
Hari dimana pengumuman ujian telah keluar murid berbondong-bondong melihat di mading hingga saling berdorong-dorong seperti sedang mengantri bansos.
Kecuali Triplet,tiga gadis itu sedang berleha-leha dikelas 11A ips dimana itu adalah kelas naya,ketiganya bukannya tidak ingin melihat hasil kerja keras mereka dalam ujian hanya saja tidak ingin berdesak-desakan,mereka akan melihatnya setelah effort murid lain berkurang.
"Kak kita ga jadi beli ayam warna-warni calon sapi?" tanya Naila sebari mengunyah keripik.
"Gimana mau jadi orang gaada penjualnya" jawab Nirbita mengambil keripik dari tangan Naila.
Naila manggut-manggut,"Iya si"
"Dari pada bahas ayam,menurut kalian siapa yang udah neror kalian selama disekolah?" tanya Naya menatap keduanya yang duduk di kursi depan miliknya.
"Emang kalo bahas teror meneror lebih penting ya kak?" tanya Nirbita mewakili Naila.
"Iyalah,biar kalian ga diteror mulu,kakak udah biarin ya pas dia ngokorin meja kalian pake air bau sama sampah,tapi kalo udah ngebahayain kalian kakak ga bakal diem lagi" ujar Naya menggebu apalagi setelah mengetahui bahwa ada yang mengunci Naila di kamar mandi membuatnya marah dan dia pastikan akan membalas orang itu.
Naila dan Nirbita saling pandang,"Tapikan ayam lebih penting kalo udah dewasa bisa dipotong dijadiin ayam krispi,lah ini kalo yang bully ketahuan ga bisa dipotong"ujar Naila masih menatap Nirbita.
Tadi ayam calon sapi tapi malah ayam calon krispi terserah mereka ajadah mana ada ayam calon sapi coba
Naya menoyor kepala kedua adiknya ini,"Otaknya makan doang!"
"Kaya kakak engga aja!" cibir dua kembar itu membuat Naya garuk kepala anti ketombe.
"Ck yang serius dong mumpung sepi gaada yang nguping kita ngomong" ujar Naya frustasi.
"Dinding punya telinga kak" ujar Naila.
"Ck" Naya hanya berdecak kesal adiknya ini sulit sekali diajak berbicara serius jika tidak disogok.
"Kakak bantuin cari ayam warna-warni kalo kita serius bahas masalah ini" bujuk Naya tau seluk buluk-buluk-buluk dua adiknya.
"Dil" semangat keduanya membuat Naya mendengus.
"Kalo ila ga punya yang dicurigain" ujar Naila jujur membuat Naya memutar matanya malas,Naila mana mau mikirin siapa dimana dan apa jika tidak ada uang nya.
"Ita sih ada tapi masih kecurigaan doang,takut jadi fitnah sih kalo langsung labrak" ujar Nirbita membuat mereka menatap gadis itu.
"Siapa?"
Nirbita menatap dua sepupunya dengan tatapan intens"Nungguin ya?"ledeknya membuat keduanya mendengus.
"Aku udah serius loh kak nungguin" sebal Naila kesel.
"Hehe mangap sobat" goda Nirbita sebari terbahak.
"Yang serius kakak bilang!,kalo becanda trus gabakal kakak anter cari ayam warna-warni!" ancem Naya sebari melotot.
Nirbita menggaruk lehernya sebari cengengesan,"Iya kak maaf,ini ita serius,ita takut fitnah karna ga punya bukti,gini deh kalo ita udah punya bukti nanti ita bilang sama kakak siapa orangnya,sekarang ita mau pancing dia keluar dulu biar kita punya bukti dan ga jadi fitnah"
Naya mengangguk paham,"Kakak sebenernya curiga sama seseorang bahkan Vania memperkuat kecurigaan kakak"
"Kak Vania yang kakak curigain?" sela kedua adiknya.
"Bukan,cuman Vania saksi kejadian waktu itu,dia lihat orang yang kotorin meja kalian itu ada tiga orang,yang dua kayanya orang suruhan dan satu lagi pelakunya dan dia satu sekolah sama kita" jelas Naya,"Walau kakak ga punya bukti tapikan ada Vania sebagai saksi,tapi kalo cuma saksi kita pasti dibilang nuduh jadi harus punya bukti,trus kalo siapa yang ngunciin Naila ditoilet kakak curiga masih orang yang sama"sambungnya mulai masuk pembicaraan yang benar-benar serius.
"Trus kalo gitu sekarang kita harus gimana?,aku gamau ya kalo harus dikunciin di toilet lagi,serem tau" ujar Naila mengkerucutkan bibirnya,Naila takut jika harus dikurung di toilet sarang hantu,bagaimana jika ada mba kunkun dan kawanannya kan serem.
Mending mba kunkun nya bisa nego seperti mba kunkun pohon mangga pak Selamat kalo tidak bagaimana?,Naila bisa-bisa digondol,trus kalo mba kunkun nunjukin diri Naila bisa pingsan dan memudah kan digondol mba kunkun.
"Kita harus jebak dia buat bongkar kejahatannya"ujar Nirbita.
"Kamu punya ide?"tanya Naya diangguki Nirbita.
"Punya dong otak ita kan selalu penuh jadi ga mungkin kalo ga punya rencana" jawabnya songong membuat Naila mendengus.
"Alah otak segede semut aja bangga" cibir Naila.
"Dari pada kamu sebesar otak udang,eeh udangkan ga punya otak" balas Nirbita sebari menjulurkan lirdahnya dan dibalas Naila juga seperti itu.
"Gausah mulai!,kita lagi bicarain hal serius" tegur Naya sebelum kedua adiknya bercekcok ria berujung adu otot.
Naila dan Nirbita saling membuka wajah kearah berlawanan sebari mendengus.
"Bilang gimana rencana kamu!" ujar Naya.
"Kita ikutin aja dulu permainan dia,kita curigain orang lain agar dia merasa aman,kan dia merasa aman tuh trus makin neror kita,orang yang terlalu percaya diri selalu bikin kesalahan tanpa disadari,disitulah kita sergap orang itu"jawab Nirbita.
Naila dan Naya mengangguk,"Kalo dia nerornya nyelakain kita gimana kak?" tanya Naila kembali di mode bersaudara.
"Kita polisikan ,punya papih kepala Polisi tuh manfaatin masa bantuin orang lain bisa bantuin anak sendiri engga" jawab Nirbita.
Naila mengangguk,"Bener juga kapan lagi manfaatin jabatan"ujar nya terkikik.
"Ga gitu juga dodol"Naya menoyor kepala Naila gemas.
"Magsud ila bukan gitu kak,papih kan kepala Polisi pasti memudahkan penyelidikan,apalagi yang dijahatin anak-anak kesayangan papih,pasti papih ga bakal biarin si penjahat hidup aman damai dan tentram setelah jahatin kita,souzon mulu nih sama ila" jelas Naila mencebikan bibirnya.
"Kamu tuh bungsu jadi selalu menjadi tempatnya salah" ujar Nirbita terkikik.
"Is,bungsung itu terakhir seharusnya paling disayang dimanja-manja"hardik Naila.
"Iyalah kan bungsu susa-sesa,bungsu cuma sisa semua kakak-kakaknya yang lebih dulu lahir jadi dia ga punya hal sepesial"ejek Nirbita.
"Iya iya,ila paling bodoh,pendek,jelek!" hardik Naila kesal dengan nafas naik turun,"Ila cuma sisa dari kalian! Gapunya hal sepesial sama sekali yang harus dibanggain tapi ila juga punya hati"sambunya dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Iya kak ita emang pinter kak Naya juga,kalian selalu menjadi juara bertahan sejak kecil,sejak kecil kalian ga pernah dipuji sama orang tua kita ataupun sama abang kenapa?, mau jaga perasaan Naila?,iya hah?,Naila bukannya seneng malah sedih tauga?,Naila emang ga punya hal yang harus dibanggain tapi tingkah kalian bukannya bikin Naila seneng malah enek" hardik Naila menggebu,"Naila cape jadi bayang-bayang kalian terus!,iya ila emang manja,lebay,cuma itu yang ila bisa karna ila itu bodoh!,ila cape kak!,cape"hardik Naila berurai air mata.
Naila mengusap wajahnya kasar lalu berlari pergi meninggalkan dua kakaknya yang menatapnya sedih.
"Ila" panggil mereka lembut namun tak dihiraukan Naila.
Naila merasa kecewa dengan kakaknya yang ia anggap terlalu merendahkan nya,dulu ia selalu menganggap jika kedua kakaknya tidak mendapat pujian apapun dari keluarga jika mendapat penghargaan apapun dari sekolah ataupun perlombaan karna ingin menjaga perasaannya namun semakin lama naila mereka direndahkan dengan cara mereka seperti itu,dia bukan anak kecil yang akan iri dengan pujian ia juga tidak haus dalam mendapat pujian,ia juga bisa menerima kekalahan,,, tapi jika terus diperlakukan sama naila berpikir keluarganya terlalu memandangnya tidak bisa melakukan apapun.
Naila akui ia tidak pernah mendapat juara seperti kedua kakaknya,naila hanya selalu dalam pringkat sepuluh besar dari kecil tapi ia pikir semua itu bukan hal memalukan bukan?,,semua itu hasil kerja kerasnya sama seperti kedua kakaknya,,,apa hanya masuk sepuluh besar termasuk bodoh?.
Naila lelah diperlakukan istimewa,ia bukan anak disabilitas yang tidak bisa menggerakan salah satu dari tubuhnya,bahkan anak disabilitas memiliki keistimewaannya tersendiri,lalu kenapa jika ia tidak memiliki kelebihan dalam dirinya,apa se memalukan itu menjadi bodoh?,petrik yang bodoh saja bisa menjadi badut untuk sahabatnya ketika sedih.
Petrik diistimewakan SpongeBob bukan karna kebodohannya tapi karna dia sahabatnya,tapi keluarga naila tidak bisa menerima Naila apa adanya hingga selalu memprioritaskan dirinya sebelum siapapun,bukannya ia tidak menerima kebaikan keluarganya namun semakin lama Naila semakin berpikir bahwa mereka terlalu memandang naila tidak bisa melakukan apapun jika mereka tidak membantu.
Apa aku sebodoh itu?, hingga tidak bisa berdiri dengan kaki sendiri?.
Murid-murid di Koridor menatap naila yang tengah berlari dengan sesekali mengusap matanya yang mengeluarkan air dan hidungnya mengeluarkan ingus dengan tatapan heran.
Naila tidak mengidahkan tatapan mereka gadis kecil yang tengah overthinking itu berlari sebari menyeka matanya yang mengabur karna bendungan air mata yang mulai luluh lantah.
Kedua kakak Naila mengejarnya sebari memanggil nama gadis itu namun juga tidak diidahkan.
"Semua orang jahat!,ga ada yang baik sama ila!,semua cuma pura-pura hiks-hiks,ila benci-benci diri ila,kenapa ila harus jadi Naila sih kenapa? Huaaaaa" tangis Naila pecah dihalaman belakang sekolah yang menjadi tempat tongkrongan triplet maupun Algaskar jika sedang bolos pelajaran.
"Kenapa ila ga jadi kak ita aja?,kenapa harus terlahir jadi naila yang bodoh?,ga pernah dapet juara,jelek,pendek,manja huaaaa,kenapa semua orang merendahkan orang yang dibawahnya huaaaa" racau Naila sebari menangis histeris.
"Gaada yang bilang kamu bodoh naila!" sentak Nirbita disamping Naila yang tengah menangis merutuki kebodohannya itu.
"Kakak yang bilang kak!,kakak bahkan bilang ila ga punya otak!" sentak Naila menatap garang Nirbita masih dengan derai air mata.
"Kita bicarakan baik-baik kalo pake emosi ga bakal selesai dengan baik" ujar Naya yang paling bijak.
Nirbita menatap Naila dengan tatapan kesal,jelas-jelas tadi ia hanya membalas candaan Naila saja tidak ada niatan menghina sama sekali,apalagi mereka memang selalu saling mengejek terus bercekcok sebentar dan berbaikan sedetik kemudian,itukan kebiasaan keduanya kenapa sekarang menjadi serius yang harus dipertengkarkan,terlalu kekanak-kanakan!.
"Jelas-jelas aku cuma balas candaan kamu doang,kenapa kamu semarah ini kitakan udah biasa becanda begitu kenapa sekarang bilang kami rendahin kamu!" sentak Nirbita terbawa emosi,didalam keluarga jika ibu adalah ratunya rumah tangga maka Naila adalah ratunya persaudaraan bagi Nirbita dan juga saudaranya yang lain,mereka sangat memanjakan Naila karna memang mereka sangat menyayangi gadis bungsu itu tidak ada niatan buruk.
"Kakak gausah ngeles!,udah jelas-jelas kakak rendahin aku,iya aku emang bodoh,aku gadis bodoh dikeluarga kita,aku cuma beban!" sentak Naila menatap tajam kakaknya sebari mengusap wajahnya yang basah.
"Aku terlahir hanya untuk menjadi beban,aku sadar kak,tapi salah aku dimana?,aku emang ga punya kelebihan seperti kak Rangga yang bisa hendel perusahaan,ga kaya kak Elesky yang menjadi tentara,ga juga kaya kak Bastian yang mendapat beasiswa di Singapore,aku juga ga kaya kalian yang selalu menjadi juara sejak kecil,,,dari kecil Naila terbiasa kalah kak,Naila sadar itu!,,,tapi Naila punya hati!hiks" Naila kembali mengusap matanya yang kembali berurai air mata setiap ia mengeluarkan satu patah kata.
"Naila juga mau dihargai,hiks,Naila juga mau berdiri dengan nama sendiri,ga terus dibilang hiks,,jadi Naila enak ya punya kakak-kakak yang pinter kalo ada pelajaran tinggal mintol dikerjain kan Naila dimanja banget hiks" ujarnya menirukan orang-orang yang membicarakannya.
"Naila gamau terus jadi bayang-bayang kalian,hati Naila sakit kak" ujarnya terdengar merengek sebari sedikit memukul dadanya,"Naila mau jadi diri sendiri jangan rendahin Naila lagi,Naila sakit kak sakit hiks"
Nirbita dan Naya membiarkan naila mengeluarkan unek-unek dalam hatinya selama ini,mereka tidak pernah tau kalo naila merasa tersakiti mereka pikir memanjakan Naila hanyalah salah satu bukti bahwa mereka sangat menyayangi gadis itu,mereka jugalah yang meminta agar keluarga tidak ada yang memuji ketika mereka mendapatkan apapun jika Naila tidak mendapatkan untuk menjaga hati Naila,mereka tidak tau kalo semua itu malah merusak persaudaraan mereka.
"Kamu ga perlu dengerin mereka la,kamu cukup jalani aja seperti biasanya" ujar Nirbita sebari menunduk sebari menangis ia tidak kuat jika harus menatap Naila yang tengah menangis sesegukan.
Ingin rasanya memeluk Naila dan menenangkannya tapi pelukan kakak kandungnya saja yaitu Naya ditolak,Naila terus mendorong Naya yang ingin memeluknya.
"Udah sini kakak peluk,jangan nangis lagi sini kakak peluk"pinta Naya dengan mata berkaca-kaca bahkan sesekali mengusap air matanya yang menetes.
"Gamau kalian jahat huaaa" Naila jongkok dan menenggelamkan wajahnya dikedua pahanya yang ia tekuk.
Nirbita sesegukan menangis sebari menunduk ia merasa bersalah,memang apa yang naila ucapkan benar seseorang akan marah ketika kerja kerasnya dianggap orang lain yang mengerjakan,ia tidak mengelak hal itu karna ia juga pernah diposisi seperti itu.
Naya kembali mendekati Naila yang menyembunyikan wajahnya yang terus menangis pilu dan memeluk adiknya itu sebari larut dalam tangisan yang sejak tadi ia tahan.
.
.
.
Sekolah dibubarkan lebih awal karna hari ini hanya pengumuman nilai ujian saja tidak ada kegiatan belajar hingga tiga hari kedepan setelah itu akan diadakan rapat untuk mengumumkan libur panjang.
Triplet saling diam diposisi mereka yang berjalan beriringan tidak seperti biasanya mereka hanya membisu sekarang.
Kabar triplet bertengkar sudah terdengar keseluruhan penjuru sekolah mengingat kejadian dimana Naila berlari sebari menangis di Koridor di kejar kedua kakaknya,mereka tidak menyangka triplet bisa bertengkar mengingat mereka seperti lem yang merekat tidak bisa dipisahkan,padahal mereka hanya manusia biasa yang bisa saja bertengkar karna tidak bisa menyelami hati masing-masing.
"Hahaha si Rezaldi diputusin pacarnya"
"Kapan anj*g?" sela Rezaldi membuat Aril melotot kan matanya kearah pria itu lalu melirik triplet yang masih membisu.
Rezaldi mendengus,"Gua yang mutusin bukan dia"ujar Rezaldi mengerti magsud Aril.
Walaupun hanya kebohongan semata untuk membuat triplet membuka suara tetap saja harga diri Rezaldi diutamakan,tidak ada namanya diputuskan oleh cewe dalam kamusnya.
"Ck ngaku aja lo dibuang,cewe lo sadar dari ketidak warasannya!iya ga la?"tanya Aril terhadap Naila namun tidak ada jawaban bahkan melirik saja tidak,mereka hanya berjalan dengan tatapan kosong,keceriaan hilang begitu saja dari mereka.
"Hasil ruqiyah gue tuh,hebatkan gue la?,calon ustadz" saut Devan ikut rencana Aril untuk mengembalikan keceriaan triplet lewat membuli Rezaldi.
Rezaldi mendengus bisa-bisanya ia difitnah ck.
"Bukan cuma bang Devan,gue juga ikut ruqiyah pacarnya bang Rezaldi pake semburan maut"timpal Davri masih tidak ada sautan.
"Aku bantu geplak Rezaldi biar pingsan la" saut Bintang ngasal asal bisa membuat Naila mengeluarkan suaranya.
"Mau beli eskrim?" tanya Gara tidak khusus untuk nirbita saja tapi untuk triplet.
"Gue traktir deh" timpal Farel mengingat triplet pecinta gratisan,mereka pasti tidak akan menolak.
Tidak ada jawaban membuat mereka menghela nafas.
"Mau main dulu ga Naila,Nirbita kak Naya?" tanya Agnes mencoba ikut menghibur,"Kita ke timezone dulu gimana?"
__ADS_1
Tidak ada sautan.
"Atau kita taman dulu kak buat nenangin diri?" tanya Risa mencoba.
"Aku bingung yang mau nawarin apa" bisik Vania pada Farel.
Farel menghela nafas,"Gapapa yang mereka bentar lagi balik ke mode ga normal lagi ko"jawabnya mendapatkan sikuan dari Vania sebari melotot,"Becanda yang"
"Kalian berantem soal apa si?" tanya Wahyu yang sedari tadi diam-diam memikirkan pertengkaran hebat tiga saudara itu,baru pertama kali setelah tiga tahu lalu mereka bertengkar,waktu itu pertengkaran mereka hanya drama agar diajak jalan-jalan kelaut.
Wahyu berpikir,'apa kali ini juga drama? ,jika ia maka dalam sehari mereka akan kembali seperti semula dan mendapatkan apa yang mereka inginkan.
"Aku duluan" ujar Naila bukannya menjawab gadis itu malah pamit dan pergi meninggalkan mereka,kebetulan mereka tidak dijemput sebab salah satu dari triplet tidak memberi kabar pada abang mereka kalo hari ini pulang lebih awal.
"Aku juga duluan" timpal Nirbita mendahului langkah Naila dan berjalan berlawanan arah dari jalan menuju rumah.
Naya membeo melihat dua adiknya yang berjalan berlawanan arah,"Wah,Dav lo berdua ikutin Nirbita ya gue mau ikutin Naila"ujar Naya tanpa menunggu jawaban gadis itu berlari mengejar langkah naila,walau berjalan hanya dibelakang Naila agar tidak membuat gadis itu lebih marah lagi cukup Naya hanya akan mengawasinya saja hari ini.
"Biar gue aja yang ikutin Nirbita" ujar Gara tanpa menunggu jawaban gara mengejar langkah Nirbita hingga melupakan motornya dan disusul Bintang yang mengejar langkah Naila bersama Naya.
"Kayanya perang beneran" guman Devan dan Wahyu bersamaan lalu berlari kearah motor mereka masing-masing dan melegang pergi mengikuti Nirbita menggunakan motor.
"Kamu ga ikutan ngejar sih yang?!" kesal Vania pada kekasihnya yang malah cosplay jadi orang bego hanya pelanga-pelongo.
"Mereka kan bukan maling yang harus dikejar yang" Vania melorotkan matanya Farel ini memang mulut nyinyir,"Becanda yang,biarin aja udah banyak yang ngejar juga,aku ga dibutuhin,sekarang yang butuhin aku itu kamu yu aku anter pulang"ajak Farel.
"Iyalah lo kan ojek" ejek Rezaldi,"neng Risa mau aa anterin pulang?"tanyanya membuat Farel mencibir.
"Gausah kak,aku bisa pulang sendiri ko" jawabnya hati-hati agar Rezaldi tidak tersakiti.
"Ih aku maksa lo" kekeh Rezaldi dengan wajah pupel eyel ala buaya.
"Ck gausah Ris,mending naik angkot lebih aman dan damai dari pada sama dia,ojeknya bintang satu ga oke" cibir Farel.
"Kamu mau aku anter Nes?" tanya Devan tanpa peduli percekcokan teman-temannya,namun entah kenapa hatinya tidak ingin mengantarkan Agnes namun ingin mengantar orang lain,tapi Devan menyangkal hal itu.
"Ga usah kak aku dijemput ko" jawabnya.
Devan mengangguk paham"Ok kalo gitu hati-hati dijalan"
Setelah acara berdebat seperti biasanya mereka mulai bubar dengan tujuan kerumah masing-masing kecuali Farel yang akan mengantar pulang kekasihnya.
Risa termenung didalam angkot yang ia tumpangi,hatinya resah dan juga lelah.
"Huh males banget pulang" gumannya lirih memikirkan masalah orang tuanya yang tidak pernah selesai mungkin tidak akan selesai sebelum dia tiada pikirnya.
Kondisi angkot tidak terlalu rame namun juga tidak sepi,disebrang tempan risa duduk ada dua ibu-ibu yang tengah berubah ria dilihat sekolah mereka terlihat akrab namun mereka tidak saling mengenal sama sekali,jika masalah gibah orang asing pun menjadi sodara.
"Jam segini udah pulang sih neng?" tanya ibu itu.
Risa mendongkak dengan tatapan bingung,"Saya bu?"tanyanya memastikan,takut salah tebak malah menjawab saja kan malu.
Ibu itu mengangguk.
"Dipulangkan lebih cepat bu" jawabnya seadanya.
Ibu itu mengangguk paham dan kembali bergibah ria dengan ibu-ibu di sampingnya sesekali bertanya pada Risa,dan ditanggapi risa dengan jawaban simpel atau sekedar tersenyum dan mengangguk saja.
Angkot itu tiba-tiba terhenti membuat para penumpangnya terhuyung tidak estetik bahkan ibu-ibu yang tengah bergibah tadi terhuyung kesamping saling menumpuk.
"Aduh pak hati-hati dong bawa angkotnya,saja jatoh ni!" gerutu ibu itu.
"Tau tuh si bapak,bawa angkot ko ugal-ugalan mau saya laporin polisi hah!" timpal yang satunya.
"Maaf Bu saya ga sengaja ini anggotanya tiba-tiba mogok" ujar supirnya.
"Mogok" beo mereka
"Terus sekarang gimana pak?" tanya ibu itu dan Risa hanya menyimak.
"Mau gimana bu?,ya ibu turun kan mobilnya mogok"
Semua penumpang berjumlah lima orang bersama Risa itu turun dari anggot sebari tersungut-sungut.
"Maaf ya ibu-ibu saya turunin disini,jadi mana bayarannya" pinta pak supir.
"Bayaran apa pak?,masa setengah jalan minta ongkos,gaada!,mana saya udah jatoh lagi,ga,saya ga mau bayar" ujar ibu itu berkaca pinggang.
"Saya juga gamau bayar" timpal yang lain membuat pak supir frustasi.
"Eh jangan gitu dong ibu-ibu,ini kan udah setengah jalan dari tempat kalian tadi rugi dong saya"
"Suruh siapa angkotnya mogok,saya gamau bayar kalo ga sampai tujuan!" kekeh ibu itu lalu melegang pergi disusul ibu-ibu lainnya membuat pak supir uring-uringan.
Perjalanan yang di lajui ibu-ibu tadi sudah dibilang sampai hanya terhalang lima ruko yang berdekatan didepan sana dan sampai dibawa berjalan juga tidak akan cape,tapi ibu-ibu itu malah pergi dan tidak mau membayar mana angkot miliknya kini mogok.
Sial
"Mmm maaf Pak ini ongkos saya" ujar Risa menyodorkan uang sepuluh ribu miliknya.
"Eh neng gausah bayar, enengkan baru masuk tadi belum jauh loh ini dari sekolah eneng,jadi saya gratisin,tapi ibu-ibu tadi gatau diri banget ga punya perikemanusiaan padahal tujuan mereka cuma kehalang lima ruko itu aja neng" tunjuk pak supir kedepan"Tapi malah gamau bayar,setengah jalan padahal udah sampai emang power of ema-ema maunya gratisan"gerutu supir itu.
Risa hanya menggaruk lehernya mendengar curhatan pak supir tadi,"Gapapa pak saya bayar,permisi"ujar Risa memberikan uangnya dan berlalu pergi.
Risa menghela nafasnya di sela-sela langkahnya,ia bingung sekarang,jika menaiki angkot lagi uangnya sudah habis untuk membayar angkot sebelumnya yang mogok,jika berjalan sampai rumah juga tidak mungkin bisa-bisa Risa sampai dirumah sore hari.
__ADS_1
"Huhh aku kayanya emang pembawa sial deh" gumannya sebari terkekeh.