
Jastin menggandeng tangan Naya untuk masuk kerumahnya yang ukurannya sama besar dengan kediaman Rangga,,,kali ini Naya tidak menolak ia merasa takut jika berada di kediaman orang lain karna belum terlalu kenal dengan Jastin,,,jadi ia merasa was-was.
Naya bahkan berjalan mepet pada Jastin saking was-wasnya,Jastin sengaja memanfaatkan hal itu untuk menggoda Naya yang sudah mereda keketusannya karna disogok makanan,,,,jika Naya mepet maka Jastin menjauh dan terus begitu beberapa kali membuat Jastin terkikik.
Hingga di depan pintu yang Naya yakinin bahwa itu kamar ayah dari Jastin,Naya berdiri dibelakang Jastin takut-takut semakin membuat Jastin terkekeh,entah apa yang gadis itu takuti,karna pintu tertutup Jastin mengetuk nya beberapa kali.
Tok tok tok
Naya semakin beringsut menyembunyikan diri dibelakang punggung jastin agar saat pintu dibuka tidak ada yang menyadari keberadaanya.
"Lo takut?" tanya Jastin sebari melirik kebelakang ke arah Naya yang mengangguk lalu bergeleng,"Jawab yang bener dong!"
"Gue ga takut,,tapi lebih ke serem aja,,gue takut ibu-bapak lo Marah-marah pas liat gue,,,nanti mereka mikir aneh-aneh tentang gue,,,nanti gue disuruh milih kaya didrama-drama antara elo sama duit,,ouh jelas gue milih duit" jawab Naya mengelak ia tidak akan mengaku bahwa ia ngeri jika bertemu orang tua Jastin,ia takut seperti didrama-drama ia akan diusir karna tidak disukai memiliki hubungan dengan anaknya padahal hubungan mereka hanya sekedar teman tidak lebih,untuk sekarang mungkin.
"Dasar mata duitan!" cibir Jastin sebari mendengus ia tidak heran lagi dengan pikiran absurd Naya.
"Salah gitu?,,ya enggalah,,mikir rasional aja kali semua butuh duit"ujar Naya bertanya dan menjawab sendiri.
"Iya-iya cewe selalu bener"pasrah Jastin iyakan saja biar beres.
Cek lek
Pintu dibuka membuat mulut Naya yang hendak menjawab ucapan Jastin tadi terkantup kembali dan semakin meringsut untuk menutupi dirinya menggunakan tubuh Jastin.
"Tumben dirumah?"ujar PAK Ahmad Abraham berdiri diambang pintu sebari menatap heran keberadaan putra semata wayangnya dan entah siapa dibelakang anaknya itu karna wajahnya tidak terlihat,,PAK Ahmad Abraham yakin dia seorang gadis dari gestur tubuh dan rambut panjang gadis itu dipasang jepit kecil semakin menyakinkan.
Jastin mengedikan bahunya acuh,"Salah gitu?" tanyanya songong bahkan membuat Naya terbelalak dengan sikap tidak sopan Jastin pada ayahnya itu.
Naya memang tidak mengetahui hubungan antara anak dan ayah ini,tapi mulut Naya tidak bisa menerima jika ada yang tidak sopan padan orang yang lebih tua,,padahal dirinya kadang kaga sopan pada orang yang lebih tua darinya,,ayolah kali ini Naya hanya ingin so bijak saja biar ga ditendang dari sana,,,masa pergi dijemput pulang tak diantar ga kaya jalangkung dong,eh.
Naya menepuk pundak jastin dengan keras membuat pria itu tersentak dan melirik kearah naya,"Apa?"
"Lo ga sopan sama orang tua!,,ga seharusnya lo ngomong kaya tadi Jus jeruk,,,kalo orang tua nanya itu harus dijawab dengan sopan" ujar Naya menceramahi.
"Emang tadi gue ga sopan?,,seinget gue,gue jawab pertanyaan dia dengan baik ga sambil gebukin diakan"ujar Jastin menolak salah.
Naya mendengus,"Eh ko gebukin,lo mau gebukin bapak lo?,,mau jadi anak durhakim lo!" sentak Naya tidak suka jawaban Jastin.
"Khemm" ocehan Naya terhenti mendengar deheman Ahmad Abraham ayah Jastin Abraham.
Gadis itu kembali meringsut menyembunyikan diri dibelakang Jastin dengan menunduk sebari mencuri-curi pandang pada pria paruh baya yang masih terlihat tampan dan mirip dengan Jastin,,"Gara-gara lo si"bisik Naya pelan agar hanya didengar jastin saja.
"Lah salah gue apa?" ejek Jastin.
"Lo udah buat gue keluar dari persembunyian gue,,guekan takut" jawab Naya.
Ahmad Abraham mendengar bisik-bisik antara gadis dibelakang jastin membuatnya tersenyum kecil,,tadinya ia akan marah melihat jastin membawa wanita kerumah ia hanya takut anaknya masuk pergaulan yang terlalu jauh dalam lingkup negatif,,tapi melihat gadis itu yang menceramahi jastin tentang sopan santun pikiran buruk tentang gadis itu seketika hilang.
"Kamu bawa siapa kerumah?" tanyanya terkesan dingin.
Jastin menatap sang ayah dengan tatapan menelisik dan Naya hanya mengerjap lucu,seolah sadar dari kebodohannya Naya bergeser menjadi disamping Jastin malu-malu,,disini ia yang datang tak diundang,,ini semua gara-gara Jastin jika saja pria itu tidak perlu Naya paksa untuk pulang maka Naya tidak akan ada di situasi ini.
Naya menunduk malu,"Selamat pagi om eh salah"ujar Naya menepuk bibirnya yang salah mengucapkan waktu jelas-jelas ini sudah siang hari,,Naya memang paling waras diantara dua adiknya tapi jika dibandingkan dengan orang waras asli maka Naya masih kalah jauh.
Jastin hanya pasrah dengan tingkah Naya sedangkan Pak Ahmad terkekeh geli,gadis aneh!.
"Magsud saya selamat siang om maaf tadi salah ngucapin waktu padahal udah siang saya malah nyebut pagi,,hehe maaf ya om saya gugup soalnya" ujar Naya jujur lagi-lagi membuat pak ahmad terkekeh ada-ada saja gadis ini,"Nama saya Naya om saya temennya Jastin"sambungnya lalu mengangkat dagunya agar tidak menunduk karna lehernya semakin kesemutan jika terus menunduk,"Beneran om kita cuma temenan"ujar Naya memperjelas hubunganya dengan jastin.
"Saya ahmad Abraham papah nya Jastin,,kamu kesini ada keperluan sama Jastin?"ujar Pak Ahmad terdengar lembut sekarang.
Naya menggelengkan kepalanya cepat membuat Pak Ahmad menaikan sebelah halisnya bingung,'jika bukan untuk menemui jastin maka gadis itu datang untuk menemui siapa?'pikirnya
"Saya kesini nganterin Jastin yang gamau pulang om,,tadi ada yang telepon dia bilang kalo om sakit,,saya udah nyuruh dia pulang tapi gamau yaudah sama anter aja om,,,om sekarang gimana keadaannya?,perlu kerumah sakit?" tanya Naya panjang lebar sebari meringis saat mengatakan 'rumah sakit'tempat terhoror baginya.
Pak Ahmad memijat pelipisnya penjelasan Naya membuatnya kembali pusing padahal baru saja merasa baikan setelah beberapa jam lalu ia pingsan diruang meeting,"Saya udah baikan,,mari kita duduk"ajak Pak Ahmad sebari membuka pintu kamarnya mempersilahkan mereka masuk.
Jastin memutar matanya malas saat bertatapan dengan sang ayah,sedangkan Naya tidak bergeming ditempatnya,"Maaf ni om saya tidak bisa masuk ke kamar om,,,kalo om mau mempersilahkan saya duduk mending diruang tengah aja om atau diruang tamu apalagi diruang makan saya siap sedia duduk, tapi kalo disuruh duduk didalam kamar mohon maaf om saya tolak,,saya tidak mau masuk kedalam tempat privasi orang lain apalagi nanti istri om ngamuk-ngamuk sama saya bisa panjang urusannya"tolak Naya membuat Pak Ahmad sadar dengan kesalahannya.
"Ah maaf bukan begitu magsud saya,,mari kita duduk diruang tengah" ajak Pak Ahmad sebari mempersilahkan Naya berjalan lebih dulu meninggalkan Jastin yang mendengus sebari menyusul.
"Saya lebih senang disuruh duduk diruang makan sih om siap dengan kawan-kawannya seperti nasi" ujar Naya namun hanya mampu ditenggorokan saja mana berani ia berkata seperti itu,Naya masih punya rasa malu ya walaupun lebih banyak malu-maluin tapikan dia paling waras diantara dua adiknya menjadi sebuah kebanggaan bagi Naya.
Naya duduk disofa disampingnya ada jastin yang duduk dengan acuh,dan Pak AHMAD duduk di sofa oversize setelah meminta dibuatkan minum untuk tamunya ini.
Pak Ahmad memperhatikan tindakan Jastin dan Naya ditempat mereka duduk,disana Naya terlihat tengah menendang-nendang kecil kaki jastin yang terus mepet duduk di sampingnya.
"Geser napa sempit nih!" pinta Naya berbisik tapi tidak diidahkan Jastin,semakin Naya bergeser menjauh maka Jastin akan bergeser mendekat dan terus begitu hingga Naya duduk diujung sofa,Naya mendelik kesal kearah Jastin yang menunjukan wajah bodoamat.
Bruk
Tanpa berperasaan Naya mendorong tubuh jastin sekuat tenaga membuta pria itu terjungkal kearah lain sofa,Jastin menatap kesal kearah gadis itu,"Ko lo dorong-dorong?!"
"Salah lo lah mepet-mepet,,,lo kira ini angkot yang duduk mepet-mepet kaya copet" ujar Naya membuat Pak Ahmad geleng-geleng kepala,ada-ada saja tingkah gadis aneh yang dibawa putranya ini.
"Om punya tali ga?" tanya Naya sopan pada Pak Ahmad.
"Tali buat apa?"
__ADS_1
"Buat iket anak om biar ga nakal,,dari tadi udah pegangan tangan sekarang mepet-mepet,,,boleh ditonjok ga si om?" tanya Naya kesal.
"Galak amat sih" cibir Jastin.
Pak Ahmad terbahak mendengar penuturan gadis itu,tidak ada jaim-jaimnya terkesan blak-blakan,"Boleh saya serahin dia buat kamu,,mau kamu apakan juga boleh"jawabnya.
Naya mendengus mendengar ucapan pak ahmad,"Ga jadi deh om,,,nanti istri om ngamuk lagi kalo anaknya saya iket,tapi lebih baik saya jual sih om biar untung dikit"ujar Naya terkikik tanpa sadar wajah cuek Jastin berubah menjadi muram.
"Gue ga punya ibu"ketus Jastin membuat pak ahmad menghela napas dan Naya merasa bersalah.
"Eh eh lo ga becanda kan jas?,,maaf gue ga tau,maaf banget,,om maafin saya ya saya gatau" ujar Naya tidak enak.
"Gapapa saya udah lama menduda ko" ujar Pak Ahmad agar Naya tidak merasa bersalah.
Naya yang tadi berusaha duduk menjauh dari jastin kini malah mendekati pria itu,"Maaf gue ga tau,,lo sedih pasti ya?"tebak Naya.
Jastin menghela napas kesedihannya tentang sang ibu sudah pergi terbawa waktu,ia tidak merasa tersinggung sama sekali,"Engga,gue ga sedih".
"Kasih ibu sama anaknya ga akan habis walau dia udah dijemput ilahi tapi gue yakin ibu lo pasti berharap yang terbaik buat lo jastin,,,semangat jastin" ujar Naya memberikan semangat untuk pria pemaksa itu.
"Hmm"
"Khmm om udah dudakan yah?" tanya Naya memastikan lagi diangguki Pak Ahmad sedangkan Jastin menunggu kelanjutan respon dari Naya.
"Om mau cari istri baru ga?,,kalo mau saya siap jadi istri baru om sekaligus jadi mamah tirinya Jastin,,,iya ga Jastin?,,lo pasti setuju dong punya mamah tiri cantik nan menggemaskan juga baik hati kaya gue ini"sambung Naya membuat kedua orang tua berbeda usia itu melotot.
Dipikiran Jastin kini,banyak pertanyaan kenapa-kenapa Naya berubah menjadi centil seperti ini dalam kamusnya kan uang segepok lebih menarik daripada cogan.
Jastin secepat kilat menempelkan tangannya didahi Naya," Ga panas,,,lo-lo kesurupan kan?,lo bukan Naya bunga kan?,,lo-lo setan mana?,jawab woy!"ujar Jastin menggebu sebari menekan dahi Naya hingga menempel disofa membuat gadis itu membeo minta dilepaskan.
"Woy gue ga kesurupan!,lo tuh yang kesurupan"
"Jastin kamu mau apain anak orang?,,lepasin jastin lepasin!" pinta Pak Ahmad tidak diidahkan jastin.
"Dia harus di ruqiyah pah,Naya kesurupan jin tante girang kita harus panggil ustadz" jawab Jastin setia menekan dahi Naya yang berontak hebat.
Saking hebatnya berontak Jastin sampai kewalahan,"Wah setannya ngamuk nih pah,,harus cepet-cepet manggil pak ustad pah!"
"Gue ga kesurupan Jastin!,,lepasin!" hardik Naya.
"Kalo lo ga kesurupan ga mungkin lo centil kaya gitu,,Naya asli ga centil bagi dia duit segepok lebih menggoda dari pada cogan" ujar Jastin tidak mau melepaskan Naya.
"Kalo bisa dapet cogan sekaligus duit kenapa engga milih keduanya coba?, gue cuma realistis gue penyuka duda kaya raya kaya bapak lo,,dijamin hidup gue makmur" oceh Naya membuat Jastin mendengus sedangkan Pak Ahmad terbahak dengan tingkah absurd dua orang itu.
Rasanya Pak Ahmad ingin menghentikan waktu jika bisa,sudah lama ia tidak melihat Jastin bahkan untuk berbicara saja mereka harus bernada marah,,bisa melibat Jastin raut wajah anaknya selain acuh dan marah adalah keajaiban mengingat hubungan mereka yang tidak baik selama ini.
'Dasar gadis aneh!.
Setelah perdebatan receh mereka, Jastin dan Naya sekarang duduk di pinggiran kolam renang dengan kaki yang menjulur ke air.
Sedangkan Pak Ahmad kembali istirahat dikamarnya.
"Lo gapapa?" tanya Jastin menatap Naya yang terus menatap kebawah kolah renang.
Naya yang ditanya replek mendongkak dan menatap Jastin,"Emang gue kenapa?"ujarnya malam bertanya.
"Lo beneran ga kesurupan?"
"Engga JUS gue masih Naya Bunga orang paling waras diantara Triplet lainnya" jawab Naya mendengus.
"Dasar!,,terus kenapa lo diem-diem bae?,,biasanya juga lo ngerocos mulu kaya petasan tahun baru,,tapi lo berubah ketus sama gue" ungkap Jastin sendu.
Naya mengedip lucu dengan penuturan remaja itu,"Gue ga mungkin harus Teriak-teriakan nanti disangka orang gila lagi"jawabnya.
"Terus kenapa lo ketus mulu sama gue?,,,chat gue juga lo ga balas gausah alesan lo sibuk ujian" ujar Jastin beruntun pria itu susah payah membuang harga dirinya alias egonya yang setinggi langit,,jika tidak bertanya maka Jastin tidak akan mendapatkan jawaban atas semua pertanyaannya tentang Naya dikepalanya,,,hanya Naya yang bisa menjawab semuanya dan satu-satunya cara adalah menurunkan egonya untuk sekarang,,ia tidak mau menyesal.
Masa kalah sebelum berjuang GA LUCU!.
Naya menggaruk lehernya yang gatal,gadis itu mengalihkan tatapannya kembali kearah kolam renang,"Gue ga suka bohong tapi gue juga kadang ga jujur,,"naya menjeda ucapannya lalu menatap Jastin dengan tatapan serius,"Kenapa emang kalo gue ga balas chat lo?"tanya Naya
Kedua remaja itu beradu tatap,"Gue sama kaya lo,gue benci kebohongan tapi gue kadang ga jujur,,,tapi kali ini gue bakal jujur sama lo,,,gue suka sama lo"Naya tercengang dengan ungkapan Jastin.
"Gue cinta Nay sama lo,,gue gatau sejak kapan gue suka sama lo,,yang jelas gue ga suka lo jauhin gue,,,,,"ungkap Jastin beradu tatap dengan Naya yang masih menatap tak percaya.
Hening.
Bahkan Jastin yang sudah menguatkan mental untuk mengungkapkan perasaannya pada naya menjadi terdiam,,mulutnya kelu untuk mengucapkan sepatah katapun sekarang.
"Khemm"Naya berdehem untuk menghilangkan kegugupannya,"Lo-lo kenapa bisa suka sama gue?"tanya Naya gugup.
"Gue gatau" jawabnya sebari menghela napas,ia memang tidak tau kenapa bisa menyukai Naya lebih jelasnya ia belum terlalu yakin bahwa ia memiliki perasaan pada Naya hanya saja setiap Naya menjauhinya membuat dirinya seperti hampa.
Seperti ada yang hilang padahal tidak pernah memiliki.
"Gue jujur gue gatau kenapa bisa suka sama lo,,padahal lo cewe paling ngeselin yang pernah gue kenal,,cewe paling cerewet,paling galak,paling blak-blakan gue juga heran kenapa bisa suka sama lo" jujurnya membuat Naya mendelik.
"Lo ngejek gue?!"
__ADS_1
"Engga gue cuma jawab pertanyaan lo doang tadi" jawab Jastin kelabakan,"Gue jujur Naya,gue ga pernah buka hati buat siapapun setelah gue ditinggal mamah gue kabur sama cowo lain"Naya melotot mendengar fakta hidup Jastin.
"Gue benci banget sama yang namanya perempuan,,bagi gue semua perempuan itu sama mereka bisa ninggalin siapapun demi uang kaya mamah gue,,,pertama kali gue liat lo penilaian gue sama lo sama kaya perempuan lainnya,,tapi semakin kesini gue gatau kenapa selalu mikirin lo,lo selalu ga bisa ilang dari pikiran gue,,gue seneng pas lo minta gue bayarin makanan,,gue seneng denger lo ngomong ga jelas sekalipun,,,saat lo ngejauhin gue, awalnya gue bodoamat tapi semakin kesini gue merasa kehilangan" Jastin menjeda ucapannya.
"Gue suka sama lo Naya gatau kenapa dan gatau sejak kapan,,tapi jujur gue takut" ujar Jastin menunduk lesu,"Gue bukan takut lo nolak gue,,gue lebih takut gue kehilangan lo Naya"
Naya menghela nafasnya lirih,"Jujur gue kaget pas denger lo bilang mamah lo pergi sama cowo lain karna uang,, tapi ga semua perempuan kaya gitu ko,,lo sabar ya"ujar Naya hanya bisa memberi ucapan penenang saja untuk mengalihkan kegugupan nya atas ungkapan cinta pria itu tadi.
Jastin hanya mengangguk lirih,"Lo gampang ngomong Naya,lo gatau gimana hancurnya gue saat itu"gumannya dalam hati.
"Dan maaf"
Deg
Jastin menghela nafas ia sudah menyiapkan segala mentalnya entah diterima atau ditolak ia akan menerimanya dengan lapang dada,,tapi mendengar kenyataannya ternyata lebih sakit rasanya ada batu yang menghantam salur pernapasannya.
"Maaf gue gatau perasaan gue sama lo gimana,,gue ga pernah tau gimana perasaan jatuh cinta,,gue belum pernah pacaran,,gue gatau gue nilai lo kaya gimana gue juga punya temen cowo kaya Farel gitu,jadi gue gatau gimana rasanya suka sama lawan jenis" jawab Naya jujur,"bukan karna gue lesby"tegas Naya karna ia memang tidak menyukai sesama jenis.
"Jadi gue gatau mau jawab pertanyaan lo gimana" sambungnya.
"Gue ngerti ko,,kalo gitu kasih gue kesempatan,buat lo tau gimana rasanya suka sekaligus memberikan gue kesempatan buat buktiin rasa cinta gue sama lo,,kita sama-sama belajar,,," ujar jastin penuh harap.
Hening
"Gue gatau keputusan yang bakal gue ambil ini salah atau bener kedepannya,,tapi gue selalu memberi orang lain kesempatan dan gue ga pernah ngerusak prinsip gue itu,,,gue ngasih lo satu kesempatan tapi kalo lo ngerusak kesempatan itu maka maaf ga ada kesempatan kedua dihidup gue" jawab Naya membuat binar diwajah Jastin tidak bisa disembunyikan.
Grepp
"Makasih gue ga bakal nyia-nyian kesempatan yang lo kasih Naya"
"Gausah peluk-peluk!" pekik Naya sebari mendorong Jastin yang memeluknya.
"Hehe maaf kebablasan,,abisnya gue seneng banget jadi pengen peluk" ujar Jastin sebari ingin kembali memeluk naya namun gadis itu mundur.
"Awas aja peluk-peluk gue jorokin lo biar jatoh kekolam!" ancam gadis itu.
"Iya " pasrah Jastin dengan hati berbunga-bunga,"Sekarang kita pacaran kan?"tanya JASTIN memastikan mengingat otak Naya beda dari manusia normal lainnya.
"Kapan gue bilang kita pacaran?" tuhkan baru saja dibicarakan sudah megonoh.
"Tadi lo bilang ngasih gue kesempatan buat buktiin rasa cinta gue"
"Ya emang tapi ga pacaran juga kan lo belum buktiin,baru rencana,rencana mau membuktikan diri,,lo juga lupa kan? Kalo gue punya abang-abang overdosis posesif,ya lo harus bisa dapet restu mereka kalo mau pacaran sama gue" jawab Naya terkesan menggebu.
"Iya juga gue hampir lupa sama abang-abang lo itu,,oke deh gue bakal dapetin restu mereka biar bisa dapetin adenya" putus Jastin semangat,"Liat aja gue pasti direstuin"sambungnya percaya diri.
"Percaya diri boleh tapi ga berlebihan juga,takutnya dijatuhkan ekspektasi" cibi Naya tidak menggoyahkan kepercayaan diri Jastin.
"Gabakal jatoh gue,,gue mah pasti bisa,siapa sih yang bakal menolak pesona seorang Jastin Abraham gaada!"
"Gue" jawab Naya membuat Jastin mendengus.
"Lo sepesies langka makanya gue suka lo nolak gue" jawabnya membuat Naya memutar matanya malas.
"Nih ya jus jeruk".
"Jus jeruk lo ya ganti nama gue mulu" sela Jastin ada rasa senang dihatinya sebenarnya ketika Naya kembali memanggilnya dengan sebutan 'jus' dibanding 'jastin'lebih terkesan dekat.
"Itu nama kesayangan dari gue tau" jawab Naya membuat Jastin membeo,wajahnya kesal tapi tidak dengan hatinya.
"Dengerin gue nih ya,,dari pada gue jadi pacar lo mending gue jadi ibu tiri lo aja gimana?dijamin makmur dah hidup lo,,soal warisan kita bagi dua nanti" ujar Naya membuat Jastin tersungut-sungut.
"Ogah!" tolak Jastin mentah-mentah membuat Naya terbahak.
"Ayolah Jus,mau aja,gue iklas lahir batin kalo jadi ibu tiri lo,,mau ya,ya" bujuk Naya.
Jastin mendengus,"Gue yang kaga iklas,yang ada gue jadi bawang putih dan Cinderella yang tersiksa sama ibu tirinya"ujarnya sebari bergidig ngeri membayangkan memiliki ibu tiri seperti Naya,menjadi pacar saja harus dipertimbangkan lagi.
Naya tertawa terbahak-bahak,ungkapan cinta itu yang seharusnya romantis malah terkesan awrddtwtr.
.
.
.
Hari sudah berganti.
Hari ini Triplet dan keluarga memiliki list kepantai untuk berpiknik sekagus berenang untuk memperingati hari perpisahan dengan Elesky.
Masa cuti pria tentara itu sudah habis dan besok akan kembali bekerja,untuk hari ini mereka khusus menghabiskan waktu satu keluarga saja ditambah Fricia dan Ayana calon keluarga baru mereka.
Walaupun yang pacaran belum tentu ke pelaminan,tapi mereka berharap bisa sampai ke pelaminan lalu sehidup semati dijalan ilahi.
Soal ngedate kemarin,tidak ada yang tau bahwa Antariksa gagal menjadi bodyguard nirbita begituoun dengan Danis yang malah kerja sama dengan Jastin,jika diketahui Rangga atau Elesky maka habis sudah kelangsungan hidup mereka.
Ini hanya rahasia di antara kita titik!.
__ADS_1