DIARY TRIPLET N

DIARY TRIPLET N
Mandi kembang tujuh rupa


__ADS_3

Triplet keluar dari mobil setelah berpamitan dengan Elesky yang mengantar mereka kesekolah pagi ini,selama hampir sebulan ini pria tentara itulah yang menjadi supir wkwkwk.


Naya berjalan dengan wajah murung,lemah,lesu,loyo sudah seperti terkena penyakit anemia.


Untuk dua adiknya tidak ada yang aneh seperti biasa ceria tak seterang mentari karna sedang mendung seperti suasana hati Naya.


"Pagi kakak-kakak yang gantengnya cuma dua orang" sapa Naila saat berpapasan dengan geng inti Algaskar yang seperti biasa nongki diparkiran sekaligus menunggu kedatangan triplet.


"Gue salah satunya kan la?" tebak Rezaldi dengan narsisnya.


"Betul" jawab Naila membuat Rezaldi bersemangat empat lima karna pertama kali tidak ditindas anggota triplet itu.


Dengan bangga Rezaldi menegakan tubuhnya sebari menyugar rambutnya membuat siswi yang melihatnya menjerit tertahan melihat pesona rezaldi yang memang tampan tapi sayangg selalu dinistakan oleh teman-temannya beserta triplet.


Jika yang lain terpesona berbeda dengan triplet yang malah nampak jijik,"Kalo diliat dari gedung bruj kholifah pake ujung sedotan yang tertutup polusi"sambung Naila membuat mereka tertawa kecuali Rezaldi dan menganga.


Hancur sudah harga dirinya.


"Sakit hati abang dek, adek memang kejam" racau Rezaldi sebari memegangi dadanya.


"Si Naila kaga bohong kali" ejek Aril disetujui Devan.


"Bohong lah,orang jelas-jelas gue ganteng,,,kalo orang kaya gue disebut jelek apa kabar sama artis Korea yang modal plastik,," cibir pria itu.


Sebagai pecinta kpop Naila tidak terima,"Kalo muka kaya kak didi disebut ganteng fik yang muji matanya katarak "ejek Naila.


"Saking terpesona nya sama gue itu makanya bikin mata yang muji katarak" elak Rezaldi tidak mau kalah.


"Malah saking jeleknya tuh muka kak didi sampe orang yang ngedenger nama kak didi langsung meninggol"saut Naila.


Mereka menyaksikan pertikaian buaya cap kadal dan naila dengan seksama,Naya yang moodnya sedang minus nol mendengus kesal tanpa memikirkan kedua adiknya gadis itu pergi dengan perasaan dongkol.


"Ya iyalah mereka meninggol orang gue tumbalin biar gue tambah ganteng" jawab Rezaldi terkikik.


Mereka menatap Rezaldi tak percaya,saking ingin gantengnya hingga menumbalkan orang kenapa ga pake semar mesem aja sih,,eh semar mesem juga butuh tumbal ya?,entahlah author kaga paham!.


"Berdosa" ejek Naila


"Mending kalo punya duit oplas aja sana ke Korea biar ga iri sama ketampanan orang Korea"timpal Nirbita yang sejak tadi hanya menyimak sebari bisik-bisik tetangga dengan Gara.


"Karna Gue orangnya baik jadi gamau,gue udah ganteng banget sejak lahir walau ga oplas,kalo beneran oplas ketampanan gue bisa sobek nanti" bangga Rezaldi disertau cibiran.


"Sobek gimana?" tanya Naila dan Nirbita tidak paham.


"Gatau gue asal ceplos aja tadi" jawab Rezaldi terbahak membuat Aril menoyor kepala pria itu.


"Kebiasaan banget si lo toyor-toyor pala gue!,ngefens sama pala gue ngomong baik-baik" dengus Rezaldi.


"Idih sory tai ayam lebih menggoda dari pada pala lo" cibir Aril.


.


.


.


Sesampainya dikelas Naya disuguhkan senyum menyebalkan dari seseorang yang pernah mengusiknya,"Ngapain lo?"tanya Naya jutek.


"Jutek amat si neng" ujarnya sebari menoel dagu Naya langsung ditepis gadis itu,"Kasar amat lagi haid ya lo?"tebaknya.


"Iya deh yang baru jadian mah lagi happy-happynya" cibir Naya,"Kalo bukan gara-gara gue gabakal kalian jadian"dengusnya.


"Iya makasih Naya cantiknya kaya bidadari" puji Vania sebari tersenyum tulus.


"Gue belum mati ogeb,disamain sama bidadari mau gue tonjok lo!" ancam Naya sebari menunjukan kepalan tangannya membuat Vania meringis.


bukannya tidak mau disamain dengan bidadari hanya saja Naya masih wujud manusia.


"Mode senggol bacok Naya serem juga" guman Vania memilih angkat tangan dan duduk anteng dikursinya,"Untung gue udah minta maaf kemaren kalo belum bisa dibuat babak belur gue sama dia"gumannya.


"Udah inget siapa yang udah kotorin meja ade gue?" tanya Naya sebari merebahkan kepalanya dimeja.


Vania yang ditanya malah gelagapan,jantungnya berdegup begitu kencang bukan karna jatuh cinta tapi lebih keshok dengan pertanyaan naya,"Udah tapii gue takut salah tebak"jawabnya lirih.


"Kenapa? " tanya Naya menatap vania masih dengan rebahan kepalanya dimeja.


"Cewe yang gue curigain temennya Naila sama Nirbita soalnya,suka bareng sama lo juga jadi gue takut salah tebak dan malah buat pertemanan kalian rusak" jawab Vania sebari meringis tak enak.


"Siapa?" tanya Naya dengan tatapan tajam karna tidak terima ternyata ada sosok antagonis yang menyamar diantara mereka.


"Tapi lo jangan langsung labrak ya" pinta Vania, "Kita selidiki dulu bener apa engganya apa yang gue lihat waktu itu,,gue takut dia bukan sosok antagonis dalam cerita kalian"


"Iya sebutin siapa namanya,gue bakal selidiki dulu,gue juga pengen tau alasan orang itu neror ade gue kalo ternyata mereka temenan" jawab Naya sebari menegakan tubuhnya dan mengangkat kepalanya dari meja,"Pasti ada alasan kan dia neror adek gue,,gue juga mau pastiin orang yang lo liat itu orang yang gue curigai apa bukan"


Vania mengangguk ternyata naya sudah memiliki seseorang yang B dia curigai sejak awak"Gue pasti bantuin buat nyelidikin tuh cewe,tapi kalo beneran dia mau lo apain Naya?"tanya selidik Vania.


"Gue punya prinsip,satu kali berbuat salah maka akan mencoba dimaafkan, tapi kalo udah lewat sekali maka gaada kata maaf diantara kita,yang ada pembalasan mungkin" jawab Naya dengan sorot kebencian membuat Vania bergidig.


Dua kali Vania melihat raut wajah kejam dari Naya yang menyorotkan tidak ada maaf jika sudah mengulang kesalahan kepada nya atau adik-adiknya,raut yang membuat Vania berpikir sosok itu bukanlah Naya namun orang lain,apa Naya after ego?'pikir Vania bergidig ngeri.


"Gue paham" jawab Vania mengusap tangannya yang tiba-tiba merasakan hanya dingin dari sebelah Naya,"Namanya,,,,,"


.


.


.


Jastin yang sedang mengerjakan ujian dikelas tidak bisa fokus dengan dua hal yang terus mengganggu pikirannya.


-karna ucapan Naya kemarin membuat dirinya sesak napas.


-karna kata-kata dokter yang jastin temui untuk konsultasi tentang organ dalamnya yang terasa aneh.


Jastin tidak bisa pokus dengan semua pertanyaan ujian kali ini,jastin mengisi asal-asalan kertas ujian miliknya ini agar bisa segera keluar kelas.


Semua mata menatap Jastin ketika pria pembuat rusuh disekolah itu maju lebih awal dari siapapun untuk menyerahkan ujiannya.


"Jastin kamu udah ngecek jawaban kamu?" tanya guru pengawas memastikan agar jastin bisa memperbaiki jawabannya jika merasa ragu.


"Udah bu,udah berkali-kali saya cek jawabannya ga berubah" jawab Jastin ngasal.

__ADS_1


Guru pengawas itu mengangguk pasrah, "Yaudah kalo gitu kembali ketempat duduk kamu"


"Keluar aja lah bu,daripada saya buat ricuh dikelas ganggu temen-temen ujian" ujar Jastin.


Guru pengawas memikirkan ucapan Jastin tadi,semua sudah mengenal Jastin dan anggotanya gengnya yang selalu membuat onar di manapun mereka berada,demi keamanan kelas guru itu terpaksa mengiakan,"Yaudah kamu boleh keluar,tapi jangan buat keributan walau kamu ga didalam kelas"


"Kalo saya inget bu" jawab Jastin nyelonong pergi dari kelas membuat guru pembimbing hanya mendengus.


Jastin berjalan di Koridor yang sepi karna murid dan guru lainnya berada dikelas sedang melaksanakan ujian,jastin berjalan menyusuri koridor menaiki tangga untuk sampai dirootof.


Sesampainya disana remaja itu merebahkan tubuhnya diatas sofa butut panjang yang ada disana,tempat biasa geng inti orion bolos.


Jastin menghela nafas dan pikirannya berpusat pada perkataan dokter kemarin yang mengatakan,bahwa jastin tidak memiliki penyakit luar maupun dalam,,Jastin seharusnya senang tapi dirinya semakin gundah.


Saat menceritakan keluhan jastin saat mendengar bahwa ia tidak mengidap penyakit,dokter itu malah terkekeh dan mangatakan,'semua hal lumrah bagi remaja seperti kamu,apa yang terjadi pada kamu itu hal normal,remaja seperti kamu memang lebih suka mencoba hal yang menantang tapi ingat harus mengenal batasan,jangan melewati batas dalam bertindak karna bisa merusak masa depan kamu'singkatnya begitu kata dokter semakin membuat Jastin tidak mengerti.


Saat Jastin bertanya lebih lanjut karna belum mengerti dokter itu akhirnya tidak bertele-tele seperti tadi dan mengatakan kalo Jastin sedang menyukai lawan jenis.


Jastin terus memikirkan perkataan dokter itu,apa mungkin dirinya benar-benar jatuh cinta?,pada Naya?,mana mungkin dirinya kan hanya ingin mempermainkan gadis lucu itu,ehh.


Tapi semakin menyangkal Jastin semakin merasa aneh,tanda-tandanya semakin berdebar ketika Jastin mengingat wajah Naya,senyuman Naya,ocehan Naya,dan wajah Naya yang sedang kesal sangat lucu,,Jastin semakin memikirkan Naya dan terbayang wajah gadis itu setiap ia menyangkal perasaanya,apalagi hubungan mereka kini tengah rentang.


Entahlah Jastin merasa Naya sedang menjauhinya sejak sepuluh hari terakhir ini,walau Naya mengatakan sedang sibuk dengan ujian tapi jastin bisa membedakan kata sibuk yang dimagsud gadis itu,apalagi kemarin saat ia ingin bertemu gadis itu harus dengan ancaman biasanya tidak.


Dan masalahnya semakin memuncak ketika Naya berbicara dengan nada kesal kemarin,apalagi memperingatkannya agar menjaga sikap,perkataan Naya membuat hatinya sakit seperti ditusuk ribuan pedang tak kasat mata,tak terlihat namun terasa menyakitkan.


Apalagi mendengar,'Kita ga sedeket itu kalo sampe lo harus mikir gue ngejauhin lo'.


"Arghh" Jastin berteriak kesal sebari mengacak rambutnya frustasi.


"Gue harus pastiin soal perasaan ini sama lo" tekan Jastin pada dirinya sendiri sebari menatap foto gadis yang tersenyum manis yang tak lain adalah Naya,entah dari mana Jastin mendapatkan fotonya itu padahal naya tidak pernah mengiriminya foto dirinya,kecuali foto absurd seperti foto harimau peliharaannya,foto kucing milik tetangganya yang memakai baju anak anjing,kucing yang dimagsud kucing asli loh bukan kambing yang dinamai kucing.


.


.


.


"Ayang ke kantin yu" ajak Farel membuat Bintang dan Naya yang mendengarnya ingin menendang ketua OSIS yang bucin pada wakilnya itu.


Farel menjadi sosok bucin pada Vania setelah kemarin mereka memulai hubungan lewat jalur Naya wkwkwkw,dengan sikap random Farel yang tidak akan lepas dari remaja itu.


"Alah b*cot ngajakin doang bayarnya mandiri" cibir Bintang.


"Engga lah bayarin ayang gue makan mah masih mampu gue" songong Farel.


"Masih beban keluarga aja so soan bayarin makan anak orang" cibir Naya.


"Kalo iri bilang bos" cibir Farel memeletkan lidahnya pada dua orang julit itu,"Yu yang kekantin kita tinggalin aja orang-orang iri dengki"ajaknya pada Vania.


"Kamu duluan aja,aku mau ke toilet dulu" jawab Vania membuat Naya terbahak.


"Denger noh saking eneknya dengerin lo ngomong pacar lo sendiri milih ke toilet dulu" ejek Naya.


"Eh engga gitu ko yang,aku kebelet pipis dari tadi bukan karna dengerin kamu ngomong ko" ujar Vania menjelaskan takut Farel salah paham,


Kan ga lucu udah jadian lewat jalur aneh masa belum duapuluh empat jam udah jomblo lagi.


"Ngomongnya si nawarin tapi niatnya mau mesum" cibir Bintang.


"Fitnah banget si lo,gue beneran cuma mau anter pacar gue ke toilet doang mana ada mesum" elak Farel.


"Maling mana ngaku" kini Naya yang berkata sebari melegang pergi dari kelasnya.


"Maling mana ngaku"ejek Bintang mengikuti perkataan naya sebarin pergi meninggalkan dua orang bucin yang sudah pacaran dengan mengubah cara panggil mereka menjadi,'aku kamu'.


Naya berjalan bukan menuju kelas adik-adiknya untuk pergi kekantin bersama seperti biasanya,kali ini gadis cantik itu menuju toilet.


Sesampainya disana Naya membasuh wajahnya saja sudah dua hari hatinya merasa sakit setelah mendengar perkataan Jastin tempo hari,entah kenapa?,bahkan naya menghapus kontak remaja itu diponselnya.


Mood Naya selalu buruk mengingat perkataan Jastin seolah memberi harapan tapi malah digosting sakit eyy,padahal Naya sendiri tidak tau dengan perasaannya saat ini.


"Kenapa lo?" tanya Vania yang entah datang sejak kapan.


Naya tersentak menatap vania horor,"Gue kaget tau ga?!"sentaknya membuat Vania terkekeh.


"Salah lo malah bengong,kalo kesurupan gimana?,mana toilet lagi sepi lagi"


Naya yang ketahuan bengong mengelak,"Gue ga bengong tuh"


"Alah ngelak aja lu dodol,mau curhat ga?,tenang gue dengerin" tanya Vania serius.


"Gaada yang mau gue ceritain" jawab Naya kembali membasuh mukanya dengan air.


"Kerjaan lo boong mulu dah Naya,walau kita baru sahabatan tapi gue bisa tau kalo lo lagi galau"sotau Vania.


"Mana ada,gue ga galau ya" elak Naya.


"Iya deh terserah kanjeng ratu Naya aja,tapi kalo ada yang mau lo ceritain bilang ke gue" ujar Vania tidak mau memaksa,"Gue kebelet pipis"sambungnya setengah berlari memasuki bilik toilet.


Naya bergeming ditempatnya beberapa detik sebelum mengambil tisu untuk mengelap wajah dan tangannya yang basah.


"Setia banget ci sahabat gue sampe nungguin gini" saut Vania keluar dari bilik toilet masih menemukan Naya.


"Ck gue ga nungguin lo" elak Naya.


"Jujur ga bakal rugi tau,malah untung kaya gue" ujar bangga Vania sebari menaik turunkan halisnya beberapa kali,"Kejujuran membuatku punya pacar wkwkwkwk bisa dijadiin judul novel tuh,pemeran utamanya gue sama Farel"sambungnya cekikikan.


Naya mendengus dengan respon vania yang sudah teramat bucin itu, "Gue mau tanya" sautnya membuat Vania menghentikan cekikikannya.


"Apa?"


Naya tampak ragu bertanya,tapi pepatah mengatakan malu bertanya tersesat dijalan,"Lo tau suka sama Farel gimana?"


Vania tersentak lalu tersenyum malu-malu sebari memainkan jemarinya satu sama lain jangan lupakan wajahnya yang memerah.


"Dehidrasi lu?" tanya Naya melihat wajah Vania yang memerah semerah tomat.


Vania mendengus yang tadinya malu kini kesal dengan ucapan naya,"Ck juara satu bisa bego juga"cibirnya.


"Juara satu juga manusia!"

__ADS_1


"Iyaiya deh,nih dengerin gimana seseorang menyadari perasaanya buat orang lain khmm" ujar Vania berdehem diujung kata seolah seorang guru menjelaskan suatu pelajaran didepan muridnya.


"Jadi pas lo ketemu dia,bahkan cuma inget muka dia doang jantung lo itu berdebar kaya mau copot dari tempaknya,deg deg deg" ujar Vania menjelaskan sebari memegang dadanya dengan sebelah tangan dan tangannya seolah membuat irama.


"Wajah dia terus terbayang,senyumnya,keselnya marahnya semua lo inget deh,trus pas liat dia sama cewe lain rasanya marah banget,rasanya mau cakar muka tuh cewe sampe rata" sambung Vania menjelaskan bahkan wajahnya tersirat emosi ketika membayangkan Farel bersama wanita lain membuat Naya mendengus.


"Itu mah elo ke Farel,mental tempe aja mau neror gue" cibir Naya bersidekap dada.


Vania mencebikan bibirnya saat diejek,"Gue minta maaf karna merasa bersalah aja,elokan udah pernah bantuin ade gue pas di mall tempo hari,gue terus kepikiran,gue ga mungkin jahatin orang yang udah nolongin adek gue,jadi gue mantap ih hati buat mundur deketin Farel"jujur Vania.


Naya mendengus,"Jadi kalo waktu itu gue ga nolongin adek lo yang ilang di mall itu lo ga akan minta maaf gitu sama gue?!"desis nya.


Vania menggaruk rambutnya tidak gatal,"Mungkin iya"jawabnya lirih.


Naya kembali mendengus dan meninggalkan Vania ditoilet namun gadis itu menyusulnya.


Bug


"Hati-hati dong kalo jalan!" bentak seseorang yang menabrak tubuh Naya yang baru saja membuka pintu toilet dan tiba-tiba ada yang hendak masuk,jadilah mereka bertubrukan.


"Kalo gue jatoh lo mau tanggung jawab?!" dengus gadis didepan Naya sebari menggeladah menatap siapa yang menabraknya,salah ia tabrak.


Naya mengusap bahu gadis yang mercak-mercak didepannya,gadis yang dikenal sebagai pembully dikelas 10ipa, "Anda jangan marah-marah nanti cepat tua" ujar Naya mengejek membuat gadis didepannya marah.


Sedangkan Vania dibelakang Naya terkikik.


"Lo ngatain gue tua!,sebelum gue lo dulu kali" ejek gadis tadi.


"Woy sebagai adek kelas lo cukup berani ya" cibir Vania sebari memiringkan wajahnya untuk menatap adik kelasnya ini.


"Ck mental lo patungan ya,nyerang gue bawa temen" cibirnya membuat kedua kakak kelas gadis itu terbahak.


"Laper itu kekantin malah ketoilet,sampe makan omongan sendiri" ejek Naya,"Biasanya kan lo kemana-mana ditemenin,antek-antek lo bosen ya temenan sama lo?"sambungnya mencibir membuat adik kelas Naya mengepalkan tangannya.


"Ck ga guna banget gue dengerin anj*ng mengonggong" cibir adik kelas itu tidak ada rasa takutnya padahal ada Vania yang notabenya wakil ketua OSIS, "Minggir lo"


"Hebat ya anj*ng jaman sekarang bisa manggil nama sendiri sih bukan menggonggong"saut Naya membuat Vania terbahak.


Memang mulut Naya bagaikan bom yang bisa meledak seiring berjalannya waktu dan menghancurkan mental lawannya.


Sherli mengepalkan tangannya lalu masuk ke toilet dengan sengaja membenturkan tubuhnya pada tubuh naya hingga sedikit terhuyung," Lo harusnya baik-baikin gue sih,karna cuma gue yang tau siapa yang neror Naila sama Nirbita waktu itu"ujarnya tanpa membalik badan dan tersenyum smirk.


"Pede banget si adek kelas gue satu ini" cibir Vania,"Pede boleh tapi jangan berlebihan"


"Mending lo pelajarin deh temen kejahatan lo kali ini,takutnya dijadiin kambing hitam,gue cuma mengiba si"ujar Naya membuat tubuh Sherli menegang.


Naya dan Vania tidak lagi menghiraukan Sherli,keduanya pergi dari sana dengan perubahan mood Naya yang sedikit membaik setelah adu argumen dengan adik kelasnya itu.


Sherli berbalik badan dan melihat punggung kedua kakak kelasnya yang meninggalkan toilet,"Apa mereka udah tau identitas si ular?,,,menarik" gumannya sebari mengagukan kepalanya dengan lirih beberapa kali.


"Ga salah gue" sambungnya dengan senyum mengembang dan melanjutkan aktifitasnya ditoilet.


.


.


Disisi lain Naila dan Nirbita sudah lebih dulu dikantin bersama geng inti algaskar,posisi duduk mereka seperti biasa dengan dua meja dijadikan satu agar muat diisi,banyak murid yang iri dengan triplet yang bisa duduk semeja dengan geng inti algaskar yang diisi produk sempurna anti gagal,bisa dikatakan mereka kumpulan serbuk berlian tidak ada yang burik.


Namanya juga manusia ada yang tiba-tiba terang-terangan mendekati triplet,agar bisa ikutan dekat dengan algaskar,intinya menjilat,namun banyak dari mereka yang memilih menjadi pengamat saja,dekat dengan triplet harus kuat mental sebab ucapan mereka yang ceplos-seplos kadang menusuk hati,bukan kadang sih tapi setiap mangap dan Rezaldi bisa menjadi korban mulut pedas nan julit mereka.


"Aku mau gombalin kak Gara,dengerin ya" ujar Nirbita sedari tadi mendengarkan gombalan Rezaldi atau Devan untuk Agnes,sebenarnya Rezaldi hanya memberi contoh cara menggombal baik dan benar agar tidak ditolak gebetan.


Katanya sih,dasar buaya cap kadal!.


Mereka menatap Nirbita harap-harp cemas,ingatkan jika mulut triplet itu tidak bisa dipercaya,jika ditinggikan mereka maka siap-siap untuk dijatuhkan sejatuh-jatuhnya.


"Khmm" Nirbita berdehem sejenak lalu menatap gara yang duduk disampingnya,tatapan Nirbita penuh kelembutan membuat Gara salah tingkah namun sebisa mungkin ia tutupi dengan wajah datarnya.


"You're masya allah,you end me ingsaallah" ujar Nirbita lalu menunduk malu-malu.


Mereka menganga,"Lanjutannya?"tanya mereka serenpak tidak mungkin hanya kata-kata baik doang kan?.


"Calon suami istri" sambung Nirbita terkikik geli membuat wajah Gara memerah semerah tomat karna salting,wajah putihnya semakin tertutupi warna merah.


"A cieee si bos salting" goda Aril membuat gara berdehem untuk menyembunyikan kegugupan nya.


Rasanya jantungnya ingin meloncat dari tubuhnya ketika mendengar gombalan Nirbita,gadis yang selalu membuatnya berdebar walau tidak melakukan apapun.


Mereka menggoda bos mereka yang salting itu,"Kode tuh bos biar ditembak"saut Devan.


"Mati dong,anak orang loh ini" ujar Naila tidak terima jika kakaknya ditembak mati.


"Bukan ditembak pake pistol dodol" cibir Farel hampir menjitak kepala Naila namun ia urungkan sebari meringis.


Bagaimana tidak meringis ketika bertubrukan dengan tatapan tajam Bintang saat ia melakukan itu,Farel menggerakan bibirnya mengatakan'sory'tanpa suara.


"Terus pake apa dong?" tanya Naila penasaran.


"Gausah dibahas lagi dari pada kita pusing berjamaah" saut Wahyu disetujui mereka kecuali Naila yang mendengus padahal ia masih kepo,ditembak pake apa jika tidak pake pistol,apa pake panah?.


Iye panah-panah asmara asek.


"Ta gue juga mau dong digombalin pake bahasa Arab kaya si bos" ujar Rezaldi membuat Gara menatap tajam remaja itu.


"Tangan gue ko gatel pengen nonjok orang" ujar Gara sebari mengangkat tangannya yang sudah mengepal didepan wajah sebari menatap Rezaldi tajam.


Sadar dengan itu Rezaldi langsung berdehem,"Eh gausah deh ta,"


"Gapapa ita gombalin pake bahasa arab,mumpung ita dapet kata-katanya" jawab Nirbita.


"Engga perlu ta,kasih ke bos Gara aja,lebih pantes buat bos Gara kalo bahasa arab,gue mah bahasa Inggris"ujar Rezaldi memilih jalur aman dari pada mendapatkan bogeman dari bosnya.


"Kali ini lebih pantes buat kak didi,jadi buat kak didi aja kan kak Gara udah" kekeh Nirbita membuat Rezaldi mendengus dan Gara semakin melemparkan tatapan permusuhan pada remaja itu.


Sedangkan yang lain mengetahui situasi Rezaldi dalam ambang kematian bukannya membantu malah cekikikan,kecuali Naila yang hanya terbengong sebari menunggu gombalan kakak sepupunya untuk Rezaldi.


"Dengerin ya" ujar Nirbita kekeh,"kak didi innalilahi"mendengar itu mereka terbahak kecuali Rezaldi yang mendengus.


Innalillahi katanya dipikir dia udah meninggol apa,eits jangan salah mengucap innalillahi bukan hanya ketika ada yang meninggal namun juga ketika ada bencana.


"Gue harus mandi kembang tujuh rupa biar ga sial mulu" gerutu Rezaldi tidak terima.

__ADS_1


__ADS_2