
Naya mengabaikan pertanyaan Jastin yang mengkhawatirkan dirinya,Naya tergesa-gesa turun dari boncengan motor saking buru-burunya Naya sampai terjungkal jika saja Jastin tidak menangkap tangannya,dirinya pasti sudah mencium tanah,sungguh tidak estetik!.
Naya menegakan tubuhnya sebari mengedarkan pandangan,ia harus memastika sesuatu,bendera,ya bendera kuning,Naya menatap kearah pojokan pagar Naya bernapas lega,"Gaada bendera kuning"gumannya lega lalu beralih pada sekitar.
Sepi,tidak ada orang yang berdatangan kerumah abangnya dan juga tidak ada tenda dihalaman,apa yang terjadi,,,apa tadi dirinya hanya mimpi?.
Kematian Nirbita hanya mimpi?,seriously?,jika iya huh syukurlah,,,tapi Naya belum merasa tenang jika belum bertemu adik sepupunya itu,,,Naya tergesa-gesa berjalan masuk kedalam rumah suara Jastin yang memanggil namanya ia hiraukan.
"Si dodol main nyolonong aja,dia ga engeh apa kalo masih pake helm" guman Jastin mencibir diatas motonya,"Gapapa dah biar gue ada alasan buat nanti malam datang kesini"ujarnya terkikik membayangkan akan malam mingguan bersama Naya malam ini.
Ya malam ini malam minggu.
Jastin menyalakan mesin motornya dan pergi dari sana dengan perasaan senang karena punya alasan untuk bertemu Naya malam ini..
Bukanya pulang kerumah bu Kasih,Naya malah nyelonong masuk kerumah abangnya yang sudah bertambah anggota bersama Fricia.
Melihat isi rumah abangnya yang sepi layaknya tidak bsrpenghuni disana juga tidak ada seogok tubuh yang ditangisi,Naya jadi ingat apa yang terjadi di mimpinya,untung hanya mimpi,Naya menghela nafas lega.
"Kamu baru pulang Naya?" suara dari tangga membuat Naya teralihkan.
"Baru aja pulang kak" jawabnya sebari menghampiri kakak iparnya lalu mencium punggung tangan kanan Fricia,"Nirbita sama Naila udah pulang belum kak?"sambunya bertanya.
"Belum, emang ga bareng kamu?,kan biasanya dianter jemput" ujar Fricia terdengar bingung.
"Engga kak,tadi Nirbita sama Naila ada acara sama temen-temen sekelasnya jadi minta ga dijemput aja"jawab Naya menjelaskan," Sampe sekarang belum pulang kak?"tanya Naya memastikan,takutnya Fricia lupa kalo sebenarnya dua kembar beda orang tua itu sudah pulang dan pergi main saja.
Tapi kan Fricia ga pikun.
"Buka dulu helm kamu tuh udah kaya pororo aja kemana-mana pake helm" cibir Fricia sebari mengejek Naya.
Naya menyentuh kepalanya yang terasa berat,Naya pikir efek dari tidurnya eh ternyata lupa copot helm,ini semua salah Jastin,Naya melepas helm dari kepalanya tanpa kesusahan.
"Nirbita sama Naila belum pulang,biar kakak telepon aja kali ya?,kakak khawatir soalnya sama mereka,kalo mereka ada yang culik gimana?" ujar Fricia negatif tingging.
Naya menggaruk lehernya tidak gatal sebari mencibir,"Gaada yang mau culik tuyul kak"
Fricia menyentil dahi Naya gemas,triplet ini memang bermulut pedas satu sama lain pun,"Kamu ini gimana sih,kalo ga culik tuyul dulu gimana ada yang pihara tuyul Nay"
Naya mengangguk,"Ini Nirbita chat katanya masih di jalan"ujar Fricia tidak jadi menelepon sebab chat nirbita lebih dulu masuk kedalam notifikasinya.
Naya lagi-lagi mengangguk,"Kalo gitu Naya pulang kerumah ibu dulu deh kak,nanti kesini lagi"ujarnya pamit.
"Jangan lama ya Naya,kakak bosen dirumah sendirian dari pagi" ujar Fricia sudah berhenti bekerja sesuai keinginan suaminya,untuk apa bekerja,mending diam dirumah gaji tetap ngalir kan suaminya bosnya.
"Iya kak" jawabnya sebari melegang pergi.
Saat malam tiba jika ada triplet rumah akan rusuh diliputi perang saudara tapi kini rumah Rangga maupun rumah Bu Kasih sepi.
Bukan kenapa tapi Naila dan Nirbita yang paling hiperaktif sedang tidak ada didua kediaman itu,kedua bocah itu tengah menginap dirumah Pak Dimas,,,saat pulang sekolah mereka memilih pulang kerumah Pak Dimas untuk menghindari konflik atas kebohongan mereka.
Awal-awal mereka memang berkata tinggal mencari alasan lain jika ketahuan tapi nyatanya mereka takut kena omel Pak Smit yang dua minggu lagi baru akan kembali ke Singapura bersama Bastian.
Triplet paling takut pada Pak Smit bukan karena pria itu tempramen,suka mukul atau bunuh-bunuhan gitu malahan pak smit sangat baik pria duda tanpa anak itu tidak pernah mengomel jika triplet melakukan kesalahan Pak Smit hanya menghela napas sebari mengusap pucuk kepala mereka,tapi mereka takut pada Pak Smit karna pria itu yang paling besar memberi mereka uang jajan.
Eh,bukan karna itu sih mereka takut,,,kalian taukan kalo emosi orang pendiam itu tidak bisa ditebak nah itu,,mereka juga takut jika Pak Smit ngamuknya banting tubuh mereka,gimana kan serem tuh ya,,mending mancing emosi Danis saja yang emang sumbu pendek seperti Naya dan juga ga memberi uang jajan mereka.
Jadi ga rugi kalo buat Danis ngamuk sekalipun!.
Pak Dimas,Pak Jeje,Rangga maupun Elesky juga memberi mereka uang jajan setiap bulannya.
"Tembak sebelah kanan La!,tembak!,,,," ujar Nirbita di sela-sela dirinya dan Naila main game online peperangan diponsel.
"Sabar kak,sabar anak orang mati nih" saut Naila pandangannya pokus ke layar yang menunjukan permainan mereka diponsel masing-masing.
"Ya emang itu tujuannya keles" dengus Nirbita.
"Kalian tuh ya dari pada dirumah mulu mending jalan sana keluar" ujar Bu Putri bukannya mengusir hanya ingin kedua keponakannya itu mencari angin diluar.
Emang aga lain disaat ibu orang lain menyuruh anaknya pulang karna sudah malam lah Bu Putri malah menyuruh putrinya kelayaban,emang keluarga triplet ini pada lain semua.
"Mager mih!" jawab keduanya serempak,Nirbita mencomot jajan yang sudah mereka siapkan sebelum bermain game.
"Kalian tuh emang ga bosen apa? setiap hari yang dipandang ponsel mulu,sekali-kali gituloh cuci mata" dengus Bu Putri sebari mengganti cenel TV.
__ADS_1
"Kami setiap hari cuci mata mih sampe bikin jarang mandi asal iler ga keliatan" ujar Naila acuh.
"Itu cuci muka!,cuci mata magsud mamih tuh liat cogan la,ta,paham ga sih ah kalian ga asik!" dengus Bu Putri seperti remaja mumpung Pak Dimas sedang bekerja,eh.
"Iya mih setiap hari kita liat cogan ko" jawab Nirbita tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.
"Cogan virtual sama visual kan?!" cibir Bu Putri sebari mengambil ponsel miliknya yang baru saja menyala bersamaan dengan notifikasi masuk.
"Asalkan cogan mih" jawabnya,"Tapi ori juga kita liat ko,kak Gara kan termasuk cogan"sambungnya masih pokus permainan diponsel.
"Kak Bintang juga cogan!" timpal Naila.
"Anaknya baru disebutin eh emaknya udah ngubungin emang kalo jodoh selalu dekat dihati walau raga berjauhan" oceh Bu Putri dengan jari-jarinya berseluncur di layar ponsel.
Ocehan Bu Putri kali ini menarik perhatian dua kembar beda orang tua,keduanya menatap Bu Putri dengan tatapan heran lalu keduanya saling menatap seolah bertanya,'apa?'keduanya juga mengedikan bahu bersamaan lalu kembali pokus pada layar ponsel.
Emang kedua bocah itu tidak bisa dipisahkan sudah kaya surat dan perangko,dari sifat,sikap bahkan ciri fisik hanya saja Naila sedikit lebih pendek dari Nirbita.
"Kalian mau ikut ibu ga?" tanya Bu Putri menatap keponakannya yang sudah ia anggap anak.
"Kemana mih?" tanya keduanya serempak dengan nada acuh.
"Kerumah mba Renata" jawabnya membuat kedua kembar itu mengerutkan keningnya.
Nirbita mengoreks ingatannya tentang nama yang disebutkan Bu putri,seperti pernah dengar tapi ga ingat.
"Ahhh mamahnya kak Gara kan mih" pekik Naila membuat Nirbita terlonjak kaget.
"Santai dong" sentak Nirbita sebari mengusap dadanya.
Naila cengengesan,"Maaf ga sengaja,,tante Renata mamahnya kak Gara kan mih?"ujarnya memastikan sekali lagi.
Bu Putri mengangguk mengiakan,"Iya mamahnya Gara,tadi dia ngundang mamih kerumahnya katanya mba renata buat kue yang pernah mami ajarin,mba renata minta mamih buat nyicip kuenya"jawabnya,"Ikut ga?"tanyanya lagi.
"Soal makanan gratis yo jelas Ila ikut" jawab Naila berbinar mendengar nyicip kue artinya makan kue gratis, lumayan,"Kak ita mau ikut ga?"tanyanya pada Nirbita yang juga sudah menyetel kembali ponselnya ke layar utama setelah beberapa detik tadi permainan mereka berakhir menang,,,walaupun Naila polos-polos oon,tapi kalo soal main game dia pro nya,jadi ga bakal kalah kalo mainnya satu tim sama Naila.
Nirbita mengangguk,"Ikut dong masa ita dirumah sendiri ora mau lah!"jawabnya.
"Alah ngomong aja kamu juga mau makan kue gratis so soan gamau dirumah sendiri,,eh jangan-jangan kamu ikut biar bisa ketemu Gara,iyakan?" tuduh Bu Putri menggoda.
Bu Putri hanya tersenyum kecut mendengar nada polos dari si bungsu triplet,"Gausah dibahas yu ah pergi masa malam mingguan cuma dirumah ngegembel dong biar kaya orang-orang "ujarnya mengalihkan pembicaraan dari pada harus dibuat emosi dengan kepolosan Naila yang semakin menjadi beloon.
"Ko ngegembel mih?"tanya Naila sebari bangkit dari duduknya.
"Iya, kan kalo malam minggu suka banyak gembel dadakan yang duduk ditrotoan,kalo ga disebut gembel apaantuh,,,,orang tua susah payah kerja buat menuhin kehidupan anaknya eh anak gadisnya malah diajak duduk dipinggir jalan ga modal banget" cibir Bu Putri menggebu.
.
.
.
Jika Naila dan Nirbita minggat dadakan kerumah Bu putri,Naya sisulung triplet malah sudah tidur sejak sore,setelah mandi Naya kembali kerumah Rangga untuk menemani kakak iparnya saking lelahnya Naya ketiduran ketika sedang menonton drama korea ditv bersama kakak iparnya itu.
Saat magrib Fricia sudah membangunkan Naya tapi gadis itu tidak bangun layaknya tidur simulasi mati saking capenya beraktivitas,mau hujan,gempa,kebakaran sekalipun tidur naya tidak akan terganggu jika sedang kelelahan seperti ini.
Setelah bangun dari mimpi buruk Naya memang kehilangan kantuknya tapi setelah mandi bukannya seger malah rasa kantuk itu kembali lagi,memang seharusnya Naya tidak mandi saja,eh,menghemat air.
Bu Kasih juga sempat membangunkan tapi mengingat hari ini tanggal merah Naya jadi Bu Kasih membiarkan anaknya tidur saja,saat sedang menstruasi seorang muslim dilarang untuk melakukan solat,puasa dan menyentuh Al-Quran,sebab melakukan semua itu harus suci dari hadas besar dan kecil,sedangkan menstruasi adalah hadas besar.
Dimalam minggu begini emang enaknya pacaran bagi yang ga jomblo,bagi yang jomblo kaya Bastian mah enaknya rebahan dikamar ngegame sambil ngemil mumpung triplet lagi anteng ditempat masing-masing.
Rangga dan Fricia sedang keluar melakukan kencan setelah menikah,emang lebih senang memiliki pacar halal mau pegangan tangan ataupun cium ga takut dosa dan sah-sah aja.
Kasihan menjadi Naya mentang-mentang dirinya ketiduran disofa ruang tamu tidak ada yang memindahkannya ketempat tidur,Naya langsung duduk padahal matanya belum terbuka,bukan dirinya mau tidur sambil berjalan,tapi Naya sudah bangun tapi malas membuka mata rasanya tuh masih mengantuk tapi tubuhnya terasa sakit.
Naya menyandarkan punggungnya di sandaran sofa masih dengan keadaan setengah sadar,matanya memejam tapi ia tidak tidur hanya malas bangun saja,Naya memijit pelipisnya yang sedikit berdenyut.
Tubuhnya sudah sakit-sakit setelah eskul taekwondo ditambah tidur disofa sakit ditubuh Naya bertambah,untung saja tidak bermimpi buruk lagi,ngomong-ngomong tentang mimpi,kemana dua adiknya kenapa sekitar terasa sepi apa Naya masih dialam mimpi?.
Naya membuka matanya lebar-lebar lalu mengedarkan pandangan nya,seperti sebelum tidur naya masih diruang tamu abangnya,"Lah sepi amat!,pada kemana sih?"gumannya sebari menguap lebar tanpa ada niatan menutupnya dengan tangan,untung tidak ada lalat yang lewat dan hinggap di mulut Naya.
"Pada dirumah ibu kali ya" gumannya sebari mengeliat untuk meregangkan otot tubuhnya yang kaku dan sakit.
__ADS_1
Dengan malas Naya bangkit dari duduknya untuk pulang kerumah Bu Kasih,triplet tuh tidur di mana saja,di emperan toko sekalipun mereka bisa kalo emang udah ngantuk mah.
Dari pada dirumah abangnya seorang diri mending pulang kerumah orangtuanya,,,mending kalo dirumah bang Rangga ga ada demitnya kalo ada?,,serem astagfirullah Naya bisa pingsan,Naya itu memang paling memguasai teknik taekwondo tapi kalo lawannya mantan manusia Naya udah kejer duluan.
Naya berjalan ngontai sebari sesekali menguap masuk ke halaman rumahnya melewati pagar samping yang didesain memiliki pintu yang pas untuk orang dewasa melewati jika ingin berpindah dari rumah Rangga ke rumah Pak Jeje tanpa harus keluar dari halaman rumah.
Naya terus berjalan melewati ayahnya yang duduk di kursi teras depan rumah,langkah Naya kembali mundur dua langkah,gadis itu memiringkan kepalanya menatap lekat pria yang duduk disebrang ayahnya.
Naya mengerjap beberapa kali untuk memastikan kalo dirinya tidak sedang halu!,, saking keselnya dengan pria itu Naya pasti menghalukannya berada disampingnya,tinggal dia bejek,tendang dan tonjok rasanya tuh kaya makan seblak setelah sebulan ga makan,,enak bener!.
Mata Naya yang tadinya ngantuk sudah terbuka lebar menatap permusuhan pada Jastin yang juga menatapnya,duduk disebrang Pak Jeje.
Jastin tersenyum penuh arti membalas tatapan Naya,,,Naya terkekeh melihat wajah pria yang sudah membuatnya bermimpi buruk,,,ya jika saja Jastin tidak memilih jalan memutar maka Naya tidak akan bermimpi buruk karena tertidur diboncengan motor,,,yang ada dirinya lah yang meninggal gara-gara terjatuh dari motor karena tertidur,,Jastin ini memang berniat membunuh tanpa menyentuh ya,santet aja sekalian!.
"Kebetulan"guman Naya terdengar seperti pemberitahuan.
Efek bangun tidur membuat otak Naya loading dalam memproses!.
Pak Jeje menaikan sebelah alisnya bingung dengan kondisi sang putri sulung,rambut acak-acakan, mata sedikit memerah terlihat seperti Mmm gembel,raut wajahnya terlihat kesal namun tersenyum penuh ejekan dan penekanan di wajahnya siap meledak," Kamu mau ngapain Naya?"tanya Pak Jeje waswas.
"Mau melampiaskan emosi Yah,kata pak ustadz kita sebagai manusia tidak baik menyimpan dendam,dendam hanya merusak jiwa dan raga saja tanpa memberikan keuntungan,,dari pada memendam emosi lebih baik diledakan biar ga jadi dendam yang merusak raga dan jiwa,," jawab Naya dengan raut wajah yakin bahkan tangannya sedang melakukan peregakan pada otot jari mungilnya.
Jastin melihat Naya dengan bingung berbeda dengan Pak Jeje yang sudah menyadari alarm berbahaya disekitarnya berbunyi,Pak Jeje berdehem,"Khem bagus kalo gitu,emang ga baik menyimpan dendam mending di lampiaskan saja,sok dilanjut ayah ga bakal ganggu ko"ujar Pak Jeje tersenyum mengejek pada Jastin sebelum masuk kedalam rumahnya meninggalkan Naya dan Jastin diteras.
Pak Jeje sengaja melakukan itu untuk peringatan sekaligus agar Jastin memikirkan kembali permintaannya tadi,,benar tadi..
Jastin datang ke rumahnya menanyakan Naya namun setelah dijawab Naya sudah tidur,remaja itu malah meminta waktu Pak Jeje untuk mengobrol bersama,beberapa menit awal tidak ada yang mulai pembicaraan,,sampai akhirnya Jastin mengutarakan tujuannya ingin bicara dengan Pak Jeje.
Jastin meminta ijin untuk berpacaran dengan naya,ya Jastin meminta ijin sesuai keinginan Naya waktu itu,,ya walaupun terasa tegang kaya mau ditembak mati gituloh,eh,tapi Jastin menguatkan hati,otak,jantung untuk meminta ijin pada Pak Jeje dengan sopan,penuh keyakinan,dan juga menunjukkan raut sedih,,sengaja Jastin lakukan itu agar Pak Jeje iba dan memberikan ijin tanpa harus Jastin susah-susah membujuk.
Untungnya taktik Jastin yang sengaja agar terlihat menyedihkan berhasil untuk mendapatkan restu Pak Jeje untuk pacaran,,,dan sekarang dirinya dan Naya ditinggal berdua diteras,Pak Jeje memang baik dan pengertian'pikir Jastin.
Jastin tidak tau saja kalo sedang dikorbankan saat ini.
Walaupun Pak Jeje terlihat setuju-setuju saja saat putri mereka memiliki pacar namun itu hanya bisa ia tunjukan dalam pemikirannya saja, nyatanya saat mendengar Jastin dengan gentle meminta ijin untuk pacaran dengan Naya,jiwa posesif sebagai ayah menguar,,tapi di sisi lain Pak Jeje merasa takjub dengan sikap gentle Jastin yang mana sekarang tidak banyak didapatkan pada anak muda dijaman moderen ini.
Jaman anak sekarang pacaran,bayi bikin bayi pada akhirnya menghancurkan masa depan tanpa melihat kebelakang bahwa orangtua sudah berjuang mati-matian untuk membangun pondasi masa depan anak mereka itu,,tapi dengan bodohnya anak mereka merusak masa depan sendiri dengan keegoisan dan nafsu sesaat,,bodoh!,satu kata yang pantas,tapi kita juga tidak bisa mencemooh mereka,,mereka mungkin salah tapi setiap orang bisa berubah.
Jika masih terjaga maka jagalah jangan merusak diri sendiri,ingat anda yang merusak diri anda sendiri tapi orangtua ikut dalam kerusakan itu,,,jangan melakukan hal yang akan membuatmu menyesal,,,maaf mari kembali pembicaraan!.
Situasi diteras Pak Jeje menegang,kekehan dibibir Naya sudah hilang sejak beberapa detik tadi di ganti raut datar sedangkan Jastin merasa begidig ngeri melihatnya,,"Lo Naya kan?"tanya Jastin memastikan takutnya demit penghuni rumah tetangga yang ikutan malam mingguan,kan serem.
Naya melirik kanan dan kiri sebelum mendekat kearah Jastin,smirk dibibir Naya membuat Jastin terpana sekaligus ngeri,,tatapan ini baru Jastin lihat,walaupun Naya suka berwajah jutek,judes dan suka bentak-bentak namun juga suka berkata layaknya orang polos,,tapi kali ini berbeda tatapan Naya menyiratkan dendam!.
Bukannya menjawab Naya mendekat kearah Jastin yang mulai tegang ditempatnya,"Lo mau apa Nay?"tanyanya takut-takut.
Naya sekali lagi tidak menjawab gadis itu berdiri menjulang di depan Jastin yang duduk tegang dikursin sejak Naya mendekat,"Lo jangan aneh-aneh Naya!,inget ini rumah lo!"ujar Jastin mencoba menyadarkan Naya.
Naya merespon?, jawabannya tidak sama sekali!,Naya mencengkram kerah baju Jastin hingga pria itu tersentak dan tubuhnya condong kedepan ketika Naya menariknya penuh tenaga.
Jika ada warga lewat sudah pasti mereka dituduh sedang melakukan tindakan asusila karena posisi mereka yang bikin orang-orang menilai Naya tengah mencium Jastin paksa,jika dilihat-lihat Naya seolah sedang melecehkan Jastin padahal tidak,Naya memang berniat mencium Jastin tapi tidak dengan bibirnya tapi menggunakan tinjunya,hingga akhirnya suara jeritan tertahan keluar dari mulut Jastin diiringi permohonan.
Didalam rumah Pak Jeje mengintip melalui celah jendela dengan hati-hati tawanya pecah saat melihat pria yang sudah lancang sekaligus gentle meminta ijin padanya dibuat babak belur diteras rumahnya, bapak dua anak itu terlihat senang bukan main saat melihat Naya melakukan tindakan sesuai penilaiannya.
Naya memukuli Jastin tanpa ampun diteras menulikan pendengaran ketika Jastin kesakitan dan meminta Naya untuk sadar karena berpikir gadis itu sedang kesurupan.
Naya tidak peduli mau Jastin halunya ini mati sekalipun inikan cuma halunya,alias ilusi Naya doang jadi gapapa dong membumi hanguskan Jastin dari haluanya untuk meredakan kekesalannya pada pria itu atas kejadian tadi sore,mimpi itu salah Jastin titik no nego-nego.
Cowo selalu salah!.
Naya memukuli Jastin tak berperasaan karena ia pikir dirinya sedang melakukan tindakan halusinasi alias tidak benar-benar memukuli Jastin nyata,Jastin juga tidak mungkin berada di rumahnya malam-malam begini,,Jastin yang tengah di pukuli Naya ini hanya ilusi Naya.
Pak Jeje bukannya melerai atau menenangkan Naya malah hanya menonton sebari tertawa puas dengan apa yang ia lihat,"Kita lihat abis ini tuh bocah masih mau sama Naya"guman Pak Jeje penuh harap agar Jastin tidak lagi mengejar putrinya sebagai pria menyukai lawan jenis.
Bukan tidak mengijinkan triplet pacaran,awalnya ia biasa aja jika triplet pacaran,ini jika ya gaes,tapi seperti yang tadi dijelaskan setelah mendengar jastin meminta ijin untuk memacari Naya ada perasaan tidak rela dihati seorang ayah itu, layaknya seorang ayah,Pak Jeje ingin yang terbaik untuk anak-anak nya.
"Tapi kalo dibiarin terus bisa meninggol anak orang" gumannya menilai situasi,"Si Naya kenapa harus ganas amat sih kan bikin bonyok dikit juga cukup,ga usah sampe meninggol,anak orang itu"cibir Pak Jeje memutuskan pergi untuk menghentikan Naya sebelum anak orang meninggol diteras nya.
Ga lucu!
Pak Jeje memeluk Naya sebari menariknya menjauh dari tubuh Jastin yang sudah terkulay lemas ditanah,"Istigfar Naya istighfar,astagfirullah hal aziim,"
Pak jeje minta Naya istighfar untuk mencoba mengontrol emosinya yang sudah meledak.
__ADS_1
Bu kasih yang baru saja keluar dari rumah melotot kaget dengan apa yang ia lihat,"Astagfirullah,itu kenapa tiduran dilantai"pekiknya syok menatap Jastin mengenaskan tergeletak dilantai dengan kesadaran yang mungkin sudah terenggut.
"Ibu bisa liat wujud halu Naya bu?,keren banget kan?!,Naya tuh tadi halu buat pukulin Jastin sampe babak belur karena udah bikin Naya mimpi buruk, keren banget kan bu?halu Naya serasa nyata" ujar Naya antusias dengan polosnya.