DIARY TRIPLET N

DIARY TRIPLET N
Kesabaran yang terkuras


__ADS_3

Diluar ruang kepala sekolah setelah Aleta dan dua temannya keluar mereka bertemu triplet komplit bahkan disana ternyata ada Risa yang entah sejak kapan menemani triplet.


Risa hanya menunduk malas menatap kakak angkatnya yang sudah merebut orang tuanya dan memperlakukannya seperti anak tiri padahal anak kandung.


"Kalian akan dihukum bahkan bisa jadi dipenjara walaupun bokap lo polisi,tapi bokap gue lebih mampu untuk ngancurin hidup lo karna udah bikin gue kaya gini!" ancam Aleta dengan tatapan permusuhan.


Prok-prok-prok


Nirbita bertepuk tangan sedangkan wajah mengejek lalu bekata,"Percaya diri boleh tapi ya jangan berlebihan gituloh takutnya dijatuhkan karna terlalu berharap!"ejeknya.


"Lo!" tunjuk teman Aleta,"Kalian bakal dikeluarin dari sekolah terus mendekam di penjara,,,perlu lo tau bokapnya Aleta pemilik sekolah ini"bangganya.


"Gue nanya gitu?" ejek Naya,"Kaga bahkan gue ga peduli mau lo anak penjabatke,anak batu bata ke bodo amat,jadi anak angkat orang kaya aja bangga apalagi kalo kaya kita yang terlahir udah kaya"cibirnya mengejek setatus Aleta.


"Lo bakal abis ditangan bokap gue!" ancam Aleta geram karna sudah dihina.


"Dipikir kita makanan kali ya sampe abis kitu" ejek Naila.


Aleta maju bersama teman-temannya walaupun jalan mereka pincang bahkan tangan Aleta memakai penyanggkah mereka tetap saja sombong.


Risa menunduk bukan karna takut ia sudah kehilangan respek takut pada kakak angkatnya itu dan selalu tidak peduli sekarang ia sedang berkecamuk dengan pikiran dan juga hatinya.


"Apa mau gelut ayo!" tantang Naya yang memang sudah menahan emosi sejak mendengar cerita dari Naila samalam, namun ia masih bisa menahan karna suatu alasan.


"Awas aja lo!" ujarnya memperingati sebari mengancam,sorot mata mereka menatap menatap naila dengan tatapan benci dan tak percaya!.


Ketiganya bergidig ngeri mengingat kejadian dimana pembulian kemarin,menyebalkan!bisa dibilang buah simalakama!.


Seorang pria masuk kedalam ruang kepala sekolah entah untuk apa mereka juga tidak bertanya dan hanya saling melempar tatapan tajam.


"Gue ga bakal maafin siapapun yang udah hina keluarga gue!" guman Naya dalam hati dengan tangan mengepal penuh dendam mengingat perkataan orang tua Aleta sebelumnya.


Hampir satu jam mereka di luar ruangan kepala sekolah hanya saling menatap penuh benci.


"Huhh aku cari kemana-mana ternyata kalian masih disini,gimana urusannya udah selesai?" tanya Agnes yang baru datang bersama vania dan bahkan ada geng inti Algaskar yang juga ikut kearah triplet dijam istirahat ini.


Ya saking lamanya masalah ini diusut triplet bahkan meninggalkan jam pertama hingga kini sudah jam istirahat saja.


"Udah selesai gamungkin masih anteng disini kali" jawab Nirbita kesal sekaligus bosan duduk emperan didepan ruang kepala sekolah sudah seperti pengemis saja.


"Ya iyalah masalah lo ga bakal selesai lo aja anteng disini bukannya masuk sana!" ujar Farel mendengus.


"Ceelah kalo gatau apa-apa diam aja dah,ah banyak cingcong banget" cibir Nirbita jengah,"Udah ah kalian kalo mau stay disini sok,silahkan,monggo,ita mau out mau cari makan buat luapin lahar yang dari tadi ditahan! " ujar Nirbita geram,magsud lahar yang ia magsud adalah kekesalan walaupun dirinya berdiam diluar ruangan kepsek tapi ia masih mendengar suara menghina untuk keluarganya,jika bukan karna suatu hal ia sudah melupakannya sejak tadi arggg.


Nirbita bangkit dari duduknya gadis itu mengibaskan tangannya dibagian bokong untuk membersihkan dari debu yang tertinggal barulah berjalan meninggalkan mereka semua dengan rasa kesal,marah yang tertahan.


"Dia banggain banget jadi pemilik sekolah lihat setelah ini dia masih bisa banggain diri atau engga!Nirbita Aster bukan orang jahat namun tidak baik juga,awas aja,ga boleh ada yang hina keluarga aku!"guman Nirbita disetiap langkahnya dengan lirih dan penuh penekanan ternyata langkahnya diikuti Gara dari belakang.


Gara tau Nirbita sedang tidak baik-baik sekarang dia hanya ingin menemani saja jika bisa memberi solusi maka akan ia berikan apapun itu.


Didepan ruang kepala sekolah Aleta dan teman-temannya berdecih sengit," Caper banget n*jis"umpat Aleta menatap benci pada triplet dan kawanannya kini.


"Cieeee iri" ejek Farel.


Bintang mendekati Naila yang masih duduk emperan dilantai dengan kaki di selonjorkan dan punggung ia sandarkan ditembok,sejak tadi naila hanya diam padahal gadis itu yang selalu cerewet tapi kini hanya diam dengan tatapan kosong dan sesekali menyeka sudut matanya yang mengeluarkan air mata.


Bintang duduk disamping Naila,pria itu menggenggam tangan Naila dengan lembut "Kamu tenang aja oke kamu ga sendirian" ujarnya memberi semangat.


Naila tidak menanggapi gadis itu hanya menatap kosong kedepan,Naya yang sejak tadi mencibir dalam hati bahkan mengumpati keluarga Aleta yang sudah menghina keluarganya tadi,sejak tadi ia mencoba sabar dalam diamnya namun hatinya terus berkecamuk untuk membalas perkataan mereka.


Naya tersentak mendengar perkataan Bintang tadi,naya menoleh kearah Naila yang duduk disampingnya Naya sedikit tersentak ketika di sisi lain nNaila bukan lagi Nirbita namun Bintang,"Udah gapapa"ujar Naya memberi semangat sebari mengelus rambut Naila dengan sayang sekaligus memindahkan kepala Naila yang bersandar pada tembok menjadi bersandar di bahunya.


"Si Nirbita mana?,kalian juga sejak kapan disini?" tanyanya menatap teman-temannya yang tengah berdiri menatapnya juga.


"Hah?,,,lo ga enggeh pas kita datang?" tanya Devan bingung.


"Kalo engeh ga bakal nanya!,si Nirbita mana?" tanyanya lagi menanyakan Nirbita dengan penuh khawatir,ia takut Nirbita melakukan sesuatu hal diluar batas karna marah.


Pada akhirnya kalian akan tau triplet ini prantagonis atau antagonis di novel ini yang jelas merekalah pemeran utamananya,yang menceritakan kisah hidup mereka yang penuh dengan drama.


"Mau cari makan katanya,lo tenang aja tadi Gara udah ngejar tuh bocah" jawab Farel mengerti kekhawatiran Naya.


Naya bernapas lega setidaknya jika ada gara adik sepupunya itu bisa mengendalikan diri.


Naya memiringkan wajahnya untuk melihat wajah Naila yang sejak tadi menangis dalam diam sebari terus mengusap lelehan airmata yang keluar, jika saja Naila mermaid,air mata mermaid kan berubah jadi mutiara tuh,nah Naila pasti akan menjadi Sultan setiap menangis mendapat mutiara nah sekarang mutiara nya pasti sudah seember saking banyaknya menangis.


Naya mengusap kedua pipi Naila,"Gausah cengeng semua yang terjadi bakal ada timpal baliknya,udah sekarang kita cuma bisa sabar,, tenangin diri ok"ujarnya mencoba menenangkan Naila yang sedang dizolimi,dirinya yang dibully dirinya yang malah disalahkan.


"Bener kata si Naya karma selalu nyata,udah gausah nangis gue tau ko lo dari orok emang cengeng jadi gausah diperjelas lagi,,makanya lo banyakin nonton film azab biar tambah dramatis gitu" uang Davri mencoba menghibur Naila dengan caranya.


"Kak Naya ga ngomongin karma,kak Naya cuma bilang tumbal balik doang" saut Naila lesu masih dengan tatapan kosong.


"Umpama ege,magsud si Davri itu umpama,paham ga silo?,,,eh bukan tumbal tapi timbal,,,tapi bagus juga kalo kakak kelas beban keluarga itu jadi tumbal proyek lumayan ga tuh,,, makin kaya dan keluarga lu,asal jangan lupa aja sedekah sama gue"ujar Wahyu ikut untuk menghibur Naila,mereka selalu mempunyai cara masing-masing untuk membantu satu sama lain.


Magsud Wahyu untuk menumbalkan Aleta dan dua temannya akan sangat menyenangkan sekaligus mengurangi sepesiel sampah negara gitu.


"Sesama beban keluarga gausah saling mencibir gitu loh" saut Naila masih seperti tadi.


"Lo tau kanibal kan la?" tanya Rezaldi membuat Naila yang tadinya menatap kosong kini terusik bahkan dahinya mengerut.

__ADS_1


"Kenapa kak?" tanyanya bingung.


"Nih ya kanibal tuh memakan sesama begitupun si Wahyu,saling menumbalkan sesama beban keluarga" ujar Rezaldi membuat wahyu mendengus sedangkan Naila kembali terdiam.


Melihat Naila yang kembali diam membuat mereka menghela napas sepertinya mereka gagal menghibur gadis itu agar kembali cerewet dan ceria.


Aleta berdecih sinis pada Naila,"Lo pada bakal nyesel udah temenan sama orang bermuka dua kaya dia,diluarnya aja terlihat polos aslinya membagongk*n!"cibir Aleta membuat atensi kearahnya dengan penuh benci.


"Cih ngomongin diri sendiri!" ejek Risa membuat mereka tersentak kaget karna Risa yang mereka kenal adalah gadis pendiam dan penakut namun kali ini dari sorot matanya penuh dendam,bahkan notasi bicaranya tidak kalem seperti biasanya.


"Lo udah berani ternyata,,mentang-mentang sekarang lo punya teman lo anggap lo lebih unggul dari gue gitu,,halu kali lo,,lo tetap anak kandung yang dianak tirikan orang tua kandung lo" ejek Aleta mengeram kesal.


"Ckckck lo tuh yang halu,gue diam bukan berarti gue takut!,,dan satu hal gue dari dulu emang udah lebih unggul dari lo kalo engga lo gamungkin takut tersaingi dengan keberadaan gue ini" cibir nya tersenyum miring.


"Lo udah banyak ekting buat dapetin perhatian orang tua kita ups magsud gue orang tua gue,lo cuma anak angkat gatau diri sih,tapi lo lupa ya kalo gue tetap anak kandung mereka mau bagaimana pun mereka benci gue,,,darah mereka tetap ngalir ditubuh gue sekalipun gue mati!gue tetep anak kandung mereka" sambungnya mengejek Aleta.


"Wah lo kaya baru terlahir kembali ga sih Ris?!,kenapa ga dari lama aja lo kaya gini keren aura lo menekan banget" puji Aril salut walaupun belum tau masalah risa dan aleta bahkan belum tau hubungan mereka tapi ia senang dengan respon Risa yang melawan tidak seperti biasanya hanya pasrah,"Salut gue!"


"Bener kata Aril,lo kaya gini setiap hari ke biar ga dibully mulu,emang lo gacape apa dibully mulu heran gue,nih ya kalo lo sekarang lagi kesurupan gue berdoa banget biar tuh jurig ga keluar dari tubuh lo,biar aja dia ngambil alih tubuh lo biar ga ditindas mulu!" timpal Rezaldi.


"Bukan kesurupan si Risa mah tapi terkontaminasi sama sikap si triplet" timpal Farel,"Ada gunanya juga hidup lo triplet"puji nya sebari mengacungkan jempol ke arah Naila yang masih stay seperti tadi,bersandar pada Naya dengan tatapan kosong hanya saja kini tidak menangis.


Aleta mengepalkan tangannya semua yang Risa katakan ada benarnya,ia memang tidak tau diri,memangnya salah jika takut orang tua angkatnya membuang dirinya setelah keberadaan Risa,,,ia tidak mau hidup dijalanan, Satu-satunya cara mempertahankan semuanya hanya dengan kepergian Risa tapi gadis itu tidak pernah ingin pergi walau sudah dikasari.


Aleta benci dengan kenyataan tentang dirinya anak angkat dirinya sangat membenci hal itu bahkan juga membenci Risa karna keberadaannya,padahal Risa tidak pernah berbuat buruk padanya,,Aleta egois untuk kebahagiaannya apa dirinya salah?,bahkan Aleta bisa membunuh Risa untuk mempertahankan posisinya didalam keluarganya,tidak boleh ada yang orang tuanya sayangi kecuali dirinya,hanya dirinya yang harus mendapatkan kebahagiaan dari orang tuanya.


.


.


.


Didalam ruang kepala sekolah masih memanas seperti tadi,keluarga Aleta dan kedua temannya masih menyangkal bahwa putri-putri mereka yang salah dalam kasus pembullyan itu walaupun Bukit sudah didepan mata,tapi sekuat apapun mereka menyangkal tetap saja mereka kalah.


Rekaman CCTV dikelas ipa10b sampai ke lorong menuju toilet menjadi bukti bahwa Aleta dan kedua temannya yang menyeret Naila ke toilet dan membuly nya disana.


Bukan Naila yang membuli mereka tapi sebaliknya Pak Dimas tidak suka mengatakan omong kosong ia akan langsung bertindak saat marah,,Pak Dimas sudah menelepon anak buahnya untuk datang segera membuat mereka tersentak namun sebisa mungkin mereka mencoba tenang.


Jika ditangkap polisi mereka masih bisa menyewa pengacara dengan uang yang mereka miliki dan akan melaporkan balik'pikir mereka sombong.


Pak kepala sekolah yang sejak awal tidak percaya bahwa Naila membuly kakak kelasnya seorang diri hingga babak belur menghela napas lega,"Buktinya sudah kita pegang pak,jadi mari kita putuskan hukuman apa yang harus mereka dapatkan"ujarnya.


"Hukuman?,anda berani menghukum putri pemilik sekolah hah!,jangan macam-macam anda!" pekik Pak Aldebaran tidak terima putri kesayangannya mendapatkan hukuman.


Menurutnya putrinya tetap tidak salah walaupun bukti sudah didepan mata.


"Tentu saja berani,anda pikir karna anda pemilik sekolah anda bisa semena-mena begitu?, tentu saja tidak,anda disini datang sebagai orangtua murid bukan pemilik sekolah jadi anda tidak berhak mengomentari keputusan saya,maaf jika perkataan saya lancang tapi saya ingin bersikap adil,saya akan menghukum yang bersalah sekalipun dia anak dari pemilik sekolah" jawab pak kepala sekolah penuh keyakinan.


"Bukankah sebaiknya kita mendengar langsung kejadian yang terjadi dari anak-anak pak?!" usul orang tua dari salah satu teman Aleta,"Saya tidak ingin menyangkal kejahatan yang dilakukan putri saya hanya saja saya ingin tau lembab ditubuh putri saya didapat dari mana jika bukan dari pembulyan yang mereka tuduhkan"sambungnya.


"Anda benar pak,saya akan panggil mereka untuk menceritakan kejadian kemarin"setuju pak kepala sekolah lalu melangkah kearah pintu.


Suara pintu digeser membuat orang diluar sana langsung menatap arah suara," Naila,Aleta,Sarah,Lili silahkan kembali masuk nak"pintanya pada mereka.


Naila bangkit dari duduknya sedangkan Aleta dan dua temannya yang bernama Sarah dan Lili itu memang sejak tadi berdiri entahlah mereka sangat kuat tidak merasa pegal berdiri sudah satu jam lebih.


Selain orang yang disebut yang lainnya pun mendekat hendak masuk kedalam ruangan namun berhasil dihentikan pak kepala sekolah,"Bapak cuma manggil empat orang tidak lebih,kalian bisa pergi dari sini dan jika masih ingin di sini harap tenang!"ujarnya dengan nada geram,lalu menutup pintu.


Pak kepala sekolah sudah dibuat sakit kepala dengan kasus ini dan akan semakin membuatnya pusing jika msngijinkan anak-anak muridnya yang berdiri diluar ruangannya masuk,sungguh ia ingin segera mendapatkan kesegaran,kasus kali ini terlalu berbelat-belit dan juga menguras emosi.


Setelah pintu ditutup pak kepala sekolah meminta mereka duduk dikursi yang berada di ruangannya agar lebih tenang dalam membahas masalah yang sudah mendapat titik terang ini.


"Aleta,Sarah,Lili dan Naila kami semua disini sudah mengetahui kejadian sesungguhnya yang terjadi kemarin sore di area toilet sekolah ini,bapak harap kalian segera berkata jujur dan mengakui kesalahan kalian" ujar pak kepala sekolah.


Mereka tersentak wajah mereka menjadi tidak bisa terbaca entahlah.


"Naila silakan nak ceritakan kejadian yang terjadi kemarin sore yang terjadi sama kamu sejujur-jujurnya jangan ada yang ditutupi,kamu tenang saja jika kamu tidak bersalah bapak tidak akan menghukum kamu dan jika kamu bersalah bapak akan mencoba meringankan hukuman kamu,,,begitupun kalian,bapak harap kalian berkata jujur!" ujarnya.


Naila meremas tangannya dengan gugup lalu menatap papih Dimas setelah melihat anggukan kepala dari papihnya membuat Naila menghela napas,dan mulai menceritakan apa yang terjadi sesuai dengan apa yang terekam di CCTV.


"Engga Pak Naila bohong ceritanya ga seperti itu" elak Aleta tidak terima.


Pak kepala sekolah menghela napas,bukti sudah ia pegang tapi Aleta malas mengelak,namun ia masih memberi kesempatan pada Aleta untuk bercerita sesuatu versinya agar lebih adil,"Aleta silahkan cerita"pintanya.


Aleta melirik kearah ayahnya dengan panik namun pria itu sama sekali tidak menatap aleta,aleta menghela napas gugup sekaligus bingung,apa ia perlu jujur atau,,,Aleta hanya diam sebari meremas ujung bajunya begitupun sarah dan lili yang ikut ditanya,mereka bingung harus menjawab apa,jujur atau,,,


"Baiklah jika kalian tidak mau mengatakannya tapi kalian bisa melihat ini" ujar pak kepala sekolah menyodorkan leptop dan kembali menayangkan dimana naila yang tengah diseret oleh mereka menuju toilet,walaupun naila berontak mereka tetap tidak melepaskan.


"Terlihat dari bukti yang kami dapat disini Naila tidaklah bersalah,melainkan kalian yang sudah membully Naila,tapi Naila tidak melaporkannya kepada saya membuat saya kecewa,,saya kecewa kenapa murid saya sudah melakukan hal diluar batas hingga berani memutar balikan fakta,,Aleta,Sarah dan Lili apa kalian masih tidak mau mengaku? " tanya pak kepala sekolah dengan sorot kecewa.


"Jawab!" ujar ayah Sarah dengan geram ia sudah terlanjur malu disini,jika sudah basah kenapa tidak sekaligus mandi saja.


Ketiga gadis yang tak lain adalah aleta dan kedua temannya menundukan kepala memikirkan jawaban yang harus mereka berikan,,jika jujur tidak mungkin sebab tidak memiliki bukti bahkan akan terkesan berkilah,dan kembali akan seperti memutar balikan fakta lebih baik mengatakan hal yang sama seperti di rekaman.


Aleta mengangguk,"Saya membuly naila bersama dua teman saya"jawabnya pasrah.


"Kamu mengaku,bagus lantas mengapa kamu memutar balikan fakta dan memfitnah naila bukannya meminta maaf pada Naila karna sudah membulynya" tanya pak kepala sekolah.


"Didikan orang tua " ejek Pak Dimas tenang kini giliran dia untuk berbicara omong kosong dengan mereka.

__ADS_1


Pak Aldebaran menatap tajam Pak Dimas yang kini menatap mengejeknya.


"Lalu dari mana luka yang didapat kalian?" tanya pak kepala sekolah menyidik.


Aleta bergetar sekaligus berdecih,"Luka yang kami dapat karna kami dibegal saat perjalanan pulang pak"jawabnya.


Pak Aldebaran melirik putrinya khawatir,"Kamu dibegal nak?,kenapa ga ngasih tau papah?"


"Maaf pah,aku takut papah marah karna mobilnya rusak" jawabnya.


"Gapapa sayang asal kamu selamat" ujar pak Aldebaran memeluk Aleta.


Pak kepala sekolah menghela napas.


"Bukannya melapor kekantor polisi kenapa kamu malah memfitnah putri saya membual mengatakan membully anda padahal sebaliknya?!" tanya Pak Dimas tidak mengiba sama sekali dengan apa cerita Aleta yang sudah dirampok,ia hanya manusia biasa jika dikecewakan maka tidak akan peduli.


Aleta tidak menjawab begitupun dua temannya,dalam hati aleta mengumpati dua temannya yang hanya diam tanpa membantunya menjawab pertanyaan merekal,sial.


"Sebaiknya masalah ini kita selesaikan sampai disini bapak-bapak,saya akan memikirkan hukuman yang adil untuk Aleta dan dua temannya agar mereka jera dengan perbuatan mereka ini" ujar pak kepala seolah ingin segera membubarkan orang-orang didalam ruangannya agar tidak terasa sesak.


"Saya tidak terima jika putri saya dihukum!,saya tau putri saya salah tapi dia melakukan itu terpaksa!" ujar Pak Aldebaran masih saja kekeh tidak ingin Aleta mendapatkan hukuman.


Naila dan Pak Dimas berdecih mendengar pembelaan Pak Aldebaran untuk putrinya,,,jika salah seorang anak harus ditegur dan diberikan hukuman agar mereka jera dan tidak mengulangi kesalahan itu lagi,hidup menjadi lebih baik,,,jika setiap orang tua melakukan hal seperti yang dilakukan Pak Aldebaran maka generasi anak muda akan hancur.


Sayang kepada anak tidak seharusnya membela mereka dalam melakukan apapun namun sebaliknya,menegur mereka justru bukti sayang orang tua pada anaknya agar anak itu menjadi sosok yang lebih baik dan berguna.


.


.


.


Masalah yang dialami Naila sudah selesai hanya tinggal memberi keputusan hukuman untuk Aleta dan kedua temannya,pak kepala sekolah tidak mentolerir mereka walaupun anak pemilik sekolah bahkan pak kepala sekolah terancam kehilangan jabatan dan juga pekerjaannya,namun ia kekeh untuk menghukum Aleta dan dua temannya yang sudah melakukan kesalahan.


Risa berjalan ngontai masuk kedalam rumah dengan keadaan tidak baik-baik saja,jujur saja ia kecewa,sungguh kecewa pada ayahnya,Risa mendengar semuanya,semua,semua pembelaan ayahnya untuk Aleta padahal jelas Aleta bersalah,,,jika saja diposisi Aleta adalah dirinya apa mungkin dirinya akan dibela mati-matian.


Seperti nya tidak!,seperti biasa ayahnya itu akan menyalahkan dirinya bahkan menambah hukuman untuknya,seperti biasanya saat Aleta mengatakan kebohongan tentang dirinya pada ayah mereka itu,,Risa akan dihukum tanpa kesalahan yang ia buat.


Lelah?,tentu saja!.


Dunia bukan tidak adil Risa percaya dengan itu,ada diatas dan dibawah,dan jika diatas masih ada yang lebih atas lagi,,jika hari ini tidak bahagia mungkin suatu hari akan mendapatkan kebahagiaan itu,hanya saja jangan sampai dirinya lelah menunggu kebahagiaan itu hadir seperti menyerah akan kasih sayang kedua orang tua kandungnya yang memperlakukannya layaknya anak tiri.


Pyarrr


Risa tersentak merasakan guci yang dilempar kearahnya untung saja tidak mengenai tubuhnya namun pecah mengenai dinding disampingnya,risa menatap sendu pecahan guci itu,guci itu seperti hatinya yang sudah hancur walau kembali direkatkan tetap saja meninggalkan bekas.


"Anak tidak tau diri!" pekik suara barton dari arah depannya,risa mengenal suara ini suara dari sosok yang seharusnya menjadi cinta pertamanya dalam hidup Risa mendongkak melihat wajah sangat ayah yang terlihat murka.


Lalu beralih pada Aleta yang menangis dipelukan ibu mereka,benarkah ibu mereka?,entahlah!sudah lama ia kehilangan kasih sayang orang tua,Risa menghela napas ia sangat yakin ayahnya marah karna ucapan Aleta,entah apa yang wanita itu ucapkan,apa dia tidak lelah beraktjng terus?.


"Kenapa pah?" tanyanya datar.


"Kenapa kamu bilang,dasar anak sial*n!,seharusnya kamu tidak terlahir didunia ini jika hanya untuk menyakiti keluarga saya!," geram Pak Aldebaran.


"Apa yang aku lakukan pah?" Risa masih mendatarkan wajahnya walau didalam hatinya ia menangis,sungguh sakit di katai oleh ayah sendiri seperti itu,sakit,sesak!.


"Kamu masih bertanya anak sial*n,kamu sudah menyewa preman untuk membegal putri saya sial*n!,kamu meminta mereka memukuli aleta putri kesayangan saya hah!,kamu anak tidak tau diuntung sudah saya rawat malah mau menyakiti anak saya hah!" pekiknya.


"Aku,,,"


"Kamu gausah bohong Risa hiks,aku udah maafin kamu ko,asal kamu ngaku aku yakin ko papah juga bakal maafin kamu asal kamu jujur Ris,,,hiks aku tau kamu ga suka sama aku karna aku cuma kakak angkat kamu tapi tolong Risa jangan bohongin papah,dia orang tua kandung kamu,kamu gaboleh durhaka sama mereka" sela Aleta sebelum Risa mengatakan apapun,Aleta berguman dalam hati"Ini balasan ejekan lo tadi disekolah".


"Lihat hah!,lihat kakak kamu dia begitu baik sama kamu,tapi apa yang kamu berikan hah?!,kamu malah nyakitin dia,kamu nyelakain dia!,bukan sekali dua kali!,kenapa kamu ga mati aja si hah!"ujar Pak Aldebaran geram.


"Pah" ujar sang istri tidak suka saat sang suami meminta putri kandung mereka untuk mati.


"Hiks" Risa mengusap wajahnya kasar saat dirinya tidak tahan untuk tidak menangis ternyata ia tidak sekuat itu untuk menahan ujaran kebencian dari ayahnya,semakin diusap air matanya semakin berlomba-lomba untuk membasahi matanya.


"Gausah nangis kamu hah!,gausah drama buat kabur dari masalah ini Risa"


"Iya-iya,iya pah iya!,risa yang udah bayar preman buat begal aleta iya pah,iya,iya hiks" ujar Risa memekik kencang.


"Kamu beraninya kamu hah!,kamu bertindak seperti anak tidak pernah di didik ,Aleta sangat menyayangi kamu seperti adik sendiri dan kamu malah nyakitin dia hah!,salah dia apa sama kamu hah?!"


Risa menangis sebari meremas dadanya,sakit,sesak semakin menjadi,tidak Risa tidak melakukan hal yang Aleta tuduhkan,ada alasan ia mengiakan itu semua.


Ia juga ingin dibela seperti Aleta yang bersalah namun tetap ayah mereka bela tapi dirinya,apa yang dirinya dapatkan,dirinya tidak melakukan itu semua tapi semakin disalahkan,kenapa?,begitu bencinya kah ayahnya itu padanya.


"Apa tidak ada kepercayaan papah sama Risa walaupun seujung kuku pah?" tanya Risa serak,"Risa capek pah,Risa capek hiks"


"Papah mengatakan Risa seperti anak yang kurang didikan bukan?" tanya Risa sebari mengusap kasar wajahnya,"Iya,papah benar,selama ini tidak ada yang mendidik Risa,Risa gatau mana salah mana benar kenapa?,karna kalian ga pernah didik Risa,kalian ga pernah pedulikan Risa,di ingatan kalian hanya Aleta-Aleta saja tidak pernah secuilpun nama Risa,,,ga pernah!,,"teriak Risa menggebu mungkin hari ini adalah puncak kesabaran yang dia miliki.


"Nak kenapa kamu ngomong kaya gitu?,kami peduli sama kamu kalo berbuat baik seperti kakak kamu aleta" ujar Bu Andini membela diri.


"Hhhhhh"bibir Risa tertawa tapi matanya menangis," Bulsit tau ga!, kalian cuma menolak kenyataan kalo kalian udah abai sama anak sendiri,kalian mentirikan anak kandung dan meratukan anak angkat,,,kenapa kalian ga gugurin Risa aja saat di kandungan biar aku ga ngerasain sakit hati dibenci orang tua sendiri!,kenapa hiks"


"Kamu gausah mengalihkan pembicaraan untuk menutupi kesalahan-kesalahanmu kamu Risa!" bentak Pak Aldebaran bahkan hatinya sama sekali tidak tersentuh dengan tangisan dan keluhan yang Risa lontakan tadi.


Semakin semakin hancur,"terserah-terserah kalian mau apa terserah!,mau penjarain Risa ayo!,ayo telepon polisi biar Risa dipenjara!"teriak frutasi Risa lelah dengan rasa sabar yang dia miliki.

__ADS_1


Lelah dengan semua drama ini,kenapa?,kenapa harus hidup jika terus menderita?,apa guna dirinya hidup hanya untuk disalahkan?,mengapa?!.


__ADS_2