DIARY TRIPLET N

DIARY TRIPLET N
Kelamaan jomblo


__ADS_3

Seperti yang dikatakan tadi mereka berhenti disalah satu minimarket yang mereka temui untuk membeli eskrim.


Nirbita bukan hanya membeli eskrim ada beberapa jajanan yang ia beli juga ditemani Gara,"kakak kalo mau ke kafe gapapa ko biar aku naik taxi aja pulangnya "ujar Nirbita di antrian kasir.


"Aku ga mau ke kafe bi,tadi cuma nawarin kamu takutnya udah laper banget" jawabnya sebari tersenyum membuat beberapa pengunjung menjerit tertahan.


"Ouh gitu"ujar Nirbita mengangguk lalu menyodorkan barang beliannya dimeja kasih untuk dihitung.


"Gara" panggil seseorang dibelakang mereka membuat gara dan Nirbita melihat kearah orang itu.


"Mah"mendengar perkataan gara bisa Nirbita simpulkan wanita paru baya yang masih kelihatan cantik yang tadi memanggil Gara adalah ibunya.


"Kamu ngapain disini?"tanyanya.


"Jajan"jawab Gara lalu mengalami tangan wanita tersebut disusul Nirbita.


"Halo bu" sapa Nirbita malu-malu.


"Eh,siapa ini cantik nan imut banget" ujarnya antusias bahkan mencubit pipi Nirbita yang sedikit caby.


"Saya Nirbita bu adik kelasnya kak Gara" jawab seadanya Nirbita.


Renata menatap anaknya selidik dan juga kearah Nirbita,"kamu kesini sama dia?"tanyanya memastikan sebari menunjuk Gara dan pria itu hanya memutar matanya malas melihat tingkah sang ibu.


Nirbita mengangguk sebari menjawab,"iya bu"


"Beneran?"tanyanya lagi tak percaya namun harus terhenti ketika mba kasih memanggilnya.


"Totalnya jadi lima puluh ribu kak"


"Ouh iya"ujar Nirbita sebari merogoh sakunya untuk mengambil uang namun sudah keduluan Gara.


"Pas ya kak,terimakasih" ujar mba kasih sebari memberikan belanjaan Nirbita.


"Eh kok kakak yang bayar?" tanya Nirbita dengan wajah bingung.


"Masih ada yang antri bi,kita pulang yu!"jawab Gara.


"By,kalian pacaran?" tanya Renata menatap selidik kedua remaja itu dengan mata berbinar.


"Mamah masih lama belanjanya?" bukannya menjawab gara malah menanyakan hal lain padahal tadi Nirbita hendak menjawab namun menutup mulutnya lagi saat mendengar suara Gara.


"Tinggal bayar,gausah ngalihin topik deh,kalian pacaran kan?"sengaknya tau saat sang putra ingin mengalihkan pembicaraan,Renata menaruh belanjaannya di meja kasir"Alhamdulillah akhirnya anak mamah punya pacar juga"syukurnya bahkan sampai bertepuk tangan ringan dan dijadikan atensi pengunjung lain.


Padahal kedua remaja itu belum ada yang menjawab dan bu Renata hanya menyimpulkan saja,sebab Gara memang tidak pernah dekat dengan gadis manapun sampai membuatnya takut kalo anaknya itu belok,gara sangat cuek pada wanita termasuk dirinya yang sudah mengandung dan melahirkannya memang anak tunggalnya ini turunan sang ayah yang sama-sama kulkas tujuh pintu kecuali padanya saja.


Sedangkan Gara hanya memutar matanya malas dan Nirbita menatap gara dan ibunya bergantian dengan kerutan di dahinya.


"Alhamdulillah ya allah,mamah harus ngasih tau papah kalo gini,ini berita bahagia," ujarnya menggebu sebari melangkah pergi namun baru dua langkah Renata kembali ke hadapan dua remaja itu,"ah nama kamu tadi siapa?"


"Nirbita bu" jawab Nirbita dibalas senyuman oleh Renata.


"Nirbita jangan panggil bu panggil mamah aja oke" ujar Renata sebari mengusap pucuk kepala Nirbita dan berlalu"Oke Nirbita" gumannya untuk mengingat nama gadis yang kini bersama sang putra untuk ia kenalkan pada sang suami.


"Mamah kakak kenapa?" tanya Nirbita sebari menatap heran arah Renata yang sudah berlalu.


"Gausah dipikirin,mamah aku emang gitu" jawab Gara sebari mengedikan bahunya.


"Trus itu belanja mamah kakak gimana?" tanya Nirbita menunjuk kearah kasih yang masih menghitung belanjaan Renata tadi sedangkan orangnya sudah berlalu.


Gara menghela nafas bisa-bisanya sang ibu melupakan belanjaannya karna sedang senang,"Aku bayar bi"


Disisi Renata saking senangnya ia lupa dengan belanjaannya dan berlalu pulang untuk segera menemui suaminya dan menceritakan apa yang ia lihat tadi.


Brak


Renata membanting pintu saking buru-burunya dan mencari keberadaan sang suami,"mas-mas-mas,mana sih?,mas kamu dimana?"teriaknya memanggil sang suami sebari mencari disetiap sudut kamar dan rumah.


"Ko ga ada?"monolognya," bi liat mas Kevin ga?"tanyanya pada salah satu pelayan dirumahnya.


"Tuan nyonya?" tanya pelayan itu memastikan.


"Iya bibi liat ga?,saya udah cek dimana-mana tapi ga ketemu"


"Maaf nyonya bukannya tuan belum pulang dari kantor ya?"


"Ah iya hehe saya lupa bi" ujar Renata meringis malu,"dilanjut bi kerjanya "


"Baik nyonya"


"Gini nih saking senengnya sampe lupa keberadaan suami sendiri,asal jangan lupa punya suami aja si bisa perang dunia kalo lupa"gumannya terkikik sebari melangkah menuju kamar.


Sesampainya dikamar Renata langsung menelepon sang suami untuk berbagi hal membahagiakan tentang anak tunggal mereka tadi,satu kali panggilan langsung tersambung.


"Halo sayang kenapa hmm?,kangen ya?bentar lagi aku pulang ko" tanya sang suami beruntun.


"Beneran bentar lagi pulang?" tanya Renata terdengar antusias.


"Iya,kamu kenapa hmm?,hal apa yang buat kamu bahagia hmm?"

__ADS_1


"Kamu tau aja aku lagi bahagia"


"Aku tau semua tentang kamu sayang" gombalnya membuat Renata tersenyum malu dengan semburan merah di pipinya walau sudah bertahun-tahun tetap saja ia terkadang malu jika digombalin sang suami yang terkenal dingin diluaran sana.


"Masa kalo gitu kamu tau ga alasan aku bahagia kenapa?"


"Karna bentar lagi aku pulang,dan kamu bisa manja-manjaan sama aku" jawabnya membuat Renata cemberut.


"Pede banget si kamu mas,engga ya aku tuh punya alasan lain,pokonya kabar yang buat aku bahagia ini the best banget mas" ujar Renata antusias.


Kevin disebrang sana mendengus saat mendengar jawaban istrinya,"mas pikir kamu rindu sama mas mau manja-manjaan ternyata engga"ujarnya dengan nada kesal.


"Aku rindu sama kamu ko,tapi kabar yang aku punya kali ini the best gaada duanya kamu juga pasti ikut seneng"jawab Renata sebari mencoba menenangkan suaminya agar tidak ngambek.


"Emangnya kabar apa?,kamu hamil lagi?"


"Ih mas jangan bercanda dong!" ujar Renata dengan nada kesal membuat Kevin terkekeh,Kevin jadi tidak sabar untuk pulang dan bermanja-manja dengan istrinya.


"Kamu cepet pulang atau aku ga akan bagi kabar bahagia ini sama kamu tut,, "setelah mengatakan itu Renata langsung menutup ponselnya sebari terkekeh membayangkan wajah suaminya yang pasti kesal karan teleponnya ia matikan sebelah pihak.


"Dimatiin"guman Kevin di kantornya sebari menatap ponselnya dengan kesal lalu mengambil jaz yang ia diamkan disofa dan berlalu.


Berlalu untuk pulang dan mendengarkan alasan istrinya senang kali ini jangan sampai alasannya karna menemukan pria baru,tidak akan kevin biarkan.


.


.


Gara kembali melajukan motornya setelah mengantarkan Nirbita dengan selamat kerumah gadis itu diperjalanan ia tidak sadar pernapasan dengan Jastin yang sedang membonceng Naya di motornya.


Naya turun dari motor Jastin lalu merapikan rambutnya yang acak-acakan tertiup angin apalagi dirinya yang tidak pakai helm," Makasih Jus"


"Jus-jus kesel gue dipanggil jus" kesal Jastin sebari cemberut,"nama gue itu Jastin ege,nama gue udah bagus malah lo rusak!"


"Itu panggilan kesayang Jus,udah deh gausa komen mulu kaya netizen habis pms aja deh!" cibir Naya membuat Jastin mendengus.


"Ais terserah lo deh,lain kali pastiin tuh HP hidup,kebiasaan banget HP lo lobet!" cibir Jastin membuat Naya menaikan sebelah halisnya.


"Hp siapa yang lobet?" tanya Naya heran membuat Jastin kesel.


"Punya lo lah!" sentak pria itu.


"Idih sotoy,hp gue ga lobet ya,,nih" ujar Naya sebari menunjukan hpnya dengan layar menyala membuat Jastin melongo.


"Lah ga lobet?,ko bisa?"pertanyaan bodoh keluar dari mulut Jastin.


"Bisalah gue kan charger nih hp,makanya jadi orang gausah sotoy!" cibir Naya membuat Jastin mendengus.


"Iya jus makasih udah nganterin gue pulang,lo hati-hati dijalan gausah kebut-kebutan!"


"Iya bawel banget si lo!" cibir Jastin sebari kembali memakai helm yang sempat ia buka.


"Bukan bawel Jus gue cuma memperingatin kalo lo Inalilahi karna kecelakaan kan gue juga kena,gue harus ngasih keterangan sama polisi karna gue orang terakhir yang lo temuin" jawab Naya membuat Jastin mendengus.


"Lo do'ain gue mati?,do'ain tuh yang baik-baik napa!"kesel juga jika berlama-lama pikir Jastin


"Doa juga butuh perjuangan kali,kalo berdoa doang tapi ga berjuang sama aja boong,terus kalo berjuang doang kaga doa juga sama boongnya,lebih utama itu berdoa sebari berjuang!"


"Iya ustazah saya pamit pulang asalamualaikum" ujar Jastin sebari memutar matanya gadis yang beberapa ia temui tidak sengaja itu sangatlah cerewet.


Sudah tiga kali ia dipertemukan dengan Naya dipinggir jalan dan menjadikannya ojek gratis dadakan untuk gadis itu seperti tadi,kali ini ia menawarkan Naya untuk ia antar pulang,ia pikir Naya seperti biasa tidak bisa pulang dengan taxi atau angkutan umum sebab ponselnya mati seperti biasa dan uangnya habis,ternyata ia salah sangka saja.


Sudahlah nasi sudah menjadi bubur.


Naya masuk kedalam pekarangan rumah setelah melihat Jastin berlalu,"asalamualaikum "ia mencium tangan sang ibu yang berpapasan dari rumah Rangga.


"Waalaikumsalam, pulang sama siapa?"


"Sama temen bu,ita sama ila udah pulang belum bu?" tanya Naya sebari mengusap wajahnya.


"Udah mereka dirumah abang tuh ada temennya juga,katanya mau belajar bareng,,kamu pulang di anter cowo?" tanya bu Kasih dengan tatapan menyelidik.


Naya mengangguk membenarkan tidak ada untungnya juga jika berbohong,melihat respon naya membuat bu Kasih tersenyum lebar,"cie tiga putri ibu udah beranjak dewasa udah cowo-cowoan ey"godanya membuat naya menaikan sebelah alisnya.


"Bentar lagi punya pacar cieee-ciee" sambungnya menggoda naya sebari menoel pipi putrinya itu.


"Apasi bu" elaknya"emang ita sama ila juga di anter cowo?"tanyanya mengalihkan pembicaraan jika membahas tentang cowo dan abangnya tau bisa-bisa uang jajanya menipis.


"Iya adik-adik kamu dianter cowo kalo ga salah namanya Bintang sama Gara beuh mereka ganteng banget,yang anter kamu ganteng ga?" seru bu Kasih dengan nada antusias.


"Ibu mandang fisik mereka bukan ikan bu" jawab Naya sebari mereka beriringan masuk kedalam rumah.


"Realistis Nay,kalo ga ganteng seenganya kayalah,lumayan ga bisa pamerin mukanya bisa pamerin hartanya" seru buKasih terkekeh geli sendiri membuat Naya memutar matanya malas.


"Masa udah jelek ga punya duit mau jadi apa kamu nanti,seenganya sama yang ganteng juga kaya" sambungnya sebari terbahak.


Pantas saja anaknya perusuh orang tuanya saja begonoh!.


Didalam rumah Naila dan Nirbita juga Agnes yang diantar Devan kemari sedang belajar bersama sebari memakan camilan yang dibeli Nirbita diperjalanan tadi,sampai pokus mereka terganggu karna suara notifikasi ponsel.

__ADS_1


Nirbita mengambil ponselnya dimeja dan mengecek ada apa gerangan.


...Grup khusus friga!....


^^^Rangga :bantuin abang!.^^^


Nirbita :bantuin apa bang?.


Naila :hayo bantuin apa?,bukannya abang harusnya pdkt sama kak Fricia ya?.


^^^Rangga: itu dia abang perlu bantuin nih,abang mau jalan sama Cia nanti malam,tapi kalo Danis ngikut abang ga bisa berduaan sana cia(dengan emot kesal). ^^^


Nirbita: gausah diajaklah bang susah amat!.


Naila:-nirbita setuju!(dengan emot acungan jempol).


^^^Rangga: gaada yang ajak,dianya aja yang ikut mulu udah kaya anak ayam ngintilin ema bapaknya. ^^^


^^^Rangga: tadi siang aja dia ngerusuh pekara kamar hotel doang!(dengan emot kesal) ^^^


Nirbita: makanya udah ita bilang gausah ajak om Dan! (Dengan emot marah).


Naila: setuju! (Dengan emot lima jari)


...Rangga: abang kan mau kerja bukan jalan-jalan!,Danis harus ikut jadinya(dengan emot kecewa) ...


Naya : sekarang abang lagi dimana?


^^^Rangga:-Naya kebiasaan baru nongol,abang lagi dikamar mandi hotel.^^^


Naya:Naya baru mandi tau!,mandi ya mandi bang gausah sambil main HP juga(dengan emot kesal)


Nirbita:(emot memutar mata malas)


Naya: (emot mengintip)


^^^Rangga:abang ga lagi mandi ya(emot menutup wajah), abang lagi buat strategi biar bisa jalan berduaan nanti malam sama cia!,kalo bukan disini Danis bisa tau, terus ngerecokin abang! (Dengan emot emosi) ^^^


Naila:aku punya ide(dengan emot tangan angkat telunjuk)


^^^Rangga:apa? ^^^


Naya:apa?


Nirbita:ko ga yakin(dengan emot datar)


Naila:-nirbita ide aku bagus tau!,om Dan kunci aja dikamar hotel.


^^^Rangga:pasti gagal ila,kan danis bisa manggil petugas hotelnya buat bukain. ^^^


Nirbita:tuhkan idenya buruk (dengan emot koboy)


Naila:-nirbita (emot kesel).


Naya:kunciin dikamar mandi hotel aja bang.


Nirbita:nih ita punya ide,abang kasih om Dan obat tidur aja dijamin bakal anteng(dengan emot ngakak)


^^^Rangga:ga bawa obat tidur!^^^


Naya:eits aku baru inget,aku udah simpen obat tidur ditas kecil penyimpanan obat abang,disuruh Nirbita!


Nirbita:akukan antisipasi aja,ternyata obat tidurnya berguna juga(dengan emot ngakak)


Naila:pake ide kak ita aja bang,yang lebih meyakinkan(dengan emot memutar matanya)


^^^Rangga:yaudah abang pake ide ita aja,jangan keluyuran nanti malam! (Dengan emot setan bertanduk) ^^^


Naya-Nirbita-naila:(emot memutar matanya malas)


..........


Rangga keluar dari kamar mandi hotel setelah bertukar pesan digrup yang baru netas sejak ia mengatakan cintanya pada Fricia dipasar malam walau belum mendapat jawaban sampai sekarang,saat membuka pintu ia disuguhkan Danis yang sedang rebahan diranjang king size hotel dengan memainkan ponselnya.


"Abis investasi lo bos lama amat" cibirnya melirik sebentar ke arah Rangga dan kembali pokus pada ponselnya.


"Lebih tepatnya lagi nyusun trategi buat bunuh lo" hardik Rangga sebari melangkah kearah kopernya disudut ruangan.


"Kejam amat si lo bos,salah gue apa coba sampe mau dibunuh segala?" dengus Danis bergidik.


"Salah lo banyak!,sampe malaikat aja pusing nulis catatan dosa hidup lo" cibirnya membuat Danis mendengus.


Rangga tidak lagi menghiraukan asisten tidak berahlaknya itu,ia lebih pokus membuka koper untuk mencari tas kecil penyimpanan obat-obatan yang suka ia bawa jika berpergian seperti yang dikatakan nirbita untuk antisipasi.


Hap


Rangga tersenyum miring saat melihat yang ia cari didepan mata,pria itu langsung membukanya dan mencari obat yang akan ia gunakan untuk kelancaran masa depannya ini,rangga melirik Danis yang ternyata sedang bersungut-sungut kesal sebari menatapnya,mereka beradu tatap sampai Danis bergidik ngeri hingga melempar ponselnya diatas ranjang dan dirinya berlari kearah kamar mandi.


Brak

__ADS_1


Danis membanting kamar mandi hotel masih dengan dirinya bergidig ngeri saat mengingat senyum miring yang ditunjukan bosnya itu,"bos ga gaykan gara-gara kelamaan jomblo?"monolognya sebari mengusap wajahnya kasar.


__ADS_2