
Naila masuk kedalam mansion meninggalkan Antariksa yang sedang berbincang dengan pegawai dirumah ini,Naila menemui pelayan untuk membuatkannya makan siang.
Beberapa menit berlalu Antariksa menyusul, setelah makanan disajikan mereka memakannya tanpa damai jika ada kelompok triplet, satu sekalipun.
Naila membicarakan banyak hal tanpa Antariksa anggap demi makan tenang walau ga tenang-tenang amat mendengar ocehan Naila,hingga akhirnya gadis itu kesal karna ocehannya tidak ditanggapi om berondong nya dan memilih diam sebari cemberut.
Setelah selesai makan Antariksa lebih dulu mandi dan Naila memilih merebahkan diri disofa sambil menonton kartun dikamar Antariksa,"Om mandinya jangan setahun!"teriaknya memperingati agar om berondong nya itu tidak mandi lama.
"Gapapa kali la,biar gue ga perlu mandi lagi,satu kali mandi setahun" jawab Antariksa dari dalam kamar mandi.
"Huh kalo mandi lamanya setahun om besarnya mau jadi apa?,jadi duyung!" cibir Naila.
"Bagus tuh,kan duyung kalo nangis keluar mutiara yah?,kalo gue ga punya duit tinggal nangis aja ga perlu cape-cape kerja keluar tuh dah mutiara tinggal gue jual!" setuju Antariksa.
"Ckckckck jaman sekarang percaya begituan om adalah contoh manusia yang tidak mengikuti peradaban" cibir Naila mengubah posisi duduknya disofa menjadi merebahkan diri di karpet bulu dengan kepala menyandar disofa.
"Enak aja!,gue ini contoh manusia mengikuti peradaban manusia,konon katanya dulu kita adalah monyet yang berubah menjadi manusia" oceh nya dari kamar mandi mulia ngawur.
"Emang iya apa?,berarti dulu kita sejenis monyet gitu sebelum menjadi manusia?" monolog Naila bingung,"Pantesan aja om Antariksa mirip monyet ternyata oh ternyata dulunya emang om Antariksa itu monyet"gumannya sebari terkikik.
"Tuh bocah diem juga!" monolog Antariksa didalam kamar mandi akhirnya bisa merasakan mandi dengan tenang.
Naila memikirkan ucapan om berondong nya tadi sambil guling-guling di karpet sebab perkataan Antariksa membuatnya pusing,"Perlu diungkap dan dipertanyakan"desah Naila frustasi tidak mendapatkan jawaban dari otak udangnya.
Setelah berganti baju Antariksa mengajak Naila yang masih memakai seragam sekolah,segera pergi dari rumah untuk jalan-jalan sebentar sebelum kembali menjemput Naya dan Nirbita disekolah.
"Om bawa mobil yang hitam om!" pinta Naila menunjuk mobil berwarna hitam cukup tinggi author tidak tau mereknya,"Yang itu biar dikatain keren trus kita kaya m*fia-m*fia gitu"oceh nya sebari terpekik girang membayangkan dirinya dan om berondong nya berada dimobil itu dan disangka penjahat eh.
Dibagasi khusus beragam mobil dari berbagai merek berjajar terlihat seperti serum mobil dan ada tiga moge berwarna hitam,merah dan putih,warna putih si kesayangan Antariksa"Pilihan bagus!" puji Antariksa setuju sebari menunjukan cap jempol.
Kedua remaja itu masuk kedalam mobil setelah mengambil kunci mobil tentunya,"Keren ga La?"tanya Antariksa sebari bergaya cool memegang kemudi.
Naila memicing menilai penampilan om yang memakai outfit serasi dengan mobil,hitam-hitam bukan seperti m*fia namun layaknya orang melayat,"Kalo pake kacamata udah komplit om"ungkap Naila diangguki setuju Antariksa.
"Gue setuju sih,ambilin kaca mata gue dikamar sana!" pintanya tanpa menatap Naila dan malah bergaya.
"Nyuruh-nyuruh om berani bayar berapa!" dengus Naila menatap kesal om berondong nya itu dalam hati, Naila kesal memberi masukan jika ujungnya ia yang malah disuruh-suruh.
"Lo udah makan dirumah gue itu semua ga gratis sekarang ambilin gue kaca mata dikamar gue,sana!"
Naila mendengus kesal sebari tersungut-sungut naila turun dari mobil sebari mercak-mercak,"Gatau diri banget padahal om setiap hari makan dirumah ibu aku,sekarang cuma numpang makan sehari aja harus dibayar!"
Keluar dari mansion setelah mengambil kaca mata hitam dari kamar Antariksa naila menatap keluar gerbang disana ia melihat seseorang yang ia kenali,naila bergegas menghampirinya.
"Risa!"
Merasa namanya dipanggil Risa melirik kearah depan,ia merasa ada yang memanggilnya namun tidak ada siapa-siapa disana,Risa menjadi bergidig,"Rumah ini ga angker kan?,engga deh kayanya kan aku udah tinggal disini dari orok,trus gaada tuh hal-hal ganjil"ujarnya bermonolog.
"Risaaaaa" teriak Naila kembali memanggil temannya itu,"Woy Risa dipanggil malah ngomong sendiri kamu ga kerasukankan?"tanyanya masih berteriak karna Naila malah berkaca pinggang dipintu gerbang tanpa membuka pintu gerbang itu bahkan pak satpam hanya menatap tak ingin ikut campur agar ga pusing.
Risa menoleh kearah rumah disamping rumahnya, disana ia melihat Naila tengah menatapnya dengan tangan dipinggang,kaca mata bertengger di hidungnya membuat Risa kicep.
"Naila?" tanyanya memastikan lalu menghampiri gerbang dimana Naila berada.
"Pak tolong buka gerbangnya! " pinta Naila sopan pada pak satpam dan langsung dilaksanakan.
"Naila kamu ngapain disini?,kamu sama siapa disini?,sendiri?" cecar Risa menatap kearah dalam rumah dengan tatapan waspada,lalu menarik Naila secepat kilat agar berada diluar gerbang rumah itu setelah gerbangnya dibuka.
Bukan hanya keluar gerbang risa menarik Naila agar menjauh dari rumah itu layaknya tempat itu adalah rumah hantu yang harus dijauhi,"Risa kamu mau bawa ila kemana?"tanya Naila mengikuti langkah Risa yang menariknya.
Risa menghentikan langkahnya diujung gerbang rumah yang ada disamping rumah Antariksa,lumayan jauh,Risa celingak-celinguk waspada membuat Naila juga melakukan hal yang sama,"Ada apa Risa?,ada hantu?,setan?,atau demit?"tanya Naila waspada.
Risa menoyor kepala Naila menggunakan telunjuknya dengan gemas,"Mereka masih satu spesies dodol!"
Naila menggaruk rambutnya lalu melepaskan kaca mata yang bertengger dihidungnya dan melihatnya,"Beda sebutan tau!"
"Iya deh,sekarang kamu jawab pertanyaan aku!" pinta Risa menatap Naila.
"Udah" jawabnya
"Kapan? " tanya Risa bingung.
"Emang pertanyaan yang mana?" tanya naila dengan wajah polos minta ditempeleng.
Risa mendengus,"Kamu kenapa ada dirumah itu?"tanyanya lagi sebari menunjuk rumah Antariksa menggunakan bibirnya.
"Emang kenapa kalo aku dirumah itu?,,perasaan gaada masalah deh kalo aku kerumah om sendiri" jawabnya membuat Risa blank.
Sedangkan dibagasi Antariksa sudah mercak-mercak menunggu Naila" mengambil kaca mata dikamar saja sudah seperti mengambil sembako dengan antrian bejibun,"Gue tinggal juga tuh bocah"dengusnya sebari mulai mengendarai mobil memilih menunggu Naila dihalaman saja.
Saat sampai dihalama Antariksa mematikan mobilnya dan segera turun dengan raut wajah kesal,"Emang salah nyuruh si Naila perjalanan yang lima langkah aja bisa jadi seribu langkah,bocang gemblung awas aja kalo tuh bocah malah tidur dikamar gue!"monolognya.
"Antaaaa" suara cempreng terdengar mengusik telinga sehingga replek menutup kedua telinga demi keamanan dan kedamaian pendengaran.
"Ada s*tan menjelma jadi ondel-onde lagi!" dengus Antariksa secepat kilat kembali masuk kedalam mobil menghindari orang yang meneriaki setengah namanya tadi.
Cek lek
Antariksa mengunci mobil agar lebih aman lagi
Tok-tok
"Sayang ko kamu malah masuk mobil lagi sih?,sini turun aku kangen sama kamu!,emang kamu ga kangen apa sama kami" teriak wanita yang memanggil Antariksa dengan sebutan sayang itu sebari menggedor kaca mobilnya.
"Kaga!,udah setres malik gila kali gue kangen sama lo!" jawab Antariksa menatap jijik gadis di luar mobilnya.
"Yang kalo kamu gamau turun gapapa tapi buka pintunya biar aku yang masuk,,yang aku kangen banget sama kamu pengen peluk!" rengek gadis yang mencoba membuka pintu mobil Antariksa.
"Bocah gemblung lama amat sih,ga mungkin gue tinggal juga kan?" guman Antariksa menoleh kebelakang berharap Naila muncul dan mereka segera pergi dari sana secepat nya.
Diujung sana tepatnya disamping rumah tetangga Antariksa,Naila menatap tajam kearah dimana wanita yang mencoba mendekati om berondong nya,gadis itu menyisingkan lengan bajunya siap menyerang,tidak boleh sembarangan orang mendekati om berondong nya itu jika ada maka harus melawan Naila dan Nirbita terlebih dulu,karna Nirbita gaada disana jadi Naila akan bertindak sendiri.
__ADS_1
Sedangkan Risa menjadi gugup,takut dan khawatir secara bersamaan jangan sampai wanita ganjen pada Antariksa itu tidak melihat Naila dirumah itu tadi.
Naila ynag siap tempur berlari cepat kerumah omnya membuat Risa memekik melarang Naila namun tidak dihiraukan.
Risa mendadak serba salah menyelamatkan diri sendiri atau menyusul Naila dan dapat masalah, ahhh sudahlah!.
.
.
.
Ditempat lain dijam yang sama sekumpulan remaja tengah duduk melingkar untuk karpet bulu untuk membicarakan hal penting,anggota didalamnya hanya geng inti saja.
Diwajah mereka penuh lembab yang sudah diperban bahkan anggota lain ada yang harus dijahit sebab pertarungan sengit antar geng motor pagi tadi,bahkan waktu terlalu pagi untuk diawali dengan pertengkaran.
Pertarungan antara Algaskar dan Fir'aun tidak terelekan dan berhenti ketika Cakra hampir dipatahkan lehernya oleh Gara jika pertarungan itu tidak berhenti.
Serempak mereka menatap pada satu sosok yang menjadi tersangka kejadian ini,"Bisa lo jelasin kenapa jaket lo ada dimarkas Fir'aun?"tanya Gara,pembicaraan kali ini sangat serius tidak ada yang berniatan mengatakan celetukan candaan.
Karna ini masalah serius menyangkut dua kubu yang awalnya berteman karna masalah ini menjadi berlawanan.
Devan yang ditanya lantas menggelengkan kepalanya lirih sebelum menjawab,"Gue gatau,jaket gue emang udah hilang sejak dari toilet"jawabnya jujur.
"Lo udah cari?" tanya Gara.
Devan ragu untuk menjawab,"Engga"jawabnya.
"Gausah bohong lo!,kemana aja lo pas balapan hah!,lo cabut kemarkar Fir'aun bakar markas mereka dan jaket lo ketinggalan disana b*gsat!,mau lo apa hah?!,jadi penghianat iya?!" teriak Rezaldi emosi membuat Devan menatap tajam kearah temannya itu.
Sudah tentu Devan tidak terima dengan tuduhan Cakra yang menuduhnya membakar markas Fir'aun dengan bukti jaket miliknya yang sempat hilang dan kini teman-temannya meragukan dirinya,"Gue bilang bukan gue anj*ng!,gue bukan penghianat!,jaket itu hilang pas dibalapan!"teriak devan membantah.
"Lo masih ngelak setelah jaket lo ditemukan di TKP b*go!,lo ngotak ga hah!,lo ngaku aja kalo udah bakar markas Fir'aun jaket lo buktinya!"teriak Rezaldi menyudutkan Devan.
"Diam!" bentak Gara sebari berteriak untuk menghentikan kedua temannya yang tersulut emosi,mengingat Rezaldi paling tidak sabaran membuat gengnya bisa hancur karna ledakan ego masing-masing.
"Lo berdua diam!,ini bukan waktunya kita adu b*cot,dari pada menyuarakan emosi mending lo pada tenangin pikiran dulu!,kita ga bisa pecahin masalah ini dengan kepala panas"tegur Gara bijak.
"Gue setuju kata Gara,mending tenangin dulu pikiran kita baru lanjut mikirin masalah ini pake kepala dingin" saut Bintang menimpali,apalagi ia yakin bukan Devan pelakunya apalagi mengingat Devan bercerita padanya bahwa kehilangan jaket.
"Kepala dingin gimana hah dia emang pelakunya!,mau lo pada ga percaya bahkan dia sendiri ngelak pun percuma,buktinya udah ada!" tekan Rezaldi dengan tatapan penuh kecewa dan amarah pada Devan.
Dirinya pun ingin menyangkal pelaku pembakaran markas Fir'aun namun bukti mengarah pada devan terbukti dari jaket yang ditemukan di TKP sedikit terbakar.
"Gue bilang bukan gue anj*ng!,gue ga bakar markas Fir'aun!"kekeh Devan membantah yang dituduhkan padanya.
"Lo punya bukti hah!" tekan Rezaldi disana hanya Aril dan Farel yang bungkam pria itu tidak tau harus bagaimana,jujur saja ia tidak percaya Devan melakukan itu semua tapi bukti mengarah padanya.
"Gue ga bakar markas siapapun!,gue ikut kalian kapan gue bakar markas Fir'aun hah?!,gue cuma ke toilet doang!"
"Lo punya bukti Devan?,sorry gue emang ragu lo lakuin sebesar itu sendiri tapi nyatanya mereka punya bukti mengarah ke lo!" ujar Bintang walaupun ingin menghentikan perdebatan ini namun nyatanya ia juga tidak tahan dengan semua ini.
Benarkah teman?.
"Kapan lo ke toilet?" tanya Gara membuat Rezaldi mendelik tajam kearah ketuanya itu.
"Sekarang bukan waktunya lo nanya itu bos!,lo taukan masalah yang udah dia buat bisa ngancurin kita semua?!" keluh Rezaldi kesal.
"Dengan lo marah-marah lo pikir masalah ini bakal beres hah?!,engga!,sebelum gue ga bisa kendalikan diri mending lo pergi!" usir nya.
"Gue bukan pengecut bos pergi disaat temannya dalam masalah,gue emang kecewa sama dia tapi dia masih punya kesempatan membela diri" ujar Rezaldi sebari mendengus dan hanya memanggil Devan dengan kata dia.
"Kalo lo masih mau disini kendaliin emosi lo!,dengan lo emosi masalah bakal makin runyam,bukan cuma lo yang marah kita juga!,dan Devan gue yakin bukan lo tapi percuma kalo gue ga punya bukti,,,,sekarang kita kontrol dulu emosi dalam diri kita baru omongin masalah ini lagi,,," ujar Gara menengahi sebari menghela nafas berat.
Tidak ada yang berbicara lagi mereka membisu dengan pikiran masing-masing selama dua jam hingga Gara kembali bersuara memecah keheningan.
"Dev gue mau lo cerita semua yang lo lakuin kemarin sampai dimana Cakra nyerang kita" pinta Gara merasa suasana sudah cukup tenang.
Devan terdiam mengingat-ingat apa yang dia lakukan kemarin tanpa ada yang dilewatkan, "Kaya biasa pagi gue kesekolah skip balik dari sekolah gue kerumah dulu trus ke markas,gaada hal istimewa yang gue lakuin sampe akhirnya kita pergi ke arena balap bareng,,,,pas balapan dimulai gue kebelet gue ke toilet narik re,,,sebelum gue masuk toilet gue buka jaket,gue sampein dimeja samping toilet pas keluar udah gaada Re juga gaada disana,trus kita balik dan kejadian itu terjadi" jawab Devan menceritakan semua tanpa terlewat.
"Jaket lo hilang bersamaan sama Re juga?,re anak geng Fir'aun itu?" tanya Farel angkat suara setelah sejak tadi diam.
Devan mengangguk.
"Bukannya gue mau nuduh,gue cuma mau berpendapat menurut kalian si Re berpotensi jadi penghianat?,,sorry tapi terlalu kebetulan aja gitu jaket si Devan hilang bersamaan sama si Re yang nganter Devan ke toilet juga pergi dari sama tanpa nungguin si Devan dulu" ujar Farel.
"Gue setuju sih sama si Farel,tapi buat apa si Re bakar markasnya sendiri? " tanya Aril.
"Adu domba!,," ujar Gara singkat dengan kilatan amarah masih setia dimatanya.
"Magsud lo si Re sengaja bakar markas sendiri buat ngadu domba kita sama Fir'aun?,,pertanyaan gue buat apa dia lakuin itu?,maksudnya kenapa dia pengen algaskar dan Fir'aun musuhan?" ujar Bintang.
"Re yang punya jawaban" jawab Gara membuat kelima temannya menatapnya bingung.
"Gue bakal temuin si Re!" ujar Devan sebari bangkit dari duduknya.
"Lo selain b*doh,b*go,juga gila ya!,lo mau ngapain nemuin dia hah?,mau nanya!,pake otak lo,lo pikir dengan lo nanya dia bakal jawab jujur,belum tentu bego!" tegur Rezaldi kesal.
"Rezaldi bener si Re bisa aja ngelak dan malah nyudutin kita bela Devan! " timpal Bintang.
"Hmmm kita harus bermain cantik!,kalian kalo mau balik,silahkan,pembahasan masalah Devan sampe sini dulu" ujar Gara.
"Kenapa ga kita selesain aja bos biar ga bertele-tele?semakin cepat semakin baik"tanya Aril.
"Gue tau,tapi kita juga ga bisa menggebu masalah ini terlalu pelik,kita gatau emang ada penghianat diantara anggota atau ada orang luar yang bermain,,seengganya masalah ini ada titik terang dulu,untuk sekarang kita bisa ngelak devan bersalah sampai kita temuin bukti palid"jawab Gara bijak.
"Lempar batu sembunyi tangan" guman Bintang di dengan teman-temannya.
"Gue paham" celetuk Aril.
"Mau kemana lo bos?" tanya Farel melihat pergerakan Gara yang hendak pergi.
__ADS_1
"Jenguk geng Fir'aun" jawabnya sebari mengambil jaket miliknya untuk digunakan.
"Gue ikut" saut Bintang juga ingin menengok sepupunya dirumah sakit bersama beberapa anggota Algaskar dan Fir'aun yang terluka lumayan parah,yang tidak terlalu parah hanya dirawat di markas saja mereka tidak ingin pergi dari markas untuk alasan menjaga markas dari serangan balasan Fir'aun dan juga malas mendengar ceramahan orang tua yang menghawatirkan anaknya yang terluka.
.
.
.
Tadinya mereka akan healing terlebih dulu namun karna ada keadaan tak terkendali Antariksa langsung membawa Naila untuk menjemput dua saudarinya disekolah.
Ya seperti yang kalian tau dimanapun triplet ada maka suasana tidak akan tenang,didalam mobil Naila menceritakan kejadian dirumah Antariksa tadi dimana ia melabrak seorang gadis yang memanggil om berondong nya dengan sebutan sayang.
Yang ternyata gadis itu bernama Aleta kakak kelas yang terkenal sebagai pembully disekolahnya bahkan pernah menabrak Nirbita saat dikantin dan ber cekcok dengannya,,selain itu Naila juga menceritakan bahwa Aleta adalah kakak dari Risa dan ada kabar bahagia juga ternyata Risa adalah si gadis pohon jambu.
Gadis pohon jambu bisa dikatakan teman triplet saat kecil,dulu saat triplet berkunjung kerumah Antariksa yang kini kosong itu,triplet mendengar suara tangis dari atas pohon jambu reaksi mereka yang hilerbola namun juga rasa ingin tau yang tinggi memutuskan mencari tahu kesana bersama Antariksa,,,mereka menemukan gadis kecil seumuran Nirbita berusia tujuh tahun dengan tubuh kurus diatas pohon jambu sedang menangis,,,otak mereka yang emang rada gila mereka pikir gadis itu anak mba kunkun yang ditinggalkan ibunya otak amburadul mereka untungnya bisa dikendalikan,disanalah awal pertemanan mereka namun mereka hanya bertemu saat triplet mengunjungi Antariksa.
Setelah ibu Nirbita meninggal triplet sangat jarang mengunjungi rumah Antariksa dan semakin lama mereka jarang bertemu dengan gadis pohon jambu itu,dan akhirnya semakin kesini mereka sibuk dengan kehidupan masing-masing.
"Jadi si Risa gadis pohon jambu itu?" pekik Nirbita hiperbola.
"Santai dong!,gausah teriak-teriak kelamaan gue tabrakin juga nih mobil!"pekik Antariksa menyetir mobil pilihan Naila dengan ekpresi senang tapi juga lelah,senang karna tadi Naila melabrak set*n jadi-jadian dan lelah mendengar suara triplet.
"Sabar ngab marah-marah mulu cepet tua lo!" cibir Naya membuat Antariksa mendengus.
"Iye gue tua lebih dini kelamaan sama kalian!"
"Kelamaan sama kita bikin om awet muda iya!,kita kan pembawa kebahagiaan" ujar Nirbita.
"Bodoamat!"
"Eh ko om ga pernah cerita si kalo ternyata gadis pohon jambu itu Risa?" tanya Nirbita menatap om berondong nya dengan mata memicing.
"Gue pikir lo pada udah tau karna satu sekolah" jawabnya.
"Lupa sih,trus gimana Risa disana masih suka nangis dipohon jambu?" tanya Naya.
Antariksa menggelengkan kepala,"Sejak kalian udah ga ketemu lagi sejak itu juga gue jarang ketemu dia,setiap gue ajak main dia malah kabur,,kelamaan gue juga ga temenan lagi paling cuma antar anak tetangga doang,dia juga jarang keluar rumah jadi susah buat ketemu,,,gue malah sering digangguin set*n jadi-jadian itu"jawab Antariksa menceritakan.
"Kalo Aleta kakaknya Risa trus kenapa pas disekolah Risa selalu di bully kakaknya?,kan Risa adiknya masa kakak nyakitin adenya sih seharusnya kan dijagain?" oceh Naila bingung.
"Angkat" jawab Antariksa membuat triplet hanya cengo.
"Gausah so singkat lo!,angkat-angkat, angkat jemuran!jelesain cepet!," ujar Naya kesal dengan remaja itu selalu berubah-ubah dikondisi yang tidak tepat membuatnya jengkel.
"Bagus marah-marah terus biar kita menua bersama lebih dini,enak aja gue tua sendirian ga terima gue"cibir Antariksa sengaja memancing emosi Naya agar bisa menua bersama kan ga lucu cuma dirinya yang tua lebih dini karna emosinya dipancing triplet terus.
"Ck om jangan becanda serius dulu ihhh" rengek Nirbita.
"Ya dah,iya,si Aleta itu kakak angkatnya Risa,yang gue denger ortunya Risa mereka pernah putus asa buat punya anak trus mutusin ngadopsi anak dari panti,setahun ngurus si Aleta barulah si Risa nongol diperut emaknya begono" cerita Antariksa,"Gue cuma heran sih kenapa emaknya Risa lebih sayang sama Aleta dibanding anak kandungnya,anak kandung yang di anak tirikan,lo pada paham ga? "Ujar Antariksa mengungkapkan kebingungan nya.
"Pantes aja perbedaan mereka langit dan bumi banget,,,si Aleta kesekolah aja naik mobil,barang yang dia pake juga branded semua,,kalo bukan lo yang ngomong gue bahkan ga bakal percaya kalo Risa adeknya Aleta walaupun angkat,,," ujar Naya mengingat perbedaan kontras antara Aleta dan Risa,jika Aleta sosok glamor maka Risa sebaliknya bahkan gadis itu pulang pergi naik angkot,bahkan Aleta sering membully Risa jika disekolah,,,bukan hal aneh lagi memang jika ada pembullyan dijaman modern yang lebih melihat pangkat daripada kebenaran.
Siapa yang memiliki pangkat maka dialah yang akan menang walau salah sekalipun.
Tapi Risa adiknya Aleta walaupun angkat seharusnya mereka saling menyayangi bukan?,triplet saja saling menyayangi walau setatus mereka sebagai sepupu, aneh saja jika anak kandung serasa anak tiri jika tidak ada pemicunya.
"Hooh" setuju Nirbita dan Naila serempak.
"Bukan cuma itu,lo tau ga pas liburan semester kemaren?,,si Aleta sama ortu angkatnya jalan-jalan parahnya si Risa ditinggal dirumah,gila ga tuh?!,anak sendiri ditinggal anak pungut dinomor satukan berasa jadi drama ikan terbang dah,gue jadi emosi" ujar Antariksa menggebu seolah dirinyalah yang diperlukan tidak adil.
"Sadis banget,kalo gue ada diposisi Risa udah gue bakar tuh rumah,biar mereka pas pulang ga pulang tempat tinggal" seru Naya ikut emosi mendengarnya.
"Yang lebih gila si Aleta ngejar-ngejar gue,ngaku-ngaku jadi pacar gue enek banget gue n*jis"umpat Antariksa emosi mengingat sikap Athea yang selalu membuatnya jijik.
"Gimana ya jadi Risa?,dia sedih banget pasti kita aja yang cuma kata orang kesel banget dengernya," ujar Naila membuat mereka terdiam memikirkan perasaan Risa selama ini.
"Gue pendendam sih,kalo gue pasti bakal nunjukin kedudukan gue dirumah itu,mau gue ga dianggap ortu gue sekalipun tetep aja darah mereka ngalir di nadi gue artinya gue lebih berhak daripada Aleta,,darah lebih kental dari air!,,gue bakal buat mereka nyesel udah nyia-nyiain keberadaan gue selama ini" ujar Naya penuh penekanan mengibaratkan dirinya di posisi risa.
"Ila bersyukur punya ibu sama ayah yang baik"Naila menjadi mensyukuri hidupnya yang terlahir dikeluarga harmonis jika dirinya dilahirkan di keluarga seperti Risa mungkin ia akan memilih pergi saja,selemah itu hati Naila?.
"Trus kenapa dia penampilan cupu?,dulukan Risa ga pake kaca mata besar kaya sekarang?" tanya Nirbita menilai penampilan Risa dulu dan sekarang yang berbeda,pantas saja mereka tidak mengenali Risa si gadis pohon jambu.
Antariksa menghela nafasnya masih fokus menatap jalanan walaupun sesekali melirik kearah spion,"Di rumah gue ceritain semuanya yaelah"keluh Antariksa karna sikap triplet jika pertanyaan mereka belum di jawab maka mereka tidak akan berhenti bertanya.
Pada orang yang tidak punya jawaban sekalipun!.
Sesampainya dirumah Nirbita dan Antariksa masuk kedalam rumah Rangga sedangkan Naya dan naila masuk kedalam rumah bu kasih,setelah selesai membersihkan diri dan juga makan Antariksa diteror ketiga saudarinya untuk menagih janji soal cerita Risa.
Antariksa berpikir jika ia bercerita mungkin saja triplet setidaknya memberi suport sistem pada Risa jika tau cerita Risa selama ini,bagaimana Antariksa bisa mengetahui seluk belum Risa?.
Karna gadis itu orang yang Antariksa ingin jaga sebagai wanita hmmm namun tidak bisa ia gapai,hanya bisa menjaga dalam diam karna gadis itu memilih menjauh darinya dan terang-terangan mengusirnya dari kehidupan gadis itu sejak lama.
"Hiks ko jahat banget sih" isak Naila tidak tahan mendengar cerita dari Antariksa bahwa Risa sering dibully Aleta selain disekolah juga dirumah bahkan orang tua mereka lebih membela Aleta,entah apa yang dipikirkan mereka.
"Itu namanya keluarga durhaka dilaporin kepolisi bisa kan yah?,kalo Risa ga buat laporan gimana kalo kita aja yang laporin mereka atas kasus kdrt" oceh Naila membuat Antariksa menoyor kepalanya.
"Kdrt kekerasan dalam rumah tangga ege,kalo ngomong gausah bener sebelah kebanyakan sesat mah gini,ngomong awalannya bener malah ujungnya merujung kesesatan" cecar Antariksa mencibir kesal.
Naila mengkerucutkan bibirnya,"Iya kan Risa juga kena kekerasan dalam rumah,ga salah dong kalo laporannya kdrt,kan ada rumahnya"
"Ga gitu konsepnya!" serempak mereka mendengus dengan kekonyolan Naila tadi.
"Tapi ide Naila ga buruk juga tau" celetuk Nirbita.
"Magsud nya kita laporin keluarga Risa atas kasus kekerasan?,tapikan percuma kita ga punya bukti trus kalo Risa ga setuju dia bisa cabut tuntutannya karnakan Risa jadi pihak penggugat nantinya" ujar Naya membuat mereka bingung berbuat apa.
"Pikirin nanti aja dah ita laper mau masak mie,pada mau ga?" tanya Nirbita mengalihkan pembicaraan agar otaknya tidak memikirkan masalah orang lain,hidupnya aja penuh masalah ngapain mikirin orang lain.
"Mau!"pekik ketiganya serempak dengan tangan diangkat menunjuk diri masing-masing.
__ADS_1