
Ketiga gadis itu hanya saling lirik dengan jawaban Naila yang memb*ngongkan,sungguh mereka pusing!.
"Mamih kamu tadi istrinya papih kamu,sedangkan kamu anaknya bu Kasih sama ayah Jeje" beo mereka serempak diangguki Naila.
"Iya kalian pahamkan magsud aku"
"Kaga,pusing iya!" jawab mereka serempak.
"Ih kompak banget dari tadi ngomongnya bareng mulu,mana ila ga diajak lagi ngeselin" kesal Naila tidak diajak kompak oleh ketiga teman barunya ini.
"Terserah lo aja dan gue mah pusing dengerin cocot lo ngomong,pengen gue hiih"sewot Sherli sebari meragakan tangan seolah mencekik.
"Sadis banget" cibir Naila bergidig."Kalo ga ngerti itu ngomong biar bu guru naila jelasin,jadi begini silsilah keluarga triplet "sambungnya sebari mengeluarkan secarik kertas dari bawah meja dan meletakannya diatas meja dengan bolpoin yang ia pegang.
"Baiklah murid-murid dengarkan penjelasan ibu baik-baik,walaupun aku ga punya cita-cita jadi guru tapi kusus buat kalian aku oke-oke aja" ujarnya berlaga menjadi guru yang sedang menjelaskan pelajaran pada muridnya,namun yang Naila jelaskan adalah silsilah keluarganya,sebari mencoret-coret kertas tadi sebagai rincian silsilah keluarga dari kakenya,sayangnya kakek buyutnya tidak ia bawa.
Mereka mengangguk dengan penjelasan Naila tentang silsilah keluarganya yang ternyata panjang,sepanjang jalan kenangan.
"Jadi ayah lo punya dua sodara salah satunya ayahnya abang lo dan ayahnya Nirbita,tapi Nirbita udah yatim piatu,dan yang tadi yang lo panggil mamih itu istri dari kakaknya ayahlo,begitukan?"tanya Tara mencoba mengulang prolog yang Naila jelaskan pada mereka.
Naila mengangguk mengiakan.
"Aku ga paham" suatu Rini dengan wajah bingungnya,saat tadi ia mengangguk ia hanya mengikuti kedua temannya saja,Rinikan suka ngikut-ngikut aja.
"Diem deh lo pusing gue kalo harus dengerin dia jelasin silsilah keluarga nya lagi"dengus Sherli pada Rini yang emang otaknya suka lemot.
Sherli merasa keputusannya salah menerima Naila digengnya,menghadapi sikap RINI yang lemot,polos dan bego secara bersamaan sudah membuatnya emosian apalagi sekarang ditambah Naila yang sepesies hampir sama dengan Rini,Sherli bisa-bisa mati muda menghadapi kedua gadis elor itu.
"Ouh sekarang gini ya tingkahnya,mainnya sama musuh,eh sekarang jadi mantan musuh dong" suara sindiran dari arah belakang mereka membuat keempat gadis itu serempak menoleh dan menatap kearah gadis yang tengah berjalan kearah mereka dengan tatapan tajam.
"Enak ya punya temen baru,eh temenya yang suka bully,cari temen tuh yang berperilaku baik,nih dengerin pergaulan itu dinilai penting,jika kamu berteman sama penjual parfum maka kamu akan ikutan wangi,jika kamu berteman dengan penjual menyam,kembang tujuh rupa maka kamu tinggal kekuburan buat jiarah,jika kamu berteman dengan pembuli"Nirbita berdiri didepan Naila dengan tatapan angkuh dan tajam,saat mengatakan kata pembuli gadis itu mendelik SINIS kearah Sherli dan dibalas tatapan tajam.
Keduanya saling bertatapan tajam tanpa berniatan memutuskan peperangan mata itu dan tidak ada yang ingin melerai,siapa yang akan menyerahkan dari pada api kemarahan huh tidak sudi,tonton saja siapa yang akan menang!, tidak usah ikut campur jika sayang nyawa!.
"Maka kamu akan ikutan dibully,paham Naila?!" sambungnya sebari bertanya diakhir kalimat sebari mengalihkan pandangan pada naila dan menatap tajam sodaranya itu.
"Emang kenapa kalo ila temenan sama pembully,setiap orang bisa berubah ko,yang baik bisa jahat yang jahat belum tentu bisa baik" ucapan Naila membuat ketiga teman barunya mendelik kearah gadis itu.
Apa-apaan yang jahat tidak bisa baik,setidaknya Naila mengatakan yang jahat bisa saja berubah baik,sialan!,mereka tidak dibela.
"Nah itu tau, yang jahat belum tentu baik,kamu itu punya otakan?kenapa malah temenan sama orang yang udah bully kita selama disekolah!" hardik Nirbita kesal,adik sepupunya ini memang polos sekaligus b*go.
"Emangnya kenapa kalo aku temenan sama orang yang suka bully?,toh kita sama-sama manusia,makan nasi bukan paku!,terserah aku dong mau temenan sama siapa,kakak gausah ngatur!" sinis Naila sebari berkaca pinggang.
"Aku ga ngatur,terserah kamu mau temenan sama siapa tapi ga sama musuh juga b*doh!" umpat Nirbita untuk pertama kali dibarengi nada marah,biasanya ia hanya bercanda jika mengatai Naila dan Naila juga akan membalas candaannya dan mereka kembali damai,aman,dan tentram,tidak dengan sekarang mungkin akan semakin memanaskan kondisi.
Naila mengepalkan tangannya saat dikatain bodoh amarahnya berada diubun-ubun namun masih ia tahan,"Tapi musuh lebih bisa dipercaya dibanding kawan,soalnya penjahat sesungguhnya adalah orang yang menyamar menjadi kawan padahal lawan!"Naila tersenyum mengejek kearah Nirbita.
Perkataan Naila tadi berhasil membuat Sherli maupun Tara tersentak karna perkataan Naila tadi seolah mengandung makna mendalam.
"Musuh itu dilawan dan cuma kamu yang jadiin musuh sebagai kawan" ejek Nirbita dengan smirk,jika ingin berperang mata akan ia ladeni,adu otot aja akan ia terima,apalagi hanya adu bacot nirbita juaranya,"Gimana ga berhianat coba?,kawannya aja mantan musuh"
"Aku mau berteman sama siapa aja bukan urusan kakak!,kakak ga berhak ikut campur sama kehidupan aku!" geram Naila, "Sebelum kakak datang kami tenang-tenang aja duduk sambil makan,kalo cuma mau recokin mending kakak pergi sana!" usir Naila sebari melototi Nirbita.
Nirbita terkekeh mendengar usiran untuknya,"Ga salah?,gatau diri banget yang harusnya pergi itu kamu sama temen-temen barumu ini,inget ini rumah aku!"desisnya sebari mengejek.
Napas Naila naik turun terlihat dari dadanya,gadis itu sangat marah dengan ucapan-ucapan sang kakak sepupu,jika Naya dan Nirbita multitalenta maka Naila multitalenan,dia hanya masuk sepuluh besar dalam nilai ujian,beladiri yang ia kuasai masih dibawah dua kakaknya walau selalu berlatih bersama dengan guru yang sama,beradu argumen pun ia masih kalah,,,Naila itu benar-benar susa-sesa,sibungsu dengan segala kekurangannya.
Kelebihan sudah dikuras habis oleh kakak-kakaknya yang hanya menyisakan kebodohan padanya saat ia lahir,serakah!.
"Kakak usir aku?!" sentak Naila tajam sebari menunjuk dirinya sendiri.
Nirbita berpikir dengan perkataannya tadi,memang dia mengusir tadi?,seingat Nirbita ia hanya memberi tahu kan fakta bahwa ini tempat tinggalnya,gaada pengusiran kan?.
Entahlah Nirbita itu tipe-tipe pelupa akut,ia bisa lupa dengan apa yang ia ucapkan beberapa menit kebelakang.
"Aku mau ngusir temen-tememu"jawab Nirbita merasa tidak mengusir Naila".
"Kakak ngusir mereka berarti kakak juga usir aku dari rumah!,oke fine ini memang bukan rumah aku,tapi ingat ini juga bukan rumah kakak,ini rumah almarhum ayah Candra sama ibu Celin yang diwariskan ke abang,kakak disini cuma numpang!" sentak Naila mendorong tubuh Nirbita hingga mundur beberapa langkah.
Nirbita tidak terima diperlakukan seperti itu apalagi kenapa membawa mendiang orang tuanya dan juga warisan?,tidak ada hubungannya!,tapi Nirbita hanya mampu mengepalkan tangan saja tanpa mau membalas dorongan Naila tadi.
"Kenapa kamu jadi bawa-bawa almarhum ibu sama ayah aku la?,ga ada urusannya sama mereka ini urusan kita!" sentak Nirbita dengan dada naik turun sejak tadi ia menahan emosi dan hanya berbicara dengan nada tinggi,sewot dan sinis tanpa kekerasan.
__ADS_1
"Emang gaada urusannya,tapi sikap kakak tuh sombong banget,kakak mengatakan memiliki segalanya apa yang kakak mau selalu terkabul,nilai kakak juga bagus,tapi kakak cuma punya abang kan?"ujar Naila dengan senyum mengejek.
Nafas Nirbita tercekat,apa magsudnya coba,Naila" l mengejeknya tidak punya orang tua?,sepertinya kesempatan untuk mereka kembali akur tidak ada lagi,Nirbita menatap kecewa kearah Naila,"Kamu bener la,aku cuma punya abang yang sangat amat mencintai aku,tapi ga punya orang tua,aku yatim piatu" Nirbita berkata dengan senyum paksa bahkan mata gadis itu berkaca-kaca,setelah mengakui memang dia yatim piatu Nirbita tidak bisa lagi berkata-kata bahkan air matanya merembes membasahi pipi.
Senyum paksa masih Nirbita pertahankan,sebari mengusap matanya yang semakin ia usap semakin air matanya keluar,"Makasih atas keprihatinan kamu selama ini"ujarnya dengan terus menangis lalu berlari dari sana.
Jika kekuatan TRIPLET adalah keluarga maka kelemahan mereka juga keluarga,mereka saling melindungi dan mendukung satu sama lain,tapi sepertinya sekarang tidak bahkan Naila seolah mengejek Nirbita yang berstatus yatim piatu.
Nirbita paling tidak bisa diejek masalah orang tua yang sangat amat ia cintai,tapi allah lebih mencintai mereka sehingga memanggil keduanya terlebih dahulu.
Nirbita berlari keluar dari rumah dengan derai air mata,ia tidak menyangka bahwa adik kesayangannya mengatakan hal sekejam itu, apa kasih sayang selama ini hanya simpatik yang ditunjukan Naila?,jika ia Nirbita tidak membutuhkan itu,memang benar kata Naila bahwa kawan bisa jadi lawan,contohnya sekarang bahkan gadis itu mengejeknya.
Nirbita tidak mau di beri tatapan iba ia benci semua itu,ia juga tidak akan pernah menangis didepan siapapun kecuali terpaksa.
Naila terdiam menatap kepergian kakak sepupunya itu,"Apa aku keterlaluan tadi?"gumannya lirih.
Jika jujur Naila tidak ada niatan mengejek kakak sepupunya itu,ia hanya marah dan kesel saja dan mengatakan spontan,ia tidak menyangka akan membuat kakaknya sedih,naila menjadi takut sekarang.
"Kak ita"teriak Naila memanggil kakaknya bahkan mengejar sang kakak yang sayangnya sudah pergi entah kemana.
Naila takut kakaknya akan kembali terguncang seperti setelah meninggalnya ayah Candra,ia tidak mau itu terjadi,Naila merutuki kebodohannya,Naila takut kakak sepupunya itu melakukan hal di luar nalar,jika terjadi sesuatu pada kakak sepupunya itu Naila tidak akan berani menatap dirinya sendiri.
.
.
.
Seorang gadis berjalan gontai sebari mercak-mercak merutuki kejadian hari ini.
Mood ancur cek
"Sial banget sih,tuh bocah dua malah udah balik,ngeselin banget,bisa-bisa nya ninggalin gue,mana ponsel mati lagi ga bisa hubungin abang,kan kalo gini harus naik angkot,hah ngabisin uang jajan ajadah" rutuh gadis itu di sela-sela langkahnya,ponselnya jarang ia perhatikan padahal setiap keadaan genting ponsel itu selalu mati tapi Naya tidak pernah kapok untuk menyia-nyiakan ponsel berlogo apelnya itu,jika sudah rusak barulah akan uring-uringan,begitu bukan?.
Saat ada di sia-sia kan saat gaada malah dicari,emang serba salah,kaya gebetan!,eh.
"Si Davri sama Wahyu udah balik belum ya?,gue mau nebeng aja buat ngirit duit" monolog Naya sendiri jika masalah duit menduit maka Naya akan pelit kecuali pada dua adiknya yang sedang dilanda asmara api emosi,bukan cinta.
"Eh kak Naya belum pulang?" tanya Risa mengagetkan Naya yang sedang jalan sebari mendumel.
Risa cengengesan sebari membenarkan letak kaca mata minusnya,"Eh maaf kak,aku gatau kalo kakak bakalan kaget"
"Untung gue ga ada riwayat jantung kalo ada udah innalillahi,lo baru mau pulang?" tanya Naya diangguki Risa.
"Naik angkot?" tanya Naya lagi kali ini Risa menggelengkan kepalanya.
"Naik ojek kak,kebetulan aku lagi buru-buru,maaf ya kak aku harus pergi,aku pulang duluan ya kak" jawab Risa jujur.
"Iya hati-hati" ujar Naya memperingati setelah itu Risa berlari kearah parkiran.
"Buru-buru amat kaya mau antri sembako"julitnya sebari Celingak-celinguk kearah parkiran mencari tumpangan gratis, lumayan duitnya bisa utuh.
"Ininih contoh manusia gatau diri,pas dibutuhin sama sekali gaada pas ga dibutuhin malah merecoki,dasar trio w*kwik gada gunanya banget si jadi orang!" sentahnya sebari menendang-nendang angin dengan brutal membuat atensi yang melihatnya aneh namun Naya bodoamat,ia tidak peduli pandangan orang lain,ini hidupnya orang lain hanya bisa berkomentar tanpa tau kehidupan aslinya.
"Udah gue bantu jadian ama doi bukannya berterimakasih malah ngilang,Farel gemblung awas aja lu gue recokin hubungan lo sama Vania tau rasa!"Naya terus mercak-mercak hingga di depan gerbang gadis itu menghela nafas melihat jalan raya yang tidak seluas samudera.
Hari masih jam sebelas jadi abangnya belum menjemput,seharusnya Naya bisa menelepon abangnya untuk menjemput namun sial ponselnya mati karna diacuhkan pemiliknya,huh ambekan!.
"Naik angkot aja deh yang irit" guman gadis itu sebari Celingak-celinguk mencari angkot.
"Eh neng kenapa masih disini?" tanya satpam sekolah yang baru kembali entah dari mana.
"Ya belum pulang pak kalo udah pulang saya ga akan disini tapi dirumah" jawab Naya ketus,orang nanya baik-baik Naya malah memancing keributan,dasar pembenci kedamaian!.
Satpam menggaruk pelipisnya,"Iya juga ya"gumannya,"Eh neng mau saya cariin taxi atau lagi nunggu jemputan?"tanyanya ramah.
Naya heran kenapa satpam ini seolah mengusirnya dari area sekolah,emang kenapa jika dia berdiri di samping gerbang,kan tidak menghalangi jalan orang lewat,"Nunggu angkot"jawab Naya mendatarkan wajahnya.
Satpam itu mengangguk paham,"Mau saya bantu carikan neng?"tanya satpam itu berniat membantu walau wajahnya mencurigakan.
"Ga perlu pak,saya cari sendiri aja permisi" ujar Naya sopan,Naya terlihat seperti bunglon,tadi ketus,datar,sekarang sopan,terserah lah.
Naya hanya terbawa emosi ketika merutuki trio wikw*k yang malah ilang pas dibutuhkan definisi teman sekali!,dan berimpas pada pak satpam yang tidak tau apa-apa.
__ADS_1
Naya merasa bersalah pada pak satpam yang malah ia jadikan sasaran kemarahan,sebelum pergi Naya meminta maaf takutnya ia dikutuk jadi batu kaya malinkundang kan ga lucu,pas pergi dari rumah berwujud manusia eh pas pulang berupa candi,eh patung magsudnya,,untung pak satpam tidak mempermasalahkan hal itu.
Huh syukur-syukur pulang masih wujud manusia.
Setelah turun dari angkot Naya melihat depan rumahnya dipenuhi banyak orang,kening gadis itu berkerut mengartikan ia sedang berpikir keras,dengan firasat buruk dikepalanya"Makasih pak"ujar Naya sebari membayar ongkos angkot.
Naya berjalan sebari Celingak-celinguk kesamping,kanan kiri begitupun kearah depan,ia jadi ingat kejadian beberapa tahun lalu saat dirumahnya dikerumuni banyak orang dengan bendara kuning yang berkibar dipagar diiringi tangisan memilukan.
Nafasnya tercekat sejak saat itu Naya mengalami ketakutan berlebihan jika banyak orang berkerumun dirumahnya,ia takut salah satu keluarganya meninggal walaupun Naya tau,rezeki,jodoh dan usia ditangan allah.
Naya berjalan cepat menerobos keramaian,diteras rumahnya ia melihat naila tengah menangis pilu memeluk mamih mereka,disana juga ada abang ELESKY yang sedang menelepon dengan raut tegas,menjadi satu padu,jantung Naya berdetak sangat kencang diiringi langkah kakinya yang mendekat kearah sang mamih dan Naila yang sedang berpelukan dengan langkah ragu,disamping mereka ada fricia.
Entah apa yang terjadi,tapi firasatnya buruk,jika didepan tidak ada bendera kuning berkibar itu artinya tidak ada yang meninggal setidaknya Naya bisa sedikit tenang,hanya sedikit seujung kuku saja!.
"Mih,ini ada apa?" tanyanya lirih ia jadi takut dengan jawaban mamihnya nanti,takut berita buruk yang ia denger,sudah tentu bukan jika rumahnya dikerumuni warga bahkan Naila menangis meraung dipelukan mamihnya yang juga terisak yang sedang ditenangkan Fricia,Naya yakin pasti ada kabar buruk yang akan menjadi trending topik di komplek tempat tinggalnya ini.
Ehhh ngomong-ngomong keluarganya berkurang,jika ada kabar buruk kemana bang Rangga,papih Dimas dan Nirbita?,jika orang tuanya sudah jelas mereka diluar negri sepertinya tidak ada niatan pulang,enak-enakan tanpa trio kematian.
Apa jangan -jangan berita buruk ini menyangkut mereka,,jangan berpikir buruk dulu,siapa tau Naila menangis karna tangannya keiris pisau lagi,Naila pernah keiris pisau lukanya sangat kecil ditutup hansaplast saja masih dua kali lipat besaran hansaplast dari pada lukanya tapi Naila nangis kejer,lebay,apa sekarang juga begitu?,tapi kenapa para warga berkumpul,apa dirumahnya sedang ada pembagian sembako,tapikan rumahnya bukan rumah Pak RT.
Trus kenapa mamihnya ikut menangis?,sudalah daripada menerka-nerka mending menunggu jawabannya saja.
"Eh itu Naya pulang,tanya ke Naya aja siapa tau dia tau" ujar salah satu warga membuat mereka menatap Naya,membuatnya merinding.
"Eh nanya apa?,pertanyaan aku tadi ga dijawab mih,ini ada apa?,korame-rame lagi pembagian sembako ya?,tapikan ini bukan rumah Pak Rt?"ujar Naya mencoba mencairkan pikiran buruk dikepalanya yang terus berbisik seperti setan penggoda.
"Naya kamu pulang sama Nirbita kan?,mana dia sekarang?" tanya Bu Putri sebari mengusap matanya yang tengah menangis.
Naya mengedipkan matanya dua kali,"aku pulang sendiri mih,bukannya ita udah pulang dari tadi pagi ya mih?"ujar Naya sebari bertanya bingung.
Kan emang iya Nirbita pulang jam delapan alias minggat dari sekolah sepagi itu,ibaratnya baru datang langsung pulang.
"Iya dia emang pulang tadi pagi tapi sekarang gaada" jawab Bu Putri sebari mengusap-usap punggung Naila yang masih menangis di pelukannya.
"Gaada?" beo Naya,Pergi kemana mih?"tanyanya karna jika Nirbita pergi keluar rumah gadis itu selalu ijin dan dibuntuti Naila sebagai ekornya tapi sejak bertengkar,ralat sejak Naila memusuni Naya dan Nirbita gadis itu enggan hanya bertatapan saja.
"Kalo mamih tau ga mungkin mamih tanya kamu!,kamu beneran ga tau Nirbita kemana?" tanya bu Putri sekali lagi.
Naila melonggarkan pelukannya dan menatap Naya dengan tatapan mengabur karna air mata,"Kak,kakak sama kak ita kan?,kak ita ga hilang kan?, kalian cuma ngerjain ila yang udah musuhin kalian kan?,kak jawab!"tanyanya beruntun hanya di jeda isakan saja.
Naya menaikan sebelah halisnya,"Bisa jelasin dengan detail?,Naya ga ngerti,magsudnya Nirbita hilang gimana?"tanyanya.
"Kakak bohong kan?!,kakak sebenernya komplotan sama kak ita buat ngumpetin kak ita biar ila nangis kaya gini,iya kan kak jawab!" tegas Naila masih terisak.
Naya menjadi bingung sendiri,magsudnya bagaimana?,Nirbita hilang?,apa Iyah?.
"Jawab kak jawab!" Naila mengguncang tubuh Naya untuk menjawab seluruh pertanyaannya,ia yakin bahwa sekarang ia sedang dikerjain oleh dua kakaknya tapi Naila tidak begitu yakin setelah mengingat perkataannya pada Nirbita tadi.
Entah ini beneran atau tidak Naila berjanji akan meminta maaf pada kakak sepupunya itu dan akan memperbaiki hubungan mereka untuk kembali seperti awal,Naila menyesal sudah egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri.
"Aku tau aku salah,maafin aku kak,aku mau kak ita pulang hik hiks,kak suruh kak ita pulang hiks,ila janji ga bakal nakal lagi,ila janji akan nurutin omongan kalian,ila minta maaf ila udah egois,ila cuma mikirin diri sendiri hiks,ila ga bermaksud nyakitin hati kakak,maafin ila" Naila menyesali perbuatannya beberapa hari ini,memikirkan dirinya sendiri tanpa ingat perasaan orang lain hingga tanpa sadar sudah menyakiti hati orang yang menyanyanginya.
Naya bingung harus memberi jawaban apa, ia tidak tau dimana Nirbita sekarang?,ia menjadi khawatir sekarang apalagi mengingat ada yang ingin mencelakai mereka,bagaimana jika dia diculik dan dijual?.
"Mih aku gatau Nirbita dimana,yang aku tau dia udah pulang sejak pagi,mamih udah cari didalam rumah?" tanya Naya mulai meremas bajunya takut jika adik sepupunya itu benar-benar diculik.
"Ya allah ya rabbi kemana anak itu,mamih udah cari dirumah gaada,rangga sama danis lagi nyari di sekitaran komplek bareng warga,ELESKY udah ngabarin papih biar bantu nyari,mamih gatau dia kemana Nay,mamih cuma tinggalin kewarung sebentar pas pulang udah gaada" isak Bu Putri dengan tubuh luruh sepenuhnya ke lantai jika ibu-ibu tidak menangkap tubuhnya.
"Sabar bu,mungkin Nirbita lagi main sama Davri,anak itu juga belum pulang" ujar Bu Rt mencoba memberi ucapan penenang untuk Bu putri.
"Bener!,Naya hubungin Davri bisa jadi Nirbita lagi sama dia" pinta Bu Putri yang kehilangan tenanganya seolah nyawanya tercabut dari raga saat ia berkecamuk bahwa anak gadisnya hilang,tapi mendengar perkataan Bu Rt tadi semangat hidupnya kembali menyala.
Masih berkemungkinan anak gadis nya itu sedang main bersama Davri,Farel ataupun Wahyu,hanya mereka teman yang dekat dengan Triplet,semoga anak itu tidak diculik.
"Aku akan hubungin Devan siapa tau dia lagi sama Nirbita" ujar fricia.
Naya melakukan apa yang diperintahkan mamihnya secepat kilat,mata gadis itu berkaca-kaca mendengar jawaban ketiga temannya yang ia kabari.
"Kamu kemana nirbita?" gumannya dalam hati,tenggorokannya tercekat untuk memberitahu bahwa Nirbita sedang tidak bersama trio w*kwik dan entah dimana Nirbita berada ia tidak tau,sedangkan gadis itu tidak akan berani pergi jauh jika tidak bersama trio wikw*k atau abang-abang nya.
"Mih aku pamit dulu,papih masih diperjalanan kalo ada kabar hubungin aku,aku mau cari dia disekolah,ibu-ibu saya minta tolong jagain mamih dan adik-adik saya untuk saat ini,saya mau cari Nirbita dulu" pamit ELESKY.
"Bang ikut!" pinta adik-kakak beda satu tahun itu.
__ADS_1
"Gausah" jawab Elesky dingin sebari melegang pergi,bahkan semarah apapun Elesky pria itu tidak pernah bersikap dingin pada adik-adiknya tapi sekarang?.
Sepertinya Elesky mengetahui sesuatu hingga membuatnya sangat marah dan bersikap dingin,apalagi tatapan pria militer itu sempat mendelik tajam kearah Naila yang terus saja menangis.