Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 28 Kameramen Misterius


__ADS_3

Setelah bersih-bersih villa tempat tante Mira dan keluarga. Kami dibantu beberapa warga dan teman sejawat bersih-bersih sekitar rumah. Tak lupa ibu telah menyewa yuk Zaidar, seorang tukang rias terkenal di kota Pangkalpinang. Rencana menikah hari Kamis, kami fitting bajunya hari Selasa. Semua serba dadakan. Aku, bang Zamy dan ibu pergi ke tempat yuk Zaidar. Di sana ibu memilihkan gaun pengantin yang belum pernah dipakai. Hanya ada dua set dengan harga super spesial. Satu berwarna ungu satu lagi putih bulu angsa. Aku memilih warna putih.


"Huh..., untung saja ukurannya pas sama bu dokter...." Yuk Zaidar berkomentar ketika selesai mengancingkan baju di bagian belakang.


"MasyaAllah cantik sekali...." Ibu memujiku yang bergerak-gerak di depan kaca ruangan.


"Anak ibu cantiknya melebihi artis...," Begitu seloroh yuk Zaidar kepada ibu. Mereka tertawa bersama.


"Tapi jujur ya bu, saya lebih enak me'mekap' orang yang wajahnya biasa saja bahkan maaf yang jelek begitu. Lebih gampang menata agar kelihatan cantik. Nah kalau seperti bu dokter ini, harus hati-hati. Wajahnya sangat cantik, kalau salah poles akan membuatnya malah gimana ya...." Yuk Zaidar ngobrol sama ibu yang hanya tersenyum-senyum.


"Berarti wajahnya lebih enak ya yuk molesnya...,dia kan jelek...." Bang Zamy menggodaku. Aku hanya memberikan ekpresi mengejek di wajahku.


"Kalau jelek mana mau abang menikahiku...." Aku menjawab. Bang Zamy hanya tersenyum.


"Kalian itu sangat cocok. Bu dokter masyaAllah sangat cantik, pak dokter juga sangat tampan. Seperti cerita di film-film saja, ketemu dua dokter cantik dan tampan...," Yuk Zaidar berkomentar.


"Alhamdulillah...," Ibu hanya menggumam sambil ikut fitting baju hari akad. Dia memilih sendiri di lemari-lemari jati kaca yang mewah. Bang Zamy hanya dengan setelan jas silver terbaru. Dia kelihatan semakin gagah saja. Pada saat kami asyik fitting baju, aku tidak sengaja melihat ke arah mobil yang parkir di pinggir jalan persis depan rumah yuk Zaidar. Seseorang kelihatan dengan gerak-gerik mencurigakan.


"Ada apa Naura?" Bang Zamy bertanya melihatku memiring-miringkan kepala mencoba melihat lebih jelas siapa di seberang mobil parkir. Namun karena terhalang kusen jendela, aku tidak mampu menangkap wajahnya dengan jelas.


"Sepertinya ada seseorang berdiri mencurigakan di dekat mobil abang." Aku menjelaskan kepada bang Zamy yang langsung keluar.


"Abang akan memeriksanya...." Dia pun berlalu. Namun sekitar dua menit kemudian dia sudah kembali dan mengangkat tangan sembari menggelengkan kepala.


"Tidak ada siapa-siapa kok Bee...." Bang Zamy bicara perlahan.


"Oh mungkin mata Naura salah lihat atau hanya ada orang yang kebetulan lewat." Aku menyudahi sambil terus menuruti dicobakan beberapa perlengkapan pakaian pengantin untuk hari Kamis besok lusa. Sekitar dua jam kami fitting baju pengantin, akhirnya kami pulang ke rumah. Ayah dan ibu sibuk menyiapkan segala keperluan. Katering makanan di tempat terbaik. Kata ibu mau banyak atau sedikit orang yang hadir, kita harus menyuguhi makanan terbaik. Berkali-kali ibu mencoba menelpon mama namun tidak pernah tersambung. Sepertinya mama sengaja menghindari panggilan telpon dari ibu. Maksud ibu agar bisa menyiapkan dan mengkomunikasikan segala sesuatu secara bersama-sama. Sementara tante Mira, Nindya dan Nisa sudah pula dibelikan ibu seragam gamis cantik di butik Rahmah jalan baru. Ketiganya nampak mulai menikmati tinggal di villa. Apalagi Annisa, berjam-jam kalau tidak dipanggil dia akan asyik bermain di gazebo belakang rumah, bang Zamy sudah membelikannya juga seperangkat mainan dokter-dokteran. Mbak Nindya karena sudah terbiasa bekerja tidak berhenti beres-beres. Sampai-sampai yuk Mairoh heran dibuatnya. Segala rumput sesenti di pot kembang pun dicabutinya. Ayah berkali-kali telah pula menelpon orang dari Kantor Urusan Agama, agar tidak lupa pernikahanku dan bang Zamy diselenggarakan hari Kamis. Sedangkan bang Zamy masih disibukkan bolak-balik ke kantor karena lagi ada pasien darurat. Semua berjalan sesuai porsinya. Aku dengan debaran di hatiku, lebih banyak membaca-baca artikel tentang persiapan pernikahan. Ibu bolak-balik ditemani yuk Mairoh ke tempat-tempat tertentu, tante Mira duduk di kursi roda sambil sesekali diturunkan mbak Nindya menemani Nisa bermain di gazebo. Tidak ada yang aneh lagi. pak Rohim bekerja mengecat pagar rumah. Biar cantik lebaran nanti katanya. Tidak ada yang memintanya, dia datang meminta uang beli cat menawarkan warna apa lantas bekerja sendiri. Panjang, iya terasa panjang sekali waktu kali ini. Menahan debaran di hati, aku berharap tak ada lagi esok hari, tetapi langsung melompat ke hari Kamis, dimana aku akan segera menjadi nyonya Zamy.


***


Rabu, tidak banyak yang berubah seperti hari kemarin, hanya saja dari pagi yuk Zaidar datang bersama tim untuk merias kamar pengantin. Atas permintaanku, kamar pengantinnya adalah kamarku. Walaupun yang diundang mungkin hanya dua puluh orang namun keadaan riasan kamar pengantinku sangatlah cantik. Dekorasi didominasi dengan warna bernuansa putih dan ping, mulai dari pintu kamar, di atasnya dibuat seindah mungkin. Di dalam kamar riasan kamar tak kalah cantiknya dengan dekorasi di depan kamar. Semua ditata yuk Zaidar seindah-indahnya. Aku merasakan nuansa yang sangat meriah walaupun di tengah pandemi covid-19. Ibu dibantu beberapa orang wanita tetangga rumah mempercantik souvenir undangan. Agar berkesan ibu membeli empat puluh lembar sajadah permadani ukuran besar, aneka warna. Digulung lalu dikasih potongan pita berenda. Tertulis namaku dan nama bang Zamy di sana. Mereka piawai meriasnya. ada yang bagian memotong, menempel dan finishing. Sesekali aku nimbrung di sana. Namun segera diusir dan di suruh pakai henna.


"Mbak dokter ke sana saja, pake henna sama yuk Zaidar, biar keren...." Yuk Wati bahkan mendorongku yang baru saja mau memegang gunting.


"Sana menjauh, calon pengantin tidak boleh dekat-dekat barang yabg tajam...," Bu Mustar menimpali. Aku menurut saja, berjalan ke arah yuk Zaidar yang mulai memanggil dengan lambaian tangan kanannya. Karyawan yuk Zaidar yang lain masih sibuk memasangkan dekorasi kamar dengan dibantu sebuah tangga aluminium pendek.


"Ini dipilih, Naura mau yang seperti apa." Yuk Zaidar memberikanku sebuah album henna buatannya. Aku lantas membolak-balikan lembaran kertas berbungkus plastik tersebut. Lantas kupilih salah satu yang paling kusukai. Aku pun dipakaikan henna.


"Besok habis Subuh ayuk ke sini, kita dandan ya." Yuk Zaidar mengingatkanku kembali. Padahal sejak fitting baju hal itu sudah disampaikannya berkali-kali.


"Iya yuk." Aku menjawab. Seseorang mengabadikan momen itu dengan sebuah kamera yang bagus. Aku malah memberikan senyum dengan sengaja, berharap foto-foto itu akan berkesan hingga nanti tak ada lagi nyawa di badan. Berkali-kali terdengar kembali suara kamera mengambil gambar. Aku terus tersenyum. Yuk Zaidar asyik dan konsentrasi melukiskan henna di tanganku.


"Ma maaf terlambat, Bayu ke rumah Faisal dulu tadi." Tiba-tiba seorang remaja ganteng, putih bersih mirip dengan yuk Zaidar datang dengan kamera Canon EOS 5D Mark III di tangannya. Yuk Zaidar menghentikan aktivitasnya. Dia mengangkat kepala melihat siapa yang datang. Senyumnya seketika mengembang.


"Bu dokter, ini Bayu anak pertamaku. Dia yang akan mendokumentasikan pernikahanmu." Yuk Zaidar menepuk sedikit pundakku. Matanya menatapku, aku sontak menatap balik ke arah yuk Zaidar.

__ADS_1


"Lha yang tadi cekrak cekrek itu siapa yuk? Bukankah itu anak buah ayuk Zaidar?" Aku bertanya bingung mengingat tadi sudah ada suara kamera seseorang mengabadikan momen aku memakaikan henna.


"Yang tadi?" Yuk Zaidar malah bertanya balik.


"Iya." Aku menjawab cepat.


"Bukankah yang mengambil gambar tadi adalah fotografer dari keluargamu?" Yuk Zaidar serius menatapku.


"Bukan yuk. Yang kameramen dari kami bang Rahman, adik kandungnya bang Zamy." Aku menjelaskan.


"Lha? Jadi yang tadi sudah mengambil foto terus siapa ya?" Yuk Zaidar mulai curiga, sama sepertiku. Kami berpandangan kebingungan.


"Tunggu sebentar yuk." Aku segera bergegas mencari laki-laki yang mengambil gambar dengan kamera tadi. Kucari di sekitar ruang keluarga, ruang tamu, arah dapur, belakang dekat gazebo, di taman dan seluruh penjuru rumah dia tidak ada lagi. Aku lantas ke gardu jaga menemui Fredy.


"Kenapa bu dokter?" Fredy langsung bertanya melihat wajahku yang diliputi kecemasan.


"Tadi ada laki-laki yang membawa kamera, apa sudah lewat sini?" Aku bertanya kepada Fredy yang sudah keluar dari pos jaganya.


"Barusan bu dokter, katanya nyambung lagi sore nanti."


"Hah? Apa dia bilang begitu?"


"Iya, tadi waktu masuk bilangnya timnya yuk Zaidar. Dia berdua tadi. Makanya saya biarkan mereka masuk." Fredy menjelaskan. Aku segera kembali ke rumah, mencari ibu dan ayah, lantas menjelaskan apa yang sudah terjadi. Ayah lantas pergi ke kamar bang Zamy melihat rekaman CCTV. Namun seperti sebuah sinetron, tidak ada nampak wajahnya yang jelas terekam kamera cctv. Hanya nampak mereka berdua menenteng kamera besar, bercelana jeans hitam dan keduanya menggunakan hoodie hitam. Ketika dizoom tidak ada nampak sesuatu yang berarti. Motor yang mereka gunakan diparkir jauh di pinggir jalan raya. Aku mendesah perlahan.


"Apa Naura perlu memberitahu bang Zamy yah?" Aku bertanya kepada ayahku yang nampak sedang berpikir keras. Di genggamanku aku siap menekan tombol panggil, karena kontak bang Zamy sudah terbuka.


"Ketemu tidak bu dokter?" Yuk Zaidar bertanya melihatku kembali ke kamar. Aku hanya menggeleng dan duduk kembali untuk melanjutkan pemakaian henna dengan yuk Zaidar.


"Aneh ya. Aku pikir dia orangnya bu dokter. Bu dokter malah mengira itu orangnya saya." Yuk Zaidar bicara lagi sambil badannya semakin membungkuk merias kakiku.


"Iya yuk. Agak janggal ya. Setelah anak ayuk datang dia kabur. Sepertinya dia tahu betul kebiasaan orang di acara-acara sibuk seperti ini." Aku bicara perlahan. Otakku dipenuhi rasa penasaran kepada orang yang sudah masuk secara ilegal ke dalam rumahku. Sedangkan kemarin, aku merasa seseorang dengan gerak-gerik yang sangat mencurigakan. Pasti itu orang yang sama dengan orang yang berada di dekat mobil kemarin.


"Berdoa saja ya bu dokter, semoga besok acara kita lancar, tanpa ada suatu halangan apapun." Yuk Zaidar kembali bicara melihat keresahanku.


"Iya yuk. Aamiin." Aku menjawab perlahan sambil memainkan tutup henna yang dilepaskan yuk Zaidar.


"Senyum sedikit kak dokter, saya mau on kamera video ya. Dua menit setelah hitungan eksen, gaya natural, silahkan sambil ngobrol sama mama." Tiba-tiba bayu bicara sambil memutar-mutar lensa mengepaskan setelan kameranya. Aku merubah gaya duduk. Kubetulkan sedikit pakaian. Kutarik nafas panjang lalu kuhembuskan perlahan. Aku mencoba bersikap normal supaya bagus nanti rekamannya.


"Oke satu dua tiga ekseeen...." Bayu mulai merekam aktivitasku dengan henna. Tiba-tiba mama muncul di pintu kamar.


"Eithhh itu mau rekaman ya? Mama ikut dong." Mama langsung mendekat seperti tak bersalah atas kerusuhan hari kemarin. Datang ke rumah dan ngamuk marah-marah ke tante Miranti. Bayu menatapku dan yuk Zaidar bergantian.


"Sudah rekam saja Yu..., buat seolah-olah kami berdua bersama-sama sedang memasangkan henna ke bu dokter." Yuk Zaidar memberikan saran melihat Bayu yang segera menghapus rekamannya yang gagal barusan.


"Nggak mau lah saya sama-sama menghenna Naura. Kamu teruslah menghenna, saya nanti berpura-pura menunjuk-nunjuk mana yang harus kamu kerjakan." Mama langsung protes atas sarannya yuk Zaidar. Yuk Zaidar menatapku yang hanya mampu tersenyum. Untung kemarin dengan tak sengaja obrolan kami saat fitting baju sampai pada penjelasan bahwa aku anak kandungnya mama Erlinda. Ibu sempat menjelaskan sepintas romansa hidupku kepada yuk Zaidar. Lantas Bayu mulai merekam aktivitasku berhenna. Yuk Zaidar secara alami melukis di seputar kakiku henna yang begitu cantiknya. Sementara mama kadang duduk, kadang berdiri, sering pula berjongkok seolah-olah dia bosnya yuk Zaidar. Aku menahan tawa dengan kerasnya. Mencoba bertahan hingga selesai dua menit. Lalu setelah dua menit berlalu, aku dan yuk Zaidar tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Eh Naura, kalian sedang menertawakan apa? Perasaan tidak ada yang lucu deh." Mama bicara dengan muka seasam buah kandis yang masih hijau. Aku tidak menjawabnya, namun seketika menghentikan tawa bersama yuk Zaidar.


"Mama ke sini bersama siapa sih ma? Papa malah sudah lama lho datangnya, bekerja bersama-sama ayah dengan kompaknya. Ini mama ditelpon ibu berkali-kali kok tidak diangkat...." Aku bertanya sekaligus komplain kepada mama. Namun dia hanya melenguh.


"Baru juga enam kali nelponnya. Saya menunggu ibumu menelpon hingga tujuh kali rencananya baru mau diangkat, eh malah tidak menelpon lagi...." Mama bicara dengan santainya. Aku semakin bingung memikirkan terbuat dari apa isi kepala mamaku ini.


"Kan mama bisa menelpon balik." Aku mencoba menegaskan kesalahannya.


"Haduuuyyy..., menelpon balik ibumu? Menurunkan level mama saja deh...." Mama menjawab dengan sombongnya. Aku memilih diam. Bagaimanapun aku tidak menyukai cara berpikir dan kesombongannya. Bagaimana mungkin di musim corona seperti ini masih ada makhluk sombong seperti mama kandungku ini. Aku mwnghela nafas panjang lagi. Sejenak hening, hanya pukulan-pukulan kecil ke dinding kamar yang terdengar. Karyawan yuk Zaidar masih asyik bekerja. Menempelkan aneka riasan kamar.


"Eh Naura, si Mira apa sudah kembali ke rumah di kebunnya?" Mama yang tadi duduk di tempat tidur pengantinku segera turun bertanya.


"Dia tidak akan kembali ke sana ma." Aku menjawab. Seketika mama terbelalak.


"Kenapa? Apa sih untungnya kalian dengan kehadirannya di sini?" Mama semakin menyebalkan.


"Ma, kita tidak harus selalu mendapat untung langsung dari berbuat baik di dunia. InsyaAllah nanti di akhirat kebaikan-kebaikan kecil itu akan mempermudah kita menuju surga yang kekal." Aku sedikit menceramahi mamaku yang malah mengangkat tinggi kedua bahunya. Bibirnya seperti mencibir dengan mata penuh ketidaknyamanan.


"Halaaahhh...." Hanya itu yang keluar dari mulutnya, lalu pergi keluar kamar. Entah siapa pula yang akan terganggu dengan kehadirannya, semoga saja dia tidak menciptakan keributan lagi. Hari semakin naik. Merambat perlahan namun pasti. Adzan Zuhur sudah berkumandang. Separuh laki-laki segera meninggalkan aktivitasnya dari rumahku, menuju sholat berjamaah di masjid.


Sementara aku, telah selesai berhenna. Ibu sibuk bercengkerama dengan para wanita yang membantu di rumah. Sementara yuk Zaidar asyik menilai pekerjaan dan cara kerja karyawannya. Tak lama kemudian terdengar suara mobil bang Zamy pulang. Entah kenapa hatiku langsung berdebar-debar kembali. Jantungku berdegup lebih dari biasanya. Aku mendengar suaranya bersalam. Lalu bicara semangat bersama dengan ayah yang sudah pulang dari masjid.


"Wah cantik sekali calon istriku...." Bang Zamy menggodaku sambil berdiri di pintu.


"Wajar dong dapat yang cantik, pak dokter juga sangat tampan." Yuk Zaidar mejawab sambil menatap bang Zamy.


"Kalau Zamy memang dari orok sudah tampan yuk...." Bang Zamy tersenyum bahagia. Aku hanya menatapnya tanpa membalas godaannya.


"Bagaimana operasinya pasien Pe e Be nya bang?" Aku bertanya mengalihkan perhatian atas bercandanya.


"Alhamdulillah selamat keduanya." Bang Zamy menjawab sambil duduk di sebelahku. Dia mengelus kepalaku dengan sayang.


"Bang, tadi ada...."


"Kameramen mencurigakan?" Bang Zamy memotong ucapanku.


"Iya. Bagaimana abang bisa tahu?" Aku bertanya.


"Barusan ayah yang bilang."


"Owh...."


"Tetap tenang, tetap waspada, terkadang orang hanya iseng, atau malah mencari celah hanya untuk mencuri...." Bang Zamy menjelaskan.


"Tetapi tidak ada barang yang hilang lho bang..." Aku bicara lagi.

__ADS_1


"Syukurlah, mungkin mereka belum selesai aksinya sudah ada yang menggagalkan." Bang Zamy menenangkan. Namun hatiku masih mengganjal atas kehadiran kameramen gadungan. Pasti ada yang sudah mereka rencanakan. Aku harus selalu berhati-hati. Begitu gumamku. Matahari telah menerobos di celah kamarku yang terbuka. Bang Zamy sudah mulai dipasangkan henna. Sedangkan aku, masih saja terpikirkan mereka yang datang dengan resiko tinggi ke dalam rumahku tadi. Mengapa terasa sangat ganjil? Ah, sudahlah, aku mencoba melupakan dan berharap esok pagi semua akan berjalan lancar tanpa hambatan apapun.


__ADS_2