
"Naila Flores dari kelas IPA 10B dimohon untuk menghadap ke ruang kepala sekolah sekarang juga!,sekali lagi kepada siswi bernama Naila Flores dari kelas IPA 10B dimohon untuk menghadap ke ruang kepala sekolah!"suara anggap saja dari toa namun bukan toa masjid menggema dibangunan sekolah dengan syahdu.
"Lah itu si Naila ngapain dipanggil ke ruang kepala sekolah?" tanya Tara dikelasnya heran setelah mendengar nama Naila disebut dari pengeras suara.
"Belum bayar spp kali" jawab Sherli pura-pura acuh padahal hatinya juga sedang bertanya-tanya pada dirinya sendiri,,dirinya memang tidak peduli pada Naila bahkan terkesan mencuekinnya setelah tidak saling bermusuhan seperti awal semester satu lalu,tapi sebenarnya tidak begitu ada rencana yang mengharuskan ia bersikap acuh agar tidak mencurigakan.
"Masa sih?perasaan keluarga triplet termasuk orang beradadah,ga percaya gue kalo belum bayar spp" saut Tara.
"Kalo lo pengen tau lo salah tanya sama gue,tanya tuh sama orangnya sono" dengus Sherli.
"Aku udah tanya tapi ga dibales" saut Rini tiba-tiba bicara membuat dua temannya tersentak.
"Yaelah gue kaget,bisa ga lo kalo ngomong kode dulu biar gue ga kaget kalo nih jantung copot lo mau ganti!" rutuk Tara kesal.
"Emang gode buat ngomong gimana?" tanya Rini dengan wajah polos kelewatan oon.
"Bodoah pusing gue" ujarnya sebari mengusap rambutnya fruatasi jika harus meladeni Rini lebih lanjut,demi menjaga kewarasan lebih baik diam.
"Menurut lo dipanggilnya naila ke ruang kepsek ada sangkut pautnya sama si ular ga sih?" tanya Sherli lirih agar tidak didengar orang lain selain Tara dan Rini sudah sibuk dengen dirinya sendiri yaitu mencoret-coret bukunya sebab kesal dengan respon tara sebelumnya.
"Lo nanya gue?lah gue nanya siapa? " tanya Tara gemas,dirinya yang tidak ikut dalam rencana Sherli dan gadis yang dipanggil ular itu malah ditanya kaya gitu,lah Tara mana tau!.
"Ck gue cuma mau lo berpendapat!"
"Gatau sih,emang dia ga bilang udah buat ulah baru gitu ke Triplet sampe si Naila dipanggil kepsek?" tanya Tara
Sherli termenung Tara adalah teman yang bisa menjaga rahasianya dan ia yakin Tara tidak akan menghianatinya jikapun dirinya dihianati itu artinya selama ini Tara hanya memakai topeng munafik,jadi Sherli merasa aman jika menceritakan rahasianya pada temannya satu itu, bukannya Sherli tidak percaya juga bahwa rini bukan teman yang baik,Rini memang teman yang baik,polos kelebihan oonnya,maka dari itu jika gadis itu diberi rahasia sama saja dengan dirinya membocohkan rahasia itu sendiri.
"Engga sih,setelah dia ngasih tau rencana pas mau fitnah Nirbita pake bekel yang dia bawa buat kak Gara itu doang terus belum ngasih tau rencana selanjutnya" jawabnya mengingat rencana yang terakhir kali gadis ular itu rencanakan,,bekal yang diberikan pada gara atas nama Nirbita waktu itu sudah diberi obat pencahar,agar Gara akan sakit setelah memakannya dan menyalahkan Nirbita hingga hubungan mereka akhirnya rusak,,namun berhasil digagalkan.
Tara mengangguk paham,"Mungkin dia udah males kali ajak lo kerja sama makanya gerak sendiri"ujarnya memberi pendapat.
Wajah Sherli merenggut kesal,"Ga bisa gitu dong!,gue kan udah bantuin rusak hubungan Naila sama Nirbita ya walaupun ujungnya mereka baikan,tapi sekarang bahkan Naila satu geng sama kita jadi lebih mudah dikendalikan,kalo dia seenaknya bakal gue bongkar kebusukannya didepan triplet,awas aja!,"geramnya sebari mengepalkan tangan.
"Kalo dia bergerak sendiri terus nuduh lo gimana Sherli? " tanya Tara.
Sherli mengubah tatapannya menjadi dingin,"Kalo gue hancur jelas gue juga bakal bawa dia dalam kehancuran itu,,,dia yang punya strategi maka dia juga harus ikut menderita kalo gue menderita,,,gue ga bodoh kali yang bakal menderita sendiri atas kejahatan yang gue kongsi sama orang lain tapi hukumannya gue doang yang terima"geramnya.
"Gue cuma takut lo dijadiin kambing hitam sama dia itu aja sih!,,ya lo harus hati-hati jangan percaya gitu aja sama cewe ular itu,dia aja bisa hianatin temannya apalagi lo yang notabenya musuh temennya" ujar Tara menghawatirkan temannya itu,walaupun Sherli dominan keras,kasar dan suka membully,tapi dia hanya seorang gadis yang bisa disakiti dengan mudah.
"Yayaya makasih udah khawatirin gue,,lo tenang aja gue udah punya rencana cadangan ko dari awal,,santai,,"
"Kalian ngomongin apa si?" tanya Rini menyela ucapan Sherli sebari mencondongkan tubuhnya menatap dua temannya itu,sejak tadi rini melihat keduanya bisik-bisik tetangga kan Rini juga mau ikutan,masa ga diajak sih.
"Kepo!" saut keduanya membuat Rini cemberut lucu.
.
.
.
Disisi Triplet ketiganya tengah berjalan menuju ruang kepsek seperti informasi tadi,sebenarnya hanya Naila yang dipanggil tapi dua saudarinya itu ikut menemani,apalagi mereka yakin panggilan ini ada sangkut pautnya dengan masalah pembullyan yang dialami naila kemarin.
Semoga keadilan ditegakkan.
Ditengah perjalanan langkah mereka tertahan oleh sekumpulan kakak kelas yang sengaja mengejar langkah mereka siapa lagi jika bukan geng inti algaskar.
"Kalian mau kamana?" tanya Naya menatap datar sekumpulan remaja itu yang kini berbaris rapi dihadapan triplet seolah sedang acara baris berbaris.
"Gue mau ke ruang kepsek nemenin Naila" jawab Bintang.
"Ngapain?,lo ga diperlukan disana!" usir NAYA tidak mengijinkan teman sekelasnya itu ikut untuk menemani naila bertemu kepala sekolah.
"Ck kenapa lo yang sewot,Naila aja ga nolak iyakan na?" tanya Bintang hanya dirinya yang memanggil Naila dengan sebutan na beda dengan yang lain memanggilnya ila.
"Gausah kak bukan masalah besar ko,aku cuma lupa bayar spp aja kali makanya dipanggil kepsek buat ke ruangannya" jawab Naila berbohong karna tidak ada yang tau masalah yang terjadi kemarin samain yang bersangkutan dan juga trio wikw*k dan keluarga Naila.
Bintang mendesah kecewa namun tetap kekeh ingin menemani Naila,"Gapapa la aku temenin aja dari pada sama mereka"tunjuknya pada Naya lalu beralih pada Nirbita,"Mending sama aku biar urusannya cepat selesai"
"Ck kak Bintang ikut juga cuma nyesakin ruang kepsek doang mending gausah ikut" cibir Nirbita tidak suka dengan perkataan bintang tadi membuatnya menjadi ketus.
Naya menyeringai mendengar ucapan Nirbita,jika Nirbita tidak suka pada sesuatu maka ia akan menunjukannya langsung seperti kali ini jika begitu hubungan Bintang dan Naila tidak akan berlanjut,,,karna jika Nirbita tidak suka maka gadis itu akan memprovokasi agar orang disekitarnya meragu jika begitu maka Naya tidak perlu cemas adiknya akan berpacaran saat ini.
Jangan sampai sebab abangnya terus mengintrogasinya jika pulang sekolah menanyakan dirinya dan juga dua adiknya,dan selalu mewanti-wanti agar tidak dulu pacaran dan pokus belajar,,membuat Naya semakin bingung dengan hubungannya dengan Jastin nantinya apalagi ia belum yakin dengan hatinya.
"Kamu tuh ta yang gausah ikut sama si Naya,kalo gue sama Naila doang yang datang ga bakal bikin sesek" kekeh Bintang,"Urusan juga bisa cepet selesai lah kalo sama lo berdua pasti lebih banyak ngocehnya "
"Ckckck cowo tuh kebanyakan baikin sodara cewe yang dia suka lah kakak malah bencibir kaya gini,otw tereliminasi dari daftar calon ipar pacar naila!" cibir Nirbita dengan wajah merenggut kesal,"Trus kalian ngapain kesini juga?,kak Gara juga ikutan,kalian mau demo?!"sambunya menatap satu persatu inti Algaskar.
"Elah gue cuma mau liat pembuat film burung biru" jawab Farel.
"Lah ngapa jadi pembuatan film burung biru?,bukannya si Naila di panggil kepala sekolah ya?,jangan bilang kalo si naila ditawarin main film sama sutradara lewat kepala sekolah" selidik Aril.
"Iya si Naila ditawarin jadi tukang pulung" jawab Farel seenaknya.
"Enak aja!,ila kalo ditawarin main film tuh pasti jadi pemeran utama!" dengus Naila tidak terima.
"Bisa skip dulu kan nih debat pilkada, noh pak kepsek nunggu di ruangannya" ujar Naya jengah,"Lo pada gausah pada ikutan kaya mau antri sembako aja dah! tunggu aja kabar baiknya"sambungnya sebari menarik naila agar segera menemui kepala sekolah di ruangannya dan Naila masih berdiri disana menghalangi jalan.
Bintang hendak menyusul nala dan Naya namun tertahan tubuh Nirbita yang terus menghalangi jalannya lewat tubuh mungilnya itu,didepak dikit juga kejengkang kalo mau gara bikin babak belur pelakunya.
"Ngapaisi lo minggir sana!"
"Engga!,kak Bintang kalo gamau tereliminasi jadi calon pacarnya Naila mending gausah ikutin Naila dulu!,,kakak pikir aku gatau apa kalo kakak selama ini suka sama Naila,mungkin Naila ga peka karna dia polos kelewat BEGO tapi aku engga kak Naya juga engga,,,awas aja kalo kak Bintang sama kalian juga ikutan ke ruang kepsek aku bakal lapor sama Bang Es buat membumi hanguskan kalian!" ancamnya sebari mendengus dan pergi meninggalkan geng inti Algaskar yang bergeming ditempatnya jika membawa Elesky.
ABANG TENTARA TRIPLET.
Diruang kepala sekolah Naila sudah masuk ditemani Naya dan didalam sana sudah ada kepala sekolah itu sendiri,ada Aleta end the geng beserta orang tuanya,disini Naila dan Naya merasa menjadi anak terbuang karna tidak didampingi orang tua.
"Ouh jadi ini anak yang ga punya didikan yang udah bully anak saya!"ujar seorang pria paruh baya dengan nada geram.
Pria tadi menatap Naila dan Naya dengan tatapan menyidik dari atas sampai bawah seolah bocah bedua itu sebuah barang yang harus diseleksi.
"Tolong bapak sekalian tenang dulu saya perlu memanggil orang tua Naila untuk menyelidiki kasus ini agar lebih adil dari kedua belah pihak" ujar pak kepala sekolah.
__ADS_1
"Segera panggil orang tua mereka pak,saya tidak akan mentoleransi kekerasan pada putri saya!" ujar pria salah satu ayah dari geng Aleta,"Saya ingin tau orang tua mereka yang sudah gagal mendidik anak-anaknya!"
Naila dan Naya mengepalkan tangan mereka mendengar orang tua mereka dihina jika bukan karna menghormati para orang tua itu seperti didikan orang tua triplet,keduanya pasti sudah menonjok orang tua itu sampai memilih diam!.
Dari sorot mata kakak beradik itu tidak akan memancarkan ketakutan hanya ada tatapan amarah yang mereka tahan dengan cara diam memandang.
Naila yang menjadi korban lantas dirinya yang disalahkan,apa mereka tidak salah?.
"Saya akan segera memanggil orang tua Naila pak mohon bersabar" ujar kepala sekolah.
"Pak kepala sekolah saya sudah menelepon papih saya kemari tidak perlu ditelepon lagi,mohon tunggu" ujar Naya sopan kepada kepala sekolah.
"Hey kamu tidak sedang berbohong bukan?!" geram ayah Aleta,"Jangan coba-coba membohongi saya!,saya ini pemilik sekolah kalian tidak akan lepas dari hukuman,kalian akan saya keluarkan dari sekolah dan tidak akan ada sekolah manapun yang menerima kalian setelah dikeluarkan dari sini,saya jamin itu!"ancam pak Aldebaran ayah dari Aleta pemilik sekolah.
"Kami tunggu kabar baiknya pak!"ujar Naya dengan nada mengejek membuat orang tua dari geng Aleta mengeram marah.
"Kamu! "
"Maaf Pak saya tidak bermaksud menyela atau apapun hanya saja saya minta untuk bapak-bapak sekalian bersabar" sela pak kepala sekolah yang selalu berlaku adil kepada muridnya jika terbukti salah ataupun benar namun kali ini ia harus berhati-hati sebab yang dia hadapi bukan hanya orang tua dari muridnya namun juga pemilik sekolah ini.
"Anda membela mereka pak?!"
"Bukan begitu,,hanya saja saya tidak ingin ada keributan lebih lanjut,,pertengkaran anak-anak biarlah terjadi hanya antara anak-anak saja,anda sekalian sudah dewasa jadi tolong bersikap dewasa juga agar menjadi contoh baik bagi mereka,,,,saya tidak bermagsud mengajari hanya saja pertengkaran sudah terjadi pada anak-anak,orang tua sekalian tolong bersikap dewasa agar tidak kembali saling menyakiti" ujar pak kepala sekolah bersikap bijak.
"Sebaiknya segera hubungi orang tua mereka agar segera kita bahas pak!" ujar Pak Aldebaran.
"Baiklah"
Sedangkan di luar ruangan kepala sekolah disana ada Nirbita yang memutuskan hanya menunggu depan pintu saja setelah menelepon papih dimas untuk datang dan sudah menceritakan kejadian yang dialami naila,mereka sengaja meminta pak dimas yang datang sebab masalah pembulyan ini hanya diketahui triplet dan trio wikw*k dan sekarang pak Dimas yang sedang otw.
Nirbita duduk emperan dilantai sebari memainkan ponselnya santai tidak mengambil pusing masalah dibalik pintu bukan tidak peduli,hanya saja Nirbita yakin pak kepala sekolah selalu bersikap adil,,namun tidak tau sekarang sebab kasus ini menyangkut anak dari pemilik sekolah entah keadilan itu akan ditegakan atau tidak.
"Nirbita" suara familiar membuat siempunya nama mendongkak dan tersenyum cerah.
"Papih udah dateng monggo masuk" ujarnya mempersilahkan Pak Dimas untuk masuk ke ruang kepala sekolah.
Pak Dimas mendengus,"Kalian ini giliran masalah besar manggil papih"
"Kalo bukan papih siapa lagi coba?,pih yang didalam ada pemilik sekolah loh pih orang tua dari murid yang berselisih sama Naila,papih harus siapin mental kalo kalah debat!" ujar Nirbita tanpa mengubah posisi duduknya.
"Cuma pemilik sekolah,dewan pemerintah aja papih jabanin kalo urusan kalian mah,udah ah kamu tunggu di sini aja biar ga rame papih mau masuk dulu!" ujarnya diangguki Nirbita.
"Semangat papih tegakan keadilan!" ujarnya.
Pak Dimas sedang bertugas dikantor polisi setelah mendapat telepon dari nirbita yang memintanya datang untuk mengurus urusan pembulya yang terjadi pada Naila,Pak Dimas segera pergi untuk menemui kepala sekolah dan akan menegakan keadilan untuk keponakan yang sudah ia anggap anak itu.
"Permisi" ujar Pak Dimas setelah membuka pintu ruangan kepala sekolah tanpa mengetuk nya membuat orang-orang didalam tersentak kaget.
"Silahkan masuk pak" ujar pak kepala sekolah mempersilahkan pak dimas masuk,"Ada yang perlu saya bantu pak?"tanya pak kepala sekolah sebab tidak mengenali pria yang baru saja memasuki ruangannya ini yang berseragam polisi dengan Bintang.
Pak kepala sekolah tersentak kaget melihat polisi datang membuatnya menghela napas karna jika begini masalah akan panjang padahal bisa diselesaikan secara kekeluargaan bukan?,untuk masa depan anak itu sendiri.
"Polisi!,,,saya memang ingin membawa kasus ini pada polisi anda bisa mengambil keputusan secara cepat juga kepala sekolah," puji pak Aldebaran beranggapan kalo Pak Dimas datang atas panggilan pak kepala sekolah untuk kasus ini,,walaupun memang namun dengan alasan berbeda.
"Saya tidak memanggil pihak berwajib pak" ujar pak kepala sekolah bingung,jika bukan para orang tua murid maka siapa yang memanggil polisi.
Orang tua geng Aleta mengangguk setuju.
"Kenapa harus begitu pak?,kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan kekeluargaan kenapa harus bawa-bawa polisi,kita bisa memberi sanksi kepada mereka jika mereka terbukti bersalah,,"
"Jika dibiarkan mereka akan semakin semena-mena pak,mereka masih kecil tapi sudah bisa membuat orang lain terluka mereka harus diberi pelajaran agar jera!" sela pak Aldebaran kekeh membawa masalaha ini dalam urusan hukum.
Geng Aleta hanya menyimak sesekali terisak dipelukan ibu mereka masing-masing namun saat menatap naila mereka tersenyum miring.
"Polisi saja sudah datang tapi lihat orang tua mereka sampai sekarang belum terlihat batang hidungnya sekalipun,pantas saja anaknya menjadi pembuly karna kekurangan kasih sayang!" timpal pria lain.
Situasi semakin memanas mereka terus menyudutkan,mencaci dan menghina Naila dan Naya hingga orang tua bereka disebut-sebut,tentu saja kedua kakak beradik itu tidak terima kali ini bukan karna sopan santun mereka diam saja tapi karna permintaan papih mereka,Pak Dimas mengode mereka untuk bersabar dahulu.
Pak kepala sekolah kewalahan menenangkan orang tua dari geng Aleta yang terus melontarkan perkataan penghinaan membuatnya geram dan cara terbaik adalah menghubungi orangtua Naila agar segera datang!.
"Pak saya mohon bersabar dahulu jangan tersulit emosi pak,tidak baik mengatakan hal buruk tentang orang lain pak,saya minta bapak-bapak sekalian tenang" pinta pak kepala sekolah sebari menekan telepon untuk menelepon orang tua Naila.
"Diam!" pekik Pak kepala sekolah tersulit emosi,orang tua dari geng Aleta ini terlalu mengangungkan diri mereka masing-masing membuatnya kesal,,tidak seharusnya orang tua melontarkan ujaran kebencian didepan anak-anak.
Orang tua yang harusnya menjadi contoh baik jika terus dibiarkan maka akan semakin menjerumuskan anak-anak mereka dalam pelajaran buruk dalam hidup.
"Anda membentak saya hah?!,berani sekali Anda!,anda ingin saya pecat sekarang juga hah saya pemilik sekolah ini!" pekik Pak Aldebaran tidak terima jika kepala sekolah menaikan nada bicaranya padanya.
Pak kepala sekolah menghela nafas panjang untuk mengontrol emosinya yang terpancing,"Jika bapak-bapak terus membuat keributan dan juga mengatakan ujaran kebencian seperti tadi maka maafkan saya,saya akan meminta pak polisi untuk membawa kalian kekantor polisi atas laporan yang akan saya berikan pada mereka,saya akan melaporkan kalian atas tuduhan pencemaran nama baik,ujaran kebencian,tindakan tidak menyenangkan dan lainnya jadi,,,,"ujar pak kepala sekolah dengan nada tenang setelah berhasil mengontrol emosinya yang terus tersulut.
"Anda mengancam saya hah!,saya pemilik sekolah ini dan Anda yang hanya bawahan yang saya perintahkan untuk mengurus sekolah ini ngelunjak tidak tau diri!" pekik Pak Aldebaran tidak terima dengan ancaman pak kepala sekolah.
Pak Dimas sejak tadi hanya diam mengontrol emosi dengan perkataan buruk yang mereka lontarkan,,,tentu saja ia sakit hati sebagai manusia biasa namun dia juga salut pada kepala sekolah yang tidak mendukung siapapun sebelum bukti ditunjukan,sekaligus tidak tunduk pada yang bersalah sekalipun yang salah adalah atasannya sendiri,pemilik sekolahan ini.
"Apa kalian susah selesai?" tanya Pak Dimas dengan suara bernotasi tinggi sekaligus tenang.
Pak Aldebaran yang tengah menekan pak kepala sekolah bersama dua pria paruh baya lainnya terdiam dan segera mengalihkan pandangan kearah Pak Dimas.
"Maaf kan kami atas ketidak nyamanan ini pak polisi,saya tidak terima anak saya dipululi sampai babak belur begini saya minta Anda mengusut masalah ini hingga tuntas,jika bisa saya ingin mereka dipenjara!"
"Pak saya mohon bersabar mohon tunggu orang tua dari Naila agar masalah ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan" bujuk pak kepala sekolah.
"Tunggu mana? Sejak tadi orang tua mereka belum juga muncul mungkin tidak akan muncul,mereka memang keluarga bede,,"
"Stop" pekik Pak Dimas tidak sanggup lagi jika keluarganya dihina,tatapan pria polisi itu menajam menatap pak Aldebaran dengan tatapan menantang.
"Bisa tolong diam!,sejak tadi kalian semua sudah banyak berbicara sehingga membuat telinga saya rasanya budeg,kini giliran saya dan kalian diharap hanya menjadi pendengar saja!" ujar Pak Dimas.
Suasana ruangan kepala sekolah yang tadinya bising kini sedikit tenang walau auranya terasa mengintimidasi,"Pertama saya akan mengenalkan diri nama saya Dimas saya orang tua dari triplet!"
Geng Aleta mendengar itu terbelalak mereka baru tau jika orang tua triplet adalah seorang polisi pantas saja triplet tanpa nirbita terlihat tenang sejak tadi.
Ekpresi pak kepala sekolah juga sama terkejutnya mendengar pengakuan setatus Pak Dimas tadi,pak kepala sekolah hanya mengenal Rangga sebagai wali mereka yang pernah ia temui dua kali ini,pertama saat pendaftaran sekolah dan kedua saat triplet dipanggil karna sudah membuat keributan bersama geng sherli dibab(1) jadi ia juga tidak mengenali orang tua triplet secara langsung hanya nama yang ia ketahui,namanya Pak Jeje jika di kk.
Kecuali orang tua geng Aleta yang terlihat bingung,"Siapa triplet kami disini tidak sedang membahan anak bernama triplet itu pak,namun jikapun begitu Anda bisa terlebih dahulu menangani kasus pembulyan yang didapat putri saya ini"ujar pak Aldebaran.
__ADS_1
Pak Dimas lagi-lagi menghela nafas,"Saya orang tua dari mereka,saya yang sejak tadi Anda hina pak pemilik sekolah!"ujar pak dimas tersenyum miring penuh ancaman.
"Anda mengatakan banyak hal buruk tentang saya dan putri-putri saya,tentu saja saya tidak terima namun saya tidak akan membalas ucapan Anda dengan ucapan hanya membuang waktu saja bukan?" tanya Pak Dimas dengan suara menekan dan tak membiarkan siapapun diruangan ini bersuara kecuali dirinya.
"Tenang saja karna semua perbuatan ada timbal baliknya dan saya harap itu berlaku kepada semua orang termasuk kalian,,,ah ya kenapa kalian diam?,kalian tidak ingin menghina saya lagi begitu?,,,tentu saja kami orang tua triplet sudah mendidik mereka semampu kami,kami tidak merasa gagal,tentu saja!,kenapa?,,,kalian ingin tau?,,,lihat kedua putri saya ini dan ya satu putri saya sedang diluar mendengarkan semua perkataan kalian sejak tadi tentang kami,,,mereka tetap diam padahal jiwa raga mereka ingin mengamuk mendengar penghinaan kalian,kenapa?,sebab saya yang memintanya sejak tadi,,,lihat kedua tangan putri saya" ujar Pak Dimas dengan nada dingin,"Mereka bergandengan tangan saling menguatkan agar tidak mengamuk,kesabaran mereka hanya setipis tisu tapi kali ini mereka mencoba menebalkan tisu itu agar bisa menuruti permintaan saya sebagai orang tua mereka"
"Mereka tidak pernah mengecewakan kami walau selalu membuat masalah,tentu saja kalian akan mendapatkan balasannya atas apa yang kalian ucapkan tadi,,," Pak Dimas menjeda perkataannya lalu menatap kedua putrinya yang sudah merah padam siap melontarkan emosi mereka jika Pak Dimas ijinkan.
"Kalian keluar dulu gih temenin Nirbita diluar kalo papih panggil baru masuk oke!" pintanya mengubah tonasi bicara yang tadinya dingin menjadi lembut.
"Baik pih" jawab keduanya sebelum kakak beradik itu pergi mereka beradu tatap dengan geng Aleta sebari melemparkan aura permusuhan.
Geng Aleta memutuskan tatapan mereka terlebih dulu lalu menunduk mereka masih ingat kejadian pembulyan kemarin yang membuat mereka masuk rumah sakit,sangat mengejutkan!.
"Kalian juga keluar!" pinta Pak Dimas pada geng Aleta.
"Kenapa Anda meminta mereka keluar?,, mereka"
"Anda tidak saya ijinkan bicara!," sela Pak Dimas tidak ingin dibantah tonasi bicaranya kembali dingin dan menekan,"Kalian bertiga tunggu diluar,saya ingin menyelesaikan masalah ini dengan orang tua kalian dulu,dan saya harap kalian tidak membuat keributan saat diluar ruangan ini,jangan membuat masalah baru saat masalah lama belum kalian selesaikan!"
Geng Aleta mau tidak mau keluar dari sana dengan perasaan takut.
"Saya ingatkan jika kalian terlalu banyak bicara akan membuat tenggorokan sakit jadi lebih baik diam!" entah kenapa mereka menurut mungkin karena aura Pak Dimas yang mendominasi sebagai ketua kepolisian saat ini yang tengah mereka hadapi.
"Pak kepala sekolah bisa Anda ceritakan laporan yang mereka katakan pada Anda tentang masalah ini?" tanya Pak Dimas.
"Pertama saya ingin meminta maaf terlebih dahulu sebab kericuhan tadi" ujarnya namun segera ia hentikan agar masalah anak-anak yang menjadi membesar ini bisa diselesaikan dengan cepat barulah ia akan meminta maaf secara langsung nanti,"Begini Aleta dan teman-temannya melaporkan bahwa sudah ada aksi pembulyan terhadap mereka kemarin sore diarea sekolah tepatnya didalam kamar mandi saat jam pulang sekolah yang dilakukan Naila"ujarnya sejujurnya menceritakan apa yang ia dengan dari aleta saat melaporkan masalah ini padanya.
Pak Dimas mengangguk, "Baiklah pak pemilik sekolah bisa Anda katakan apa yang sudah diceritakan putri Anda tentang pembulyan ini,setidaknya katakan putri Anda mengalami luka apa dan sebanyak apa?" tanya Pak Dimas menatap pak Aldebaran dengan tatapan benci sebab pria itulah yang dominan menghina keluarganya.
"Anda jangan sok berkuasa mentang-mentang Anda seorang polisi pak!,Anda bisa saya laporkan atas tindakan berlapis karna sudan mengancam warga sipil!"ujar pak Aldebaran bukannya menjawab seperti pertanyaan.
"Ckckck sejak tadi yang sok berkuasa disini saya atau Anda pak pemilik sekolah?,,hanya disini sebagai warga sipil tidak berpangkat berbeda dengan Anda yang sebagai pemilik sekolah yang berkuasa,,,kembali ketopik sebelum saya menelepon anak buah saya untuk menangkap Anda atas laporan ujaran kebencian!" ujar Pak Dimas tak akan mau kalah apalagi pria itu sudah menghina keluarganya sejak tadi.
"Pak Aldebaran saya mohon jawab saja pertanyaan Pak Dimas agar masalah ini bisa segera menemukan titik terang" pinta pak kepala sekolah yang sudah naik pitan ssjak tadi,tinggah orang dewasa itu lebih buruk dari anak-anak.
"Putri saya semalam dirawat dirumah sakit dengan luka lembab diwajahnya,tulang sendi tangannya juga tergeser" ujar Pak Aldebaran sebari melempar laporan medis keatas meja tetang luka yang didapat putri-putri mereka.
Tadi keadaan geng Aleta memang menyedihkan Aleta sendiri wajahnya penuh lembab sudut bibirnya dipasang plester di dahinya terpasang kapas dan tangannya memakai penyanggah,,kedua temannya juga tidak terlihat baik ketiganya berjalan pincang diwajah masing-masing juga terdapat memar.
Pak Dimas meringis mendengar kabar yang terjadi pada Aleta dan gengnya jika triplet yang melakukan itu semua pak dimas tidak bisa menyangkal mengingat mereka pernah masuk peguruan bela diri,namun ada yang aneh disini.
"Apa?!maaf Pak saya merasa ragu dengan ucapan bapak,bukannya saya menganggap Anda berbohong hanya saja tidak mungkin naila melakukan itu semua seorang diri,dilihat dari tinggi badan saja Aleta dan teman-temannya lebih besar dari mereka,tidak kemungkinkan untuk naila melakukan tindakan kekerasan begini besar seperti yang Anda tuduhkan" ujar pak kepala sekolah secara detail agar tidak menyinggung pemilik sekolah ini.
Ucapan kepala sekolah seperti pencerahan mereka semua terdiam memikirkan apa yang beliau ucapkan,ada yang janggal disini,"Anda benar!,mungkin saja putri kami hanya melaporkan anak bernama Naila saja sedangkan yang membantunya tidak mereka kenali,karna memang tidak mungkin gadis itu melakukannya sendiri ataupun berdua dengan gadis disampingnya tadi,,,jika benar ini memang sudah masuk ranah hukum saya harap bapak masalah ini terusut tuntas dan semua pelaku yang membully putri kami dihukum dengan adil!"ujar Pak Aldebaran yakin bahwa Naila tidak melakukannya seorang diri namun putrinya hanya melaporkan naila karna tidak mengenal siapa yang membantu gadis itu.
"Saya juga ingin masalah ini terusut tuntas dan para pelaku mendapatkan hukuman setimpal" timpal orang tua lainnya.
"Tentu saja keadilan akan ditegakan!" ujar Pak Dimas.
"Ya saya harap Anda tidak bertindak curang pak!" cibir Pak Aldebaran membuat Pak Dimas berdecih.
"Entah putri saya bersalah atau tidak tapi kalian semua akan berada di jeruji besi setelah ini!" ujar Pak Dimas bukan mengancam hanya memberitahu bahwa Pak Dimas akan membawa ke ranah hukum tentang ujaran kebencian yang mereka katakan sebelumnya.
"Kita lihat saja siapa yang berada di jeruji besi setelah ini,saya atau putri anda! Bahkan anda akan kehilangan pekerjaan anda!"
"Semoga anda bisa mempertahankan kesombongan anda setelah ini" ujar Pak Dimas,"Pak kepala sekolah bisa saya melihat rekaman CCTV diruangan ini?"tanyanya kembali pada topik utama.
"Maafkan saya pak tapi kami tidak memasang CCTV di toilet" jawabnya.
"Itu bagus!,tapi saya tidak mengatakan ingin melihat CCTV ditoilet bahkan jika ada CCTV di dalam toilet maka saya akan menangkap anda karna sudah termasuk dalam pelecehan pada murid-murid anda,saya hanya ingin melihat CCTV disetiap lorong ataupun kelas disekolah ini" ujar Pak Dimas.
"Untuk apa anda melakukan itu?,hanya membuang waktu! Langsung saja kita kekantor polisi dan memberi mereka hukuman!" ujar Pak Aldebaran menyela.
"Maaf Pak kita perlu menyelidiki ini terlebih dahulu untuk mendapatkan siapa yang sudah membantu naila melakukan kejahatan terhadap putri anda" ujar Pak kepala sekolah mencoba menemukan pihak orang tua Aleta.
"Baiklah pak saya akan meminta pihak CCTV untuk membawa rekamannya kemari tunggu sebentar" ujar pak kepala sekolah tentang CCTV.
Mereka menunggu dalam senyap dengan pikiran masing-masing,keluarga dari Aleta dan teman-temannya sedang memikirkan siapa yang membantu naila begitupun pak kepala sekolah,sedangkan Pak Dimas sedang memikirkan hal yang sama hanya saja sedikit janggal.
Saat ditelepon Nirbita menjelaskan kronologi jika naila dibully saat ingin mengambil bukunya dikelas dan diseret ke toilet oleh tiga gadis kakak kelasnya,namun saat datang kenapa malah mereka menuduh Naila membuly ketiga kakak kelasnya itu,Pak Dimas sedari tadi hanya memikirkan teka-teki ini apa pihak bersalah mencoba memutar balikan fakta karna salah satu dari mereka pemilik sekolah?,entahlah perlu diusut tuntas,jika benar mereka memutar balikan fakta maka tidak akan pak dimas lepaskan mereka setelah ini.
Tok tok tok
"Permisi pak saya kemari membawa rekaman cctv yang Anda minta" ujar seseorang yang baru saja mengetuk pintu.
"Silahkan masuk" orang itu masuk membawa sesuatu yang akan menjadi titik terang masalah ini.
Orang itu mulai mengutak atik leptop yang ia bawa lalu menunjukan rekaman didalamnya,"Ini rekaman CCTV diarea sekolah dijam kemarin pak"
Mereka menonton dalam diam,"Tunjukan saat jam pulang sekolah!"pinta Pak kepala sekolah dilakukan orang pihak CCTV.
Rekaman sudah menunjukan jam dimana para murid membubarkan diri dari kelas berbondong-bondong bahkan saling mendorong..
"Tunjukan rekaman dikelas IPA 10b!" pinta Pak Dimas sebab seperti yang Nirbita katakan ditelepon jika Naila dibawa paksa dari kelas saat mengambil buku yang tertinggal,dikelas itu pasti ada bukti jika benar yang dikatakan Nirbita.
Orang tadi lagi-lagi menuruti perintah,rekaman dipokuskan pada CCTV yang dipasang dikelas IPA 10b setelah pulang sekolah disana terlihat ada lima orang yang belum keluar kelas..
Lima orang itu terlihat sedang bercanda lalu tiga orang dari mereka meninggalkal kelas tersisa dua gadis yang sekilas terlihat mirip,,,didalam rekaman dua gadis itu mengambil sapu dan mulai menyapu isi kelas sudah terbukti dari rekaman jika mereka sedang melakukan piket harian.
"Percepat!" pinta Pak Dimas.
Rekaman dipercepat beberapa menit hingga mereka keluar dari ruangan.
"Kenapa Anda seperti tengah mengulur waktu pak?!,kita bisa melihat langsung rekaman CCTV pada lorong toilet!" ujar Pak Aldebaran tidak sabaran.
"Lebih baik Anda diam saja!,saya tidak butuh saran anda" cibir Pak Dimas membuat Pak Aldebaran geram,"Percepat!"pintanya lagi.
Rekaman kembali dipercepat namun masih ditempat yang sama hingga disana terlihat gadis tadi yang tengah piket kembali masuk kedalam kelas kini seorang diri,terlihat dari gerakannya gadis itu tengah mencari sesuatu terbukti saat ia mengambil buku yang ada dibawah meja,saat gadis itu memasukkan buku kedalam tas terlihat dari arah pintu ada tiga gadis lainnya yang baru saja masuk dan langsung mendorong gadis tadi.
Hingga akhirnya gadis pencari buku tadi yang tidak lain adalah Naila diseret oleh tiga gadis itu yang wajahnya terlihat jelas,Aleta dan dua temannya.
Wajah Pak Dimas memerah dengan amarah siap meledak SEJAKTADI!,sedangkan orang tua Aleta dan teman-temannya menatap monitor tidak percaya dan terus menyangkal bahwa rekaman itu sudah diedit.
Pak kepala sekolah semakin bingung dengan situasi ini,entah siapa yang salah,dari rekaman CCTV terbukti Aleta dan teman-temannya menyeret Naila dari kelas sampai kedalam toilet setelah itu entah apa yang terjadi tapi bisa kita tebak bukan?!.
__ADS_1
Dan tidak ada lagi yang masuk kedalam toilet itu setelah itulah.
Hanya saja kenapa Aleta yang malah mendapatkan luka parah bersama teman-temannya tidak mungkin mereka dikalahkan Naila yang terkenal gadis absurd yang cengeng itukan!,sungguh tidak masuk akal!.