
Biasanya dimanapun mereka berada jika ada triplet maka tidak akan ada kedamaian,namun sekarang kedamaian itu tidak diinginkan,melihat wajah murung nirbita membuat semangat mereka hilang,keadaan dimobil masih ricuh seperti biasa hanya saja mereka sengaja membuat ricuh agar wajah ceria nirbita kembali,yang membuat mereka bingung mereka tidak tau penyebab kesedihan gadis itu.
Biasanya Nirbita selalu memberi wejangan pada sang kakak sebari pamit masuk sekolah tapi sekarang,gadis itu hanya menciun punggung tangan Rangga dan Danis tanpa perdebatan lalu masuk kedalam sekolahan disusul kedua saudaranya.
"Lihat Nirbita diem aja bikin gue sedih bos,biasanya emang gue pengen mereka kompak diem aja gausah ngerusuh tapi liat mereka diem malah bikin hati gue sakit"ujar Danis menatap kepergian triplet.
"Apa lagi gue dan,gue ngerasa gagal jaga dia"ujar Rangga.
"Apa gue keterlaluan ya bos kemaren?"tanya Danis merasa bersalah.
"Kayanya iya dan,nanti sore kita jemput mereka pake delman dan biar nirbita kembali ceria"seru Rangga.
"Oke deh bos nanti gue cari delmannya gue sewain tapi lo bos yang bayar!"ujar Danis.
"Bayaran mah aman,"jawab Rangga sebari bergerak masuk kedalam mobil disusul Danis yang menjadi supir.
Kedua pria itu sekarang dalam perjalanan menuju kantor.
"Berenti di supermarket dulu Dan!"ujar rangga dituruti Danis.
Rangga turun dari mobil diikuti danis,"Ngapain?"
"Ikut bos lah"jawab Danis.
"Sana kekantor!,asisten gatau diri bukannya kerja malah keluyuran!"cibir Rangga mendelik Danis yang malah cengegesan.
"Kan anak buah mencontoh bosnya,bos nya keluyuran begitu juga anak buahnya "ujar Danis tak tahu diri.
" Sekate-kate kalo ngomong!,bos itu walau ga kerja duitnya tetep ngalir lah situ yang ngalir malah kasbon,sana balik kantor!,kalo gue dapet laporan lo ga kerja gue pecat lo jadi asisten" ancam Rangga.
"Anceman nya itu mulu bos,bosen gue,bos itu beraninya menggeratak doang dilakuin mah kaga"cibir Danis tak tahu diri.
"Ouh lo beneran mau dipecat?,beneran gue pecat ntar nangis"cibir Rangga.
"Ga bos,yang nangis paling bos,gakan ada asisten kaya gue,nyari ke angkasa sekalipun ga bakal nemu asisten kaya gue bos"songong Danis
"Cih percaya diri banget lo,banyak dan yang mau jadi asisten mengganti lo doang mah gampang"ujar Rangga tak mau kalah.
"Gamungkin bos dapat asisten kaya gue"cibir songong Danis.
"Siapa juga yang mau asisten kaya lo,kalo kaya lo lagi sama aja rusuh!,"sengak Rangga.
"Ck bos itu gaakan nemu asisten se talen gue,yang bisa sabar banget-banget-banget menghadapi cobaan hidup dari triplet,adik-adik bos!"decak Danis.
"Ck itu satu-satunya yang bisa saya banggain dari kamu"ujar Rangga membuat Danis membeo tidak terima.
Rangga yang kembali melanjutkan langkahnya menuju supermarket harus terhuyung bahkan hampir terjatuh,gara-gara tertabrak tubuh orang yang berlari lalu ada teriakan dari arah belakang,"jambret-jembret!"
Rangga menegakkan tubuhnya"denger ga dan?"tanyanya pada danis yang sempat tertawa melihat Rangga terhuyung hampir terjatuh.
"Denger pak,karpet katanya"ujar Danis langsung mendapat pukulan cinta dari sang bos dikepala.
Plak
"Ko bos kdrt sih"decak Danis.
"Tadi jambret bukan karpet,budek dipiara "cibir Rangga," sana kejar!"titahnya menatap Danis yang sedang cemberut sebari mengelus jejak tanpolan.
"Ko gue?,bos aja sana gue mah stay disini aja nunggu hasil"oceh Danis membuat Rangga mendengus,asisten tak tahu diri emang.
Rangga menarik pergelangan tangan Danish untuk mengejar karpet eh jambret yang diteriaki warga tadi.
Jambret yang membuatnya terhuyung.
" Bos-bos gausah tarik-tarik gue bisa lari sendiri "oceh Danis terseok.
"Hidup itu harus beramal sedikit Dan, biar dosa lo yang sebesar gunung seluas lautan bisa berkurang walau secomot"cibir Rangga disela-sela larinya.
Keduanya berhasil mengejar jambret yang dikejar,keduanya berjaga disisi depan dan belakang maling.
"Bentar-bentar" ujar Rangga sebari mengangkat tinggi tangannya.
"Kenapa si bos?,ini maling nya udah terkurung di satu sisi nih"oceh Danis.
"Maka dari itu kita stop dulu adegan selanjutnya,,kita atur nafas dulu biar kuat adu bacok"ujar Rangga terengah-engah sebari menumpi kedua tangannya di lutut.
__ADS_1
"Saya setuju sama mas nya,saya juga cape mau istirahat lah bentar gapapa kan?"tanya sijambret menatap bergantian dua pria yang mengukung langkahnya.
"Sok atuh pak,bapak itu udah tua masih kuat aja lari"uceh Rangga membuat jambret tadi duduk ditempat.
"Ya gimana lagi kerjaan bapak yang mengharuskan kuat imun dan lemah iman"jawab jambret.
"Yah salah bapak lah ngapain jadi jambret?,untung kaga buntung iya"ujar Danis ikut duduk disamping jambret.
"Saya kan kerja mas"jawabnya.
" Ya jangan jadi jambret juga!,bapak itu udah tua,udah seharusnya menikmati masa tua dirumah sama istri dan cucu,biarin anak bapak yang kerja terus pas gajian ngirimin duit sama bapak kan enak,tinggal tumpang kaki"oceh Danis
"Mau nya sih gitu,tapi gajih anak saya ga menentu,kadang dapat kebanyakan bonyok,kasian saya sama dia kalo kerja sendirian"jawab jambret itu sebari memeluk tas yang ia jambret tadi.
" Ck dari pada adu otot mending biarin mereka gibah aja,biarin mereka Colab dosa dan gue selamat ga bonyok-bonyok"monolog Rangga terkikik melihat tingkah jambret dan Danis yang malah saling bercerita.
"Bonyok?,anak bapak kerjanya jadi bodyguard pak? "Tanya Danis antusias.
"Diamah jadi yang dikejar bodyguard mas" jawabnya membuat Danis dan Rangga mengerutkan kening.
"Yang dikejar,"monolog mereka sebari berpikir,"Anak bapak juga jambret kaya bapak?"tanya mereka serempak.
"Iya mas,hidup itu kaya pepatah,buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya,nih contohnya anak saya ngikutin saya"ujar jambret itu.
"Jambret"mereka tersentak kala suara cempreng mengagetkan mereka dari arah belakang.
Jambret itu panik dan hendak lari namun tidak bisa sebab tangannya sudah terikat dengan tangan danis,jika ingin lari maka danis pun harus ikut lari.
"Diiket!"guman jambret panik.
"Iya Pak tadi saya iket tangan bapak-sama tangan saya biar ga lari lagi,cape saya"uceh Danis kembali duduk setelah tadi sedikit tertarik sebab jambret itu berdiri dan hendak lari.
Jambret semakin panik kala melihat gadis muda cantik nan imut,menghampiri mereka dengan wajah dibuat garang,lengan tangan diiguling sebahu,terlihat seperti cantik-cantik preman kampung.
Bag, Dug , syut
Tiga pukulan tendangan dilayangkan gadis itu membuat sikorban meringis kencang 'arghh'
"Mampus makanya jangan jadi jambret!"cibir gadis itu,"percuma ganteng kalo kerjaan jadi maling,ga halal dosa iya" oceh nya sebari menendang aset masa depan pria yang ia sangka jambret.
Danis dan jambret meringis menonton kejadian cepat yang dilakukan gadis itu,sebari memegangi aset mereka seolah milik merekalah yang ditendang gadis itu.
"Jambret mana ada yang ngaku,kalo ngaku penjara penuh!"cibir gadis itu.
"Tapi dia emang bukan jambret nya ko mba"ujar Danis membuat gadis itu menatap Danis dan pria disampingnya.
" Kalo bukan dia terus siapa?kamu?,apa kamu?"tunjuk gadis itu pada Danis dan jambret yang asli.
Saat menunjuk Danis pria itu menggeleng kepala kuat dan saat menunjuk kearah jambret asli kedua pria itu mengangguk polos.
"Hah yang bener?,dia bukan jambret nya?"tanya selidik gadis itu.
"Bukan!"jawab keduanya lalu datang kumpulan warga yang tadi mengejar jambret namun tersesat entah kemana.
"Ini nih jambret nya,kita pukulin aja pak biar kapok!"seru warga melihat jambret yang mereka kejar tadi.
"Eh gausah dipukulin kasian"cegah Danis.
" Kenapa emangnya mas?,Jangan-jangan mas nya komplotan jambret ini ya?"tuduh mereka langsung dijawab Danis.
"Enak aja,saya itu pria yang insa allah masih punya iman,saya bukan jambret pak,justru saya sama bos saya yang nangkep nih jambret,tuh liat wajah bos saya sampai bonyok"tunjuk Danis pada Rangga yang terduduk sebari memegangi asetnya yang terasa ngilu dari tendangan gadis bar-bar salah sasaran.
Para warga akhirnya percaya dan membawa jambret kekantor polisi,sebelum bubar mereka berterima kasih pada danis dan rangga yang sudah membantu menangkap jambret dan memberi kotak obat pada pria itu.
Danis mah untung ga punya lebam lah rangga sebagai bos hilang sudah harga dirinya.
Gadis yang tadi memukul menendang rangga merasa sangat bersalah,hingga beberapa kali meminta maaf namun sebari mencibir dan membantu rangga mengobati lukanya kecuali ditempat masa depan pria itu.
"Mmm mas saya minta maaf saya pikir mas nyah yang jadi jambret,jadi tanpa pikir panjang saya pukul aja"ujar gadis itu merasa bersalah sebari memberikan obat pada sudut bibir Rangga yang lebab ulahnya.
" Enak aja kalo ngomong,kalo apa-apa itu tanya dulu,gausah asal menghakimi,negara kita itu negara hukum saya sekarang juga bisa melaporkan hal ini sama pihak berwajib"ujar Rangga dramatis.
"Eh jangan dong mas,inikan cuma kesalahan pahaman"cegah gadis itu cemberut takut terlihat imut untuk kedua pria jomblo itu.
" Iya tuh bos,gausah dilaporin segala,sebagai cowo bos itu harus kuat masa kalah sama cewe,nih ya bos,cewe itu kuat melahirkan trus abis gitu merawat anak dan suaminya,gurus rumah,trus hamil lagi,nambah ngurus anak anak suami,tapi mereka gapernah ngeluh,lah bos cuma dapet bonyokan doang udah mau ngadu sama polisi malu umur bos malu"cibir Danis membuat Rangga menelisik pria itu,ia yakin asisten tidak tahu diri itu sedang cari muka didepan gadis tadi.
__ADS_1
"Gausah sok-so an lo Dan!,sok bilang cowo harus kuat,lo kemarin kejer sampe lari-larian keliling kampung gara-gara mau divaksin apaan namanya kalo bukan penakut!"cibir Rangga menyeringgai,mengingatkan keduanya ketika kejadian saat danis ingin melakukan vaksin,pria itu kabur mengelilingi kampung untuk menghindari jarum suntik yang ia takuti.
"Ck fitnah itu,mba gausah dengerin dia,dia itu suka bermulut besar soalnya"ujar Danis menjelekan nama bosnya.
"Heh yang bermulut besar itu kamu!,gausah mau sama dia mba dia itu tukang gombal,tukang kasbon,tukang rusuh,tukang gibah,pokonya jangan mau sama dia hobinya buat dosa"cibir Rangga membuat gadis itu mengusap rambutnya bingung kenapa kedua pria itu malah berantem.
Mau aneh tapi mereka udah terkontaminasi triplet.
Disekolah widudarma keadaan seperti biasa dengan kerusuhan murid-murid.
Triplet yang biasanya ngerusuh dikelas tidak melakukan itu sebab,Nirbita hanya diam sebari menyembunyikan kepalanya dilipatan tangan.
"Kak ila takut kak ita kaya tiga tahun lalu pas ayah Candra meninggal"ujar Naila mengungkapkan kecemasan nya melihat Nirbita yang hanya terdiam dengan wajah murung.
"Engga usah khawatir!,Ita cuma lagi ga mood doang ko,nanti juga main lagi sama kita,sekarang kita cari cara buat ita ceria lagi kaya kemarin-kemarin "ujar Naya sebari mengusap pucuk rambut sang adik.
Sebenarnya Naya juga memiliki khawatiran yang sama dengan Naila namun ia memilih memendamnya saja,ia juga tidak mau melihat sang adik sepupu menjadi pendiam dan murung.
Nirbita berdiri dari duduknya,"Kamu mau kemana Ita?" tanya Naya melihat pergerakan Nirbita.
"Ke toilet kak"jawabnya.
"Aku anter ya kak"ujar Naila sebari mengikuti langkah Nirbita.
"Gausah,aku mau ke toilet sendiri aja,kak Naya sama Ila ga boleh ngikutin atau Ita bakal marah,ita bakal diem selama seminggu!"ancam nya membuat Naila dan Naya merenggut.
"Ko gitu,cuma ikut ke toilet doang gabakal ngintip ko"beo Naila.
"Pokonya gaboleh!"kekeh Nirbita lalu berlari menuju toilet.
"Kak Ita ko gitusi"Naila cemberut.
"Biarin gapapa,Ita cuma mau ke toilet aja kita tunggu disini,kalo mau bel dia belum balik kita baru susulin"usul Naya sebari mengelus pucuk rambut Naila dengan menerbitkan senyuman kecilnya.
Brak
Nirbita yang berlari terbirit-birit tidak sengaja membabrak seseorang didepan nya hingga mereka berdua terjatuh.
Aw"ringis keduanya.
Nirbita segera bangkit dari tubuh yang ia tabrak lalu membantu gadis yang ia tabrak itu,"maaf-maaf ga sengaja"
"Iya gapapa "jawab gadis itu mengambil kaca matanya yang terjatuh dilantai.
"Maaf ya kak,aku lari-larian jadi nabrak kakak sampai jatuh deh" sesal Nirbita sebari menatap gadis didepannya tidak enak.
"Gapapa ini bukan salah kamu ko,aku juga tadi jalan ga liat depan,jadi kita sama-sama salah"ujar gadis itu.
"Kalo gitu gausah ada yang minta maaf dong"ujar Nirbita membuat gadis yang ia tabrak terkekeh.
"Iya gaada yang perlu minta maaf kita sama-sama salah ko"ujar gadis itu membenarkan.
"Eh ko baju kakak basah sih,kakak abis renang ya,ko ga pake seragam renang malah pake seragam sekolah biasa"oceh Nirbita bingung melihat gadis berpenampilan drake itu seragamnya basah.
"Mmm itu tadi abis jatuh"jawabnya ragu,"kamu gausah panggil pake sebutan kakak panggil aja Risa"sambungnya sebari membenarkan kaca mata besarnya.
"Oke nama aku Nirbita kak eh magsudnya Risa"ujar nirbita memperkenalkan diri.
"Namanya cantik ya kaya orangnya"
"Eh makasih jadi tersanjung"ujar Nirbita sebari tersenyum, "kakak juga cantik"
"Hhhh kamu bisa aja,aku cantik apanya coba aku itu cupu kaya gini"ujarnya sebari terkekeh.
"Cantik itu bukan dari penampilan Risa tapi dari hati"ujar Nirbita sebari menunjuk dada kirinya,"Kamu ganti baju sana kalo kelamaan basah nanti kamu masuk angin"
"Eh iya,keasikan ngobrol sama kamu aku jadi lupa baju aku basah,kalo gitu aku ke toilet dulu ya,eh kamu mau kemana?"tanya Risa
"Aku mau ke belakang sekolah"jawab Nirbita melenceng dari tujuan awal.
"Eh bentar lagi bel Nirbita,kamu mending balik aja ke kelas"usul Risa.
" Iya Risa,kamu panggil aku Ita aja,aku duluan ya"ujar Nirbita sebari melambaikan tangan meninggalkan Risa dilorong.
Gadis bernama Risa itu tersenyum kecut memandang kepergian Nirbita,lalu menatap dirinya yang basah kuyup,sebenarnya ia bukan terjatuh namun dijatuhkan.
__ADS_1
Iya dijatuhkan para pembuly,ia selalu menjadi sasaran mereka karna penampilannya yang cupu,tadi ia diguyur banyak air dikelasnya sendiri oleh teman-teman sekelasnya,padahal ia tidak pernah mencari masalah dengan mereka.
"Gausah berharap Ris,lo ga pantes dapet teman"ujarnya miris.