DIARY TRIPLET N

DIARY TRIPLET N
Hati yang tersakiti


__ADS_3

Nirbita yang berjalan gontai dengan wajah nunduk seperti tengah memantau jalan siapa tau ada uang jatoh sesekali menendang krikil dengan asal,"Huh nyebelin"gumannya entah ia sadar atau tidak dibelakangnya ada tiga remaja yang sejak tadi mengikuti langkahnya yang tak tentu arah itu.


Dua orang diantaranya menggunakan motor.


Nirbita menepi diwarung pinggir jalan dengan wajah menekuk,"Bu jual eskrim ga?"tanyanya tanpa menoleh kearah warung.


"Ada neng mau rasa apa?" tanya punya warung.


"Rasa yang pernah ada namun disia-sia kan" jawab Nirbita membuat ibu warung terbahak.


"Lagi galau ya neng?" tebak bu warung sebari menghampiri Nirbita yang sudah duduk di kursi yang disediakan bu warung dan ada tiga remaja yang ikutan duduk di kursi lain.


"Engga,aku lagi bt sama dia" jawabnya setengah bernyanyi dengan wajah lesu.


Bu warung kembali terbahak,"Si neng lucu deh"ujar nya sebari mengusap pucuk kepala Nirbita membuat gadis itu mendongkak.


Wajah Nirbita menekuk hidungnya memerah matanya berkaca-kaca siap menangis namun sejak tadi ia tahan,"Ibu dagang seblak ga bu?"tanyanya.


Ibu itu memandang Nirbita heran lalu beralih pada tiga remaja yang terlihat mengikuti gadis cantik itu sejak tadi,"Kalian apain neng ini hah?!"sentak bu warung melotot kan matanya pada tiga remaja itu.


"Eh ibu ko nuduh-nuduh" jawab dari tidak terima padahal ia sudah baik mau mengikuti langkah Nirbita yang selalu sesat dijalan,"Saya ini anak RT bu"


"Hubungannya apa sama kamu anak RT?"sela bu warung.


"Artinya saya ga akan berbuat baik, eh salah magsudnya berbuat buruk demi menjaga nama baik keluarga saya sebagai RT" jawab Davri.


"Pencitraan" ejek Nirbita.


"Wah kalo anak jaman sekarang kaya kamu semua,saya yakin keluarga jadi tentram,ga kaya diberita-berita yang anak pejabat mukulin anak dibawah umur kan pas diperiksa polisi orang tua juga keseret" ujar bu warung menggebu.


"Ada baiknya juga bu,kan jadi ketahuan kalo penjabat itu punya usaha ilegal" saut Wahyu nimbrung pembicaraan bersama bu warung.


"Iya juga si,kalo anaknya ga mukulin anak orangkan bapaknya bisa tenang-tenang aja,dia juga bisa menikmati hidup di luar penjara" seloroh bu warung.


"Tenang didunia tersiksa diakhirat bu" saut Nirbita mengusap hidungnya yang mengeluarkan ingus lalu mengusap matanya.


"Iya si neng,ada berkahnya juga itu anak mukulin anak orang"


"Iyalah anak orang masa mukulin anak setan yang ada bukan dipenjara tapi dimakan" ujar Wahyu terkikik.


"Kamu belum mau pulang bi?" tanya Gara beralih duduk disisi lain Nirbita.


Nirbita menggelengkan kepalanya,"Ita mau minggat dulu,gamau pulang"jawabnya.


"Eh kenapa gamau pulang?, lagi ada masalah dirumah?" tanya bu warung.


Nirbita menggelengkan kepalanya lalu mengangguk,"masalahnya disekolah tapi diikut pulang"jawabnya membuat Davri dan Wahyu mendengus.


"Ibu dagang seblak ga?" tanya Nirbita lagi.


Ibu itu menggeleng,"Engga neng,ibu cuma dagang jajanan kaya gitu doang,kalo eskrim ada"ujarnya sebari menunjuk kearah dagangan yang ia jejerkan.


"Mau bu" ujar Nirbita.


"Ibu ambilin tapi sebut rasanya jangan rasa yang pernah ada tapi disia-siain kan ngenes neng"jawab ibu warung.


"Eleh emang banyak drama bocah"cibir Wahyu.


"Iya bu,mau rasa coklat,rasa pisang,Sotoberi"


"Stowbery"hardik Davri dan Wahyu serempak.


Nirbita mendengus,"Terserah ita dong mau sotoberi ke stowbery ke mulut-mulut ita kenapa kalian yang repot!"


"Udah gausah ladenin mereka kamu ambil aja eskrim nya sendiri biar bisa pilih yang kamu mau" ujar Gara mengusap pipi Nirbita yang dibasahi keringat.


Nirbita mengangguk dan berlalu kearah penyimpanan eskrim.


"Uwuw banget cih,ibu jadi iriiii, aaaaaa sosweet" rengek bu warung dengan tingkah Gara pada Nirbita.


Davri dan Wahyu memutar matanya malas,"Masih gantung juga"guman mereka berbisik,karna jika terdengar Gara mereka tidak akan berani dan bisa saja kena tonjokan indah dari bosnya itu.


.


.


.


Tin Tin Tin


Risa tersentak mendengar suara klakson tepat disamping ia berjalan,gadis itu masih cemberut merutuki kehidupannya yang selalu sial,sudah dibenci orang tua kandungnya sendiri,tidak punya teman tapi untungnya kini ada Triplet,selalu mendapat bullyan dari kakak angkatnya,sekarang harus pulang jalan kaki mana rumahnya masih jauh,hah kayanya gue emang bener pembawa sial deh'pikir gadis itu.


Risa melirik kesamping kearah orang yang menyalakan Klakson motornya beberapa kali,meneliti motor itu risa terasa familiar,motor tadi pagi.


"Apa kak?" tanya Risa tanpa menghentikan langkahnya dituruti pemotor itu sebari menjalankan motornya mengikuti kecepatan langkah risa secepat siput.


"Eh masih inget,kirain lupa"


"Kakak pikir aku pikun apa!" dengus Risa.


"Aku ga bilang gitu ya" jawabnya,"Gamau berhenti dulu gitu,berat nih nuntun motornya"sambung pria itu.


Risa melirik malas pria di sampingnya, "Gausah dituntun kali kak,nyalain terus ngibrit" jawabnya membuat pemotor itu terkekeh.


"Tadinya mau nawarin bareng,tapi kayanya kamu gamau yaudah deh aku pergi" ujar pria itu sebari menghentikan motornya yang ia bawa tapi tidak dinyalakan.


"Idih kakak ga nawarin bareng ya!" cibir Risa ikut menghentikan langkahnya.


"Emang kalo ditawarin mau?" tanya Devan membuka helmnya.


Risa tampak menimang pertanyaan Devan,jika menolak maka ia harus pulang jalan kaki sampe rumah dan jarak rumahnya masih sangat jauh bisa putus kakinya jika beneran pulang jalan kaki,risa mengangguk lirih,"Kalo beneran sih mau"ujarnya malu-malu.

__ADS_1


"Yaudah yu naik!"


"Beneran?" tanya Risa menatap Devan dengan tatapan selidik,ia takut dikerjain seperti tadi pagi oleh kakak angkatnya tapi jika berniat mengerjai maka Devan bisa melakukannya tadi pagi jugakan?.


Tadi pagi Devan yang membantunya sampai disekolah dengan selamat,rasanya tidak baik jika memiliki pikiran souzon dengan kakak kelasnya ini,,,tapi bisa jugakan,mengingat pria itu dekat dengan seseorang yang ia curigai,,entahlah.


"Iya gue beneran mau anter lo pulang,kalo jalan kaki sampe rumah lo gabakal kuat biar gue saja"jawabnya sebari menirukan ala-ala flm dilan.


"Kakak bakal anterin aku pulang dengan selamatkan?" tanya Risa memastikan ia hanya ingin waspada saja mengingat ia tidak pernah dekat dengan cowo memiliki teman saja baru-baru ini.


"Iya,gue anter dengan selamat" jawab Devan,"Banyak tanya gue tinggal nih!"ancamnya membuat Risa memegang ujung jaket yang Devan kenakan.


"Yaudah naik sebelum gue beneran tinggal" titah Devan mendengus,gadis disampingnya itu malu-malu kucing,diajakin nolak ditinggal takut.


Risa naik di belakang jok devan hati-hati takut sepatunya mengotori body motor kakak kelasnya itu.


"Pegangan!" Risa menurut saja dan memegangi ujung jaket Devan tanpa menyentuh tubuh remaja itu.


Entah kenapa Devan mendengus,"Kalo jatoh jangan salahin gue"ujar pria itu lalu melajukan motornya dengan kencang hingga Risa memekik dan tanpa sadar memeluk Devan saking takutnya.


Devan tersenyum bangga atas ulahnya,dirinya memang bukan tipe cowo suka modus tapi bukan berarti ia tidak bisa modus.


Sesekali boleh bukan hehe


Risa turun dari motor yang devan kendarai,kening gadis itu mengerut saat mendapatkan dirinya bukan didepan rumah yang yang sebutkan alamatnya pada kakak kelasnya itu,"Ko kita berenti disini kak?"


"Laper gue,temenin gue makan dulu tenang gue teraktir lo ko,ayo" ajak Devan menarik pelan tangan Risa memasuki kedai bakso di depannya.


"Cara modus gue kerenkan thor?,sosoan laper padahal emang laper hihihi,sekalian modusi makan bareng cewe kaca mata ini" kikik Devan dalam hati.


Entah kenapa beberapa hari setelah bertemu Risa,Devan selalu berdebar tak karuan ia selalu menyangkal karna ia sudah mendekati Agnes dan tidak mau disebut hanya memberi harapan palsu pada Agnes,dan juga membuat pertemanan Agnes dan Risa yang baru terjalin harus rusak gara-gara dirinya.


Apalagi mengingat Risa baru kali ini memiliki teman.


namun sekian lama mengelak,Devan tidak bisa lagi dan ingin memastikannya sebelum terlalu jauh menyakiti hati seorang gadis lugu atau bahkan malah berlabuh pada hati yang salah,Devan ingin memastikan semuanya sebelum memutuskan.


Ini hidupnya!,dia berhak memutuskan!.


.


.


.


"Kakak ngapain sih ngikutin aku?!" hardik Naila menghentikan langkahnya sebari menatap gara dua manusia beda jenis kelamin yang sejak tadi mengikuti langkahnya.


"Emang kenapa kalo ngikutin kamu?" ujar Naya malah bertanya.


Naila cemberut,"Gausah ngikutin aku lagi,"sentak gadis itu dan kembali memutar tubuhnya dan melanjutkan langkah sebari menghentakan kedua kakinya


"Emang kamu mau kemana sih?,kan tempat kita pulang tempat yang sama,kita bareng aja kaya biasanya" ujar Naya mempercepat langkahnya menjadi disamping Naila.


"Gausah so soan minggat ayo pulang!" sentak Naya sebari mencekal tangan Naila.


"Gamau!" hardik Naila menghempaskan tangannya hingga terlepas dari cekalan Naya.


"Pulang ya pulang gausah minggat-minggat!" hardik Naya kesal.


Adiknya ini bukannya ikut pulang secara baik-baik malah membuat Naya kesal mana kondisinya Naya sedang kelaparan jika terus diuji Naya akan mengamuk.


"Gamau pulang!kakak aja sana,gausah ikutin aku terus,pulang sana" usir Naila.


"Biar gue aja Naya" ujar Bintang diangguki Naya walau tidak mengerti maksud perkataan Bintang,Naya mah manggut-manggut aja.


"Naila sekarang mau kemana?" tanya Bintang berjalan disisi lain Naila.


"Gatau" jawab Naila jutek.


"Mau ikut aku ga?" tanya Bintang.


"Kemana?" kepo Naila menghentikan langkahnya sedangkan Naya mengerutkan halisnya.


"Rahasia dong,kalo kamu mau gitu juga" ajak Bintang diangguki Naila karna kepo.


"Yaudah tapi setelah itu kamu harus mau pulang ya,nanti aku anterin" ujar Bintang membuat Naila terdiam.


"Gamau pulang,ila mau minggat aja!" kekeh Naila tidak mau pulang.


"Harus pulang Naila gausah banyak drama lagi,ga cape apa?!" hardik Naya


"Kalo kak Naya cape yaudah gausah peduli lagi sama ila kaya kak ita!,mana katanya sodara,sodaranya lagi marah aja ga dikejar malah pergi gatau kemana" ujar gadis itu tersungut-sungut.


"Udah-udah jangan marah-marah lagi,bentar aku stop taxi dulu,kamu disini sama Naya dulu jangan kemana-mana" ujar Bintang menengahi pertengkaran dua saudara itu.


Setelah beberapa menit perjalanan menggunakan taxi disinilah mereka sekarang diatap gedung tinggi.


Naila melotot horor pada bintang,"Kak Bintang mau jorokin aku kebawah?"selidik gadis itu,"Mau bunuh aku kejam banget sih huaaa!"Naila menangis kejer karna takut dibunuh dengan cara di jorokin kebawah dari atap gedung berlantai duapuluh ini.


Naila menyesali keputusannya yang setuju dengan ajak Bintang tadi.


Bintang gelagapan tidak ada yang mau bunuh gadis kesayangannya itu,dia berniat untuk menghibur gadis itu dengan membawanya kesini,"Engga Naila,aku ga mungkin jorokin kamu,aku kesini mau hibur kamu"


"Lo mau bunuh ade gue langkahin dulu mayat gue!" ancam Naya tidak akan membiarkan adiknya terluka sedikitpun jika Naya masih berada di hadapan sang adik,walau adiknya selalu membuat masalah namun Naya siap berkorban jika demi keselamatan dan kebahagiaan adik-adiknya.


Bintang mengeram frustasi,"Engga gua ga mungkin bunuh Naila!"tegas Bintang membuat Naya percaya setelah melihat tatapan yakin pria itu.


Sedangkan Naila menekuk tubuhnya sebari berjongkok dan menangis histeris takut di jorokin dari lantai dua puluh ini,bisa mati tubuh mungilnya ini.


"Aku ga bakal sakitin kamu Naila,lihat mata aku" ujar Bintang berjongkok di hadapan Naila lalu mengangkat wajah Naila untuk menatap matanya.


"Lihat mata aku" Naila menurut walau dengan isakan,"Aku ga mungkin sakitin kamu ,aku janji bakal jagain kamu,aku sayang sama kamu percaya sama aku"

__ADS_1


"Terus kak Bintang hiks ngapain bawa ila kesini?" tanya Naila masih terisak.


"Bantuin kamu mencari tempat mengeluarkan emosi" jawab Bintang sebari mengusap wajah Naila lembut agar tidak menyakiti gadis kesayangannya itu walau terlalu banyak tingkah absurd yang dia lakukan,namun itulah yang membuatnya sepesial.


"Nangisnya udah dulu oke,sini aku tunjukin cara ngelupain emosi itu gimana biar hati kamu ga sesak" ajak Bintang sebari mengulurkan tangannya.


"Kakak tau dada ila lagi sesek?" tanya Naila memastikan  padahal ia tidak bercerita pada siapapun kalo saat ini hatinya terasa sesak seperti ada yang menghimpit dadanya.


Bintang mengangguk sebari kembali mengusap wajah Naila yang sudah kembali basah dengan air mata,bahkan pria itu tidak jiji saat menyeka ingus Naila.


Naya hanya diam menyaksikan dua sejoli itu dengan perasaan abrkrwwd,tidak iklas adiknya bersama seorang pria namun ia sadar bukan saatnya ia menjadi kakak protektif,tahan sabar-sabar.


"Iya tau,kalo kamu gamau dadanya sesak kamu harus keluarin semua amarah kamu" jawab Bintang.


Naila mengangguk"Ila gatau caranya kak"


"Aku tunjukin" ujar Bintang matanya menatap tangannya yang masih menggantung menunggu sambutan tangan Naila.


Naila mengangguk dan memegang tangan Bintang barulah setelah itu keduanya berdiri dengan Bintang menuntun langkah Naila menuju ujung atap gedung.


Naila berjalan takut-takut bersama Naya di sampingnya dengan tatapan siaga,tidak ada yang taukan hati seseorang bisa saja Bintang ingin mendorong Naila kebawah dengan alibi membantu meluapkan emosi.


"Kak" panggil Naila semakin takut jika menunduk maka ia dengan jelas melihat suasana dibawah sana.


Menyeramkan!.


"Tenang Naila,disini ada pembatas nya kamu ga mungkin jatoh kalo ga naik dulu keatas pembatas ini" ujar Bintang memegang pembatas atap.


"Kalo lo jorokin pasti jatoh" cibir Naya


"Gue bukan pembunuh" jawab Bintang lalu menatap Naila sendu,"Sekarang coba kamu seriak"


"Teriak?" beo kedua gadis itu.


"Iya coba teriak sekenceng-kencengnya,keluarin semua emosi kamu didalam teriakan itu,,,,,memang itu ga nyelesain masalah kamu tapi setidaknya rasa sesak dihati kamu bisa melonggar naila,coba deh"


Naila mengangguk,"aaaaaaaaaa"teriak Naila sebari menatap kedepan.


"Aaaaaaaaaaaaa" Bintang ikut berteriak sekenceng mungkin hingga meredam teriak naila,"Teriak yang kenceng Naila keluarin amarah kamu,gabakal ada yang keganggu"teriak Bintang sekencengnya.


"Aaaaaa kenapa selalu ada pelangi setelah hujan"Naya ikut berteriak sekencang mungkin.


Melihat Naya dan Bintang berteriak sangat kencang membuat Naila menambah nada suaranya semakin kencang dengan perkataan yang mengusiknya sekarang," Naillllllllllll bodohhhh,kamu emang bodohhhhhh"teriaknya membuat Bintang dan Naya menghentikan teriakan mereka dan menatap Naila lamat-lamat.


"Nailaaaaaa hanya bebannnnnnnnn,ila benci nailaaaaaaaaaaaa,naila anak manjaaaaa hiks" teriakan Naila berakhir dengan isakan,gadis itu menyeka wajahnya lalu kembali berteriak.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa"


Ketiganya larut dalam emosi masing-masing,mereka tidak tau selanjutnya akan melakukan apa yang jelas hari ini hanya ingin mengeluarkan semua emosi yang sudah terpendam selama bertahun-tahun.


.


.


.


Setelah acara minggat singkat Triplet kembali ke rumah dalam keadaan saling membisu.


Penghuni rumah bahkan di buat bengong apa biang rusuh mereka sudah ingsaf?,sebab tidak biasanya triplet berbicara hanya saat ditanya selepas itu membisu.


Mereka pikir kebisuan mereka hanya satu atau dua jam saja namun ternyata waktu sudah menunjukan malam hari ketiganya masih membisu dan bersikap kalem,apa ada jin yang merasuki mereka?.


Anehnya lagi Naila dan Nirbita yang selalu merekat seperti di lem kini saling menghindar contohnya,tidak biasanya Nirbita pulang tanpa Naila bahkan Naila pulang terlambat beberapa menit dari Nirbita,kemungkinan kecil sebab biasanya kedua kembar beda orang tua itu selalu bersama ke toilet sekalipun kecuali mandi dan kegiatan toilet lainnya,saat Naila makan dan Nirbita hendak mengambil air keduanya bertingkah seolah tidak saling kenal,padahal jika biasanya Nirbita maupun Naila akan makan bersama walaupun sekedar menemani.


Tidak sampai disana saja saat Nirbita menonton kartun kesukaan mereka Naila terlihat tidak tertarik hanya melewati ruang TV bergitu saja padahal gadis itu tidak pernah mau melewatkan tayangan kartun kesayangannya itu jika biasanya,dan banyak hal tidak biasa terus terjadi antara Naila dan Nirbita hari ini.


"Kalian berantem?" tanya Bu Putri pada tiga gadis itu yang sejak pulang sekolah membisu padahal paginya masih bertingkah seperti biasanya.


Tidak ada jawaban ketiganya hanya menunduk memainkan jari jemari masing-masing.


Bu Putri menghela nafas,jika Naila dan Nirbita memang sudah biasa jika bertengkar namun kedua kembar itu akan berbaikan beberapa detik kemudian dan kembali mereog bersama,jika bersama Naya tidak terlalu sering karna Naya cenderung mengalah.


Jika sampai membisu ber jam-jam sudah bisa dipastikan mereka bertengkar hebat,"Gaada yang mau cerita sama mamih?"tanya Bu Putri memberi kesempatan ketiga gadis itu untuk jujur.


Naila dan Nirbita tidak terpisahkan mereka memang pernah membuat drama bertengkar,sekitar tiga tahun lalu karna tidak diajak jalan-jalan naik perahu oleh Rangga yang waktu itu akan menjalankan acara stou di toure ke laut,namun drama itu berakhir sebelum satu jam sebab kedua bocah itu tidak kuat saling membisu satu sama lain dan akhirnya melakukan rencana lain untuk membujuk orang tua mereka agar pergi jalan-jalan kelaut.


Sepertinya kali ini bukan drama!.


Mereka tidak boleh bertengkar,triplet itu satu untuk semua,semua untuk satu!.


"Mih ila mau kekamar ya,ila udah ngantuk huaaa" ujar Naila sebari menguap.


"Ita mau ke toilet mih" ujar Nirbita sebari pergi dari ruang khusus mengaji disusul langkah Naila menuju kamarnya.


Bu Putri membeo melihat tingkah dua keponakan yang mengabaikannya,lalu beralih menatap Naya yang masih stay disana, "Jelasin kenapa kalian berantem?!" tekan Bu Putri membuat Naya menghela nafas.


"Jadi gini mih" Naya menjelaskan secara gamlang pada Bu Putri kejadian dari awal Naila marah pada mereka sampai sekarang tanpa ada yang ditutup-tutupi.


Naya sosok yang termasuk tidak suka bercerita tentang hidupnya pada siapapun bisa dikatakan cenderung pendiam jika kepada orang yang menurutnya asing walau berteman sekalipun.


Naya juga lebih suka menyelesaikan masalahnya sendiri namun kali ini Naya tidak bisa melakukannya,Naya perlu bantuan untuk menjaga keutuhan persaudaraan mereka dan mungkin Bu Putri bisa menbantu.


Bu Putri mengangguk lirih mendengar cerita naya,lalu menghela nafas,"Biar mamih ngomong sama Naila,kamu tenang aja dia cuma marah sebentar aja Naila kan gabisa jauh-jauh dari Nirbita "


Naya berpikir buruk karna kali ini kemarahan Naila sangat besar ia tidak yakin jika Naila akan kembali seperti semula dalam waktu dekat,namun ia hanya bisa mengangguk saja.


"Mamih mau nemuin Naila dulu,kamu ceritain pertengkaran ini sama abang-abang kalian biar kalo ucapan mamih ga bisa bikin amarah Naila redam,abang-abang kamu bisa nasehati dua adik kamu yang keras kepala itu" ujar Bu Putri setelah di iyakan naya dirinya pergi untuk menemui naila dimananya.


Bu Putri menyuruh naya menceritakan pada dua abangnya itu karna ia pikir pertengkaran antar saudara kali ini cukup besar dan kemungkinan besar Naila maupun Nirbita yang sama-sama keras kepala tidak akan mendengarkan perkataan mereka,butuh cara lain untuk menasehati dua kembar beda orang tua itu yang memiliki watak yang berbeda namun mencoba saling melengkapi satu sama lain,hanya tindakan jika nasihat tidak mereka dengar nantinya.


Bu Putri harap kali ini dua kembar itu tidak keras kepala dan tidak egois, butuh dua hati untuk saling memahami jika hanya satu hati maka hati yang lain akan TERSAKITI.

__ADS_1


__ADS_2