
Naya menatap heran kearah abangnya yang tegas dan dingin seperti biasanya jika sedang berhadapan dengan orang lain sampai pria itu menghilang dari hadapannya,,,,walau situasinya tidak memungkinkan tapi Elesky selalu bisa mengontrol mimik wajahnya pada adik-adiknya,ini pertama kali.
Naya yakin sudah terjadi sesuatu yang besar hingga abangnya itu marah bahkan mendelik kearah Naila yang tidak menghentikan tangisnya.
Ditengah ketegangan yang ada mamih putri tidak kuat lagi dan pingsan,walaupun bukan putri kandungnya tapi ia sangat menyanyangi triplet seperti anaknya,kasih sayangnya terbagi rata untuk mereka.
Dengan hilangnya Nirbita yang baru terjadi selama ini membuatnya kalut,ia khawatir,takut,gadis itu hanya gadis polos yang ceplas-ceplos,bagaimana jika ada yang berbuat jahat pada gadis itu,apalagi Nirbita tidak pernah keluar rumah tanpa ditemani sodara-sodaranya,se absurd nya dia, Nirbita hanya gadis manja, polos dan mudah dibodohi,jiwa dan raga Bu Putri tidak kuat lagi dan akhirnya memilih amruk tak sadarkan diri.
"Mih"panggil Naya khawatir bersama naila yang tidak bisa menghentikan tangisnya membuat orang semakin panik.
"Kita bawa Bu Putri kedalam,ibu-ibu bisa tolong saya?" tanya Fricia diangguki mereka.
Komplek yang dihuni triplet dan keluarga ini terlihat seperti perkampungan biasa yang warganya saling peduli satu sama lain dan saling membantu walau kadang saling julit,jika ada masalah di satu warga maka warga lainnya akan membantu,mereka sangat menjaga ikatan silaturahmi sebagai tetangga.
Walau mereka selalu geram dengan tingkah nakal absurd triplet dan trio wikw*k yang suka membuat mereka pusing tujuh keliling,tapi mereka juga tidak membenci mereka karna mereka memiliki pribadi yang baik dan suka menolong tanpa pamri,walau mulut julit mereka melebihi mulut tetangga,tidak akan menang siapapun yang beradu argumen dengan triplet kecuali orang itu sudah suhunya nyinyir!.
Ibu-ibu dan Fricia membopong tubuh Bu Putri saling membantu kedalam rumah dan dibaringkan disofa,"Naya ambil minyak kayu putih!"ujar salah satu ibu-ibu yang sigap Naya lakukan.
Naya juga dalam keadaan khawatir pada Nirbita dan juga mamihnya,ia takut terjadi hal buruk pada orang-orang yang ia sayangi,namun sebisa mungkin ia menekan rasa khawatirnya agar bisa berpikir logis dan menemukan titik terang,walau wajah Naya tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran yang sedang ia rasakan.
Salah satu warga membaluri tubuh Bu Putri dengan minyak kayu putih yang naya ambil,dari tangan,leher dan sedikit kearea pelipis agar wanita paruh baya yang sedang menghawatirkan putrinya itu segera sadar,walau mereka juga bingung jika beliau sadar dan Nirbita belum ditemukan,bisa jadi Bu Putri akan semakin terguncang.
Serba salah.
Fricia kini memeluk Naila yang terus menangis,Fricia hanya bisa mengusap punggung Naila sebari mengatakan kata-kata penenang hanya itu yang bisa ia lakukan,ia sendiri sudah mengabari adiknya yaitu Devan,karna Nirbita tidak bersamanya Devan berinisiatif mencari bersama geng algaskar disekitaran kota bogor.
Wajah tegang dan khawatir tidak lepas dari mereka bahkan Gara sekalipun,pria yang sulit menunjukan ekpresinya itu kini merasa khawatiran yang mendalam.
"Asalamualaikum"
Bukan cuma satu orang yang datang berseragam kepolisian namun dua orang,salah satunya orang kepercayaan Pak Dimas yang notabenya kepala polisi,setelah mendapat kabar Nirbita hilang pria itu bergegas pulang membawa salah satu anak buahnya secara pribadi,karna jika mengusut secara kepolisian ia tidak bisa melakukan hal itu sebelum dua puluh empat jam.
Ia bisa melakukan apapun untuk keluarganya hanya membawa satu anak buah kepercayaan secara pribadi tidak akan merugikan kepolisian karna yang ia alami juga masalah genting,jika saja tidak ada peraturan dua puluh empat jam itu maka Pak Dimas sudah menurunkan seluruh anak buahnya untuk mencari putri dari adiknya yang sudah ia anggap anaknya.
Terlalu lama jika harus menunggu dua puluh empat jam kemungkinan buruk bisa saja telah terjadi pada putrinya itu jika terus menunggu bukannya bertindak.
Walau ada Elesky yang bisa mencari Nirbita dengan caranya ia juga tidak bisa diam saja!.
Pak Dimas mengecek sang istri,Naya dan Naila terlebih dulu sebelum menyusuri tempat Nirbita terakhir kali terlihat,"Naya bisa ceritain kapan Nirbita hilang?"tanya Pak Dimas setenang mungkin karna ia sudah terlatih dalam hal ini.
"Yang tau bukan aku tapi Naila pih" jawab Naya jujur.
Pak Dimas menatap Naila yang masih saja menangis dipelukan Fricia,ia tidak tega jika harus menanyakan hal itu apalagi terlihat Naila juga terguncang seperti istrinya,naila seperti di lem dengan Nirbita susah dipisahkan,dua hari bertengkar Pak Dimas tidak percaya jika saja tidak melihat mereka berdua adu otot dimeja makan.
Walau begitu Naila sangat menyanyangi kakak sepupunya itu walau dalam keadaan marah sekalipun,Pak Dimas yakin Naila tidak akan sanggup menyakiti Nirbita.
Belum tau saja kepergian Nirbita karna ulah mulut Naila,mulutmu harimaumu!,jadi,Berhati-hatilah.
Namun tidak ada pilihan lain selainĀ bertanya apalagi CCTV dirumah ini hilang sebagian dibeberapa jam,aneh!,tentu saja,kejadian ini seperti sudah direncanakan,siapa yang merencanakannya?,pasti orang yang paham seluk-beluk rumah ini bukan?,tapi siapa?.
Pak Dimas semakin khawatir jika mengingat CCTV yang hilang dijam-jam tertentu dengan artian jika Nirbita diculik maka penculikan ini sudah direncanakan dijauh-jauh hari,"Naila bisa ceritain kronologi nya nak?"tanyanya selembut mungkin.
Naila mendongkak menatap sang papih dengan lelehan air mata yang tidak berhenti seperti air mancur, gadis itu mengangguk sebari mengusap hidungnya dengan lengan baju milik Fricia,wanita itu tidak menolak bahkan jijik,terlihat dari Fricia malah membantu naila mengusap ingus milik naila dengan baju yang ia kenakan.
"Aku sama kak ita hiks berantem hiks,terus kak ita marah hiks gara-gara aku hiks,kan ita lari dari rumah hiks pas aku kejar kak ita udah gaada hiks,aku udah cari kemana-mana tapi hiks tetep gaada hiks,ini semua gara-gara aku hiks" jawabnya seutuhnya menyalahkan diri sendiri.
Memang iya bukan?,jika Naila bisa menahan emosi dan tidak mengatakan Nirbita tidak punya siapa-siapa selain abangnya maka Nirbita tidak akan hilang,jika Nirbita hanya punya abang maka dirinya ini apa?,,,,Naila menyesali ucapannya sendiri,jika nanti kakak sepupunya itu ketemu Naila akan meminta maaf sepenuh hati.
Jawaban Naila terdengar seperti racauan tidak jelas namun mencoba mereka simak agar menemukan titik terang,"Papih keluar dulu kalian tunggu dirumah kalo ada kabar langsung kabarin papih!"
Naya hanya mengangguk karna diantara dirinya dan Naila,hanya Naya lah yang masih mencoba bersikap tenang walau setengah mati tidak bisa.
Naya menatap tajam kearah Naila,perkataan apa yang dia ucapkan sampai Nirbita memilih pergi dari rumah dan malah menghilang sampai sekarang,ia yakin perkataan Naila sangat buruk, tapi tentang apa?,Nirbita tidak mudah benar-benar tersinggung jika Naila yang mengatainya.
Apa Naila mengatakan tentang itu?.
Naya yang berdiri disamping sang mamih yang masih pingsan bergerak menghampiri Naila dan menarik gadis itu hingga terlepas dari pelukan Fricia saking kencangnya membuat mereka yang ada disana tersentak.
"Naya kamu kenapa narik Naila sekenceng itu?" tegur Fricia.
"Iya Naya,Naila lagi terguncang kenapa kamu malah mau menyakiti dia?" tegur salah satu ibu-ibu,mereka terperanggah ketika naya bersikap kasar pada adiknya untuk pertama kali dihadapan mereka.
Hari ini terlalu banyak kejadian-kejadian yang tidak pernah mereka lakukan sayangnya semua kejadian mengarah pada hal negatif.
"Saya perlu bicara berdua sama adik saya bu,permisi" ujar Naya lalu menarik Naila untuk mengikutinya namun sayang langkahnya terhenti.
__ADS_1
"Naya bisa lepasin tangan Naila,kamu megangnya kekencengan,Naila kesakitan kalo emang ada hal penting bisa kamu bicarain disini" ujar Fricia khawatir apalagi ia melihat kemarahan dimata naya saat menatap naila,Fricia hanya takut kejadian tidak diinginkan kembali terjadi,Nirbita saja belum ditemukan sudah ada masalah baru kan galucu!.
"Privasi,kakak jangan ikut campur kalo Naila ga salah dia gaakan terluka,saya titip mamih saya sebentar" ujar Naya dingin bahkan membuat Fricia merinding.
Triplet selalu bertingkah,ceria,konyol,absurd,ceplas-ceplos,ceroboh tapi hari ini,Naya seolah membuka topengnya ia bersikap dingin dengan sikap tenang yang ia pertahankan diwajahnya hanya matanya yang menyorot kekhawatiran dan juga amarah,Naya seolah bukan Naya tapi orang lain,apa Naya punya alter ego?,jawabannya hanya Naya dan keluarganya yang tau.
Naya membawa Naila kekamar gadis itu dilantai atas kediaman rangga,tanpa bisa dicegah lagi,warga di luar sudah pusing dengan menghilangnya Nirbita malah ditambah kemarahan Naya yang bertingkah seperti bukan dirinya,mereka harus waspada agar tidak ada terluka.
Naila tidak menolak dibawa sang kakak walau dirinya tidak bisa menghentikan tangisnya sendiri,setelah didalam kamar Naya membanting pintu dengan keras hingga terdengar ke lantai bawah membuat para warga yang ada disana tersentak begitupun Fricia,Fricia sangat menghawatirkan Naila,ia takut bungsu triplet itu dijadikan sasaran kemarahan keluarganya karna secara tidak langsung kepergian Nirbita karna ulahnya mau disangkal bagaimanapun.
Entah pertengkaran seperti apa yang terjadi warga bahkan Fricia yakin kalo pertengkaran itu pemicunya sangat besar'itulah isi pikiran mereka sekarang,tanpa mereka ketahui pemicunya hanya ego masing-masing.
.
.
.
.
Orang yang sedang dicari satu kampung bahkan satu geng ternama di bogor yaitu Algaskar,malah sedang duduk manis di kedai jalanan sebari memakan seblak dengan level sedang bersama seorang pria yang ia temui dijalan.
"Hiks" Nirbita terisak menikmati pedasnya seblak yang sedang ia makan,"Pedes banget!"keluhnya tadi terus ia makan tanpa ada niatan menyerah dengan kepedesan seblak yang ia pesan itu.
Padahal pedas yang dipesan seperti kepedasan yang suka ia pesan jika sedang makan seblak,biasanya ia tidak terisak begini, bahkan tidak mengeluh kepedasan yang ada ia mengeluh kurang pedas tapi tidak hari ini,entahlah ia hanya ingin menangis tapi tanpa disadari orang lain itu saja.
Perkataan Naila dirumah tadi sangat mengena dihatinya,oke Nirbita akui ia yatim piatu.
"Ck udah jangan dimaka trus cil,kalo lo mencret gue disalahin abanglo,mana bang Es lagi cuti lagi,gue bisa-bisa digantung di tiang bendera" tegur remaja yang seperti seumur Naya sejak tadi menemani Nirbita,ia juga heran kenapa bocil kematian itu mengeluh kepedasan padahal biasanya sebaliknya,ada yang aneh!,ia akan menjadi detektif dadakan untuk menyiasati alah ribet mencari tahu,gitu aja repot.
"Om diem aja deh,ita tuh lagi makan jangan diajak ngomong,kalo keselek gimana?,ita bisa mati loh"
"Ck gue bukan om-om,inget gue sama lo itu cuma beda setahun lima bulan,enak aja dipanggil om" cibir pria itu sebari mendengus,tadi saja saat meminta menjemput bocah itu dirumah manggilnya kakak saat sudah dijemput malah manggil om,emang gatau diri nih bocah.
"Iyakan ga salah om kan omnya aku,mau perbedaan umur kita deket ataupun jauh,tetep aja om itu om aku!" jawab Nirbita sebari melanjutkan makannya.
"Tapi gue bukan om-om,lo ga usah manggil gue om,panggil kakak kaya tadi pas lo minta jemput kalo engga gue tinggal nih!" ancamya membuat Nirbita mendengus.
"Jahat banget mau ninggalin keponakannya disini,om tuh ga bertanggungjawab banget,udah bawa aku pergi dari rumah malah ditinggal ditengah jalan" cibir Nirbita tidak mau kalah.
"Hiks jangan dong ita kan mau ngabisin waktu sama om hari ini,udah lama tau ga kita ga main bareng" ujar Nirbita sebari terisak ulah seblak padahal seblak hanya ia jadikan alasan agar bisa menangis tanpa pertanyaan 'kenapa menangis'.
"Gamau!" deliknya menatap Nirbita yang terlihat kecewa,"Lo harus manggil gue kakak atau gue tinggal!"sambungnya mengancam.
Nirbita menyudahi makannya,"Iya deh ita panggil kakak untuk sekarang tapi ajak ita jalan-jalan ya"pintanya.
"Bentar-bentar magsud lo sekarang gimana nih?,lo ga ada niatan manggil gue kakak selamanya?" tanya selidik pria itu.
Nirbita menggeleng,"Gausah minta ampedu kalo udah dikasih hati!"tegur gadis itu membuat pria itu mendengus,emang susah debat dengan anggota triplet hanya membuang tenaga saja!,"Udah bayar sana terus kita jalan-jalan "sambungnya.
Pria itu mendengus Nirbita emang ga tau diri,udah minta dijemput seenak udel,minta makan,sekarang minta dibayarin bahkan meminta diajak jalan-jalan,eh buset dah!
"Sabar-sabar,kalo bukan keponakan udah gue jual lo ke tukang loak" ancam nya membuat Nirbita mendengus.
"Emang ita rongsokan apa?,kalo mau jual tuh ke daddy sugar gituloh yang elitan masa ita yang cantik ini dijual ke tukang loak,engga banget"Nirbita bukannya marah malah menawarkan diri.
Emang triplet gaada yang waras sudah buat kerusuhan dirumah hingga melibatkan satu kampung dan kumpulan lain,dia malah enak-enakan makan seblak,pengen digetokin palu nya pak thor tuh bocah.
Ituloh flm yang pemeran utamanya bawa palu sebagai kekuatan utamanya yang dirilis Marvel.
"Daddy sugar nya sawan duluan sebelum beli lo" cibir pria itu lalu melegang pergi untuk membayar.
Nirbita bersungut-sungut dengan cibiran pria itu,dasar om durhaka!.
"Mau jalan-jalan kemana?" tanyanya sebari memasangkan helm pada Nirbita,untung saat gadis itu minta dijemput ia sedang leha-leha dirumah ya walaupun acara leha-lehanya malah terganggu sih.
"Puncak" jawab Nirbita antusias langsung mendapat jitakan yang tak terasa karna jitakan pria itu mengenai helm.
"Kejauhan dodol,kita bisa-bisa nyampe di puncak sore" dengus pria itu.
"Gapapa kita bisa nginep disana,pulangnya pagi" pinta Nirbita sebari menunjukkan pupel eyesnya yang membuat pria itu mendengus jika sudah begini akan sulit menolak,, ah kenapa dia punya keponakan yang lebih muda setahun lebih darinya sih,siapa yang harus disalahkan disini?,ia yang terlahir terlambat tapikan buka salahnya juga,auah bodo jalani aja selama kebutuhannya terpenuhi tanpa harus cape-cape kerja.
"Kalo abang-abang lo ngamuk gue angkat tangan angkat kaki, pokonya lo urus sendiri" ujarnya disanggupi Nirbita.
"Yaudah kita nginep dipuncak pulang pagi puas lo!" sentak pria itu kesal diangguki Nirbita antusias membuat kekesalan pria itu berubah menjadi kekehan.
__ADS_1
Syukurlah keponakannya ini masih bisa bahagia walau tanpa orang tua,huhh ia jadi tenang.
"Yaudah yu cus gue gamau kemaleman dijalan" ujarnya lagi diangguki Nirbita.
"Bentar om pinjem ponsel om dulu" pinta gadis itu membuat pria itu mendengus mendengar panggilan om namun tetap memberikan ponselnya pada Nirbita.
"Lo pegang aja dulu,yu naik" ujar pria itu sebari menaiki motornya.
"Oke" jawab Nirbita antusias jika begini rencananya minggat nya bisa mulus,ya Nirbita berencana minggat bahkan saat pergi dari area komplek dia melewati jalan yang tanpa CCTV agar tidak ada yang tau ia kemana,ia hanya ingin menenangkan diri.
Wajar saja Nirbita ingin menenangkan diri setelah merasa diejek Naila,dulu ia terguncang atas kematian ayahnya,bahkan sebulan penuh ia kehilangan harapan hidupnya,namun ia berusaha mengikhlaskan karna kematian sudah menjadi takdir kehidupan,hanya saja cara yang gadis itu lakukan salah,ia malah membuat gempar satu komplek.
"Maaf ita butuh nenangin diri dulu,ita gamau pulang" gumannya dalam hati.
.
.
.
Brak
Pintu kamar dibanting Naya dengan kencang membuat Naila tersentak masih dengan tangisannya dan pandangan menatap marmer,karna marmer lebih aman ditatap untuk sekarang.
Naya menatap tajam adik kandungnya itu,"sekarang jelasin kenapa Nirbita bisa hilang Naila!"tegasnya.
Naila semakin menunduk takut,jika kakak nya ini sudah bersikap dingin dan kasar seperti ini mengartikan Naila harus menjawab dengan jujur jika tidak mau terluka parah,"Maaf kak ini salah ila"jawabnya lirih.
"Kakak bilang jelasin Naila!,sejujurnya kalo kamu ga mau terluka!" tegas Naya bukan mengancam hanya memberi tahu,jika sudah begini Naya sulit mengendalikan emosinya,ia akan mengamuk jika salah satu adiknya dilukai oleh siapapun tanpa kecuali sama sekali,Naya tidak membeda-bedakan antara adik kandung dan adik sepupu kasih sayangnya sama rata untuk keduanya.
"Ak-aku-aku" Naila tergagap dengan isakannya,ia takut jika jujur namun jika berbohong maka ia lebih takut,kakak kandungnya itu bukan orang pemaaf dan lebih suka membalas mata dengan mata tanpa memandang pada siapa ia membalas.
Jika sudah mengusik Naya maka akan sulit mencari jalan keluar,seolah Naya adalah sosok labirin:jika sudah masuk dalam labirin jalan penuh siasat dan juga jebakan maka akan sulit mencari jalan keluar!.
"Naila jelasin sebelum aku bener-bener marah!"desis Naya mengingatkan dengan Sorot mata menajam.
Naila masih mempertahankan tatapannya dimarmer,"Pas pulang disekolah hiks"ucapan Naila terjeda karna isakan,ia diliputi rasa takut dari kakaknya dan kecewa pada dirinya sendiri,karna rasa egois ia melukai kakak sepupunya yang selalu mengutamakan Naila daripada dirinya sendiri.
"Aku berantem sama kak Ita,
Aku-aku,aku ga sengaja bilang kalo kakak cuma punya abang hiks,maaf,aku ga bermagsud kak"ujar Naila semakin menunduk karna memang kesalahan besar baginya.
Ia hanya mampu menjelaskan langsung ke intinya saking takutnya dengan emosi Naya yang jarang terlihat kepermukaan!,air yang tenang belum tentu tidak ada buanyanya.
Jika Nirbita hanya memiliki abangnya itu maka selama ini siapa mereka yang berdiri disampingnya setiap saat.
"Bodoh,bego banget sih jadi orang!" rutuk Naya kecewa,"Kalo Nirbita cuma punya abah lo siapa nya hah!,gue siapanya hah!,lo boleh egois tapi bisa kan lo jaga perasaan sodara sendiri"tegas Naya emosi bahkan sampai mengubah panggilan satu sama lain saking kecewanya dengan penuturan Naila.
"Lo lupa kita hampir kehilangan Nirbita setelah ayah Candra meninggal?,lo lupa la?,lo lupa gimana terguncang nya Nirbita waktu itu hah!,dan lo malah ngungkit bahkan terkesan ngejek dia!,lo punya perasaan ga hah?,lo gatau terimakasih ila!,lo manusia ter egois yang udah gue kenal!" tegur naya menggebu mengingatkan kejadian beberapa tahun lalu ketika Nirbita kehilangan semangat hidupnya setelah menjadi yatim piatu.
Naya mendorong bahu Naila menggunakan telunjuknya sebari terus berbicara secara menggebu dengan penuh emosi,"Apa salah Nirbita sampai lo ngejek dia hah?!,dia selalu ngalah sama lo la!,dia selalu berusaha menuhin semua keinginan lo!,dan ini balasan dari lo la?"
Naila bergeming ketika kakaknya terus mengatakan banyak hal secara menggebu dan penuh penekanan,tanpa ada niatan Naila membela diri karna ia sadar bahwa ia salah.
"Gue lupa!,lo nganggap dia orang asing jadi ga mungkin lo inget semua itu" tekan Naya menjeda,
"Hebat-hebat,hebat benget ade gue!" kini Naya terkekeh sebari bertepuk tangan heboh dengan tatapan masih setajam pedang menyorot tubuh Naila yang terus saja menunduk dengan isakannya,"Saking hebatnya dia mampu hancurin persaudaraan yang udah enam belas tahu terikat hancur dalam sehari,,,hebat banget pokonya!, lo penusuk la!,lo udah menusuk kakak lo sendiri dari belakang hingga dia tidak bisa kembali bangkit!,demi ego lo sendiri"
"Gue pikir cuma Dia penusuk handal dalam kehidupan kita,ternyata gue salah" Naya kini berdiri tegap tanpa menggerakan tangannya lagi.
"Gue salah nilai orang lain,gue terlalu curiga sama orang lain nyatanya adik kandung gue yang udah hancurin keluarga sendiri,adik gue sendiri yang menjadi musuh,,gue kecewa sama lo la" kekecewaan yang tersorot dimata Naya tidak bisa dijabarkan,ia sangat amat kecewa dengan adiknya itu.
"Lo kawan yang menjadi lawan la!"
Brak
Naya memilih pergi sebelum benar-benar tidak bisa mengendalikan emosinya,ia tidak ingin menjadi sosok yang menyakiti adiknya sediri sesalah apapun naila dia tetap adiknya,sosok yang seharusnya ia jaga bukan disakiti.
Naya memejamkan matanya dibalik pintu untuk meredakan emosinya beberapa kali juga gadis itu mengatur nafasnya,ia sangat kecewa dengan adiknya itu,ia bahkan tidak percaya dengan pengakuan Naila,Naya berharap ini hanya mimpi buruk,Naya ingin segera bangun dari mimpi ini,terlalu menyakitkan.
Pantas saja tatapan Elesky begitu tajam tadi,jika begini maka masalah akan semakin rumit!.
Dibalik pintu Naila mendongkak mendengar bantingan pintu,gadis itu mengusap wajahnya kasar,masih dengan lelehan air mata yang keluar gadis itu menyeringai jika dilihat orang,seringgaian Naila terlihat seram memudarkan sikap polos yang selalu ia tunjukan.
"Last game"
__ADS_1