
Waktu yang ditunggu-tunggu Annisa pun tiba. Dia sudah mandi sejak satu jam yang lalu dan memakai pakaian yang indah, gaun ping bermanik-manik putih, berkantong di depan. Masker kain karakter Heloo Kitty tergantung di lehernya. Dia seketika berdiri dari kursi teras ketika melihat mobil bang Zamy masuk pekarangan.
"Oom pulang, om pulang hore om pulaaang...." Dia bersorak girang.
"Nisa jangan dekat-dekat, nanti omnya tidak melihat." Mbak Nindya menarik Nisa yang berjalan mendekati mobil bang Zamy. Bang Zamy turun. Nisa menjemputnya dengan riang. Aku mulai ada saingan sekarang. Gadis kecil ceria itu mencium tangan bang Zamy, bang Zamy mengelus-elus kepalanya.
"Sudah mandi ya Nisanya, sudah cantik sekali dengan gaun yang indah." Bang Zamy menggenggam tangan Annisa berjalan ke arahku.
"Tunggu sama tante ya, om mandi dulu nanti baru kita cari takjil...." Bang Zamy bicara pada Nisa sekaligus mencium keningku.
"Hai sayang, dirimu cantik sekali...," Aku hanya tersenyum cantik. Bang Zamy kemudian masuk ke dalam rumah. Aku mengepang rambut Nisa yang panjang.
"Nanti mau beli apa buat buka puasanya?" Aku bertanya ke Nisa yang bersenandung kecil karena gembira.
"Banyak tante. Mau beli agar-agar sama coklat, sama pempek, sama es cendol..., samaaa... apalagi ya?" Dia berhenti sejenak mendongak menatapku.
"Nisa banyak suka makan makanan yang sering dianterin oom waktu di kebun, tapi tidak tahu apa namanya. Nisa hanya biasa makan masakan ibu, rebus pisang, rebus ubi, goreng sukun atau bala-bala." Bocah lima tahun itu semangat menjelaskan. Aku segera menyelesaikan mengepang rambutnya, kemudian memeluknya erat sekali.
"Sekarang kalau Nisa menginginkan sesuatu bilang saja sama tante ya." Aku membisikkan di telinganya.
"Terima kasih tante...." Nisa tersenyum bahagia.
***
Lima menit menunggu bang Zamy sudah keluar dengan wajah lebih fresh lagi. Dia bercelana Chino panjang warna kream dengan kaos berkerah warna putih.
"Ayo om kita beli takjil." Nisa berdiri melihat kehadiran bang Zamy. Bang Zamy tersenyum menatapku.
"Oke.... Nampaknya Nisa sudah lapar sekali ya nak?" Bang Zamy menggapai tangan Nisa menuju mobil. Aku kembali ke kamar mengambil dompet, lalu keluar lagi dan menutup pintu. Sebelum naik mobil aku memanggil mbak Nindya berpamitan.
__ADS_1
"Hemzzz..., kalau sudah ada om, tantenya ditinggalin ya...." Aku mendelik ke Annisa yang sudah duduk manis tersenyum lebar.
"Hihiiii..., maaf tante. Hahahaha...." Nisa tertawa terkakak-kakak sambil menutup mulutnya. Dia malu memperlihatkan giginya yang ompong tiga akibat kebanyakan menggigit tebu waktu di kebun.
"Besok kalau om kerja, tante nggak mau lagi main sama Nisa ah." Aku pura-pura merajuk.
"Siapa juga ya Ca yang mau main sama tante cerewet." Bercanda, bang Zamy mengerling ke arahku. Aku mencubit lengan kirinya, diahanya meringis sedikit kemudian mengembang senyum.
***
Tak terasa akhirnya kami sudah sampai di jalanan depan masjid Jamik Pangkalpinang, walaupun dalam suasana covid-19, aneka jajanan takjil masih memenuhi sepanjang jalan kota ini. Bang Zamy parkir di dekat apotik 24 jam. Kemudian Kami berjalan lumayan jauh ke arah masjid Jamik karena jalanan sudah macet. Kiri kanan ada banyak kendaraan parkir tak beraturan. Tukang parkir hanya muncul saat pengendara mau pergi, tidak pada saat parkirnya. Bang Zamy sigap memegang tangan Nisa di tengah keramaian, namun dia tidak melupakanku. Aku dibiarkannya berjalan di depan. Sesekali dipegangnya jariku atau lenganku.
"Kita cari lemang tape ya sayang." Bang Zamy bicara padaku. Aku hanya mengangguk. Dari musim ke musim makanan yang terbuat dari beras ketan, bumbu bawang dan santan kelapa, dipanggang dalam bambu dengan dilapisi daun pisang menjadi menu andalannya ketika berbuka. Selain lemang bang Zamy sangat menyukai martabak kari India.
"Buk lemangnya berapa sebatang?" Aku bertanya ketika sampai ke penjual lemang.
"Dua puluh lima ribu pak. Eh bapak penganten baru ya? Biasanya pengantin baru aoalnya masih ada inai inai begitu...." Penjual yang sudah berumur kisaran tujuh puluh tahunan itu menjawab sekalian bertanya ketika melihat inai di kedua tangan kami. Beberapa pengunjung pasar ramadhan pinggir jalan ini pun banyak yang memperhatikan kami. Mungkin karena masih nampak inai di kedua telapak tangan dan jari kami. Beberapa orang yang mengenal langsung menyapa ramah.
"Iya, tunggu ya, eh pengantin baru kan?" Ibuknya penasaran.
"Iya buk." Bang Zamy menjawab singkat. Dia menatapku, tersenyum kecil.
"Ini adiknya? Adiknya cantik sekali ya...." Ibu itu masih bicara sambil memotong kedua pinggir bambu dengan lincahnya.
"Kemenakan buk." Aku yang menjawab.
"Owh ya kemenakan. Pantes mirip sekali cewek berdua. Eh ini lemangnya dua, tapai ketannya mau berapa bungkus?" Ibu penjualnya bertanya lagi.
"Samaan." Bang Zamy menjawab. Nenek itu kemudian membungkus dua batang lemang yang sudah dipotong dengan dua bungkus tape beras ketan, kemudian dikemas dalam kotak makanan. Setelah selesai membayar kami mencari menu yang lain. Nisa benar-benar membeli jajanan yang agak banyak. Kuturuti saja keinginannya mengingat dulu dia jarang mendapatkan makanan yang banyak dan enak. Nanti jika sudah besar dia pasti berubah.
__ADS_1
"Nisaaa.... Nisa yaaa....? Annisa anaknya Nindya dan Rio ya....?" Tiba-tiba saat kami sedang menunggu pecel ulek, datang seorang wanita paruh baya mendekati.
"Nisa sudah besar sekarang ya nak. Ini buat jajan." Wanita itu memberikan uang dua puluh ribu rupiah. Namun Nisa bengong menatapku dan bang Zamy bergantian. Karena Nisa sedikitpun tak bergeming untuk mengambil uangnya, wanita itu menyelipkan ke saku depan gaun yang dipakai gadis cantik itu.
"Kamu tidak mengenali nenek? Kamu masih kecil saat itu. Dan nenek tidak pernah bisa menemui kamu. Ibumu tidak membolehkan terus." Ibu itu bicara dengan keramahan yang dalam pandanganku 'terlalu dipaksakan'.
"Maaf bu, ibu siapa?" Aku berjongkok memeluk Nisa. Kepalanya menyentuh daguku.
"Eh iya ini pasti dokter Naura dan ini dokter Zamy pemilik Klinik Honey Bee ya? Saya ibunya Rio, neneknya Nisa." Wanita itu seperti mau bersalaman dengan bang Zamy. Bang Zamy menangkupkan kedua telapak tangan.
"Maaf bu, musim virus."
"Eh iya.
"Nisa kapan main ke rumah nenek cu?" Wanita itu kembali beramah tamah lagi. Aku dan bang Zamy berpandangan. Pecel ulek pun sudah selesai. Bang Zamy membayarnya.
"Maaf bu, permisi ya kami mau pulang." Aku menggenggam tangan Nisa yang masih berjalan sambil melihat ke arah wanita tua tadi.
"Eh sebentar dokter. Apa benar Nindy itu anak kandungnya pak Ram, direktur rumah sakit umum?" Wanita yang tidak kuletahui nama ya itu berjalan cepat menyusul.
"Kurang tahu bu. Ibu tanyakan ke direkturnya saja." Bang Zamy mulai kurang suka, dia menggenggam tangan kananku dan mengambil alih memegang Annisa. Kami berlalu menuju mobil mengabaikan wanita yang sok akrab barusan. Ada banyak modus kejahatan di zaman sekarang ini.
"Siapa om, tante? Nenek itu tadi siapa?" Nisa bertanya dengan raut kebingungan.
"Mungkin orang salah mengenali kamu sayang." Aku menjawab. Kami kembali ke mobil. Namun saat sudah duduk di dalam mobil, aku sepintas melihat Irwan berbicara dengan wanita yang sok akrab tadi itu. Rasanya tidak mungkin, seharusnya dia berada di penjara, lantas aku turun segera dari mobil, namun tidak ada lagi melihat laki-laki itu. Apa iya dia begitu mirip? Aku membatin.
"Sepertinya adek melihat Irwan tadi." Aku menjelaskan kepada bang Zamy yang keheranan melihatku mendadak turun dari mobil.
"Mungkin adek salah lihat." Bang Zamy bicara menenangkanku.
__ADS_1
"Mungkin saja bang." Aku kembali duduk. Diotakku masih terbayang kilas wajah laki-laki yang mirip sekali dengan Irwan. Aku mencoba menepisnya. Namun bayangan itu muncul berkali-kali. Kemudian masih dengan kebingunganku, akhirnya kami pulang membawa takjil puasa pertama kami. Annisa mulai bersenandung riang. Dia memegang agar-agar cantik dengan karakter ikan dan kura-kura. Aku dan bang Zamy ikut merasakan kebahagiaannya.