
DI RUMAH SAKIT.
"Nirbita mana?" tanya Antariksa dengan napas tersenggal.
"Masih diperiksa dokter" jawab Gara dengan wajah cemas.
"Gimana Nirbita bisa jatuh dari rutoop?" tanya Naya cemas tangan gadis itu tidak lepas memeluk tubuh Antariksa.
Mereka menggeleng tidak tau,"Nirbita ga jatuh dari rutoop dia hampir jatuh dari lantai empat deket tangga"ujar Risa.
Antariksa menatap sang kekasih yang tengah memeluk Naila yang menangis.
"Hah ko bisa yang?" tanya Antariksa.
Risa menggeleng lirih,"Aku gatau pas aku liat Nirbita lagi ditarik Naila sama Sherli biar ga jatuh"jawabnya.
"Sherli,dimana dia sekarang?" tanya Naya.
"Gatau disekolah mungkin" jawab Risa karena yang mengantar Nirbita kerumah sakit hanya Gara,Risa dan Naila.
Naya mengepal kan tangannya,"Nay lepas dong meluk mulu dari tadi"pinta Antariksa.
"Terpaksa" jawab Naya tapi tidak melepas pelukannya pada tangan Antariksa.
"Yaelah Naya,ni rumah sakit gabakal gigit,lo gausah lebay deh, lepasin tangan gue ah nanti pacar gue ngamuk" kekeh Antariksa sebari mencoba melepas pelukan Naya tapi gadis itu mencengkeram semakin kencang.
"Woy sakit wo sakit kenceng amat lo meluknya Naya! "
"Yang kamu jangan berisik dong ini rumah sakit bukan pasar malam!" tegur Risa nyalang.
Antariksa tersungut-sungut,"Ko kamu gitu aku tuh pacar kamu yang,masa kamu ga cemburu aku dipeluk cewe lain sih"gerutuny tidak tau tempat.
"Bukan waktunya yang" jawab Risa sebari mengusap punggung Naila yang masih saja menangis.
"Kalian tuh diam bisa!,berisik! hiks"sentak Naila kesal.
Pintu rawat darurat terbuka menunjukan wanita berbaju putih dengan testoskop menggantung di lehernya.
"Kak Ayana gimana kondisi Nirbita?" tanya Naya langsung menghampiri calon kakak iparnya itu yang bekerja menjadi dokter disana,kendati demikian Antariksa tertarik ulah Naya tidak melepaskan tangannya.
Dokter Ayana menghela nafas,"Nirbita mengalami syok berat tapi sekarang kondisinya sudah lebih baik,kamu tenang aja ya,Nirbita sekarang mengalami demam tinggi jadi belum bisa kalian jenguk,kakak masuk dulu kalian gausah cemas Nirbita udah baik-baik aja sekarang"ujarnya memberitahu selepas itu kembali masuk kedalam ruang darurat.
Mereka belum merasa tenang jika bel bertemu Nirbita langsung tapi tidak bisa karena Nirbita masih menjalankan beberapa pengecekan.
"La lo udah ngabarin orang rumah belum? "Tanya Antariksa dijawab gelengan kepala oleh Naila.
"Kalo gitu gue chat orang rumah digrup keluarga aja biar mereka taunya barengan ga perlu gue absen satu-satu" ujar Antariksa.
"Gue mau balik dulu kalo ada info terbaru tentang Nirbita kasih tau gue!" pinta Gara melegang pergi.
Setelah kondisi Nirbita membaik gadis itu sudah dipindahkan keruang VIP dirumah sakit ini.
Nirbita baru tersadar pada malam hari,langsung teringat kejadian buruk yang menimpanya tadi sore,ia langsung kejer ketakutan.
"Nirbita kamu udah aman sayang disini ada mamih" ujar Bu Putri menenangkan keponakan dalam pelukannya,"Disini juga ada ibu,ada semua orang sayang,disini banyak yang jagain kamu,kamu gausah takut"
"Aku panggil dokter dulu" ujar Bastian melegang pergi.
Melihat kondisi Nirbita yang mengalami trauma atas apa yang dia alami membuat keluarganya sedih sekaligus geram pada pelakunya,mereka tidak akan membiarkan pelakunya tenang sebelum mendapat ganjaran setimpal dengan apa yang dia perbuat.
"Hiks mih" Nirbita melonggarkan pelukan pada Bu putri,"Ita ga jatuhkan?"tanyanya sebari meredakan tangis.
Bu Putri menganggu,"Iya kamu ga jatuh,alhamdulillah kamu baik-baik aja"jawabnya.
"Iya sayang kamu baik-baik aja ko" timpal Bu Kasih sebari mengusap rambut Nirbita dengan sayang.
"Kak ita selamat ko, ila kan cita-citanya jadi pahlawan jadi selama ada Naila kak Nirbita pasti baik-baik aja" ujar Naila mulai mengoceh.
"Ngawur!, sejak kapan kamu bercita-cita jadi pahlawan bukannya mau jadi aktor?!" cibir Naya.
"Dari dulu ila pengen jadi pahlawan sekaligus aktor kak,,kan kalo jadi aktornya Marvel udah pasti tuh ila jadi pahlawan" jawab Naila.
"Kamutuh pantesnya jadi pemeran sampingan,sekali nongol langsung dor mati" cibir Naya.
"Enak aja, ila pasti di pilih jadi iron man ya!,muka-muka ila tuh cocok banget jadi pahlawan" kekeh Naila ingin menjadi aktor Marvel.
"Gausah berantem!,kaliantuh pantesnya jadi tuyul dan mbak yul" sentak Rangga ikut meramaikan suasana agar Nirbita tidak lagi memikirkan kejadian tadi sore yang hampir merenggut nyawanya.
Kendati demi kian keluarganya sangat mencemaskan keadaan Nirbita saat ini apalagi kata dokter Ayana kemungkinan besar setelah ini Nirbita akan takut pada ketinggian atau disebut trauma.
Jika begitu maka Nirbita memiliki dua trauma dalam hidupnya satu gelap dan sekarang ketinggian sungguh sial jadi Nirbita,dulu dia dikerjain sampe memiliki trauma dan sekarang pun sama,mungkin pelakunya saja yang berbeda.
"Naila jadi tuyulnya" ujar Naya.
.
.
.
Layar komputer menanyangkan sebuah vidio pada suatu ruangan sepi beberapa menit berlanjut sampai seorang gadis menaiki tangga sebari menghentakan kakinya kesal terekam,,vidio terus berlanjut sampai gadis tadi hendak mengetuk pintu namun seseorang dari belakang gadis itu menarik kerah bajunya sangat kencang sampai terhuyung dan hampir jatuh jika tidak berpegangan pada pembatas,pouse.
Vidio dijeda,jari-jari berseluncur di keyboard men zoom vidio lebih besar dan jelas.
"Dia cowo!" ujar salah satu penonton vidio.
"Dari postur tubuhnya memang cowo tapi wajahnya ga kelihatan jadi kita ga bisa tau siapa pelakunya yang udah jahatin Nirbita" ujar Pak Jeje mengamati vidio lebih jeli,sebagai polisi Pak Dimas lebih tau tentang jejak kriminal.
"Ini sudah mereka rencanain sejak lama,makanya kita cuma bisa nemuin bukti CCTV ditempat kejadian doang tapi ga ada rekaman pas pelakunya naik ke lantai empat" ujar Pak Dimas setelah mengusut masalah ini secara pribadi.
"Bisa aja pelakunya teleportasi" celetuk Pak Jeje membuat Pak Smit dan Pak Dimas mendengus.
"Ininih orang tua yang udah bikin triplet aga-aga,otaknya jadi lebih oon dari sebelumnya" cibir Pak Smit pedas.
Pak Dimas mengangguk setuju otak Pak Jeje ini emang hampir sebelah dua belas dengan Naya mentang-mentang mereka anak dan bapak,emang bener buah ga akan jatuh jauh dari pohonnya kecuali pohonya ada dipinggir sungai dan buahnya jatuh ke sungai trus kebawa arus.
Pak Jeje tersungut-sungut mendengarnya,"Seenganya aku yang selalu ada buat triplet dua puluh empat jam"songongnya menyombongkan diri sekarang giliran dua pria itu yang mendengus.
"AKU juga ada buat mereka dua puluh empat jam ya walau secara bayangan aja" ujar Pak Smit tidak mau kalah jika tentang siapa yang lebih dengan dan berguna untuk tiga gadis itu,padahal memang tiga pria itu sosok yang penting untuk triplet.
"Eleh jadi bayang-bayang sekalian jadi kujang!,,gayanya ngutus bodyguard buat jagain mereka,disaat anak-anak dalam bahaya mana tuh bodyguard hah!" sentak Pak Dimas mencibir tidak mau diam seorang diri.
"Ck aku kan ngutus mereka di jarak dua puluh meter biar mereka masih punya privasi,bodyguard juga manusia mereka ngasih laporan tapi ga bisa ngasih tau isi hati seseorang,,kalo ada yang mau berbuat jahat namanya orang itu penjahat!" bela Pak Smit untuk dirinya sendiri.
"Udah-udah gausah kaya bocah dong!,kita tuh mau bahas yang terjadi sama Nirbita malah berantem,inget umur!" cibir Pak Jeje tak tahu diri padahal yang mematik api pertengkaran adalah dirinya,tapi Pak Jeje malah lempar batu sembunyi tangan.
Setelah meminum obat Nirbita kembali tidur beberapa menit Nirbita tidur,,keluarganya disuruh pulang untuk istirahat biar yang berjaga Pak Smit, Pak Jeje dan Pak Dimas saja sekaligus ada yang harus mereka bahas sebagai orang tua.
Orang tua bukan pria tua!.
Pak Dimas dan Pak Smit menatap permusuhan Pak Jeje,"Kalo mereka udah rencanain kejahatan untuk Nirbita yang dikejar apa?, magsudnya tuh mau penjahatnya apa gitu? "Sambung Pak Jeje kembali dalam pembicaraan.
"Kalo kaya gini kemungkinan pelakunya pengen Nirbita celaka" ungkap Pak Dimas dengan kilatan amarah dimatanya.
"Sadis amat woy,ini tuh novel romantis bukan psikolog eh salah psikopat"desis pak Jeje.
"Pak Dimas ngerasa ketuker ga sih adenya waktu persalinan?" cibir Pak Smit.
Pak Dimas mengangguk membuat Pak Jeje melotot tidak terima, "Sempat mikir gitusih,tapi terpecahkan saat muka kita ada mirip-miripnya" Pak Jeje yang tadi cemberut kini senang karena kakaknya mengakui dirinya memang adiknya tapi senyum itu hilang dengan cepat,"Yang bener tuh otak dia ketinggalan di rahim almarhum ibu kita"sambungnya.
Pak Smit mengangguk setuju,"Kayanya Nirbita tau deh siapa yang udah narik dia sampe hampir jatuh dari lantai empat "ungkapnya sebari mengalihkan pandangan melihat Nirbita tengah tertidur diranjang rumah sakit dengan damai.
Pak Jeje dan pak Dimas ikut menatap Nirbita dengan sendu.
"Kalian harus lebih waspada sama cowo yang namanya Gara jangan sampai Nirbita deket sama dia" sambungnya dengan nada kesal.
"Kenapa?,si Gara pelakunya?" sentak Pak Jeje menebak.
"Ada bukti yang menunjuk Gara pelakunya?" tanya Pak Dimas memastikan sebab ia masih pertengahan dalam penyelidikan masalah yang terjadi beberapa jam ini.
"Bukan!,Nirbita masih kecil jangan sampe dia pacaran"jawab Pak Smit membuat kedua pria itu bengong.
__ADS_1
"Magsud situ jauhin Nirbita dari Gara biar mereka ga pacaran bukan karena Gara pelakunya?" tanya Pak Dimas cepat memproses loading dikepalanya.
"Iya,muka-muka cowo itu kebaca banget kalo dia tertarik sama Nirbita,tadi aja kita keduanya sama dia buat nyelidiki kasus ini,gabakal aku restuin awas aja!,sampe kalian ngijinin Triplet pacaran sekarang kalian end" ancam nya dengan sorot tajam bahkan tangan pria itu memperagakan jarinya memotong leher.
"Santai aja sih triplet masih kecil mereka juga pasti belum mikirin itu" ujar Pak Dimas santai berbeda dengan Pak Jeje yang hanya diam termenung.
"Takutnya otak triplet rusak gara-gara berteman sama geng motor!" cibir Pak Smit.
"Ya aku juga takut sih,tapi kita harus kasih mereka ruang biar bisa mandiri,kita cukup memantau kalo mereka berada dijalan yang salah baru kita tegur mereka" ungkap Pak Dimas tidak ingin salah jalan dalam memutuskan kehidupan putri-putri keluarga ini.
"Aku ga pernah kasih kesempatan kedua buat siapapun yang udah jahatin triplet"desis Pak Smit penuh keyakinan.
"Kita juga sama kali,gabakal biarin anak-anak terluka, lagi" timpal Pak Dimas melirik adiknya yang diam saja.
"Kesambet lo diem bae?" tanyanya menyenggol lengan Pak Jeje.
Pak Jeje menatap Pak Dimas dan Pak Smit dengan pandangan rumit,"Pak Ahmad ngajuin perjodohan anaknya sama Naya"ungkapnya membuat dua pria seumuran itu cengo.
.
.
.
Matahari sudah kembali bersinar setelah berganti tugas dengan bulan dilangit sana.
"Kalo kamu takut sama rumah sakit padahal gausah ikut Naya" ujar Bu Kasih kasian dengan Naya yang terus memeluk lengannya saat memasuki rumah sakit.
"Mau ikut bu,akukan juga cemas sama Nirbita" jawabnya sejak kemarin merasa uji nyali masuk rumah sakit doang belum masuk ruang jenazahnya kalo udah masuk,Naya pingsan ditempat.
"Nirbita udah baik-baik aja kamu ga perlu cemas,mending kamu langsung kesekolah aja sana!"
"Gamau bu ini masih jam setengah enam pagi gerbang sekolah masih digembok" jawabnya.
"Biarin aja mba,Naya ikut itung-itung dia memberanikan diri buat masuk kerumah sakit lagi,siapa tau aja ketakutan berlebihan Naya sama rumah sakit bisa hilang" ujar Bu Putri menengahi anak dan ibu itu.
"Naila gamau komen,ila masing ngantuk titik" celetuk Naila berjalan sebari menguap digendongan punggung Bastian,emang bocah edan.
"Makanya ngapain ikut mending dirumah aja! " kesal Bastian tidak direspon Naila.
"Makanya Naya kalo penakut tuh gausah so-soan menjelajahi rumah sakit sendiri kekurung diruang jenazah lu kejer kan sampe sekarang" cibir Antariksa mubajir jika tidak nyinyir.
"Gausah dibahas deh!" Sentak Naya bergidig mendengar kata ruang jenazah ia jadi ingat kejadian beberapa tahun lalu saat terkurung diruang jenazah karena tersesat dan pingsan ditempat,sampai sekarang dirinya takut pada namanya rumah sakit,takut nyasar lagi!.
Diperjalanan menuju kamar rawat Nirbita mereka berpapasan seseorang dari lawan arah yang pernah mereka temui, "Eh Bu Kasih sama Bu Putri,kalian ko ada dirumah sakit pagi-pagi gini?,sama anak-anak juga" Tanyanya heran.
"Eh Pak Ahmad,Iya Pak, ini Nirbita lagi dirawat disini kami mau keruangannya sekarang" jawab Bu Kasih seadanya.
"Pagi om" sapa anak-anak serempak.
"Pagi,,,Nirbita sakit sejak kapan bu?" Tanya Pak Ahmad pernah bertemu Nirbita maupun Naila walau bukan saat menjenguk jastin dirumahnya tempo hari karena gadis itu sedang tidak ada.
Selain mengenal Pak Jeje beliau juga mengenal Pak Ahmad dan mendiang Pak Candra juga mengenal Pak Smit mereka berteman saat kuliah dulu.
"Kemarin Pak,dia dapat musibah jadi hari ini dirawat,,, bapak sendiri ngapain dirumah sakit?,Jastin baikan pak?" Tanya Bu Kasih takut Jastin kenapa-kenap ulah Naya memukuli remaja itu.
Pak Ahmad tersenyum tipis, "Sebenarnya Jastin mengalami kecelakaan kemarin Bu makanya sekarang dia dirawat dirumah sakit"
"Hah!" Mereka serempak berteriak kaget.
"Kecelakaan atau karena ulah Naya yang pukulin Jastin pak?" Tanya Bu Kasih memastikan.
"Kecelakaan Bu,kemarin anak nakal itu pergi bawa motor eh malah ketabrak orang sekarang kakinya mengalami keretakan tulang Bu" jawabnya menjelaskan secara singkat.
Naya dan Jastin saling tatap,"Aku boleh jenguk ga om?"Tanya Naya diangguki Pak Ahmad.
"Kalo kamu mau tentu aja boleh,jastin pasti senang liat kamu, ruangan dia ada dikamar nomor 107,,sepertinya saya harus pergi semoga nirbita cepet sembuhnya Bu"pamit Pak Ahmad harus pergi ada keperluan dipagi-lagi buta ini.
"Amin"
Mereka melanjutkan langkah mereka sesuai tujuan masing-masing,"Bu aku mau keruangan Jastin dulu boleh kan?"Tanya Naya saat mereka sampai dikamar 108 tepat kamar Nirbita dirawat, secara kebetulan ruang rawat mereka bersebelahan.
Naya memang marah pada Jastin tapi mendengar pria itu mengalami kecelakaan Naya jadi cemas.
Tapi namanya juga takut Naya langsung menarik tangan Antariksa untuk menemaninya,"Eh bocah edan gue gamau nemenin lu ya sendiri aja atau ga sama si bastian dah!"desis Antariksa mencoba melepas pelukan Naya ditangannya.
Ia ogah jika harus dipeluk tangan oleh gadis yang sudah Ia anggap adik itu kalo sama Risa mah gapapa,kan ini Naya jadi ogah!,kalo Risa nanti cemburu gimana?,bisa panjang urusannya,,padahal antariksa terlalu kepedean jelas-jelas kemarin Risa membiarkan saja saat Naya memeluk tangan antariksa.
Tapi tak ayal kemarin keadaannya tengah genting.
"Hmmppp" Naya membungkam mulut antariksa agar tidak berisik menggunakan tangannya.
Antariksa menyentak tangan Naya dari mulutnya dengan kencang,"Bau anj*g"umpanya sebari mengusap-usap bibinya kasar agar menghilangkan najis dari tangan Naya.
"Salah!,jelas-jelas tangan gue bau jengkol,bangun tadi gue langsung makan trus lupa ga cuci tangan sampe sekarang" ujar Naya membuat Antariksa mercak-mercak.
"Jorok banget pastes aja tangan lo bau ta*" antariksa emang ga berprinsip katanya tadi bau anj*g sekarang berubah jadi bau ta* terserah remaja itu saja lah.
"Gue bilang tangan gue bau jengkol ya b*ngsat" pekik Naya kesal pas mereka didalam kamar rawat Jastin membuat pemilik kamar tersentak dari tidurnya.
"Berisik Naya tuh bocahnya malah bangun!"desis Antariksa menunjuk arah Jastin yang akan terbangun dari pergerakannya.
"Gara-gara lo!"dengus Naya.
Jastin mengusap wajahnya mata remaja itu mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk pada retinanya,hal pertama yang dilihat adalah langit-langit rumah sakit tapi dari sudut matanya ia bisa melihat ada seseorang disampingnya tapi itu bukan ayahnya.
Jastin memiringkan kepalanya.
Deg
Jantung jastin berdetak kencang seolah sedang olahraga pagi,wajah yang membuatnya merasa sakit,sedih,senang dan kecewa, sekaligus yang ia rindukan terlihat dimatanya,apa dirinya masih tidur?.
"Lo kebangun ya Jastin sory kalo gitu kita keluar lagi deh lo lanjut aja tidur" suara bernada lembut terdengar oleh Jastin.
Naya masih setia merangkul Antariksa takut pria itu tiba-tiba lari meninggalkannya,kan Naya takut pas keluar dari ruang rawat jastin malah kesasar keruang jenazah padahal kamar nirbita tepat disamping kamar Jastin.
Jastin mencekal tangan Naya yang mengapit tangan Antariksa,"Gue-gue mau ngomong berdua sama lo Naya"pintanya tak peduli ini masih mimpi atau bukan yang penting ia mau berbicara berdua dengan Naya sekarang!.
Naya menatap Jastin lalu beralih pada Antariksa yang ditatap menghela nafas,"Lo mau ngomong berdua ga sama dia?"Tanya Antariksa pada Naya.
Naya bergeming,di satu sisi ia ingin mendengar apa yang ingin dibicarakan Jastin dengannya,jika masalah mempermainkan Naya sekalipun akan Naya dengarkan bagaimanapun Naya belum mendengar dari sudut pandang Jastin tentang itu,dan disisi lain ia takut jika ditinggal Antariksa,takut kesasar!.
"Kalo lo gamau berdua juga gapapa ko Antariksa bisa dengerin pembicaraan kita,tapi gue mohon sama lo ijinin gue buat jelasin semuanya sama lo" pinta Jastin menambahkan daripada tidak sama sekali.
Naya bergeming sejenak lalu menghela napas dan mengangguk,"Gue rasa kita bisa bicara berdua doang"jawabnya membuat Antariksa mendengus.
"Ga!,gue bakal jadi pendengar disini"kan sudah author bilang Antariksa itu ga berprinsip tadi kekeh gamau nemenin Naya sekarang malah gamau pergi.
"Jadi cowo punya pendirian dong!,kan lo tadi yang gamau nemenin gue sekarang malah gamau pergi,minta jadi pasien lo!" Desis Naya kesal.
"Lo aja yang jadi pasienmah gue mau mau jadi dokternya aje"
"Yang ada kalo lo jadi dokternya populasi manusia menipis!" Cibir Naya.
"Ck pokonya gue ga mau pergi!" Kekeh Antariksa sebari menyentak tangan Jastin dari tangan Naya yang masih setia memeluknya.
"Gue ga bakal berbuat jahat ko Antariksa lo tenang aja" ujar Jastin.
"Gue tau lo ga bisa berbuat jahat sekarang, kondisi lo aja menyedihkan" cibir Antariksa sebari menatap Jastin dengan tatapan mengejek kondisinya yang memprihatinkan, "Yang gue takutin itu!" Jastin beralih mendelik kearah Naya.
"Santai aja gue berprinsip ko ga kaya lo" dengus Naya mengerti arti delikan tajam dari Antariksa.
"Bodo pokonya gue bakal tetep disini,kalo kalian mau ngobrol sok aja gue ga bakal pergi!" Kekeh Antariksa.
Antariksa hanya takut jika hati na6ya melembut setelah mendengar penjelasan jastin,tak bisa disangkal bagaimanapun sekeras apapun wanita tatap memiliki hati yang lembut,karena wanita diciptakan dari tulang sumsum dengan hati.
Jastin menghela nafas lalu manatap naya hendak menjelaskan"Naya gue-gue,gue minta maaf"
"Gue khilaf Naya,,dari awal gue deket sama lo semua itu cuma kebetulan gue ga pernah rencanain ketemu bahkan kenal sama lo,,lo inget waktu pertama kali gue sama dua teman gue nganter lo kesekolah sama dua adik lo,saat itulah temen-temen gue ngusulin gue buat jadiin lo batu loncatan saat tau lo deket sama anak Algaskar,,gue jujur Naya gua ga pernah jawab iya tapi juga ga pernah jawab engga,,,gue tau gue salah Naya,gue minta maaf, gue suka sama lo di luar kendali gue" Jastin mencoba menatap naya untuk memahami tatapan gadis yang dia cintai sekaligus ia kecewakan.
"Maaf Naya maaf,,,ijinin gue buat kembali memperbaiki semuanya Naya,,gue ga minta lo buat balas perasaan gue tapi gue mohon ijinin gue tetap ada di kehidupan lo sebagai teman,,kita emang orang asing pada awalnya tapi gue ga mau kita kembali asing Naya" pinta Jastin sendu.
__ADS_1
Sunyi.
Tidak ada lagi yang bersuara setelah jastin menjelaskan perbuatannya,Jastin hanya bisa pasrah,walaupun nantinya Naya menolak kehadirannya walau sekedar teman Jastin tidak akan menyerah begitu saja,pantang menyerah bagi Jastin sebelum naya secara tegas menyusirnya dari kehidupan Naya.
Semoga tidak pernah terjadi!.
Antariksa sudah pegal menyaksikan kisah rumit Naya dan Jastin,drama!,pokonya Antariksa sudah mengabsen deretan nama kebun binatang sejak tadi,jika ditinggalkan tidak iklas jika naya melembut pada jastin yang sudah menyakitinya tapi disini ia sudah pegal dan bosen.
Naya menghela nafas kasar tanpa suara dia berbalik pergi otomatis Antariksa tertarik karena masih dipeluk tangan tanpa dilepaskan sejak tadi,jastin hanya bisa pasrah untuk saat ini.
Jastin menatap kepergian Naya hingga pintu rapatnya tertutup kembali setelah dibuka,"Naya gue suka sama lo,maaf gue terlalu bodoh buat mengerti apa itu cinta"gumannya tanpa terasa sudut matanya berair,"Dari dulu gue cengeng banget dah!"cibirnya pada diri sendiri.
Di luar Antariksa tidak bertanya,dia membiarkan Naya terdiam sampai masuk keruangan Nirbita.
"Epribadeh bedihom" teriak Antariksa membuka pintu.
"Berisik!"bentak orang didalam Antariksa hanya cengengesan.
"Keponakan gue gimana-gimana udah baikan?" Tanya Antariksa berlari kearah ranjang Nirbita otomatis Naya tertarik kencang karena belum melepas pelukan tangan tangannya.
"Tarik tambang!"geram Naya.
"Sory sengaja,suruh siapa lo neplok mulu kaya cicak tauga!" Cibir Antariksa.
Naya mercak-mercak sebari mendorong tubuh Antariksa setelah melepas tangannya,Naya itu emang ga tau terimakasih sudah diijinkan meluk tangan udah ga guna dihempas gitu aja, definisi manusia sekali!.
"Lo udah baikan Ta?" Tanya Naya sebari menatap lekat Nirbita.
Nirbita mengangguk sebari menoyor kepala Naila yang sejak datang udah neplok dan ikutan berbaring diranjang rumah sakit, padahal tadi Nirbita masih tidur,ternyata kakak sama adik sama-sama cicak tukang neplok.
"Turun sana la sempit ih" usir Nirbita tidak dihiraukan Naila yang masih memeluk tubuhnya sebari berbaring.
"Gamau,kakak gatau aja aku cemas banget pas kakak pingsan,pas liat kakak ngegantung jantung Ila rasanya copot aku yakin kalo ga ada Sherli kakak pasti udah jatuh,,kakak ko bisa ngegantung kaya gitu sih?,kakak mau buat adegan terbang tapi gagal ya"cerosos Naila.
"Lo tuh bukan burung gausah buat ulah so-soan mau terbang,yang ada tubuh lo jatoh ke bawah nyawalo doang yang terbang"timpal Antariksa mencibir.
"Lambenya minta ta hih"desis Bastian menatap tajam kearah Antariksa.
"Gue ga salah ya bang,ade lo tuh aneh-aneh hidupnya,kalo mau uji nyali di kuburan aja sana gausah belaga mau terbang jatoh sakit" dengus Antariksa.
"Kalian damai dulu bisa kalo engga keluar sana,berisik aja dari tadi!" tegur Bu Kasih jengah.
"Naya kondisi Jastin gimana sekarang?" Tanya Bu Putri.
Naya menggaruk rambutnya yang ternyata belum keramas selama lima hari ini, jadi kumandor dirambut Naya tengah berpesta,"Baik kayanya mih"jawabnya.
"Ko kayanya sih Naya?"
"Menyedihkan mih,kakinya dipake penyanggah tangannya juga,mukanya udah jadi badut biru-biru" ujar Antariksa disela Naila.
"Badut merah ya om!"
"Ini badut muka biru la,menyedihkan banget pokonya udah cocoklah jadi pengemis jalanan" cibirnya.
"Emang mulut si tarik perlu digadein" desis Bu Putri geleng-geleng kepala.
"Sama orangnya juga boleh tuh mih" saut Bastian.
"Udah ah kalian jangan debat mulu berisik!"pinta Bu Putri.
"Mba dari pada kita disini bikin stok kesabaran habis mending kita jenguk Jastin mumpung dirawat di rumah sakit yang sama" usul Bu Kasih disetujui Bu Putri.
"Kalian kalo kedengeran berisik sampe ke ruang sebelah ibu panggilin satpam biar kalian diusir!" Ancam Bu Kasih sebelum pergi.
"La kamu ikut sana sama mamih sama ibu jenguk kak Jasjus,siapa tau nanti pas lebaran kak Jasjus inget kalo kamu pernah jenguk dia terus nanti ngasih uang lebaran banyak-banyak" ujar Nirbita berbisik.
Jika masalah duit mata Naila yang ngantuk menjadi segar bugar,"Beneran kak?"tanyanya memastikan diangguki Nirbita sebagai jawaban iya.
"Ibu,mamih ila ikut" peliknya membuat seisi ruangan menutup telinga mendengar teriakan Naila yang nyaring.
"Woy berisik!"desis Antariksa tak didengar," Bocah edan!"
"Ta kamu tau siapa yang udah jahatin kamu?"celetuk Bastian.
Nirbita cemberut," Bisa ga ga usah bahas itu dulu ita masih keinget kejadian kemarin pas mau jatuh, ita masih takut"jawabnya.
"Yaudah maafin abang ya,kamu tenang aja pelakunya pasti akan ketangkep" ujar Bastian tidak mau memaksa.
"Jadi kamu mau jatuh dari lantai empat bukan karena kepeleset ta?" Naya malah kembali bertanya padahal Nirbita sudah bilang gamau bahas.
Nirbita mengangguk,"Ada yang tarik ita dari belakang kenceng banget,ita sekilas liat yang narik tapi ita gainget wajahnya gimana "jawabnya.
"Coba lu inget-inget lagi"ujar Antariksa.
"Ceritanya jeda dulu,abang mau angkat telepon dulu jangan bahas tanpa abang" sela Bastian sebari bangkit dari duduknya dan pergi keluar untuk mengangkat telepon.
Tadi dirusuh cerita pas ngonong malah minta jeda!.
"Angkat telepon aja harus segala keluar " cibir Antariksa,jika tidak mencibir sehari saja bagi Antariksa sayur tanpa garam,hambar!.
"Kak Naya gapapa?" Ujar Nirbita menatap Naya mereka beradu tatap.
"Aku emang kenapa ta?"Naya malah kembali bertanya.
"Kalo ada masalah jangan dibiasain dipendem kak,kakak ga sendiri,ita siap ko dengerin curhatan kakak" ungkapnya membuat Naya mengerutkan dahinya lalu menatap Antariksa seolah berjata,'lu cerita'.
"Gue ga ngomong apa-apa sama si Nirbita" jawabnya.
"Aku ga perlu denger dari orang lain kalo kakak lagi ada masalah kak,dengan aku lihat muka kakak aja aku udah tau ko,kakak kan mukanya emang bermasalah kaya om tarik" ujar Nirbita tadinya serius malah terdengar menyebalkan.
"Lah gue dibawa-bawa!" Dengus Antariksa.
"Aku serius kak,aku tau kakak lagi ada yang dipikirin,kakak gamau berbagi sama aku?,siapa tau aku bisa bikin masalah lebih membara gitu" guyonnya Nirbita tidak akan lepas walau tengah serius sekalipun.
"Santai setiap masalah pasti ga ada jalan keluarnya" celetuk Antariksa membuat mereka mendengus.
"Om Tarik kalo ga bisa ngasih usulan ya diem,kalo ga bisa diem sana keluar!,diam itu emas"sentak Nirbita menggebu.
Nirbita mengalihkan perhatiannya pada Naya lagi mumpung hanya ada dirinya,Naya dan Antariksa jika ada yang lain rasanya kurang nyaman jika membahas sesuatu yang hanya harus diketahui sedikit orang,"Kakak yakin gamau cerita?" Tanya Nirbita lagi.
Naya sejak tadi tengah diam memikirkan haruskah dia bercerita pada Nirbita,tapi Nirbita selalu punya ide diluar nalar untuk menguji sifat seseorang dan selalu berhasil, Naya menghela napas,"Oke kakak cerita jadi gini,,,,"
Naya menceritakan tanpa cela ya walaupun triplet ini ga bisa jaga rahasia kecuali,,,
Nirbita mengangguk paham sebari mengubah posisinya yang rebahan diranjang rumah sakit jadi bersandar,"Sekarang kakak tau mau kakak gimana? "Tanya Nirbita serius.
"Gatau ta,jujur aku kecewa sama Jastin tapi perasaan ini ga bisa ilang gitu aja"jawab Naya bingung dengan dirinya sendiri.
"Kalo menurut aku kakak kasih aja kak jasjus kesempatan kedua,setiap orang berhak memperbaiki diri kak" usul Nirbita langsung mendapat pelototan tidak setuju dari Antariksa.
Naya bergeming.
"Aaaaa" Antariksa berteriak dengan kondisi mata melotot bibir ditutup rapat-rapat teriakannya terdengar tidak jelas.
"Ngapain si lo tarik?!" Sentak Naya bingung dengan ulah om berondong itu.
"Gue ga setuju!,kalo si Jastin cuma pura-pura berubah jadi baik gimana coba?,lo disakitin lagi,seenganya jangan buat kesalahan yang sama Naya Bunga masih banyak kesalahan lain yang harus dicoba!"desis Antariksa.
"Bener juga kasian masalah lain ga dicobain kalo balikan terus sama masalah lama" oceh Nirbita setuju dengan om berondongnya.
"Ta" panggil Antariksa pada Nirbita.
"Apa om?" Tanya Nirbita heran dengan tatapan berbinar om berondongnya,aneh tadi mendesis sekarang malah berbinar,kalo ga aneh bukan keluarga triplet namanya.
"Emas gue mana? "
"Hah?" Cengo Nirbita loading begitu juga Naya.
"Emas apaan dah lo?" Tanya Naya bingung.
"Itu tadi Nirbita bilang diam itu emas,gue dari tadi diem sekarang mana emas gue! " tagih Antariksa sableng.
__ADS_1
Sejak tadi ia diam bukan karena tidak ingin bicara,hanya saja keinginan memiliki banyak emas dari keterdiamannya itu sangat tinggi,kan lumayan tuh bisa makin Sultan Antariksa kalo diam adalah emas.
Ini Antariksa nya saja yang oon, Nirbita tadi hanya mengatakan seumpama bukan emang beneran,kalo diam beneran dapet emas maka semua orang akan memilih jadi pengangguran.