Dokter Naura

Dokter Naura
Bab 9 Pulang


__ADS_3

Aku melihat jam di dinding ruangan praktikku. Waktu menunjukkan pukul 12.30 WIB. Pasien nomor 23 adalah pasien terakhir. Seorang anak berkebutuhan khusus sedang radang tenggorokan disertai pembengkakan gusi.


Aku menyadari, memang tetap ada tambahan pasien malam ini. Walaupun setiap malam aku hanya membatasi menerima 20 orang pasien, tetapi jarang sekali jumlah itu pas. Selalu lebih. Menurut perawat yang menjadi asistenku bagian pendaftaran, pasien-pasien nomor 21 ke atas itu, mereka memohon agar berobat malam ini dengan alasan yang tentu saja tidak bisa kami tolak.


Sehabis minum air mineral di mejaku, aku tidak bicara banyak, tetapi hanya bicara seperlunya saja kepada dua perawat yang membantuku. Kemudian aku mengambil hoodie dan bergegas ingin segera pulang. Namun aku tidak menemukan dimana letak kunci mobilku. Biasanya di laci meja kerjaku. Dan tersadar rupanya aku lupa mengambilnya dari bang Zamy. Aku segera menuju ruang praktiknya yang hanya dibatasi lorong ruang tunggu sekitar 4 meter.


"Dokternya masih ada?" Aku bertanya kepada perawat asistennya yang laki-laki. Dia baru saja keluar dari ruang praktik bang Zamy.


"Masih dok, beliau sudah lama menunggu dokter." Dia menjawab sambil mengangguk santun.


"Menungguku?" Bisikku dalam hati.


"Tok tok tok....!" Aku mengetuk pintu ruang praktik bang Zamy.


"Masuklah Bee...," Sahutnya dari dalam. Kulihat dia masih duduk di kursi kerja sambil melihat hape yang digenggam dengan kedua tangannya. Kulihat kunci mobilku yang bergantung dompet LV kecil dan boneka onta ada di sebelah kanannya duduk.


"Bang kunci mo...."


"Sudah selesai? Pasiennya habis ya? Ayo kita pulang." Bang Zamy langsung memotong. Dia menyodorkan sebuah keranjang berisi aneka makanan.


"Bawalah dik, tadi ada istri pak wawako mengantar menantunya yang habis melahirkan minggu kemarin kontrol jahitan." Begitu bang Zamy bicara sambil menyodorkan parcelnya. Aku tak bisa menolak lagi. Abangku yang satu ini paling sering mendapat parcel dari pasiennya. Dan biasanya selalu parcel-parcel itu diberikan untuk kubawa pulang ke rumah di Jalan Baru. Atau dibagi-bagi dengan para perawat dan apoteker di klinik.


"Berat banget sih bang, banyak sekali dia nyogok abang." Aku ngomel-ngomel karena keadaan parcel yang tak seimbang. Kulirik isinya. Aneka kurma beberapa kotak, kismis, varian coklat, Minuman botol yang mulai heboh di tivi menjelang puasa, dan lainnya.


"Bang mana kunci mobil Naura?" Aku bertanya lagi.


"Sudah abang pegang." Santai sekali nada bicaranya itu.


"Lha memangnya abang mau pulang kemana?" Aku kembali bertanya.


"Ke rumah Jalan Baru lah. Kan ayah ibu, bang Fathur sama Rahman lagi di sana. Nggak enak abang tidur sendiri di klinik. Ntar mereka berpikir macam-macam lagi.... Lagian besok pagi-pagi sekali abang mau nganter bang Fathur ke bandara...."


"Dia sudah mau pulang?" Aku memotong.


"Iya, dia hanya dipaksa pulang oleh ibu karena mau menjelaskan perihal...." Bang Zamy tiba-tiba menghentikan bicaranya. Ia menoleh ke arahku, lalu kembali dan mengambil parcel di tanganku.


"Sepertinya pascel ini terlalu berat bagimu, ayo abang yang bawa." Bang Zamy membawa parcel yang tadi diberikannya kepadaku. Dia tidak melanjutkan kalimatnya. Hatiku kembali tersentak. Kembali terngiang-ngiang perkataan ibu bahwa aku bukan anak kandung mereka.

__ADS_1


"Bee..., ayooo...." Bang Zamy memanggilku di dekat mobil Alphard hitamku.


"Abang tidak membawa mobil sendiri?" Kulihat mobilnya di garasi klinik masih seperti tadi. Pajero Sport silver metalik itu bertengger gagah tak dipedulikan tuannya.


"Kan tadi numpang mobilmu, balik lagi ya naik mobilmu." Bang Zamy bicara sambil masuk ke dalam mobil. Aku keluar menutup pintu klinik, dan berpamitan kepada mang Ridwan yang sedari tadi mengikuti kami untuk menutup pintu pagar. Beliau sudah 4 tahunan ikut bekerja di klinik sebagai tukang kebersihan merangkap sebagai keamanan. Sedangkan istrinya, bik Narsih, membantu bang Zamy mengurus rumahnya di klinik. Klinik Honey Bee yang awalnya adalah rumah induk warga. Sebuah rumah besar dan 3 rumah kontrakan di belakangnya. Dibeli ayah dan ibu sejak tahun 1998. Di saat ekonomi sedang anjlok. Beruntung orang tuaku punya simpanan.


"Mang Ridwan, Naura pulang ya. Ini buat cemilan." Kuberikan 1 kotak kurma dan 1 kotak coklat yang sempat kukeluarkan saat membawa parcel sebelum diambilalih lagi membawanya oleh bang Zamy.


"Makasih bu dokter, sehat-sehat, panjang umur, murah rejeki, disegerakan jodohnya. Hehe." Mang Ridwan menerima coklat itu sambil berterimakasih. Aku hanya mengangguk. Baru saja aku membuka pintu dan mau masuk ke mobil tiba-tiba saja dikejutkan oleh suara seseorang dari belakang. Aku tidak tahu kapan datangnya.


"Baru mau pulang Nancy?" Irwan sudah berada di belakangku. Sontak membuatku terkejut bukan kepalang. Dia masih mengenakan seragam polisinya.


"Astaghfirullah Wan, ngagetin saja kamu ih...." Aku benar-benar tak mengerti. Seperti hantu saja dia tiba-tiba sudah berada di belakangku tanpa mengeluarkan suara apapun.


"Kamu kok ada di sini?" Aku sedikit curiga melihat gelagat oknum polisi satu ini. Agak aneh pikirku.


"Itu motorku." Dia menunjuk ke pinggir jalan sekitar 5 meter jaraknya dari mobilku.


"Tapi kok aku tidak mendengar suaranya." Aku kembali bertanya.


"Sudah larut pulanglah Wan, Lagian kok bisa sih kamu ada di sini malam-malam begini." Irwan hanya tersenyum.


"Iya pulanglah, abangmu sudah menatapku tanjam lewat spion mobilmu...." Irwan melirik tak senang ke arah bang Zamy.


"Aneh kamu Wan...." Aku menyahut.


"Ngapain aneh. Aku baru saja pulang dari sana." Dia menunjuk ke arah ujung jalan yang akan kami lewati.


"Bilang abangmu nggak usah jalan lurus, mending muter saja mobilnya lewat arah pasar Mambo biar tidak kena semprot cairan disinfektan." Dia menyarankan. Mendengar dia bicara begitu, baru aku menyadari mungkin dia sedang kerja soalnya dari ujung jalan mobilku parkir, kulihat nun jauh di sana sebuah kendaraan taktis water cannon sedang menyemprotkan cairan disinfektan ke jalan.


"Bee masuklah...." Kembali bang Zamy memanggilku.


"Iya iya bang...." Aku tergesa menyahut.


"Ada Irwan lagi kerja tuh di depan, sepertinya lagi ada penyemprotan cairan diinfektan. Tiba-tiba saja dia ada di belakang Naura." Aku melanjutkan. Kulihat Irwan sudah menghidupkan motornya. Suara motor King tua di jam 1 pagi sungguh memekakkan telinga. Dia berlalu memutar balik arah.


"Jangan lagi mengakrabi dia." Bang Zamy menyahut dingin.

__ADS_1


"Kenapa bang? Abang mengenal Irwan?" Aku penasaran. Namun kulihat bang Zamy tidak sedikitpun begeming menjawab. Tanpa kuberitahu, dia langsung memutar mobil dan kami melewati jalan pasar Mambo untuk menghindari area penyemprotan. Jalanan sangat sepi. Biasanya kalau pulang kerja sudah selarut ini memang aku tidak dibiarkan menyetir sendiri. Bang Zamy akan mengantarkanku atau dia suruh mang Ridwan yang nyopir. Nanti balik lagi dengan motorku.


Sesampainya di lampu merah jalan Mentok, keheningan semakin menjadi. Hanya ada satu atau dua kendaran yang melintas. Cuaca masih seperti sore kemarin. Lembab dan dingin. Jarak klinik ke rumahku di Jalan Baru mungkin hanya 2 kilo. Tetapi karena melewati 2 kali lampu merah maka butuh waktu lebih lama untuk segera sampai.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua puluh menit sampailah kami di rumah. Kulihat ibu masih menunggu. Dia membukakan pintu.


"Assalamualaikum bu...." Aku menyalaminya. Ibu mencium keningku.


"Ibu belum tidur?" Bang Zamy menyalami ibu setelah masuh habis parkir mobil."


"Ibu belum mengantuk." Ibu menjawab sambil membopong lenganku.


"Belum mengantuk apa mengkhawatirkan anak gadis?" Bang Zamy berseloroh.


"Dua-duanya lah. Belum mengantuk dan sangat mengkhawatirkan anak gadis ibu."


"Tidak mengkhawatirkan anak bujang?" Bang Zamy masih mengganggu ibu.


"Tak sedikitpun." Ibu menyahut santai. Bang Zamy tertawa renyah lalu pergi meninggalkan kami.


"Kau capek nak? Ibu tidur denganmu ya malam ini." Dia menatapku. Semakin aneh saja ibuku ini.


"Sejak kapan ibu harus izin kalau mau tidur sama Naura." Aku menatap ibu.


"Bukan begitu, maksud ibu...."


"Ibu ke kamar saja dulu, Naura mau ke belakang sebentar." Aku melepas tangan ibu. Bergegas menuju dapur. Kulepaskan semua jilbab, gamis dan tinggalah baju dan celana daleman panjang. Begitu corona menyerang dunia aku memang menjadi ekstra hati-hati. Setiap pulang ke rumah selalu melepaskan semua pakaian luar saat bertugas. Entah pakaian saat dari Rumah sakit Umum ataupun pakaian dari kerja di klinik.


"Pakaiannya langsung taro ke mesin cuci Bee, biar virusnya tidak ada yang tersisa di luar." Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara bang Zamy. Rupanya dia belum masuk kamar, tetapi berganti pakaian juga di sana. Aku langsung mengambil jilbab yang tadi kulepaskan. Lalu berlari menghambur menuju kamar berselimutkan jilbab. Ibu yang sudah berbaring di tempat tidurku terheran-heran.


"Kenapa kau berlari seperti dikejar hantu?" Ibu bertanya.


"Tidak ada apa-apa bu. Hanya terkejut ada cicak besar di ruang makan."


"Owh!"


Aku masuk kamar mandi, membasuh diri dan ingin segera istirahat. Sementara malam semakin menanjak jauh, dan aku baru mau bermimpi.

__ADS_1


__ADS_2