
Kembali ke rumah di hari lebaran, ada nuansa sepi yang mencekam. Sesekali getir terasa di hati mengingat kepergian mama yang begitu tragis dan mengejutkan. Meski kucoba untuk menghilangkan sesal di hati, namun perasaan itu tak kunjung menjauh dari pikiranku.
“Lho buk, bukannya katanya mau balik dua hari setelah lebaran?” Pak Rohim bertanya keheranan. Dia menikmati setoples kue bawang yang dibawanya dari rumah. Dua kaleng minuman berada di sebelahnya yang duduk santai di teras villa yang kosong.
“Iya pak, mendadak karena ada masalah.”
“Anu ya bu? Bener ya yang kata orang-orang ada yang gantung diri di lapas, itu mamanya ya bu?” Pak Rohim bertanya ragu-ragu.
“Iya pak. Entah kenapa dia mengambil jalan yang salah.” Aku mendesah lirih menjawab.
“Maaf lahir batin ya pak.” Aku menyalami pak Rohim dan kembali masuk ke dalam rumah. Kulihat bang Zamy sudah selesai sholat Dzuhur di rumah saja.
*****
“Sholatlah yang…, istirahatlah jangan banyak pikiran.” Bang Zamy mengingatkanku dengan lembut. Dia memeluk dan mencium keningku hangat.
“Apa teman-teman abang boleh bertamu? Mereka tahu abang sudah kembali.” Bang Zamy bertanya kepadaku.
“Silahkan bang, nanti sehabis sholat adek baru mau mengeluarkan makanan untuk isi toples dan menyusun aneka minuman.” Aku menjelaskan.
“Katakan saja dimana tempatnya, abang bisa kok menyusunnya. Itu perkara gampaaang….” Dia bicara menyombongkan diri.
“Wah baik sekaliii…,” Aku bahagia mendengar bantuannya. Lantas kuajak bang Zamy menuju lemari di dapur, kukeluarkan aneka kue kering dan penganan lainnya. Kukeluarkan selusin toples kosong untuk diisi. Kutunjukkan dimana tempat minuman diletakkan mbak Mairoh. Bang Zamy menggeleng-gelengkan kepala.
“Ribet juga ya ternyata menjadi wanita.” Aku tersenyum dan meninggalkannya yang mulai membuka seluruh tutup toples. Aku menuju kamar karena belum sholat Dzuhur. Namun belum selesai rakaat kedua, bukan karena tidak fokus, namun tiba-tiba saja terdengar bunyi yang sangat nyaring dari arah dapur.
__ADS_1
“Taaarrr…!!!, kring ring ring..." Suara beling pecah diikuti suara pantulan sisa pecahan yang berhamburan. Sholatku mulai terganggu, kekhusukanku seketika berkurang. Otakku langsung berpikir apa gerangan yang terjadi di dapur. Entahlah, setelah mendengarnya aku sholatnya dipercepat. Allah Maha Tahu.
*****
Buru-buru kuletakkan sajadah dan mukena ke atas kasur. Dengan langkah cepat aku segera ke sumber suara yang sudah pasti dari dapur. Sesampainya di sana, kudapati bang Zamy duduk bersandar di tiang kursi makan. Dia menyambut kehadiranku dengan senyuman. Tangannya menyembunyikan sesuatu.
“Bunyi apa tadi bang?” Hanya formalitas saja aku bertanya. Dalam hatiku sudah bisa memastikan bahwa ada toples yang pecah.
“Bunyi apa? Abang tidak tahu.” Bang Zamy menjawab tersenyum-senyum mencurigakan. Dia menggoyang-goyangkan kedua lulutnya seperti sedang bersantai. Senyumnya mengembang selalu.
“Tadi ada bunyi sesuatu yang pecah deh, ayo jangan bohong....” Aku mencurigainya.
“Hah? Masa sih? Tetapi abang tidak mendengar suara apapun dari tadi.” Bang Zamy tersenyum menjawabku. Aku mendekatinya yang memutar badan sambil duduk masih berusaha menyembunyikan sesuatu. Akhirnya kugelitik bang Zamy persis di bawah ketiaknya, seketika dia menekuk badan karena kegelian.
“Bee…, dimana beli toples cantik seperti ini?” Akhirnya dia menyerah. Bang Zamy mengangkat sebuah toples belingku yang cantik dengan tutup keramik mahal, dia memperlihatkan toplesku yang masih utuh, tak kurang satu apapun.
“Hemzzz…, iya hanya satu toples sih, tapiii...," Dia bicara dengan senyum lucu.
"Kok ada tapinya?" Aku kembali bertanya.
"Iya satu toples saja yang pecah. Tapi tutupnya dua. Hahaha...," Bang Zamy menarik serokan yang berisi pecahan toples yang sudah dibereskannya. Rupanya tadi dia menyembunyikannya di belakang tiang meja jati yang lebar.
"Isssshhh..., Bagaimana bisa sih bang? Tadi katanya gampaaaanggg….” Aku menggelitiknya hingga dia terbaring kegelian. Salah satu kelemahannya selama ini. Dia kegelian parah apabila digelitik di badan. Setelah puas menggelitikinya, aku duduk di dekatnya yang masih tengkurap menahan geli. Kubereskan lagi dengan sapu pecahan beling yang masih tersisa satu per satu.
“Kok bisa sih bang tutupnya pecah dua begini..., Ini mah sama saja dengan pecah dua...." Aku menggerutu lagi.
__ADS_1
“Ganti saja dengan tutup panci sayang….” Bang Zamy menyahut sembarangan. Aku mencubitnya lagi. Dia tertawa geli kemudian perlahan bangun, lalu masih dengan senyuman tiada henti dia membantuku mengisi toples-toples itu dengan aneka kue kering yang belum sempat satu kemasan pun dia buka dan pindahkan ke toples.
“Ini dibawa kemana yaaangg?” Bang Zamy bertanya setelah semua toplesnya terisi.
“Eh eh eh…, biarlah adek bisa membawanya sendiri. Nanti kejadian lagi, bisa habis toplesnya….” Aku melambaikan tangan bicara ke bang Zamy. Memberikan kode lambaian jemari menyuruhnya berhenti, namun dia tetap membawa dua buah toples masing-masing satu diselip di pinggangnya.
“Jangan takut Bee..., Bukankah pengalaman itu adalah guru terbaik sayang…. Nggak akan terulang lagi kesalahan yang sama. Abang akan hati-hati....” Bang Zamy bicara sambil meletakkan kedua toples bersamaan di meja jati beralas kaca.
“Tarchhhh….!” Entah karena kaca mejanya yang sudah tua, atau tenaga bang Zamy yang sangat super. Kaca meja retak seketika. Nampak seperti gambar tiga dimensi, kaca hitam berubah putih seketika di bagian tengahnya dengan gambaran seperti matahari sedang memancarkan sinarnya. Dia menoleh ke arahku yang sedang menahan tawa.
“Beee sayaaaanggg…,” Dia berdiri kemudian berjalan perlahan sambil tersenyum merekah ke arahku.
“Kenapa wahai tampan yang sudah sangat berpengalaman? Bukankah pengalaman adalah guru terbaik?” Aku menjawab santai sambil berkacak pinggang.
“Kalau kaca meja seperti itu, dimana ya ada jualnya?” Dia bertanya lucu dengan wajah bersalah. Aku tak menjawab, kucubit lagi perutnya yang hanya mengenakan singlet.
“Inilah kalau urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, hanya mengacaukan saja….” Aku kembali mencubit lengan bang Zamy. Namun seketika dia menangkap kedua lenganku.
“Maafkan abang ya Bee ku tersayang, tetapi kalau yang ini, benar-benar keahlian abaaanggg....” Bang Zamy seketika mencium bibirku dengan hangat. Aku tidak bisa berkata-kata mengomel lagi. Kemudian dia berjalan menutup pintu dapur, menguncinya. Dibopongnya aku ke sofa ruang tamu yang masih agak gelap karena tirainya belum ada yang dibuka. Dia menghidupkan AC lantai yang besar.
“Eh katanya mau bantuin nyusun toples sih sayang?” Aku sedikit mendorong dadanya yang bidang, mencoba untuk melepaskan diri. Namun mulutnya kembali perlahan menutupi bibirku yang basah.
“Tidak sayang, abang lebih ahli di bidang yang satu ini.” Bang Zamy menjawab dengan suara lembut yang dalam. Aku tak berdaya.
“Kok tumben?” Aku masih heran. Namun bang Zamy sudah melemparkan singletnya ke lantai. Matanya lekat menatap mataku yang perlahan mulai ikut terbawa suasana. Gairahnya yang datang seketika perlahan mempengaruhi hormon dopaminku. Dengan suasana baru, di hari berkabung dan juga bergembira ini, kami mencoba melepaskan dahaga seksual di siang hari. Begitu indah, begitu berhasrat dan membahagiakan. Tanpa peduli bisingnya suara kendaraan yang lewat, bang Zamy membawaku terhanyut dalam permainannya yang lembut. Istimewah dalam ingatan, sebuah momen pertama yang tak pernah akan terlupakan. Kami merasakan sensasi seperti pertama kali melakukan, ketika sentuhan-sentuhan lembut di siang hari menghadirkan candu asmara yang selama ini sedikit tertahan. Di kehamilan trimester pertama, di perayaan hari yang istimewah pula, perlahan-lahan kami terhempas setelah setengah jam lebih terengah dalam dekapan tanpa sehelai benangpun yang menempel di badan. Toples-toples yang pecah, hanya bisa diam, menjadi saksi bisu kemesraan kami yang seperti sepasang kunang-kunang kasmaran. Bercahaya bersama menikmati kegelapan alam.
__ADS_1
*****