Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 83 Sedikit Cemburu


__ADS_3

Pukul 15.30 WIB, di hari ulang tahunnya yang ke 35 tahun.


Sehabis potong kue dan menikmati sajian makanan berupa tekwan dan es buah yang disiapkan rekan-rekan kantornya, bang Zamy kembali bekerja seperti biasa. Dia masih menyelesaikan semua tugas pokok dan fungsinya sebagai Wakil Direktur Rumah Sakit Timah. Membaca draf-draf SK yang harus dia tandatangani. Dia berkonsentrasi dengan semua dokumen yang menumpuk di meja kerjanya. Hingga tidak terasa jam istirahat pun tiba. Dia yang biasanya makan siang di kantin, namun kali ini dia ingin mencari nasi ke warung nasi Padang. Dan tanpa membereskan dulu mejanya yang banyak berkas, dia keluar hanya membawa handphone dan kunci mobil.


"Bu Indri! Saya mau makan siang dulu ya." Dia beroamitan dengan sekretaris lamanya berbody bongsor yang sudah selesai cuti.


"Oke Dok. Hati-hati...." Bu Indri melambaikan jemari kanannya yang besar-besar sambil tersenyum. Di tangan kirinya dia memegang sebuah sisir berwarna orange. Dia berdandan mungkin juga akan keluar makan siang.


Bang Zamy dengan langkahnya yang panjang menuju ke arah parkiran mobil. Di koridor bawah, persis di sebelah parkiran dan kantin dia bertemu dengan Dokter Jo.


"Dok makan siang dulu...," Dengan ramah bang Zamy menyapa. Dokter Jo tersenyum ramah pula.


"Silahkan Dok, hati-hati ya...." Dokter Jo bicara sambil meletakkan kedua tangan dalam saku jas putihnya.


"Ayo kita makan sama-sama ke resto Siang Malam pak Jo, saya yang traktir lho...." Bang Zamy menawarkan dengan senyum manisnya.


"Owh, tidak usah Dok, saya tadi sarapan nasi, jadi masih belum lapar sampai sekarang." Dokter Jo menolak sambil melambaikan telapak tangan kanannya.


"Baiklah kalau begitu, permisi ya Dok." Bang Zamy berlalu. Dia mendekati mobilnya dan mulai mengeluarkan kunci mobil, menekan remot dan masuk ke kursi kemudi. Tiba-tiba ada telpon masuk.


"Iya sayang, kamu dimana? Sudah makan belum?" Bang Zamy menjawab telpon dariku.


"Adek di parkiran kantormu juga, sudah setengah jam lalu menunggu."


"Hah? Kamu di sebelah mana Bee?" Bang Zamy turun dari mobil dan mencabut kuncinya."


"Ini..., lihat ke belakang kiri, adek parkir dekat bawa pohon akasia...." Aku menjawab. Kulihay dia menutup pintu dan menguncinya.


"Kenapa tidak masuk atau telpon saja? Kan abang bisa keluar lebih cepat." Dia tersenyum menunduk menatapku setelah membuka pintu sebelah kemudi.


"Adek tidak mau mengganggu hari kerja dengan status barumu pak Direktur." Aku mengerling manja kepadanya. Dia mencubit pipi kiriku sambil mendecakkan mulut seolah memberikan sebuah kecupan. Aku memundurkan kursi dan keluar dengan sedikit tertatih menahan perut yang sudah benar-benar membesar.


"Kan sudah susah itu duduknya. Kenapa tidak mau sama sopir pribadi sih." Dia menuntunku menuju kursi di sebelah kiri. Ketika aku menunduk dia memegang bagian kepalaku agar tidak membentur bagian atas mobil. Dia menutup pintu dan berjalan ke kursi kemudinya. Dengan kasih sayang dia memegang perut dan tanganku.

__ADS_1


"Kita mau kemana sayang?" Bang Zamy menatapku dengan matanya yang sangat meneduhkan.


"Adek tadi kepikiran pecel yang pedes dekat kampus Pertiba. Dan maunya makan sama kamu." Aku menjawab.


"Oke, kebetulan abang juga sudah lama tidak makan nasi sama soto kaki sapi di sana. Yuuukkk gooo...." Dia mengelus belakang kepalaku sebelum menjalankan mobil. Kami pergi untuk makan pecel di jalan dekat Pertiba.


"Dapat kejutan apa di kantor selain dapat SK sayang." Aku bertanya di perjalanan.


"Belum tahu, tetapi memang ada beberapa kado di ruang kerja abang pemberian mereka." Bang Zamy mengemudi dengan santai menelusuri jalanan yang lengang.


"Bagaimana kabar dedek bayinya Papi? Berapa kali dia bergerak sampai siang ini?"


"Adek lupa menghitungnya..., hehe. Tetapi dia sudah sering kuat menendang-nendang. Ini juga lagi bergeliat sayang, lihatah." Aku memegang tangan kiri bang Zamy dan menuntunnya ke perutku dengan pakaian hamil. Bang Zamy menatap sesaat ke perutku yang bergerak-gerak dari dalam. Ada sedikit geli kurasakan.


"Dia ikut senang karena Papinya hari ini dapat SK jadi Direktur Utama. Sehat-sehat nak ya, sebentar lagi ketemu Mami Papiii...." Bang Zamy bicara sambil kembali fokus mengemudi.


*****


Lima belas menit kemudian kami sampai di lesehan yang juga menyediakan menu pecel sayur. Aku memesan seporsi pedas. Bang Zamy pesan nasi ayam goreng dan soto kaki sapi. Sambil menunggu pecel diulek, aku sudah menyomot kerupuk gendar (kulit sapi) yang digantung di tiang dekat kami duduk.


"Di rumah kan buah terus..., ini juga kan sekali-kali abang cereweeettt...." Aku menjawab ngeyel.


"Buah yang sudah abang kupas tadi dibawa nggak ke kantor?" Bang Zamy bertanya lagi. Matanya masih awas menatapku yang merasa enak terus makan segala jenis makanan.


"Dibawa dong, sudah habis bahkan sebelum jam sepuluh pagi." Aku santai menjawab.


"Hah? Se-tupperware besar tadi habis sekali makan?"


"Kan abang suruh banyak makan buah."


"Hemmmzzz..., iyalah." Bang Zamy tertawa kecil lalu meletakkan wajah ke meja menimpa kedua lengannya. Dia menggeleng-geleng lagi.


"Istriku selalu benaaarrr...." Dia kembali duduk sempurna.

__ADS_1


Makanan pesanan pun datang. Kami mulai menyantap dengan lahap. Sebentar saja pecal di piringku ludes tak bersisa, hanya tertinggal sisa-sisa kacang yang menempel. Aku mulai bergerilya mencicipi menu suami kesayangan, dan rasanya tidak puas jika hanya menumpang nyicip. Aku pun ikut pesan juga ayam goreng dan soto kaki sapi lengkap dengan lontongnya. Suami tercinta hanya memandangku dengan senyum. Dia menggeleng-geleng lucu.


"Sayaaangg, katanya lahiran nggak mau SC, kalau makannya kebanyakan nanti babynya kegedean lho...." Bang Zamy pelan sekali bicaranya sambil menyendok kuah soto.


"Mbaaakkk..., sotonya nggak usah pakai lontong ya." Aku langsung berteriak ke mbak penjualnya.


"Iya bu Dokter." Mbak Iin menjawab. Tak lama kemudian dia membawa pesananku. Aku mulai dengan ronde kedua. Sementara aku lahap makan, bang Zamy menatap ke arah trotoar dengan sangat serius.


"Kenapa sayang?"


"Sepertinya itu Ayu." Dia menjawab dan mengalihkan pandangan, kembali menatapku yang bahkan hampir menghabiskan sepotong ayam yang besar tadi. Matanya terbeliak dengan mulut menganga.


"Serius? Ayamnya perasaan baru ditaro deh, masa sudah habis dalam sekejap."


"Kamunya yang terlalu fokus asal lihat cewek." Aku menjawab tanpa senyum. Bang Zamy menyengir sedikit. Dia berdiri dan beralih duduk di sebelahku.


"Hai Zaaam. Jauh jugak ye awak makan di sini...." (Hai Zam, jauh juga ya kamu makan di sini). Ayu, wanita cantik dan langsing dengan jilbab modern berlilit-lilit mencekik di leher menyapa bang Zamy. Dia bukan hanya sekedar menyalami bang Zamy saja, tetapi kemudian dia seru sendiri bicara sambil mendorong, menepuk-nepuk bahu bahkan menggelitik suamiku. Meski bang Zamy mencoba menghindar, aku tetap tak nyaman melihatnya.


"Hei Zam, alumni angkatan kite nak reuni eh, mane WA awak biar kumasukke ke grup." (Hai Zam, alumni angkatan kita mau reuni, mana nomor WA mu biar saya masukkan ke grup.) Ayu langsung membuka handphonenya dan mengetikkan nomor yang disebutkan bang Zamy. Aku sejenak melirik tangannya yang hitam legam, sementara wajahny putih bersih, cantik sekali dipadukan makeup tingkat tinggi.


"Mbak berape gale e? Kami lah udeh, Naura makan due ikok kerupuk ok." Aku sengaja mengeraskan suaraku kepada mbak Iin, melihat tingkah Ayu yang keseringan menepuk, mencubit bang Zamy membuat hatiku semkain tidak nyaman. Ada rasa gelisah di hati.


"Sembilan tujuh mbak sama minuman." Mbak Iin bicara mendekatiku. Aku segera memberikan uang selembar seratus ribu dan menarik tiga kampil kerupuk seharga seribuan. Bang Zamy melihat gelagatku karena secara terang-terangan aku memperlihatkan tanda-tanda perang dunia ke-empat akan terjadi kalau berlama-lama.di sana.


"Cepat ge Zam lah nak pulang ok ikak? Padahal agik banyek kisah nak kupadeh kek ki." (Cepat sekali Zam, sudah mau pulang ya kalian? Padahal masih banyak cerita yang mau kusampaikan kepadamu.) Ayu bertanya sambil mengiringi kami turun dari papan lesehan itu.


"Aok Yu, orang rumahku nak cepet gi kumah sakit agik." (Iya Yu, istriku mau cepat pergi ke rumah sakit lagi.) Bang Zamy menjawab. Dia memencet remote karena melihatku sudah menunggu dekat pintu mobil.


"Aokla pon e, jangen dek telalu ok dateng di reuni e. Seru nya." (Okelah kalau begitu, jangan tidak jadi ya datang di reuninya. Seru lho.) Ayu masih bicara bahkan saat bang Zamy sudah menghidupkan mesin mobil. Dia melambai-lambaikan tangan ke arah bang Zamy, dan dari datang tidak sekalipun dia menegurku. Tidak sepertiku, aku kalau bertemu dengan teman laki-laki bersama istrinya, aku pasti akan menegur dan mengajak beramah tamah juga istrinya. Bukan malah asyik sendiri dan mengganggu suasana saja. Bang Zamy tidak bicara, dia melihat mulutku sudah terkunci rapat.


"Maaf." Hanya itu yang keluar dari bibirnya sambil mengangkat bahu. Aku tidak menjawab karena masih ada sisa kesal dan cemburu di dalam hati.


*****

__ADS_1


(bersambung)


__ADS_2