Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 97 Sempurna (Tidak)


__ADS_3

Sabtu pagi, pukul 05.50 WIB


Kami sudah berada di tepian pantai Pasir Padi Pangkalpinang. Ayah, Ibu, Aku, Bang Zamy, Mbak Nindya, Bang Fathur, Elza beserta Nisa. Papa dan Tante Mira pun turut serta.


Dua lembar tikar lebar karakter berbusa tipis sudah dibentangkan. Acara yang sangat disukai ibu. Kami bakar-bakar ikan jebung, ikan singkur, cumi-cumi dan ayam yang sudah diungkep presto yuk Mairoh sore kemarin, ayam kampung jantan dua ekor. Tante Mira sudah mengeluarkan termos penghangat nasi beserta piring-piring plastik tupperware. Ibu pun mulai mengeluarkan sambal terasi dan sambal kecap cabe rawit jeruk kunci, ada pula lalapan mentimun, rebusan terong bulat hijau dan ungu, rebus jantung pisang kepok, rebus pucuk daun ubi, rebus labu siam dan rebusan nangka muda. Kesemuanya siap dipadukan dengan olahan rusip dari Toboali. Rusip makanan khas orang Bangka terbuat dari permentasi ikan bilis yang sangat digandrungi keluargaku. Ayah dan Papa pun sudah membuat api dari arang yang dibeli Bang Fathur semalam.


Tak lama kemudian sudah nampak berjejer ikan di atas panggangan. Baunya yang terbawa angin mulai mengharum di sekitar bibir pantai.


Selang beberapa menit kemudian, cuaca yang cerah semakin mencipta nuansa yang terang. Matahari dari ufuk Timur sudah pula menampakkan sinarnya yang kuning kemerahan. Burung-burung camar meliuk-liuk terbang di atas permukaan air laut. Sementara angin laut pun bertiup kencang menyapa wajah-wajah bahagia kami menikmati kebersamaan di hari libur. Asap dari arang ditambah sabut kelapa yang disiapkan tante Mira mengepul berganti-ganti arah, menari-nari indah mengikuti arah angin. Asap yang kadang-kadang membuat mata kami perih dan memerah. Sementara di jalan, beberapa orang mulai nampak beraktivitas, ada yang jogging, jalan santai dengan menggerak-gerakkan anggota badan, ada yang bersepatu beroda, dan ada banyak pula yang bersepeda ria. Kadang ada yang lewat sendirian, namun lebih banyak yang bersama teman dan keluarga. Separuh dari mereka menegur dan bersapa dengan anggukan kepala dan senyuman kepada kami yang berteduh di bawah lambaian dedauan pohon ketapang berumur puluhan tahun.


"Abang mandi dulu sebentar ya sayang...." Bang Zamy meletakkan dua bantal yang baru diambilnya dari mobil untuk menggalang pinggangku duduk di batang ketapang yang lebar. Dia meletakkan handphonenya di pahaku yang mulai berselonjor. Kuambil dan kumasukkan ke dalam tas ransel berisi baju gantinya dan handuk yang kutindih dengan lutut kiriku.


"Apa tidak dingin mandi laut jam segini?" Ibu bertanya menyertai anggukan kepalaku.


"Tidak bu, kalau sudah di dalam air mantap rasanya, menyegarkan." Bang Zamy menjawab sambil mendekati Bang Fathur yang sudah menunggunya. Keduanya pun berjalan menuju laut sekitar seratus meter dari arah kami duduk. Mereka hanya mengenakan singlet dan celana pendek saja.


"Ayah sama Papa apa tidak ikut mandi?" Aku iseng bertanya melihat ke arah keduanya mengipas-ngipas arang.


"Mandi dong, tapi nunggu sudah selesai makan." Papa menjawab.


"Ayah juga mandi, tetapi menunggu agak siang sedikit lagilah." Ayah menjawab sambil mengangkat beberapa ekor ikan yang sudah menghitam bagian sisik luarnya, mateng dan siap dicocol dengan sambel kecap.


"Kalau ayahmu mandi sekarang, bisa-bisa rontok semua giginya nak." Ibu ikut menjawab.


"Kok bisa rontok nek?" Nisa menatap ibu, dia bertanya dengan serius dan sudah membayangkan ayah tertawa dengan gigi yang sudah rontok, ompong, senyumnya menyeringai sambil kembali menatap ayah.


"Iya rontok cu, sudah tua tidak kuat terkena air di dingin, tidak seperti Nisa, giginya masih okeee...." Ibu menjawab dengan mata mengerling kepada ayah. Kami, terutama ayah, semua hanya tersenyum mendengar jawaban ibu. Nisa pun ikut tersenyum meski tak utuh memahami candaan ibu.


*****


Dari tempat dudukku selonjoran, aku sesekali menatap kedua laki-laki kesayangan yang sedang mandi. Andai saja ditambah Bang Rahman, pasti akan lebih seru lagi.


"Nisa ayamnya mau bagian paha apa sayap? Sudah mateng nih." Ayah nampak sudah mengangkat beberapa potong ayam bakar madu mentega ke dalam piring beralas daun pisang.


"Mau pahanya yang besar, yang sebelah kanan kek." Nisa menjawab sambil mendekat. Kami kembali terkekeh.


"Heeemmm..., yang kanan mana ya pahanya? Kenapa meski yang kanan sih cu?" Ayah berbalik dan menatap Nisa dengan senyum lucu. Dia bertatapan dengan Papa, lalu keduanya tersenyum sembari menggelengkan kepala.


"Kata tante Naura, paha ayam sebelah kanan lebih besar kek." Nisa menjawab dengan lugunya. Sepintas bayangan saat aku memberikannya ayam goreng, dulu sekali, saat baru-baru mengenal dan mengetahui kisah hidupnya. Kuberikan Nisa sepotong paha ayam besar.


"Besar sekali tante...,"


"Iya itu paha ayam sebelah kanan." Dulu aku menjawab begitu.

__ADS_1


"Yang kiri lebih kecil ya tante Dokter?"


"Iya." Aku tersenyum mengingat slide masa lalu bersama gadis kecil itu. Ingatannya sangat tajam. Apa yang pernah kukatakan masih terekam rapi di memorinya. Beruntung, kami selalu memberikan yang terbaik untuk keponakanku yang cantik ini. Jadi tidak ada hal buruk yang akan mengganggu perkembangan otaknya.


Nisa membawa dua potong paha ayam ke dekatku. Mbak Nindya hanya diam dari tadi. Dia nampak masih terdampak Morning Sickness, namun berusaha menahannya karena tidak nyaman dengan keberadaan Ayah dan Papa. Elza menuang es kelapa yang sudah disimpan mbak Nindya di kulkas semalam ke dalam cangkir beling putih besar bergagang. Dia selipkan pula pipet di atasnya beserta sendok. Ibu dan tante Mira duduk berselonjor pula di depanku. Ada banyak hal menjadi obrolan mereka yang saling panggil dengan kata besan. Langit semakin cerah, sebuah pesawat nampak jelas di udara. Lion Air rute Pangkalpinang-Belitung, penerbangan pertama.


"Yoh San kapan kita rencanakan ke Belitung rame-rame begini, pasti menyenangkan." Ibu mengalihkan topik pembicaraan karena melihat pesawat yang sedang melintas.


"Boleh Besan, tapi kemungkinan besar belum bisa tahun ini bahkan tahun depan. Ini keduanya lagi nunggu-nunggu mau meletus." Tante Mira menunjukku dan Mbak Nindya dengan bibirnya. Kami hanya tersenyum berpandangan. Ayah dan Papa nampak semakin kompak bakar-bakarnya, sementara anak dan menantu mereka, malah asyik mandi. Aku dan Nisa? Diam-diam sambil menikmati kebersamaan, kami sudah menghabiskan tiga potong ayam bakar. Aku dua potong, dan Nisa dengan potongan paha kanannya.


*****


Bang Zamy dan Bang Fathur berlarian dari arah tengah laut. Mereka sudah kedinginan, mata keduanya nampak memerah, kulit pucat dan bibir kebiruan dengan kulit di jari-jari kaki dan tangan mengeriput. Sesampainya di dekat kami keduanya langsung meminta handuk. Lalu dengan gesit mengangkat masing-masing satu galon air untuk bilas di tempat yang tidak jauh dari kami duduk.


"Aaaa..., dingin sekali..., Ayah sama Papa tidak mandi?" Bang Zamy bertanya sambil duduk menggelepok di sebelahku. Dia mencium pipi kananku sejenak. Sementara bang Fathur langsung mendekat ke arah api panggangan, menghangatkan badan di sana.


"Melihat kalian berdua kedinginan saja gigi ayah mau rontok...." Ayah menjawab. Ibu seketika tertawa ngakak sambil melemparkan satu cangkir plastik ke arah ayah. Ayah menangkapnya dan meletakkan kembali cangkir itu ke atas tikar. Bang Zamy hanya mengangkat alis mendengar jawaban ayah. Sementara kami ikut tertawa melanjutkan guyon perkara gigi rontok.


"Makanlah nak, kalian kedinginan begini, pasti lahap makannya. Zam, Thur, ini nak mumpung nasinya masih hangat." Ibu mengajak dua anak laki-lakinya yang kedinginan untuk mulai makan.


"Za, Nindy, San besan, Besan lanang juga, ayo kita makan, lagian panggangan sudah selesai tinggal yang di atas itu saja. Ayo Yah, Naura nak sini, yuk kita makan Nisaaa.., sini Cu, mendekat kita makan." Ibu mengajak makan kami semuanya. Lalu kami pun bergerak mengikuti ajakan ibu.


"Lha tulang ayam yang di piring ini bekas siapa numpuk begini?" Bang Zamy bertanya heran ketika melihat aku meletakkan piring berisi tulang ayam ke ember lebar berwarna hijau. Matanya menggoda dan mencurigaiku. Aku hanya tersenyum.


"Kapan? Bukankah tadi tidak ada kucing nek? Itu bukan bekas kucing, tapi bekas Nisa dan tante Naura yang makan. Masa nenek lupa?" Gadis kecil yang lugu itu menjawab dan bertanya heran. Bang Zamy mengucek-ngucek rambut gadis cantik yang belum mengerti kalimat-kalimat kiasan.


"Hemz..., jadi Nisa sama tante Naura ya yang makan?"


"Iya om."


"Waw banyak juga ya." Bang Zamy berdecak-decak yang membuat Nisa tersipu malu. Kami akhirnya tertawa lagi. Lalu menikmati makanan dan keakraban keluarga. Sesekali Bang Zamy memberikan bagian daging ayam atau bagian berwarna coklat seperti hati dari ikan singkur. Dia menyuapkan langsung kepadaku. Tidak pernah berubah dari dulu, meski di rumah hanya kami berdua yang makan, dia selalu, sesekali akan menyuapiku dengan tangannya. Perasaanku? Tentu aku sangat bahagia diperlakukan seperti itu.


*****


Pukul 11.06 WIB, matahari semakin tinggi, panas serasa mengigit kulit. Setelah berkali-kali menggeser tikar tempat duduk, mengikuti alur yang teduh. Kami akhirnya berkemas pulang setelah sebelumnya asyik berkali-kali berfoto bersama. Bang Fathur dan Mbak Nindya berkali-kali pula selfie. Begitu juga aku dan Bang Zamy, nampak fotoku banyak menghiasi memori handphonenya. Dan Elza? Dia gerak cepat. Foto-foto kami bersamanya sudah sukses diuploadnya ke story whatapp dan di facebook sudah banyak pula yang mengomentari foto-foto yang diuploadnya. Dia nampak ikut berbahagia.


*****


Setelah puas menikmati acara di pantai itu, kami pun pulang. Namun ada yang berbeda kurasakan saat di perjalanan. Perutku mulai mules berat, namun karena ritmenya sesaat maka tidak kuberi tahu langsung ke siapapun karena mulesnya pun hanya satu kali saja terjadi.


"Jadi setelah mengantar kami, dirimu akan langsung ke kantor Zam?" Ibu bertanya kepada Bang Zamy yang sedang menyetir. Ayah sudah menyandarkan kepala dan nampak akan segera terlelap di sebelahnya.


"Iya bu, sebentar saja, kalau sudah selesai urusan, Zamy langsung pulang kok." Bang Zamy menjawab santai sambil menatap kami dari spion tengah mobil.

__ADS_1


"Katamu sudah mulai cuti? Kok masih saja disibukkan begitu? Bukannya ada pe el te nya?" Ibu mewakili suara hatiku bertanya.


"Iya mulai Senin lusa Abang cuti, hanya dikasih lima hari oleh jajaran direksi. Ini kata Faisal masalah mendadak." masih dengan nada santai Bang Zamy menjawab. Ibu diam saja mendengarkan, begitu pun dengan aku dan Elza yang duduk di sebelah kiriku. Tinggallah yang terdengar jelas hanya suara dengkuran ayah yang mulai teratur.


*****


Aku merebahkan diri di atas kasur dengan AC yang menyala. Selesai sholat Zhuhur tadi kembali mules pendek itu hadir, namun lagi-lagi aku tidak memberitahu Bang Zamy yang sudah berpamitan keluar sebelum masuk waktu Zhuhur. Aku pun merasa belum perlu menginformasikan ke ibu dan ayah perihal itu. Dan melanjutkan istirahat di dalam kamar. Kemudian setelah sejenak bermain handphone sambil berbaring, akhirnya aku pun tertidur pulas.


Begitu terbangun aku melihat waktu sudah jam setengah lima sore. Dalam hatiku bergumam, pastilah Bang Zamy sudah berada di klinik, dia pulang dan bersiap tanpa membangunkanku yang sedang tertidur pulas. Kubaca pula pesan whatapp ibu yang mengatakan sedang pergi dengan ayah ke Pizza Hut yang baru buka cabang di Gedung Hamidah Opas Indah Pangkalpinang. Aku menggeliat beberapa kali kemudian keluar kamar dan mendapati Yuk Mairoh dan Elza yang sedang mengobrol sambil masak di dapur.


"Ibu belum pulang?" Aku bertanya kepada keduanya yang menjawab serentak.


"Baru juga perginya."


"Hah?" Aku hanya sekedar membaca saja pesan ibu, tanpa melihat waktunya.


"Iya tadinya kata Mak Wo mau nunggu kakak bangun, eh tidak bangun-bangun." Elza menjelaskan sambil tersenyum. Tangannya dengan cekatan memindahkan tumis kecambah tahu telur puyuh dari kuali ke piring. Aku hanya mengangkat bahu mendengarnya. Sejenak aku duduk minum air putih dan makan setengah jeruk medan, lalu kembali ke kamar dan mandi. Selesai mandi aku kembali menemui Elza yang sedang menonton tivi di ruang keluarga sebelah dapur. Yuk Mairoh sudah pulang ke rumahnya.


"Abangmu (Bang Zamy) tadi berangkat ke klinik jam berapa?" Aku bertanya sambil ikut duduk di sebelahnya Elza.


"Abang belum pulang dari tadi kak." Dia menjawab cepat.


"Mak Wo juga heran tadi, waktu ditelpon handphonenya Bang Zamy juga mati." Elza melanjutkan. Aku mengerutkan kening, seketika jantungku berdetak hebat. Tidak! Seharusnya dia sudah pulang. Aku kembali ke kamar dan mengambil handphone. Kucoba menghubungi Bang Zamy. Benar saja, tak sekalipun tersambung, cobalah beberapa saat lagi. Hanya suara operator yang terdengar berulang-ulang menjawab. Aku mulai khawatir. Sementara perutku mendadak mulai mules luar biasa, sejenak berhenti, dan hadir lagi lebih lama, kemudian berhenti lagi.


Kulihat di panggilan tidak terjawab, tiga kali nomor perawat yang yang membantu Bang Zamy di klinik Honey Bee menelpon. Mak Yang dan Santi juga masuk daftar panggilan tak terjawab. Aku sangat khawatir, aku yakin sekali Bang Zamy pasti belum datang ke klinik. Sementara perutku kembali merasakan mules berat. Lalu kucoba menghubungi orang-orang kepercayaan Bang Zamy di kantornya, tidak ada yang tahu keberadaan Bang Zamy sekarang, kata mereka Bang Zamy sudah lama pulang dari rumah sakitnya. Aku mulai menitikkan air mata disela-sela mulesnya perutku yang semakin sering dan lama ritmenya.


"Dedeeekkk..., bantu mamimu tenang ya nak sayang..., Papimu sebentar lagi pulang." Aku mengajak ngobrol dan mengelus-elus perutku yang bergejolak dengan tangan kiri. Sementara tangan kananku menunggu jawaban ibu, aku butuh ibu dan ayah saat ini. Namun tidak sekalipun ibu menjawab panggilan telponku.


"Kak? Kakak menelpon Mak Wo? Handphone Mak Wo ada di Elza, tadi Mak Wo minta bawakan ke Pujako buat ganti anti goresnya, Hape Mak Wo tadi jatuh dan terinjak tak sengaja oleh Pak Wo." Elza tiba-tiba nongol di pintu kamarku dengan handphone ibu di tangan kanannya. Aku lemas mendengar penjelasannya. Mengapa bisa rusak dan tidak membawa handphone disaat aku membutuhkanmu ibu. Air mataku kembali jatuh. Elza meletakkan handphone ibu di kasur dekatku duduk. Lalu dia pergi.


Aku tak kehilangan akal, segera kualihkan panggilan ke ayah. Namun nada deringnya dengan lagu Kupuja-puja miliknya Ipank itu malah terdengar di ruang tamu depan yang bersebelahan dengan kamarku. Aku keluar dan melihat handphone ayah menyambung ke charger dan tercolok di kontak listrik. Ayah tidak membawa handphone.


Aku terduduk lemas di sofa kamar dan memandangi handphoneku yang canggih, namun tak berarti sama sekali saat ini. Aku menutup pintu kamar dan mulai terisak perlahan. Namun, sesaat kemudian aku membuka kembali handphoneku dan melihat ada dua puluh lebih pesan gambar melalui whatapp dari nomor yang tidak dikenal. Tanganku bergerak cepat membukanya. Namun, seketika darahku terkesiap, jantungku berdegup-degup tak menentu, mulesku semakin menjadi dan lebih panjang, sakitnya seakan mau meremukkan sekujur badan. Batinku berbisik lirih ke hati terdalam yang sedang bersedih.


Ini bukan editan, tetapi ini tidak mungkin Bang Zamy yang sangat kukenal. Tidak mungkin Bang Zamy yang begitu mencintai dan menyayangiku akan begini. Aku yakin ini tidak benar-benar terjadi kepadaku dan Bang Zamy, tidak mungkin di saat aku hampir menyambut kelahiran anak pertama yang kami tunggu-tunggu. Ini pasti bukan Bang Zamy asli, ini pasti bukan suamiku. Perutku kembali mules panjang dan sakit yang luar biasa. Namun bukan karena mules itu, tiba-tiba saja, aku merasakan badanku lemah tak berdaya. Pendengaranku pun mulai terasa samar.


"Buk!" Aku masih sempat mendengar suara handphoneku terjatuh ke sofa dan suara Elza berteriak.


"Kak Naura! Kakak kenapa?"


Mataku menjadi berat, kucoba membukanya namun tak kuat lagi. Bahkan untuk menopang leher pun aku tak kuasa. Kepalaku terkulai ke kiri dan mengenai kepala ikat pinggang yang terletak di sandaran sofa di celana jeans Bang Zamy. Dan aku? Aku bahkan tak mampu merasakan rasa sakit lagi.


***bersambung****

__ADS_1


__ADS_2