DIARY TRIPLET N

DIARY TRIPLET N
Fitnah menjadi nyata


__ADS_3

Seorang murid berseragam SMA berjalan cepat di Koridor membuat rambutnya yang digerai bergerak mengikuti gerakannya,senyum digadis itu tidak luntur sesekali menatap ke kotak bekal berwarna hitam yang ia pegang sangat erat seolah itu adalah benda berharga pantastis padahal tidak,kotak bekal itu hanya puluhan ribu saja yang menjadi berharga adalah isi dan kerja kerasnya juga untuk siapa kotak itu diberikan.


Membayangkan kotak itu diterima orang yang ia pikirkan membuat rona merah di wajahnya terlihat,saat dikelas ips 11A senyum sumringah yang ia tunjukan memudar,gadis itu terpaku didepan kelas sebelum menghela nafas dan berdiam diri dipinggir pintu karna orang yang ia cari tidak ada dikelasnya.


Agnes menghela nafas,matanya mengedar mencari sosok yang ia cari namun belum juga nampak padahal Agnes yakin dia sudah datang terbukti dari motornya yang terparkir diparkiran sekolah,tapi Agnes terus bertahan disana.


"Hai Agnes" sapa seseorang yang baru datang bersama teman-temannya.


"Hai kak" sapa Agnes kembali menyapa dengan senyumannya yang terbit di sudut bibirnya.


"Kamu ngapain disini?,nyari aku ?" tanya Devan percaya diri.


"Pede gile,Nes lo ngapain nyari curut nih satu dia ngutang sama lo?" tanya Aril mengejek Devan.


"Gue yakin sih iya" setuju Rezaldi lalu mereka terbahak melihat wajah Devan yang mendengus kesal.


"Lo berdua ga diajak,masuk sana!,ganggu orang pdkt aja,sana-sana!" usir Devan sebari berdecak kesal.


"Gue ngasih tau lo Nes,jangan mau sama nih curut mending sama gue aja yang udah berpengalaman,lah dia pacaran aja belum pernah" cibir Rezaldi.


"Heh buaya kadal!,mending sama gue dari pada sama lo yang bekas!" ejek Devan membuat Rezaldi berdecak kesal.


"Heh curut ambigu banget lo sama gue hah!,gue belum pernah ngotel ya anj*ng cuma cium*n doang!,cium*n!" tekan Rezaldi fulgar bahkan beberapa murid lain menatap kearah mereka dengan tatapan aneh.


"Mulut anj*rrr ga disekolahin bener-bener,malu gue malu!" gerutu Aril meninggalkan mereka masuk kedalam kelas.


"Heh gue ngomong jujur,gue menolak difitnah nih curut satu,walau gue suka gonta-ganti tapi gue perjaka,enak aja gue dikatain bekas!" ujar Rezaldi menolak salah.


Devan tidak merasa bersalah hanya mengedikan bahunya acuh lalu kembali menatap Agnes dan beralih pada benda yang dipegang gadis itu.


"Eh kamu bawa apa Nes?, kotak bekal?,buat aku?" tanyanya terus beruntun namun anehnya ia tidak merasakan apapun di hatinya tidak seperti jika berbicara dengan risa jantungnua seolah berdemo tapi ini tidak!.


"Eh maaf kak bukan,ini bukan punya aku soalnya ini titipan Nirbita buat dikasih ke kak Gara" jawabnya,"Mmm kalo kakak mau nanti aku bawain bekal gimana?"tanyanya ragu membuat Devan hanya terkekeh.


"Yaelah Nes santai aja kali gue ga kecewa ko,aneh aja si Nirbita ga ngasih langsung ke Gara,,, "


"Tadinya Nirbita mau ngasih sendiri tapi tiba-tiba dipanggil guru,jadi dia nitip ke aku buat dikasih ke kak Gara makanya aku kesini" sela Agnes menjelaskan.


Devan mengangguk paham,"Mau titip ke aku ga?,soalnya Gara lagi ada urusan nanti aku kasih ke gara"tawarnya membuat Agnes mendesah kecewa tapi wajahnya kembali seperti semula.


Sebelah halis Devan naik sebelah melihat perubahan raut wajah Agnes namun ia tidak memikirkannya lebih lanjut,"Mau titip ga?"tanyanya lagi karna Agnes hanya bergeming.


"Eh iya deh aku titip aja,ini kak aku titip buat kak Gara," ujarnya sebari memberikan kotak bekal itu pada Devan sedikit tidak rela,"Mm makasih ya ka kalo gitu aku balik lagi kekelas,kakak semangat belajarnya"sambungnya dengan senyum paksa lalu melegang pergi meninggalkan Devan yang bergeming ditempat nya.


"Gue ga paham sama perasaan gue sendiri?" gumannya sebari menunduk menatap kotak bekal penitipan Nirbita untuk diberikan pada Gara,Devan menghela nafas lalu masuk kedalam kelas.


"Ecieeeee dapet bekel dong dari gebetan" goda Aril ya walaupun ia sering mengejek namun mereka saling mendukung.


"Aroma aroma mau jadian eh kelamaan kena gosting" goda Rezaldi mengejek.


"Apesi ah,ini bukan punya gue,ini punya Gara" ujar Devan menjelaskan pemilik bekal itu.


"Gara?" beo mereka.


"Iya ini bekal titipan si Nirbita kata si Agnes sih gitu"jawabnya sebari menaruh kotak bekal dimeja Gara.


"Titipan si Nirbita?,kenapa tuh bocah nitip segala kan bisa ngasih sendiri?,aneh banget" cibir Rezaldi.


"Malu kali"saut Aril.


"Bocah sableng begitu bisa malu,gue rasa tuh bocah ga punya urat malu sama sekali sama kaya dua sodaranya yang ada malu-maluin" cibir Rezaldi.


"Nirbita dipanggil guru makanya mitol sama si Agnes " ujar Devan menjelaskan,"Udahlah lo berdua berisik tauga?!"komennya.


"Hhhhhh kena bulshit anj*r,lo pasti udah berharap banget tuh bekel buat lo,eeh ternyata titipan punya gara wkwkwk" ejek Rezaldi semakin mengolok-olok temannya itu dan Aril ikutan terbahak.


"Engga tuh,gue b aja" ujar Devan seadanya lalu duduk di kursinya tanpa menghiraukan dua temannya yang terus saja mengolok-oloknya padahal ia tidak merasa apapun.


Waktu terus berputar hingga akhirnya jam istirahat sudah berbunyi.


"Hhhhhh Wahyu jelek!" ejek Nirbita sebari berlari menghindari kejaran Wahyu.


"Heh sini lo Nirbita!" teriak Wahyu mengejar,"Hapus tuh poto!".


"Hapus aja sendiri kalo bisa gausah suruh-suruh,situ Siapa saya" ejek nya terus berlari menghindari amukan Wahyu yang marah karna Nirbita memfotonya saat berekspresi jelek,sungguh aib baginya.


"Woy anak set*n lo ya,sini ga lo hah!" teriak Wahyu terus mengejar Nirbita untuk mengambil ponsel gadis itu dan menghapus ain diponsel temannya itu.


Kedua orang itu terus berlarian di Koridor bagi murid widudarma semua itu sudah pemandangan biasa mengingat triplet emang hiperaktif kecuali Naya yang ga aktif-aktif amat.


"Permisi-permisi princess mau lari, awass" teriak Nirbita heboh ketika di depannya ada kumpulan orang yang tengah berjalan,tanpa menghentikan langkahnya Nirbita menerobos keramain asal tidak ditangkap Wahyu.


Mengoleksi aib teman-temannya adalah sebuah kehormatan bagi Nirbita dengan begitu ia bisa mengancam mereka untuk mengikuti keinginannya,licik sudah tentu!.


"Gausah lari-larian dong!,ini bukan jalan nenek moyang lo!" tegur orang yang Nirbita terobos tadi.


"Nenek ita ga bikin jalan sorry aja to say" teriak Nirbita menjawab teguran orang itu yang menegur hanya mendengus sedangkan Wahyu masih terus mengejar Nirbita dan berdecih karna bocah itu kaya belut,alias licin,saat tangannya hendak meraih ujung baju Nirbita gadis itu melesat membuat Wahyu harus kembali mengejar.


Acara larian mereka ke sembarang arah,Nirbita melihat ke arah kantin disela larinya ia merasa perutnya lapar,emang perut selalu nomor satu,tanpa menjeda langkahnya nirbita masuk ke kantin masih dengan gerakan lari hingga.


Dug


Prang


"Aduh" ringis Nirbita sebari mengusap dahinya ketika dirinya menabrak benda keras membuat keningnya lumayan nyut-nyutan.


"Kami gapapa Bi?" tanya Gara membalikan tubuhnya saat mendengar suara Nirbita yang mengaduh sakit,tanpa menunggu respon Nirbita,Gara memegang tangan Nirbita yang mengusap keningnya agar membuatnya bisa melihat keadaan kening gadis itu,tidak ada memar,untungnya lalu Nirbita merasakan henbusan angin mengenai kenangnya itu.


Nirbita mengedip lucu melihat Gara tengah meniup-niup keningnya dengan raut khawatir.


"Ceelah malah ngebucin" cibir Wahyu yang berhasil mengikuti langkah Nirbita hingga melihat adegan bikin iri para jomblo itu,karna tidak ingin menggangu,lebih tepatnya takut jika diamuk Gara karna sudah mengganggu Wahyu memilih menghentakan kakinya menuju meja yang biasa ia tempati.


Akan ia urus urusannya dengan Nirbita hingga tuntas nanti!.


"Kening si Nirbita ga bolong kali bos" goda Rezaldi yang selalu iri dengki jika ada adekan uwuw padahal dirinya bukan jomblo,malah paling banyak pacar namanya juga buaya cap kadal.


Gara menghentikan gerakannya pria itu berasa gugup namun berhasil menutupinya dengan raut datar yang selalu ia tunjukan,"Masih sakit hmm?"


Nirbita menggelengkan kepalanya,"Udah sembuh ko,tiupan kakak kaya angin topang yang menerjang kota hingga luluh lantah,,,rasa sakitnya jadi ilang"jawab Nirbita sebari tersenyum manis.


"Alah pinter gombal juga lo cil" cibir Rezaldi sebari mendudukan bokongnya disamping Wahyu.

__ADS_1


"Ita ga gombal ko,ita tuh jujur,kak Gara percayakan ita jujur,,tiupan kakak itu udah nyembuhin jidat ita" ocehnya diangguki Gara dengan senyum tipis tanpa disadari Nirbita hingga gadis itu tertegun.


"Senyum kakak Gara manis deh" celetuknya sebari bergeming,suara Nirbita yang cukup keras membuat orang di radius dekat menatap keduanya.


"Wih senyumu hanya untuk Nirbita seorang"goda Aril membuat Rezaldi menyoraki mereka yang lain tidak ada yang berani,disaat bersamaan dengan ungkapan nirbita tadi Agnes,Naya,Naila,Vania dan kekasih hilafnya eh Farel magsudnya duduk dimeja biasanya semeja dengan inti Algaskar.


Wajah Gara saat datar cukup menyadarkan mereka agar tidak mengambil langkah keluar zona aman.


Mereka sangat jarang melihat Gara tersenyum bahkan setipis tisu sekalipun karna Gara memang selalu memasang raut datar.


Gara semakin gugup ia mengalihkannya dengan cara menggaruk lehernya kaku tanpa bisa berkata-kata,perkataan blak-blakan gadis pencuri hatinya itu selalu membuatnya gugup karna keabsurannya.


"Dunia milik berdua ya kitamah ngontrak" goda Naila sebari bersiul.


Nirbita melirik kebelakang Gara karna posisi pria itu yang tinggi menghalangi pandanganya,dimana sodara dan teman-temannya duduk lalu mengalihkan pandangannya kearah lantai dimana ada kotak makan warna hitam tergeletak mengenaskan dengan isiannya yang berceceran,"Eh bekel kakak jadi jatoh,berhamburan menyedihkan dilantai"ujarnya terperanjat.


Nirbita menatap gara dengan tatapan bersalah,"Maaf ya kak bekel kakak jadi jatoh gara-gara aku nabrak punggung kakak tadi kan?,makanannya malah mubazir deh"


Gara menatap arah bekel yang sudah menyentuh lantai sebelum ia cicipi lalu mengalihkannya untuk menatap wajah Nirbita yang murung,"Gapapa,mau gimana lagi aku jadi gagal deh makan masakan kamu"ujarnya sebari menghela napas semakin membuat Nirbita merasa bersalah.


Naila dan Naya mendengar perkataan Gara menjadi saling tatap lalu bersama-sama mengedikan bahunya seolah tadi saling bertanya dan menjawab 'ga tau'.


"Maaf kak aku ga hati-hati malah nabrak kakak,nanti aku bawain bekal deh sebagai permintaan maaf ya kak,jangan marah!" rengek Nirbita takut Gara marah.


Gara terkekeh lalu mengacak rambut Nirbita gemas,"Aku ga marah ko,tapi janji bawain aku bekel lagi besok,oke"


Nirbita segera mengangguk,"oke"jawabnya lalu kembali menatap nasi dan lauk pauknya yang sudah terkurap dilantai,gadis itu mengambil tong sampah ukuran kecil sekaligus membawa sapu.


"Biar aku aja" ujar Gara sebari mengambil sapu dari tangan Nirbita untuk membersihkan ceceran bekal yang jatuh semua lalu memasukannya kedalam tong sampah.


Setelah selesai mereka duduk di kursi yang sudah ditempati teman-temannya.


"Udah ngebucin nya pak bu?,"goda Devan tidak dihirakan Nirbita maupun Gara.


"Hhhh di kacangngin dong"ejek Naila sebari terbahak.


"Diem deh cil!" gerutu Devan.


"Kak Devan ga boleh galak-galak sama aku,inget ya kalo kak Fricia udah sah sama abang otomatis kita jadi sodaraan,jadi kak Devan harus baik sama kami" ujar Naila mengoceh.


"Iya Naila sayang" ujarnya membuat bulu kudugnya meremang melirik kearah bintang yang tengah menatapnya tajam,"Canda sayang"Devan cengengesan,sebelum Nirbita duduk Naila tengah bicara dengan Bintang saat menanggapi ucapan Devan otomatis Naila menghentikan perbincangan mereka,membuat Bintang kesal apalagi mendengar panggilan sayang itu,rasanya ingin mencekik temannya itu yang sayangnya otw sodaraan dengan Naila.


Tanpa diketahui siapapun seseorang  di meja yang sama mengepalkan tangannya dibawah meja namun wajahnya tersenyum.


.


.


.


"Cit-cit cit-cit cuit,cuit,cuit,anak ayam yang manis-manis ko lama banget besarnya sih?,padahal ila udah ngasih makan tiga kali sehari dengan menu empat sehat lima bergizi,,ko masih segede gini sih" gerutu Naila di ruang tengah rumah ibunya sebari mengangkat salah satu ayamnya menilai dari bawah keatas.


"Kurang healing la,selain perut kenyang otak juga harus tenang,makanya tuh ayam setia mini setres dipiara lo!" cibir Antariksa yang sedang main game di ponselnya.


"Enak aja!ayam pelangi ila seneng tau bisa hidup bareng ila" ujarnya kesal.


"Frustasi iya" ejek Antariksa membuat Naila cemberut,Antariksa adalah saksi mata penderitaan para ayam pelangi milik Naila,ayam-ayam itu benar-benar frustasi tinggal menunggu hari mereka akan segera mati,lihat saja sekarang para ayam itu sudah sangat loyo walaupun dikasih makan tiga kali sehari tidak membuat penderitaan mereka mereda.


"Ditanya malah diem!gue jitak nih!" ancamnya namun hanya dibalas delikan kesal Naila bersamaan dengan juluran lidah dan kembali mengurus enam ayam pembelian Bintang,,padahal keluarga triplet sengaja tidak membelikan peliharaan baru yang akan malah tersiksa jika dirawat naila huh kasian nasib para ayam itu,kambing milik triplet saja beralih dipelihara Pak Jeje, triplet lepas tangan setelah dua minggu kambing itu dibeli namun sampai saat ini mereka masih mengakui perliharaan mereka itu.


Antariksa mendengus sebari berjalan melewati Naila yang duduk lesehan sebari mengajak bicara ayam pelangi miliknya, memang kewarasan Naila sangat amat perlu dipertanyakan!.


Tok-tok


Antariksa mengetuk pintu kamar Naya dengan tak sabaran karna hanya orang tua mereka saja yang kesabarannya seluas samudera,stok kesabaran sudah diborong orang tua mereka pantas saja jika mereka selalu marah-marah.


"Nay gue masuk!" teriak Antariksa bukan meminta ijin melainkan memberitahu.


Cek lek


Remaja itu mendengus di depan pintu pantas saja pemilik kamar tidak mendengar ternyata gadis itu sedang memakai earphones dikursi belajarnya,"Ck pantes aja gue teriak sampe sakit juga ga bakal denger,dasar kutu kamprett!"umpatnya sebari mendekati Naya.


Naya tidak menyadari kedatangan Antariksa dikamarnya karna terlalu hanyut dengan tugas sekolah diiringi lagu yang mengalun tinggi ditelinganya,sesekali mengetuk meja dengan bolpoin jika dirinya kurang paham dengan materi.


Dug


Naya meringis ketika jidatnya mencium meja belajar dengan keras membuat suara kencang seperti tadi,ulah tangan Antariksa tentu saja, dengan tidak berperasaan nya Antariksa mendorong kepala Naya dari belakang hingga terbentur meja,Antariksa juga meringis tidak menyangka dorongan nya sekencang itu padahal ia tidak mengeluarkan tenaga,"Aduh"


Naya mengusap-usap keningnya sakit lalu mendelik kesal kearah belakang dimana Antariksa cengengesan,"Antariksa mony*t,s*tan lo,m*ti aja sana"umpatnya sebari menarik berdiri dan menarik rambut Antariksa.


"Naya sakit ogeb,,kepala gue anj*rrr" teriak Antariksa sebari mencoba melepas tangan nyaa dari rambutnya namun gagal karna Naya menariknya kencang.


"Ga bakal gue lepas sampe gue puas!"


"Jahat amat si lo Nay,sakit Naya lepas b*go!"


"Bodo,rasain nih, arrrrr"


Diambang pintu Naila menonton tanpa niatan membantu biarkan saja toh mereka emang kaya kucing dan anj*ng,hanya akan akur ketika saling menguntungkan,,dan Naila pun masih kesal pada Antariksa yang mengatasinya gila tadi,,jadi cukup menjadi penonton saja sekarang.


.


.


.


"Pagi"sapa Antariksa di pagi hari yang cerah menderah namun tidak dengan hatinya yang masih kesal karna ulah naya semalam sudah rambutnya rontok,saat memperingati Naya malah dijawab'nyenyenye'.


Antariksa tidur dirumah Rangga sedangkan Naya dan Naila sudah kembali kehabitat aslinya aslias tinggal dirumah Bu Kasih,dan Nirbita tinggal dirumah Rangga seperti biasanya,walaupun mereka tinggal dibnagunan berbeda mereka tetap saja berkumpul,apalagi soal makan karna Bu Kasih sudah pulang,Rangga,Nirbita dan Antariksa ngungsi makan geratis dirumah Bu Kasih tanpa tahu malu emang sudah sering.


Apalagi didua kediaman tidak memiliki pembantu karna bu kasih bisa mengurus rumahnya sendiri sedangkan rumah Rangga karna Nirbita tidak mau ada pelayan,jadi Rangga hanya menyewa pelayan Pritime saja,datang jam delapan pulang jam sepuluh.


"Kotak bekel siapa Bu?" tanya Rangga sebari melirik sekilas pada kotak bekel berwarna hijau bergambar kodok dipojok meja.


"Aku" jawab Nirbita.


"Tumbenan bawa bekel biasanya juga minta traktiran dikantin" cibir Antariksa sekali saja tidak menarik emosi triplet maka harinya hampa,jika tidak secara langsung maka secara virtual.


"Om sotau banget!,ita bayar sendiri ya kalo makan dikantin!"elak Nirbita tidak terima padahal yang dikatakan om berondong nya tidaklah salah!.


"Gue tau seluk beluk buluk lo ya cil!"

__ADS_1


"Kak ita tumben banget bawa bekel?" tanya Naila selalu ikut nimbrung dalam perbincangan sekalinya tidak diajak pun.


Naya hanya natap sekilas kearah kotak bekel lalu tersenyum cerah dan beranjak dari duduknya,atensi satu keluarga mengarah pada suara decitan kursi naya.


"Mau kemana Naya?,itu sarapan kamu belum abis" tanya Bu Kasih.


Naya meneleh kearah ibunya,"Mau ambil kotak bekel Bu,mau bawa bekel kaya Nirbita "jawabnya.


"Ila mau,titip ya kak!"pinta Naila selalu ikut-ikutan sekalian menitip untuk diambilkan kotak bekal agar ia tidak perlu beranjak dari duduknya yang sudah nyaman ini.


"Ok"


"Gitu dong kesekolah bawa bekel aja!,biar uang bapak utuh ga perlu ngasih kalian uang jajan" ujar Pak Jeje sumringah.


"Bener kata ayah,setiap hari aja bawa bekel biar uang kami ga perlu keluar" timpal Rangga.


"Tetep keluarlah!,akukan ga bawa bekel,jadi uang jajan tetep ngalir"ujar Antariksa sebari menyendokan nasi goreng kedalam mulutnya.


Mereka hanya memutar mata malas Antariksa ini mata duitan sekali,pada Pak Jeje dan Rangga saja masih minta uang jajan padahal dirinya sudah mendapatkan bagian dari kakaknya yang berada di Singapura.


"Walaupun kami bawa bekel tetep aja uang jajan harus ngalir,enak aja mau distop ga bisa gitu ya!ita menolak diskriminasi!" oceh Nirbita tidak terima.


"Setuju!,uang jajan harus utuh!" timpal Naila.


"So banget bilang diskriminasi,emang kamu tua artinya?" cibir Bu Kasih hanya membuat nirbita cengengesan.


"Gatau bu,nanti aku tanyain ke goggle apa artinya" jawabnya,"Aku bawa bekel buat dikasih ke kak Gara tau bang, kalo ga dikasih uang jajan nanti pas istirahat aku kelaperan trus pingsan,kalo sampe mati gimana?,ga lucu banget!,nanti ada berita seorang anak SMA kelas sepuluh sekaligus adik dari ceo muda dikabarkan meninggal karna kelaparan!,ckckck nanti abang dihujat lo bang!"oceh Nirbita membuat Rangga melotot kan matanya mendengar perkataan Nirbita diawal sampai akhir.


"Apa kamu bilang?,bekel nya buat Gara!,berani-beraninya dia nyuruh kamu bawain bekel buat dia!,enak banget dia nyuruh-nyuruh awas aja aku tantang dia gelut hari ini juga!" sentak Rangga dengan tangan mengepal diatas meja.


Naya yang baru kembali kemeja makan menatap abangnya yang mengeluarkan aura permusuha,"Siaga satu"gumannya sebari kembali duduk ditempat semula ia makan.


"Eh-eh engga gitu bang,ininih contoh manusia yang selalu souzon,,abang tau ga souzon itu bisa membuat negara saling berperang,,," ujar Nirbita mengoceh.


"Ini memang perang!tapi perang ini lebih besar dari antar negara!awas aja bocah itu bakal aku buat babak belur sudah beraninya nyuruh-nyuruh adik ku!,,Jangan-jangan adikku selama ini dia tindas,tidak bisa dibiarkan!"sela Rangga penuh dendam.


"Ck ininih manusia penuh kesesatan!,adenya mau jelasin juga ngoceh aja,dengerin dulu biar endingnya ga malu-maluin! " tegur Pak Jeje.


"Pokonya aku bakal hajar Gara sampe babak pelur!" kekeh Rangga untuk menghajar Gara penuh emosi.


"Gausah hajar-hajar anak orang,dia tuh anaknya tetangga mba Putri!" ujar Bu Kasih.


"Mau dia anak penjabat,anak set*n maupun anak presiden sekalipun aku ga bakal takut BU" ujarnya kini menyisingkan lengan bajunya hingga bahu siap tarung.


"Ckckck sesungguhnya esmosi adalah jalan kesesatan yang diberikan setan pada manusia,,abang tau ga kenapa kak Fricia nyambut kita pake cerulit saat kita datang kerumahnya?" tanya Naila dengan wajah polos membuat Rangga yang emosi terdiam seketika.


"Itu karna kak Fricia salah paham!,nah kesalah pahaman bisa membuat kita masuk dalam kesesatan!,contohnya ya kak Fricia waktu itu" sambung Naila menjawab pertanyaan sendiri,Rangga meringis mengingat kejadian itu sedangkan yang lainnya terkikik.


Rangga menurunkan lengan bajunya menjadi rapih kembali dan melanjutkan makannya seolah ia tidak mengatakan apapun untuk menutupi rasa malunya waktu itu,jujur mengingat hal absurd calon istrinya itu membuatnya juga ikutan malu.


"Hhhhh mulai sekarang kita punya senjata biar abang diam pas Marah-marah!" seru Naila bahagia akhirnya punya senjata juga agar abangnya diam saat marah.


Kejadian memalukan calon ipar mereka itu ternyata menguntungkan untuk nya hehe.


Rangga mendengus dan berdecak lalu menatap Nirbita untuk memperjelas masalah sebagai pengalihan agar dirinya tidak diejek terus,"Nirbita jelasin atau abang buang bekel kamu itu!"ancamnya sebari tersungut-sungut.


Nirbita menarik kotak bekal yang sudah ia siapkan dari subuh bahkan dirinya yang memasak sarapan ini dibantu Bu Kasih tentunya.


"Itu Mmm aku cuma mengujudkan keinginan seseorang  agar tidak jadi fitnah setan yang menyesatkan!" jawabnya membuat mereka mengerutkan dahinya bingung.


"Magsudnya" serempak mereka bertanya.


"Kaya lagi upacara aja,hormat grakk" ujar Nirbita cekikikan.


"Nirbita serius!" tegur Rangga dan Pak Jeje.


"Iya,kemarin ada yang ngasih kak Gara bekel,dengerin dulu jangan disela atau aku gamau cerita!" ujarnya sebari mengancam melihat ancang-ancang sodaranya yang ingin menyela.


"Lanjutkan ta" pinta Bu Kasih.


"Kata yang aku bilang tadi,ada yang ngasih kak Gara bekel atas nama aku,aku aja boro-boro inget mau bawain bekel aku aja kemarin bangun kesiangan,,,jadi untuk meluruskan fitnah dazal akhir jaman,aku bawain bekel beneran hari ini,yang hasil fitnah dazal kemarin aku jatuhin" jelas Nirbita panjang lebar bahkan Nirbita juga menceritahu bagaimana ia tahu ada yang mengirim bekal pada gara atas namanya,dari chat Gara yang mengatakan terimakasih,karna tidak merasa memberi apapun Nirbita mencaritahu siapa sebenernya penyirim bekal yang asli,saat sudah tau iya hanya tersenyum tipis saja ternyata dia,,,,,Nirbita tidak memperpanjang itu walaupun hatinya kesal karna hal yang tidak ia perbuat atas namanya.


Saat jam istirahat Nirbita mampir ke kelas Wahyu untuk meminta buku yang dipinjam wahyu jika tidak diambil maka tidak akan dikembalikan,emang Wahyu kupret,dikasih hati minta jantung!.


Saat dikelasnya Nirbita malah mendapatkan jekpot yaitu mendapat foto aib Wahyu yang membuat temannya itu mengejar Nirbita hingga kekantin,awalnya memang tidak ada niatan buruk Nirbita hanya ingin mengerjai Wahyu,,,namun saat melihat punggung seseorang yang ia kenali ide cemerlang itu datang tiba-tiba dan jengg,Nirbita menabrakan dirinya ketubuh Gara hingga bekal yang dipegangnya jatuh berhamburan dilantai.


Untuk membuat fitnah itu menjadi nyata jadi Nirbita membuatkan Gara bekal,asli bikinannya!.


Perdebatan kembali terjadi antara Rangga dan dimenangkan Nirbita atas dukungan Bu Kasih,karna tahta tertinggi adalah ibu mereka.


"Kak Gara"sesampainya diparkiran sekolah triplet turun dari mobil dengan raut wajah Rangga yang memerah menahan kesal,bisa-bisanya adiknya itu mementingkan orang asing dari pada abangnya awas saja,bakal dia potong uang jajan tiga gadis itu!.


"Kebiasaan banget si suka lari-larian,kamu ga lari juga ga bakal aku tinggalin" omel Gara seperti emak-emak mengomeli anaknya.


Nirbita cengengesan,"Aku suka lari tapi kalo larinya ngejar kakak doang"ujarnya.


"Pinter gombal juga lo cil" goda Farel.


"Iya dong kan situ yang ngajarin!" dengus Nirbita pada temannya itu.


"Pak kumis beli jamur,siapa yang manis tentu Naila seorang" ujar Maila berpantun membuat orang-orang menatap aneh gadis itu.


"Ko pada diem?,Ila emang manis ko iyakan kak Bintang?"


"Iyalah cuma kamu seorang yang manis" setuju Bintang.


"Emang kalo udah cinta t*ikk kucing pun disebut manis"ejek Aril dan seperti biasa perdebatan pun dimulai diantara mereka.


"Aku bawain bekal buat kakak nih" ujar Nirbita menghiraukan kegaduhan teman-temannya,"Kotaknya lucukan,aku sendiri yang milih imut kan?"


"Iya imutan kamu tapi"


"Ouh sudah tentu itumah" narsis Nirbita membuat Gara terkekeh sebari mengacak rambut Nirbita dengan gemas,sudah menjadi kebiasaan untuk Gara mengusap pucuk kepala Nirbita ada rasa senang tersendiri ketika melakukannya.


"Agnes!" panggil Nirbita melihat Agnes yang baru saja turun dari mobil yang mengantarnya.


"Hai semua" sapanya pada setelah sejajar dengan Nirbita dan lainnya.


"Kak Gara bekel nya dimakan dikelas aja ya biar ga kejadian jatoh dan mubajir kaya kemaren,,yu kekelas!" ajaknya sebari menarik Agnes untuk pergi dari area parkiran namun langkahnya tertahan ketika Gara mencekal tangannya.


"Kamu bareng aku aja!"ujarnya dengan senyum manis tak lepas jika menatap Nirbita dan menjadi sedikit cerewet ketularan gadis kesayangannya itu.

__ADS_1


Tangan seseorang diantara mereka mengepal namun seperti biasa bibirnya tersenyum lebar melihat pemandangan itu.


__ADS_2