
Angin darat berhembus menerpa wajah-wajah petani tangguh di persawahan dan perkebunan. Tak nampak lelah meski raga tak mampu berbohong. Kerasnya hidup dan keinginan untuk tetap bertahan membuat mereka tetap semangat menantang panasnya sengatan sinar matahari dan dinginnya kulit tergerus derasnya air hujan. Di musim pandemi corona dengan new normalnya pemerintah, masyarakat melakukan segala cara untuk mengimbangi pergerakan ketidakseimbangan perekonomian. Begitupun dengan mbak Nindya, dia yang sebenarnya sangat cerdas, tidak boleh terpuruk karena corona, maka dia tetap semangat bekerja keras di ladang yang lumayan luas.
Baiklah, lupakan soal itu, mari kita lihat bang Fathur dan Annisa sibuk bermain pesawat terbang, mbak Nindya kembali memetik segala jenis tanaman yang bisa dipanen untuk bisa dibawa ke beberapa langganan di pasar pagi dan warung sayur di sepanjang jalan menuju rumahnya.
Beberapa jantung pisang kepok/batu sudah terkumpul. Ini salah satu sayur yang laris manis di wilayah Bangka. Sebuah jantung pisang kepok, biasanya seharga sepuluh sampai tigabelas ribu rupiah, tetapi mbak Nindy menjual ke warung-warung hanya berkisar enam hingga tujuh ribu rupiah saja. Biasanya masyarakat Bangka memasaknya dengan direbus lalu dicecel dengan rusip alias permentasi ikan bilis khas Bangka. Terkadang dilodeh campur pucuk daun katu.
Ubi kayu Thailand sudah empat karung beras isi sepuluh kilo, tebu sudah seratus batang lebih, mentimun sudah setengah karung beras pula. Tomat sisa-sisa panen yang sudah agak kecil juga diangkutnya. Cabe rawit sekitar enam ons juga sudah selesai dipetik. Dan kesemuanya sudah dia masukkan dan susun rapi di atas mobil pickup. Sementara bang Fathur dan Nisa sudah menghilang membawa pancing ke daerah aliran sungai yang berada persis di tanah bagian bawah kebun mbak Nindya.
“Om kita sudah dapat tiga ekor ikan gabus besar. Ibu sering buat pempek pakai ikan ini lho om. Dulu ibu buat sendiri pancingnyaaa....” Nisa berceloteh.
“Wah bisa ya ibunya bikin pancing?” Bang Fathur keheranan.
“Bisalah om, gampang sekali itu, tapi pancingnya tidak seperti punya oom ini. Hanya pakai rautan bambu, kadang ibu luka banyak di tangan gara-gara merautnya, nah di ujung rautan bambunya ibu garis-garis dengan pisau tajam kecil, kata ibu jangan sampai kebablasan, hanya garisan untuk menyangkutkan tali saja, Kemudian dipakaikan tali, dikasih kail, ibu kemudian mencari-cari cacing, sudah itu mancing dan ibu dapat banyak ikan deh.” Annisa berbinar-binar bersemangat menjelaskan. Sementara bang Fathur terpanah membayangkan alur cerita yang disampaikan Annisa barusan.
“Hebat banget ibumu. Mau dong oom punya ibu seperti ibumu….” Bang Fathur bercanda.
“Ah hahahaha…. Oom kan sudah tua, mana bisa punya ibu seperti ibunya Nisa. Paling-paling oom bisa punya istri seperti ibuuu….” Nisa terkakak geli. Bang Fathur mendelikkan matanya saperti orang melotot.
“Jadi istri?”
“Iya.” Nisa menjawab lucu, dia memegang pancing bang Fathur sambil bicara. Katanya mau mencoba pakai pancing yang ada rodanya.
“Dapat lagi om, ditariknya kencang. Pasti ini ikannya besar sekali.” Nisa berteriak.
“Oh itu pasti kakeknya ikan….” Bang Fathur bercanda dan mencoba membantu Nisa menarik pancing.
“Biarin om, Nisa bisa.” Dia bersikukuh mau mencoba sendiri. Bang Fathur mengangkat kedua alisnya tersenyum.
“Oke deh.” Bang Fathur asyik menatap Nisa yang kewalahan. Tangannya sebenarnya gregetan mau mengendalikan gabus yang menarik kailnya itu.
“Sudah nyerah belum? Nanti kakeknya ikan pergi dengan marah lho.” Bang Fathur gatal sudah tangannya mau pegang pancing.
“Bisa om…, iyaaaattt…, dapaaattt….” Nisa kegirangan menarik pancing dengan kuat, namun setelah sampai ke atas, jangankan ikan, tali pancing dan kailnya pun ikut menghilang. Nisa seketika menatap ragu ke bang Fathur. Dia memandang pancing dan bang Fathur bergantian. Matanya seketika memerah menahan tangis, bola mata polosnya seketika berawan, hujan akan turun. Namun bang Fathur tersenyum lebar.
“Kenapa?”
“Pancing oom rusak.”
“Nggak rusak itu, nanti oom bisa pasang lagi tali dan kailnya kok. Tuh lihat! Di dalam tas (serupa tas gitar) itu masih banyak sekali tali dan kail. Jadi Nisa tidak usah khawatir.” Bang Fathur mengangkat Annisa tinggi-tinggi. Tak lama kemudian, saat dia menggensong Annisa, handphone di sakunya berdering, dia melihat sepintas. Mbak Vioni menelpon. Dia biarkan saja tanpa dijawab. Lalu beberapa detik kemudian bunyi pesan whatapp mulai berdentingan.
“Papa dimana? Di rumah Naura ya? Tadi nelpon ibu, oh ya Oyan sakit….” Hatinya bergetar, ingat anaknya yang baru lancar berjalan. Ada rindu teramat dalam kembali hadir menyeruak, dia seketika meneteskan air mata.
“Maafkan Nisa om, Nisa tidak sengaja memutuskan pancing om, om jangan menangis.” Melihat air mata bang Fathur menetes, Annisa menjadi sangat khawatir. Dia pun ikut menangis sambil mengelap air mata bang Fathur.
“Itu bukan menangis sayang, lihatlah ke atas. Itu burung perincit sangat usil, saat oom mendongak dia malah pipis.” Bang Fathur duduk berjongkok bicara sama Nisa. Nisa hanya mengangguk tersenyum.
“Nanti Nisa tembak pakai ketapel isi jagung burungnya ya om.” Senyum gadis kecil itu kembali muncul.
“Oke sayang. Sekarang ayo kita naik menemui ibumu.” Bang Fathur menggandeng Nisa kembali ke kebun. Pancing sudah dia gendong di samping kiri. Nisa membawa tiga ekor ikan gabus sebesar lengan anak usia lima tahun itulah.
__ADS_1
“Ibuuu…, oom bisa mancing, dia dapat tiga ekor ikan gabus. Nanti dimasak pempek ya bu.” Nisa bicara sambil menghambur ke mbak Nindy yang sedang menggendong setandan pisang Raja Bulu. Karena buahnya lebat, dan tutup mobil bagian belakang tidak dibuka, mbak Nindya sangat kesulitan meletakkannya ke bak mobil. Melihat itu, bang Fathur seketika berlari dan mengambil alih. Dia meletakkan pisang yang baru ditebang dan baru masak sebuah itu ke atas bak mobil. Matanya kemudian menyusul mbak Nindya yang sudah duduk dan menyiapkan belakangnya untuk membawa tandan berikutnya dekat rumpun pisang yang jauh. Hatinya benar-benar terenyuh. Bagaiamana beratnya beban seorang mbak Nindya menanggung derita saat mengurus ibunya yanh lumpuh dan seorang anak masih sangat kecil. Dia berlari dan memegang mbak Nindya agar duduk di papan yang ada dekat deretan tandan pisang. Masih ada tujuh tandan aneka jenis pisang yang belum diangkut.
“Duduklah di sini, ini pekerjaan laki-laki.” Bang Fathur menatap mata lelah yang menggetarkan hatinya. Dia memegang tangan mbak Nindya agar segera berhenti.
“Biarlah pak, bapak tunggulah di dekat mobil, nanti bajunya kena getah. Getah pisang tidak bisa lepas lagi.” Mbak Nindya melepaskan tangan bang Fathur.
“Siapa bilang getah pisang tidak bisa hilang.”
“Bisa ya pak? Pakai apa?” Serius mbak Nindya bertanya.
“Dibuang bersamaan dengan baju.” Bang Fathur bicara.
“Owh…, hihihi….” Tersipu-sipu mbak Nindya tertawa kecil. Sementara bang Fathur mencoba mengangkat setandan pisangnya dengan satu tangan namun pisang yang hampir mencapai sepuluh sisir itu tidak kuat dibawanya. Akhirnya dengan kedua tangan dia gotong sambil berjalan persis seperti orang habis sunat. Setelah bang Fathur sudah menedekati mobil, mbak Nindy kemudian menggotong tandan yang bahkan lebih besar dari yang bang Fathur bawa. Dengan entengnya badan mbak Nindy membawa dengan belakangnya yang dialas daun pisang. Mereka serempak sampai di dekat mobil, bang Fathur melongo tak percaya.
“Tenagamu luar biasaaa….” Bang Fathur memuji sambil menahan napas ngos-ngosan. Tangan kanannya berpegang pada pinggang sebelah kanan dengan tubuh agak membungkuk. Sementara tangan kirinya memegang pinggir bak mobil.
“Aku tak kuat, lain kali mbak kalau ke sini ajak orang lain, diupahkan dan saya yang bayar.” Bang Fathur masih dengan napas lelah bicara lagi saat mbak Nindya sudah kembali datang dengan tandan ke empat. Masih tersisa tiga tandan. Dengan langkah terseok-seok dia ikut lagi buat mengambil satu tandan.
“Sudahlah pak, biar saya saja.” Mbak Nindy bicara ke bang Fathur yang seketika duduk di batu besar dekat sisa-sisa tanaman jagung. Dia kemudian membuka pesan lagi di handhonenya.
“Datanglah, Oyan mungkin merindukanmu papa. Kita masih dalam masa iddah. Ayahku ingin bertemu. Mama akan berubah.” Bang Fathur membaca kembali mengulang kalimat itu. Dia tersenyum lirih.
“Ini sudah yang ke sekian kalinya, dia berjanji akan berubah, namun tidak ada perubahan sama sekali.” Dia baru akan membalas pesan, tiba-tiba video call masuk dari istrinya yang sudah dia ceraikan. Awalnya bang Fathur enggan mengangkatnya karena dia lagi ada di kebun. Namun Karena panggilan sudah berulang-ulang dia akhirnya membukanya. Dan nampak wajah Oyan yang ganteng bicara belum jelas. Tidak ada raut sakit sama sekali. Bang Fathur kembali bergumam, dia sengaja membuat alasan anaknya sakit, padahal dia ibunya, omongan seorang ibu itu, jangankan yang keluar dari mulut dan tertulis, yang terlintas saja bisa benar-benar kejadian.
“Halo Oyaaannn…, nak…, halooo sayaaanggg….” Namun bocah itu malah sibuk ke sana kemari.
“Oyaaaannn…, Royyaaannn….” Bang Fathur memanggil kembali. Sekarang Nampak wajah mbak Vioni.
“Maaf…,” Bang Fathur hanya mengatakan maaf.
“Kenapa? Apa sudah ada yang lain? Kau tidak menerima maafku. Aku benar-benar akan berubah.”
“Tidak mungkin. Keputusanku sudah final Vio, carilah orang yang lebih segala-galanya dari keluargaku yang selalu kau salahkan.
“Tidak pa, tidak akan terjadi lagi.”
“Kau sudah tak terhitung mengucapkan itu.”
“Kali ini benar-benar pa.”
“Kau masih belum berubah.”
“Aku akan berubah…,” Vioni menangis. Bang Fathur malah mengalihkan perhatian, dia melihat mbak Nindya menjolok buah pepaya yang lebat dan menguning bagian bawah., sedangkan Nisa dia suruh memegang jarring bulat besar berbingkai untuk menangkapnya sebelum jatuh ke tanah.
“Sudah ya, aku ada pekerjaan.” Bang Fathur pamit mematikan panggilan.
“Kau dimana?”
“Aku di kebun.”
__ADS_1
“Sama siapa?”
“Kenapa kau harus tahu?” Bang Fathur benar-benar sudah tidak menyukai mbak Vioni. Terlalu banyak kenangan pahit yang dia telan saat bersamanya. Vio bahkan sering membentaknya hanya karena terlambat pulang atau ada beberapa mahasiswi datang ke rumah mau bimbingan skripsi. Dia kemudian memegang hp sambil berjalan menuju Annisa dan ibunya. Lalu tanpa bicara dia mengambil alih jaring seperti nampan yang dipegang Nisa. Setelah itu Nisa menghambur pergi.
“Bu, Nisa mau cari jangkrik putih ya, Om Fathur sudah memegangnya.” Dia menuju tanah berpasir sebelah Utara.
“Hei, suara siapa itu? Kau Dimana?” mendengar sura Annisa, mbak Vioni seketika berang.
“Sekarang urusanku, bukan urusanmu lagi. Kita tinggal menunggu putusan resmi pengadilan perceraian Vio. Jadi jangan serba ingin tahu. Masalah Oyan, nafkah dan pendidikannya akan kujamin.” Bang Fathur bicara tegas.
“Hei, kurang ajar sekali kau sekarang yo….” Tabiat aslinya kembali hadir, nadanya seketika melonjak naik. Bang Fathur menarik nafas panjang. Mbak Nindya malah menjauh meletakkan galah. Dia merasa tidak enak mendengar pertengkaran orang lain. Dia mengumpulkan sampah-sampah kering, menguburnya di dalam lubang besar dekat rumpun pisang. Lalu menutup bibit tomat dengan menancapkan potongan dahan rimbun di sekitarnya.
“Hei Fathur, kau dengan siapo ye? (Hei Fathur dirimu dengan siapa?) Jangan-jangan kau sengajo ninggalke aku gara-gara lah ado selingkuhan.(Jangan-jangan dirimu sengaja meninggalkanku gara-gara sudah ada selingkuhan.) Kutontot kau ye.(Aku akan menuntutmu).” Suara di seberang semakin garang. Tidak ada lagi sapaan papa dengan nada yang lembut dipaksakan.
“Fathuuuurrrr…, cubo kujingok rainyo (coba saya mau lihat wajahnya), dengan siapo nian kau tu e. (dengan siapa dirimu sebenarnya) Gek ye, kutuntut nian kau tu (nanti benar-benar kutuntut dirimu), baru tau raso (baru tahu rasa), dasar lanang kekanjian (dasar laki-laki keganjenan)….” Wajah putih mbak Vioni seketika memerah marah. Bang Fathur akan menutup telpon, namun karena melihat mantannya itu sudah kalang kabut marah, dia berjalan mendekati mbak Nindya, dipeluknya dengan erat. Mbak Nindy berusaha melepaskan diri, namun di video hal itu tidak Nampak. Hanya wajah cantik alami yang Nampak.
“Heeeiii…, kanji nian kau ni, (ganjen benar dirimu ini) mak itu selero kau sekarang ye, (sekarang seperti itu seleramu ya) mak bik-bik kampong. (seperti bibi-bibi orang desa) Apo dio cantiknyo wong mak itu (apa cantiknya orang seperti dia itu)….”
“Tetapi dia menyayangiku apa adanya Vio. Dia tidak akan menuntutku buat beli mobil sedan Camry, beli Alphard, Fortuner atau Pajero. Lihatlah, itu mobil yang diimpikan istri baruku.” Bang Fathur memperlihatkan mobil pickup berisi segala jenis barang. Mbak Nindy berhasil kabur dari pelukan. Dia kebingungan. Bang Fathur sengaja membuat istrinya panas.
“Apo kato kau? (Apa katamu?) Istri kau? (Istrimu?) Kau lah nikah yo? (Dirimu sudah menikah ya?) Memang set*n!, B*bi!, Anj!ng! kau ni.” Video segera berakhir. Bang Fathur tersenyum kecil. Dimana berubahmu? Omonganmu tidak mencerminkan pendidikan dan pekerjaanmu. Bang Fathur menggeleng sambil mencari mbak Nindy.
“Mbak, maaf tadi, Fathur lagi benar-benar kesal dengan mantan istri, jadi biar dia tidak berharap lagi, Fathur memperlihatkan mbak Nindya seolah-olah istri Fathur.” Bang Fathur meminta maaf tulus. Mbak Nindya mengangguk kecil.
“Kenapa kalian bercerai?” Mbak Nindya pelan sekali bertanya.
“Dia sangat kurang ajar. Tidak menghargaiku dan keluarga. Terlalu matre, memanfaatkan kebaikan dan kekayaan ibu.” Bang Fathur jujur.
“Kalau mbak Nindya sendiri kenapa dulu bercerai?” Bang Fathur merasa punya kesempatan untuk menjadi semakin akrab.
“Menceritakannya saja sangat menyesakkan.”
“Kalau begitu tidak usah diceritakan.”
“Maafkan aku pak.”
“Jangan panggil pak lagi.”
“Aku sungkan.”
“Pelan-pelan.”
“Akan kucoba pak.”
“Lhaaaa…, kok pak lagi.
“Maaf pak.”
Bang Fathur masih terawa-tawa sambil menghidupkan mobil setelah mbak Nindya mengatakan semuanya sudah selesai. Lalu mereka pulang dengan bermacam-macam perasaan dan pikiran.
__ADS_1
(bersambung)