
Sehari setelah kepulangan bang Fathur ke Yogyakarta, dan bang Rahman juga pulang ke Muntok untuk mengontrol bisnis rumah makan sea foodnya, aku tetap ngantor seperti biasa. Ayah masih di Pangkalpinang mengikuti kegiatan yang diselenggarakan cabang secara terbatas. Beliau mendapat fasilitas kamar hotel sebenarnya, tetapi memilih tinggal di rumah anaknya sendiri bersama ibu yang walaupun seorang kepala dinas yang harus tetap hadir setiap hari di saat pemda menerapkan sistem shift, beliau mengambil cuti selama ayah mengikuti kegiatan.
Hari ini aku kebagian shift pagi. Mulai jam 7 pagi aku sudah ditemani dua perawat berkeliling mengontrol para pasien. Jam 09 pagi aku sudah sampai di poli anak Rumah Sakit Depati Hamzah Pangkalpinang. Kulihat ruang tunggu kelihatan sepi. Hanya terlihat sekitar dua puluhan orang yang duduk menunggu. Itupun sudah bergabung antara pasien yang mau ke poli anak, poli saraf, poli THT, poli mata, poli bedah dan poli gigi serta poli umum. Memang sejak corona semakin memakan banyak korban, Rumah Sakit Depati Hamzah Pangkalpinang selain menerapkan sistem menjaga jarak antar pasien juga mengatur waktu kehadiran. Pendaftaran pasien diterima dan disilahkan untuk pulang dulu, pasien tidak dibiarkan menumpuk menunggu antrian di ruang tunggu. Nanti ketika mendekati waktu bertemu dokter akan dihubungi melalui telepon. Bagi yang datang dari kabupaten lain dan tak punya tempat pulang, akan diarahkan ke beberapa tempat yang sudah disiapkan.
"Pagi dokter...."
"Pagi dokter...."
"Pagi dokter...."
Sapaan akrab beberapa pasien, perawat, bidan, staf dan rekan sejawat kuterima di perjalanan menuju ruang kerja. Aku mengangguk tersenyum membalas. Sesampainya di ruang kerja, aku meletakkan tas di atas meja kecil yang berada di pojok tempatku duduk. 2 buah toples berisi kacang dan kripik cumi beserta 6 botol air mineral juga ada di sana.
"Assalamualaikum, permisi dokter. Ini rekam medis pasien pertama kita. Ada riwayat infeksi saluran pernafasan sebulan lalu, pasiennya dokter Riko. Demam sudah 3 hari, batuk pilek dan sakit tenggorokan, dikasih adem-asri 3 kaleng, jam 2 malam tadi panas lagi dikasih paracetamol, tekanan darah normal." Aku menerima berkas sambil mendengarkan laporan dari perawat. Membaca sepintas dan meletakkannya di meja.
"Santi, tunggu 5 menit lagi ya...." Aku bicara kepada perawat yang hampir saja menutup pintu.
"Oke dok...." Santi menjawab.
Setelah Santi keluar, aku kembali membaca whatsapp dari Irwan.
"Tolonglah dok..., Plisss..., tanpa bantuanmu aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepadaku, aku benar-benar setres dibuatnya. Aku akan dijodohkan mamaku. Aku tak mau dijodoh-jodohkan."
Dari Subuh tadi Irwan memintaku untuk meluangkan waktu berkunjung ke rumahnya. Setidaknya bersikap seolah-olah aku pacarnya. Aku tersenyum. Mana mungkin dokter spesialis anak sepertiku harus beracting ria seperti yang dia inginkan. Dasar bocah ingusan. Aku meletakkan hape dan mulai menghidupkan komputer, persiapan mulai dengan pasien. Namun sempat kepikiran juga bagaimana mungkin gambaran seorang ibu Irwan yang notabene istri seorang pejabat pemerintah propinsi kepulauan Bangka Belitung memiliki sifat yang dikatakan Irwan.
"Jika keinginannya tidak dituruti ibuku akan mengamuk seperti orang gila dok, beneran. Bisa-bisa aku dan papaku dibunuhnya." Aku tersenyum membaca pesan Irwan. Terlalu berlebihan.
__ADS_1
"Bantu aku dok, tolonglah..., kamu kan dokter terkenal di kota ini. Bantulah aku, minimal bagaimana caraku agar mamaku berubah tidak menjadi pemarah seperti itu. Apa yang harus aku lakukan. Datang ya dok..., mau ya... pliss... dokterrr..., lihatlah psikis mamaku. Sekaliiii.... saja." Terngiang percakapan-percakapan dengan Irwan kembali.
"Apakah marahnya setiap saat?" Balasanku semalam.
"Tidak dok, bila hatinya agak tenang dia akan tertawa terbahak-bahak. Apalagi saat berkumpul dengan para anggota PKK Propinsi seolah tidak akan ada amarah di wajahnya."
"Lantas kapan dia marahnya?" Aku sedikit dibuat penasaran.
"Misalnya saat papa tiba-tiba sms bilangnya akan pulang sore karena mendadak Gubernur ngajak rapat habis apel sore...."
"Sesimpel itu alasannya sudah membuat mamamu marah? Ah yang benar saja Wan."
"Bener dok, makanya aku juga bingung."
"Apa yang terjadi saat dia marah?"
"Owh...."
"Iya dok. Kadang aku kesal sendiri melihat ulahnya. Pokoknya jangan sedikitpun papa berbuat salah. Semuanya menjadi hancur."
"Apa kau tahu sifat ibumu memang seperti itu dulunya?" Aku mencoba mengorek informasi.
"Tidak dok."
"Sejak kapan sifat ibumu berubah?"
__ADS_1
"Mmmm..., kalau tidak salah kata papa sudah sejak beliau kehilangan anak perempuannya yang masih bayi. Kakak perempuanku." Aku membaca dan mengulang-ulang kalimat itu. Deg! Jantungku berdebar kembali. Aku kembali mengingat bahwa aku hanyalah seorang anak angkat orang tuaku. Dalam hatiku, bagaimana mungkin orang tuaku tega membuangku ke rumah seseorang. Sedangkan ibu orang lain, menjadi aneh tingkahnya karena pernah kehilangan anaknya. Hatiku kembali merasa gelisah, muak dan membenci orang yang tidak kutahu dimana rimbanya.
"Dokter Nancy sudah dulu ya, aku mau tidur lagi. Dadaaa..., bye-bye..., jaga diri dok, semoga harimu menyenangkan. Jangan lupa datanglah ke rumahku." Begitulah pesan terakhir dari Irwan Subuh tadi. Keinginannya meminta tolong saranku bagaimana harus bersikap kepada mamanya yang sedikit aneh, tempramen super berlebih, mama yang memiliki amarah luar biasa. Sedangkan aku? Aku kembali menahan hatiku yang teiris. Ingatanku lagi-lagi kepada perkataan ibu bahwa aku bukan putri kandungnya. Andai saja aku bertemu wanita yang sudah tega meninggalkanku. Ada ribuan bahkan jutaan tanya yang ingin kuutarakan.
"Dok, kita bisa mulai belum?" Tiba-tiba Santi sudah masuk dan berdiri di hadapanku.
"Iya San, panggil suruh masuk pasiennya."
"Baik dok." Santi membuka pintu dan bicara agak keras.
"Kiara! Ki ya ra..., Kiara mana? Oh itu, masuk bu bawa Kiara masuk, dokter Nauranya sudah ada." Santi melambai ke arah orang tua pasien yang berada di ruang tempat bermain anak. Aku meletakkan hape ke laci meja kerja, mengenakan jas dokterku yang putih lalu memasangkan stetoskop biru dengan ujung-ujungnya yang bergambar monyet sedang tersenyum dan mengalungkannya ke atas leher. Penaku tak lupa menancap di saku jas praktik. Aku berdiri, tersenyum ramah menerima ayah ibu dan seorang balita cantik yang digendong sang ayah.
"Halooo Kiara sayang..., pusing nak ya? Yuk berbaring di sini yuk sayang..., kakak dokter mau periksa dulu biar nanti Kiara bisa bermain lagi sama teman-temannya...." Aku berjalan mendekati ranjang pasien anak. Kiara diturunkan ayahnya berbaring. Dia menurut saja. Matanya lekat menatapku. Ada takut bercampur keberanian di sana.
"Tolong dokter, sudah tiga hari ini dia demam." Ibunya Kiara memohon.
"Baiklah ibu, kita berusaha dan berdoa bersama. Mohon izin ya pak bu saya periksa dulu." Aku memasang stetoskop, memeriksa pasienku, memulai tugasku hari ini, kembali ke dunia impianku sejak kecil. Melupakan sesak yang tertahan karena penasaran dengan siapa orang tua biologisku. Melupakan amarah tak bertujuan dengan berkonsentrasi pada sumpah dokterku. Membantu mengobati anak-anak yang sakit seperti Kiara saat ini.
\*
Pukul 14.05 WIB
__ADS_1
Aku meregangkan sedikit ototku dengan memutar-mutarkan pinggang ke kiri dan kanan. Walaupun saat datang tak begitu ramai pasien yang tampak di ruang tunggu, namun tak urung 17 orang sudah pasien kuhadapi dengan bermacam-macam gejala. Aku kembali membuka hp setelah melepas jas yang kukenakan.
"Gang Pelipur, Persis rumah besar depan lembaga kursus Oxford. Rumah besar dua tingkat samping SD Muhammadiyah itu rumahku. Datang saja dan bilang sama mama kamu mencariku. Aku tidak akan pulang dan mengangat telpon siapapun saat dokter di situ. Tolonglah dok..., tolonglaaah.... Aku tahu dokter adalah dokter anak, tapi aku tak punya kenalan dokter lain yang dekat denganku." Kubaca pesan panjang yang baru masuk dari Irwan. Aku berdiri. Saatnya pulang.