DIARY TRIPLET N

DIARY TRIPLET N
Bertiga dengan setan


__ADS_3

Naya dijemput Jastin sesuai janji temu mereka pagi tadi,padahal Naya sempat menolak ajakan Jastin yang mengajaknya jalan namun setelah mendengar perkataan mami Putri,ia pikir tidak apa jika menerima ajakan temannya itu.


Teman?,entahlah


"Lo mau ajak gue kemanasi Jus?" tanya Naya setengah berteriak karna mereka kini sedang berkendara.


"Nonton mau?"tuturnya malah bertanya.


"Mau!"pekik naya bersemangat,"Gue mau nonton Jus"


"Mau nonton apa?" tanya Jastin sebari pokus berkendara.


Naya terdiam memikirkan flm apa yang ingin ia tonton,"Gue cari dulu deh kalo nemu yang seru gue kasih tau lo oke"


"Ok" jawab Jastin sebari menambah kecepatan motornya hingga naya memekik kaget terjungkal kedepan hingga helmnya dan milik Jastin beradu.


"Jusssss pelan-pelan!" teriaknya membuat Jastin terbahak.


"Makanya lo pegangan!" bukannya berasa bersalah pria itu malah semakin menambah kecepatan.


"Gue udah pegangan Jus,bawanya pelan-pelan aja!"bukannya memelankan laju motor Jastin malah semakin mengebut dengan sesekali menyalip pengendara lain membuat naya memekik histeris.


"Jastin! " pekik Naya sebari mengalihkan tangannya dari jok belakang menjadi melingkar dipinggang Jastin karna takut terjungkal.


"Nah gitu baru pegangan!" ujar Jastin tidak di dengan Naya yang memejamkan mata saking takutnya.


"Kalo mau mati sendiri ajas Jus!"cibir Naya berteriak membuat Jastin mendengus.


"Gue tuh mau dipeluk kaya gini,kalo lo pegangan ke jok belakang gue udah kaya tukang ojek tauga!" cibir Jastin dengan suara pelan hingga naya tidak mendengarnya.


'Gue si mau-mau aja jadi tukang ojek dadakan kalo penumpangnya elo, eehh' Jastin menggelengkan kepalanya entah kenapa ia jadi berpikir aneh begitu tentang gadis aneh di jok belakang nya ini.


Jastin memarkirkan motornya setelah itu terkekeh melihat naya yang kesusahan membuka pengait helm miliknya.


"Ini helm susah amatsi!,yakali gue harus pake ni helm masuk mall dikira gue pororo apa!"gerutu gadis itu sebari mencoba melepas pengait.


"Bukanya pake tangan jangan pake emosi!" cibir Jastin membantunya.


"Helm lo aja yang ngajak ribu!"hardik Naya tidak mau disalahkan.


"Iya helm gue yang salah!" putus Jastin agar tidak memanjang mempermasalahkan helm.


"Emang iya!,cewe tu ga pernah salah!,yang salah itu cowo!,kalo cewe salah balik lagi ke yang tadi kalo cewe itu ga pernah salah! Hmm" Jastin menutup mulut naya yang mengoceh jika dibiarkan bisa-bisa bukannya menonton mereka malah menjadi tontonan pengunjung mall.


Jastin bisa malu tujuh turunan tujuh tanjakan tujuh belokan,jangan sampai!.


Jastin cekingak-celinguk menatap sekitar belum apa-apa dirinya sudah menjadi tontonan pengunjung mall yang sedang memarkirkan kendaraan mereka,jastin meringis lalu menatap Naya sebari meletakan jari tangannya yang bebas menyentuh bibirnya.


"Suttt udah diem!" naya mengangguk barulah jastin melepas tangannya dari mulut naya berpindah menggengam tangan Naya dan membawanya masuk kedalam mall.


Melihat tangannya digenggan membuat Naya mencebik lalu memukul tangan yang menggengam itu dengan tangan lain,"Tangannya gausah modus!"


Jastin menghentikan langkahnya lalu melihat tautan tangan mereka sebari menaikan halisnya,"Emang salah kalo gue modus sama lo?"


"Salah!" hardik Naya sebari melepas tautan tangannya dengan jastin


"Salahnya dimana?, gue cowo dan lo cewe jadi aman,kalo gue pegangan tangan sama cowo lagi baru itu salah!, gimanasi lo!" cibir jastin.


"Tapi pegangan sama gue juga salah,lo mau dor sama abang gue?" dengus Naya.


"Di dor gimana?" tanya Jastin heran apakah yang dimagsud Naya adalah tembakan cinta Jastin jadi merinding.


"Ditembak abang gue itu seorang TNI" sombong Naya membuat jastin mengerjap tidak percaya.


"Lo boong kan?,ga mungkin bang Rangga TNI dari bentukannya aja ga" jastin melirik Naya yang sedang menatapnya tajam membuatnya tidak melanjutkan perkataannya itu.


"Ga apa?!" tanya Naya dengan tatapan tajam bahkan kedua tangannya bertengger dipinggang.


Jastin menggaruk pelipisnya yang tidak gatal,"Gausah banyak omong,yu cus sebelum zuhur,kan lo bilang harus balik sebelum zuhur"ujar Jastin mengalihkan pembicaraan dan kembali menggenggam tangan Naya.


"Gausah dilepas!,gue gamau lo ilang bisa repot!" cibirnya saat naya kembali ingin melepaskan pegangan mereka membuat Naya mencebikan bibirnya kesal.


"Emang bayi apa ilang segala!" dengus Naya.


.


.


.


Dua gadis berusia enam belas tahun sedang berjalan dipinggiran jalan sebari mengobrol.


Nirbita menatap sekitar sebari berjalan ia sudah lama tidak berada diperkomplekan rumah papihnya tidak banyak berubah,sedangkan Naya gadis itu tidak memperhatikan langkahnya dan pokus menatap layar ponsel.


"Kalo jatuh tau rasa!" cibir Nirbita sebari melirik sebentar kearah Naila sebelum kembali memperhatikan sekitar


Naila melirik kakak sepupunya itu sebari cemberut,"Ucapan itu doa kak!"


"Kakak peringatin bukan do'ain kamu jatuh" jawab Nirbita,baru saja Nirbita mengatubkan bibinya naila sudah tersandung krikil kecil hingga hampir membuatnya jatuh.


"Eh astagfirullah" Naila mengusap dadanya kaget,"Tuh kan beneran jatuh!"tuturnya mencebikan bibir.


"Salah sendiri sibuk liat HP mulu!,emang lagi liatin apasi?" kepo Nirbita membuat Naila memberikan ponselnya agar sang kakak mengeceknya sendiri.


"Ceelah buat apa ila liat resep buat kue?,kan ada aku yang bisa kamu tanyain"tutur Nirbita menepuk dadanya sombong.


Naila mengusap lehernya yang basah karna keringat,"SCoor keatas kak!,aku ga lagi liat resep buat kue,aku lagi liatin foto Agnes"


"Ngapain?,kangen kan bisa telepon  aneh!" cibir Nirbita sebari menarik media sosial media milik Naila keatas.


"Bukan kak!,aku tuh lagi nginget-nginget muka Agnes menurut aku dia mirip seseorang"


"Siapa?" tanya Nirbita sebari menatap foto Agnes yang dipost disosmed milik gadis itu.

__ADS_1


"Itu dia aku ga inget!" jawaban Naila membuat Nirbita mendengus dan mengembalikan ponsel kepada pemiliknya.


"Udah pasti Agnes itu mirip ortunya lah!"


"Iyasi,, ihhh apa kabar dengan harimau ila ya?"


"Baikko mereka punya banyak temen disana,tadi aja kak Rel kereta api tututut ngirim vidio harimau lagi main kejar-kejaran sama kak Didi sama kak Aril" ujar Nirbita.


"Kak Didi siapa kak?" tanya Naila heran ia baru mendengar nama teman Farel yang satu itu.


"Rezaldi namanya kepanjangan bikin cape disingkat jadi Didi" pekik Nirbita sebari tersenyum


Naila ber'oh'ria saja,"kalo gitu kan ila jadi tenang kalo harimau punya banyak temen disana, ga kaya dirumah cuma bareng kucing sama anj*ng aja"


Langkah Nirbita terhenti membuat naila juga mengikuti langkah sang kakaknya itu,"Kenapa kak?"tanyanya heran padahal supermarket masih diujung jalan.


Nirbita mendongkak dan menunjuk kearah atas lewat bibirnya"Noh"naila mengikuti arah pandang Nirbita,matanya berbinar saat melihat sesuatu yang menggantung berbentuk lonjong berwarna hijau biasanya rasanya akan masam jika sudah matang maka akan manis.


"Mangga" pekik Naila dengan mulut menganga mata berbinar,"Minta yu kak!"ajaknya tanpa mengalihkan pandangan.


Nirbita melompat setinggi mungkin membuat Naila sedikit berjarak dengan sang kakak,"Kakak ngapain si loncat-loncat udah kaya katak aja!"cibir gadis itu.


"Diem deh!liatin aja" sentak Nirbita tanpa menghentikan loncatan nya malah semakin mengeluarkan tenanga dalamnya agar semakin tinggi.


Hap  srek


Nirbita menarik mangga yang sebesar kepalan dua tangan orang dewasa,lumayan besar diatas pohon membuat naila menganga.


"Kakak ngapain ambil mangga orang,tanpa ijin lagi?" pekik Naila sebari mengambil alih mangga dari tangan Nirbita.


"Emang kamu gamau?" tanyanya sebari kembali merebut mangga dari tangan Naila.


"Mau!"


"Yaudah diem dulu,liatin nih!" seru Nirbita lalu beralih menatap pagar rumah dari pemilik mangga.


"Sepeda eh salah" Nirbita memukul bibirnya yang salah ngomong,"Sepada asalamualaikum,permisi,ada orang dirumah"teriak Nirbita membuat naila menutup telinganya sekuat tenaga agar tidak budeg ulah saudarinya itu.


"Kakak mau ngapain sih?" sentak Naila kalah dengan suara meleking milik Nirbita yang masih berteriak meneriaki pemilik rumah.


"Ibu-ibu,bapak-bapak,anak-anak, ade-ade siapapun yang ada dirumah tolong keluar dulu saya mau ngomong!" teriak Nirbita dengan nada lagu milik wali band.


"Malah nyanyi!"


"Hehe abisnya kesel sih,yang punya rumah budeg!" cibir Nirbita lalu kembali berteriak, "Yang punya rumah kalo gamau buka pintu gapapa tapi dengerin ya!,mangga ibu yang ngegantung di luar pagar jatuh bu!" teriaknya hingga suara gedebug terdengar membuat mereka tersentak.


"Astagfirullah" pekik keduanya ketika seorang wanita paruh baya berlari menghampiri dengan memakai daster  hingga beberapa kali hampir jatuh gara-gara daster nya terinjak,tapi tidak membuatnya menyerah.


Wanita itu merebut mangga dari tangan Nirbita dari sela-sela pagar,kedua remaja itu menganga melihat tingkah si ibu itu.


"Makasih neng" serunya sebari mencoba mengeluarkan tangannya dari sela-sela pagar beberapa kali mencoba gagal.


Naila dan Nirbita saling pandang,"Itu mangganya buat bu?"tanya Nirbita diangguki wanita itu.


"Iya inikan emang punya ibu" jawabnya masih mencoba mengeluarkan tangan dari sela-sela pagar.


Naila hanya memperhatikan saja ia belum mencerna apa yang kakaknya lakukan tadi,tadi kakaknya itu nyolong mangga tapi malah manggil pemilik mangga dan bilang mangganya jatuh,otak Naila ngeleg.


Nirbita menarik lengan Naila hampir limbung dan melegang sebari menghentakan kakinya kesal.


"Eh kalian mau kemana?" tanya ibu itu.


"Mau ke supermarket bu,kenapa?,mau ngasih mangganya buat kami?" tanya Nirbita berbinar ketika ibu itu menghentikan langkahnya.


"Bukan,ibu mau minta tolong bantuin keluarin tangan ibu dari sela pagar ini,susah!"


Nirbita kembali cemberut ternyata tetap tidak mendapat mangga gratis,"Berusaha bu,usaha ga akan menghianati hasil"kesal Nirbita kembali melanjutkan langkah.


"Eh bocah gemblung tolongin dulu woy,tangan saya susah keluar nih!" teriak ibu itu tetap tidak menghentikan langkah kedua remaja itu.


Ibu itu berusaha mengeluarkan tangannya dari sela pagar namun terus gagal hingga tangan wanita itu memerah,"Gimana keluarnya ini mana ga ada orang dirumah,yang lewat juga gaada,gaada yang bisa bantuin apa,tolong!,tolong-tolongin tangan saya kejepit"teriak frustasi ibu itu.


Nirbita berjalan sebari menghentakan kakinya kesal dengan tingkah ibu-ibu tadi.


"Kakak aneh ih" sentak Naila menghentikan langkah nirbita,"Kalo mau manggil ibunya mending tadi minta gausah nyolong!"hardik nya dengan nada kesal.


"Tadi tuh aku bikin rencana,eh rencananya digagalin ibu pemilik mangga emang dasar ibu-ibu pelit!"elak Nirbita sekaligus mencibir.


"Pake rencana segala,cuma nyolong mangga woy!"cibir Naila.


"Kalo ga pake rencana nanti kita ketahuan,kalo digebukin gimana? nanti tubuh mungilku ini remuk ila!,tadi tuh rencananya gini,aku sengaja ngambil mangga terus bilangnya mangga itu jatoh dari pohonnya,,aku pikir ibunya bakal jawab gini,,,,ouh jatuh ya neng gapapa ambil aja buat neng nya,,, gitu" jelas nirbita sebari mendegus,"Eh ibu-ibu nya diluar ekspektasi,pelit medit!"sambungnya mencibir membuat Naila manggut-manggut saja.


"Ekspektasi tak seindah realita" pekik Naila sebari terbahak.


"Malah iklan!" dengus Nirbita


"Abisnya kakak kebanyakan gaya,so,soan bilang mangganya jatoh padahal ditarik paksa dari tangkalnya sama kakak,kan endingnya malah dijatuhin ekspektasi"


"Diem deh gausah ledekin!kitakan jadi gagal nikmatin mangga" tegur Nirbita.


"Kalo kakak tadi ga manggil ibunya kita sekarang lagi nikmati mangga itu ya!"


"Diem deh allah itu sayang sama kita makanya menggagalkan kita dari memakan barang haram,mencurikan haram mending beli walau mahal sekalipun" tutur Nirbita melanjutkan langkahnya.


"Situ yang nyolong situ yang ceramah!" cibir Naila membuat nirbita mendelik kearah gadis itu lalu berkaca pinggang.


Melihat tatapan tajam dari kakak sepupunya membuat Naila waspada dan"Kabur"teriaknya sebari berlari mendahului nirbita.


"Woy tungguin!" Nirbita mengejar naila yang lebih dulu berlari.


"Nirbita"suara melengking yang menyebut namanya membuat si empunya terpaksa mengerem dadakan dan celingak-cekinguk mencari sipeneriak.


"Kaya ada yang manggil,jangan-jangan penunggu mangga tadi ikut lari lagi?" gumannya kini menatap kelangit dengan kedua tangan direntangkan keatas,persis seperti sedang berdoa,"Ya allah lindungilah hambamu ini dari setan terkutuk pohon mangga ibu pelit bin medit tadi amin"doanya lalu mengusap wajah.

__ADS_1


"Nirbita" suara yang memanggilnya kembali terdengar.


"Eh suaranya ada lagi dong,allahumma bariklana fiima rozaktana wakina ajabannar" pekiknya sebari berlari sekencang mungkin jika bisa Nirbita ingin menggunakan teleportasi milik ochobot agar segera berpindah tempat dan penunggu pohon mangga milik ibu pelit bin medit kehilangan jejaknya.


"Eh ko lari?" tanya orang yang tadi memanggil Nirbita dengan teriakannya,entah bertanya pada siapa sebab ia sedang sendiri di balkon rumahnya yang berada di lantai dua.


"Kenapa mah?"tanya suami sang wanita tadi yang baru nongol dari dalam rumah.


"Itu pah,tadi mamah lihat pacarnya abang eh pas dipanggil dia malah lari ketakutan gitu,kenapa ya pah?"ujarnya pada sang suami.


"Magsud mamah pacarnya Gara?" tanya pria itu memastikan.


"Siapa lagi si mas!,kitakan cuma punya anak satu! "sentak bu Renata kesal.


"Mau nambah mah?" tanyanya dengan tatapan berbinar.


"Nanti aja!" jawabnya membuat sang suami mengkerucutkan bibirnya lucu,"Sekarang aku mau susul calon menantuku dulu"


"Kemana mah?" wanita itu terdiam saat ditanya dan menatap sang suami hingga mereka beradu tatap.


"Menurut papah dia kemana pah?" tanyanya membuat pak Kevin menepuk keningnya.


"Mana papah tau!,udahlah gausah pikirin itu dulu sekarang mending kita buat adik dulu buat gara baru pikirin menantu kita itu" ujarnya membuat bu Renata bersemu.


"Udah ga tahan ya pah?" tanyanya sebari mengalungkan kedua tangannya dileher sang suami.


"Sudah tentu" jawabnya lalu mengendong sang istri ala bridal membawanya ke kamar untuk mencetak adik untuk gara.


Disisi Nirbita yang berlari bak dikejar setan menghentikan lajunya tepat didepan pintu minimarket,gadis itu langsung terduduk tidak peduli dia menghalangi pintu masuk sebari mengelap keringan yang bercucuran diwajahnya,"Huh cape!"


Sedangkan Naila sudah sampai beberapa detik yang lalu kini sudah berada didalam minimarket tidak memperdulikan kakak sepupunya yang ia tinggal berlari.


.


.


.


Dua sejoli tengah menikmati kebersamaan mereka di mall,yang tadinya akan menonton bioskop malah beralih ketempat permainan,semua itu usulan Naya,katanya jika mereka nonton maka waktu mereka akan habis dengan satu flm saja,jika mereka bermain maka banyak permainan yang bisa mereka coba dalam jangka waktu dua jam dan pulang tepat sebelum zuhur seperti amanat sang mami tadi pagi.


Sejak satu jam lalu keduanya sudah menjajal berbagai permainan hingga


Kini kedua sejoli itu tengah bermain capit boneka,no!,sebenarnya hanya jastin yang bermain sedangkan Naya hanya menonton sebari mengarahkan.


Sudah banyak koin yang dihabiskan pria itu tapi sayangnya belum mendapatkan satupun,jastin pantang menyerah ataupun kalah,ia merasa dikalahkan saat percobaan pertama naya gadis itu berhasil mendapat boneka berbentuk katak,sedangkan dirinya sudah berkali-kali tetap saja gagal,ingin sekali jastin bumi hanguskan alat permainan ini sekarang juga!.


"Udah nyerah aja Jus!" sentak Naya kesal sejak tadi pria itu berusaha sebari mulutnya tidak henti-hentinya mencibir alat permainan capit boneka.


"Engga gue pantang menyerah!"


"Lanjut aja nanti kalo gitu,,gue laper pengen cari jajan,,kalo lo masih mau disini yaudah gue mau cari jajan sendiri!" ancam Naya sebari mendengus kesal dan hendak pergi namun tangannya dicekal pria itu.


"Sabar elah,,,yaudah ayo gue anter cari jajan"tuturnya mencekal tangan Naya yang hendak pergi.


"Gitu dong,lo itu cuma penasaran gausah diambil hati,kalah menang itu biasa aja dalam permainan" ujar Naya membuat Jastin mengerutkan keningnya.


"Magsud?"tanya Jastin sebari melangkah disamping Naya.


"Magsud nya gini,lo kan main capit boneka kalah terus,terus menerus"


"Gausah ngeledek!" sela Jastin membuat Naya mendengus.


"Dengerin dulu ege,magsud gue kalo lo udah menang lo langsung ninggalin permainan itu dan nyari permainan lainkan?,,sama hal yang lagi lo lakuin sekarang,lo itu penasaran doang saat udah mendapatkan jawaban penasaran lo,lo pergi gitu aja"tutur Naya tidak dimengerti Jastin.


"Gimanasi magsudnya?" tanyanya bingung.


Naya menghela nafas sebari menghentikan langkahnya diikuti jastin dan keduanya beradu tatap ditengah keramaian,"Jadi gini"ucapan Naya terhenti ketika ia merasakan sesuatu yang menghantam bagian kakinya.


Bugh.


Seorang anak kecil menabrak naya hingga anak itu sendiri terduduk dibawah dengan wajah memerah dan, "huaaaa" anak kecil itu menangis hiateris membuat pasangan sejoli itu kelimpungan.


"Heh bocil dateng-dateng malah nangis!"bentak Jastin semakin membuat anak kecil laki-laki itu menangis kencang.


"Ck gausah bentak-bentak anak kecil!" tutur Naya sebari mengangkat anak kecil itu kedalam gendongannya lalu menepuk-nepuk punggung nya agar lebih tenang.


"Udah ya,jangan nangis cup cup cup"


"Mana si emaknya?,anak sendiri dibuang dimall estetik banget buangnya!" cibir Jastin sebari celingak-cekinguk.


Naya menatap wajah anak kecil yang ia gendong diperhatikan lebih teliti wajahnya mirip seseorang,"Udah ya jangan nangis lagi"ujar Naya menenangkan anak kecil berusia lima tahun itu sebari mengusap kedua pipinya yang basah.


Anak kecil itu mengangguk.


"Heh bocil emak lo mana?" tanya Jastin membuat anak kecil itu kembali menangis.


"Ditanya malah nangis!"


"Nanyanya gausah pake bentak segala!" dengus Naya sebari kembali menenangkan anak kecil yang ia gendong.


"Udah-udah jangan nangis,nanti kakak Jus nya kakak jewer biar ga bentak kamu" ungkap Naya di angguki anak kecil itu namun Jastin malah mendengus tak suka sebari mercak-mercak.


"Kamu disini sendiri?" tanya Naya dijawab gelengan kepala anak kecil itu sebari mengusap kasar wajah sembabnya.


"Tadi aldi pelgi cama kakak" ungkapnya dicibir Jastin


"Pergi cil pergi bukan pelgi!"


"Diemdeh!" sentak Naya pada jastin agar tidak memancing keributan dengan anak kecil,bisa pusing dia jika anak kecil ini kembali menangis nanti naya disangka ibunya lagi ohno.


Masa bayi lahirin bayi!.


"Kakak kamu perginya kemana?"anak kecil itu menggelengkan kepalanya sebari sesegukan.

__ADS_1


"Gatau"jawabnya membuat Naya bingung,gadis itu menatap jastin untuk membantu mencari kakak anak kecil ini dengan mata pupel eyes.


"Kita ke tempat pengumuman!"sentaknya sebari menghentakan kakinya kekesalahnya dobel sekali hari ini,sudah kalah dari permainan capit boneka ehhhh ada anak kecil yang caper sama Naya,sial sekali,niatnya ingin berduaan malah bertiga dengan setan.


__ADS_2