
Dua gadis terlihat mengendap-endap dari satu tembok ke tembok lain seperti cicak, eeeh.
"Buruan elah!"
"Sabar!"
Bukan hanya berdua sebenarnya tapi berempat,dua dari mereka cowo dan sudah berjalan lebih dulu.
"Calon istriku beneran mau ikut?"tanya Rayhan,setelah acara mengendap seperti maling jemuran ke empat orang itu kini sudah berada ditembok pembatas sekolah dengan tujuan membolos.
"Gausah godain mereka udah ada pawang!" cibir Darvi sebari menoyor kepala Rayhan.
"Sebelum janur kuning melengkung aa Rayhan bebas menikung" jawab pasti Rayhan sebari menepuk dadanya.
"So iye lo!,pas disamperin langsung malah ciut" ejek Davri.
"Kapan sih gue ciut?,gue tuh merendah untuk meninggi " elak Rayhan.
"Mau gibah terus kapan bolos nya sih?!" tanya Nirbita kesal.
"Tautuh!,cepetan nanti ada yang liat!" saut Naila.
Ya itu mereka,setelah Nirbita dan naila ke kelas setelah mengantar risa ketoilet,mereka mencuri dengar bahwa Davri dan Rayhan akan bolos dan mereka malah ikutan.
"Iya ayang,gasabar banget ya berduaan ama abang?,eh salah bertiga abang neng !irbita dan neng Naila,,anak pak rt ga diajak!" godanya sebari mengedipkan sebelah mata,"Kalian harus akur terus kaya sekarang saat nanti jadi istri-istri abang"
"Halu terus!" cibir Naila sebari melepas sepatunya.
"Makan tuh halu!" cibir Davri sebari memasukan rumput yang ia ambil asal kedalam mulut Rayhan.
Rayhan mendengus sebari melepehkan rumput dari mulutnya.
"Kalian mau kemana?"
Deg
Suara bertanya dari arah belakang keempatnya berhasil membuat mereka mamatung.
"Ketauan"guman keempatnya dengan gerakan pasrah keempatnya berbalik secara sedikit memaksakan diri.
Deg
"Kak Bintang" beo mereka sebari menghela napas.
Mereka kira guru bk yang sedang patroli mencari murid yang kerjaannya bolos contohnya mereka berempat.
"Kalian mau kemana?" tanyanya menatap keempat adik kelasnya.
Keempatnya saling pandang setelah itu mengangguk bersamaan,melihat itu bintang mengerutkan keningnya.
"Itu kak tadi jepitan rambut Naila jatuh disini,kita lagi nyari" ujar Nirbita sebari menatap kearah tanah seolah mencari jepitan rambut Naila yang katakan ilang.
"Iyaaa jepitan Naila hilang,,,kita lagi bantuin nyari" timpal Rayhan.
"Iya dari tadi kita nyari ga ketemu,udah ikhlasin aja ila, nanti minta abang lo beli baru" timpal Davri menyiku lengan Naila yang bengong mencerna mangsud ketiga orang itu.
Dengan wajah cengo sekaligus bingung naila menatap ketiganya,"Jepitan apasi?,kan kita kesini mau bolos bukan cari jepitan rambut,Naila ga pake jepitan hari ini"ujarnya polos membuat ketiga orang yang ketahuan berbohong itu menatap tajam kearah Naila yang memasang wajah polos.
"Naila!" sentak ketiganya membuat naila terlonjak.
"Ko teriak-teriak si?,ila ga budeg ya!,emang ila salah?kan kita emang mau bolos" ujar Naila mendengus kesal beberapa detik kemudian mata gadis itu melebar setelah mengingat kebodohannya yang malah berkata jujur.
Naila menatap ketiga teman sekelasnya dengan cengiran kuda lalu beralih pada bintang yang manatapnya dengan kekehan.
"Keceplosan"
.
.
.
Seorang gadis berpenampilan nerd tengah duduk di kursinya dengan tenang,sesekali ia membenarkan posisi kacamata minusnya yang bertengger dihidung.
Risa menatap kearah luar dari jendela di kelas nya masih kosong sebab siswa lain tengah menikmati jam istirahat yang beberapa menit lagi akan berakhir.
"Gue bakal lakuin apapun buat bantuin lo" gumannya menerawang jauh keluar jendela kelas dengan tatapan kepastian.
Gadis itu menghela napas lalu menutupi wajahnya dibalik lipatan tangan dengan senyum tipis yang ia terbitkan.
.
.
.
Dua sejoli beboncengan masih menggunakan seragam sekolah dijam pelajaran.
"Kak kita mau kemana?" tanya gadis yang dibonceng.
"Nanti kamu juga tau" jawabnya membuat gadis itu mencebikan bibirnya kesal.
Setelah perjalanan tigapuluh menit motor yang dikendarai remaja itu melaju pelan memasuki perkebunan.
"Ko masuk perkebunan?"selidik Nirbita sebari menatap sekitar,"Kakak ga mau aneh-anehkan?"
"Enggako bi kamu tenang aja ada yang mau aku tunjukin sama kamu" jawab Gara dengan nada menenangkan,tidak mungkin ia aneh-aneh dengan gadis yang sudah mencuri hatinya sebisa mungkin gara akan menjaga gadisnya itu ehhh.
"Aku gabakal aneh-aneh sama kamu bi,aku akan selalu jaga kamu bukan rusak kamu itu janji aku,aku ga mungkin rusak gadis yang aku sayang!" ujar penuh kepastian dari Gara.
Nirbita mengerutkan halisnya,"Rusak?,emang aku barang apa bisa rusak gitu?,kak Gara aneh deh!,,, akukan bukan barang gamungkin bisa rusak,aku itu manusia kalo manusia itu pasti innalillahi bukan rusak"ocehnya.
"Magsud aku bukan gitu bi"
"Trus apa?"tanya Nirbita.
Gara sendiri bingung harus menjelaskannya gimana,"Intinya aku gaakan aneh-aneh sama kamu,aku bakal jagain kamu"
__ADS_1
"Gausah kak!"ujar Nirbita dengan nada kesal.
"Kenapa?" tanya Gara dengan menaikan sebelah halisnya.
"Akutuh udah punya tiga bodyguard,mana posesif semua!,aku gamau ya nambah satu lagi,tiga aja bikin aku pusing tujung keliling,kaya lagi muterin dunia tau pusing" keluh frustasi Nirbita.
Membayangkan mempunyai bodyguard tambahan membuat Nirbita bergidig ngeri,tiga kakaknya saja yang selalu cosplay menjadi bodyguard sudah membuatnya pusing apalagi jika bertambah lagi.
"Itu artinya mereka sayang sama kamu bi,mereka ga mau kamu kenapa-kenapa" ujar Gara menjelaskan.
"Iyasi,trus kalo kak Gara mau jadi bodyguard aku artinya kakak sayang juga sama aku?" tanya Nirbita dengan polos.
Wajah gara bersemu ia berdehem sebagai jawaban karna tiba-tiba mulutnya kelu untuk mengeluarkan sepatah katapun.
"Kakak aneh deh ditanya malah diem!" guman Nirbita karena tidak mendengar deheman Gara.
Hening setelah percakapan tadi tidak ada yang memulai kembali pembicaraan sampai motor gara berhenti disuatu tempat.
Gara dan Nirbita membolos,satelah sempat ketahuan bintang empat orang yang sempat akan membolos itu akhirnya bolos dengan tambahan Bintang dan Gara,setelah keluar dari area sekolah mereka bubar dengan tujuan masing-masing.
Tujuan Naila dan Nirbita hanyalah supermarket untuk mereka jajan namun malah dibawa kabur pasangan masing-masing,tidak bisa dikatakan pasangansih sebab mereka hanya sebatas teman sampai sekarang tidak tau nanti.
Tempat yang bisa disebut seperti hutan tapi bukan hutan,banyak pohon jati disekeliling mereka,Gara membantu Nirbita turun dari motor sport nya.
Mulut Nirbita menganga melihat pemandangan indah disekitarnya tanpa melihat gara ia bertanya,"Ini dimana kak?,indah banget"serunya antusias lalu mengeluarkan ponselnya dari tas.
"Kamu suka?" tanya Gara berdiri disamping Nirbita yang hiperbola melihat pemandangan hutan yang ia lihat sangat asri.
Nirbita mendengus,"Ponselnya mati"ujarnya menunjukkan benda pipih itu pada Gara.
"Emang kamu mau apa sama ponsel kamu?" tanya Gara.
"Foto-foto kak!sayang banget kalo sampe ga bisa foto-fotoin tempat ini,pemandangannya indah banget" tutur Nirbita lesu mengingat ponselnya kehabisan daya menghadapi dirinya ehhh banyak tingkah!.
Gara terkekeh melihat tingkah kesal Nirbita yang membuat kedua pipi cabynya menggembung rasanya gara ingin menggigit pipi itu,,ehh pikirannya!,Gara menggelengkan kepalanya untuk menghapus pikiran mesumnya mengingat ini dihutan bisa saja ia hilaf gara-gara bisikan setan.
"Nih pake ponsel aku aja" ujar Gara sebari memberikan ponselnya tentu saja Nirbita terima,tidak akan ia lepaskan sedikit saja pemandangan disini dari kamera ponselnya,selain mendapat foto-foto cantik Nirbita juga bisa menyombongkan pada Naila yang intagrameble.
Naila pasti akan iri melihat pemandangan cantik ini dari ponselnya nanti mengingat itu Nirbita terkikik.
"Kak kita selfie kak!" ajak Nirbita sebari lebih dekat dengan gara agar mendapat poto yang bagus.
Cekrek
Cekrek
Cekrek
Entah sudah berapa banyak Nirbita mengambil gambar dilihat dari wajahnya ia belum puas dan masih antusias mengambil potret jika tidak segera dialihkan dengan hal lain gadis itu tidak akan berhenti.
"Udah yu aku mau tunjukin sesuatu sama kamu!" ajak gara dengan tidak rela Nirbita mengikuti langkah Gara yang menariknya pelan.
"Ih tapi ita masih mau fotoin tempatnya juga kak"rengek Nirbita.
"Iya nanti dilanjut foto-foto nya sekarang ikut aku dulu,ada tempat yang mau aku tunjukin kamu pasti suka" Nirbita tidak merespon gadis itu cemberut mengikuti langkah Gara.
"Beneran kak?,ada tempat lebih bagus dari yang tadi? " tanya Nirbita antusias dan di angguki Gara dengan tersenyum tipis.
"Iya,makanya ayo keburu sore" ajaknya sebari tersenyum.
Senyuman itu lepas dari bibir Gara sejak melihat Nirbita berjalan disempingnya dengan riang tidak seperti tadi dengan wajah cemberutnya.
Cemberut saja bisa membuat para setan berbisik apalagi saat gadis itu tersenyum gara jadi takut hilafkan jadinya!.
Mata Nirbita berbinar mulut menganga seperti saat pertama kali di pemberhentian mereka,wajahnya mendongkak untuk melihat arah tunjuk Gara.
Gara terkekeh melihat wajah Nirbita yang terkesan lucu,Gara harus banyak beristighfar untuk menguatkan imannya agar tidak hilaf.
"Rumah pohon" seru Nirbita sebari meloncat kecil seperti anak kecil,Nirbita menunjuk rumah pohon disatu pohon paling besar diantara yang lain dengan semangat,"Kak rumah pohon ita mau naik!"
Gadis itu berlari kearah rumah pohon dengan antusias,"Jangan lari-lari bi nanti jatuh"ujar Gara mengingat tempat mereka sekarang banyak ranting berserakan bisa saja melukai diri jika tidak hati-hati.
"Kak aku boleh naik kan?" tanya Nirbita memastikan dengan mata pupel eyes sebagai permohonan.
Gara mengusap rambut Nirbita setelah berada disamping gadis itu dan mengangguk,"Boleh tapi harus hati-hati"
Nirbita mengangguk antusias.
Ekpresi Nirbita sekarang seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan yang sudah lama ia incar dan baru mendapatkannya.
Sangat antusias dan bersemangat!.
"Hati-hati bi" teriak Gara kaget saat tiba-tiba Nirbita naik begitu saja menggunakan tangga yang tersedia untuk naik keatas rumah pohon itu
"Iya kak" Nirbita menaiki satu persatu tangga dari tali yang dibuat sedemikian rupa menyerupai tangga untuk berada diatas rumah pohon diatas sana.
"Hore sampe,,kak Gara sini naik!"
"Iya bi bentar" jawab Gara sebari terkekeh.
"Wih indah banget dari atas sini,ita berasa jadi raksaksa yang tinggi banget"gumannya terkikik.
"Kamu suka?" tanya Gara yang sudah berada disamping Nirbita.
Nirbita mengangguk antusias,"Suka banget kak,tempat nya bagus banget,ita berasa lagi suting tarzan"ujarnya membuat gara terus tersenyum.
"Auoooooo" teriak Nirbita menyerupai tarzan diflm yang pernah ia tonton.
"Kak teriak kaya ita tadi kak!,ayo" rengek Nirbita sebari menggoyangkan lengan Gara.
"Auoooo" teriak Gara tak kencang dan terkesan datar.
Nirbita mencebikan bibirnya kesal,"Yang kenceng gituloh!,nih ita contohin,auooooooo"Nirbita mencontohkan teriakan ala-ala tarzan pada gara sebari menggeladah keatas dengan kedua tangan membuat bentuk bulat disekitar mulut.
"Kaya gitu kenceng!,,sekarang giliran kakak,harus kenceng banget pokonyah!" rengek Nirbita.
"Auooooooo" teriak Gara sekencang mungkin.
__ADS_1
"Auoooo" Nirbita juga ikut berteriak jadilah paduan suara tarzan cantik dan tampan!.
Keduanya tertawa setelah itu.
Nirbita berhenti tertawa ketika melihat wajah gara yang memerah dan sedang tertawa lepas,tawa yang baru pertama ia lihat,biasanya ia hanya melihat senyuman manis pria kulkas itu saja!.
"Ganteng banget!" gumannya terdengar Gara dan membuat pria itu salting.
"Khmmm siapa yang ganteng?" tanya Gara cool
Nirbita cengengesan mendengar pertanyaan itu,"Kakak hehe,,"jujurnya membuat Gara membuang muka agar tidak ketahuan salting.
"Kakak kenapa?,sakit ?,ko telinganya merah?" tanya polos Nirbita.
"Ah engga papa" gugup Gara sebari menutupi telinganya dengan tangan.
"Diflm-flm kalo telinga cowo merah kaya kakak tadi,terus suasananya lagi sama cewe itu artinya lagi salting,kakak lagi salting ya sama ita?" tanyanya dengan wajah polos membuat Gara gelagapan.
"Ki-kita liat dalemnya yu" ajak Gara mengalihkan pembicaraan bisa lebih salting dari ini jika terus membahas hal tadi.
Gara ingin menjalin hubungan dengan gadis ini tapi ia masih ragu apakah nirbita mau dengannya,bukan tidak percaya diri tapi mengingat Nirbita itu sepesies langka yang otaknya ga terduga.
"Ayo!"jawab Nirbita antusias.
Keduanya masuk dalam rumah pohon , tidak ada hal istimewa hanya ada alas karpet bulu dan dua sofa duduk diujung sudut,dan satu kotak kardus tertutup,rapi terlihat rumah pohon ini selalu dijaga pemiliknya.
"Ini rumah pohon siapa k?" tanya Nirbita sebari duduk didepan jendela rumah pohon.
"Punya aku"
"Wah keren banget!,kakak suka kesini?" tanyanya lagi dan dijawab anggukan kepala oleh Gara.
"Sini deh! " tutur Gara dituruti Nirbita untuk mendekat kearahnya.
Keduanya duduk berhadapan hanya terhalang kotak kardus yang gara ambil dari sudut ruangan.
"Ini isinya apa k?" tingkap kekepoan triplet itu setinggi langit jika belut terjawab pantang bagi mereka untuk diam.
Gara membuka kotar kardus itu,"Ini isinya mainan aku waktu kecil,,,beberapa mainan aku simpen disini cuman mainan kesayangan doang yang dibawa pulang"jawabnya.
Setelah terbuka terlihat sekardus penuh berisi mainan cowo.
Nirbita mengangguk dan mengambil satu mobilan dari dalam kardus,"Ini rumah pohon kakak dari kecil?"
"Engga juga,aku bikinnya pas kelas satu smp"jawab Gara setelah mengingat ingat.
"Dulu temen aku ada yang mau dibikinin rumah pohon,,,dia ngerekek terus jadinya aku minta papi aku buatin rumah pohon buat dia,tapi sebelum aku ajakin dia udah pulang" sambungnya sendu.
"Kakak kan bisa jemput dia dirumahnya kak" ujar Nirbita sebari mengambil mainan lain didalam kotak.
"Aku gatau rumah dia bi,,,,dulu aku ketemu dia dirumah nenek pas berlibur kesana,dia juga berlibur dirumah neneknya,kami suka main bareng,,,dulu usia aku sepuluh tahun dan dia Mmm sembilan tahun" ujar Gara sebari mengingat ingat.
"Beda setahun dong?" ujar Nirbita.
Gara mengangguk mengiakan,"Iya,dia lucu banget apalagi kalo rambutnya lagi dikepang dua,aku suka mainin kepangan dia eh dia suka ngamuk dan gasuka kepangan lagi kalo main sama aku,padahal aku suka liat dia dikepang kaya gitu lucu banget"ujar Gara sebari mengingat kenangan bersama sosok teman kecil yang ia rindukan selama ini.
"Sekarang kakak udah ketemu sama dia?" tanya Nirbita.
"Belum" jawabnya sendu dengan pancaran kerinduan.
"Aku do'ain semoga kakak cepet ketemu sana dia,,,amin" ujar Nirbita sebari tersenyum.
"Makasih ya" Nirbita mengangguk.
"Aku ga ngerti deh magsud cerita kakak tuh gimana"ujar Nirbita sebari mendongkak lucu menatap atap-atap kayu"Kskak sekarang tinggal dirumah nenek?"
Gara menggelengkan kepalanya dengan kerutan di dahinya "Engga"
Nirbita menggaruk lengannya gatal ulah nyamuk,"Terus kakak pulang ke rumah kakak dulu terus buat rumah pohon terus balik lagi ke rumah nenek kakak buat jemput temen kecil kakak itu kesini gitu?"tanya berondong nirbita dengan bingung membuat gara terbahak.
"Kamu ini ada-ada aja si bi,dulu aku buat rumah pohonnya dideket rumah nenek,karna aku juga harus pulang kaya temen kecil aku,jadi aku buat rumah pohon ini disini setelah aku kelas satu SMP buat sekedar mengenang dia" ujar Gara menjelaskan.
"Ouh gitu paham-paham" jawab Nirbita manggut-manggut.
"Kamu gapapa kan aku cerita temen kecil aku?" tanya Gara hati-hati.
"Gapapa" jawab Nirbita acuh"Pas dengerin cerita kakak aku juga jadi pengen ketemu temen kecil kakak pasti cantikkan?"
"Gatau" jawab Gara acuh.
"Dia cewekan kak?" tanya Nirbita hati-hati ia pikir temen Gara cewe karna melihat antusias dimata Gara saat menceritakan teman kecilnya itu jika cowo rasanya aneh saja,,,
Gara mengangguk pelan sebari melihat wajah nirbita "iya"
"Nanti aku bisa bikin geng-gengan kaya kakak,nanti ada aku,Naila,kak Naya,Agnes sama temen kecil kakak" seru Nirbita antusias.
Melihat respon Nirbita membuat Gara kecewa diakan berharap gadisnya itu cemburu!,malah mau buat geng!.
"Sedikitan amat" cibir Gara terdengar kesal.
"Iyaya grilnya cuma ada lima orang,sedikit amat!,seharusnya sih paling sedikit bisa bikin kesebelasan,lumayan bisa ikutan main bola" ujarnya antusias mengingat nirbita hobi dengan olahraga bola.
"Jajan nya ga kamu makan?" tanya gara mengalihkan pembicaraan dari pada ia kesel sendiri melihat respon Nirbita yang malah antusias.
Kan Gara jadi kesel!.
Sebelum pergi mereka mampir ke supermarket untuk membeli jajan didekat sekolahan tadi.
"Jajannya dimotor" ujar Nirbita baru ingat memiliki sekantong kresek jajanan namun ia tarus di stang sebelum pergi.
"Aku bawa,ayo makan" ujar Gara sebari menyodorkan keresek berisi jajanan yang nirbita beli.
"Eh kakak bawa,makasih kak,kakak baik deh,udah dijajanin,dibawa kerumah pohon terus jajaninnya dibawain lagi!,,,kakak udah perfect husband pokonya" goda Nirbita sebari tersenyum namun tidak melihat Gara tatapan nya melihat kearah jajanan.
Wajah Gara memanas harus menguatkan iman sebelum setan kembali berbisik dan membuatnya hilaf apalagi ini jauh dari rumah warga.
"Ni bocah ngomong asal ceplos amatsi,gue takut hilaf,astagfirullah,banyak-banyak istigfar"guman Gara dalam hati dengan tatapan waswas.
__ADS_1