"Gausah so ngitung dosa orang lain deh rajin banget belum tentu dosa sendiri keitung" cibir Nirbita.


"Yeh si kambing,makanya gue itung dosa lo siapa tau malaikat ngurangin dosa gue karna udah bantuin tugas dia ngitung dosa" ujar Davri.


"Engga paham" ujar Nirbita membuat Davri mendengus.


"Jujur amatsi jadi orang" rutuk Davri.


"Davri diem dulu dong ngajak gibahnya nanti lagi,ita ngantuk nih" ungkap Nirbita.


"Yeh kebiasaan lo mah kalo sakit kerjaannya tidur"


"Diem dav,ita ngantuk mau merem bentaran" ungkap Nirbita.


"Jangan ngap,nambah berat kalo lo tidur" ujar Davri.


"Kata siapa,kan ita tidur ga nambah beban cuma mejamin mata doang" bingung Nirbita.


"Nambah lah katanya juara bertahan tapi oon,kan kalo lo tidur otomatis lo pasti mimpi dan nambah beban kan?" tanya Davri diangguki kepala oleh nirbita dengan gerakan lirih.


"Seharusnya sih gue yang jadi juara tertahan,gue pinter banget" puji nya pada diri sendiri.


"Iya" jawab Nirbita malas.


Dibelakang mereka agnes dan naila tengah mengekor sebari bergibah cantik membicarakan banyak hal yang hampir tidak penting.


"Risa" sapa naila saat berpapasan dengan Risa.


"Hai Naila, Agnes"


"Kamu mau pulang juga?" tanya Naila diangguki Risa sebagai jawaban.


"Pulangnya naik apa?" tanya Naila lagi.


"Naik angkot ila,kamu juga mau pulang?,itu Nirbita kenapa digendong?" tanya Risa melihat Nirbita di gendong anak davri tengah tertidur.


"Kami juga mau pulang,itu kak ita sakit jadi mintol digendong sama Davri sampai parkiran" jawab Naila apa adanya sebari merangkul lengan Risa.


"Sakit?,sakit apa?"


"Sebenarnya sih malam minggu kak ita demam sekarang udah baikan tapi gitu,kak ita kalo ga enak badan selalu ngantuk kerjaannya tidur mulu,tadi aja pas ulangan kak ita sempet-sempetnya ketiduran,untung ga ketahuan guru pengawas"ujar Naila.


"Kalo ketahuan,Nirbita bisa aja ga diijinin ikutan ujian" ujar Agnes.


Mereka mengangguk.


"Nanti kalian pulang sama siapa?,kalo Nirbita tidurkan ga mungkin naik motor" tanya Risa.


"Tenang aja sa,abang-abang kami udah siap siaga pastinya diparkiran tinggal pulang" jawab Naila terkikik.


"Syukur deh kalo gitu,kasian aja kalo harus naik motor nanti Nirbita ketiduran lagi kan bahaya" ungkap Risa sebari membenarkan letak kaca matanya.


"Kalo abang kamu ga jemput bisa pulang bareng aku ko,akukan dijemput sama supir" ujar Agnes.


"Makasih Agnes,tapi gausah abang udah siap siaga kalo masalah jemput menjemput,udah kaya supir" bahak Naila.


Tanpa disadari mereka seseorang tersenyum miring sebari menatap lurus ke arah punggung nirbita yang terlihat,"Gue yang akan jadi peringkat satu mulai sekarang"guman orang itu dalam hati.


Sampainya di pertigaan antar sambungan gedung kelas IPA dan IPS mereka berpapasan dengan geng inti algaskar beserta naya.


"Ngapain lo gendong Nirbita?" tanya Gara dengan nada dingin membuat mereka terdiam sejenak.


Naya sadar lebih dulu dari keterkejutannya menghampiri Nirbita digendongan Davri,Naya menaruh punggung tangannya didahi Nirbita.


"Dia demam lagi?" tanyanya.


"Engga kak,kak ita cuma ngantuk" jawab Naila.


"Kebiasaan" cibirnya.

__ADS_1


"Nirbita kenapa?" tanya Gara berdiri disamping Davri menatap nirbita yang masih memejamkan mata digendongan pria itu.


"Tidur bang hehe,lo mau gantiin gue ga bang gendong nih orang?" tanya Davri harap cemas.


"Ok" jawab Gara tanpa pikir panjang.


Davri yang tadinya merasa terancam dengan tatapan Gara yang tajam bisa menghela nafas lega dengan idenya yang memberikan nirbita pada gendongan pria itu,bodoamat yang penting selamat dari amukan ketua geng dulu hehe.


"Ta bangun dulu pindah,gue udah ga kuat gendong lo,lo kebanyakan dosa" ujar Davri sebari menurunkan Nirbita dari gendongannya.


Nirbita menguap dengan cara berdirinya yang semponyongan,"Davri ganggu deh itakan baru aja mau masuk alam goib,, eh alam mimpi"ujar Nirbita kesal tidurnya terganggu.


"Serem amat masuk alam goib" oceh Naila.


"Sodara lo emang anti menstrim si" cibir Rezaldi.


"Bukan sodara tapi emang mereka anti menstrim" ujar Farel.


"Biar aku yang gendong Bu" ujar Gara sebari berjongkok dihadapan nirbita yang terus menguap lebar.


Nirbita mengangguk jika masalah tidur dan makanan adalah nomor satu baginya apapun tidak boleh mengganggu kegiatannya yang dua itu.


Nirbita naik ke gendongan gara lalu menyandarkan kepalanya dipundak pria itu sebari memejamkan mata dan terlelap begitu cepat.


"Eh dia langsung ngebo dong" beo Rezaldi melihat itu semua.


"Berisik" cibir Gara sebari melegang pergi membawa Nirbita dalam gendongannya.


"Dua hal yang ga bisa diganggu dalam hidup Nirbita" ujar Wahyu yang baru nongol.


"Eh si kampret ngagetin!" cibir Aril sebab Wahyu tiba-tiba datang dan bicara.


Wahyu cengengesan,"Hehe sory bang"


"Dua hal magsud lo apa" tanya Aril.


"Tidur sama makannya kak ita ga bisa diganggu gugat"jawab Naila menyela Wahyu yang baru saja akan menjawab.


"Betul"setuju Davri sebari terbahak,barulah menyusul gara dan nirbita sebari bergibah.


Dan menggoda Agnes dan Risa tentunya walau berakhir dengan omelan Naila yang so iya.


Diparkiran sekolah dua pria dewasa sedang berdiri bersandar pada body mobil dengan kaca mata hitam bertengger dihidung mereka,mereka terlihat seperti sugar dady yang tengah menunggu seseorang,tubuh salah satu dari mereka hanya memakai kaos dan satunya lagi memakai jaz kantoran.


Kedua pria itu membelalakan matanya saat melihat orang yang ditunggu datang bersama pria,bukan itu masalahnya disini tapi orang yang mereka tunggu berada digendongan pria itu.


Tidak bisa dibiarkan!.


Rangga dan Elesky berlari menghampiri gara yang baru saja sampai diparkiran menggendong Nirbita.


Elesky merebut Nirbita dari gendongan pria itu,walau engga memberikannya Gara tidak bisa menahan untung Nirbita kali ini tidak terbangun.


"Lo apain ade gue hah?" tanya Rangga sebari mencengkram kerah Gara.


"Nirbita tidur bang gue mau anterin dia balik" jawab Gara tenang.


Rangga melepas cengkeramannya,"Ngomong dong"kikuknya


Gara hanya memutar matanya malas lalu menyusul langkah Elesky yang membawa Nirbita dalam gendongan ala bridal pria itu membuat jeritan tertahan para siswi yang melihat semua itu,mereka tentu iri melihat adegan romantis seperti ini.


"Heh mau kemana lo?" sentak Rangga menyusul langkah Gara.


Gara membantu Elesky membukakan pintu mobil bagian belakang untuk memasukan nirbita kesana,bukannya senang mendapat bantuan Elesky malah mendengus.


"Ga guna banget lo rang" cibir pria itu pada Rangga yang seharusnya membantu membuka pintu bukannya Gara.


"Ck" Rangga hanya berdecak,"Nirbita udah sama kita lo balik ke sepesies lo lagi sana!"sambungnya pada Gara.


"Perlu gue ikutin dari belakang bang?" tanya datar Gara


"Di Koridor" jawab Gara membantu Elesky mendelik.


"Ga nanya sama lo!" tekan Elesky hanya dibalas kedikan bahu oleh Gara.


"Terserah tanya siapa,gue tau gue jawab" ujar Gara tidak ada takut-takutnya dengan Elesky yang sudah ia ketahui sebagai kakak sepupu nirbita yang berprofesi sebagai tentara.


Tentara juga manusia.


Elesky rasanya ingin mencekik remaja disampingnya ini selain triplet tidak ada yang menang berdebat dengannya dan kali ini gara malah menantang siapa takut!.


Rangga sendiri sedang melamun memikirkan perkataannya sendiri saat dikantor,nyatanya ia tidak siap membiarkan adiknya bersama pria lain walau hanya sekedar pacaran,ia kesal saat adiknya digendong walau dengan tujuan baik oleh pria lain selain dirinya atau Elesky dan kedua ayahnya atau tepatnya seharusnya mereka panggil paman.


Rasanya Rangga ingin mengamuk sekarang juga jika tidak menahan diri,ternyata kenyataan terlalu menyakitkan untuk dirasakan,baiklah  rangga menelan kembali ucapannya untuk memberi ijin adiknya berpacaran sampai waktu yang tidak ditentukan!.


"Abang" pekik Naila didepan sana menjadi atensi para murid sekolah yang masih berseliweran diparkiran,begitupun dengan Elesky dan Gara yang sedang berdebat dengan raut datar mereka ikut mengalihkan atensi pada gadis itu,dan juga Rangga yang tersadar dari lamunannya.


"Kalian kemana dulu si lama amat?!" cibir Rangga sebari menerima uluran tangan kedua adiknya.


"Dari kelas langsung keparkiran ko bang ga mampir-mampir dulu" jawab Naila.


"Alesan,cepet masuk kita pulang" ujar Elesky.


"Iya,eh iya bang boleh ga Risa pulang bareng kita?" tanya naila penuh harap.


"Eh gausah la,aku bisa pulang sendiri ko" ujar Risa sebab ia berencana naik angkot sejak awal,tidak ingin merepotkan siapapun.


"Bareng aja Risa,gapapa kan bang?" tanya Naila lagi.


Elesky dan Rangga baru sadar disana bukan hanya ada kedua adiknya dan remaja pembuat kesal yaitu gara,tapi sekumpulan pembuat onar juga berada di dekat mereka.


"Gapapa cepetan masuk sebelum abang tinggal!" jawab Elesky sebari mendorong gara dari samping mobil menggunakan bahunya lalu membuka pintu belakang mobil.


Gara tidak bergeming walau disenggol.


"Masuk cepet!" ujar Elesky.


"Cepet masuk!" kini Rangga yang menekan.


"Ayo" Maila menarik Risa untuk masuk kedalam mobilnya,lalu melambaikan tangan pada agnes,"Agnes kami pulang duluan ya"


"Kamu hati-hati dijalan nes!" timpal Naya.


"Iya hati-hati" jawab Agnes tersenyum kecut.


"Ga bareng aja?" tanya Rangga pada Agnes.


"Eh gausah kak,aku bentar lagi dijemput supir ko"tolak Agnes.


"Yaudah hati-hati,kalo mereka gangguin kamu langsung lapor polisi" ujar Rangga menatap sekumpulan inti algaskar.


"Emang kita kriminal apa bang?!" dengus Rezaldi.


"Ngaku" cibir Elesky sebari melegang pergi masuk kedalam mobil dibagian kursi depan disusul Rangga.


"Woy bang kita ga diajak bareng gitu?" tanya Wahyu.


"Ga level!" cibir Rangga membuat pria itu mendengus.


Setelah mobil yang dikendarai Elesky meninggalkan parkiran inti Algaskar bersama Wahyu dan Davri kecuali Devan ikutan pergi.


"Kakak masih disini ga pulang?" tanya Agnes pada Devan yang sejak tadi berdiri disampingnya.

__ADS_1


"Pulang tapi mau nemenin kamu dulu gapapa kan?"


Agnes mengangguk,"Gapapa si kak,tapi aku bisa sendiri ko"


"Gapapa aku temenin,gabaik anak cewe nungguin jemputan sendiri kalo ada yang ganggu gaada yang nolongin nanti"


"Ucapan itu DOA kak kalo kata Naila,kakak jangan asal dong ngomongnya kan serem" kesel Agnes.


Devan terkekeh sebari mengusap rambut bagian belakangnya,"Bukan do'ain,ga mungkinlah aku do'ain yang buruk-buruk buat calon istri"gombalnya.


"Apaansi kak" ujar Agnes menunduk malu.


"Hehe gapapa dong bilang calon istri,kan kamu bilang ucapan itu doa siapa tau ada malaikat yang lewat terus aminin kamu jadi istri aku suatu hari nanti" goda Devan malu-malu.


Agnes semakin menunduk dengan pipi bersemu walau banyak yang biasanya menggoda atau menggombal pada agnes nyatanya belum ada satupun yang membuat agnes tertarik sampai sekarang.


Agnes tidak menjawab hanya berdehem singkat, "Itu jemputan aku kak" tunjuk nya pada satu mobil yang baru datang,"Aku duluan ya dah kak"sambungnya melambaikan tangan sebari pergi menuju mobil jemputannya.


Setelah melihat Agnes masuk dalam mobil devan memutuskan untuk segera pulang.


.


.


.


Di mobil berisi triplet dan kedua abangnya kini bersama risa diperjalanan mengantar Risa terlebih dahulu untuk pulang.


"Risa kita belum tukeran nomor,mana ponsel kamu biar kita bisa tambah akrab" ujar Naila sebari meminta ponsel risa.


Risa memberikan ponselnya pada Naila.


"Emang kamu mau akrab sama aku?" tanya Risa hati-hati membuat dirinya menjadi atensi orang-orang dimobil kecuali Nirbita yang masih terlelap didunia mimpi.


"Ko lo ngomong kaya gitu? " tanya Naya heran.


Risa menunduk,"Soalnya gaada yang mau temenan sama aku,sekedar nyapa aku aja gamau kecuali kalian"ungkapnya lirih.


"Kenapa?" tanya rangga hati-hati takut menyinggung gadis seumuran adiknya itu.


Risa menggelengkan kepalanya,"Gatau kak,mungkin karna penampilan aku"jawabnya menunduk takut.


"Apa yang salah sama penampilan kamu?" kini Elesky yang bertanya.


"Cupu" ujar Naila membuat mereka melototi gadis ceplas-ceplos satu itu kecuali yang kalian tau Nirbita dan Risa yang sadar diri.


Risa mengangguk,"Naila bener ko"


"Masalah nya dimana coba?,penampilan lo ga aneh walau mereka anggep lo cupu tapi penampilan lo sopan ko,ga kaya sebagian orang yang pake seragam aja ngetat " ujar Naya.


"Bener tuh,kalo masalah penampilan bisa diubah bener ga bang?" ujar Naila meminta persetujuan abangnya.


"Iya"


Risa masih menunduk,lalu merasakan tepukan di bahunya membuat ia tersentak dan menatap Nirbita yang entah sejak kapan terbangun,"Penampilan bisa diubah ris,tenang aja nanti kami bantu kamu berubah jadi power rangers "ujarnya setelah itu kembali memejamkan mata untuk kembali menyelami mimpi.


Mereka cengo dengan tingkah Nirbita tadi,gadis itu tidur atau tidak sih?!.


"Kak ita udah bangun?" tanya Naila yang duduk diantara Naya dan Risa,sedangkan Nirbita dipaling ujung dekat Risa.


Tidak ada jawaban membuat mereka geleng-geleng kepala tak habis pikir


"Kak ita bener nanti aku bantuin kamu buat rubah penampilan,tenang aja aku ahlinya" sombong Naila memang gadis itu selalu antusias jika menyangkut penampilan gadis paling muda diantara Triplet satu itu memiliki cita-cita menjadi disainer selain influencer.


"Tapi" ucapan Risa terhenti ketika Naya menyela.


"Udah gausah tapi-tapian,akhir minggu ini kita ke mall bareng buat belanja,boleh kan bang?" ujar Naya meminta ijin pada dua abangnya.


Kedua pria dewasa itu menghela nafas jika berurusan dengan belanja mereka selalu rugi bandar,"Hmm"jawab mereka pasrah.


Membuat Naila dan Naya terjingkrak senang sudah lama tidak merampok dompet tebal sang abang membuat mereka antusias.


"Kamu tenang aja,nanti aku ubah kamu jadi power rangers,bebas deh pilih warna sebagai diskon" oceh Naila.


"Ga gitu konsepnya!" sentak mereka kecuali Risa yang tadinya sedih menjadi terkekeh.


"Makasih" ungkap Risa sebari memeluk tubuh Naila dari samping.


Saking asiknya mengobrol tidak terasa risa sudah sampai didepan rumahnya,setelah berterimakasih gadis itu melegang masuk kedalam rumah.


Risa menghela nafas ketika melihat sosok pria paruh baya dan remaja yang usianya satu tahun lebih tua darinya yang sedang duduk di ruang tamu,"Asalamualaikum "


"Waalaikumsalam" Risa mencium punggung tangan pria paruh baya itu lalu melegang pergi dari sana.


"Ga punya kesopanan kamu?,disini ada kakak kamu,kamu ga salimin dia?" tanya pria paruh baya itu dengan nada kesal.


"Gapapa pah,aleta gapapa ko ga dinggap sama Risa,Aleta kan cuma anak angkat" ujar Aleta dengan lirih membuat pria paruh baya itu mengusap pucuk kepala aleta.


"Engga sayang,kamu anak kandung papah,yang duluan hadir di keluarga ini adalah kamu,kamu yang berhak atas keluarga ini,,Risa kamu minta maaf sama kakak kamu!"


Risa menunduk selalu seperti ini,"Risa minta maaf kak"ujar Risa melegang pergi tanpa menghiraukan papah dan Aleta kakak angkatnya itu.


"Papah ga seharusnya kaya gitu,anak kandung papah kan risa bukan aku,yang berhak sama keluarga ini risa bukan aku" ujar Aleta lembut.


"Kalo papah bisa memilih papah sudah pasti memilih kamu yang jadi anak kandung papah dari pada risa anak gatau diri itu" cibir pria itu pada anak kandung sendiri.


"Bener itu nak,kamu ga perlu mengalah sama Risa dia cuma anak pembawa sial" timpal seorang wanita paruh baya yang baru datang dari arah dapur membawa minuman dan camilan.


"Mah,pah,risa kan putri kandung kalian ga baik bukan jika kalian membuat dia sedih" ujar Aleta dengan mata berkaca-kaca.


"Seharusnya kamu yang menjadi anak kandung kami agar kami tidak merasa malu memiliki putri seperti Risa" ujar wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu kandung Risa.


"Mah" rengek Aleta.


"Sudah-sudah jangan merusak mood dengan membicarakan anak pembawa sial itu,untuk apa memikirkannya,disini kan ada aleta putri kesayangan kami yang membanggakan" ujar Aldebara.


"Itu benar,sudah ayo makan camilan yang mamah bawa" timpal Andini sangat istri.


Aleta tersenyum miring mendengar penuturan orang tua angkatnya yang sangat menyanyanginya nya dan malah membenci putri kandungnya sendiri.


Tes


Entah berapa kali risa meneteskan air matanya,gadis ini mendengarkan percakapan keluarganya sejak awal,walau sudah terbiasa dianggap pembawa siap tetap saja hati risa sebagai anak sangat hancur ketika dihina orang tuanya sendiri.


Risa berjalan ngontai menuju kamarnya di belakang,baru saja merasakan sedikit kebahagiaan dan ternyata tidak lama badai kembali menghadang apa dirinya tidak pantas bahagia,"Aku juga manusia biasa ya allah"guman risa disela langkahnya.


Risa Rynata anak pertama dari keluarga terpandang yaitu dari sepasang suami istri bernama aldebaran dan andini,keluarga itu menantikan anak sejak sepuluh tahun lamanya dan barulah hadir gadis lugu yang diberi nama Risa Rynata,sebelum gadis itu berada disisi mereka,keluarga itu mengadopsi aleta sebelum satu tahun Andini hamil karna mereka sudah menyerah untuk memiliki anak dan memutuskan mengadopsi saja,tapi siapa sangka karunia mereka dapatkan setelah mengurus Aleta yang baru berusia lima bulan itu.


Mereka menganggap aleta pembawa keberuntungan dan malah menganggap putri yang mereka tunggu sepuluh tahun lamanya pembawa kesialan,perkataan kasar kerap mereka katakan cibiran dan umpatan sudah Risa dapatkan dan sesekali risa mendapatkan luka di fisiknya dari orang tau kandungnya sendiri.


Aleta bagaikan buku dengan sampul indah namun dengan isian yang sangat buruk,gadis itu sangat pandai main drama sejak kecil semua kesalahan yang ia buat selalu dilimpahkan pada risa.


Risa selalu mengejar cinta dan perhatian orang tuanya sejak kecil tanpa mengenal lelah walau selalu mendapatkan balasan buruk,namun semakin beranjak dewasa Risa semakin tidak mengerti dengan pemikiran orang tuanya.


Kehadirannya ditunggu selama sepuluh tahun lamanya saat sudah terlahir dia malah dibenci,maka untuk apa kehadirannya?,dunia sungguh menjadikannya lolucon.


Risa membaringkan rubuhnua diranjang reot miliknya,kamar yang ia tempati hanya kamar pembantu bukan kamar pemilik rumah seperti seharusnya ia miliki,semua yang menjadi haknya dimiliki aleta tak kecuali cinta dan kasih sayang kedua orang tuanya,"Mah,pah Risa nyerah,Risa cape jika harus menjadi sosok paling menyedihkan,risa janji ga akan ngejar cinta dan kasih sayang kalian lagi mulai detik ini seperti kemauan kalian, Risa akan menjadi sosok bayangan yang gaakan pernah kalian lihat mulai sekarang"


"Maaf mah,pah,Risa pamit menjadi sosok baru yang lebih kuat untuk menerima kebencian kalian sama Risa" guman gadis itu sebari menangis.


Jika ditanya tidak benci maka tidak mungkin,ditanya benci juga tidak seharusnya seburuk apapun mereka,mereka tetap orang tua bagi risa,tapi ijinkan untuk risa kecewa pada mereka, risa sudah lama tersiksa raga dan mental.

__ADS_1


"Aku bersyukur bertemu kalian yang mau berteman dengan ku,aku janji ga akan bikin kalian malu dan melepaskan kesempatan untuk berbahagia"ujar Risa sebari mengusap kasar wajahnya.


"Makasih triplet" gumannya sebelum terlelap.


__ADS_2