DIARY TRIPLET N

DIARY TRIPLET N
SALING MERINDU


__ADS_3

Siang ini jalanan terlihat cukup senggang di minggu siang kebanyakan orang-orang memilih jalan-jalan atau rebahan dirumah menikmati hari libur.


Mobil berwarna biru melaju dikecepatan rata-rata didalamnya berisi tiga orang yang tengah mengobrol menikmati waktu mereka di perjalanan,didalam mobil kondisinya terasa tegang bukan karena ada pertengkaran tapi entahlah,sampai-sampai teriakan menggema di sana.


"Awas"


Didepan mereka ada motor yang berisikan dua orang remaja awalnya semua biasa saja sampai tiba-tiba mobil kontainer dari arah berlawanan melaju sangat cepat dan menabrak motor itu.


Brugk


Motor yang ditabrak mobil kontainer terpental cukup jauh,kondisi dua orang dimotor itu tidak jauh berbeda dengan motor itu, mereka juga terlempar jauh jika motor tidak akan merasa kesakitan berbeda dengan dua anak manusia yang terlempar jauh dari motor.


Kedua tubuh itu melayang disertai teriakan histeris dari para pengemudi lain serta warga sekitar.


Salah satu dari korban terpental sampai mengenai dahan pohon yang sangat besar sebelum mendarat di tanah tak sampai disitu,setelah mendarat ditahan korban itu terguling beberapa kali sampai kepalanya terbentur bahu jalan,nasibnya begitu buruk masih mending dengan nasib si pengendara motor setelah terlempar langsung mendarat di tanah walau tak ayal tubuhnya dipenuhi luka.


Untuk pengemudi mobil kontainer yang mengemudi adalah seorang pria paruh baya,menyadari apa yang sudah ia lakukan bukannya bertanggung jawab pria itu malah berlari tunggang-langgga untuk kabur,tidak ada yang menyadari pria itu kabur mereka terlalu syok dengan apa yang terjadi.


Didalam mobil yang tepat berada dibelakang motor korban tadi mereka terdiam seolah nyawa mereka hilang detik itu juga,jika Jastin tidak cepat mengerem mendadak ia juga akan terlihat dalam kecelakaan didepannya,tapi,,,.


"Nirbita" teriak Naya ketika tersadar gadis itu langsung bergegas turun dari mobil dengan tubuh gemetar.


Adiknya adiknya tadi motor yang ditumpangi Nirbita.


Jastin segera menyusul Naya yang berlari kearah kedua orang yang terlempar saat kecelakaan,untuk Naila gadis itu tidak bisa menahan tangis susah payah ia keluar dari mobil,apa yang disaksikannya tadi ingin ia sangkal,tapi.


Naila bahkan terjatuh diaspal ketika berjalan menuju kakaknya tapi naila tidak menyerah dengan langkah sempoyongan gadis itu terus berusaha menghampiri kakaknya dan berharap bukan Nirbita yang terlibat kecelakaan,bukan kakak sepupunya.


Tubuh Naya bergetar hebat ia menyisingkan kerumunan dibantu Jastin untuk mendekati dua korban yang terpental dari motor mereka karena ditabrak mobil kontainer,tubuhnya seketika ambruk melihat tubuh didepannya begitu banyak darah yang keluar dari balik helm yang masih terpasang pada tubuh adiknya,ya itu adiknya,tidak!,bisa saja Naya Salah lihat kan?,Nirbita pasti baik-baik saja,dia bukan Nirbita adiknya!.


Naya hendak meraih tubuh Nirbita tapi jastin melarangnya,"Jangan sentuh Naya,kita ga ceroboh".


"Itu bukan Nirbita kan Jas?,itu bukan adik gue,Nirbita baik-baik aja kan jas?,gue-gue mau mastiin dia bukan adik gue Jas"ujar Naya lirih rasanya tidak kuat sekedar mengeluarkan suara isak tangis menyertai suaranya.


Warga yang mendengar perkataan Naya merasa kasian merasakan ketakutan gadis itu.


Naya menyangkalnya,dia bukan Nirbita,Nirbita baik-baik saja dan tidak menjadi korban kecelakaan.


Jastin memeluk Naya mencoba menenangkan walau ia sadar cara itu tidak akan ampuh," Kita gabisa asal sentuh Naya takutnya pergerakan yang kita lakukan membuat korban semakin parah,kita tunggu ambulans"ujarnya memberi pengertian


"Ambulans,Jas hubungin ambulans jas cepet" pinta Naya.


"Kami udah telepon ambulans tadi neng sebentar lagi pasti datang,neng yang sabar ya" ujar salah satu warga disana.


Naya menangis disamping tubuh korban yang terus mengeluarkan darah,Naya tidak tahan melihat penderitaan ini,Jastin tersentak ketika mengingat Naila,gadis itu pasti sama hancurnya seperti Naya bahkan lebih dari Naya.


"Naya lo tunggu disini gue samperin naila dulu" ujarnya cepat membuat Naya tersadar.


"Naila,jas naila tolong cari Naila jas,tolong-tolongin gue Jas"


"Iya gue cari naila lo jangan berbuat nekat" pinta Jastin sebari tak iklas melepas pelukannya pada Naya dilepas,ia tidak ingin melepas Naya disaat kondisi gadis itu yang sedang hancur tapi ia juga tidak boleh egois.


Jastin berlari untuk kembali kemobil tatapannya terarah pada Naila yang berjalan berkali-kali jatuh karena tidak bisa menahan getaran pada batin nya yang tengah menangis pilu dengan kejadian yang mereka lihat tadi, Jastin merasakan kehancuran keluarga triplet saat ini.


Jastin menghampiri Naila untuk membantu gadis itu berjalan menghadapiri kakak-kakaknya yang tengah dalam kondisi tidak baik-baik saja.


Gara tergeletak tak jauh dari tubuh Nirbita yang tidak ada pergerakan sama sekali,sedangkan Gara masih memiliki kesadaran walau sangat kecil, tatapan pria itu sudah mengabur tapi terus mencoba bergerak untuk mendekati tubuh Nirbita disamping Naya yang tengah menangis pilu,sayangnya tubuh Gara tidak bisa digerakan hanya gumanan tanpa suara yang bisa Gara lakukan sebelum kegelapan seutuhnya merenggut kesadaran,"Nirbita".


.


.


.


Ramai tapi aku merasa kesepian.


Ada sesuatu yang hilang tapi entah itu apa.


Ingin berjalan tapi tidak punya tujuan.


Ingin berjuang tapi entah untuk siapa.


Ada rasa kosong diramaian ini,Ada sesuatu yang tidak lagi disini,mencaripun tidak kunjung ketemu,rasanya lelah tapi tak ingin menyerah.


Untuk apa aku berjuang jika dia sudah tidak ada lagi?.


Canda,tawa,dan sikap menyebalkan hanya bisa mereka kenang untuk sekarang,semua sudah hilang,mereka hanya bercanda ketika berkata tidak menginginkan dia ada,nyatanya sebaliknya,mereka bersyukur dia ada tapi kenapa ucapan yang mereka anggap candaan malah dijadikan kenyataan.


Memang ucapan adalah doa,mereka menyesal sudah berkata buruk,andai jika waktu bisa diputar kembali mereka tidak akan mengatakan hal buruk itu,andai kejadian buruk itu tidak terjadi mereka tidak akan merasakan kehilangan.


Tapi mengandai-ngandai tidak membuat semua baik-baik saja,setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan.


Helaan napas terdengar beberapa kali membuat orang disekitarnya merasa keheranan,mereka menatap Gara dengan penuh tanya sikap pria itu semakin dingin setelah sadar dari koma dari kecelakaan yang terjadi satu tahun lalu.


Ya sudah satu tahun berlalu sejak kecelakaan hebat yang terjadi padanya dan juga Nirbita.


Pria itu mengalami koma selama satu bulan setelah tersadar Gara mengalami amnesia sementara,kata dokter ingatan Gara akan kembali seiring berjalannya waktu.


Awalnya Gara hanya mengingat kedua orang tuanya saja benar kata dokter seiring berjalannya waktu Gara mengingat kenangannya,Gara mulai ingat dengan teman-temannya tapi tidak semua.


Masih banyak hal yang Gara lupakan.


"Kenapa lo gar?,kaya tertekan banget muka lo" ujar Farel disertai gurauan.


Gara tidak mengalihkan pandangan dengan wajah dinginnya yang selama satu tahun ini semakin sulit berekpresi bahkan ia menjadi lebih anti pada wanita,entah kenapa tapi setiap ada wanita yang mendekatinya Gara akan langsung mengamuk saat itu juga.


"Ada yang hilang" jawabnya.

__ADS_1


"Apa bos?,mau kita bantu cari biar cepet ketemu gitu?"tawar Rezaldi.


Gara menatap teman-temannya silih berganti lalu menghela napas dan menggelengkan kepalanya,"Kalian ga bakal bisa bantuin gue" jawabnya terlihat putus asa.


"Lah kenapa?,lo sebutin aja kita pasti bantu cari ko,kayanya penting banget" ujar Bintang.


Gara lagi-lagi menggelengkan kepalanya,"Gue aja ga tau yang hilang itu apa,gimana kalian mau cari,gue merasa kehilangan rasanya dada gue sesek banget"jawabnya pertama kali berkata panjang setelah satu tahun ini,ya walau emang dari setelan pabriknya Gara emang dingin dan irit bicara tapi sejak sadar dari koma pria itu semakin parah.


Apalagi ini sedikit menjabarkan perasaan Gara saat ini,inti Algaskar saling pandang dengan tatapan rumit tidak ada yang mengeluarkan suara mendadak lidah mereka terasa kelu.


"Lo ga inget dia tapi hati lo masih menyimpan kenangan kalian sampe buat lo merasakan kehilangan ini bos" gumam Devan lirih hanya di dengar orang disampingnya.


"Bos yang hilang ingatan masih inget dia gimana sama kita coba yang jelas ingatan kita baik-baik aja,gue kangen" timpal Rezaldi.


"Lo lupa sama kita bang,gue udah dari kecil sama mereka dan sekarang gue ga nyangka bisa lanjutin hidup tanpa ocehan mereka" timpal Davri menunduk sedih.


"Gue kangen triplet" timpal Wahyu.


Mereka menunduk sedih mendengar perkataan Wahyu bahkan Gara sekalipun merasa sedih tapi entah untuk apa ia sedih,"Triplet?,siapa triplet?"tanyanya entah kenapa ada rasa senang,sedih,dan kerinduan dihati Gara ketika mengatakan nama triplet.


Mereka saling pandang,"Mungkin ini saatnya"celetuk rezaldi setahun ini mereka tidak pernah mengingatkan Gara pada sosok tiga gadis pembuat ulah itu,bukan tidak ingin.


Hanya saja mengikuti saran dokter untuk kebaikan kondisi Gara yang meminta untuk tidak memaksakan ingatan Gara dan membiarkan berjalan secara alamiah,mereka hanya berani memberikan klise-klise saja walau hasilnya nihil,Gara tidak ingat pada mereka,mungkin.


"Triplet itu sahabat gue,tepatnya kita sih,seperti yang lo tau,triplet itu sebutan untuk tiga orang dan itulah mereka,mereka tiga gadis pembuat onar sekaligus pembuat kebahagiaan walau kebanyakan bikin emosi,tapi kepergian mereka berhasil membuat kita merasakan kehilangan yang mendalam,mereka lebih memprioritaskan makan daripada apapun,tapi yang paling mereka prioritaskan adalah satu sama lain,mereka naya,nirbita,naila si triplet pembuat onar yang kini menghilang" jelas Farel menunduk sedih.


Buliran kristal menetes dari kelopak matanya ketika kilatan kebersamaan bersama triplet melintas,Farel tidak menyangkal kalo dirinya merindukan tiga sahabatnya itu.


Gara tersentak mendengar penjelasan Farel tentang triplet,Ada rasa kerinduan yang hatinya ingin luapkan jelasnya pada salah satu dari mereka,"Nirbita Aster"gumannya pelan.


Setelah pulang sekolah Gara langsung merebahkan tubuhnya diranjang dengan pikiran yang terus mengelana,satu nama terus melintas dikepalanya namun membuat ia pusing ia tidak memiliki ingatan bersama gadis itu,tapi ia merasa kerinduan yang mendalam.


"Nirbita aster sebenarnya lo siapa?"tanyanya padahal ia sadar betul tidak akan mendapatkan jawaban dikamarnya ini yang hanya ada dirinya,secara perlahan tapi pasti Gara menutup matanya dan terlelap kealam mimpi.


Sedangkan dipelosok bumi yang sama namun ditempat berbeda seorang gadis dengan kunciran dua pada rambutnya memakai baju tidur bergambar kodok tersentak ketika merasa ada yang menyerukan namanya.


Gadis itu mengedarkan pandangannya pada sekitar tapi tidak ada siapa-siapa,apa dirinya salah dengar,mungkin saja.


"Kakak mah dari tadi dicariin didalem malah disini,lagi ngapain sih?"tanya seorang gadis yang terlihat sekilas mirip dengan gadis kunciran tadi bahkan gadis yang menghampiri juga menguncir rambutnya sama.


"Tuh,lagi liat bintang,indah banget la" jawabnya sebari menggeladahkan kepalanya menatap langit yang sudah malam.


Naila ikut menatap langit itu dan senyum lebar menyertai bibirnya,"Bintang "ujarnya sebari terkekeh.


Ya dua gadis itu adalah Nirbita dan Naila,sudah satu tahun lamanya mereka disini,bukan dinegara kelahiran mereka.


Mereka pergi meninggalkan negara kelahiran,sahabat dan juga keluarga,mereka tidak ingin melakukan itu tapi mereka tidak memiliki pilihan lain.


Satu tahun lalu kondisi Nirbita kritis setelah kecelakaan,kondisinya lebih buruk dari Gara,Nirbita dibawa pergi dari negara kelahiran disaat kondisinya koma untuk melakukan pengobatan lebih lanjut.


Nirbita hanya berada dua hari dirumah sakit sebelum dibawa pergi ke negera lain tanpa bisa dijenguk bahkan berpamitan tidak mungkin,tidak ada yang tau Nirbita dibawa kemana karena keluarga sangat merahasiakan karena alasan khusus.


Nirbita yang masih diberi keselamatan saja sudah membuat mereka bersyukur untuk kenangan mereka masih bisa membuatnya selama mereka bersama.


Setelah Nirbita sadar sekeluarga sepakat untuk membiarkan Nirbita tinggal di negara yang ia tinggali sekarang untuk menyembuhkan diri bahkan naila dan Naya rela pindah agar tetap bersama saudara mereka itu.


Meninggalkan teman-teman dan juga keluarga,bahkan mereka tidak lagi menghubungi teman-teman mereka diindonesia,bukan ingin memutuskan hubungan bersama mereka hanya saja agar mereka kuat menahan rindu saja dan bertahan di negara asing.


"Pokus amat lagi liatin apa sih?"tanya Naya yang tiba-tiba nongol membuat dua gadis yang dijuluki sikembar beda orang tua tersentak.


"Kakak kebiasaan banget sih bikin orang kaget,untung ga punya penyakit jantung lah kalo punyakan meleyot" dengus Naila kesal.


"Maaf ga sengaja,gitu aja kaget sih cupu" cibir Naya yang emang mulut pedes Naya ga bisa diubah malah semakin jadi cuy.


Naila melotot ga terima dikatain cupu,"Nyebelin banget!"dengusnya sebari membuang muka kearah lain lalu kembali menatap langit.


"Gelut aja gelut" provokasi Nirbita,mereka bersyukur walau Nirbita melupakan sebagian ingatannya dan tidak akan mendapatkannya kembali tapi sifat Nirbita tidak berubah dan masih ceria.


"Gaah " tolak Naya.


"Ckckckck takut kalah tuh" ejek Naila.


"Yang pasti bukan aku,kalo kamu lawan kakak jelas kamu kalah" ujar Naya membalas mengejek dengan wajah santai.


"Oh engga salah lagi" jawab Nirbita ikutan mengejek Naila membuatnya mendengus.


Emang dari dulu dua kakaknya itu selalu kerja sama jika untuk menindas naila dah.


Menyebalkan.


Waktu berlanjut menjadi hening mereka bersama-sama menatap langit yang sama yang malam ini dipenuhi bintang diatas sana, indah.


"Jas lo apa kabar?!"ujar Naya dalam hati sebari menatap langit yang indah,sudah satu tahun lamanya ia tidak mengabari Jastin perasaannya untuk pria itu masih sama,pertanyaannya apa Jastin juga masih seperti dirinya apalagi Naya pergi tanpa pamit.


"Aku kangen kalian"Naila juga berguman dalam hatinya sebari mengingat kenangan di negara kelahiran yang jika ingin ia datangi sekarang harus menggunakan jalur udara.


Alias naik pesawat.


Nirbita menatap lekat langit malam," Aku gatau kenapa tapi rasanya ada orang yang aku lupain,apa dia penting,jika ia maaf aku ga bisa inget kamu, jika kita berjodoh suatu hari nanti kita akan dipertemukan kembali tapi jika tidak,maka aku berdoa semoga kamu bertemu dengan jodoh terbaik mu dari allah dan aku juga dipertemukan dengan jodohku "guman Nirbita hanya terdengar oleh dirinya sendiri walaupun tidak bicara didalam hati karena ia tidak mengeluarkan suara dan menggerakan bibinya saja seolah berbicara pada langit malam untuk menyampaikan pesan.


DUA ORANG YANG SAMA-SAMA SALING MELUPAKAN TENGAH SALING MERINDUKAN,ANEH,TAPI INI URUSAN HATI,WALAUPUN OTAK MELUPAKAN DAYA INGATNYA TAPI HATI TERUS BERJALAN SEMESTINYA.


MUSIBAH YANG TIDAK PERNAH MEREKA BAYANGKAN MEMBUAT MEREKA TERPISAHKAN,TAPI HATI TERUS MENCOBA MENGINGATKAN BAHWA ADA SESEORANG YANG SUDAH TERTULIS DISANA.


MEMANG JIKA ADA PERTEMUAN PASTI ADA PERPISAHAN,MEREKA PASTI DIPISAHKAN JARAK,ENTAH ANTAR KOTA,NEGARA ATAU BAHKAN MUNGKIN KEMATIAN.


SEMUA ITU PASTI JIKA ALLAH SUDAH MENGHENDAKI.

__ADS_1


JIKA MEMANG BERJODOH MEREKA AKAN KEMBALI DIPERTEMUKAN,SELAMAT TINGGAL TIDAK SELAMANYA UNTUK PERPISAHAN TAPI JUGA UNTUK MENETAPKAN.


Gara tersentak dari tidurnya,pria itu tersenyum lebar masih menggunakan seragam sekolahnya pria itu keluar dari kamarnya dengan tergesa,sang ibu yang melihat itu kebingungan dengan sikap anaknya yang tersenyum setelah keluar dari kamar.


" Gara kamu mau kemana malem-malem begini?,mana masih pake seragam pula,kamu belum bersih-bersih?"tanya sang ibu membuat Gara menghentikan langkahnya.


"Gara keluar dulu mah ada keperluan,asalamualaikum" pamitnya tergesa setelah mencium tangan sang ibu tanpa mendengarkan ocehan ibunya agar Gara tidak pergi.


Gara keluar dari rumah perkataan ibunya benar ternyata waktu sudah malam,artinya Gara tertidur sangat lama, tanpa bergerak lamban Gara menghampiri motonya dengan wajah ceria wajah yang hilang satu tahun ini kini menghiasi wajah gara,suatu keajaiban dari allah.


Gara menyalakan motonya dengan senyum tertahan dan berguman dengan penuh keceriaan dan kerinduan,"Bi aku datang".


.


.


.


Beberapa jam sebelumnya tepatnya di penjara ditempat berkunjung ada dua orang yang tengah mengobrol salah satu dari mereka menggunakan baju tahanan.


"Pak saya ga mau disini terus saya ingin keluar,tolong bebasin saya pak,sama mohon,saya sudah melakukan apa yang anda mau satu tahun lalu,saya juga tidak membawa anda dalam kasus ini,saya mohon pak bantu saya keluar dari sini" pinta sang tahanan dengan lirih dan penuh permohonan.


"Diam!,anda terlalu banyak menginginkan lebih baik anda diam dan tutup mulut selamanya,dan nikmati hidupmu disini selama sepuluh tahun! "


"Saya tidak ingin menghabiskan waktu didalam penjara pak,saya ingin bebas,saya tidak bersalah saya hanya di suruh anda untuk menabrak remaja itu,jika anda tidak membebaskan saya,saya akan memberitahu mereka kebenarannya" ancam si tahanan membuat lawan bicaranya mengeram marah.


"Diam!,saya akan pikirkan cara untuk membebaskan kamu tapi seumur hidup kamu harus menjaga rahasia ini atau keluargamu jadi taruhannya" ancam si lawan bicara dengan marah.


"Tidak pak,saya akan tutup mulut selamanya" jawab tahanan itu dengan mata bersinar penuh harapan kebebasan.


Sebentar lagi ia akan bebas dari jeruji besi yang sudah satu tahun menjeratnya karena menabrak pengendara motor atas suruhan orang didepannya ini,kecelakaan itu disengaja tapi tidak ada yang tahu kecuali dirinya dan orang didepannya.


Dirinya dijatuhkan hukuman sepuluh tahun penjara dan tinggal sembilan tahun lagi,,tapi ia ingin bebas sekarang.


"Saya akan carikan caranya nikmati saja waktumu disini sebisa mungkin sebelum terbebas" ujar pria itu sebari bangkit dari duduknya dan peninggalkan tahanan itu.


"Nikmati waktumu pak tua karena setelah ini ajal akan menyambutmu" gumannya didalam hati dengan senyum tipis sebari berjalan pergi meninggalkan lapas.


Baginya tidak ada rahasia yang tidak terbongkar selama ada saksi,untuk menyembunyikan semua kejahatannya hanya dengan cara menghilangkan saksi,dan itu yang ia gunakan ia sudah merencanakan untuk meracuni pria dilapas tadi yang menjadi orang suruhannya untuk menabrak seseorang satu tahun lalu sampai mati.


Dengan begitu semua akan menjadi rahasia yang hanya dirinya saja yang ketahui, hhhhhh.


.


.


.


Kembali pada jam dimana Gara pergi dari rumah beberapa menit diperjalanan ia sudah sampai dihalaman rumah rangga.


Rumah yang dua minggu lalu ia datangi dengan alasan berbeda,yaitu menjenguk keponakan devan yang dua bulan lalu dilahirkan berjenis kelamin laki-laki.


Sekarang ia kemari untuk menemui seseorang yang ia rindukan,sudah satu tahun lamanya,Gara mengedarkan pandangan melihat sekitar tidak ada yang berubah hanya saja selama kemari ia tidak pernah bertemu dengan dia.


Ya dia yang ia lupakan.


Suara bel rumah dibunyi terdengar nyaring kedalam.


"Sebentar" Rangga membuka pintu dengan halis terangkat.


"Asalamualaikum bang,apa kabar?" Ujar Gara ketika melihat pria yang selalu ia ajak debat tentang dia satu tahun lalu.


Rangga masih setia dengan wajah bingungnya,"Baik,lo nyari Devan? "Tanyanya the de poin bukan tidak suka berbicara dengan Gara hanya saja dirinya harus segera kembali masuk kerumah,putranya ia tinggalkan didalam kamar sendirian sedangkan  istrinya sedang mandi.


Ia menghawatirkan putranya sekarang.


Gara menggelengkan kepalanya," Engga bang,gue nyari Nirbita "


Rangga tersentak tapi dengan cepat ia mengubah raut wajahnya kembali tenang,"Nirbita?,Nirbita siapa?,lo salah rumah kali"ujarnya senatural mungkin beranggapan Gara hanya salah sebut atau salah rumah jika tidak salah maka percuma saja bukan.


"Gausah gitu dong bang,gue alhamdulillah udah inget semuanya,gue mau ketemu Nirbita bang,gue mohon bang"


Rangga menghela nafas,"Alhamdulillah kalo lo udah inget semuanya,tentang Nirbita sory banget gue ga bisa ngasih tau dia dimana sekarang,tapi dia baik-baik aja,kalo lo berjodoh sama dia kalian pasti dipertemukan lagi,gue harus masuk nih anak gue dikamar sendirian mamihnya lagi mandi,lo duduk ajak dulu"ujar Rangga berlalu.


Gara menghela napas ia harus menunggu Rangga kembali agar bisa berbicara.


Disisi lain rangga kembali ke kamar yang dan mengecek sang putra tidur dengan pulas,pria yang menyematkan panggilan untuk dirinya sebagian Daddy itu menghela napas,"Abang kangen kalian,kalian kapan pulang"ungkapnya sendu dengan tatapan beralih pada foto di sudut meja.


Foto triplet tengah tersenyum lebar.


Dirinya juga sama sudah setahun tidak bertemu ketiga adiknya,rumah ini terasa begitu kosong mereka hanya bisa berkomunikasi lewat layar tidak secara langsung,kerinduan itu begitu dalam,sosok yang selalu disamping kini tidak ada,bahkan adik-adiknya belum melihat langsung wajah keponakan mereka yang dinanti-nanti.


Menyesakan!.


Rangga merogoh ponselnya dan berjalan menuju balkon agar tidak mengganggu tidur putranya dan menempelkan ponsel di telinganya.


"Asalamualaikum dad" sapa Rangga setelah tersambung.


Setelah basa-basi menanyakan keadaan Pak Smit dan adik-adiknya di negara lain,Rangga langsung mengatakan alasan kenapa ia menelepon sekarang selain merindukan adik-adiknya.


Pak Smit disebrang telepon tersenyum tipis mendengar perkataan rangga yang mengatakan bahwa Gara susah mengingat semuanya,"Biarkan saja dia berusaha,jangan biarkan ada yang tau keberadaan adik-adukmu disini,biarkan mereka berjuang untuk masa depan mereka"ujarnya banyak hal yang mereka katakan sampai pada telepon diputus.


Pak Smit menghela napas dan berjalan kearah balkon ruangan kerjanya dirumah,tatapannya menunduk menatap sosok tiga gadis tengah berbaring direrumputan dengan tikar sebagai alas tengah menatap indahnya langit malam.


"Ya jika kalian katakan dedy kejam maka Daddy akui itu,karena Daddy mengakui selama ini Daddy bukan orang baik,semua akan Daddy lakukan untuk kalian apalagi masa depan kalian,yang kalian dapatkan haruslah berlian bukan remahan renginang,mereka tidak layak sekarang!"


TAMAT

__ADS_1


UCAPAN SELAMAT TINGGAL TIDAK SELAMANYA UNTUK PERPISAHAN TAPI JUGA UNTUK MENETAPKAN.


SAMPAI JUMPA SALAM CINTA DARI :BINTANG KELABU:


__ADS_2