
Di sebuah rumah. Gadis cantik itu tiba-tiba saja muncul. Dia sudah lama menantikan kehadiran laki-laki pujaannya, laki-laki yang menjadi idamannya untuk menjadi seorang suami. Karena merasa sudah akrab selama ini, dia langsung saja menuju rumah utama yang berada di belakang berdirinya klinik Honey Bee.
"Siang mbak cantik, cari siapa?" Laki-laki tua dengan membungkukkan badan bertanya sopan.
"Apa Zamy sudah pulang?" Gadis itu bertanya tanpa senyum sedikitpun.
"Iya barusan datang. Mungkin belum masuk pintu. Mbaknya tunggu di sini saja ya. Saya bilang dulu sama pak dokter apa bisa ketemu mbaknya. Maaf mbaknya siapa namanya?" Dengan sangat hati-hati mang Ridwan bicara. Namun gadis itu tetap berjalan menuju rumah utama.
"Aku kekasihnya..., tidak perlu bapak tanya-tanya dulu, dia pasti menerimaku." Gadis cantik itu dengan sedikit angkuh menjawab. Mang Ridwan kebingungan sendiri.
"Tapi pak dokternya baru saja pulang mbak. Mungkin beliau masih sangat lelah." Mang Ridwan kembali mencoba menghentikan langkah gadis itu.
"Saya tahu." Gadis itu menjawab ketus.
"Tunggu di sini ya mbak...." Mang Ridwan menarik kursi di depan kolam. Mempersilahkan si gadis cantik duduk. Namun dia terus melewatinya.
"Eh sudah dibilangin kok bapaknya ngeyel sih. Saya ini orang yang paling dekat dengan Zamy. Jadi tidak perlu izin siapapun untuk menemuinya." Mang Ridwan terperangah. Gadis itu begitu jutek pikirnya.
"Paling dekat? Kok tidak pernah dibawa pak dokter ke rumah....eh keceplosan." Mang Ridwan menutup mulutnya. Gadis cantik dengan rambut merah keemasan memakai rok hitam dan baju kaosputih berlapiskan sweater halus warna kecoklatan dengan mengenakan sendal mahal berhak tinggi memandang tidak senang atas kejujuran mang Rdwan.
"Maaf mbak." Mang Ridwan membungkuk lagi. Dia serbah salah dibuatnya. Akhirnya karena sudah mendekati pintu rumah Zamy yang terbuka mang Ridwan berjalan mendahului, kemudian mengetuk pintu dan memanggil Zamy.
"Maaf pak dokter, ada tamu memaksa masuk." Mang Ridwan berteriak ke dalam rumah.
"Siapa mang?" Terdengar sahutan dari dalam.
"Entahlah, cantik seperti artis, katanya orang terdekatnya dokter."
"Suruh masuk saja. Tunggu di ruang tamu, Saya mau mandi dulu." Kembali terdengar suara dari dalam kamar.
"Oke pak dokter." Mang Ridwan mengangguk lalu tersenyum ke arah gadis yang akhirnya sudah sampai di depan pintu.
"Saya bisa masuk Zam?" Dia dengan percaya diri bertanya dari depan pintu dengan suara yang lantang. Tak ada sahutan. Kepalanya celingak-celinguk memperhatikan sekitar ruangan.
"Bapak lagi mandi mbak. Tunggu di sini ya...." Dengan segala keramahannya mang Ridwan mempersilahkan masuk. Gadis itu menurut saja. Dia melepaskan sweater dan meletakkannya di pangkuan. Tangannya membuka tas mahal biru di sampingnya, lalu mengeluarkan handphone. Mang Ridwan membawakan sebotol air mineral.
"Silahkan mbak." Dia menatap mang Ridwan sekilas.
"Terima kasih. Bapak boleh meninggalkan saya kok, saya bukan rampok." Gadis itu merasa tidak nyaman dengan adanya mang Ridwan.
"Eh iya baiklah mbak." Mang Ridwan meninggalkan gadis itu sendirian di ruang tamu. Setelah mang Ridwan pergi, sekali-kali dia melihat hpnya. Lalu seperti bosan sendiri dengan hp dia memasukkan hpnya ke dalam tas lagi, begitu berulang-ulang hingga setengah jam lebih menunggu keluarlah laki-laki gagah dari kamarnya menuju ruang tamu. Wajahnya segar dan semakin kelihatan tampan.
"Maaf jika menunggu lama...." Laki-laki itu duduk di kursi depan tamunya.
"Kemana kamu Zam tiga hari hp tidak pernah aktif?" Gadis itu langsung bertanya.
"Tidak kemana-mana, hanya menjenguk orang tuaku di Mentok."
"Tapi selama ini kamu tidak pernah mematikan handphonemu kemana pun kamu pergi." Gadis itu bicara dingin sambil menyusun tangan di depan dada.
"Lagi kepengen saja."
"Pasti ada sebabnya."
"Dan kamu juga tidak berhak tahu apa sebabnya." Laki-laki itu menjawab tidak suka. Sedangkan gadis itu tersenyum sinis mendengarnya. Sejenak hening. Gadis itu terus menatap tajam ke arah laki-laki di hadapannya. Sedangkan laki-laki di depannya melepas pandangan ke luar jendela.
"Mama dan papa menanyakan kapan kita akan menikah?" Gadis cantik itu menatap Zamy dengan mata penuh pengharapan.
"Menikah?" Zamy seketika menatap gadis di depannya. Alisnya naik beberapa senti lalu keningnya berkerut-kerut kebingungan.
"Iya. Bukankah itu sudah berkali-kali dibahas orang tua kita." Gadis cantik itu bicara lagi penuh percaya diri. Laki-laki di hadapannya masih menatap tajam.
"Mengapa kamu tidak mengerti juga? Aku kan sudah bilang berkali-kali bahwa...,"
"Kamu akan menikahi adikmu sendiri? Kamu mau menikahi Naura?"
"Kalau aku jawab IYA bagaimana?"
"Apa kamu tidak malu?"
"Kenapa harus malu?"
"Masyarakat tahunya Naura adikmu. Akan sangat lucu seorang dokter hebat, wakil direktur rumah sakit bonafit di Bangka Belitung, punya klinik dengan pasien terbanyak di Pangkalpinang menikahi adik sendiri."
"Aku punya ruang untuk menjelaskan." Zamy bicara tegas.
"Menjelaskan apa?" Gadis di depannya sinis bertanya.
"Dia halal kunikahi karena Naura bukan adik kandungku." Zamy kembali menegaskan.
"Orang-orang tidak mudah menerima hal-hal seperti itu."
"Aku tidak akan mempedulikan hal-hal yang tidak penting. Mereka menerima atau tidak bukan urusanku." Zamy berdiri mengambil handphone di kamarnya dan kembali lagi duduk di sofa ruang tamu.
"Omong kosong apa itu tadi?" Gadis itu kembali bicara sinis.
"Bukan omong kosong, tetapi realitanya. Bila ada yang meminta penjelasan. Aku hanya perlu menjelaskan, selebihnya aku tidak punya kewajiban mengkonfirmasi kepada masyarakat. Aku bukan selebritis." Zamy menjelaskan sambil menggoyang-goyangkan kaki, sesekali dia melihat layar hpnya.
"Lantas kau anggap apa aku selama ini?" Gadis itu kembali bertanya serius. Zamy meletakkan hpnya ke meja lagi. Dia menatap lawan bicaranya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Terus apa aku pernah menjanjikan sesuatu? Menikahimu? Memberimu keturunan?" Zamy tersenyum-senyum sendiri dibuatnya.
"Apa arti hubungan kita selama ini Zam?" Gadis itu masih ngotot.
"Hubungan apa yang kau maksudkan?" Zamy balik bertanya.
"Bukankah kita sudah menghabisan banyak waktu bersama?" Gadis itu menjawab, lagi-lagi Zamy hanya tersenyum.
"Maaf, dalam waktu bersama itu, apa aku pernah menyentuhmu? Maaf maksudnya sekalipun bahkan aku tidak pernah punya keinginan untuk menyentuh jari jemarimu. Jangankan hal-hal lainnya. Aku juga sudah bersama dokter Ilham dalam waktu yang lama, bukan berarti kami juga harus menikah kan?" Zamy menjelaskan dengan sedikit amarah. Suaranya bergetar. Namun dia tetap mencoba merangkai kata-kata terbaik yang bisa dipahami lawan bicaranya tanpa menyakiti.
"Itu karena kamu malu." Sang Gadis bicara lagi penuh percaya diri.
__ADS_1
"Hah? Karena malu? Jujur aku hanya menganggapmu sebagai teman. Teman dekat mungkin karena kita sering bersama sejak kuliah dulu. Tetapi pernahkah aku mengatakan kalau aku mencintaimu? Pernahkah aku mengatakan aku merindukanmu? Mungkinkah aku terlupa? Kurasa aku tidak pernah mengatakan hal-hal seperti itu karena aku memang merasa tidak ada hati untuk menyayangimu lebih dari seorang sahabat. Aku tidak pernah mengatakan mencintai dan mengharapkanmu karena memang aku tidak mencintaimu dan tidak mengharapkanmu lebih dari seorang teman. Sudah jelaskan? Kau tahu? Ada orang yang kucintai lebih dari aku mencintai diri sendiri. Ada wanita yang kuharapkan bisa memberikanku keturunan yang banyak. Dan kami saling mencintai. Aku berharap kebersamaan kami akan terjalin hingga maut memisahkan. Maka tak ada lagi ruang kosong untuk hati yang lain. Maafkan aku NINA. Maafkan aku jika ini menyakitkan bagimu." Zamy bicara tegas. Sementara Nina mulai berair mata. Dia mengambil sweater di sebelahnya duduk, mengangkat tas dan pergi setengah berlari meninggalkan Zamy yang hanya diam.
"Maafkan Zamy ya Nin!" Zamy berteriak lantang sebelum Nina tidak bisa mendengar suaranya. Nina pergi dengan terburu-buru. Dia membawa mobilnya tanpa tahu kemana tujuan. Mang Ridwan semakin kebingungan menyaksikan. Dia menggeleng-gelengkan kepala dan berlari menemui Zamy.
"Kenapa gadis cantik dibiarkan menangis pak dok?" Mang Ridwan bertanya.
"Biasalah maaang..., resiko orang ganteng." Bang Zamy santai menjawab. Mang Ridwan menepuk keningnya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya berkacak pinggang.
"Oalaaa doookkk..., dok. Kok bisa samaan kita ya dok." Mang Ridwan terkekeh dan segera berlalu.
"Mang, sini mang...." Tiba-tiba Zamy memanggil lagi. Mang Ridwan balik ke ruang tamu.
"Kenapa dok?" Mang Ridwan bertanya. Dari arah dalam rumah, mang Ridwan melihat Zamy membawa sekantong rambutan.
"Ini rambutan dari Mentok, bawalah buat makan sama-sama." Zamy memberikan kantong besar tersebut.
"Taro di ruang tunggu apa di meja dekat kolam dok?" Mang Ridwan bertanya lagi.
"Terserah mamang deh...." Zamy berbalik masuk kamar, dia mengambil kunci mobil dan segera menuju garasi memanaskan mesin mobilnya. Mang Ridwan mengikuti menuju kursi santai di dekat kolam ikan. Meletakkan rambutan di sana. Lalu melanjutkan pekerjaannya merumput taman belakang rumah Zamy.
***
Setelah sempat berhenti menangis di pinggir jalan Nina memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Di rumah dia disambut mama dengan penuh kekhawatiran.
"Kenapa tidak kerja nak? Apa kamu sudah ketemu dengan dokter Zamy? Kenapa kamu menangis?" Mamanya begitu khawatir.
"Nina mau kuliah lagi ma, Nina mau keluar dari kota ini pokoknya." Nina bicara sambil menangis. Dia berlari masuk ke kamarnya. Telungkup dan menangis. Mama menyusul.
"Apa yang terjadi? Kenapa kok tiba-tiba mau kuliah lagi?" Mama mengelus kepala Nina yang sesenggukan.
"Kamu bertengkar dengan dokter Zamy?" Mama bertanya lagi. Nina berbalik dari telungkupnya. Dia menatap mamanya.
"Tidak ma, bukan bertengkar." Nina menjawab perlahan.
"Lha terus kenapa?" Mama semakin penasaran.
"Rupanya selama ini dia hanya menganggapku sebagai teman ma. Tidak lebih. Dia tidak menganggap aku pacar atau apalah yang lebih spesial baginya. Dia rupanya menyukai gadis lain." Nina berurai air mata menjelaskan.
"Kok bisa begitu? Dia sering mengantarmu kemana-mana kok. Kalian sering menghabiskan waktu bersama. Apalagi?"
"Iya ma, tetapi dia sedikit pun tak punya perasaan untuk Nina. Hatinya telah fokus mencintai gadis lain."
"Apa kelebihan gadis itu darimu? Apa kekuranganmu hingga dia menolakmu? Sombong juga ya ternyata dokter Zamy. Pantas saja selama ini mereka tidak merespon setiap kali mama membicarakan tentang rencana pernikahan kalian." Mama terbawa emosi. Karakternya yang tergolong wanita kelas tinggi di Bangka Belitung mulai kelihatan.
"Iya ma. Dia tak menganggapku, dan dengan jujur mengatakan mencintai gadis lain." Masih dengan isak tangis Nina menambahkan.
"Awas saja dokter yang sok kegantengan itu berani macam-macam denganmu. Mama bisa saja membuat perhitungan." Mama mulai menanjak egonya.
"Maksud mama?" Nina menatap mama yang terbawa emosi.
"Mama bahkan bisa mencabut izin praktik klinik Honey Bee dengan memanfaatkan kedekatan mama dengan bu Gubernur atau bu Walikota. Bahkan sekarang juga mama bisa membatalkan rekomendasi aktif dari organisasi profesi Bangka Belitung. Ketuanya itu teman sebangku mama saat SMA." Mama dengan bangganya menampilkan identitas dirinya, seorang wanita kelas atas yang bisa melakukan apa saja sesuai keinginannya. Nina diam saja. Mama mendudukkan Nina di hadapannya.
"Jangan bersedih, nanti mama bicara sama dokter Zamy dan orang tuanya perihal ini." Mama mencoba menenangkan.
"Jika tidak bisa diajak bicara secara halus, kita bisa mengancamnya." Mama semakin agresif. Seperti dunia dalam genggamannya. Nina hanya diam. Dia mulai berhenti menangis sambil memain-mainkan kuku-kukunya yang cantik.
"Eh ngomong-ngomong siapa sih gadis yang dicintai dokter Zamy? Apa dokter juga?"
" Iya dia juga seorang dokter ma." Nina menjawab cepat.
"Apa dia cantik?" Mama penasaran.
"Iya ma, dia sangat cantik." Nina lagi-lagi menjawab dengan cepat.
"Perasaan tidak ada dokter di sini yang secantik dirimu. Apa dia anak orang terpandang?" Mama belum puas menyelidiki.
"Iya ma."
"Berarti dia anak orang kaya raya juga dong?" Mama mengernyitkan mata indahnya.
"Iya betul ma." Nina lagi-lagi mengiyakan.
"Lho? Memangnya siapa gadis yang dicintai dokter Zamy?" Mama sangat penasaran. Dia menatap Nina tanpa berkedip.
"Dokter Naura ma." Nina menjawab langsung sembari melihat reaksi mama yang kaget bukan kepalang.
"Apa? Naura? Nauraku? Naura Anak kandung mama maksudmu?"
"Iya ma."
"Astaghfirullahaladzim..., masa iya Naura sih Nin? Kenapa bisa? Naura kan adiknya dokter Zamy." Mama mulai gelisah dan kebingungan sendiri.
"Tidak-tidak-tidak. Ini tidak boleh terjadi." Mama segera keluar kamar, meninggalkan Nina yang kembali berbaring dengan lesu.
***
Aku sedang makan sendirian di depan telivisi, tiba-tiba saja yuk Mairoh datang.
"Maaf dok, ada seorang ibu-ibu di luar sedang menunggu dokter." Aku menghentikan suapanku.
"Suruh masuk saja yuk."
"Okeeyyy.... yuk Mairoh pergi keluar lagi.
"Silahkan masuk bu. Kita ke ruang tamu saja ya lewat pintu depan. Yuk Mairoh membawa wanita itu ke arah pintu depan yang sudah dibukanya.
"Wah rumahnya Naura besar dan bagus juga. Sayang sekali dia sendiri di sini." Wanita itu menatap ke seluruh penjuru ruang tamu depan.
"Duduk dan tunggulah di sini buk, bu dokter lagi menghabiskan makan siangnya." Yuk Mairoh menyarankan.
"Jangan terlalu formal mbak, aku ini ibu kandungnya." Wanita itu tidak mengindahkan yuk Mairoh. Dia nyelonong saja masuk ke ruang keluarga. Lagi-lagi dia melahap habis pandangan ke seluruh ruangan. Dia tersenyum tipis saat mendekati dan melihat foto besar keluarga Naura. Selebihnya dia hanya melihat sepintas ke arah etalase 3 tingkat sepanjang 2 meter yang berisikan anekafoto mini berbingkai dan aneka piala juga aksesoris lainnya.
__ADS_1
"Banyak sekali penghargaan untuknya...." Si ibu bergumam.
"Semua prestasi bu dokter itu buk." Yuk Mairoh menjelaskan. Wanita kelas atas itu memandang sepintas ke arah yuk Mairoh yang hanya membalas dengan tundukan kepala.
"Naura." Aku yang sedang makan tiba-tiba saja sudah melihat mama berada di ruang keluarga. Yuk Mairoh memberi tanda kalau dia tidak memperkenankan sang ibu masuk. Aku hanya tersenyum.
"Dia mamaku yuk Mai, biarkan saja dia masuk." Aku bicara kepada yuk Mairoh yng merasa bersalah.
"Baiklah bu dokter." Yuk Mairoh pergi meninggalkan kami.
"Makan ma, yuk Mairoh masak udang saos padang dan tumis kangkung." Aku menawarkan makan kepada mama sambil mengangkat piring.
"Terima kasih, mama sudah makan." Mama ikut duduk di sebelahku. Kepalanya seperti boneka mainan yang ada pernya. Melongok ke sana kemari menelusuri seluruh isi ruangan.
"Berapa kau beli rumah ini Naura? Besar dan bagus sekali. Interiornya sudah seperti rumah-rumah yang ada di film-film Korea." Mama bertanya mengejutkanku.
"Sedanglah ma." Aku menjawab seadanya, tak etis rasanya menyebutkan nominalnya.
"Mungkin empat eM lebih ya...? Soalnya lokasinya strategis, halamannya luas. Kulihat tadi di belakang masih sangat luas tanah kosong." Mama kembali bicara mengagetkanku. Walaupun sudah terbukti beliau ibu kandungku, namun ada rasa janggal melihat dia bertanya hal-hal seperti itu. Aku menyelesaikan makanku. Membawa piring ke dapur, minum dan kembali ke ruang keluarga dengan sepiring buah-buahan.
"Rajin sekali kau mengupas aneka buah dan menyimpannya sedingin ini." Mama langsung mengambil beberapa potong buah. Memakannya dengan cepat.
"Itu dari Mentok ma, disiapkan ibu pagi tadi untuk makan di jalan, tapi tidak sempat makannya, Naura taro ke kulkas." Aku menjelaskan. Mama tidak ada respon lagi. Matanya hanya menelisik seluruh isi rumahku.
"Ngomong-ngomong sampai nggak empat eM harga rumahmu ini?" Mama kembali membahas rumah. Aku heran dengan pertanyaan-pertanyaan wanita yang telah melahirkanku ini.
"Entahkah ma, Naura tidak tahu."
"Masa rumah sendiri tidak tahu?" Mama kelihatan tidak puas mendengar jawabanku.
"Hehe" Aku tersenyum paksa dan merasa kurang nyaman dibuatnya. Mama berdiri masih dengan tas di tangannya.
"Boleh mama melihat dapurmu Naura?" Mama lagi-lagi bertingkah sedikit aneh. Aku memang tidak begitu mengenalnya. Tetapi beberapa kali pernah tidur di rumahnya bersama dokter Nina, mama tidak seagresif ini. Aku membawa mama melihat-lihat dapurku.
"Waw kitchensetnya cantik sekali. Persis seperti impian mama." Mama memegang bahkan membuka beberapa lemari bawah.
Aku masih bersabar. Dia adalah ibu kandungku. Yuk Mairoh yang sedang memasak dibuat kebingungan dengan ulahnya.
"Ini pintu tembusnya kemana?" Mama sudah membuka pintu belakang dapur. Tampaklah kolam ikan dan sebuah gazebo coklat kemerahan terbuat dari kayu teras nomor satu. Biasanya aku dan keluarga akan menghabiskan waktu di sana sambil membakar ikan, ayam, cumi, otak-otak dan lainnya. Di kiri dan kanan gazebo ada kelinci kesayanganku. Persis di kiri kanan jembatan beton selebar 40 senti dari pintu dapur menuju gazebo ada kolam ikan nila dan ikan mas. Di atasnya kutabur tanaman kangkung, genjer dan enceng gondok serta puluhan teratai warna warni.
"Waw..., ini impian mama banget lho Naura." Mama berdecak-decak kagum sambil melewati jembatan beton sepanjang 4 meter menuju gazebo. Aku mengikuti langkah mama dengan kebingungan yang semakin menjadi.
"Bagus sekali rumahmu, mama bisa menghabiskan waktu berhari-hari di sini. Siapa yang merancang ini semua Naura?" Mama kembali bertanya.
"Ibu ma, ibuku di Mentok." Aku menjawab. Langsung kulihat wajah mama berubah. Entah jawaban apa yang sebenarnya dia harapkan dariku, aku tidak tahu. Puas duduk di gazebo mama kembali memutar ke pekarangan belakang. Aneka bunga tertata rapi, dengan setiap pinggir dekat pagar ditumbuhi tanaman tua. Sehingga musim mangga kami panen mangga, lengkeng merah juga berbuah, jambu biji, jambu jamaika, rambutan, manggis, belimbing manis, sawo, hampir semua jenis tanaman sudah ditanam ibu di sana.
"Maaf ma, bukannya bagaimana-bagaimana..., boleh Naura tahu kenapa mama tiba-tiba menemui Naura ke sini?" Aku bertanya perlahan. Mama menatapku sepintas.
"Masa mama kandung sendiri harus janjian biar bisa ketemu?" Mama masih cuek. Tidak seperti biasa saat aku berada di rumahnya.
"Ya kali saja mama ada perlu sesuatu...." Aku menjadi tidak enak hati. Kami kembali masuk ke dalam rumah. Sudah ada satu teko dan dua gelas teh di sana, dilengkapi 4 toples kecil berisi kue-kue kering.
"Silahkan ma diminum...," Aku masih sedikit canggung menawarkan.
"Iya terima kasih." Mama menyeruput tehnya hampir habis. Aku menambahkan lagi dari tekonya.
"Eh pembantumu itu dibayar berapa sih?" Mama lagi-lagi bertanya yang membuatku kaget.
"Adalah ma...," Aku menjawab sekenanya saja. Mama diam lagi. Kemudian dia mengambil hape di tasnya lalu memoto beberapa kembang yang tersusun rapi di rak shabby ku samping tivi.
"Tivimu besar sekali, perabotan semuanya jati mahal. Ini ni Naura, kursi yang ini berapa sih harganya Naura? Lima puluhan ya?" Mama menunjuk-nunjuk sofa jati ukir keemasan yang sedang kami duduki. Aku menggeleng perlahan sambil membuang nafas dalam.
"Lupa ma."
"Gimana sih kamu, nggak ada yang tahu." Mama cemberut.
"Ma maaf ya. Naura mau siap-siap pergi. Ada janji sama seseorang...."
"Sama dokter Zamy? Oh ya itu Naura. Mama mau bicarakan itu sebenarnya." Mama mulai bicara serius tentang tujuan kedatangannya.
"Naura kan tahu selama ini hubungan Nina dan Zamy. Mereka sudah bersama selama hampir sepuluh tahun lamanya. Bagaimana mungkin Naura akan merebut Zamy darinya. Lagian kan Zamy itu sudah menjadi abangmu...." Mama bicara sambil memegang tanganku. Aku merasa kurang nyaman. Terasa ganjalan mulai muncul.
"Naura, sebaiknya kau mengalah sama Nina. Tadi dia pulang-pulang menangis hebat. Katanya Zamy menolaknya untuk menikah. Dia bilang Zamy malah akan menikah denganmu. Masa iya menikahi adik sendiri?" Aku menatap mama lebih dekat
"Maaf ma, harusnya mama lebih sadar kalau Naura bukan adik kandungnya Zamy." Aku mencoba menjelaskan. Jelas ada kecewa pada nada suaraku.
"Tetapi bagaimana nanti pandangan orang? Masa dokter itu cantik-cantik menikah dengan kakaknya? Mereka tidak peduli kakak kandung apa kakak pungut Naura. Yang ada nanti kita yang malu. Semua bisa malu karena hal ini...."
"Malu? Malu kenapa ma?" Aku semakin tidak mengerti apa yang mama pikirkan.
"Ya malulah, masa iya dokter menikah sama kakaknya. Seperti tidak laku saja." Aku terkaget-kaget mendengar wanita yang baru 3 hari kuketahui sebagai ibu kandungku ini bicara. Sungguh jauh berbeda jalan pikirannya dengan pola berpikir ibuku di Mentok.
"Biarkan Zamy yang memutuskan ma." Aku mencoba menyudahi. Mama menatapku kurang senang. Dia bangkit dari tempat duduknya. Meraih tas kemudian bicara lagi.
"Bertingkahkah seperti anak kandungku Naura."
"Apa yang salah ma?"
"Anak kandung akan selalu menurut apa yang dikatakan orang tuanya." Mama mendikteku. Aku hanya tersenyum tawar. Kuantar mama sampai ke depan pintu. Kulihat di bawah pohon rambutan di halaman rumahku sebuah sedan tua sudah menunggu.
"Ingat ya Naura..., lupakan Zamy dan biarkan mereka bahagia." Aku mendongak ke atas menahan air mata. Mencoba tetap tersenyum dan memberanikan diri bicara.
"Ma...."
"Kenapa?" Mama berbalik dari teras, mendekatiku.
"Naura sudah setuju kan?"
"Tidak."
"Terus kenapa?"
__ADS_1
"Jangan biarkan Naura menyesali pertemuan dengan orang tua biologisnya." Aku menitikkan air mata. Mama tercengang menatapku. Lalu dengan terburu-buru dia turun dari teras rumahku, berjalan masuk mobil sedan yang menunggu, lalu perlahan meninggalkan halaman rumahku. Yuk Mairoh mengiring mobil dan menutup pintu pagar. Aku kembali ke ruang keluarga. Duduk sendiri menitikkan air mata, aku merindukan dekapan ibuku di Mentok.